OEE (Overall Equipment Effectiveness): Arti, Fungsi, dan Rumusnya

Posted on
Share artikel ini

OEE adalah salah satu indikator penting yang menunjukkan efektivitas dari mesin produksi berdasarkan availability, performance, dan quality. Sayangnya, masalah downtime mesin yang tinggi masih menjadi masalah yang sering terjadi dalam industri manufaktur.

Masalah tersebut akan menghalangi perusahaan manufaktur untuk mencapai target produksi dan meningkatkan biaya operasional. Di samping itu, kualitas hasil produksi juga dapat menurun karena adanya gangguan mesin yang memengaruhi efsiensi produksi seluruhnya.

Oleh sebab itu, tim produksi perlu mengukur performa mesin agar sumber masalah dapat diketahui sejak awal dan dapat menentukan stretegi mitigasi secepatnya. Artikel ini akan membahas perhitungan OEE, komponen, standar skor OEE, manfaat, dan fungsi.

starsKey Takeaways

Coba Demo Gratis!

requestDemo

Apa itu Overall Equipment Effectiveness (OEE)?

OEE (Overall Equipment Effectiveness) adalah metode pengukuran untuk mengetahui tingkat efektivitas mesin yang berfokus pada ketersediaan (availability), kinerja (performance), dan kualitas (quality). Dengan perhitungan OEE ini, perusahaan dapat memahami seberapa efektif waktu produksi yang ada benar-benar menghasilkan total output yang diinginkan.

Penggabungan antara ketiga faktor tersebut memberikan gambaran kepada tim untuk melakukan evaluasi terhadap peralatan mesin produksinya. Selain itu, perusahaan yang memahami efektivitas masing-masing mesinnya, dapat menentukan strategi yang sesuai untuk mencapai efisiensi produksi.

Berdasarkan data Oden, rata-rata pabrik kehilangan minimal 5% dari kapasitas produksinya karena mengalami masalah downtime dan penurunan efisiensi hingga 20%. Maka dari itu, data menunjukkan bahwa manufaktur sering kehilangan potensi produktivitas akibat kendala teknis, sehingga Overall Equipment Effectiveness (OEE) harus diperhatikan dengan baik.

Apa Saja Komponen Utama OEE?

Apa Saja Komponen Utama OEE?OEE dihitung dengan mengalikan tiga faktor utama yaitu availability (ketersediaan), performance (kinerja), dan quality (kualitas). Berikut pembahasan dari masing-masing komponen tersebut:

1. Ketersediaan (Availability)

Ketersediaan dalam OEE berfokus pada seberapa banyak waktu mesin benar-benar siap untuk berproduksi dibandingkan dengan total waktu yang dijadwalkan. Ini memperhitungkan setiap insiden yang menghentikan produksi, seperti kerusakan tak terduga, waktu yang dialokasikan untuk pemeliharaan rutin, atau jeda untuk mengubah pengaturan dan persiapan produksi baru.

2. Kinerja (Performance)

Kinerja mengukur seberapa cepat mesin memproduksi dibandingkan dengan kecepatan produksi optimalnya. Ini bukan hanya tentang apakah mesin berjalan atau tidak, tetapi juga tentang seberapa efisien ia beroperasi saat sedang berjalan, yang sangat penting dalam K3 manufaktur untuk memastikan keselamatan dan produktivitas operasional.

Faktor-faktor yang mengurangi kinerja termasuk operasional yang lebih lambat dari standar yang ditetapkan atau siklus produksi yang memakan waktu lebih lama dari yang seharusnya. Kinerja menjadi indikator yang mengukur efisiensi mesin bekerja dibandingkan dengan potensi optimalnya.

3. Kualitas (Quality)

Kualitas dalam OEE adalah ukuran dari produk yang baik yang dihasilkan dibandingkan dengan total output. Komponen ini memperhitungkan semua produk yang tidak memenuhi standar kualitas, termasuk barang yang rusak, cacat, atau yang memerlukan pengerjaan ulang.

Secara finansial, rendahnya skor kualitas berarti perusahaan tetap menanggung biaya penyusutan mesin dan operasional tanpa mendapatkan nilai jual dari output yang dihasilkan, sehingga menciptakan kerugian ekonomi yang signifikan.

Six Big Losses yang Umum Ditemukan dalam Bisnis Manufaktur dan Memengaruhi OEE

Six big losses atau enam kerugian besar yang sering ditemukan dalam bisnis manufaktur, mencakup equipment failure, setup and adjustment losses, idle and minor stoppages, reduced speed, defect losses, dan reduced yield.

Berikut adalah pembahasan lebih detail terkait six big losses yang kerap ditemukan dalam bisnis manufaktur:

1. Equipment Failure (Kegagalan Peralatan)

Terjadi kerusakan mesin secara mendadak atau kegagalan teknis yang tidak terencana sehingga operasional berhenti total (unplanned downtime). Kerugian terbesar ada pada hilangnya waktu produksi. Selain itu, perusahaan harus menanggung biaya perbaikan darurat, biaya suku cadang, serta potensi terhambatnya jadwal pengiriman produk ke konsumen akibat lini produksi yang mandek.

2. Setup and Adjustment Losses (Kerugian Setup dan Penyesuaian)

Waktu yang dihabiskan untuk mengganti jenis produk, pemanasan mesin, atau penyesuaian parameter mesin agar produk sesuai spesifikasi. Meskipun aktivitas ini direncanakan, ia tetap dianggap sebagai pemborosan karena mesin tidak menghasilkan output selama proses berlangsung. Hal ini mengakibatkan biaya penyusutan mesin tetap berjalan tanpa adanya nilai tambah yang dihasilkan.

3. Idle and Minor Stoppages (Waktu Henti dan Penghentian Kecil)

Mesin berhenti sejenak dalam durasi singkat, karena gangguan kecil seperti aliran material tersumbat, sensor kotor, atau pengaturan posisi yang salah. Karena durasinya singkat, kerugian ini sering kali tidak dicatat secara manual oleh operator, namun jika diakumulasi, ia dapat menggerus kapasitas produksi secara signifikan dan mengganggu stabilitas aliran kerja di lini produksi.

4. Reduced Speed (Penurunan Kecepatan)

Peralatan beroperasi pada kecepatan yang lebih lambat dibandingkan kecepatan maksimal yang dirancang oleh pabrik (ideal cycle time). Penurunan kecepatan ini menciptakan kesenjangan antara kapasitas mesin yang seharusnya dengan kenyataan. Hal ini mengakibatkan inefisiensi biaya tenaga kerja dan energi, karena mesin membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan jumlah unit yang sama.

5. Defect Losses (Kerugian Cacat/Proses)

Produk yang dihasilkan selama produksi normal tidak memenuhi standar kualitas, baik yang benar-benar rusak maupun yang masih bisa diperbaiki. Kerugiannya: Perusahaan mengalami kerugian ganda berupa terbuangnya bahan baku dan penggunaan energi mesin yang sia-sia. Setiap produk cacat mencerminkan hilangnya pendapatan potensial yang seharusnya bisa diperoleh dari waktu operasional tersebut.

6. Reduced Yield (Pengurangan Hasil)

Kerugian kualitas yang terjadi secara spesifik pada fase awal produksi (startup) hingga mesin mencapai kondisi stabil atau mencapai suhu kerja yang tepat. Kerugian ini sering dianggap lumrah, padahal ia merupakan pemborosan material yang signifikan. Tingginya angka startup defect menunjukkan kurangnya presisi dalam prosedur operasional standar (SOP) saat memulai mesin, yang berujung pada biaya produksi per unit yang lebih mahal.

Rumus Menghitung Nilai OEE

Sebelum menghitung nilai OEE keseluruhan, tim produksi harus mengetahui cara menghitung masing-masing komponennya. Berikut adalah rumus perhitungan untuk masing-masing komponennya:

1. Rumus Ketersediaan (Availability)

Rumus availability meliputi operating time dan loading time yang dikalikan dengan 100%. Berikut adalah rincian perhitungan untuk rumus availability:

  • Operating Time = Loading Time – Downtime
  • Loading Time = Total Waktu Kerja – Break – Planned Downtime

Availability = Operating Time / Loading Time x 100%

2. Rumus Kinerja (Performance)

Perhitungan kinerja (performance) berfokus untuk mengukur kemampuan mesin dalam menghasilkan output yang dibandingkan dengan kapasitas idealnya. Berikut adalah detail perhitungan untuk rumus performance:

  • Processed Amount = Totak produk yang berhasil diproduksi
  • Ideal Cycle Time = Durasi standar untuk menghasilkan satu unit produk

Performance = (Processed Amount x Ideal Cycle Time) / Operating Time x 100%

3. Rumus Kualitas (Quality)

Hasil perhitungannya menunjukkan tingkat keberhasilan produksi yang didasari pada jumlah produk yang sesuai dengan standar kualitas. Berikut adalah rumus perhitungan untuk komponen quality:

Quality = (Processed Amount – Defect Amount) / Processed Amount x 100%

4. Rumus OEE

Setelah mengetahui rumus-rumus untuk setiap komponennya, tim dapat memulai dengan memasukannya ke dalam rumus perhitungan OEE. Berikut adalah rumus OEE yang harus dipahami bisnis:

OEE = Availability x Performance x Quality

Cara Perhitungan Performance Mesin pada OEE

Perhitungan OEE didasarkan pada tiga faktor utama, yaitu availability (ketersediaan), performance (kinerja), dan quality (kualitas). Saat hasil perhitungan menunjukkan nilai yang tinggi, hal ini berarti mesin-mesin produksi perusahaan telah bekerja dengan efisien, efektif, dan produktif.

Contoh ini akan memberikan gambaran jelas mengenai bagaimana perusahaan manufaktur mengukur efisiensi dan produktivitas pabrik secara objektif. Dengan rumus OEE, Anda bisa menghitungnya sebagai berikut:

contoh perhitungan OEEDari hasil perhitungan menunjukkan bahwa nilai OEE yang didapatkan adalah 75%. Nilai tersebut dapat dikatakan cukup tinggi dan ini menunjukkan mesin bekerja secara efektif dalam menghasilkan unit produksi.

Namun, jika nilai perhitungannya rendah berarti mesin masih kurang bekerja secara optimal. Oleh karena itu, perusahaan perlu mengevaluasi masalah yang terjadi, serta memperhatikan risiko breakdown maintenance yang dapat mengganggu operasional.

Manufaktur

Standar Skor OEE Global

Standar skor OEE global dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu 100%, 85%, 60%, hingga 40%. Berikut penjelasan untuk masing-masing standar skor OEE global:

  • 100% (produksi sempurna): Merupakan kondisi ideal di mana mesin menghasilkan produk tanpa cacat, berjalan pada kecepatan maksimal, dan tanpa waktu henti sama sekali. Level ini menjadi tolok ukur efisiensi absolut bagi setiap lini manufaktur.
  • 85% (world class): Dianggap sebagai standar performa kelas dunia yang menjadi target utama banyak perusahaan global. Skor ini menunjukkan sinergi yang sangat sehat antara ketersediaan, kecepatan, dan kualitas produk.
  • 60% (skor wajar): Angka yang umum ditemukan namun mengindikasikan adanya ruang besar untuk peningkatan performa. Perusahaan di level ini biasanya masih menghadapi kendala efisiensi yang perlu segera dioptimalkan.
  • 40% (skor rendah): Menandakan efektivitas operasional yang sangat rendah, namun sangat mudah untuk ditingkatkan. Dengan perbaikan dasar pada prosedur kerja, kenaikan skor biasanya dapat dicapai dalam waktu singkat.

Manfaat OEE dalam Bisnis Manufaktur

OEE manufaktur memberikan sejumlah manfaat yang mencakup, tolak ukur kinerja produksi, identifikasi pemborosan yang terjadi, serta pengambilan kepuutusan strategis.

Berikut adalah pembahasan lebih detail terkait manfaat OEE dalam manufaktur:

1. Tolok Ukur Kinerja Produksi

OEE berfungsi sebagai sistem navigasi yang memberikan gambaran akurat mengenai kesehatan performa mesin secara real-time. Dengan data yang konsisten dari waktu ke waktu, manajemen dapat melakukan komparasi antar shift, antar lini, maupun tren bulanan untuk memastikan siklus produksi tetap berada pada jalur efisiensi yang direncanakan.

2. Identifikasi Pemborosan (Six Big Losses)

Metrik ini bertindak sebagai alat diagnosa untuk membongkar inefisiensi tersembunyi seperti kerusakan mendadak, waktu setup yang lama, hingga penurunan kecepatan mesin. Dengan memetakan masalah ke dalam kategori six big losses, perusahaan tidak lagi menebak-nebak penyebab rendahnya output, melainkan mengetahui secara presisi di mana letak kebocoran produktivitas terjadi.

Contohnya seperti perusahaan yang memiliki metode original equipment manufacturer (OEM) yang lebih mudah mengerjakan produk akhir, jika pemborosan six big losses cepat teridentifikasi dan efisiensi dari OEE berjalan dengan baik.

3. Pengambilan Keputusan Strategis

Data OEE memberikan landasan yang kuat bagi perusahaan untuk menentukan prioritas investasi dan perbaikan operasional secara konkret. Hal ini memungkinkan manajemen produksi manufaktur untuk mengalokasikan sumber daya secara tepat sasaran, mengurangi pemborosan material maupun waktu, serta memastikan setiap langkah perbaikan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan profitabilitas.

Fungsi OEE di Bisnis Manufaktur

OEE manufaktur memberikan fungsi utama, mulai dari mengidentifikasi masalah operasional, mengoptimalkan efisiensi mesin, memaksimalkan produktivitas, hingga meningkatkan kualitas produk.

Berikut adalah penjelasan lebih lanjut terkait fungsi utama OEE dalam bisnis manufaktur:

1. Mengidentifikasi Masalah Operasional

Overall machine efficiency berfungsi untuk mendeteksi masalah yang terjadi di proses produksi seperti downtime mesin produksi, kinerja mesin yang tidak optimal, atau tingginya produk cacat.

Sebagai bagian dari pencapaian target KPI manufaktur, analisis yang dilakukan melalui OEE akan dengan cepat menemukan akar masalah operasional dan memungkinkan manajemen untuk segera mengambil langkah perbaikan. Apabila ada penyimpangan yang tidak diidentifikasi, maka hal tersebut akan dilaporkan penyewa jasa melalui corrective action request.

2. Mengoptimalkan Efisiensi Mesin

Fungsi berikutnya adalah sebagai panduan untuk meningkatkan efisiensi mesin produksi. Perhitungan OEE akan memberikan gambaran bagaimana perusahaan dapat mengurangi waktu yang tidak produktif, dan memastikan mesin bekerja dengan kapasitas terbaiknya.

Salah satu indikator yang penting untuk meminimalkan waktu tidak produktif adalah metrik MTBF dan MTTR, yang mengukur kecepatan dalam memperbaiki mesin saat terjadi kerusakan.

3. Memaksimalkan Produktivitas

Adanya OEE akan memastikan waktu dan sumber daya digunakan dengan efektif. Metode ini akan menjaga kinerja mesin tetap optimal, dan dapat memaksimalkan output produksi tanpa harus menambah investasi besar pada infrastruktur bisnis manufaktur.

Dengan penerapan SMED, proses pergantian mesin yang lebih cepat dan efisien juga akan meningkatkan OEE, karena waktu henti mesin dapat diminimalkan. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk meningkatkan produktivitas tanpa menambah beban biaya, menjadikan produksi lebih ramping dan responsif terhadap permintaan pasar.

4. Meningkatkan Kualitas Produk

Overall equipment effectiveness juga berfungsi untuk membantu perusahaan menghasilkan produk yang sesuai dengan standar kualitas yang telah ditetapkan. Integrasi OEE memperpanjang usia aset melalui perawatan preventif yang terencana untuk menjaga kondisi mesin tetap prima.

Penerapan konsep total productive maintenance (TPM) mendukung upaya ini dengan memastikan setiap mesin terawat optimal, sehingga biaya akibat produk cacat dapat ditekan.Hal ini meminimalkan degradasi komponen yang memicu pembengkakan biaya penyusutan mesin akibat kerusakan dini. Hasilnya, setiap investasi peralatan mampu memberikan nilai tambah maksimal dan output yang stabil jangka panjang.

Fase dan Langkah Implementasi OEE

Beberapa fase dan langkah implementasinya OEE adalah fase persiapan, fase pengumpulan data, fase perhitungan dan analisis OEE, fase perbaikan, dan fase pemantauan. Berikut adalah fase dan langkah implementasi OEE:

1. Fase Persiapan

Fase pertama adalah persiapan, di mana Anda harus pastikan semua indikator yang diperlukan sudah siap. Anda bisa memilih mesin atau perawatan mesin produksi menggunakan OEE, biasa perusahaan melakukan pemantauan pada mesin yang berdampak langsung pada output produksi.

2. Fase Pengumpulan Data

Selanjutnya tahap pengumpulan data mencakup waktu operasional mesin, downtime, kecepatan produksi, dan jumlah produk cacat. Perusahaan bisa dengan mudah mengakses informasi-informasi tersebut dengan software manufaktur. Sistem yang telah memantau berbagai operasional manufaktur Anda, dan mencatatnya dengan otomatis akan langsung memberikan informasi yang ingin Anda akses secara mudah.

3. Fase Perhitungan dan Analisis OEE

Fase berikutnya adalah perhitungan yang dilakukan dengan rumus OEE yang tepat. Namun, jika terlalu kompleks, software pabrik manufaktur dapat membantu perhitungan OEE ini secara otomatis, serta memberikan hasil realtime-nya kepada Anda agar bisa dilakukan analisis. Dengan begitu, Anda bisa melihat area mana yang memerlukan perbaikan pada mesin produksi.

Analisis ini juga membantu menyusun strategi perawatan mesin produksi air kemasan secara lebih efektif. Dengan mengetahui area bermasalah, perusahaan dapat merencanakan jadwal perawatan yang tepat, sehingga operasional berjalan lancar, efisiensi meningkat, dan potensi downtime bisa ditekan maksimal.

4. Fase Perbaikan

Jika perhitungan OEE menghasilkan ketersediaan, kinerja, dan kualitas mesin yang rendah, maka fase perbaikan harus dilakukan. Perbaikan dilakukan sesuai dengan penurunan yang terjadi, dan perusahaan manufaktur harus mengatasi kelemahan yang diidentifikasi dari hasil perhitungan overall machine efficiency yang dilakukan.

Engineering control digunakan untuk merancang dan mengimplementasikan prosedur perbaikan yang tepat dengan mengadopsi prinsip lean manufacturing. Pendekatan ini memastikan bahwa setiap langkah perbaikan dilakukan dengan efisiensi dan aman, sembari meminimalisir aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah bagi proses produksi.

5. Fase Pemantauan

Fase berikutnya adalah pemantauan hasil perhitungan secara berkala. Anda bisa mengukur secara rutin untuk memastikan perbaikan yang telah diterapkan benar-benar berdampak pada peningkatan kinerja. Perhitungan OEE dirancang untuk mengidentifikasi dan mengukur dampak dari faktor-faktor yang dikenal sebagai six big losses.

Penerapan software manufaktur akan membantu Anda memberikan perhitungan OEE secara rutin dan secara real-time. Jika terjadi masalah atau penurunan, sistem akan memberikan notifikasi kepada Anda untuk melakukan perbaikan segera. Hal tersebut sangat berpengaruh pada GMP manufaktur, dan secara langsung akan berdampak pada efisiensi proses produksi.

Optimalkan OEE dengan Software Manufaktur ScaleOcean

Software manufaktur ScaleOcean merupakan solusi modern yang mampu mengoptimalkan perhitungan dan pemantauan Overall Equipment Effectiveness (OEE) mesin produksi bisnis manufaktur. Solusi ini memudahkan perusahaan dalam melakukan pelaporan produksi, pemeliharaan peralatan mesin, dan memantau kualitas output.

Setiap data aktivitas mesin akan tercatat ke dalam sistem, sehingga tim produksi dapat mendeteksi gangguan seperti downtime lebih cepat. Perhitungan OEE secara otomatis memudahkan para pemangku kepentingan untuk mengambil keputusan yang cepat berbasis data.

Untuk Anda yang ingin merasakan langsung manfaat dan cara kerja sistem ini, Anda dapat mengajukan demo gratis bersaman tim ScaleOcean.

Fitur utama ScaleOcean untuk menghitung OEE:

  • Real-time monitoring: Memantau kinerja mesin dan proses produksi secara langsung, dengan data operasional yang tampil di dashboard user-friendly.
  • Downtime tracking: Mencatat dan menganalisis setiap kejadian downtime, serta alasan penyebabnya.
  • Performance metrics: Menghitung dan memantau metrik efektivitas mesin berdasarkan ketersediaan, kinerja, dan kualitas.
  • Predictive maintenance: Menggunakan data historis dan algoritma prediktif untuk menjadwalkan waktu pemeliharaan mesin.
  • Customizable alerts and notifications: Mengatur pemberitahuan yang disesuaikan berdasarkan kondisi atau ambang batas tertentu.
  • Data collection and analysis: Mengumpulkan data secara akurat dari berbagai sumber mesin seperti sensor, SCADA systems, dan input operator.

Kesimpulan 

OEE adalah aspek penting dalam industri manufaktur yang menilai efektivitas suatu mesin produksi secara menyeluruh. Melalui perhitungan OEE, perusahaan dapat memperoleh gambaran apakah mesin produksinya sudah produktif dalam menghasilkan output yang diinginkan atau membutuhkan perbaikan.

Untuk pelaku manufaktur, perhitungan OEE dapat disederhanakan dengan Software Manufaktur ScaleOcean yang mendukung perencaan, perhitungan, hingga pemantauan proses produksi secara real-time pada setiap tahapannya. Penasaran bagaimana sistem ini mengotomatiskan seluruh proses produksi Anda? Jadwalkan demo gratis bersama tim expert ScaleOcean.

FAQ:

1. Apa yang dimaksud dengan OEE?

OEE adalah standarisasi untuk mengukur produktivitas manufaktur. Dengan mengukur OEE, perusahaan akan mendapatkan insights penting untuk memperbaiki proses produksi dan meminimalisir pemborosan sumber daya.

2. Bagaimana cara menghitung OEE?

OEE hitung dengan memperoleh dari availabilitas dari alat-alat perlengkapan, efisiensi kinerja dari proses dan rate dari mutu produk (OEE = availability x performance x quality).

3. Berapa standar OEE?

Berdasarkan standar dunia, maka nilai OEE yang baik yaitu >85%.

Jadwalkan Demo Gratis

Error message
Error message
Error message
Error message
Error message
Error message

Rekomendasi Artikel Terkait

Temukan Artikel Serupa untuk Solusi Bisnis Lebih Lengkap