Ketidakefektifan dalam pemeliharaan aset produksi dapat berdampak buruk pada stabilitas operasional perusahaan manufaktur Anda. Hal ini memicu peningkatan biaya akibat kerusakan mesin yang mendadak, pemborosan suku cadang, hingga risiko produk cacat yang memerlukan pengerjaan ulang. Indeks OEE dan produktivitas lantai produksi Anda berisiko mengalami penurunan yang signifikan akibat perawatan yang bersifat reaktif.
Penerapan total productive maintenance (TPM) yang tepat dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi tantangan ini. Strategi ini menjadi titik temu antara tanggung jawab operator harian dengan keahlian teknisi pemeliharaan guna. Ketepatan implementasi pilar-pilar TPM ini secara langsung akan memengaruhi efisiensi biaya perawatan, keandalan fasilitas produksi, serta masa pakai aset jangka panjang perusahaan.
Memahami konsep TPM dapat membantu bisnis Anda mengoptimalkan siklus hidup mesin, meminimalkan waktu henti (down-time), dan menjaga konsistensi mutu produk di setiap lini produksi. Artikel ini akan membahas apa itu TPM, pilar-pilar utama yang menyusunnya, hingga berbagai manfaat strategisnya bagi efisiensi manufaktur dalam skala industri.
- Total productive maintenance adalah sistem manajemen perawatan peralatan/mesin yang melibatkan seluruh karyawan dari operator hingga manajemen puncak.
- 8 pilar TPM meliputi pemeliharaan mandiri, peningkatan terarah, pemeliharaan terjadwal, manajemen mutu, pengelolaan peralatan, training, K3 lingkungan, dan TPM di bidang administrasi.
- Tujuan implementasi total productive maintenance mencakup beberapa hal yang sering disebut trio zero, yaitu zero breakdown, zero defect, dan zero accident.
- Software manufaktur ScaleOcean dapat optimalkan strategi TPM dengan pemeliharaan aset preventif, pelacakan downtime, dan pemantauan kinerja mesin secara real-time.
Apa itu Total Productive Maintenance?
Total productive maintenance TPM adalah sistem manajemen perawatan peralatan/mesin yang melibatkan seluruh karyawan dari operator hingga manajemen puncak. TPM dilakukan bertujuan untuk untuk perawatan mesin produksi, menghilangkan kerusakan (breakdown), cacat produksi, dan kecelakaan kerja
Metode TPM berfokus pada upaya menghilangkan kerusakan mesin, cacat produk, dan kecelakaan kerja yang dapat mengganggu kelancaran produksi, dan memaksimalkan efektivitas mesin. Proses ini penting diterapkan dalam proses manufaktur untuk mencegah kerusakan, meningkatkan keterampilan staff, optimalisasi produksi, serta menciptakan produk dengan kualitas dan efisiensi yang tinggi.
Berbeda juga dengan breakdown maintenance untuk perawatan mesin. Breakdown maintenance adalah proses perbaikan pada mesin pada saat mesin mengalami kerusakan. Dilakukannya TPM ini akan menciptakan siklus perbaikan pada mesin secara menyeluruh dan terus menerus, sehingga dapat mendukung stabilitas proses manufaktur dan operasioanal untuk peningkatan kualitas produk.
Tujuan Implementasi Total Productive Maintenance
Tujuan implementasi total productive maintenance adalah untuk mencapai produksi sempurna. Hal ini mencakup beberapa hal yang sering disebut trio zero , yaitu zero breakdown, zero defect, dan zero accident.
Berikut adalah penjelasan mengenai tujuan implementasi TPM:
1. Zero Breakdown: Tidak Ada Kerusakan
Zero breakdown berfokus pada penghapusan kegagalan fungsi mesin selama waktu produksi berjalan. Hal ini dicapai melalui pemeliharaan preventif dan otonom, di mana setiap gejala kerusakan kecil diidentifikasi dan ditangani sebelum menyebabkan mesin berhenti total.
Dengan kondisi mesin yang selalu prima, perusahaan dapat menghindari biaya perbaikan darurat yang mahal dan memastikan jadwal pengiriman produk tetap tepat waktu tanpa hambatan teknis.
2. Zero Defect: Tidak Ada Barang Cacat
Tujuan dari zero defect adalah memastikan bahwa setiap unit yang keluar dari lini produksi memenuhi standar kualitas sejak awal. Dalam sistem TPM, kualitas produk dijaga dengan mengontrol kondisi mesin secara presisi. Jika mesin berada dalam kondisi optimal, maka variasi produk dapat diminimalisir. Pencapaian ini menekan biaya pengerjaan ulang dan pemborosan bahan baku, sehingga margin profitabilitas tetap terjaga.
3. Zero Accident: Tidak Ada Kecelakaan Kerja
Zero accident menempatkan keselamatan operator sebagai prioritas tertinggi di atas kecepatan produksi. Melalui standarisasi prosedur kerja yang aman dan pemeliharaan area kerja secara disiplin, risiko bahaya akibat malfungsi mesin atau kelalaian manusia dapat ditekan hingga titik nol. Lingkungan kerja yang aman meningkatkan moral karyawan dan mencegah gangguan operasional yang biasanya mengikuti terjadinya insiden kerja.
8 Pilar Total Productive Maintenance
TPM memiliki beberapa pilar utama yang bekerja secara maksimal untuk mencapai proses manufaktur komprehensif, mulai dari autonomous maintenance, planned maintenance, quality maintenance, focused improvement, early equiment management, training and education, safety, health, and environment, serta TPM in administration.
Berikut adalah penjelasan dari 8 pilar utama total productive maintenance:
1. Autonomous Maintenance
Pemeliharaan autonomous menjadi pilar yang melibatkan operator lini produksi dalam tugas pemeliharaan dasar seperti pembersihan, pelumasan, dan inspeksi rutin untuk setiap mesin dan peralatan di pabrik manufaktur. Perusahaan akan lebih memahami kondisi peralatan dengan pilar ini.
2. Planned Maintenance
Pilar berikutnya adalah pemeliharaan yang terencana, biasanya fokus di perencanaan dan pelaksanaan preventif dan prediktif untuk mencegah kerusakan setiap mesin dan peralatan produksi. Hal ini melibatkan penggunaan data dan analisis, seperti mean time between failure, untuk menentukan waktu optimal dalam proses pemeliharaan.
Dengan menggunakan solusi manajemen shop floor enterprise, perusahaan dapat mengoptimalkan perencanaan pemeliharaan dan meningkatkan efisiensi operasional secara keseluruhan.
3. Quality Maintenance
Quality maintenance menjadi pilar berikutnya yang dilakukan untuk memastikan mesin dan peralatan dapat beroperasi dengan standar kualitas yang tinggi. Pilar ini akan membantu manufaktur dalam menghasilkan produk dengan kualitas konsisten dan tinggi.
4. Focused Improvement
TPM juga melibatkan pilar focused improvement, yang melibatkan upaya terus menerus untuk meningkatkan proses dan kinerja mesin dan peralatan produksi. TPM dengan pilar ini juga akan menghilangkan pemborosan melalui metode Kaizen dan kerja tim di berbagai departemen.
5. Early Equipment Management
TPM pillars berikutnya adalah early equipment management, di mana akan difokuskan pada tahap perancangan dan instalasi mesin produksi pabrik dan peralatan baru untuk memastikan kemudahan pemeliharaan dan operasional yang efisien sejak awal mesin dan peralatan di gunakan.
6. Training and Education
Selanjutnya ada training and education, di mana TPM pillars akan membantu memastikan semua karyawan memiliki pengetahuan dan skill yang diperlukan untuk melaksanakan tugas pemeliharaan dan peningkatan efektif di perusahaan manufaktur.
Investasi pada sumber daya manusia ini tidak hanya menciptakan tenaga kerja yang lebih kompeten, tetapi juga membangun budaya kerja proaktif di mana setiap individu merasa bertanggung jawab atas kondisi aset mereka. Melalui pelatihan yang terstruktur, operator dapat mendeteksi gejala kerusakan lebih dini dan mengurangi ketergantungan pada teknisi ahli untuk perbaikan ringan.
7. Safety, Health, and Environment
TPM pillars berikutnya ini lebih fokus pada keselamatan kerja, kesehatan, dan perlindungan lingkungan pada karyawan. Hal ini biasanya sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja. TPM akan memastikan lingkungan kerja aman dan sehat, dan dapat mematuhi regulasi yang ada.
Melalui integrasi aspek keselamatan ke dalam rutinitas pemeliharaan, perusahaan dapat memitigasi risiko insiden kerja yang disebabkan oleh malfungsi mesin atau kondisi area kerja yang buruk. Hal ini tidak hanya melindungi kesejahteraan karyawan, tetapi juga menghindarkan perusahaan dari sanksi hukum dan kerugian operasional akibat penghentian kerja paksa.
8. TPM in Administration
Penerapan strategi TPM maintenance juga melibatkan area administrasi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas di fungsi pendukung perusahaan manufaktur. Termasuk keuangan, sumber daya manusia, dan logistik.
Pilar ini bekerja dengan menghilangkan hambatan administratif atau pemborosan waktu (waste) pada proses di balik layar, sehingga alur informasi ke lantai produksi menjadi lebih lancar. Dengan administrasi yang efisien, koordinasi pengadaan suku cadang, pengelolaan data operasional, hingga rekrutmen tenaga teknis dapat dilakukan secara lebih presisi untuk mendukung kelancaran seluruh ekosistem manufaktur.
Elemen Utama TPM
Ada 5 elemen utama TPM yang sering disebut 5S, yaitu sort, set in order, shine, standarize, dan sustain. Berikut adalah penjelasan dari masing-maisng 5S elemen utama TPM:
1. Sort
Sort atau disebut juga dengen seiri adalah langkah untuk mengidentifikasi dan menghilangkan barang, peralatan, dan bahan yang tidak diperlukan di perusahaan manufaktur. Langkah ini akan membuat lantai produksi lebih bersih, dan terorganisir.
2. Set in Order
Disebut dengan seiton, langkah di total productive management ini fokus pada penataan dan perorganisasian barang yang diperlukan, sehingga akan mudah diakses dan digunakan. Set in order akan membuat alur kerja lebih lancar dan memimalisir waktu untuk mencari peralatan atau bahan.
3. Shine
Langkah berikutnya ada shine atau seiso, yang fokus menjaga kebersihan dan kerapihan lantai produksi. Langkah ini akan meningkatkan estetika dan membantu mendeteksi masalah secara dini pada mesin atau peralatan, dan menjaga kondisinya agar tetap optimal.
4. Standardize
Ada juga standardize atau seiketsu, yang dilakukan untuk menetapkan standar dan prosedur operasional yang konsisten. Langkah ini yang juga menjaga dan mempertahankan hasil dari tiga S sebelumnya: sort, set in order, shine. Langkah ini akan memastikan kegiatan terbaik dapat dilakukan konsisten di seluruh bagian perusahaan manufaktur.
5. Sustain
5S yang terakhir ada sustain atau shitsuke, yang fokus pada pengembangan dan budaya kerja agar mendukung penerapan seluruh langkah ini secara berkelanjutan. Sustain menjadi langkah yang akan memastikan praktik 5S tidak hanya diterapkan sementara, tapi dapat menjadi bagian integral dari perusahaan manufaktur.
Manfaat Total Productive Maintenance
Total productive maintenance menjadi pendekatan yang akan memberikan banyak manfaat signifikan, mulai dari pengurangan downtime, peningkatan OEE, pengurangan lead time, peningkatan kualitas, peningkatan keandalan, hingga mendorong semangat kerja.
Berikut adalah penjelasan dari beberapa manfaat dari TPM:
1. Pengurangan Downtime
Melalui pendekatan TPM, perusahaan dapat mengidentifikasi dan mencegah potensi masalah di setiap peralatan mesin produksi sebelum terjadi, seperti downtime perusahaan manufaktur. TPM akan secara signifikan dapat mengurangi lead-time mesin yang tidak terencana, dan memastikan kelancaran proses produksi.
2. Peningkatan Overall Equipment Effectiveness (OEE)
Penerapan metode TPM juga akan membantu perusahaan meningkatkan OEE sehingga Anda dapat memastikan mesin selalu dalam kondisi yang optimal. Melalui pendekatan terkait perawatan teratur dan keterlibatan seluruh tim, perusahaan dapat mengurangi kerusakan, mempercepat waktu perbaikan, serta memaksimalkan performa mesin di perusahaan manufaktur.
3. Pengurangan Lead Time dan Biaya Pemeliharaan
Melalui pendekatan preventif dari TPM, perusahaan akan mudah dalam mengurangi risiko kerusakan yang dapat menyebabkan lead time produksi. TPM juga akan mengidentifikasi masalah sehingga Anda dapat menghindari kerusakan besar yang membutuhkan perbaikan mahal.
Hal ini dapat membantu perusahaan menekan biaya perawatan, memperpanjang umur mesin, dan menjaga kelangsungan operasional tanpa gangguan berarti. Menurut blog terpercaya Tribunnews juga menjabarkan, bahwa kontribusi dan implementasi TPM juga terbukti dapat meningkatkan efisiensi biaya produksi.
4. Peningkatan Kualitas Produk dan Kepuasan Pelanggan
Mesin dan peralatan yang dikelola dengan maksimal dapat menghasilkan produk yang konsisten dan berkualitas tinggi. Adanya TPM ini, akan membantu mengurangi variasi dalam produksi, dan membantu menghasilkan produk sesuai standar. Adanya kualitas maksimal yang ditawarkan, perusahaan dapat meningkatkan kepuasan pelanggan, mempertahankan loyalitasnya, serta memperkuat reputasi bisnis di pasar dinamis.
5. Peningkatan Keandalan Peralatan
Penerapan TPM ini juga bermanfaat dalam meningkatkan keandalan peralatan dan mesin produksi melalui pemeliharaan rutin, dan peningkatan berkelanjutan. Peralatan dan mesin yang optimal dengan keandalan tinggi akan jarang mengalami kegagalan, dan dapat mendukung kestabilan proses produksi.
Selain itu, tugas maintenance pabrik manufaktur yang mencakup pemeliharaan preventif dan korektif sangat penting untuk memastikan bahwa peralatan tetap berfungsi dengan baik. Hal ini akan meminimalkan downtime, meningkatkan produktivitas, dan mengurangi biaya operasional yang disebabkan oleh kerusakan mesin yang tidak terduga.
6. Peningkatan Proses dan Inovasi Berkelanjutan
TPM juga dapat mendorong perbaikan berkelanjutan atau Kaizen di perusahaan manufaktur, dengan terus mengidentifikasi dan menerapkan perbaikan kecil namun signifikan pada setiap mesin dan peralatan. Hal tersebut akan membuat proses produksi di perusahaan dapat berinovasi terus menerus di pasar dinamis.
7. Mendorong Semangat Kerja dan Kepuasan Kerja
Penerapan TPM juga akan membuat seluruh karyawan memiliki rasa tanggung jawab tersendiri terhadap peralatan dan mesin produksi. Hal tersebut akan mendorong rasa bangga pada hasil kerja, memperkuat kolaborasi, serta meningkatkan motivasi tim. Karyawan yang merasa bangga dan dihargai akan lebih aktif dan puas dalam pekerjaan, sehingga dapat berkomitmen pada perbaikan berkelanjutan di perusahaan manufaktur.
Selain itu, implementasi K3 di manufaktur sangat mendukung keberhasilan TPM. Dengan memastikan lingkungan kerja yang aman dan sehat, K3 dapat mengoptimalkan kinerja tim dan mesin. Karyawan yang bekerja dalam kondisi aman dan nyaman cenderung lebih produktif, yang berkontribusi pada peningkatan efisiensi dan kualitas produksi.
Langkah Implementasi Total Productive Maintenance yang Tepat
Implementasi total productive maintenance membutuhkan tahapan perencanaan yang matang, beberapa langkah implementasi mulai dari persiapan dan komitmen manajemen puncak, penilaian awal dan identifikasi kebutuhan, implementasi pilar TPM, lakukan metode 5S, penggunaan software manufaktur, hingga dokumentasi dan standarisasi.
Berikut adalah penjelasan dari langkah implementasi TPM:
1. Persiapan dan Komitmen Manajemen Puncak
Penting untuk menetapkan dukungan manajemen puncak seperti adanya visi misi yang jelas untuk mengimplementasikan TPM, serta alokasikan sumber daya, anggaran, dan teknologi yang dibutuhkan. Setelah semuanya siap, perusahaan dapat membentuk tim inti TPM yang terdiri dari produksi, pemeliharaan, kualitas, dan SDM untuk menyelaraskan target operasional dengan KPI produksi manufaktur.
2. Penilaian Awal dan Identifikasi Kebutuhan
Lakukan juga identifikasi kebutuhan dengan melakukan inspeksi menyeluruh terhadap setiap mesin dan peralatan untuk menilai kondisi saat ini, apakah sering mengalami kerusakan, downtime, atau adanya aspek yang perlu diperbaiki. Dari inspeksi tersebut, kumpulkan datanya dan analisis kinerja pada mesin peralatan dan proses produksi.
3. Implementasi Pilar TPM yang Maksimal
Ada TPM pillars yang harus diterapkan dengan maksimal, mulai dari pemeliharaan otonom hingga keselamatan lingkungan. Setiap pilarnya dirancang untuk menangani area spesifik yang harus dikelola, agar dapat meningkatkan keandalan peralatan, produktivitas, dan kualitas produk yang dihasilkan secara menyeluruh serta secara bertahap menekan angka MTTR melalui prosedur perbaikan yang lebih terstandarisasi.
4. Lakukan Metode 5S
Metode atau elemen 5S ini harus dilakukan agar perusahaan dapat fokus pada pengorganisasian dan standarisasi lantai produksi. Aspek ini juga penting untuk mendukung pelaksanaan TPM pillars, dan menciptakan lingkungan kerja yang teratur, bersih, dan efisien.
5. Penggunaan Software Manufaktur
Untuk mengoptimasi setiap langkahnya, Anda bisa mengimplementasikan software manufaktur yang memiliki CMMS untuk pengelolaan jadwal pemeliharaan, tracking tugas, serta dokumentasi. Sistem dapat memantau setiap kondisi real-time TPM, dan medeteksi jika ada potensi kerusakan.
6. Monitoring, Evaluasi, dan Penyesuaian
Penting juga untuk menetapkan KPI yang relevan seperti tingkat downtime, produktivitas, dan kualitas produk agar dapat mengukur efektivitas TPM maintenance. Untuk evaluasi dan penyesuaian, lakukan audit TPM berkala untuk menilai kemajuannya, dan mengidentifikasi area harus diperbaiki.
7. Dokumentasi dan Standarisasi
Langkah berikutnya adalah mendokumentasikan semua prosedur, standar, dan praktik TPM dalam perusahaan manufaktur. Penting untuk pastikan data mudah diakses dan diperbarui sesuai kebutuhan. Tetapkan juga standar kinerja yang tepat untuk memastikan konsistensi dalam dokumentasi dan standarisasi penerapan TPM.
Baca juga: Apa itu MTTR, MTBF, dan MTTF serta Rumusnya dalam Manufaktur
Kelebihan Total Productive Maintenance
Total productive maintenance sebagai strategi manajemen komprehensif, dapat memberikan kemudahan bagi perusahaan manufaktur dalam menjaga efisiensi mesin peralatan produksi. Implementasi TPM maintenance ini memberikan berbagai keunggulan signifikan bagi proses manufaktur lebih baik.
1. Peningkatan Produktivitas
TPM memiliki kelebihan yang fokus pada optimalisasi kinerja peralatan, sehingga dapat memaksimalkan tingkat produksi menyeluruh. Dengan peralatan yang selalu optimal dan downtime yang berkurang, perusahaan dapat menghasilkan output lebih tinggi tanpa menambah sumber daya.
2. Meningkatkan Keandalan Peralatan
Kelebihan TPM juga terlihat dari pemeliharaan rutin dan peningkatan berkelanjutan yang dilakukan, sehingga peralatan lebih handal, dan jarang mengalami kegagalan. Hal tersebut dapat mendukung kestabilan proses produksi dan kepuasan pelanggan.
3. Keselamatan Kerja yang Lebih Baik
Perawatan yang baik pada peralatan dapat mengurangi risiko kecelakan kerja, dan menciptakan proses produksi yang lebih aman. TPM menekankan pentingnya keselamatan dalam proses pemeliharaan, dan melindungi kesehatan juga keselamatan karyawan.
4. Peningkatan Kepatuhan terhadap Standar dan Regulasi
TPM juga memberikan kelebihan untuk perusahaan manufaktur dalam memenuhi standar industri dan regulasi yang berlaku dalam hal pemeliharaan dan kesematan. Hal tersebut dapat menghindari sanksi dan menjaga reputasi perusahaan di mata pelanggan dan pemangku kepentingan.
Kekurangan Total Productive Maintenance
TPM maintenance penting dilakukan perusahaan agar keandalan dan efisiensi mesin dan peralatan produksi dapat meningkat. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa ada kekurangan dan tantangan yang harus dilalui agar efisiensi tersebut tercapai. Berikut kekurangan dan solusi yang dapat dilakukan:
1. Investasi Awal yang Tinggi
Implementasi TPM ini memerlukan investasi signifikan, baik dalam waktu, sumber daya manusial, bahkan biaya finansial. Anda perlu mengalokasikan anggaran yang matang, dengan analisis biaya-manfaat sebelum memulai implementasi. Mulai TPM secara bertahap, dari lini produksi yang paling membutuhkan peningkatan sehingga biaya dapat diatur lebih baik.
2. Implementasi yang Kompleks
TPM juga menjadi strategi dengan implementasi yang kompleks, dan memerlukan koordinasi yang baik antar berbagai depatemen. Untuk itu, dibuatlah tim implementasi TPM yang terdiri dari berbagai perwakilan departemen untuk memastikan koordinasi maksimal, dan mengatasi kompleksitas dengan efektif.
3. Perubahan Budaya Organisasi
TPM juga dapat menyebabkan adanya perubahan budaya di perusahaan manufaktur yang signifikan, termasuk peningkatan keterlibatan dan tanggung jawab sehingga dapat menyebabkan resistensi dari karyawan.
Solusinya, Anda bisa menjelaskan manfaat TPM dengan jelas pada seluruh karyawan, dan bagaimana perubahan tersebut dapat berpengaruh pada peningkatan kondisi kerja di perusahaan manufaktur.
Contoh TPM di Perusahaan Manufaktur
Beberapa contoh penerapan TPM di perusahaan manufaktur, yaitu pemeliharaan otonom, pemeliharaan terencana, peningkatan keterampilan, fokus pada keselamatan dan lingkungan.
Berikut adalah penjelasan dari beberapa contoh implementasi TPM di perusahaan manufaktur:
1. Pemeliharaan Otonom (Autonomous Maintenance)
Operator melakukan pembersihan, pelumasan, dan inspeksi mandiri untuk mendeteksi dini anomali pada mesin. Contohnya, operator pada perawatan mesin produksi air kemasan mampu menurunkan kerusakan mendadak dengan menjaga kebersihan komponen kritis secara rutin.
2. Pemeliharaan Terencana (Planned Maintenance)
Perbaikan preventif dijadwalkan berdasarkan data historis untuk mengganti suku cadang sebelum masa pakainya habis. Contohnya, pabrik air kemasan berhasil menurunkan downtime hingga 30% melalui jadwal servis berkala yang disiplin dan terukur.
3. Peningkatan Keterampilan & Pelatihan
Pelatihan teknis diberikan kepada karyawan untuk meningkatkan kemampuan analisis masalah dan perbaikan mandiri di lini produksi. Contohnya, Toyota meningkatkan skor OEE secara signifikan karena operator mampu melakukan troubleshooting dasar dengan cepat dan tepat.
4. Fokus pada Keselamatan & Lingkungan
Standarisasi prosedur kerja dilakukan untuk mengeliminasi potensi bahaya dan memastikan lingkungan kerja tetap sehat. Contohnya, industri kimia mampu mencapai Zero Accident dengan menerapkan audit keselamatan yang terintegrasi dalam rutinitas TPM.
Software Manufaktur ScaleOcean Dukung Optimasi TPM
Software manufaktur ScaleOcean dapat membantu optimalkan implementasi Total Productive Maintenance (TPM) dalam operasional bisnis manufaktur Anda. Dengan integrasi yang mulus antara modul pemeliharaan aset, manajemen suku cadang, dan kontrol kualitas, ScaleOcean memungkinkan perusahaan untuk meningkatkan keandalan mesin dan akurasi jadwal perawatan di setiap lini produksi.
Sistem ini secara otomatis memantau performa mesin secara real-time dan memastikan bahwa setiap tindakan pemeliharaan preventif dilakukan tepat waktu. Selain itu, ScaleOcean menyediakan pelaporan analitik yang membantu manajer untuk menghitung metrik seperti OEE, MTTR, dan MTBF secara otomatis guna mendukung pengambilan keputusan berbasis data yang lebih cepat dan tepat.
Kustomisasi yang fleksibel memungkinkan perusahaan manufaktur menyesuaikan sistem sesuai dengan kebutuhan spesifik. Tidak hanya itu, ScaleOcean juga menyediakan layanan konsultasi dan demo gratis sehingga Anda dapat melihat bagaimana software ini mendukung efisiensi jangka panjang dan daya saing di industri Anda.
Berikut fitur unggulan yang ditawarkan software manufaktur ScaleOcean untuk mendukung TPM:
- Integrasi industrial internet of things (IIoT): Menghubungkan sensor mesin untuk pemantauan kondisi fisik dan analisis data secara real-time, mendeteksi potensi kerusakan sebelum terjadi.
- CMMS dan maintenance planning: Mengotomatiskan jadwal pemeliharaan preventif dan korektif, memastikan setiap aset mendapatkan perawatan sesuai standar pabrikan.
- Detailed cost tracking: Melacak biaya pemeliharaan secara rinci, mencakup suku cadang, tenaga kerja teknisi, dan overhead, memastikan kontrol anggaran perawatan yang tepat.
- Spare part inventory management: Mengelola daftar komponen cadangan yang dibutuhkan untuk perbaikan, mengurangi risiko downtime akibat ketiadaan suku cadang.
- Automated stock replenishment: Mengotomatiskan pemesanan ulang suku cadang kritis ketika stok menipis, memastikan ketersediaan alat pendukung pemeliharaan selalu siap.
- Performance monitoring dashboard: Menyediakan visualisasi KPI produksi dan efektivitas mesin secara otomatis, menghindari proses penghitungan manual yang memakan waktu.
- Quality control automation: Mengotomatiskan pemantauan kualitas hasil produksi yang berkaitan dengan performa mesin, memastikan standar zero defect terpenuhi secara konsisten.
Kesimpulan
Total productive maintenance (TPM) adalah sistem manajemen perawatan peralatan/mesin yang melibatkan seluruh karyawan dari operator hingga manajemen puncak. Alur produksi dalam industri modern mengintegrasikan elemen krusial seperti perawatan aset yang proaktif, pelatihan keterampilan operator, hingga budaya keselamatan kerja untuk memastikan operasional berjalan mulus.
Software manufaktur ScaleOcean hadir sebagai solusi cerdas melalui sistem smart manufacturing yang mengintegrasikan seluruh aktivitas pemeliharaan secara otomatis dan efisien. Dengan fitur unggulan yang mendukung manajemen work order, pengawasan kondisi mesin, dan pemantauan KPI secara real-time, ScaleOcean membantu perusahaan manufaktur mengoptimalkan setiap detail proses perawatan aset produksi.
Memahami dan menerapkan solusi teknologi ini akan membantu bisnis Anda meminimalisir risiko kerusakan mendadak, mencegah pemborosan biaya perbaikan, dan menekan downtime yang tidak perlu. Jadwalkan demo gratis dan konsultasi dengan tim ahli kami untuk melihat secara langsung bagaimana sistem kami dapat mentransformasi efisiensi dan kualitas produksi Anda menjadi lebih baik!
FAQ:
1. Apa yang dimaksud dengan total productive maintenance?
Total productive maintenance (TPM) di defenisikan sebagai upaya berbasis tim lingkup perusahaan untuk membangun kualitas dan produktivitas kedalam sistem produksi dan meningkatkan OEE.
2. Apa contoh dari pemeliharaan produktif total?
Contoh TPM meliputi pembersihan rutin, pelumasan, pembersihan, dan penggantian suku cadang individual oleh operator mesin di pabrik baja. Di pabrik besar, terdapat beberapa mesin yang harus terus-menerus dirawat.
3. Apa saja 5S dalam TPM?
Pendekatan tradisional terhadap TPM dikembangkan pada tahun 1960-an dan terdiri dari 5S sebagai fondasi dan delapan aktivitas pendukung. Model TPM tradisional terdiri dari fondasi 5S (sort, set in order, shine, standarize, dan sustain)



