Ketidakpastian dalam jadwal pemeliharaan mesin dapat berdampak buruk pada kelancaran operasional. Hal ini memicu peningkatan biaya akibat penghentian produksi mendadak, kerusakan komponen yang menjalar, hingga risiko keterlambatan pengiriman produk kepada konsumen. Keselamatan kerja dan produktivitas lini produksi Anda berisiko mengalami penurunan yang signifikan akibat kegagalan aset yang tidak terprediksi.
Implementasi strategi breakdown maintenance yang tepat dapat menjadi salah satu solusi untuk mengelola tantangan ini. Pendekatan ini memfokuskan tindakan perbaikan hanya pada saat mesin benar-benar berhenti berfungsi. Ketepatan dalam merespons fase kerusakan ini memengaruhi struktur biaya pemeliharaan, efisiensi waktu teknisi, serta keberlangsungan output produksi perusahaan pada aset-aset tertentu.
Memahami konsep breakdown maintenance dapat membantu bisnis Anda mengoptimalkan alur kerja reaktif di pabrik, meminimalkan durasi downtime, dan menjaga keseimbangan antara biaya perawatan dengan umur pakai mesin. Artikel ini akan membahas apa itu breakdown maintenance, mengapa strategi ini diambil, peran pentingnya dalam industri manufaktur, hingga implikasi strategis yang menyertainya.
- Breakdown maintenance adalah strategi perawatan reaktif di mana perbaikan mesin atau peralatan dilakukan hanya setelah terjadi kerusakan total atau penurunan kinerja yang parah
- Contoh breakdown maintenance meliputi perbaikan mesin produksi rusak, kendaraan mogok, jaringan listrik padam, komputer mati, dan penggantian spare part.
- Ciri-ciri breakdown maintenance yaitu bersifat relatif, tidak direncanakan, dapat menyebabkan downtime tak terduga, perbaikan darurat, biaya tinggi, dan fokus pada fungsi.
- Software manufaktur ScaleOcean hadir untuk mengoptimalkan proses breakdown maintenance melalui manajemen suku cadang dan pemantauan kondisi mesin dalam satu platform terintegrasi.
Apa itu Breakdown Maintenance?
Breakdown maintenance adalah strategi perawatan reaktif di mana perbaikan mesin atau peralatan dilakukan hanya setelah terjadi kerusakan total atau penurunan kinerja yang parah. Berbeda dengan tindakan pencegahan, pendekatan ini tidak melibatkan intervensi awal, sehingga perbaikan baru dimulai saat alat sudah berhenti beroperasi.
Tujuan utama dari pendekatan ini adalah memulihkan kembali operasional mesin secepat mungkin setelah kegagalan terjadi. Karakteristik inherennya sangat kontras dengan metode proaktif lainnya, breakdown maintenance sepenuhnya bergantung pada respon darurat setelah mesin mengalami kendala teknis yang nyata.
Dalam skala industri, strategi ini biasanya dikhususkan bagi peralatan non-kritis yang kerusakannya tidak akan melumpuhkan seluruh jalur manufaktur secara masal. Meskipun terkesan berisiko, perusahaan tetap memantau efektivitas strategi ini melalui berbagai metrik evaluasi. Salah satu indikator untuk mengukur frekuensi gangguan serta keandalan mesin dalam periode tertentu adalah mean time between failure.
Ciri-ciri Breakdown Maintenance
Ciri-ciri breakdown maintenance mencakup beberapa hal, yaitu bersifat relatif, tidak direncanakan, dapat menyebabkan downtime tak terduga, perbaikan darurat, biaya tinggi, dan fokus pada fungsi.
Berikut adalah penjelasan dari masing-masing ciri breakdown maintenance:
1. Bersifat Reaktif (Reactive Maintenance)
Pendekatan ini berpegang pada prinsip perbaikan hanya saat terjadi kegagalan fungsional. Artinya, tidak ada upaya intervensi teknis selama mesin masih terlihat beroperasi, meskipun mungkin sudah ada indikasi penurunan performa tipis di bawah standar.
Karakteristik reaktif ini menempatkan tim teknisi dalam posisi menunggu masalah muncul. Alih-alih mengendalikan kondisi aset, perusahaan justru dikendalikan oleh kondisi aset, di mana tindakan pemeliharaan sepenuhnya didikte oleh momen terjadinya kerusakan mekanis atau elektrikal.
2. Tidak Direncanakan (Unplanned)
Breakdown maintenance secara inheren tidak memiliki kalender kerja yang pasti. Karena kerusakan bisa terjadi kapan saja, baik itu di tengah malam maupun saat puncak produksi, pemeliharaan ini dilakukan tanpa persiapan jadwal, ketersediaan alat, maupun kesiapan personel yang matang sebelumnya.
Penggunaan software shop floor dapat membantu memonitor kondisi mesin secara real-time dan memberikan notifikasi lebih awal, mengurangi kemungkinan terjadinya kerusakan yang tidak terduga. Ketiadaan rencana ini sering kali mengacaukan manajemen sumber daya manusia di pabrik.
Teknisi yang seharusnya mengerjakan tugas lain terpaksa dialihkan secara mendadak untuk menangani kerusakan yang pada akhirnya dapat mengganggu alur kerja departemen lain dalam organisasi.
3. Menyebabkan Downtime Tidak Terduga
Ketika mesin berhenti secara mendadak, seluruh rantai pasokan di lini produksi tersebut akan terputus seketika. Downtime atau waktu henti ini terjadi tanpa peringatan, yang mengakibatkan target produksi harian gagal tercapai dan menciptakan efek domino pada jadwal pengiriman barang.
Kerugian finansial akibat downtime tidak terduga ini sering kali jauh lebih besar daripada sekadar biaya teknisi. Perusahaan harus menanggung biaya peluang dari produk yang tidak terjual, upah tenaga kerja yang menganggur selama mesin mati, hingga potensi denda dari klien karena keterlambatan pengiriman.
4. Perbaikan Darurat (Emergency Repair)
Dalam situasi breakdown, tekanan waktu menjadi faktor penentu utama. Tim pemeliharaan dituntut untuk melakukan respon cepat guna memulihkan fungsi mesin, yang sering kali melibatkan pengadaan suku cadang secara ekspres atau pemanggilan tenaga ahli eksternal dalam waktu singkat.
Prosedur darurat ini menuntut kesiapan mental dan ketangkasan teknisi. Karena setiap menit mesin mati berarti kerugian material, perbaikan dilakukan dalam kondisi high-pressure yang memerlukan koordinasi intensif antara departemen produksi dan departemen pemeliharaan.
5. Biaya Tinggi
Secara paradoks, meski menghemat biaya perawatan rutin di awal, run-to-failure sering kali berakhir dengan tagihan yang lebih mahal. Biaya tinggi ini berasal dari harga suku cadang yang dibeli mendadak, ongkos kirim ekspres, hingga biaya lembur teknisi yang harus bekerja di luar jam operasional normal.
Selain biaya langsung, kerusakan yang dibiarkan hingga mesin mati total biasanya bersifat destruktif. Kerusakan pada satu komponen kecil yang diabaikan dapat menjalar dan merusak komponen besar lainnya, sehingga biaya restorasi mesin secara keseluruhan menjadi berkali-kali lipat lebih mahal.
6. Fokus pada Fungsi
Tujuan utama dari tindakan ini adalah pemulihan instan, di mana fokus teknisi adalah membuat mesin kembali berputar secepat mungkin. Perbaikan sering kali bersifat jangka pendek atau hanya menambal bagian yang rusak agar lini produksi bisa segera berjalan kembali tanpa melakukan pemeriksaan menyeluruh.
Pendekatan yang hanya fokus pada fungsi ini berisiko meninggalkan akar masalah yang sebenarnya (root cause). Tanpa perbaikan mendalam setelah operasional kembali normal, mesin memiliki probabilitas tinggi untuk mengalami kerusakan serupa dalam waktu dekat, yang pada akhirnya akan memperpendek usia pakai aset tersebut.
Contoh Skenario Breakdown Maintenance
Contoh skenario penerapan breakdown maintenance dapat dilihat dari beberapa kasus, mulai dari perbaikan mesin produksi karena kelebihan beban, perbaikan kendaraaan mogok di jalan, perbaikan jaringan listrik yang mengalami pemadaman, perbaikan komputer, maintenance mesin pengiri air kemasan gelas, dan perbaikan peralatan dengan spare part yang mudah di dapat.
Berikut adalah penjelasan contoh skenario breakdown maintenance dalam industri manufaktur:
1. Perbaikan Mesin Produksi karena Kelebihan Beban
Kerusakan mesin produksi kerap terjadi akibat penggunaan yang melebihi kapasitas, seperti mesin press yang rusak saat memproses bahan terlalu tebal. Penanganan cepat diperlukan agar proses produksi tidak terganggu lebih lama dan kerusakan tidak bertambah parah. Contoh mesin manufaktur yang sering mengalami breakdown antara lain mesin pengisi botol air kemasan gelas dan mesin cetak plastik.
2. Perbaikan Kendaraan Mogok di Jalan
Kendaraan operasional bisa mengalami mogok tiba-tiba karena masalah seperti ban bocor atau alternator rusak. Perbaikan breakdown ini harus dilakukan segera untuk menghindari penundaan pengiriman dan menjaga kelancaran aktivitas perusahaan.
Situasi ini menunjukkan bahwa breakdown maintenance pada kendaraan operasional memerlukan kesiapan logistik yang sangat tinggi. Tanpa adanya ban cadangan yang laik pakai atau ketersediaan vendor suku cadang yang responsif, mogok mendadak ini akan langsung menghentikan arus distribusi dan merusak reputasi layanan di mata pelanggan.
3. Perbaikan Jaringan Listrik yang Mengalami Pemadaman
Gangguan listrik bisa terjadi akibat kerusakan transformator atau kabel yang putus, sehingga menyebabkan pemadaman. Tim maintenance harus segera memperbaiki agar sistem kelistrikan kembali normal dan tidak mengganggu proses kerja. Kerusakan pada infrastruktur kelistrikan seperti transformator mengharuskan tim teknis bekerja di bawah tekanan tinggi untuk melakukan lokalisasi titik gangguan.
Mengingat listrik adalah energi utama bagi mesin produksi dan sistem IT, kecepatan dalam penyambungan kembali kabel atau penggantian komponen panel menjadi penentu utama dalam menekan angka kerugian operasional akibat henti daya yang berkepanjangan.
4. Perbaikan Komputer yang Tidak Menyala
Kerusakan pada perangkat komputer, misalnya motherboard atau hard drive rusak, membuat perangkat tidak bisa menyala. Penanganan breakdown ini penting agar pekerjaan digital dapat segera dilanjutkan tanpa hambatan. Kegagalan perangkat keras pada komputer sering kali menghentikan akses data krusial secara seketika.
Sehingga penanganan breakdown dalam aspek ini berfokus pada pemulihan fungsionalitas sistem atau migrasi data ke unit cadangan. Kecepatan diagnosis oleh tim tugas maintenance pabrik manufaktur pada komponen motherboard atau power supply sangat vital agar alur kerja digital karyawan tidak terputus terlalu lama, yang dapat menghambat produktivitas administratif perusahaan.
5. Perbaikan Peralatan dengan Spare Part Mudah Didapat
Beberapa peralatan, seperti lampu penerangan umum, memerlukan penggantian komponen yang mudah diperoleh, misalnya lampu yang rusak. Proses perbaikan yang cepat dan efisien membantu menjaga kenyamanan dan keamanan lingkungan kerja. Strategi breakdown maintenance menjadi efisien karena biaya penyimpanan komponen jauh lebih murah dibandingkan melakukan inspeksi rutin yang membuang waktu.
Dengan ketersediaan suku cadang yang memadai di gudang, tim dapat langsung mengganti bohlam atau sakelar yang mati dalam hitungan menit, sehingga standar keamanan dan kenyamanan area kerja tetap terjaga dan sesuai dengan regulasi PP No. 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja.
6. Penanganan Kerusakan Mesin Pengisi Air Kemasan Gelas
Strategi breakdown maintenance diterapkan ketika komponen kritis seperti nozzle pengisi atau sistem sealing mengalami kegagalan fungsi mendadak di tengah jam operasional.
Karena mesin ini merupakan bagian dari lini produksi yang bergerak cepat, tim teknisi harus segera melakukan perbaikan darurat (emergency repair) untuk mengganti komponen yang patah atau macet agar aliran produksi tidak terhenti terlalu lama dan meminimalkan kerugian akibat output yang terbuang.
Apa Saja Jenis Breakdown Maintenance?
Jenis-jenis breakdown maintenance dibagi menjadi 2 jenis yaitu planned dan unplanned breakdown maintenance. Berikut adalah penjelasan dari kedua jenis run-to-failure:
1. Planned Breakdown Maintenance
Planned breakdown maintenance adalah strategi di mana perusahaan secara sadar memutuskan untuk membiarkan suatu aset beroperasi hingga rusak total. Strategi ini biasanya diterapkan pada peralatan yang memiliki dampak rendah terhadap operasional, murah untuk diganti, atau sulit untuk diservis secara rutin.
Contoh paling umum adalah pada penggantian lampu ruangan atau komponen sekali pakai lainnya. Melakukan pengecekan rutin pada setiap bohlam setiap minggu tentu tidak efisien secara biaya dibandingkan dengan menunggu lampu tersebut putus baru kemudian menggantinya. Dalam konteks ini, kerusakan sudah diprediksi dan suku cadang sudah disiapkan di gudang, sehingga proses penggantian dapat dilakukan dengan cepat.
2. Unplanned Breakdown Maintenance
Unplanned breakdown maintenance adalah skenario terburuk bagi setiap manajer pabrik. Hal ini terjadi ketika mesin utama atau peralatan krusial dalam lini produksi mengalami kegagalan fungsi secara mendadak tanpa ada antisipasi sebelumnya. Kejadian ini biasanya dipicu oleh pengabaian terhadap gejala kerusakan kecil atau tidak adanya sistem deteksi dini.
Dampak dari kejadian yang tidak terencana ini sangat masif, mulai dari kerugian finansial akibat idle time karyawan, risiko kerusakan produk yang sedang dalam proses, hingga biaya perbaikan darurat yang melonjak drastis. Karena tidak direncanakan, tim teknis seringkali harus bekerja dalam kondisi tekanan tinggi untuk mencari penyebab kerusakan sambil menunggu suku cadang yang mungkin tidak tersedia di stok.
Apa Kelebihan dan Kekurangan Breakdown Maintenance?

1. Kelebihan Breakdown Maintenance
Beberapa kelebihan dari breakdown maintenance, mulai dari tidak membutuhkan perencanaan yang rumit, biaya inventasi lebih rendah, hingga cocok untuk peralatan non-kritis tertentu.
Berikut penjelasan dari kelebihan breakdown maintenance:
- Tidak membutuhkan perencanaan yang rumit: Metode ini jauh lebih praktis karena tidak memerlukan jadwal inspeksi rutin atau sistem pelacakan data yang kompleks.
- Biaya investasi awal lebih rendah: Tidak diperlukan investasi besar di awal untuk perangkat lunak pemeliharaan atau peralatan diagnostik yang mahal. Namun, biaya penyusutan mesin tetap harus dipantau agar kerusakan mendadak tidak menyebabkan beban nilai aset turun.
- Cocok untuk peralatan non-kritis tertentu: Sangat efisien jika diterapkan pada aset pendukung yang kegagalannya tidak menghentikan total jalur produksi utama.
2. Kekurangan Breakdown Maintenance
Beberapa kekurangan dari breakdown maintenance, mulai dari menyebabkan waktu henti, memungkinkan biaya perbaikan lebih tinggi, kurang efisien untuk kegagalan yang sering. Berikut adalah penjelasan dari beberapa aspek kekurangan breakdown maintenance:
- Menyebabkan waktu henti lebih lama: Kerusakan mendadak memicu downtime tidak terduga yang menghentikan lini produksi secara paksa dan masif.
- Memungkinkan biaya perbaikan yang lebih tinggi: Biaya perbaikan darurat jauh lebih mahal dibanding perawatan terencana karena adanya ongkos kirim ekspres.
- Kurang efisien untuk peralatan dengan kegagalan yang sering: Gangguan berulang menyebabkan alur kerja terfragmentasi dan menurunkan efisiensi pemanfaatan sumber daya pabrik.
Baca juga: OEE (Overall Equipment Effectiveness): Arti, Fungsi, dan Rumusnya
Kapan Breakdown Maintenance Dilakukan?
Beberapa situasi spesifik breakdown maintenance digunakan adalah pada saat kerusakan tak terduga, mesin non-kritis, dan efisiensi biaya dan waktu. Berikut adalah penjelasan situasi spesifik penggunaan breakdown maintenance:
- Kerusakan tak terduga: Tindakan ini diambil saat mesin tiba-tiba mati di tengah operasional dan membutuhkan penanganan darurat segera. Fokusnya memulihkan fungsi perangkat secepat mungkin untuk meminimalkan durasi gangguan pada sistem.
- Mesin non-kritis: Strategi ini diterapkan pada aset pendukung yang kegagalannya tidak melumpuhkan jalur produksi utama secara masal. Kerusakan pada peralatan jenis ini dianggap memiliki risiko rendah karena tidak mengganggu output produk.
- Efisiensi biaya dan waktu: Sangat ideal untuk peralatan dengan harga murah atau masa pakai singkat. Metode ini menghindari pemborosan biaya inspeksi rutin pada alat yang nilai perawatannya melebihi harga aset itu sendiri.
Apa Fungsi Breakdown Maintenance di Manufaktur?
Beberapa fungsi breakdown maintenance dalam bisnis manufaktur mencakup beberapa hal, yaitu mengurangi downtime produksi, memastikan kinerja optimal mesin, mengelola biaya perawatan, hinga meminimalkan risiko kerusakan sistemik.
Berikut adalah penjelasan lebih detial terkait fungsi breakdown maintenance:
1. Mengurangi Downtime Produksi
Maintenance jenis ini akan membantu meminimalkan downtime atau waktu henti produksi akibat mesin rusak yang tidak bisa digunakan. Proses pemeliharaan yang cepat dan tepat akan membuat perusahaan dapat segera melanjutkan operasional, serta akan menghindari penundaan produksi yang merugikan.
2. Memastikan Kinerja Optimal Mesin
Maintenance akan memperbaiki mesin yang rusak secara cepat dan cenderung lebih handal dilakukan, ini akan membuat perusahaan bisa meningkatkan kinerja mesin tetap optimal. Selain itu, pengukuran efektivitas mesin OEE six big losses dapat digunakan untuk memantau hasil perbaikan, menjaga kualitas produk, dan mencegah kerusakan lanjutan.
3. Mengelola Biaya Perawatan
Fungsi lainnya breakdown maintenance adalah untuk membantu pengelolaan biaya perawatan yang lebih baik. Dengan begitu perusahaan dapat fokus hanya pada peralatan mesin produksi yang benar-benar membutuhkan perawatan mesin tanpa harus mengeluarkan biaya untuk inspeksi rutin yang belum terlalu dibutuhkan.
4. Melakukan Lokalisasi Kerusakan Aset
Fungsi utama dari tindakan perbaikan setelah terjadi breakdown adalah untuk segera mengisolasi kerusakan agar tidak menyebar ke sistem mekanis atau elektrikal lainnya. Dengan respon cepat saat komponen gagal, teknisi dapat mencegah efek domino yang merusak komponen pendukung di sekitarnya, sehingga biaya restorasi mesin tidak membengkak lebih jauh akibat kerusakan sistemik yang lebih parah.
Apa Saja Komponen Penting dalam Breakdown Maintenance?
Beberapa komponen breakdown maintenance termasuk tim maintenance yang kompeten, sistem monitoring yang canggih, serta protokol pemeliharaan yang baik. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut terkait komponen breadkdown maintenance:
1. Tim Maintenance yang Kompeten
Tim maintenance diperlukan dalam proses maintenance untuk mendiagnosis dan memperbaiki kerusakan pada mesin dengan cepat dan efisien. Mereka harus memiliki skill teknis mendalam, serta sertifikasi diperlukan agar tim dapat menghadapi berbagai jenis kerusakan secara profesional.
2. Sistem Monitoring dan Pelaporan
Penerapan sistem monitoring yang canggih memungkinkan tim teknis memantau parameter kinerja mesin secara real-time guna menangkap anomali sebelum terjadi kegagalan total. Dengan deteksi dini ini, perusahaan dapat beralih dari tindakan reaktif yang mendadak menuju perencanaan perbaikan yang lebih terukur dan efisien.
Implementasi software manufaktur ScaleOcean dapat membantu optimalkan proses breakdown maintenance. Melalui fitur automated maintenance scheduling dan predictive analytics, sistem ini memungkinkan pemantauan kondisi mesin secara real-time serta menyediakan laporan komprehensif untuk analisis mendalam. Dengan software ini, perusahaan dapat mendeteksi kerusakan lebih dini dan meminimalkan risiko downtime.
3. Ketersediaan Suku Cadang
Berikutnya, suku cadang yang tepat dan tersedia tepat waktu berperan penting untuk mempercepat proses perbaikan dan mengurangi downtime. Pengelolaan inventaris suku cadang yang efisien, terutama untuk komponen yang sering digunakan, membantu menangani kerusakan mesin secara cepat dan efisien.
Pengelolaan inventaris yang terintegrasi dengan software manufaktur lengkap memastikan ketersediaan komponen kritis selalu terpantau secara otomatis. Dengan sinkronisasi data stok dan kebutuhan perbaikan, tim logistik dapat menghindari keterlambatan pengadaan yang sering kali menjadi penghambat utama dalam memulihkan operasional mesin setelah terjadi kerusakan mendadak.
4. Peralatan dan Teknologi Perbaikan
Harus ada juga peralatan perbaikan yang tepat, serta teknologi yang memadai untuk melakukan perbaikan dengan cepat dan presisi. Anda bisa menggunakan teknologi seperti augmented reality (AR) atau diagnostic software juga dapat mempercepat identifikasi masalah dan mengurangi risiko kesalahan manusia selama proses pemeliharaan.
Integrasi teknologi digital tidak hanya mempercepat proses teknis, tetapi juga mempermudah penyusunan laporan maintenance yang akurat setelah perbaikan selesai. Dokumentasi digital ini memungkinkan tim teknisi melacak riwayat kerusakan secara mendetail, sehingga setiap tindakan korektif yang dilakukan dapat menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan keandalan aset di masa mendatang.
5. Prosedur dan Protokol Pemeliharaan
Penting juga untuk memiliki SOP dan panduan yang tepat untuk melakukan proses maintenance breakdown dengan optimal. SOP yang digunakan bisa mencakup mencakup langkah-langkah detail mulai dari identifikasi masalah, pelaporan, hingga penyelesaian perbaikan.
SOP yang terstruktur dengan baik merupakan fondasi utama dalam mendukung keberhasilan strategi total productive maintenance di lingkungan pabrik. Dengan protokol yang jelas, setiap personel tidak hanya fokus pada perbaikan saat terjadi breakdown, tetapi juga memahami tanggung jawab kolektif dalam menjaga performa mesin agar tetap berada pada level optimal secara berkelanjutan.
Kesimpulan
Breakdown maintenance adalah strategi perawatan yang dilakukan hanya ketika suatu mesin atau peralatan telah mengalami kerusakan atau kegagalan operasional total. Strategi penanganan dalam industri manufaktur modern mengintegrasikan elemen penting seperti manajemen suku cadang yang responsif, pelaporan kerusakan yang akurat, hingga evaluasi teknis untuk memastikan mesin kembali beroperasi normal tanpa kendala berulang.
Software manufaktur ScaleOcean hadir sebagai solusi melalui sistem manajemen pemeliharaan terintegrasi yang mampu optimalkan breakdown maintenance. Dengan fitur yang mendukung pemantauan kondisi mesin secara real-time, manajemen inventaris spare part, dan pelaporan kinerja aset, ScaleOcean membantu perusahaan manufaktur mengoptimalkan setiap tahapan dalam menanggulangi kerusakan tidak terduga.
Memahami dan menerapkan solusi teknologi ini akan membantu bisnis Anda meminimalisir durasi downtime, mencegah kerusakan mesin yang lebih parah, dan menekan biaya perbaikan darurat yang tidak terencana. Jadwalkan demo gratis dan konsultasi dengan tim ahli kami untuk melihat secara langsung bagaimana sistem kami dapat mentransformasi efisiensi pemeliharaan aset Anda menjadi lebih baik!
FAQ:
1. Apa itu breakdown maintenance?
Breakdown maintenance ini adalah perawatan yang dilakukan setelah terjadi kerusakan pada mesin atau peralatan kerja, yang menyebabkan mesin tersebut tidak dapat beroperasi secara normal atau terhenti secara total di waktu yang mendadak.
2. Mengapa breakdown maintenance penting?
Breakdown maintenance penting sebagai strategi reaktif untuk segera memperbaiki mesin yang rusak agar operasional kembali berjalan, mengurangi downtime, serta mengoptimalkan umur komponen hingga batas maksimal. Meskipun berisiko tinggi, pendekatan ini efisien untuk mesin sederhana/murah, meminimalkan biaya perbaikan preventif yang tidak perlu, dan memberikan fleksibilitas jadwal.
3. Apakah breakdown maintenance sama dengan run-to-failure (RTF)?
Ya, dalam banyak literatur manajemen aset, kedua istilah ini digunakan secara bergantian. Keduanya berfokus pada pemanfaatan aset hingga titik kegagalan fungsional.













































WhatsApp Tim Kami
Demo With Us
