Engineering Control: Pengertian, Manfaat, dan Contohnya

Posted on
Share artikel ini

Sebagai respons terhadap risiko di industri, muncul pendekatan engineering control. Hal ini berperan penting dalam mengurangi kecelakaan dan paparan bahaya di lingkungan kerja. Hal berikut menjadi bagian integral dari sistem keselamatan kerja modern, memastikan aktivitas perusahaan berjalan aman.

Untuk itulah, engineering control hadir sebagai salah satu pendekatan utama dalam upaya menciptakan lingkungan kerja yang aman. Sebelum membahas lebih jauh mengenai manfaatnya, penting untuk mema10hami terlebih dahulu apa maksud sebenarnya, serta bagaimana perannya dalam sistem keselamatan kerja modern.

starsKey Takeaways

Coba Demo Gratis!

requestDemo

1. Apa itu Engineering Control?

Engineering control adalah metode pengendalian risiko dalam keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang bertujuan mengurangi atau menghilangkan paparan bahaya melalui perancangan teknis, seperti modifikasi peralatan, fasilitas, atau proses kerja.

Hal berikut adalah bagian dari hirarki pengendalian risiko, yang dimulai dengan eliminasi bahaya, diikuti oleh substitusi dengan alternatif yang lebih aman, kemudian engineering control. Jika risiko masih ada, langkah berikutnya adalah pengendalian jarak, seperti pengaturan jadwal dan pelatihan, diakhiri dengan penggunaan alat pelindung diri.

Dibandingkan dengan pengendalian jarak dan APD, engineering control lebih diutamakan karena memberikan perlindungan yang lebih konsisten dan tidak terlalu bergantung pada kedisiplinan individu. Dengan kata lain, engineering control memungkinkan terciptanya lingkungan kerja yang lebih aman.

2. Manfaat Engineering Control

Engineering control dilakukan untuk memastikan keselamatan lingkungan kerja.

Dengan menerapkan engineering control secara langsung ke dalam sistem kerja, perusahaan mampu menciptakan lingkungan yang lebih aman, efisien, dan berkelanjutan. Di bawah ini adalah beberapa manfaat utama dari penerapan engineering control dalam konteks keselamatan dan kesehatan kerja (K3):

a. Memberikan Perlindungan yang Konsisten dan Berkelanjutan

Engineering control dirancang sebagai solusi teknis jangka panjang yang bekerja secara otomatis tanpa intervensi harian, menjadikannya andal dan hemat biaya. Berbeda dengan APD yang bisa rusak, sistem seperti ventilasi otomatis terus mengalirkan udara bersih dan menghilangkan kontaminan selama berfungsi.

Peran HSE officer sangat penting dalam memastikan penerapan engineering control ini berjalan dengan efektif dan mematuhi standar keselamatan yang ditetapkan.

b. Meningkatkan Efisiensi dan Produktivitas Kerja

Dengan mengurangi atau menghilangkan bahaya dari sumbernya, engineering control menciptakan lingkungan kerja yang lebih nyaman dan kondusif. Hal ini berdampak langsung pada produktivitas, karena pekerja tidak perlu lagi menghindari risiko secara sadar.

c. Mengurangi Potensi Kerugian

Penerapan engineering control yang efektif dapat mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja, menurunkan frekuensi dan keparahan insiden. Hal ini membantu perusahaan mengurangi biaya tak terduga, seperti perawatan medis, kehilangan jam kerja, dan klaim asuransi.

d. Mendukung Kepatuhan terhadap Regulasi K3

Banyak regulasi nasional dan internasional mengharuskan perusahaan mengutamakan engineering control sebelum metode pengendalian lainnya. Penerapan yang tepat menunjukkan kepatuhan terhadap standar K3, meminimalkan risiko sanksi hukum, dan mencerminkan komitmen perusahaan terhadap keselamatan kerja.

3. Keterbatasan Engineering Control

Meskipun efektif mengurangi risiko kecelakaan, engineering control tidak dapat sepenuhnya mengatasi semua masalah. Meskipun perangkat keselamatan ada, pekerja tetap harus berhati-hati. Risiko kecelakaan, termasuk cedera atau kematian, tetap ada.

Menurut Occupational Health and Safety Blog, ada beberapa keterbatasan yang perlu dipahami sebelum melaksanakan engineering control. Yakni, yang dimaksud adalah sebagai berikut:

a. Memerlukan Perawatan Rutin

Salah satu keterbatasan engineering control adalah memerlukan pengawasan dan perawatan rutin untuk menjaga efektivitasnya. Jika tidak dirawat dengan baik, sistem dapat mengalami kerusakan atau malfungsi, yang mengurangi efektivitasnya. Hal ini dapat menyebabkan bahaya muncul kembali tanpa disadari.

b. Memunculkan Masalah Baru

Keterbatasan kedua yang dimiliki hal berikut adalah berpotensi untuk memunculkan kelemahan yang baru. Contoh kelemahan baru yang akan muncul dengan diimplementasikannya engineering control adalah meningginya rasa kepercayaan diri pekerja.

c. Biaya Investasi yang Tinggi

Selain risiko terhadap SDM, engineering control juga memiliki keterbatasan ekonomis. Implementasinya memerlukan biaya tinggi, terutama untuk perancangan, pemasangan, dan perawatan mesin produksi yang rutin. Bagi perusahaan kecil atau proyek terbatas, hal ini bisa menjadi tantangan.

d. Memerlukan Pendataan yang Mendetail

Setelah melakukan proses maintenance, penanggung jawab lingkungan kerja harus mengetahui siapa yang melakukan proses tersebut dan kapan fase maintenance perlu dilakukan lagi. Hal ini penting untuk memastikan akuntabilitas dan kesinambungan perawatan, terutama dalam lingkungan kerja.

Dokumentasi yang akurat tidak hanya mencakup detail aktivitas yang telah dilakukan, tetapi juga identitas teknisi, tanggal pelaksanaan, komponen yang diperiksa atau diganti, serta rekomendasi atau jadwal maintenance selanjutnya.

Dengan begitu, manajemen dapat melacak histori perawatan dengan mudah, menganalisis tren kerusakan, dan mengantisipasi risiko kegagalan sistem sebelum terjadi. Maka dari itu, sebuah laporan perawatan atau maintenance merupakan hal yang wajib untuk dimiliki.

4. Pendekatan Teknis Engineering Control

Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan dalam menerapkan engineering control.

Sesuai dengan hirarki, ada lima metode yang bisa digunakan dalam pendekatan engineering control. Lima metode tersebut adalah eliminasi, substitusi, isolasi, pengendalian jarak, dan yang terakhir APD:

a. Eliminasi

Sesuai dengan namanya, metode eliminasi bekerja dengan cara mengeliminasi sumber bahaya dari lingkungan pekerjaan. Misalnya, dalam suatu lingkungan proyek, ada peralatan yang membutuhkan tenaga listrik badannya termakan oleh karat, maka peralatan tersebut lebih baik dihilangkan saja dan diganti dengan yang baru.

b. Substitusi

Jika bahaya tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, maka pendekatan berikutnya adalah substitusi. Substitusi adalah mengganti bahan, alat, atau metode kerja yang berbahaya dengan yang lebih aman.

Sebagai contoh, mengganti bahan kimia beracun dengan senyawa yang lebih ramah lingkungan atau menggunakan mesin yang menghasilkan lebih sedikit kebisingan. Dengan demikian, siapapun yang ada di lingkungan proyek tersebut tidak kehilangan indra pendengarannya atau mengalami keracunan.

c. Isolasi

Jika kedua cara tersebut masih belum dapat melindungi pekerja, maka cara ketiga adalah isolasi. Pendekatan ini bertujuan untuk mengurangi paparan terhadap bahaya dengan cara memisahkan sumber bahaya dalam lingkungan kerja.

Misalnya dalam lingkungan sebuah proyek gedung, ada gardu listrik bertenaga tinggi. Untuk mencegah terjadinya kejadian yang tidak diinginkan seperti seseorang tersengat, pihak pengelola bisa membuat sebuah pagar yang mengelilingi gardu listrik tersebut atau sejak awal, gardu tersebut sengaja diletakkan di titik terjauh lingkungan proyek.

d. Pengendalian Jarak

Jika eliminasi, substitusi, dan isolasi belum cukup menghilangkan risiko secara menyeluruh, maka pendekatan berikutnya adalah pengendalian jarak. Pengendalian jarak (distance control) adalah pendekatan yang dapat dilakukan dengan mengoperasikan proses kerja atau peralatan dari tempat yang aman dan berjauhan dari sumber bahaya.

Tujuan pengendalian jarak adalah menjalankan produksi efisien tanpa mengekspos pekerja pada bahaya. Di industri modern, hal ini dapat dilihat pada mesin manufaktur CNC otomatis, robot lengan untuk pemotongan atau pengelasan, dan sensor otomatis yang mematikan mesin saat ada orang di zona berbahaya.

e. Alat Pelindung Diri (APD)

APD merupakan lapisan terakhir dalam hirarki pengendalian risiko, digunakan saat metode-metode lain tidak mampu menghilangkan bahaya sepenuhnya. APD bertujuan untuk melindungi pekerja secara langsung melalui peralatan yang dikenakan, seperti helm, masker, sarung tangan, sepatu keselamatan, dan pelindung mata.

Efektivitas APD sangat tergantung pada pemilihan jenis alat yang sesuai, kondisi peralatan, serta kepatuhan penggunaannya oleh pekerja. Oleh karena itu, meskipun APD penting, ia seharusnya tidak dijadikan andalan utama, melainkan sebagai pelindung tambahan setelah seluruh langkah pencegahan dilakukan.

5. Contoh Penerapan Engineering Control

Setelah memahami berbagai metode di atas, penting bagi pelaku bisnis untuk melihat implementasinya di lapangan. Contoh-contoh berikut menunjukkan bagaimana engineering control mengurangi risiko dari sumbernya, meningkatkan keselamatan dan efektivitas kerja tanpa mengorbankan produktivitas:

a. Mengimplementasikan OEE

OEE merupakan kependekan untuk Overall Equipment Effectiveness, atau bisa diartikan menjadi Efektivitas Keseluruhan Peralatan. OEE penting untuk diadakan dalam lingkungan kerja.

Karena dengan OEE, pengelola dapat mengidentifikasi masalah dalam proses pekerjaan secara dini. Sebagai hasil dari mengidentifikasi masalah lebih awal, pengelola juga dapat melakukan perbaikan sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan.

b. Mengganti Perlengkapan yang Bermasalah

Tidak semua peralatan dapat terus digunakan dalam jangka panjang, apalagi jika performanya mulai menurun atau menimbulkan risiko baru bagi pekerja. Dalam konteks ini, penggantian perlengkapan yang bermasalah merupakan salah satu bentuk tindakan preventif untuk mencegah kecelakaan kerja maupun kerusakan pada proses produksi.

Misalkan, ada gergaji yang gagangnya sudah retak, maka pekerja bisa saja diberikan alat pelindung tangan. Cara yang lebih efektif adalah dengan memakai gergaji yang baru, karena secara jangka panjang pelindung tangan tersebut juga akan robek akibat gesekan dari gergaji tersebut.

c. Membuat Sistem Otomatis

Salah satu bentuk penerapan engineering control yang semakin umum di dunia usaha modern adalah otomatisasi sistem kerja. Dengan menciptakan sistem otomatis, perusahaan dapat mengurangi keterlibatan langsung pekerja dalam aktivitas berisiko tinggi, sekaligus meningkatkan konsistensi dan efisiensi operasional.

Contoh dalam industri otomotif, pabrik kendaraan bermotor dominannya berisikan tangan-tangan mesin dalam area kerjanya, seperti Automated Guided Vehicles (AGV). Masing-masing dari teknologi tersebut terintegrasi dengan sistem ERP seperti ScaleOcean yang menyediakan data-data dari segi produksi, inventaris, dan distribusi secara terpusat.

ERP

6. Studi Kasus Engineering Control

Untuk menggambarkan penerapan engineering control, mari kita lihat contoh kasus dari pabrik manufaktur komponen elektronik. Pekerja bagian soldering manual sering mengeluhkan iritasi pernapasan, sakit kepala, dan rasa tidak nyaman di hidung serta mata.

Setelah penyelidikan, ditemukan bahwa paparan asap dan debu timah (lead fumes) adalah penyebab utama gangguan kesehatan tersebut. Dari situasi tersebut, dapat diperkirakan pabrik tidak memiliki ventilasi yang cukup untuk mengeluarkan asap dan debu dari proses soldering.

Akibatnya, asap dan debu terjebak di ruang kerja, dan pekerja terpapar residu proses tersebut. Meskipun menggunakan APD seperti masker khusus, intensitas polusi yang dihasilkan membuat APD tidak cukup untuk melindungi sistem pernapasan pekerja.

Salah satu pilihan yang bisa dilaksanakan untuk menjamin keselamatan pekerja adalah dengan menambahkan sistem ventilasi lokal. Hasilnya, setiap kali proses menyolder sedang berjalan asapnya akan langsung dibuang melalui kipas tersebut dan tidak terjebak dalam ruang kerja.

7. Kesimpulan

Engineering control adalah metode penting untuk keselamatan kerja di lapangan, mengurangi bahaya dengan pendekatan seperti eliminasi, substitusi, dan otomatisasi. Hal ini meningkatkan keselamatan, produktivitas, efisiensi operasional, dan kepatuhan terhadap regulasi K3.

Namun, engineering control memiliki keterbatasan, seperti biaya tinggi dan kebutuhan perawatan. Oleh karena itu, harus didukung dengan strategi keselamatan menyeluruh, seperti pelatihan dan pengawasan, agar dapat menciptakan lingkungan kerja yang aman dan produktif.

Selain itu, semakin banyak juga pabrik dan gudang di dunia beralih ke model otomatisasi di lapangan kerjanya sebagai solusi lebih efisien dan aman. Sempat dinyatakan juga bahwa model tersebut cenderung diintegrasikan dengan sistem ERP seperti ScaleOcean dikarenakan adanya kebutuhan luas terhadap data operasional. Kami menyediakan jasa demo gratis bila Anda ingin mengetahui lebih lanjut maksud pernyataan tersebut.

FAQ:

1. Apa itu engineering control?

Engineering control adalah metode pengendalian risiko yang digunakan dalam dunia industri.

2. Apa saja manfaat engineering control?

Engineering control bermanfaat untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan kondusif, hasilnya pihak perusahaan dapat mengurangi biaya tambahan seperti perawatan medis, kehilangan jam kerja, hingga klaim asuransi tenaga kerja

3. Apa saja pendekatan engineering control?

Ada lima teknik pendekatan engineering control, dimulai dari eliminasi, substitusi, isolasi, kontrol jarak dan, APD.

Cristofel Timoteus
Cristofel Timoteus
Cristofel memiliki pengalaman hampir satu tahun di bidang content writing, dengan fokus pada penulisan artikel edukasi seputar teknologi, proses bisnis, dan topik industri. Terlatih dalam menyusun konten informatif yang merangkum konsep teknis menjadi penjelasan yang lebih jelas, ringkas, serta mudah dipahami pembaca.

Jadwalkan Demo Gratis

Error message
Error message
Error message
Error message
Error message
Error message

Rekomendasi Artikel Terkait

Temukan Artikel Serupa untuk Solusi Bisnis Lebih Lengkap