5 Perbedaan Make To Order (MTO) vs Make to Stock (MTS)

ScaleOcean Team
Posted on
Daftar Isi [hide]
Share artikel ini

Make to order vs make to stock menjadi pertimbangan penting bagi banyak perusahaan manufaktur yang menghadapi permintaan pasar yang fluktuatif. Tanpa strategi produksi yang tepat, perusahaan berisiko kehilangan penjualan akibat stok kosong atau justru mengalami penumpukan persediaan. Kondisi ini membuat pengelolaan biaya, kapasitas produksi, dan arus kas menjadi semakin kompleks.

Make to stock mengutamakan ketersediaan produk dengan memproduksi barang berdasarkan perkiraan permintaan. Strategi ini membantu perusahaan menjaga stok tetap siap jual, menekan biaya produksi melalui skala besar, dan menjaga stabilitas jadwal kerja. Namun, pendekatan ini juga membawa risiko penumpukan stok ketika tren pasar berubah.

Sebaliknya, make to order memungkinkan perusahaan memproduksi barang setelah pesanan diterima sehingga risiko overstock dapat ditekan. Model ini mendukung kustomisasi produk dan membantu perusahaan lebih adaptif terhadap perubahan harga bahan baku.

Melalui artikel ini, Anda akan mempelajari perbedaan, alur, dan contoh penerapan make to order vs make to stock untuk menentukan strategi produksi yang paling sesuai.

starsKey Takeaways
  • Make to order adalah strategi produksi berdasarkan pesanan pelanggan, memungkinkan kustomisasi tinggi dan meminimalkan pemborosan karena tidak bergantung pada stok.
  • Make to stock adalah strategi produksi berbasis perkiraan permintaan untuk mempercepat pengiriman, namun bergantung pada akurasi forecast.
  • Perbedaan make to order dan make to stock yaitu MTO berbasis pesanan dan MTS berbasis forecast dengan risiko stok lebih tinggi.
  • Software manufaktur ScaleOcean membantu mengotomatisasi peramalan, produksi, dan stok untuk meningkatkan efisiensi strategi make to order dan make to stock.

Coba Demo Gratis!

requestDemo

Apa itu Make to Order?

Make to order (MTO) adalah strategi produksi di mana produk hanya diproduksi setelah pelanggan melakukan pemesanan dan konfirmasi. Pendekatan ini berbeda dengan make-to-stock, di mana produk diproduksi berdasarkan perkiraan permintaan. MTO memungkinkan kustomisasi yang lebih tinggi dan mengurangi pemborosan.

Dengan menggunakan sistem pull ini, perusahaan dapat menghindari overproduksi dan penumpukan inventaris yang sudah usang. MTO sangat cocok untuk barang yang kompleks, mahal, atau sangat dipersonalisasi seperti pesawat, furnitur kustom, atau mobil, meskipun biasanya menyebabkan waktu tunggu pelanggan lebih lama.

Bagaimana Alur Proses Make to Order?

Proses make to order (MTO) dimulai saat perusahaan menerima pesanan dari pelanggan dan memulai produksi hanya setelah pesanan dikonfirmasi. Tahapannya meliputi penerimaan pesanan, pembuatan dokumen perintah kerja, perakitan sesuai spesifikasi, dan pengujian kualitas sebelum produk dikirim.

Untuk lebih detail, berikut tahapan cara kerja make to order:

1. Penerimaan Pesanan

Proses dimulai dengan pelanggan mengajukan pesanan sesuai dengan spesifikasi tertentu. Pesanan ini bisa dilakukan melalui pre-order atau langsung, dan menjadi dasar untuk langkah-langkah perencanaan produksi selanjutnya.

2. Konfirmasi Pesanan

Setelah pesanan diterima, tim produksi akan mengonfirmasi pesanan tersebut. Biasanya, konfirmasi ini disertai dengan dokumen seperti work order atau bill of materials (BOM), yang merinci semua kebutuhan yang diperlukan untuk produksi.

Setelah konfirmasi pesanan dan penerimaan BOM, tim produksi juga akan memperbarui jadwal produksi, memastikan bahwa setiap langkah dalam proses produksi dilakukan tepat waktu. Hal ini penting agar produksi berjalan lancar dan pesanan dapat diselesaikan sesuai dengan tenggat waktu yang ditetapkan.

3. Produksi

Setelah pesanan dikonfirmasi, tim produksi mulai merakit dan memproduksi barang berdasarkan spesifikasi yang telah ditentukan sebelumnya. Proses produksi ini dilakukan dengan memperhatikan setiap detail agar produk sesuai dengan permintaan.

4. Pengujian Kualitas

Setelah produk selesai diproduksi, tahap berikutnya adalah pengujian kualitas. Hal ini penting untuk memastikan bahwa produk memenuhi standar kualitas dan sesuai dengan harapan pelanggan.

5. Pengiriman

Produk yang telah lulus uji kualitas kemudian dikirimkan ke pelanggan. Pengiriman ini menandai selesainya seluruh proses produksi dan memastikan pelanggan menerima barang sesuai pesanan.

Manufaktur

Apa Keuntungan dari Menerapkan Strategi Make to Order?

Make to order sebagai strategi yang dinamis untuk memenuhi kebutuhan pasar yang semakin beragam memiliki fokus utama dalam memberikan produk yang dibuat sesuai dengan spesifikasi pelanggan. Hal ini membawa sejumlah keuntungan dan manfaat strategis bagi perusahaan.

Berikut penjelasan lengkap tentang keuntungan dan manfaat penerapan make to order:

1. Minimalkan Overstock dan Biaya Penyimpanan

Salah satu keuntungan utama make to order adalah kemampuannya untuk mengurangi risiko kelebihan stok. Dalam metode produksi pada umumnya, perusahaan cenderung memproduksi dalam jumlah besar dan menyimpan produk dalam persediaan. Hal ini dapat berpotensi meningkatkan biaya penyimpanan yang tinggi dan risiko scrap barang.

Dengan penerapan MTO, produk akan diproduksi hanya ketika ada permintaan konkret, sehingga dapat meminimalkan risiko penumpukan stok yang tidak terjual dan mengoptimalkan pengelolaan persediaan.

Selain itu, MTO juga membantu perusahaan mengurangi biaya yang terkait dengan pemeliharaan persediaan berlebih, yang berkontribusi pada peningkatan profit yang dihitung dengan rumus pertumbuhan laba perusahaan.

Dengan tidak ada kebutuhan untuk menyimpan produk dalam jumlah besar, perusahaan dapat mengalokasikan sumber daya finansial dan fisiknya dengan lebih efisien, yang pada gilirannya dapat meningkatkan profitabilitas perusahaan.

2. Fleksibilitas dan Kepuasan Pelanggan

MTO memberikan fleksibilitas yang signifikan dalam menyesuaikan produk dengan kebutuhan pelanggan, dengan begitu perusahaan dapat dengan mudah merespon dengan cepat permintaan pelanggan.

Penerapan MTO juga dapat mengakomodasi pelanggan yang unik atau khusus, membangun hubungan yang kuat dengan pelanggan, dan meningkatkan kepuasaan pelanggan.

Fleksibilitas ini juga memungkinkan perusahaan untuk dengan mudah menyesuaikan portofolio produknya dengan tren pasar yang berkembang. Dengan memiliki kemampuan untuk menawarkan produk yang sesuai dengan tren terkini, perusahaan dapat tetap relevan dan bersaing di pasar yang terus berubah.

3. Pengelolaan Produksi yang Efisien

Model produksi MTO dapat menghasilkan efisiensi operasional yang signifikan. Dalam metode produksi tradisional, umumnya perusahaan mungkin harus menangani persediaan besar dan berbagai risiko yang terkait dengannya.

Dengan MTO, perusahaan dapat mengelola produksi dengan lebih efisien, fokus pada pesanan yang sebenarnya, dan mengoptimalkan proses capacity planning untuk menghadapi permintaan pelanggan yang berubah-ubah.

Pengelolaan produksi yang efisien juga dapat membantu perusahaan mengoptimalkan waktu produksi dan mengurangi lead time. Hal ini memberikan keunggulan kompetitif karena perusahaan dapat memberikan produk kepada pelanggan lebih cepat, meningkatkan kepuasan pelanggan, dan menciptakan citra perusahaan yang baik.

4. Dukungan Terhadap Inovasi dan Diferensiasi

Keuntungan lain dari make to order adalah kemampuannya untuk mendukung inovasi dan diferensiasi produk. Dalam lingkungan bisnis yang kompetitif, inovasi bisnis menjadi kunci untuk memenangkan hati pelanggan dan membedakan diri dari pesaing.

Penerapan ini memungkinkan perusahaan untuk dengan cepat merespons tren pasar baru atau permintaan pelanggan yang berkembang. Selain itu, penerapan MTO juga dapat melibatkan produk yang dihasilkan melalui metode produksi konsep build to order. Dengan MTO, perusahaan dapat lebih mudah mengelola persediaan dan proses produksi produk bersama ini secara efisien.

Dengan MTO, perusahaan dapat dengan mudah menyesuaikan desain, fitur, atau spesifikasi produk untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang berkembang. Inovasi ini menciptakan peluang untuk menciptakan produk yang unik atau menawarkan opsi kustomisasi yang memberikan nilai tambah kepada pelanggan.

5. Pengelolaan Risiko dan Penghematan Biaya

Model produksi MTO dapat membantu perusahaan mengelola risiko dengan lebih baik. Dengan metode produksi yang akan memproduksi barang hanya ketika ada permintaan, perusahaan dapat menghindari risiko kelebihan stok yang dapat menyebabkan penurunan nilai produk atau potensi kerugian finansial.

Selain itu, MTO memungkinkan perusahaan untuk meminimalkan risiko yang berkaitan dengan perubahan tren pasar atau kebutuhan pelanggan yang tiba-tiba. Pengelolaan risiko ini juga dapat berdampak positif pada penghematan biaya, sehingga perusahaan dapat menghindari biaya penyimpanan yang tinggi.

MTO tidak hanya membawa keuntungan dalam hal kepuasan pelanggan, tetapi juga secara positif mempengaruhi aspek keuangan perusahaan dengan mengurangi risiko dan meningkatkan efisiensi operasional.

Apa Kelemahan dari Menerapkan Strategi Make to Order?

Kelemahan dari strategi Make to Order adalah proses produksi yang lebih kompleks karena setiap pesanan dibuat sesuai permintaan pelanggan. Oleh karena itu, perusahaan membutuhkan sistem yang fleksibel. Berikut adalah beberapa kelemahan utama yang perlu diperhatikan.

1. Lead Time Produksi Lebih Lama

Penerapan strategi Make to Order menyebabkan waktu tunggu pelanggan menjadi lebih panjang karena proses produksi baru dimulai setelah pesanan diterima. Kondisi ini membuat pelanggan tidak bisa langsung memperoleh produk seperti pada sistem stok.

Oleh karena itu, perusahaan harus mampu mengelola ekspektasi pelanggan sejak awal agar tidak menurunkan tingkat kepuasan. Selain itu, lead time yang terlalu lama juga berpotensi mendorong pelanggan beralih ke kompetitor.

2. Perencanaan Produksi Lebih Kompleks

Selain berdampak pada waktu tunggu, strategi Make to Order juga menuntut perencanaan produksi yang jauh lebih kompleks. Setiap pesanan memiliki spesifikasi berbeda sehingga perusahaan harus menyesuaikan jadwal, bahan baku, dan kapasitas produksi secara akurat.

Dengan demikian, kesalahan kecil dalam perencanaan dapat memicu keterlambatan produksi. Oleh sebab itu, perusahaan perlu memiliki sistem manajemen produksi yang terintegrasi agar proses tetap terkendali.

Contoh Penerapan Strategi Produksi Make to Order

contoh penerapan strategi produksi make to order

Perusahaan make-to-order (MTO) adalah perusahaan yang memproduksi barang hanya setelah menerima pesanan dari pelanggan, tanpa menyimpan stok produk jadi. Model ini ideal untuk produk yang dibuat sesuai pesanan atau terlalu mahal untuk disimpan, seperti mobil, pesawat, atau kapal, karena memungkinkan kustomisasi dan mengurangi pemborosan stok.

Untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai penerapan strategi Make to Order (MTO) di berbagai industri, berikut ini adalah beberapa contohnya:

1. Manufaktur Pesawat Terbang dan Kapal

Pesawat terbang dan kapal adalah contoh produk Engineer to Order (ETO) yang membutuhkan perencanaan dan kustomisasi tingkat tinggi. Setiap pesanan memiliki konfigurasi unik sesuai permintaan pelanggan, mulai dari desain interior hingga sistem navigasi, seringkali melibatkan desain teknis baru.

2. Manufaktur Komputer

Produsen komputer custom-built yang memungkinkan pelanggan memilih setiap komponen, mulai dari prosesor hingga kapasitas penyimpanan, sesungguhnya mengadopsi model Assemble to Order (ATO). Proses perakitan baru dimulai setelah pesanan final dikonfirmasi, memastikan setiap unit yang diproduksi benar-benar unik dan disesuaikan.

Proses perakitan baru dimulai setelah pesanan final dikonfirmasi, memastikan setiap unit yang diproduksi benar-benar unik dan disesuaikan. Ini membantu produsen menghindari penumpukan stok komponen yang tidak terpakai, sekaligus memberikan kebebasan kustomisasi maksimal bagi konsumen. Hal ini juga sering didukung oleh integrasi sistem manufaktur yang mulus.

3. Manufaktur Elektronik

Beberapa perusahaan elektronik mengadopsi MTO untuk produk yang membutuhkan kustomisasi tinggi atau memiliki siklus hidup produk yang pendek. Contohnya termasuk server komputer dengan spesifikasi unik untuk pusat data, atau perangkat khusus untuk industri tertentu.

Dengan strategi ini, produsen dapat merespons cepat terhadap permintaan pasar yang berubah. Implementasi smart manufacturing juga berperan penting dalam optimalisasi proses ini, membantu perusahaan make to order ini mencapai efisiensi maksimal.

4. Manufaktur Industri Berat

Perusahaan enterprise yang memproduksi mesin pengepakan khusus atau turbin pembangkit listrik mengoperasikan strategi Engineer to Order (ETO) yang merupakan bentuk MTO paling kompleks. Setiap pesanan membutuhkan desain teknik baru untuk beroperasi sesuai lingkungan pabrik atau regulasi spesifik klien.

Proses manufaktur baru dimulai setelah tahapan engineering dan Bill of Materials (BOM) final disetujui, dan lead time produksi dapat mencapai 6-18 bulan. Kesalahan kecil dalam perencanaan di tahap ini dapat mengakibatkan kerugian jutaan dolar.

Apa Itu Make to Stock?

Make-to-Stock (MTS) adalah strategi produksi di mana perusahaan memproduksi barang dalam jumlah besar berdasarkan perkiraan permintaan pelanggan, kemudian menyimpannya di inventaris untuk dijual dengan cepat dan dikirim segera. Strategi ini sangat bergantung pada perkiraan permintaan yang akurat untuk menghindari kekurangan atau kelebihan stok.

Sebagai model rantai pasokan push, MTS berfokus pada pembuatan barang jadi sebelum pesanan diterima, memastikan ketersediaan produk dan waktu tunggu yang lebih singkat. Model ini umum diterapkan di industri dengan permintaan yang stabil, seperti elektronik konsumen atau pakaian dasar, di mana ketersediaan produk menjadi faktor utama.

Bagaimana Cara Kerja Make to Stock?

Bagaimana Cara Kerja Make to Stock?

Cara kerja Make to Stock adalah memproduksi barang berdasarkan peramalan permintaan sebelum pesanan diterima. Strategi ini memungkinkan perusahaan menyiapkan stok lebih awal agar produk selalu tersedia. Oleh karena itu, proses penjualan dan pengiriman dapat berjalan lebih cepat. Berikut adalah tahapan utama Make to Stock:

1. Peramalan Permintaan Pasar

Strategi Make to Stock diawali dengan proses peramalan permintaan menggunakan data penjualan historis dan tren pasar. Perusahaan menganalisis pola pembelian pelanggan untuk memperkirakan jumlah produk yang akan dibutuhkan.

Dengan demikian, proses produksi dapat disesuaikan dengan potensi permintaan yang akan datang. Oleh karena itu, akurasi peramalan menjadi faktor kunci dalam keberhasilan strategi ini.

2. Produksi Dilakukan Lebih Awal

Setelah peramalan ditetapkan, perusahaan menjadwalkan produksi dalam jumlah besar sebelum adanya pesanan dari pelanggan. Langkah ini bertujuan untuk membangun persediaan barang jadi agar siap dipasarkan.

Selain itu, produksi lebih awal memungkinkan perusahaan menekan biaya per unit. Dengan begitu, proses distribusi dapat berjalan lebih cepat saat permintaan meningkat.

3. Penyimpanan Persediaan Barang

Produk yang telah selesai diproduksi kemudian disimpan di gudang atau rak ritel. Persediaan ini berfungsi sebagai buffer untuk mengantisipasi lonjakan permintaan. Oleh sebab itu, pengelolaan gudang menjadi bagian penting dalam strategi Make to Stock. Sistem penyimpanan yang tertata membantu menjaga kualitas produk hingga siap dijual.

4. Pemenuhan Pesanan Pelanggan

Ketika pelanggan melakukan pemesanan, produk langsung diambil dari stok yang tersedia. Proses ini memungkinkan perusahaan memberikan pengiriman yang lebih cepat. Dengan demikian, tingkat kepuasan pelanggan dapat meningkat. Selain itu, perusahaan juga dapat memaksimalkan peluang penjualan impulsif.

Strategi Make to Stock sangat bergantung pada peramalan permintaan yang akurat untuk memastikan produksi dan distribusi yang efisien. Dengan menggunakan software manufaktur ScaleOcean, perusahaan dapat mengotomatisasi proses peramalan, produksi, dan manajemen stok untuk memaksimalkan efisiensi operasional.

Cobalah demo gratis dari ScaleOcean dan lihat bagaimana solusi ERP kami bisa membantu mempercepat pemenuhan pesanan, mengurangi biaya, dan meningkatkan kepuasan pelanggan.

Apa Keuntungan dari Menerapkan Make to Stock?

Keuntungan dari Make to Stock adalah produk siap dijual sehingga proses penjualan berlangsung lebih cepat. Selain itu, strategi ini membantu menekan biaya dan menjaga stabilitas produksi. Berikut adalah keuntungan utama yang bisa diperoleh:

1. Pengiriman Produk Lebih Cepat

Strategi Make to Stock memungkinkan perusahaan menyediakan produk dalam kondisi siap jual sehingga pelanggan tidak perlu menunggu proses produksi. Dengan demikian, pengiriman dapat dilakukan lebih cepat dan kebutuhan pelanggan langsung terpenuhi. Selain itu, kecepatan layanan ini turut meningkatkan kepuasan pelanggan. Oleh karena itu, peluang pembelian ulang menjadi lebih besar.

2. Efisiensi Biaya Produksi

Selain mempercepat layanan, Make to Stock juga membantu perusahaan menekan biaya melalui produksi dalam jumlah besar. Skala produksi yang tinggi memungkinkan perusahaan memperoleh harga bahan baku yang lebih ekonomis. Dengan demikian, biaya per unit dapat ditekan dan margin keuntungan menjadi lebih optimal. Oleh karena itu, perusahaan dapat mengelola anggaran produksi dengan lebih efisien.

3. Stabilitas Proses Produksi

Di sisi lain, strategi Make to Stock menciptakan pola produksi yang lebih stabil dan terencana. Proses produksi dapat berjalan secara konsisten tanpa terganggu perubahan pesanan pelanggan, sehingga operasional perusahaan menjadi lebih terkontrol.

Dengan mengintegrasikan sistem ERP manufaktur, perusahaan dapat memantau seluruh alur produksi secara real-time, meminimalkan risiko gangguan, dan memastikan efisiensi yang lebih tinggi.

Apa Kelemahan dari Menerapkan Strategi Make to Stock?

Kelemahan penerapan Make to Stock adalah ketergantungan pada peramalan dan tingginya biaya penyimpanan persediaan. Jika perhitungan tidak akurat, stok dapat menumpuk atau habis. Berikut adalah beberapa kelemahan utama yang perlu diperhatikan:

1. Risiko Kesalahan Peramalan

Strategi Make to Stock sangat bergantung pada akurasi peramalan permintaan pasar. Jika perusahaan membuat perkiraan yang kurang tepat, maka persediaan dapat menumpuk atau justru mengalami kekurangan stok. Dengan demikian, perusahaan berisiko menanggung pemborosan biaya atau kehilangan peluang penjualan. Oleh karena itu, peramalan yang akurat menjadi faktor penting dalam strategi ini.

2. Biaya Penyimpanan Persediaan

Selain risiko peramalan, Make to Stock juga menimbulkan biaya penyimpanan yang cukup tinggi. Produk yang tersimpan di gudang membutuhkan ruang, perawatan, dan sistem pengelolaan khusus. Di sisi lain, semakin lama barang disimpan, semakin besar pula biaya yang harus ditanggung perusahaan. Oleh sebab itu, manajemen persediaan perlu dilakukan secara efisien.

3. Tingkat Kustomisasi Terbatas

Di sisi lain, strategi Make to Stock kurang cocok untuk produk dengan tingkat kustomisasi tinggi. Proses produksi massal membuat perusahaan sulit menyesuaikan spesifikasi sesuai permintaan individu pelanggan. Dengan demikian, fleksibilitas produk menjadi terbatas. Oleh karena itu, strategi ini lebih sesuai untuk produk standar dengan permintaan stabil.

Contoh Penerapan Strategi Make to Stock di Berbagai Sub-Sektor Manufaktur

Dalam bisnis manufaktur, penerapan Make to Stock (MTS) menjadi krusial untuk memastikan ketersediaan produk, efisiensi produksi, dan respons cepat terhadap permintaan pasar. Banyak perusahaan menggunakan MTS untuk mengoptimalkan operasional mereka. Berikut beberapa contoh penerapannya:

1. Industri Elektronik

Industri elektronik sering kali memproduksi komponen dalam jumlah besar dan menyimpannya dalam inventaris untuk memenuhi permintaan pelanggan. Sebagai contoh, perusahaan pembuat smartphone dapat memproduksi berbagai komponen seperti layar dan baterai dalam jumlah besar yang kemudian dipasang sesuai pesanan.

Biasanya, perusahaan memulai dengan pembuatan prototipe produk untuk memastikan komponen yang akan diproduksi massal berfungsi dengan baik. Setelah itu, produksi dalam jumlah besar dilakukan untuk memenuhi permintaan pasar yang terus berkembang.

2. Industri Tekstil dan Pakaian

Industri tekstil dan pakaian juga banyak mengadopsi MTS, terutama untuk produk dengan permintaan yang stabil. Sebagai contoh, perusahaan pakaian dapat memproduksi pakaian standar dalam jumlah besar yang kemudian disimpan di gudang dan siap dikirim ke pengecer atau langsung ke pelanggan setelah pesanan masuk.

Berdasarkan data dari Statista, pasar pakaian dunia terus mengalami pertumbuhan volume yang signifikan, di mana segmen pakaian wanita tetap menjadi pasar terbesar yang menuntut ketersediaan stok secara cepat.

Namun, dalam industri ini, penting untuk memperhatikan strategi pemasaran dan penjualan dengan memahami tren mode dan selera pelanggan. Hal ini termasuk menganalisis data penjualan dan berkolaborasi dengan pengecer untuk mengidentifikasi kebutuhan pasar yang berkembang.

3. Industri Makanan dan Minuman

Industri makanan dan minuman (F&B) juga sering menggunakan MTS untuk produk dengan umur simpan panjang. Contohnya, perusahaan minuman dapat memproduksi dalam jumlah besar dan menyimpannya di gudang sebelum didistribusikan ke pengecer atau distributor.

Penting bagi perusahaan untuk memantau manajemen inventaris dengan ketat menggunakan sistem informasi terintegrasi yang dapat mengawasi tanggal kedaluwarsa dan memastikan kualitas produk tetap terjaga dengan baik.

4. Industri Otomotif

Industri otomotif sering menggunakan MTS, terutama untuk suku cadang dan komponen mobil yang permintaannya stabil. Sebagai contoh, produsen mobil dapat memproduksi dan menyimpan sejumlah besar suku cadang umum di gudang untuk memenuhi permintaan pelanggan atau bengkel servis.

Selain itu, bahan penolong seperti pelumas atau pelapis komponen sering digunakan dalam produksi suku cadang untuk meningkatkan kualitas dan ketahanan produk yang mendukung pengiriman tepat waktu.

5 Perbedaan Make to Order (MTO) dan Make to Stock (MTS)

Perbedaan MTO dan MTS terletak pada waktu produksi dan pengelolaan persediaan. MTO memproduksi setelah pesanan masuk, sedangkan MTS memproduksi lebih awal berdasarkan perkiraan permintaan. Berikut adalah perbedaan utama keduanya: 

1. Waktu Produksi

Make to Order memulai proses produksi setelah perusahaan menerima dan mengonfirmasi pesanan pelanggan. Dengan demikian, perusahaan hanya memproduksi barang yang benar-benar dibutuhkan sehingga risiko produk tidak terjual menjadi lebih kecil. Namun, proses ini membuat waktu produksi menjadi lebih panjang karena perusahaan harus menunggu pesanan masuk terlebih dahulu.

Sebaliknya, Make to Stock memulai produksi sebelum adanya pesanan berdasarkan hasil peramalan permintaan pasar. Oleh karena itu, perusahaan dapat menyiapkan stok lebih awal agar produk selalu tersedia. Dengan cara ini, proses produksi berjalan lebih cepat, tetapi perusahaan harus menanggung risiko kesalahan peramalan.

2. Waktu Tunggu Pelanggan

Pada sistem Make to Order, pelanggan harus menunggu hingga proses produksi selesai sebelum produk dapat dikirimkan. Oleh karena itu, waktu tunggu cenderung lebih lama karena setiap produk diproses secara khusus. Namun, pendekatan ini memungkinkan perusahaan memberikan produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

Sementara itu, Make to Stock memungkinkan perusahaan langsung mengirim produk dari stok yang tersedia. Dengan demikian, waktu tunggu pelanggan menjadi jauh lebih singkat. Selain itu, kecepatan layanan ini dapat meningkatkan kepuasan pelanggan secara signifikan.

3. Tingkat Kustomisasi

Make to Order memberikan keleluasaan bagi pelanggan untuk menentukan spesifikasi produk sesuai kebutuhan mereka, dengan tingkat kustomisasi yang sangat tinggi. Pendekatan ini cocok untuk produk unik atau dengan spesifikasi khusus, serta efektif dalam mengontrol stok dan produksi sesuai pesanan.

Sebaliknya, Make to Stock berfokus pada produksi produk standar dalam jumlah besar. Dengan demikian, perusahaan tidak dapat memberikan banyak pilihan kustomisasi kepada pelanggan. Sistem ini lebih sesuai untuk produk dengan spesifikasi seragam, memudahkan mengontrol stok dan produksi secara massal.

4. Risiko Persediaan

Pada Make to Order, perusahaan menyimpan persediaan produk jadi dalam jumlah minimal karena produksi hanya dilakukan setelah pesanan diterima. Dengan demikian, risiko penumpukan stok menjadi lebih rendah. Namun, perusahaan harus mampu mengelola jadwal produksi dengan baik agar pesanan dapat dipenuhi tepat waktu.

Di sisi lain, Make to Stock menuntut perusahaan menyimpan persediaan dalam jumlah besar. Oleh karena itu, perusahaan menghadapi risiko overstock maupun stockout jika peramalan permintaan tidak akurat. Pengelolaan persediaan yang cermat menjadi kunci dalam sistem ini.

5. Jenis Produk yang Dihasilkan

Make to Order umumnya digunakan untuk produk bernilai tinggi atau dengan spesifikasi khusus, seperti mesin industri dan komputer custom. Produk dibuat sesuai pesanan pelanggan, memberikan nilai tambah melalui personalisasi, cocok untuk produk dengan produk life cycle yang panjang.

Sementara itu, Make to Stock lebih sering diterapkan untuk produk kebutuhan sehari-hari, seperti makanan kemasan, pakaian sederhana, dan elektronik standar. Produk dengan produk life cycle yang lebih pendek ini memungkinkan produksi massal dan distribusi cepat ke pasar.

Fitur Make to Order (MTO) Make to Stock (MTS)
Waktu Produksi Dimulai setelah pesanan dikonfirmasi Dimulai sebelum pesanan diterima (berdasarkan prediksi)
Waktu Tunggu Pelanggan Lebih lama Lebih cepat (pengiriman langsung dari stok)
Tingkat Kustomisasi Sangat tinggi Rendah (standar)
Risiko Persediaan Rendah (minim stok produk jadi) Tinggi (risiko overstock atau stockout)
Contoh Produk Pesawat, komputer custom, mesin industri Makanan kemasan, pakaian sederhana, elektronik standar

Kesimpulan

Make to Stock dan Make to Order adalah strategi produksi yang memerlukan pengelolaan peramalan, produksi, dan persediaan yang tepat untuk efisiensi operasional. Dengan software manufaktur ScaleOcean, perusahaan dapat mengotomatisasi proses-proses tersebut, menekan biaya, dan mempercepat pemenuhan pesanan.

Sistem manufaktur ScaleOcean juga membantu meningkatkan kepuasan pelanggan melalui pengelolaan yang lebih efisien. Jadwalkan demo gratis ScaleOcean sekarang dan lihat bagaimana kami mengoptimalkan strategi MTO dan MTS bisnis Anda.

FAQ:

1. Apa perbedaan antara make-to-order dan make-to-stock?

Perbedaan utama antara keduanya adalah, pada make-to-order pelanggan harus melakukan pemesanan terlebih dahulu, sementara make-to-stock tidak memerlukan pemesanan terlebih dahulu.

2. Apa kekurangan dari make to stock?

Kekurangan MTS termasuk risiko inventaris seperti produk kadaluarsa atau rusak, serta biaya penyimpanan tinggi. Selain itu, perkiraan permintaan yang tidak akurat bisa menyebabkan overproduksi atau kekurangan stok.

3. Apa kekurangan dari MTO?

Meskipun strategi Make-to-Order (MTO) memiliki banyak keuntungan, terdapat beberapa tantangan, seperti waktu tunggu yang lebih lama. Karena MTO tidak memiliki komponen yang sudah diproduksi sebelumnya, proses pengiriman produk jadi ke pelanggan memakan waktu lebih lama.

Jadwalkan Demo Gratis

Error message
Error message
Error message
Error message
Error message
Error message

Rekomendasi Artikel Terkait

Temukan Artikel Serupa untuk Solusi Bisnis Lebih Lengkap