Lead Time: Definisi, Jenis, Rumus, dan Cara Menghitungnya

Posted on
Share artikel ini

Memastikan setiap detik dalam operasional bernilai profit bisa dimulai dengan menerapkan strategi lead time yang akurat secara konsisten. Langkah ini menjadi jembatan penting yang menghubungkan momen pemesanan hingga barang tiba di tangan konsumen, sehingga seluruh rantai pasok Anda dapat bergerak lebih ramping (lean), selaras, dan tepat sasaran.

Sayangnya, waktu tunggu yang tidak terukur sering kali menjadi penyebab utama membengkaknya biaya penyimpanan dan jadwal logistik yang berantakan. Jika dibiarkan, keterlambatan pengiriman bukan hanya merusak reputasi di mata pelanggan, tetapi juga menghambat perputaran modal yang seharusnya bisa digunakan untuk ekspansi bisnis yang lebih besar.

Menyeimbangkan kecepatan produksi dengan ketepatan distribusi adalah kunci untuk menjaga loyalitas konsumen dalam jangka panjang. Artikel ini akan membahas apa itu lead time, komponen pembentuknya, rumus perhitungannya secara teknis, hingga berbagai strategi efektif untuk mempersingkat waktu tunggu dalam skala industri agar operasional Anda jauh lebih gesit.

starsKey Takeaways
  • Lead time adalah total waktu yang dibutuhkan dalam suatu proses bisnis, dimulai dari saat pesanan diterima pelanggan hingga produk atau layanan selesai dan diterima oleh pelanggan.
  • Komponen utama lead time mencakup waktu pra-proses, waktu proses, waktu tunggu, waktu pengiriman, hingga waktu inspeksi dan penyimpanan.
  • Jenis-jenis lead time meliputi material lead time, production lead time, customer lead time, hingga cumulative lead time.
  • Software manufaktur ScaleOcean mengoptimalkan lead time manufaktur dengan memantau status produksi secara real-time dan memastikan ketersediaan bahan baku tepat waktu.

Coba Demo Gratis!

requestDemo

1. Apa itu Lead Time?

Lead time adalah rentang waktu yang diperlukan dari awal inisiasi proses hingga selesai. Dalam konteks bisnis, ini meliputi durasi mulai dari penerimaan pesanan pelanggan hingga barang dikirim, atau dalam manufaktur, waktu yang dibutuhkan dari pemesanan bahan baku hingga produk selesai diproduksi.

Lead time terdiri dari beberapa komponen utama. Pertama, ada waktu pra-proses yang mencakup semua persiapan sebelum produksi dimulai. Kemudian, waktu proses adalah durasi yang dibutuhkan untuk memproduksi barang. Waktu tunggu terjadi ketika pesanan atau bahan menunggu tahap berikutnya, diikuti dengan waktu pengiriman dan inspeksi untuk memastikan kualitas.

Selain itu, terdapat juga beberapa jenis lead time yang meliputi customer lead time, material lead time, production lead time, dan cumulative lead time. Masing-masing jenis ini mengukur durasi pada tahap yang berbeda dalam proses bisnis, dari pemesanan hingga pengiriman, pengadaan bahan baku, produksi barang, hingga total durasi keseluruhan.

2. Komponen Lead Time dalam Manufaktur

Lead time dalam perusahaan manufaktur memiliki beberapa komponen utama seperti waktu pra-proses, waktu proses, waktu tunggu, waktu pengiriman, hingga waktu inspeksi dan penyimpanan. Berikut ini penjelasan mengenai setiap komponen pembentuk lead time:

a. Waktu Pra-Proses (Perencanaan)

Waktu pra-proses memuat seluruh rangkaian kegiatan administratif, koordinasi, dan persiapan teknis sebelum lini produksi mulai bekerja. Tahap ini sudah dimulai sejak pesanan diterima (order entry), dilanjut dengan verifikasi spesifikasi produk, pengecekan ketersediaan bahan baku di sistem inventaris, hingga pembuatan perintah kerja (work order).

Jika koordinasi antara departemen penjualan dan tim perencanaan sistem produksi tidak berjalan sinkron, fase ini akan menjadi sangat lama. Optimalisasi pada tahap ini biasanya melibatkan penggunaan sistem ERP untuk mengotomatiskan alur dokumen, sehingga waktu tunggu administratif dapat ditekan seminimal mungkin sebelum material masuk ke lantai produksi.

b. Waktu Proses (Manufaktur)

Waktu proses adalah durasi inti saat produk mulai dibentuk melalui berbagai aktivitas fisik di lapangan. Tahap ini mencakup pengoperasian mesin, perakitan manual oleh tim ahli, hingga proses teknis lainnya. Di sinilah nilai tambah diberikan untuk memastikan produk sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan.

Durasi ini bergantung pada efisiensi teknologi yang digunakan serta kompetensi operator mesin. Perusahaan manufaktur sering kali menerapkan prinsip lean manufacturing dan melakukan pengecekan terhadap KPI manufaktur di tahap ini untuk menghilangkan aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah.

c. Waktu Tunggu (Penundaan)

Waktu tunggu (waiting time) merupakan elemen non-produktif yang sering kali menjadi penyebab utama memanjangnya durasi lead time. Penundaan ini biasanya terjadi saat komponen harus menganggur dalam antrean mesin, menunggu kiriman material pendukung dari vendor, atau menunggu ketersediaan operator untuk melanjutkan ke tahap berikutnya.

Dalam banyak kasus, masalah bottleneck di satu titik produksi dapat menyebabkan penumpukan barang setengah jadi (work in process). Manajemen yang buruk pada fase ini tidak hanya memperlambat pengiriman ke pelanggan, tetapi juga meningkatkan risiko kerusakan barang dan biaya penyimpanan.

d. Waktu Pengiriman

Tahap ini mencakup seluruh durasi logistik yang dibutuhkan untuk mengirimkan produk dari gudang hingga sampai ke pelanggan. Kecepatan pengiriman ini seringkali dipengaruhi oleh kesiapan internal tim saat pengemasan dan pemuatan, serta faktor eksternal seperti jarak, pilihan moda transportasi, hingga prosedur kepabeanan untuk ekspor.

Oleh karena itu, koordinasi yang kuat dengan mitra logistik sangatlah diperlukan. Dengan memilih rute yang paling efisien, Anda dapat memastikan waktu di perjalanan tetap terkendali sehingga efisiensi yang sudah diupayakan di dalam operasional tidak terbuang percuma.

e. Waktu Inspeksi dan Penyimpanan

Setelah produk selesai dirakit atau diproses, produk tidak bisa langsung dikirim karena harus melewati tahap pengujian kualitas (QC) dan masa tunggu di gudang distribusi. Waktu inspeksi ini melibatkan rangkaian pengujian fungsi, ketahanan, serta kepatuhan terhadap standar keamanan pangan yang ketat.

Sebagai contoh, pada industri pengalengan ikan, produk harus memenuhi parameter Sarden dan Makarel Kaleng (SNI 8222:2016), yang mencakup pemeriksaan fisik, uji sterilitas komersial, hingga analisis kandungan kimia untuk menjamin bahwa tidak ada produk cacat atau terkontaminasi yang sampai ke tangan konsumen.

3. Jenis-jenis Lead Time dalam Manufaktur

Jenis-Jenis Lead Time dalam ManufakturJenis-jenis lead time dalam operasional perusahaan mencakup beberapa poin penting, mulai dari material, production, customer, hingga cumulative lead time. Berikut adalah penjelasan lebih mendalam mengenai masing-masing kategorinya:

a. Material Lead Time

Jenis pertama yaitu material lead time adalah waktu yang dibutuhkan perusahaan untuk mendapatkan bahan baku dari pemasok sebelum operasional dimulai. Proses ini mencakup pemesanan, persetujuan, pengemasan, hingga pengiriman bahan ke lokasi.

Jika waktu tunggu dalam proses ini terlalu lama, produksi bisa tertunda dan mempengaruhi jadwal pengiriman. Untuk itu, perusahaan perlu bekerja sama dengan supplier andal dan memanfaatkan software manufaktur terbaik dan terintegrasi untuk memastikan ketersediaan bahan tanpa menumpuk stok berlebih.

b. Production Lead Time

Jenis ini mengacu pada durasi proses operasional dari awal hingga selesai, mencakup tahap persiapan, pemrosesan, pengecekan kualitas, hingga produk siap dikirim. Faktor yang memengaruhi waktu ini biasanya meliputi kapasitas operasional, efisiensi tenaga kerja, serta sejauh mana sistem otomatisasi diterapkan.

Semakin lama waktu produksi, maka semakin besar juga risiko keterlambatan pengiriman dan kenaikan biaya operasional. Untuk mengoptimalkan lead time produksi ini, perusahaan dapat menerapkan sistem produksi lean manufacturing, otomatisasi proses, dan sistem penjadwalan produksi yang lebih akurat.

Penggunaan software perencanaan kapasitas dapat membantu dalam merencanakan dan mengelola kapasitas produksi secara lebih efisien, sehingga mengurangi waktu tunggu dan meningkatkan kelancaran alur produksi.

c. Customer Lead Time

Customer lead time menjadi tolok ukur utama untuk menilai seberapa responsif layanan pelanggan sebuah perusahaan. Waktunya dihitung mulai dari saat pesanan masuk hingga pelanggan menerima konfirmasi resmi bahwa permintaan mereka telah terdaftar di sistem pemrosesan.

Durasi ini seringkali dipengaruhi oleh efisiensi administrasi, kecanggihan sistem manajemen pesanan, serta kecepatan verifikasi pembayaran. Semakin singkat waktu yang dibutuhkan, semakin tinggi pula kepercayaan pelanggan karena mereka merasa pesanannya ditangani secara sigap dan profesional.

d. Cumulative Lead Time

Cumulative lead time mencerminkan total waktu tunggu terjauh yang perlu diantisipasi perusahaan jika proses harus dimulai benar-benar dari nol. Secara teknis, ini merupakan akumulasi waktu mulai dari tahap pemesanan bahan baku hingga barang tersebut selesai diproses menjadi produk siap kirim.

Angka ini sangat penting dalam perencanaan strategi bisnis, terutama untuk produk yang bersifat make-to-order (dibuat hanya saat ada pesanan). Dengan mengetahui durasi kumulatif ini, manajemen dapat memberikan janji tanggal pengiriman yang realistis kepada pelanggan tanpa risiko mengalami keterlambatan yang dapat merusak reputasi perusahaan.

Selain itu, pengukuran cycle time yang tepat juga sangat membantu dalam mengidentifikasi dan mengurangi bottleneck dalam proses produksi, sehingga meningkatkan efisiensi dan mengoptimalkan lead time.

4. Rumus Lead Time

Dengan perhitungan dan rumus lead time yang tepat, perusahaan dapat mengidentifikasi hambatan dalam proses standar manufaktur, dan optimalkan setiap batchnya. Berikut adalah penjelasan lebih detail terkait rumus dan langkah menghitung lead time:

a. Rumus Lead Time

Rumus dasar untuk menghitung lead time dalam bisnis manufaktur adalah sebagai berikut:

Lead Time = Waktu Pemesanan + Waktu Produksi + Waktu Pengiriman

Berikut adalah penjelasan dari beberapa komponen utama rumus menghitung lead time:

  • Waktu pemesanan: Total durasi yang dihabiskan sejak permintaan pembelian diajukan hingga bahan baku tersebut siap digunakan dalam proses produksi.
  • Waktu produksi: Waktu yang digunakan untuk mengubah bahan baku menjadi produk jadi. Proses ini meliputi pemotongan, perakitan, pengujian, dan proses manufaktur lainnya.
  • Waktu pengiriman: Durasi yang dibutuhkan untuk mengirimkan produk jadi dari fasilitas produksi ke pelanggan. Ini mencakup pengemasan, pengiriman, dan penerimaan oleh pelanggan.

Selain itu, rumus lead time juga bisa disesuaikan sesuai dengan jenis industri dan kebutuhan khusus perusahaan. Namun dalam praktiknya, rumus lead time bisa menjadi lebih kompleks dan mencakup berbagai faktor lainnya, tergantung pada bisnis dan model operasional. Misalnya, perusahaan Anda juga memerlukan waktu inspeksi untuk mengecek kembali barang sebelum mengirimnya.

Sehingga perhitungan bisa menggunakan rumus lead time seperti ini:

Lead Time = Waktu Pra-proses + Waktu Proses Produksi + Waktu Inspeksi + Waktu Pengiriman

b. Cara Menghitung Lead Time

Untuk menggunakan rumus lead time, anda harus mengetahui cara menghitungnya dengan langkah-langkah mulai dari, identifikasi tahapan proses, kumpulan data untuk setiap tahap, gunakan rumus lead time, lakukan perhitungan, terakhir analisis dan optimasi.

Berikut adalah penjelasan lebih detail terkait langkah-langkah menghitung lead time:

  • Identifikasi tahapan proses: Mulai dari penerimaan pesanan, pengadaan bahan baku, proses produksi, hingga pengiriman. Setiap tahap memiliki waktu tunggu dan waktu pemrosesan yang berbeda.
  • Kumpulkan data waktu untuk setiap tahap: Catat berapa lama waktu yang dibutuhkan pada setiap tahap. Misalnya, waktu pengadaan bahan baku (5 hari), waktu produksi (7 hari), dan waktu pengiriman (3 hari).
  • Gunakan rumus lead time: Jika ada beberapa tahap, maka waktu tunggu total dihitung dengan menjumlahkan waktu pada setiap tahap.
  • Lakukan perhitungan: Proses ini harus dilakukan dengan akurat dan rumus yang tepat untuk memberikan hasil yang optimal dan sesuai
  • Analisis dan optimasi: Setelah mendapatkan lead time total, perusahaan dapat mengidentifikasi area yang memerlukan perbaikan, seperti mengurangi waktu tunggu atau meningkatkan efisiensi produksi.

5. Contoh Perhitungan Lead Time

Agar memiliki gambaran yang lebih jelas pada cara menghitung lead time, perhatikan studi kasus berikut. Bayangkan Anda memiliki sebuah perusahaan manufaktur. Misalkan bahan baku disimpan di gudang selama 2 hari sebelum digunakan dalam proses manufaktur.

Selanjutnya, waktu produksi dilakukan 5 hari. Terakhir, pengiriman barang ke pelanggan membutuhkan waktu 2 hari lagi. Jadi, total waktu tunggu dalam kasus ini menjadi, lead time = 2 + 5 +2 = 10 hari. Jadi, total waktu tunggu yang dibutuhkan dalam proses penanganan produksi adalah 10 hari.

Manufaktur

6. Mengapa Menghitung Lead Time itu Penting bagi Bisnis Manufaktur?

Beberapa hal yang menjadi alasan pentingnya untuk menghitung lead time adalah meningkatkan kepuasan pelanggan, efisiensi operasional, hingga keunggulan perusahaan yang kompetitif. Berikut adalah penjelasan dari beberapa hal yang menjadi alasan mengapa menghitung lead time sangat penting dilakukan:

a. Meningkatkan Kepuasan Pelanggan

Dalam era ekonomi instan saat ini, kecepatan pengiriman telah menjadi salah satu faktor penentu utama dalam loyalitas konsumen. Ketika perusahaan mampu memperpendek lead time, pelanggan merasa waktu mereka dihargai dan kebutuhan mereka terpenuhi dengan segera, yang secara langsung membangun kepercayaan terhadap merek.

Pengiriman yang konsisten dan tepat waktu tidak hanya mengurangi kecemasan pelanggan setelah melakukan pembayaran, tetapi juga menciptakan pengalaman positif yang mendorong mereka untuk melakukan pembelian ulang (repeat order) serta merekomendasikan layanan Anda kepada orang lain.

b. Efisiensi Operasional

Optimasi lead time merupakan kunci utama dalam menciptakan supply chain management yang ramping dan bebas hambatan di dalam perusahaan. Dengan mengurangi waktu tunggu (waiting time) di setiap tahapan, baik itu di gudang maupun di lini produksi, perusahaan dapat meminimalkan penumpukan inventaris yang tidak perlu dan mengurangi biaya penyimpanan.

Proses yang lebih lancar berarti sumber daya manusia dan mesin dapat bekerja secara optimal tanpa jeda yang sia-sia, sehingga produktivitas meningkat secara signifikan. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk menghasilkan lebih banyak output dengan input waktu yang sama, yang pada akhirnya akan menekan biaya operasional secara keseluruhan.

c. Keunggulan Kompetitif

Bisnis yang memiliki lead time yang pendek memiliki fleksibilitas tinggi untuk beradaptasi dengan perubahan tren pasar yang dinamis. Di industri yang bergerak cepat, kemampuan untuk meluncurkan produk baru atau mengisi kembali stok dalam waktu singkat memberikan keunggulan telak dibandingkan kompetitor yang memiliki proses lambat.

Responsivitas ini memungkinkan perusahaan untuk menangkap peluang pasar lebih awal, meminimalkan risiko produk menjadi usang (obsolescence), dan memberikan citra sebagai pemimpin pasar yang inovatif. Singkatnya, kecepatan eksekusi adalah senjata strategis untuk memenangkan persaingan di tengah persaingan global yang ketat.

7. Tips Mempersingkat Lead Time di Perusahaan Manufaktur

Tips untuk mempersingkat lead time pabrik Anda meliputi penerapan lean manufacturing, sistem JIT, kolaborasi dengan supplier, serta analisis dan pengendalian proses untuk mengoptimalkan alur produksi. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut terkait tips untuk mempersingkat lead time di perusahaan manufaktur:

a. Penerapan Metode Lean Manufacturing

Lean manufacturing merupakan filosofi yang berfokus menghapus pemborosan di sepanjang alur kerja demi efisiensi. Dengan meminimalkan aktivitas tanpa nilai tambah, seperti waktu tunggu dan penumpukan stok, perusahaan dapat menciptakan alur yang lebih cepat dan terorganisir.

Penerapan prinsip ini memastikan setiap detik dan sumber daya diarahkan untuk mencapai kualitas maksimal. Hal ini menjaga operasional tetap ramping, sehingga setiap proses yang berjalan memberikan dampak langsung pada nilai akhir produk.

b. Penerapan Sistem Just-In-Time (JIT)

Tips berikutnya adalah menerapkan Just-In-Time (JIT) yang mengatur aliran material sesuai permintaan. Dengan JIT, bahan baku hanya dipesan saat dibutuhkan, sehingga meminimalkan kebutuhan ruang simpan dan risiko kelebihan stok yang membebani operasional.

Hal ini secara signifikan memangkas lead time karena material langsung diproses tanpa mengendap lama di gudang. Proses ini juga memperjelas visibilitas aliran bahan, sehingga waktu tunggu antar-tahap produksi bisa dikurangi seminimal mungkin.

c. Kolaborasi dengan Supplier

Membangun sinergi yang strategis dengan pemasok merupakan langkah krusial untuk menjamin stabilitas pasokan bahan baku. Ketepatan waktu pengiriman dari mitra tepercaya sangat menentukan kelancaran operasional dan mencegah terjadinya hambatan di tahap awal produksi.

Melalui komunikasi yang transparan dan kolaboratif, perusahaan dapat memitigasi risiko keterlambatan serta mengoptimalkan rute logistik. Hubungan yang kokoh ini memastikan aliran material tetap sinkron dengan jadwal kebutuhan, sehingga efisiensi waktu tetap terjaga tanpa mengorbankan kualitas.

d. Analisis dan Pengendalian Proses

Pemanfaatan data dalam kendali operasional adalah kunci utama untuk memangkas waktu tunggu secara efektif. Dengan memantau setiap tahapan secara detail, perusahaan bisa mendeteksi titik hambat atau bottleneck yang selama ini mengganggu kelancaran alur kerja.

Dukungan data real-time juga memudahkan tim mengambil keputusan cepat dan akurat saat terjadi kendala di lapangan. Melalui pendekatan sistematis seperti Six Sigma atau TQM, setiap proses dipastikan berjalan pada standar tertinggi guna menjaga konsistensi performa bisnis.

8. Optimalkan Lead Time Produksi Anda dengan Software Manufaktur ScaleOcean

Software manufaktur ScaleOcean dirancang secara khusus untuk membantu perusahaan memangkas dan mengoptimalkan setiap tahapan lead time dalam proses bisnis manufaktur. Melalui integrasi yang mulus antara modul supply chain, manajemen gudang, hingga akuntansi, ScaleOcean memungkinkan perusahaan untuk menghilangkan hambatan komunikasi dan mempercepat alur kerja dari pesanan pelanggan.

Sistem ini memberikan visibilitas end-to-end yang memungkinkan manajer memantau status produksi secara real-time, memastikan ketersediaan bahan baku tepat waktu, dan mengurangi waktu tunggu operasional. Dengan platform terpusat, koordinasi antar divisi menjadi lebih sinkron, sehingga risiko keterlambatan pengiriman yang dapat mengecewakan pelanggan dapat diminimalisir secara signifikan.

Fleksibilitas kustomisasi yang ditawarkan ScaleOcean memastikan bahwa sistem dapat disesuaikan dengan kebutuhan spesifik berbagai skala bisnis. Dukungan layanan mulai dari konsultasi profesional, demo gratis, hingga layanan after-sales tanpa biaya tambahan menjadikan ScaleOcean mitra strategis untuk meningkatkan daya saing melalui efisiensi waktu yang lebih unggul.

Berikut fitur unggulan yang ditawarkan software manufaktur ScaleOcean untuk optimasi lead time:

  • Smart MRP (material requirement planning): Melakukan perhitungan kebutuhan bahan baku secara cerdas berdasarkan jadwal produksi dan waktu tunggu pemasok untuk mencegah kekosongan stok.
  • BOM (bill of materials) management: Mengelola daftar bahan baku secara otomatis dan akurat, memastikan proses persiapan produksi berjalan lebih cepat tanpa kesalahan input.
  • Integrated SCM (supply chain management): Mengintegrasikan seluruh rantai pasok dalam satu sistem untuk memastikan koordinasi logistik dan kedatangan material tepat waktu.
  • Automated production scheduling: Penjadwalan produksi otomatis yang mempertimbangkan kapasitas mesin dan ketersediaan bahan guna menghindari penumpukan antrean produksi.
  • Order management automation: Mempercepat customer lead time melalui otomatisasi penerimaan, verifikasi, hingga pemenuhan pesanan pelanggan secara instan.
  • Detailed cost tracking: Memantau biaya produksi secara mendetail untuk memastikan efisiensi finansial sejalan dengan efisiensi waktu yang dicapai.
  • Real-time dashboard: Menyediakan tampilan data visual cerdas untuk tiap divisi guna memantau hambatan (bottleneck) dalam alur produksi secara cepat.

9. Kesimpulan

Lead time adalah durasi yang dibutuhkan dari permintaan pelanggan diterima hingga produk atau layanan selesai dan diterima oleh pelanggan. Ini mencakup waktu pemesanan, produksi, pengiriman, dan inspeksi, serta merupakan elemen penting untuk mengoptimalkan operasi bisnis dan meningkatkan kepuasan pelanggan.

Komponen lead time dalam manufaktur mencakup waktu pra-proses, waktu produksi, waktu tunggu, waktu pengiriman, dan inspeksi. Setiap elemen ini mempengaruhi efisiensi operasional dan pengelolaan stok. Optimasi lead time dapat mengurangi biaya penyimpanan, mempercepat waktu siklus, dan memastikan pengiriman tepat waktu .

Software manufaktur ScaleOcean hadir sebagai solusi komprehensif untuk menjawab tantangan tersebut melalui sistem otomatisasi yang terpadu. Dengan fitur pemantauan real-time dan perencanaan cerdas, ScaleOcean membantu Anda memangkas waktu tunggu, menghindari kesalahan manual, dan memastikan keseimbangan stok yang optimal di setiap tahapan produksi.

Menerapkan solusi teknologi ini akan memberikan fleksibilitas bagi bisnis Anda untuk lebih responsif terhadap dinamika pasar dan meningkatkan loyalitas pelanggan melalui pengiriman yang lebih cepat. Jadwalkan demo gratis dan konsultasi dengan tim ahli kami sekarang untuk melihat bagaimana ScaleOcean mentransformasi lead time bisnis Anda menjadi keunggulan kompetitif yang nyata!

FAQ:

1. Bagaimana cara menghitung lead time?

Menghitung lead time melibatkan penjumlahan seluruh waktu proses dari awal hingga akhir. Rumusnya adalah: Lead Time = Waktu Pemesanan + Waktu Produksi + Waktu Pengiriman. Sebagai contoh sederhana, jika proses pemesanan membutuhkan 2 hari, produksi 5 hari, dan pengiriman 3 hari, maka total lead time adalah 10 hari.

2. Lead time manufaktur adalah?

Manufacturing lead time adalah durasi waktu yang dibutuhkan dari setiap proses manufaktur, mulai dari proses produksi sampai produk sampai ke tangan konsumen. Dengan kata lain, manufacturing lead time adalah waktu yang dibutuhkan sejak pelanggan memesan dan menerima produk.

3. Berapa lama durasi waktu tunggu (lead time)?

Waktu tunggu mengukur lamanya waktu hari, minggu, bulan yang berlalu dari awal hingga akhir suatu proses bisnis, seperti produksi mobil. Setiap proses mencakup sejumlah proses yang lebih kecil dan berbeda yang semuanya harus diperhitungkan saat menghitung waktu tunggu.

Dita Feby Indriani
Dita Feby Indriani
Dita memiliki pengalaman 3 tahun menulis topik ERP dan tantangan bisnis berbagai sektor, berbagi insight serta rekomendasi untuk meningkatkan kinerja perusahaan.

Jadwalkan Demo Gratis

Error message
Error message
Error message
Error message
Error message
Error message

Rekomendasi Artikel Terkait

Temukan Artikel Serupa untuk Solusi Bisnis Lebih Lengkap