Kesalahan dalam menginterpretasikan hasil persentase margin vs markup ini sering menyebabkan kehilangan potensi laba yang harusnya didapatkan perusahaan. Cash flow yang terganggu akibat salah hitung juga dapat menyebabkan konflik internal serta profit yang ikut tergerus.
Memahami perhitungan margin vs markup yang tepat dapat menjadi salah satu solusi mengatasi tantangan ini. Margin dan markup menjadi kalkulator otomatis dalam menentukan profit yang diterima perusahaan. Kedua metrik ini dapat menjadi acuan untuk komisi berbasis margin bagi sales, mencegah adanya konflik ketidaksesuaian, hingga mempertahankan profit perusahaan (margin floor).
Memahami fungsi krusial kedua metrik ini dapat membantu perusahaan memperoleh profit yang terukur dengan strategi harga jual yang akurat. Artikel ini akan menjelaskan apa itu margin dan markup, perbedaannya, rumus, kapan waktu yang tepat menggunakannya, serta hubungan konversi antara margin dan markup.
- Margin dan markup adalah dua konsep penting untuk mengukur profitabilitas perusahaan mana margin dihitung dari harga jual sedangkan markup dari harga pokok.
- Perbedaan utama antara keduanya sangat penting, karena margin berfokus pada laba aktual sedangkan markup adalah alat untuk menentukan harga jual produk.
- Hubungan margin dan markup dapat dilihat dengan nilai markup yang secara konsisten akan selalu lebih tinggi daripada nilai margin untuk laba yang sama.
- Dampak negatif penetapan margin dan markup berpengaruh pada strategi harga dan menyebabkan potensi kerugian profitabilitas dan arus kas tidak sehat.
- Software akuntansi ScaleOcean dapat mengotomatikasn perhitungan margin dan markup memberikan interpretasi serta rekomendasi action plan yang tepat berdasarkan hasil tersebut.
1. Apa Itu Margin dan Markup?
Margin dan markup adalah dua konsep penting untuk mengukur profitabilitas suatu produk atau layanan. Margin atau sering disebut sebagai profit margin, adalah persentase keuntungan yang diperoleh dari total pendapatan atau harga jual. Hal ini menjadi indikator langsung tentang seberapa efisien perusahaan mengubah pendapatan menjadi laba bersih.
Di sisi lain, markup adalah persentase yang ditambahkan ke biaya pokok produk (HPP) untuk menentukan harga jualnya. Hal ini secara fundamental menjadi alat penetapan harga yang membantu perusahaan memastikan bahwa setiap produk yang dijual dapat menutupi biayanya dan sekaligus menghasilkan keuntungan.
Kemampuan untuk menganalisis margin membantu perusahaan mengevaluasi kesehatan keuangan perusahaan secara keseluruhan dan efisiensi operasional. Menguasai penggunaan markup memungkinkan penetapan harga yang kompetitif namun tetap menguntungkan dan pada akhirnya memengaruhi semua rasio profitabilitas perusahaan.
Baca juga: Mark Up: Pengertian, Metode, Manfaat, Rumus, dan Cara Hitung
2. Perbedaan Utama Antara Margin dan Markup
Meskipun margin dan markup sama-sama mengukur keuntungan, perbedaan fundamental keduanya terletak pada basis perhitungan dan tujuan penggunaannya. Perbedaan ini dapat dikelompokkan ke dalam tiga area utama, yaitu basis perhitungan, fokus penggunaan, dan perspektif pengguna.
Penggunaan metrik margin memiliki bobot hukum dan kepatuhan yang lebih tinggi, khususnya saat menyusun laporan laba rugi yang harus sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 43 Tahun 2025 tentang Pelaporan Keuangan. Kepatuhan ini menjadikan marginn cerminan resmi dari performa dan kesehatan finansial perusahaan di mata regulator dan pihak eksternal.
Berikut penjelasan dari perbedaan utama antara margin dan markup:
a. Basis Perhitungan
Perbedaan paling mendasar antara margin dan markup terletak pada basis atau penyebut yang digunakan dalam perhitungannya. Margin menggunakan harga jual atau pendapatan sebagai basis perhitungannya. Ini berarti margin mengukur persentase keuntungan relatif terhadap total pendapatan yang diterima. Sebagai contoh, margin 25% berarti bahwa dari setiap Rp100.000 pendapatan, Rp25.000-nya adalah laba kotor.
Sebaliknya, markup menggunakan biaya pokok produk (HPP) sebagai basis perhitungannya. Markup menunjukkan seberapa besar persentase harga pokok yang ditambahkan untuk sampai pada harga jual akhir. Misalnya, markup 50% berarti harga jual ditetapkan dengan menambahkan 50% dari biaya pokok produk tersebut.
b. Fokus dan Tujuan Penggunaan
Fokus dan tujuan penggunaan kedua metrik ini juga sangat berbeda, yang mencerminkan fungsi strategisnya masing-masing. Margin utamanya digunakan sebagai indikator kinerja dan profitabilitas secara keseluruhan. Perusahaan menggunakan margin untuk mengevaluasi seberapa efisien perusahaan dalam mengelola biaya dan menghasilkan laba dari penjualannya.
Di lain pihak, markup adalah alat yang lebih taktis dan operasional, dengan fokus utama pada penetapan harga (pricing). Tujuan utamanya adalah untuk memastikan bahwa setiap unit yang terjual memberikan kontribusi laba yang telah ditentukan sebelumnya, menjadikannya alat yang sangat praktis dalam operasional sehari-hari.
c. Perspektif Pengguna
Perspektif pengguna juga menjadi pembeda yang jelas antara margin dan markup. Margin sering kali dilihat dari perspektif top-down, di mana analis melihat total pendapatan dan kemudian menguraikannya untuk melihat berapa banyak yang tersisa sebagai laba. Ini adalah perspektif yang berorientasi pada hasil (result-oriented) yang berguna untuk menilai kinerja bisnis secara holistik.
Sebaliknya, markup dilihat dari perspektif bottom-up dimulai dari biaya pokok suatu produk dan kemudian membangun harga jual ke atas. Ini adalah perspektif yang berorientasi pada biaya (cost-oriented) yang sangat relevan bagi departemen seperti pengadaan, produksi, dan penjualan yang berurusan langsung dengan biaya produk.
3. Rumus Margin dan Markup
Untuk memahami aplikasi praktis dari kedua metrik ini, penting untuk mengetahui rumus dasar yang digunakan untuk menghitungnya. Rumus ini sederhana namun sangat kuat dalam memberikan wawasan tentang profitabilitas. Kesalahan dalam menerapkan rumus yang tepat dapat menyebabkan interpretasi data keuangan yang keliru.
Rumus untuk margin laba kotor (gross profit margin) adalah sebagai berikut:
Margin = ((Harga Jual – HPP) / Harga Jual) x 100%
Dalam rumus ini, laba (harga jual – HPP) dibagi dengan harga jual, yang menunjukkan persentase dari harga jual yang merupakan keuntungan. Metrik ini sangat berguna untuk membandingkan profitabilitas antar produk atau bahkan antar perusahaan dalam industri yang sama.
Sementara itu, rumus untuk markup adalah:
Markup = ((Harga Jual – HPP) / HPP) x 100%
Perhatikan bahwa pembilangnya sama dengan margin, yaitu laba kotor. Namun, penyebutnya adalah HPP, bukan harga jual. Rumus ini secara langsung menunjukkan berapa persen keuntungan yang ditambahkan di atas biaya awal produk.
Dengan memahami kedua rumus ini, Anda dapat melihat dengan jelas mengapa nilai persentase markup selalu lebih tinggi dari margin. Penyebut dalam rumus margin (harga jual) selalu lebih besar daripada penyebut dalam rumus markup (HPP), selama ada keuntungan. Pemahaman yang kuat tentang gross profit margin adalah langkah awal yang krusial sebelum melangkah ke analisis profitabilitas yang lebih kompleks.
4. Perbandingan Contoh Perhitungan Margin vs Markup
Teori dan rumus menjadi jauh lebih jelas ketika diterapkan pada contoh praktis. Mari kita gunakan skenario sederhana untuk mengilustrasikan perbedaan perhitungan antara margin dan markup. Dengan melihat angka-angka secara langsung, Anda akan lebih mudah memahami bagaimana kedua metrik ini bekerja dan mengapa keduanya memberikan persentase yang berbeda meskipun berasal dari angka laba yang sama.
Untuk lebih memahami penggunaan rumus tersebut, mari kita gunakan dua skenario berikut. Skenario pertama adalah ketika Anda sudah memiliki harga jual dan biaya, lalu ingin mengetahui berapa margin dan markup yang dihasilkan. Skenario kedua adalah kebalikannya, yaitu ketika Anda ingin mencapai markup tertentu dan perlu menentukan berapa harga jual produk seharusnya.
Berikut penjelasan kedua skenario umum dalam bisnis mengenai perhitungan margin dan markup:
a. Skenario 1: Menghitung Persentase dari Harga Jual
Bayangkan perusahaan Anda menjual sebuah produk dengan harga jual Rp200.000 dan HPP sebesar Rp150.000. Pertama, kita hitung laba kotornya, yaitu harga jual – HPP = Rp200.000 – Rp150.000 = Rp50.000. Laba kotor ini akan menjadi dasar perhitungan untuk kedua metrik.
Untuk menghitung margin kita masukkan ke dalam rumus menghitung margin. Dengan memasukkan angka-angka tadi, perhitungannya menjadi (Rp50.000 / Rp200.000) x 100% = 25%. Jadi, margin keuntungan Anda adalah 25%. Ini berarti 25% dari pendapatan penjualan produk tersebut adalah laba kotor.
Selanjutnya, mari kita hitung markup. Perhitungannya adalah (Rp50.000 / Rp150.000) x 100% = 33,33%. Jadi, markup Anda adalah 33,33%. Angka ini menunjukkan bahwa Anda menambahkan 33,33% dari biaya pokok untuk menentukan harga jual. Contoh ini dengan jelas menunjukkan bagaimana markup menghasilkan persentase yang lebih tinggi daripada margin.
b. Skenario 2: Menetapkan Harga Produk
Sekarang, mari kita balik situasinya. Anda memiliki produk dengan HPP sebesar Rp100.000 dan Anda ingin menetapkan harga jual dengan target markup sebesar 40%. Tujuan Anda adalah menentukan harga jual yang harus ditetapkan dan kemudian menghitung berapa margin yang dihasilkan dari harga tersebut.
Untuk menemukan harga jual, pertama kita hitung jumlah markup dalam rupiah: 40% dari Rp100.000 = Rp40.000. Kemudian, tambahkan jumlah markup ini ke HPP: harga jual = HPP + jumlah markup = Rp100.000 + Rp40.000 = Rp140.000. Jadi, harga jual produk tersebut adalah Rp140.000 untuk mencapai markup 40%.
Setelah harga jual ditetapkan, kita bisa menghitung margin yang dihasilkan. Laba kotornya adalah Rp40.000 (harga jual Rp140.000 – HPP Rp100.000). Maka, margin = (Rp40.000 / Rp140.000) x 100% = 28,57%. Skenario ini memperkuat pemahaman bahwa markup 40% tidak sama dengan margin 40% dalam kasus ini, margin yang dihasilkan hanya 28,57%.
5. Kapan Menggunakan Markup?
Markup adalah alat yang sangat praktis dan sering digunakan dalam situasi tertentu di mana penetapan harga yang cepat dan konsisten menjadi prioritas. Karena berbasis biaya, markup sangat ideal untuk bisnis yang menangani volume besar produk dengan biaya yang bervariasi. Penggunaan markup paling umum ditemukan di industri ritel, grosir, dan manufaktur.
Berikut adalah beberapa situasi spesifik di mana menggunakan markup adalah pilihan yang paling tepat:
- Penetapan harga katalog: Untuk memastikan harga jual sudah mengunci target margin yang diinginkan. Kesalahan di sini dapat menyebabkan harga produk terlalu rendah (underpriced), sehingga menghilangkan potensi laba.
- Negosiasi dengan supplier: Untuk memastikan semua pihak menggunakan terminologi yang sama. Ini penting agar perhitungan sistem dan biaya logistik tersinkronisasi, menghindari konflik target dan ketidaksesuaian profit.
- Memastikan biaya produksi tertutup: Untuk menjaga persentase margin tetap proporsional saat HPP naik. Hal ini mencegah erosi profitabilitas jangka panjang akibat kenaikan biaya operasional.
Software akuntansi ScaleOcean dapat membantu Anda melakukan perhitungan markup agar dapat mendapatkan profit bisnis yang maksimal. Sistem ini memastikan profitabilitas melalui markup maganement untuk menetapkan harga konsisten berdasarkan markup yang telah diatur. Didukung fitur selling limit yang memblokir transaksi jika diskon manual melanggar minimum margin yang ditetapkan perusahaan.
6. Kapan Menggunakan Margin?
Margin adalah metrik pilihan untuk analisis strategis dan evaluasi kesehatan keuangan secara keseluruhan. Hal ini memberikan gambaran yang lebih akurat tentang seberapa efisien perusahaan mengubah pendapatan menjadi laba. Metrik margin digunakan untuk mengukur dan membandingkan profitabilitas, baik secara internal (antar lini produk atau departemen) maupun eksternal (dengan pesaing di industri).
Berikut adalah beberapa situasi di mana penggunaan margin lebih diutamakan:
Penyusunan laporan laba rugi: Margin (gross/net) adalah metrik kunci untuk mengukur profitabilitas. Margin digunakan untuk menilai efisiensi dan sangat krusial dalam perhitungan rasio penting seperti Return on Investment (ROI).
Analisis performa produk: Markup menentukan harga awal, tetapi margin (keuntungan dari harga jual) mengevaluasi efektivitas produk. Margin membantu manajemen mengidentifikasi produk yang menguntungkan untuk alokasi sumber daya.
Presentasi ke investor: Investor fokus pada margin (operating/net) sebagai indikator kesehatan model bisnis. Margin yang tinggi menunjukkan kontrol biaya dan potensi profitabilitas jangka panjang, meyakinkan investor tentang pengembalian modal.
7. Hubungan dan Konversi Antara Markup dan Margin
Meskipun berbeda, markup dan margin secara matematis saling terkait. Memahami hubungan ini memungkinkan perusahan untuk dengan mudah mengkonversi satu metrik ke metrik lainnya. Kemampuan ini berguna saat menganalisis data dari sumber yang berbeda atau saat berkomunikasi dengan departemen yang berbeda dalam satu perusahaan.
Berikut merupakan penjelasan hubungan dan konversi antara markup dan margin:
a. Mengapa Markup Selalu Lebih Tinggi dari Margin?
Alasan matematis mengapa persentase markup selalu lebih tinggi dari margin (selama ada keuntungan) terletak pada penyebut dalam rumus masing-masing. Rumus margin membagi laba kotor dengan harga jual, sedangkan rumus markup membagi laba kotor yang sama dengan biaya pokok. Harga jual akan selalu lebih besar dari HPP jika bisnis tersebut menghasilkan laba.
Karena Anda membagi jumlah laba yang sama dengan angka yang lebih kecil, hasil persentase untuk markup secara otomatis akan lebih tinggi. Sebaliknya, saat Anda membagi laba dengan angka yang lebih besar (harga jual), hasil persentase untuk margin akan lebih rendah.
b. Rumus Konversi Markup ke Margin (dan Sebaliknya)
Untuk kemudahan analisis, terdapat rumus sederhana untuk mengkonversi kedua metrik ini. Rumus-rumus ini memungkinkan Anda untuk dengan cepat menghitung satu nilai jika Anda mengetahui nilai yang lain, tanpa perlu mengetahui harga jual atau HPP secara spesifik. Ini sangat berguna untuk analisis cepat dan pemodelan skenario.
Untuk mengkonversi markup ke margin, gunakan rumus berikut:
Margin = Markup / (1 + Markup)
Misalnya, jika markup adalah 33,33% (atau 0,3333), maka margin = 0,3333 / (1 + 0,3333) = 0,25 atau 25%. Rumus ini mengkonfirmasi contoh perhitungan kita sebelumnya.
Untuk mengkonversi margin ke markup, rumusnya adalah:
Markup = Margin / (1 – Margin)
Sebagai contoh, jika margin adalah 25% (atau 0,25), maka markup = 0,25 / (1 – 0,25) = 0,3333 atau 33,33%.
8. Dampak Strategi Penetapan Harga Terhadap Bisnis
Keputusan penetapan harga adalah salah satu tuas paling kuat yang dimiliki perusahaan untuk memengaruhi profitabilitas. Kesalahan dalam menggunakan metrik yang tepat dapat mengikis keuntungan secara diam-diam dan membahayakan kesehatan keuangan perusahaan. Strategi penetapan harga yang efektif harus didasarkan pada pemahaman yang jelas tentang biaya, persepsi nilai pelanggan, dan tujuan profitabilitas perusahaan.
Berikut adalah dampak strategi penetapan harga terhadap keberlangsungan bisnis:
a. Risiko Salah Membedakan Margin dan Markup
Risiko terbesar dari kebingungan antara margin dan markup adalah penetapan harga yang tidak memadai (underpricing). Seorang manajer mungkin menargetkan margin 30% untuk menutupi biaya operasional dan laba, tetapi secara keliru menggunakan markup 30% untuk menetapkan harga. Seperti yang telah kita lihat, markup 30% akan menghasilkan margin yang jauh lebih rendah (sekitar 23%)
Kesalahan ini, jika diterapkan di seluruh lini produk dapat menyebabkan erosi laba yang signifikan. Perusahaan mungkin terlihat sibuk dengan volume penjualan yang tinggi, tetapi pada akhirnya berjuang dengan arus kas karena keuntungan aktual per unit jauh di bawah ekspektasi. Hal ini dapat berdampak langsung pada net profit margin dan kemampuan perusahaan untuk berinvestasi kembali dalam pertumbuhan.
b. Pentingnya Konsistensi dalam Laporan Keuangan
Konsistensi dalam penggunaan metrik keuangan adalah kunci untuk pelaporan yang akurat dan pengambilan keputusan yang andal. Jika penjualan melaporkan pencapaian target berdasarkan markup, sementara keuangan menganalisis kinerja berdasarkan margin akan terjadi kesenjangan komunikasi dan interpretasi data yang berbahaya.
Menetapkan standar internal untuk pelaporan misalnya, semua analisis profitabilitas internal harus menggunakan margin dapat menghilangkan ambiguitas. Konsistensi ini memastikan bahwa perbandingan kinerja dari waktu ke waktu atau antar departemen menjadi valid dan bermakna. Pada akhirnya, data yang konsisten dan akurat adalah dasar untuk metrik evaluasi yang lebih luas, seperti Return on Equity (ROE).
Kesimpulan
Perbedaan margin dan markup menjadi hal yang sangat krusial dalam menentukan profitabilitas bisnis. Margin adalah persentase keuntungan dari harga jual, sedangkan markup adalah selisih antara biaya produksi dan harga jual. Kebingungan antara dua metrik ini bukan hanya masalah semantik, melainkan risiko strategis nyata yang menyebabkan penetapan harga keliru dan erosi laba.
Untuk menyederhanakan dan menghilangkan kesalahan manual, implementasi teknologi sangat krusial. Software Akuntansi ScaleOcean dapat membantu Anda untuk menguasai penggunaan masing-masing metrik. Dengan fitur automated selling price generation dan selling limit, ScaleOcean mengotomatiskan harga dan mencegah penjualan rugi perusahaan.
Memahami pengelolaan dan perhitungan margin dan markup yang tepat dapat membantu Anda untuk mengatasi resiko yang dapat mengikir profit bisnis Anda. Jadwalkan demo gratis dan konsultasi dengan tim ahli kami untuk mengetahui bagaimana software ini dapat membantu bisnis Anda!
FAQ:
1. Apa perbedaan antara margin dan markup?
Perbedaan utama antara margin keuntungan dan markup adalah margin sama dengan penjualan dikurangi harga pokok penjualan (HPP), sedangkan markup adalah harga jual produk dikurangi harga pokoknya. Margin sama dengan penjualan dikurangi harga pokok penjualan (HPP).
2. Apa yang dimaksud dengan markup?
Markup adalah penambahan harga pokok suatu produk atau jasa untuk menentukan harga jualnya, yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan atau laba. Secara sederhana, markup adalah selisih antara harga jual dan harga pokok, yang dapat dinyatakan dalam nilai rupiah atau persentase.
3. Berapa persen margin keuntungan yang baik?
Secara umum, margin keuntungan antara 5% hingga 20% dianggap sehat untuk berbagai jenis bisnis. Margin keuntungan bersih sebesar 10% dianggap sehat, sementara di industri tertentu seperti teknologi atau jasa bisa melebihi 20%.







