Perencanaan produksi adalah elemen krusial untuk setiap perusahaan manufaktur yang ingin memastikan efisiensi dan profitabilitas operasional. Seringkali, perusahaan menghadapi tantangan berupa tumpukan pesanan, jadwal produksi yang tidak teratur, dan miskoordinasi antar tim, yang pada akhirnya dapat menghambat pertumbuhan bisnis.
Peramalan produksi yang tepat berfungsi sebagai solusi strategis untuk menciptakan alur kerja yang terintegrasi. Dengan implementasi yang matang, Anda dapat mengoptimalkan alokasi sumber daya, baik itu bahan baku, mesin, maupun tenaga kerja, serta menyusun jadwal produksi yang realistis dan efisien.
Berikut akan dijelaskan lebih lanjut tujuan, elemen penting yang perlu diperhatikan, dan cara membuat perencanaan produksi atau production planning yang efisien dengan bantuan teknologi terintegrasi seperti ERP manufaktur. Dengan informasi ini, perusahaan dapat memantau kinerja produksi secara real-time dan mengoptimalkan pengelolaan inventaris.
- Perencanaan produksi adalah proses strategis untuk mengoordinasikan sumber daya agar produksi efisien, tepat waktu, dan memenuhi permintaan pasar dengan biaya optimal.
- Tujuan utama perencanaan produksi mencakup efisiensi biaya, keseimbangan permintaan, pengurangan limbah, serta meminimalkan waktu henti.
- Proses perencanaan yang tepat melibatkan tahapan peramalan permintaan, penyusunan jadwal induk, perencanaan material, hingga pengendalian dan evaluasi hasil produksi secara berkala.
- Penerapan perencanaan produksi bervariasi di setiap industri, mulai dari penanganan data real-time di FMCG hingga sinkronisasi ribuan komponen di sektor otomotif.
- Software manufaktur ScaleOcean mampu mengotomatisasi penjadwalan, mengelola persediaan material, dan memantau kualitas produksi demi efisiensi pabrik maksimal.
Apa yang Dimaksud dengan Perencanaan Produksi?
Perencanaan produksi adalah proses strategis untuk mengorganisir dan mengkoordinasikan sumber daya, seperti bahan baku, tenaga kerja, peralatan, dan waktu, guna memproduksi barang atau jasa sesuai target. Tujuannya adalah memastikan efisiensi biaya dan waktu, sekaligus memenuhi permintaan pasar.
Proses ini mengoptimalkan penggunaan sumber daya agar biaya produksi tetap rendah dan menghindari pemborosan. Dengan perencanaan yang matang, perusahaan dapat meningkatkan profitabilitas melalui pengelolaan yang tepat mengenai “apa, berapa, kapan, di mana, dan bagaimana” produk diproduksi secara efisien.
Baca juga: 22 Software Manufaktur Terbaik untuk Efisiensi Pabrik
10 Tujuan Perencanaan Produksi dalam Perusahaan Manufaktur
Tujuan utama perencanaan produksi adalah untuk memastikan proses produksi berlangsung secara efisien dan efektif, menghasilkan produk yang sesuai dengan permintaan pasar, serta mengoptimalkan penggunaan sumber daya dan mengurangi biaya produksi.
Untuk lebih detail, beberapa tujuan utama production planning sebagai berikut:
1. Menghasilkan Produk Berkualitas Tinggi
Manufaktur dan manajemen produksi fokus pada pembuatan produk yang sesuai dengan standar kualitas konsumen. Mereka mengawasi seluruh proses agar hasil akhir memenuhi ekspektasi, sekaligus menjaga konsistensi mutu di setiap tahap produksi.
Konsep Jidoka, yang memungkinkan proses berhenti secara otomatis saat terdeteksi kesalahan, berperan penting dalam memastikan kualitas tetap terjaga sepanjang alur produksi.
2. Mengoptimalkan biaya
Tujuan peramalan perencanaan produksi adalah menekan biaya produksi melalui efisiensi operasional dan pemanfaatan sumber daya secara optimal. Selain itu, penerapan teknologi tepat guna juga membantu mengurangi pemborosan dan meningkatkan produktivitas secara signifikan.
Dalam hal ini, software ERP manufaktur dapat membantu dengan mengumpulkan dan mengintegrasikan data dari berbagai departemen, seperti penjualan dan pembelian, untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai dinamika pasar dan kondisi internal yang memengaruhi biaya.
3. Menyeimbangkan Permintaan dan Penawaran
Tujuan production planning adalah menyesuaikan volume produksi dengan kebutuhan pasar secara tepat waktu. ERP dapat mendukung proses ini dengan menganalisis data historis untuk memprediksi permintaan di masa mendatang, serta menggunakan metode peramalan seperti moving average atau exponential smoothing, yang membantu perusahaan mempersiapkan produksi sesuai kebutuhan pasar.
4. Meningkatkan Efisiensi
ERP memainkan peran penting dalam memaksimalkan efisiensi pemanfaatan sumber daya seperti tenaga kerja, bahan baku, mesin, dan waktu. Dengan mengintegrasikan proses secara otomatis, ERP mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk mengelola data secara manual, serta meminimalkan pemborosan dan meningkatkan kecepatan produksi.
Selain itu, selain itu penggunaan custom work order forms dapat membantu perusahaan dalam merencanakan dan mengelola proses produksi secara lebih efisien. Hal ini berdampak pada pengurangan biaya produksi serta peningkatan kualitas produk.
5. Mengurangi Pemborosan
ERP membantu manajemen produksi dalam mengidentifikasi dan mengurangi pemborosan di setiap tahap proses produksi. Ini tidak hanya menghemat biaya tetapi juga meningkatkan efisiensi operasional. Dengan data yang bersih dan terstruktur, perusahaan dapat meminimalisir pemborosan pada bahan baku, tenaga kerja, dan waktu.
6. Menciptakan Aliran Produksi Berkelanjutan
Perencanaan produksi yang matang, didukung oleh ERP, memastikan aliran produksi yang stabil dengan memantau dan mengevaluasi kinerja secara real-time. ERP juga membantu perusahaan mengelola persediaan dan merencanakan pemeliharaan peralatan untuk meminimalkan waktu henti yang tidak direncanakan.
7. Mencapai Persediaan yang Optimal
Salah satu tujuan penting dalam production planning adalah mengelola persediaan dengan tepat. ERP memberikan transparansi yang diperlukan untuk mengelola persediaan secara lebih efisien, mengurangi kelebihan stok atau kekurangan bahan baku, yang dapat menyebabkan pemborosan biaya dan gangguan dalam proses produksi.
8. Mengurangi Ketidakpastian
Dengan adanya perencanaan yang matang, perusahaan dapat mengurangi ketidakpastian dalam proses produksi. Tujuan perencanaan produksi ini akan memberikan rasa aman dalam setiap tahap siklus produksi dan memungkinkan perusahaan untuk membuat keputusan yang lebih terukur dan tepat waktu.
9. Meminimalisir Waktu Henti
Berikutnya, perencanaan yang cermat juga bertujuan untuk meminimalkan waktu henti yang tidak direncanakan. Mengidentifikasi potensi masalah sebelumnya, serta merencanakan pemeliharaan dan perbaikan peralatan, membantu menjaga kelancaran produksi meskipun ada gangguan.
Bagi perusahaan baja besar yang memiliki mesin peleburan yang membutuhkan biaya downtime $20 ribu USD per jam, perencanaan produksi harus mengintegrasikan jadwal pemeliharaan prediktif mesin tersebut. Dengan memproyeksikan kegagalan komponen sebelum terjadi, perusahaan dapat menghindari waktu henti mendadak, menghemat jutaan rupiah dalam biaya perbaikan darurat dan kerugian produksi.
10. Mengurangi Biaya Overhead
Dengan mengelola sumber daya secara efisien, perusahaan dapat mengurangi biaya overhead seperti pemeliharaan peralatan, biaya utilitas, dan gaji karyawan non-produksi. Pengelolaan persediaan yang tepat juga mengurangi risiko kerusakan barang serta biaya penyimpanan.
Dengan tercapainya production planning manufaktur, perusahaan dapat mendukung perusahaan dalam meningkatkan profitabilitas, menjaga keunggulan kompetitif, serta memenuhi permintaan pasar secara efektif.
Faktor Apa Saja yang Memengaruhi Perencanaan Produksi?
Perencanaan produksi yang efektif dipengaruhi oleh berbagai faktor internal, eksternal, dan horizon waktu yang perlu diperhatikan oleh perusahaan. Berikut adalah beberapa faktor utama yang harus dipertimbangkan:
1. Faktor Internal (Kapasitas & Sumber Daya)
Faktor ini berada di bawah kendali langsung perusahaan untuk memastikan kelancaran operasional:
- Kapasitas Mesin dan Peralatan: Kemampuan teknis lini produksi untuk memenuhi target output dalam jangka waktu tertentu.
- Tenaga Kerja (SDM): Meliputi jumlah personel, tingkat keahlian (skill), serta produktivitas kerja yang tersedia untuk menjalankan proses produksi.
- Ketersediaan Bahan Baku: Manajemen inventaris bahan mentah guna menghindari keterlambatan produksi akibat kekurangan stok.
- Teknologi & Inovasi: Penggunaan sistem otomatisasi, perangkat lunak perencanaan (ERP), dan teknologi manufaktur terbaru untuk efisiensi.
- Modal & Keuangan: Ketersediaan dana untuk pengadaan material, pemeliharaan mesin, serta investasi teknologi baru.
2. Faktor Eksternal (Pasar & Lingkungan)
Faktor luar yang harus diantisipasi melalui strategi perencanaan:
- Permintaan Pelanggan (Forecasting): Analisis tren pasar dan peramalan permintaan yang akurat untuk menentukan volume produksi yang tepat.
- Kondisi Ekonomi: Faktor seperti inflasi, fluktuasi harga bahan baku, dan kenaikan biaya energi yang menekan margin keuntungan di tahun 2025.
- Kebijakan Pemerintah: Regulasi terkait perpajakan (seperti rencana kenaikan PPN), standar kualitas industri, dan kebijakan hilirisasi.
- Rantai Pasok (Supply Chain): Keandalan pemasok eksternal dan kelancaran logistik pengiriman material.
3. Faktor Horizon Waktu
Perencanaan juga diklasifikasikan berdasarkan rentang waktu pelaksanaannya:
- Jangka Panjang: Penentuan kapasitas pabrik, lokasi, dan pengembangan produk baru.
- Jangka Menengah: Perencanaan kebutuhan tenaga kerja agregat dan jadwal pengadaan material.
- Jangka Pendek: Penjadwalan harian/mingguan (scheduling) dan penugasan tugas operasional spesifik.
Efektivitas perencanaan produksi sangat bergantung pada kemampuan perusahaan dalam menyelaraskan kapasitas internal dengan dinamika biaya input dan permintaan pasar yang berubah cepat.
Apa Saja Jenis Perencanaan Produksi Perusahaan Manufaktur?
Jenis-jenis perencanaan produksi meliputi perencanaan berdasarkan waktu (jangka panjang, menengah, pendek), perencanaan berdasarkan metode produksi (pekerjaan, batch, aliran, proses, massal, Just-In-Time/JIT), serta perencanaan berdasarkan strategi permintaan (produksi untuk persediaan, produksi untuk perakitan sesuai pesanan).
Berikut penjelasan lebih lanjut mengenai jenis-jenis perencanaan produksi:
1. Berdasarkan Jangka Waktu
Perencanaan produksi berdasarkan jangka waktu merujuk pada pembagian rencana yang disesuaikan dengan durasi tertentu, mulai dari jangka panjang hingga jangka pendek. Setiap jenis perencanaan ini memiliki tujuan yang berbeda dalam mengatur kapasitas produksi, alokasi sumber daya, dan penyesuaian dengan permintaan pasar.
- Jangka Panjang: Fokus pada strategi pengembangan perusahaan dalam periode 2-10 tahun ke depan, yang berorientasi pada pencapaian tujuan jangka panjang dan mencakup perubahan besar.
- Jangka Menengah: Membahas rencana untuk memenuhi permintaan yang berfluktuasi dalam jangka waktu 1 hingga 2 tahun. Fokus utama adalah penyesuaian kapasitas produksi untuk menghadapi perubahan pasar yang lebih dinamis.
- Jangka Pendek: Berfokus pada penjadwalan produksi yang lebih spesifik untuk memenuhi kebutuhan dalam 1 hingga 30 hari. Perencanaan ini sangat mendetail, mengatur semua aspek harian agar produksi tetap optimal dan sesuai permintaan yang mendesak.
2. Berdasarkan Metode Produksi
Selain berdasarkan jangka waktu, production planning juga dapat dikelompokkan berdasarkan metode yang digunakan dalam proses produksi. Setiap metode memiliki cara yang berbeda dalam mengelola alur produksi dan pengendalian kualitas untuk memastikan efisiensi dan pengurangan pemborosan.
- Metode Pekerjaan (Project-Based): Produksi difokuskan pada pembuatan barang yang dipesan secara khusus oleh pelanggan. Proses produksi disesuaikan dengan spesifikasi setiap pesanan, menjadikannya lebih fleksibel dan sesuai dengan permintaan individual.
- Metode Batch: Produksi dilakukan dalam kelompok-kelompok, memungkinkan pemantauan kualitas dan proses yang lebih baik. Metode ini cocok untuk produk yang memerlukan waktu produksi lebih lama dan melibatkan beberapa tahapan.
- Metode Flow: Produksi dilakukan secara kontinu dan terstandardisasi, dengan fokus pada alur produksi yang mulus. Dengan pengendalian kualitas yang ketat, metode ini mengurangi hambatan dalam setiap tahapan produksi.
- Metode Proses: Digunakan untuk produksi barang yang melibatkan perubahan kimia atau fisik yang berkelanjutan, seperti bahan cair. Metode ini memerlukan pengawasan ketat dan kontrol kualitas untuk menjaga keseragaman produk.
- Metode Produksi Massal: Menghasilkan barang produksi dalam jumlah besar dengan alur produksi yang lebih otomatis. Meskipun tidak selalu dilakukan dalam kelompok, metode ini bertujuan untuk meminimalkan waktu produksi dan meningkatkan efisiensi.
- Just-In-Time (JIT): Barang diproduksi hanya saat dibutuhkan, mengurangi biaya penyimpanan dan mempercepat alur produksi. Dengan JIT, perusahaan dapat meminimalkan stok dan mengurangi pemborosan, menjaga aliran produksi tetap lancar dan efisien.
Tahapan Perencanaan Produksi di Manufaktur
Perencanaan produksi yang tepat sangat penting untuk memastikan proses produksi berjalan dengan efisien, menghasilkan produk yang sesuai dengan permintaan pasar, dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya. Berikut adalah tahapan-tahapan yang perlu diperhatikan dalam production planning di perusahaan manufaktur.
1. Peramalan Permintaan (Demand Forecasting)
Peramalan produksi adalah langkah kunci dalam perencanaan produksi yang memastikan perusahaan dapat memenuhi permintaan pasar tanpa kekurangan atau kelebihan stok. Tanpa peramalan yang tepat, perusahaan berisiko menghadapi situasi di mana produk tidak tersedia saat dibutuhkan konsumen, atau malah menumpuk barang yang tidak terjual, yang bisa merugikan perusahaan baik dari sisi finansial maupun operasional.
Oleh karena itu, peramalan produksi yang akurat menjadi aspek krusial dalam menjaga efisiensi dan kelancaran alur produksi. Berikut penjelasan lebih rincinya:
a. Metode Peramalan Produksi
Ada beberapa metode yang digunakan untuk melakukan peramalan permintaan produk, yang umumnya dibagi menjadi dua kategori besar, yaitu metode kualitatif dan kuantitatif:
- Metode Kualitatif: Digunakan ketika data historis terbatas atau ketika pasar cenderung berubah secara cepat dan tidak dapat diprediksi dengan angka. Contohnya adalah peramalan berdasarkan pendapat ahli atau survei konsumen.
- Metode Kuantitatif: Menggunakan data historis dan matematis untuk memprediksi permintaan di masa depan. Beberapa contoh teknik kuantitatif termasuk metode rata-rata bergerak (moving average), peramalan eksponensial, atau model regresi yang lebih kompleks.
b. Langkah-langkah dalam Peramalan Produksi
Proses peramalan permintaan untuk produksi melibatkan beberapa langkah yang perlu dilakukan dengan hati-hati agar hasil peramalan dapat diterima dan digunakan secara efektif dalam perencanaan produksi:
- Pengumpulan Data: Langkah pertama dalam peramalan adalah mengumpulkan data historis mengenai penjualan atau permintaan produk di masa lalu. Data ini bisa berupa volume penjualan, tren musiman, atau informasi ekonomi yang relevan. Pengumpulan data yang baik adalah dasar dari peramalan yang akurat.
- Pemilihan Metode Peramalan: Setelah data dikumpulkan, pemilihan metode peramalan yang tepat sangat penting. Apakah metode kuantitatif atau kualitatif yang paling sesuai tergantung pada tipe produk, sifat pasar, dan ketersediaan data historis.
- Analisis Data: Menggunakan metode yang dipilih, analisis dilakukan untuk melihat pola atau tren dari data yang ada. Ini membantu perusahaan memahami bagaimana permintaan produk berfluktuasi sepanjang waktu dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi permintaan tersebut, seperti tren musiman atau perubahan ekonomi.
- Penerapan Model Peramalan: Setelah pola atau tren ditemukan, model peramalan diterapkan untuk memproyeksikan permintaan di masa depan. Pada titik ini, perusahaan bisa menguji berbagai skenario untuk melihat bagaimana perubahan dalam faktor eksternal dapat mempengaruhi permintaan produk.
- Evaluasi dan Penyesuaian: Setelah model peramalan diterapkan, hasilnya perlu dievaluasi untuk memastikan akurasi. Jika terjadi kesalahan prediksi, langkah-langkah perbaikan atau penyesuaian perlu dilakukan untuk memperbaiki model dan memastikan keakuratan prediksi berikutnya.
c. Manfaat Peramalan Produksi yang Akurat
Dengan peramalan produksi yang baik, perusahaan dapat mengatur sumber daya secara lebih efisien, mengurangi biaya operasional, dan meningkatkan kepuasan pelanggan. Produksi yang sesuai dengan permintaan tidak hanya mengoptimalkan stok, tetapi juga mempercepat proses pengambilan keputusan dalam hal pengadaan bahan baku, perencanaan jadwal produksi, dan distribusi.
2. Perencanaan Produk
Pada tahap ini, perusahaan merencanakan seluruh aspek produksi, mulai dari kebutuhan bahan baku, tenaga kerja, hingga peralatan yang dibutuhkan. Tujuan dari rancangan produk adalah untuk menciptakan spesifikasi produk yang jelas dan memenuhi harapan pasar, memastikan kelayakan produksi, serta meminimalkan potensi masalah di tahap selanjutnya.
3. Perencanaan Kapasitas (Capacity Planning)
Setelah mengetahui permintaan, langkah berikutnya adalah merencanakan kapasitas produksi yang diperlukan. Tahap ini meliputi pemilihan mesin, tenaga kerja, dan fasilitas yang diperlukan untuk memastikan perusahaan dapat memproduksi barang dalam jumlah yang tepat sesuai dengan permintaan pasar. Perencanaan kapasitas yang tepat akan membantu perusahaan memaksimalkan penggunaan mesin dan tenaga kerja, tanpa adanya pemborosan atau lead time.
4. Perencanaan Bahan Baku (Material Requirements Planning – MRP)
Perencanaan bahan baku dilakukan untuk memastikan ketersediaan bahan yang cukup dalam proses produksi. Dalam konteks ini, Material Requirements Planning (MRP) digunakan untuk menentukan jumlah bahan baku yang dibutuhkan untuk memenuhi jadwal produksi. Dengan MRP, perusahaan dapat memastikan bahwa bahan baku tersedia tepat waktu tanpa mengalami kekurangan atau pemborosan stok.
5. Penjadwalan Produksi (Production Scheduling)
Pada tahap penjadwalan, perusahaan menyusun jadwal produksi yang detail untuk memastikan bahwa semua sumber daya digunakan secara optimal. Penjadwalan ini meliputi waktu untuk setiap tahap produksi, alokasi mesin dan tenaga kerja, serta pengaturan prioritas produksi. Selain itu, KPI produksi digunakan untuk memantau kinerja dan efisiensi di setiap tahap, memastikan bahwa proses berjalan sesuai dengan rencana.
6. Manajemen Persediaan (Inventory Management)
Manajemen persediaan adalah elemen penting dalam pengendalian stok bahan baku dan produk jadi. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk menjaga keseimbangan antara ketersediaan barang dan pengiriman, menghindari biaya penyimpanan yang tinggi dan kehabisan barang saat permintaan meningkat.
Dengan adanya sistem ERP yang terintegrasi, manajemen persediaan dapat dilakukan secara real-time, memungkinkan perusahaan untuk merespons perubahan permintaan dengan cepat.
7. Pengendalian Produksi (Production Control)
Setelah produksi dimulai, perencanaan dan pengendalian produksi diperlukan untuk memastikan segala sesuatunya berjalan sesuai rencana. Ini mencakup pengawasan terhadap kualitas, waktu, dan biaya, serta penyesuaian yang diperlukan jika ada perubahan dalam proses produksi. Pengendalian produksi yang baik juga membantu meminimalkan pemborosan dan memastikan bahwa produksi berlangsung dengan efisien.
8. Evaluasi dan Tindak Lanjut (Evaluation and Follow-up)
Setelah proses produksi selesai, evaluasi dilakukan untuk menilai apakah produksi berjalan dengan baik dan memenuhi target. Jika ada masalah atau ketidaksesuaian, tindak lanjut dilakukan untuk memperbaiki proses di masa mendatang dan meningkatkan efisiensi produksi. Evaluasi berkelanjutan membantu perusahaan untuk terus meningkatkan proses produksi dan beradaptasi dengan perubahan pasar.
9. Pengendalian Biaya (Cost Control)
Dengan biaya produksi yang terencana, perusahaan dapat merencanakan dan memantau pengeluaran untuk bahan baku, tenaga kerja, dan overhead. Hal ini mengoptimalkan biaya produksi dan memaksimalkan margin keuntungan tanpa mengorbankan kualitas produk. Perencanaan yang matang membantu perusahaan mengurangi pemborosan dan meningkatkan profitabilitas.
10. Perencanaan Kualitas
Perencanaan kualitas yang terstandarisasi membantu perusahaan memastikan bahwa setiap produk yang dihasilkan sesuai dengan standar kualitas yang ditetapkan, meminimalkan cacat produk, dan meningkatkan kepuasan pelanggan. Dengan penggunaan teknologi seperti Andon system, perusahaan dapat mengidentifikasi masalah kualitas secara langsung dan meresponsnya dengan cepat, menjaga agar produk yang dihasilkan tetap sesuai dengan standar.
Apa Saja Manfaat dari Perencanaan Produksi?
Manfaat perencanaan produksi sangat berpengaruh terhadap kelancaran operasional perusahaan. Dengan perencanaan yang baik, perusahaan dapat mencapai berbagai keuntungan yang membantu meningkatkan efektivitas dan profitabilitas. Berikut adalah beberapa manfaat utama dari perencanaan produksi:
1. Efisiensi
Perencanaan produksi yang matang membantu mengurangi waktu, biaya, dan tenaga yang terbuang. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk memaksimalkan sumber daya yang ada, meningkatkan produktivitas, dan mengurangi pemborosan.
2. Fleksibilitas
Perencanaan yang baik memungkinkan perusahaan untuk beradaptasi dengan perubahan permintaan pasar. Fleksibilitas ini memungkinkan perusahaan untuk merespons perubahan secara cepat, baik itu peningkatan permintaan atau perubahan tren pasar.
3. Peningkatan Pendapatan
Memenuhi pesanan tepat waktu meningkatkan kepercayaan pelanggan dan dapat mendorong peningkatan penjualan. Dengan pengelolaan produksi yang efisien, perusahaan juga dapat meningkatkan kepuasan pelanggan, yang berpotensi menghasilkan loyalitas jangka panjang.
Contoh Perencanaan Produksi dalam Perusahaan Manufaktur
Perencanaaan produksi adalah proses penting yang harus diperhatikan sebaik mungkin agar produksi berjalan lancar, dan memudahkan perusahaan dalam memastikan permintaan pasar secara efisien dan tepat waktu.
Namun, perencanaan di setiap industri berbeda tergantung proses dan kerja produksi yang dilakukan. Di bawah ini adalah contoh perencanaan produksi di beberapa industri perusahaan, yaitu:
1. Perusahaan Makanan (FMCG)
Perencanaaan produksi di industri FMCG (Fast-Moving Consumer Goods) menurut Throughput sangat bergantung pada data, termasuk data siklus manufaktur saat ini dan historis, untuk memperkirakan waktu tunggu, mengembangkan kalender pembelian, meningkatkan jadwal pemeliharaan, dan menyediakan informasi inventaris yang akurat kepada tim penjualan.
Bagi perusahaan FMCG skala enterprise dengan jaringan distribusi nasional, perencanaan produksi harus dapat menanggapi lonjakan permintaan dari 100+ distributor secara real-time. Jika perencanaan gagal merespon, misalnya saat permintaan minuman energi meningkat 30% karena event olahraga, perusahaan berisiko kehilangan potensi pendapatan miliaran rupiah karena tidak memiliki produk yang siap kirim di gudang distribusi regional.
2. Perusahaan Elektronik
Contoh selanjutnya dapat dilihat di perusahaan elektronik seperti smartphone yang harus mempertimbangkn aspek-aspek penting, seperti desain smartphone yang ingin diproduksi hingga jumlah unit yang harus diproduksi.
Proses ini harus memastikan ketersediaan bahan baku dan menentukan kapasitas produksi yang tepat untuk memenuhi permintaan pasar. Proses di sini juga mencakup penjadwalan waktu yang diperlukan untuk setiap batch produksi, mulai dari perakitan hingga pengujian, serta pengiriman produk ke distributor.
3. Perusahaan Fashion
Perencanaan produksi di sini dimulai dengan memprediksi tren pasar dan memastikan jenis pakaian yang akan diproduksi telah sesuai dengan strategi demand management. Perusahaan juga harus menghitung jumlah pakaian yang akan diproduksi, memilih bahan baku, dan memastikan ketersediana tenaga kerja untuk memenuhi jadwal produksi.
4. Perusahaan Otomotif
Contoh perencanaan produksi di perusahaan otomatis biasanya dimulai dengan mempertimbangkan desain kendaraan, serta jumlah unit yang dibutuhkan. Dalam tahap perakitan dalam proses manufaktur otomotif, perusahaan harus memastikan ketersediaan komponen yang diperlukan dan menyesuaikan kapasitas produksi dengan permintaan pasar. Hal ini penting agar setiap tahapan produksi dapat berjalan efisien dan tepat waktu, memastikan hasil yang optimal.
Di pabrik perakitan otomotif yang menerapkan sistem build-to-order, perencanaan produksi harus menyinkronkan ribuan suku cadang (dari mesin hingga warna interior) yang berasal dari ratusan vendor global ke jalur perakitan utama tepat dalam interval 60 detik. Kegagalan koordinasi ini, meskipun hanya untuk satu mobil, dapat menghentikan seluruh jalur produksi yang bernilai jutaan dolar per jam.
5. Perusahaan Farmasi
Perencanaan di perusahaan farmasi dimulai dengan memastikan semua bahan baku obat tersedia sesuai resep dan standar regulasi yang ditetapkan. Perusahaan juga harus menghitung jumlah obat yang harus diproduksi berdasarkan permintaan pasar dan kebutuhan rumah sakit atau apotek.
Selain itu, perusahaan perlu memastikan kapasitas produksi yang memadai untuk memenuhi permintaan tanpa menambah stok yang berlebihan. Jadwal produksi juga harus mencakup proses pengujian kualitas dan pengiriman ke distributor atau rumah sakit.
Perencanaan produksi farmasi wajib mengintegrasikan Quality Control (QC) di setiap batch. Misalnya, untuk produksi vaksin, perencanaan harus mengalokasikan waktu dan sumber daya yang cukup untuk proses pengujian sterilitas yang memakan waktu 14 hari. Kegagalan perencanaan di sini tidak hanya menyebabkan keterlambatan pengiriman ke rumah sakit, tetapi juga melanggar kepatuhan regulasi BPOM yang bisa berujung pada penarikan produk (recall) dan denda besar.
Tingkatkan Efisiensi Perencanaan Produksi dengan Manufacturing ERP ScaleOcean
Untuk mengoptimalkan perencanaan produksi di industri manufaktur, ScaleOcean menawarkan All-in-One Solution dengan modul produksi lengkap, mulai dari Work Order, Bill of Materials (BOM), hingga proses Assembly/Disassembly, yang terintegrasi untuk memudahkan pengelolaan produksi melalui satu platform terpusat.
Dengan keunggulan Production Scheduling and Optimization, Software Manufaktur ScaleOcean juga memungkinkan penjadwalan produksi lebih efisien berdasarkan kapasitas mesin dan ketersediaan bahan baku. Tidak hanya itu, keunggulan lain yang membedakan ScaleOcean adalah Integration with Industrial IoT Sensors, yang dapat mengoptimasi proses kerja secara langsung dengan menghubungkan sistem ERP dengan sensor IoT.
Untuk memberikan pengalaman langsung kepada pengguna, ScaleOcean menawarkan konsultasi dan uji coba gratis, yang memungkinkan Anda mengeksplorasi fitur-fitur tersebut dan memahami bagaimana software ini dapat mengoptimalkan proses bisnis manufaktur Anda.
- Order Management dan Production Monitoring: Mengelola pesanan dan memantau status produksi secara real-time untuk memastikan efisiensi dan ketepatan waktu.
- BOM (Bill of Materials) Management: Menyusun dan mengelola daftar bahan baku yang diperlukan dalam produksi secara sistematis dan akurat.
- Cost Management and Tracking: Memantau dan mengelola biaya produksi secara rinci untuk memastikan pengendalian anggaran yang lebih baik.
- Quality Control and Compliance: Menjamin setiap produk memenuhi standar kualitas dan mematuhi regulasi industri yang berlaku.
- Data Analytics and Reporting: Menganalisis data operasional dan menyediakan laporan yang mendukung pengambilan keputusan strategis yang lebih tepat.
Kesimpulan
Perencanaan produksi di industri manufaktur merupakan fondasi penting dalam menjaga kelancaran operasional bisnis. Dengan perencanaan yang tepat, perusahaan dapat mengoptimalkan penggunaan bahan baku, tenaga kerja, dan waktu produksi. Hal ini berdampak langsung pada peningkatan produktivitas, pengendalian biaya, serta minimnya risiko waktu henti yang berpotensi menimbulkan kerugian.
Untuk mengotomatiskan dan mengoptimalkan perencanaan produksi, gunakan Software manufaktur ScaleOcean. Dengan fitur canggih seperti perencanaan kebutuhan bahan baku dan pemantauan real-time, ScaleOcean membantu perusahaan manufaktur mencapai efisiensi maksimal dan memastikan ketepatan waktu pengiriman. Dapatkan demo gratis untuk merasakan manfaat dan efisiensinya.
FAQ:
1. 5 Langkah perencanaan produksi?
1. Perencanaan (Planning): Menetapkan tujuan dan strategi produksi.
2. Routing: Menentukan alur kerja produksi.
3. Penjadwalan (Scheduling): Menyusun jadwal produksi yang efisien.
4. Dispatching: Memberikan instruksi untuk memulai produksi.
5. Evaluasi: Menilai hasil produksi untuk perbaikan.
2. Apa tiga jenis keputusan yang harus dibuat dalam perencanaan produksi?
Dalam perencanaan produksi, terdapat empat keputusan penting: pemilihan proses produksi, lokasi fasilitas, tata letak fasilitas, dan perencanaan sumber daya.
3. Mengapa perencanaan produksi harus berdasarkan pada analisa kebutuhan pasar?
Perencanaan produksi harus didasarkan pada analisis kebutuhan pasar untuk memastikan perusahaan dapat memahami preferensi dan tren konsumen, serta memenuhi permintaan dengan tepat.





