Peluncuran produk baru tanpa tahap uji coba yang matang dapat berdampak buruk pada stabilitas finansial perusahaan. Hal ini memicu risiko pembengkakan anggaran akibat kegagalan fungsi, ketidaksesuaian desain dengan ekspektasi pasar, hingga pemborosan biaya produksi pada produk yang tidak laku. Efisiensi pengembangan produk Anda berisiko mengalami penurunan yang signifikan dan menghambat daya saing di industri.
Pembuatan prototipe produk yang efektif menjadi solusi krusial untuk mengatasi tantangan riset ini. Tahapan ini menjadi memastikan tim pengembang dapat mendeteksi kelemahan teknis dan melakukan perbaikan sebelum memasuki fase manufaktur masal. Ketepatan dalam fase ini akan memengaruhi struktur biaya pengembangan, keandalan produk di tangan konsumen, serta meminimalisir risiko kerugian modal perusahaan.
Memahami konsep prototipe produk dapat membantu bisnis Anda mengoptimalkan alur riset dan pengembangan (R&D), meminimalkan kesalahan desain yang mahal, dan menjaga konsistensi inovasi sesuai kebutuhan pasar. Artikel ini akan membahas apa itu prototipe produk, tujuannya, hingga jenis prototipe produk.
- Prototipe produk adalah model awal atau versi percobaan dari sebuah produk yang dibuat untuk menguji konsep, desain, fungsi, dan kegunaannya sebelum diproduksi secara massal.
- Tujuan pembuatan prototype mencakup evaluasi proses produksi, validasi ide desain dan konsep, uji coba fungsi produk, pengujian pasar, hingga untuk meminimalisir risiko produksi.
- Cara membuat prototype produk dimulai dari identifikasi konsep, riset dan pengembangan, buat desain awal produk, kembangkan desain fungsional, hingga mulai buat prototype.
- Software manufaktur ScaleOcean optimalkan pengembangan prototipe produk melalui manajemen siklus hidup produk, pelacakan revisi desain, dan dokumentasi hasil pengujian dalam satu platform.
1. Apa Itu Prototype Produk?
Prototipe produk adalah model awal atau versi percobaan dari sebuah produk yang dibuat untuk menguji konsep, desain, fungsi, dan kegunaannya sebelum diproduksi secara massal. Model ini bisa berupa bentuk fisik atau digital yang dibuat untuk membantu tim pengembang memahami cara kerja produk, mengidentifikasi kekurangan, serta menyesuaikan produk dengan kebutuhan pengguna.
Prototype juga bisa disebut dengan purwarupa. Dengan adanya prototipe, perbaikan dapat dilakukan lebih awal, menghindarkan perusahaan dari pembengkakan biaya akibat perubahan desain di tahap lanjut dan mempercepat waktu peluncuran produk ke pasar.
Pembuatan prototipe seringkali memanfaatkan berbagai teknik, seperti pencetakan 3D (terutama untuk casing atau komponen struktural), pemodelan CNC (untuk material keras yang butuh presisi tinggi), atau metode fabrikasi manual lainnya.
2. Tujuan Pembuatan Prototype Produk
Tujuan dari pembuatan prototype produk, mencakup beberapa hal yaitu evaluasi tahapan produksi, validasi ide desain dan konsep, uji coba fungsi produk, pengujian pasar dan feedback user, hingga untuk meminimalisir risiko produksi. Berikut adalah penjelasan dari beberapa tujuan pembuatan prototipe produk:
a. Evaluasi Proses Produksi
Prototipe diperlukan untuk mengevaluasi proses produksi. Hal ini termasuk alat, bahan, dan teknik produksi mana yang paling efektif, serta mengidentifikasi peluang tantangan yang ada pada proses produksi. Dengan mengetahuinya lebih dini, perusahaan bisa merencanakan produksi massal yang lebih efisien sekaligus mengoptimalkan biaya produksi.
b. Validasi Ide Desain dan Konsep
Melalui prototipe, perusahaan menguji ide awal dan memastikan bahwa produk yang dikembangkan memenuhi kebutuhan serta harapan pengguna. Anda juga bisa memastikan desain produk telah memenuhi semua persyaratan dan ekspektasi yang ditetapkan sebelumnya.
Termasuk validasi visual produk dan juga fitur-fitur utama yang akan digunakan. Hal ini harus dilakukan agar nantinya ketika barang produksi sudah dipasarkan, pasti diterima dengan baik oleh pelanggan. Sebab dalam proses validasi desain dan konsep, secara iterasi akan dilakukan pengubahan dan peningkatan sampai sudah siap untuk diproduksi.
c. Uji Coba Fungsi Produk
Contoh prototype produk juga dibuat untuk menguji apakah produk bekerja sesuai dengan rencana atau tidak. Proses uji coba ini harus menyeluruh untuk semua fitur operasional, sehingga dapat dipastikan produk berfungsi dengan baik dalam jangka panjang. Dengan adanya uji coba, perusahaan manufaktur bisa mengurangi risiko masalah produksi dan memperbaiki masalah teknis sebelum produk diproduksi massal.
d. Pengujian Pasar dan Feedback User
Selanjutnya, apa tujuan dibuatnya prototype produk adalah untuk uji pasar dan mendapatkan feedback user. Feedback ini nantinya digunakan untuk melakukan penyesuaian terhadap produk sebelum diluncurkan, sehingga meningkatkan peluang suksesnya di pasar.
Termasuk persepsi mereka terhadap desain, fungsi, dan apakah produk telah memenuhi kebutuhan mereka. Dengan menunjukkan prototype kepada sampel user, perusahaan manufaktur dapat mengumpulkan feedback tentang kualitas produk.
e. Meminimalisir Risiko Produksi
Dengan mengidentifikasi dan mengatasi masalah produk mulai dari desain, fungsional, dan produksi sejak dini, perusahaan dapat menghindari biaya produksi berlebih dan adanya penundaan yang dapat terjadi jika masalah tersebut baru ditemukan setelah produksi massal dimulai. Oleh karena itu, prototype sangat membantu dalam strategi manajemen produksi.
3. Manfaat Membuat Prototype Produk di Manufaktur

Berikut adalah penjelasan lebih detail terkait manfaat utama prototipe produk:
a. Membantu Validasi Desain dan Fungsionalitas Produk
Dengan memiliki prototype, perusahaan manufaktur dapat melakukan serangkaian uji coba untuk memastikan produk berfungsi sesuai dengan spesifikasi yang diharapkan. Jadi, ketika ada masalah punp erusahaan bisa segera memperbaikinya sebelum masuk ke tahap produksi massal sehingga menghemat waktu dan sumber daya dalam pengembangan produk.
b. Memperoleh Feedback dari Pengguna dan Stakeholder
Prototype akan memberikan Anda feedback dari pengguna dan stakeholder tentang aspek desain, kegunaan, dan fitur-fitur produk. Umpan balik ini sangat diperlukan agar nantinya produk akhir yang dipasarkan memenuhi kebutuhan konsumen. Dalam beberapa sektor, bahkan prototipe diperlukan untuk mendapatkan investasi atau persetujuan manajemen perusahaan.
c. Menghemat Biaya
Prototype akan memberikan manfaat perusahaan manufaktur dalam mengidentifikasi masalah sejak awal, sehingga perbaikan dapat dilakukan sebelum produksi massal dilakukan. Hal ini juga membuat perusahaan bisa menghindari biaya yang lebih besar akibat perbaikan dan pembatalan produksi di akhir produksi jika masalah tidak terindentifikasi lebih awal.
Prototipe memungkinkan perusahaan untuk mengidentifikasi dan mengganti komponen yang bermasalah dengan barang substitusi sebelum melangkah ke produksi massal. Hal ini menghindarkan biaya tambahan dan memastikan kualitas produk akhir.
d. Memudahkan Presentasi
Prototype dengan model fisik atau digital, ide dan konsep produk menjadi lebih mudah dipahami dan memudahkan perusahaan dalam mempresentasikan produk secara lebih konkret kepada stakeholders dan investor.
Hal ini membantu dalam memperoleh dukungan finansial atau persetujuan, karena investor dapat melihat langsung potensi produk. Selain itu, prototype memberi gambaran yang jelas mengenai fungsionalitas dan desain, sehingga memperkuat argumen dalam presentasi produk.
e. Meningkatkan Kualitas Produk
Perusahaan yang membuat prototype juga akan mendapatkan feedback langsung dari pengguna sehingga bisa meningkatkan kualitas produk. Hal ini membantu perusahaan dalam melakukan perbaikan dan penyempurnaan desain, fitur, dan fungsionalitas produk, serta memastikan produk akhir dapat sesuai dengan standar kualitas yang diinginkan seperti standar ISO 9001.
f. Meningkatkan Kepuasan Pelanggan
Adanya prototype juga membuat perusahaan dapat memastikan produk akhir lebih fungsional dan relevan dengan permintaan dan tren pasar. Hal ini akan meningkatkan kepuasan pelanggan, karena produk yang diterima telah disesuaikan dengan kebutuhan dan preferensi masing-masing pelanggan.
Contoh make to stock dapat dilihat dalam skenario ini, di mana perusahaan memproduksi barang berdasarkan prediksi permintaan pasar untuk memastikan ketersediaan produk yang cepat dan efisien.
4. Jenis-jenis Prototype Produk
Beberapa jenis prototype produk mencakup,em>low fidelity, high fidelity, pra-produksi, sekali pakai/throwaway. Berikut adalah penjelasan mengenai berbagai jenis prototipe dalam alur pengembangan produk manufaktur:
a. Prototipe Low-Fidelity
Prototipe low-fidelity adalah model awal yang dibuat dengan biaya rendah dan detail yang sangat minim untuk menguji konsep dasar produk. Fokus utamanya bukan pada rupa akhir, melainkan pada tata letak dan fungsionalitas mendasar sebelum perusahaan melakukan investasi besar dalam produksi skala penuh.
Dalam pembuatannya, pengembang sering menggunakan contoh bahan penolong seperti kertas, karton, atau plastik murah untuk merepresentasikan struktur fisik produk. Penggunaan bahan sederhana ini memungkinkan tim desain untuk melakukan iterasi dengan cepat tanpa takut kehilangan banyak biaya, sehingga ide-ide baru dapat dieksplorasi secara bebas sebelum masuk ke tahap desain teknis yang lebih rumit.
b. Prototipe High-Fidelity
Prototipe high-fidelity memiliki tampilan dan fungsi yang sangat mendekati produk akhir, lengkap dengan material dan mekanisme asli. Model ini digunakan untuk pengujian akhir sebelum peluncuran, guna memastikan bahwa semua fitur berfungsi sempurna dan estetika produk memenuhi ekspektasi pasar yang kompetitif.
Melalui prototipe ini, perusahaan dapat mengidentifikasi potensi defective product sejak dini sebelum cetakan masal dibuat. Dengan mendeteksi kesalahan teknis atau kelemahan struktural pada tahap ini, risiko penarikan produk dari pasar atau kerugian akibat barang cacat dapat diminimalisir secara signifikan, sehingga menjamin kualitas produk saat sampai di tangan konsumen.
c. Prototipe Pra-Produksi
Prototipe pra-produksi adalah versi yang dibuat menggunakan proses manufaktur yang sebenarnya namun dalam jumlah terbatas. Tahap ini bertujuan untuk memvalidasi apakah lini produksi yang telah dirancang mampu menghasilkan produk sesuai spesifikasi teknis dan efisiensi produksi yang diharapkan oleh perusahaan.
Aspek strategis dari prototipe ini adalah sebagai jembatan antara desain dan manufaktur masal. Selain untuk menguji daya tahan produk, tahap ini juga digunakan untuk melatih tenaga kerja dalam menangani mesin-mesin otomatis, sehingga saat transisi ke manufaktur skala besar dilakukan, seluruh sistem operasional sudah siap dan teruji kelancarannya.
d. Prototipe Sekali Pakai (Throwaway)
Prototipe sekali pakai atau throwaway adalah model yang dibuat hanya untuk menjawab pertanyaan spesifik atau menguji fitur tertentu, kemudian dibuang setelah mendapatkan data yang diperlukan. Jenis ini biasanya digunakan pada tahap riset awal untuk memvalidasi kebutuhan pengguna atau fungsionalitas teknis yang masih diragukan keberhasilannya.
Meskipun sifatnya sementara, prototipe ini membantu perusahaan menghindari pemborosan sumber daya pada fitur yang tidak diperlukan oleh konsumen. Dengan membuang konsep yang tidak efektif di fase awal, tim pengembang dapat memusatkan energi mereka pada elemen-elemen produk yang benar-benar memberikan nilai tambah bagi keberlangsungan industri ke depannya.
Baca juga: Sistem Manufaktur: Pengertian, Contoh, Fungsi, dan Fiturnya
5. Cara Membuat Prototype Produk
Beberapa tahapan yang dapat dilakukan untuk membuat prototipe produk, meliputi identifikasi konsep dan tujuan, lakukan riset dan pengembangan, buat desain awal produk, kembangkan desain agar fungsional, dan mulai membuat prototipe produk.
Berikut adalah penjelasan lebih detail terkait tahapan cara membuat prototipe produk:
a. Identifikasi Konsep dan Tujuan
Langkah pertama dalam cara membuat contoh prototype produk adalah identifikasi konsep dan tujuan. Pada tahap ini, cari tahu apa masalah yang ingin diselesaikan oleh produk, kebutuhan dari target pengguna, dan tujuan utama dari pengembangan produk.
Melalui diskusi antar tim, brainstorming, dan mungkin juga konsultasi dengan stakeholder atau calon pengguna akan sangat membantu Anda mendapatkan jawaban yang lebih jelas dan detail. Dengan memahami secara menyeluruh konsep dan tujuan dari produk, Anda dapat fokus menciptakan solusi yang efektif dan efisien.
b. Lakukan Riset dan Pengembangan
Berikutnya adalah melakukan riset dan pengembangan. Pada tahap ini, Anda perlu melakukan analisa pangsa pasar, teknologi terkini, bahan, serta metodologi pembuatan yang paling efektif guna menekan biaya produksi tanpa mengurangi standar kualitas. Riset pasar akan membantu Anda mengidentifikasi persaingan, preferensi pengguna, dan potensi hambatan yang ada di pasar
Sementara riset diperlukan agar Anda punya banyak kemungkinan solusi yang nantinya menjadi produk yang ditawarkan. Contoh produk jadi yang sukses umumnya melalui proses ini dengan berbagai iterasi untuk memastikan produk memenuhi kebutuhan pasar dan memenuhi standar kualitas yang diinginkan.
c. Buat Desain Awal Produk
Cara membuat prototype produk berikutnya adalah mulai membuat desain awal produk. Dengan menggunakan alat desain seperti CAD, perusahaan manufaktur dapat mulai menggambarkan produk secara visual, termasuk bentuk, ukuran, dan fitur utama.
Desain awal produk merupakan langkah penting dalam menciptakan prototype. Proses ini melibatkan kolaborasi berbagai departemen untuk memastikan produk memenuhi semua aspek teknis dan pasar. Perbedaan barang dan jasa terlihat jelas di sini, karena barang fisik membutuhkan desain yang tepat dan pengujian kualitas yang terukur,
d. Kembangkan Desain agar Fungsional
Selanjutnya pada tahap ini, Anda harus mengoptimalkan desain awal dengan merinci lebih spesifik fungsi produksi. Tahapannya bisa dimulai dengan pemilihan bahan, menentukan metode produksi, dan membuat keputusan teknis tentang komponen internal produk. Ingat bahwa pertimbangan utamanya adalah bagaimana membuat produk bekerja seperti yang diinginkan tapi dengan efisiensi produksi yang maksimal.
e. Mulai Membuat Prototype Produk
Teknik pembuatan prototipe bisa bervariasi, mulai dari pencetakan 3D, pembuatan model dengan tangan, hingga penggunaan proses manufaktur skala kecil. Prototype ini digunakan untuk pengujian fungsional, evaluasi desain, dan bahkan digunakan sebagai bahan presentasi kepada stakeholder.
Cara membuat prototype produk terkadang dilakukan beberapa kali, dengan setiap iterasi ditujukan untuk memperbaiki kesalahan dan meningkatkan desain produk, sampai akhirnya siap untuk produksi massal.
Implementasi software manufaktur ScaleOcean dapat optimalkan pembuatan prototipe produk Anda. Melalui fitur product lifecycle management ScaleOcean mengorganisir setiap iterasi desain secara sistematis. Sementara, fitur bill of materials (BOM) untuk memantau kebutuhan komponen serta biaya prototipe secara akurat.
6. Contoh Prototype Produk yang Sering Digunakan
Contoh media prototipe produk yang sering digunakan meliputi sketsa dan diagram kertas, model 3D, wireframe aplikasi digital, hingga model fisik seperti prototipe pakaian atau makanan. Berikut adalah penjelasan untuk beberapa contoh prototype produk yang sering digunakan:
a. Sketsa
Prototype bentuk sketsa biasanya digunakan sebagai awal rancangan produk, atau representasi kasar untuk membantu tim pengembangan produk menggambarkan ide dan konsep produk dengan cepat. Sketsa ini akan membentuk elemen penting dalam desain produk seperti bentuk, ukuran, dan fungsi yang membuat pengembangan produk lebih detail dan presisi.
b. Model 3D
Prototype model 3D dapat memberikan visualisasi produk lebih nyata sebelum produksi dimulai, sehingga perusahaan bisa melihat bagaimana bentuk asli produk dari berbagai sudut. Hal ini membantu perusahaan memeriksa masalah desain yang mungkin tidak terlihat pada sketsa atau prototype fisik awal.
c. Simulasi Aplikasi
Contoh prototype produk berikutnya adalah simulasi aplikasi yang berbentuk digital. Hal ini dibuat untuk menguji bagaimana pengguna akan berinteraksi dengan aplikasi atau software.
Contoh ini akan membantu perusahaan dalam mengembangkan produk yang memiliki elemen digital seperti aplikasi mobile, teknologi IoT, atau integrasi dengan software manufaktur terbaik untuk memantau performa mesin secara otomatis di lantai produksi
d. Prototype Kertas
Berikutnya ada contoh prototype produk kertas yang biasanya digunakan dalam pengembangan aplikasi atau website untuk menguji desain dan tata letak. Prototype ini dibuat dengan layout kerja dan alat gambar untuk memberikan visual elemen user interface.
e. Prototype Kendaraan
Contoh prototype produk satu ini dibuat untuk menguji desain, keamanan, dan efisiensi bahan bakar sebelum dilakukan produksi massal. Sebagai contoh, Anda sebagai produsen mobil mengembangkan prototipe model baru yang menampilkan teknologi hibrida atau listrik canggih. Prototipe ini tidak hanya diuji dalam laboratorium untuk memastikan kinerjanya, tapi juga diuji oleh sampel user.
f. Prototype Perangkat Elektronik
Contoh produk prototype berikutnya yaitu pengembangan gadget, seperti smartphone, tablet, dan laptop. Biasanya dimanfaatkan untuk menguji fitur baru, user interface, dan durabilitas produk.
Sebagai contoh, prototipe smartphone lebih fokus pada uji ketahanan baterai, layar yang lebih responsif, atau bahkan uji waterproof. Dengan dilakukannya evaluasi tersebut, dapat dipastikan perangkat elektronik memenuhi standar industri sebelum diluncurkan ke pasar, sehingga perusahaan dapat memitigasi masalah produksi yang bersifat sistemik serta mengurangi risiko kegagalan dan adanya feedback negatif dari pengguna
g. Prototype Mainan
Selanjutnya ada prototipe mainan yang digunakan untuk memastikan kalau mainan tersebut aman digunakan anak-anak. Biasanya uji yang dilakukan berupa tes apakah ada sudut tajam yang berbahaya, atau bahkan elemen desain yang tidak menarik bagi target pasar. Selain itu, prototype ini juga digunakan untuk mendemonstrasikan produk kepada pengecer dan pihak berkepentingan lainnya.
h. Prototype Pakaian
Contoh prototype produk berikutnya adalah jenis pakaian yang dianggap sebagai kesempatan desainer untuk bereksperimen dengan bahan, potongan, dan detail desain sebelum dilakukan proses produksi. Dengan prototipe ini, desainer bisa melakukan penyesuaian pada ukuran, bentuk, dan fungsionalitas.
i. Prototype Bahan Bangunan
Prototipe bahan bangunan sering kali dikembangkan untuk menguji kekuatan, durabilitas, dan kemampuan isolasi material baru. Misalnya, prototipe untuk jenis beton baru mungkin diuji ketahanannya terhadap cuaca ekstrem atau beban berat.
Langkah ini diperlukan tidak hanya untuk memastikan keamanan dan efektivitas bahan bangunan tetapi juga untuk mengevaluasi apakah produksi massal tetap menguntungkan dengan kontrol kualitas yang tetap terjaga.
7. Kesimpulan
Prototipe produk adalah model awal atau versi percobaan dari sebuah produk yang dibuat untuk menguji konsep, desain, fungsi, dan kegunaannya sebelum diproduksi secara massal. Alur pengembangan dalam industri modern mengintegrasikan elemen krusial seperti pengujian kegunaan, validasi teknis terhadap standar pasar, hingga identifikasi potensi kegagalan lebih dini untuk memastikan hasil akhir yang sempurna.
Software manufaktur ScaleOcean hadir sebagai solusi cerdas melalui sistem smart manufacturing yang mengintegrasikan seluruh tahapan pengembangan prototipe secara otomatis dan efisien. ScaleOcean membantu perusahaan manufaktur mengoptimalkan hal ini dengan fitur unggulan yang mendukung manajemen siklus hidup produk, pengawasan standar kualitas prototipe, dan pemantauan data pengujian secara real-time.
Memahami dan menerapkan solusi teknologi ini akan membantu bisnis Anda meminimalisir risiko kegagalan produk di pasar, mencegah pemborosan biaya riset yang tidak terukur, dan menekan kerugian akibat kesalahan desain di tahap awal. Jadwalkan demo gratis dan konsultasi dengan tim ahli kami untuk melihat secara langsung bagaimana sistem kami dapat mentransformasi efisiensi pengembangan prototipe Anda menjadi lebih baik!
FAQ:
1. Apa yang dimaksud dengan prototype produk?
Prototype adalah rancangan awal dari suatu produk atau desain yang dibuat untuk menguji dan mengevaluasi konsep sebelum diproduksi secara massal. Prototype ini bisa berubah model fisik atau digital untuk memudahkan pengembang melihat dan merasakan produk secara nyata sebelum mengambil keputusan.
2. Apa saja 3 contoh prototype secara umum?
Tiga contoh prototype secara umum adalah prototype visual untuk tampilan dasar, prototype interaktif untuk alur klik, dan prototype fungsional yang sudah memiliki fungsi utama, yang digunakan untuk menguji ide dari konsep kasar hingga versi yang mendekati produk akhir dalam berbagai industri seperti aplikasi, produk fisik, atau layanan.
3. 4 Langkah pembuatan prototype?
Empat tahap utama pembuatan prototipe umumnya melibatkan definisi & riset, desain & konsep awal, pengembangan prototipe, serta uji coba & evaluasi, yang kemudian berulang hingga produk akhir siap diproduksi. Proses ini berfokus pada pengumpulan ide, merancang, membangun model awal, lalu mengujinya untuk mendapatkan masukan dan melakukan perbaikan berkelanjutan.













































WhatsApp Tim Kami
Demo With Us
