Apa itu Rework dan Fungsinya dalam Manufaktur?

Posted on
Share artikel ini

Kesalahan dalam hasil akhir produksi dapat berdampak buruk pada kelancaran operasional perusahaan. Hal ini memicu pembengkakan anggaran akibat penggunaan sumber daya ganda, pemborosan waktu kerja, hingga risiko penumpukan barang cacat yang tidak layak jual. Selain itu, efisiensi penggunaan material dan reputasi standar kualitas produk Anda di mata pelanggan berisiko mengalami penurunan yang signifikan.

Tindakan rework yang terencana dengan baik menjadi solusi krusial untuk mengatasi tantangan kegagalan produksi ini. Tahapan ini memastikan produk yang tidak sesuai standar dapat dikoreksi kembali menjadi produk fungsional tanpa harus membuang seluruh material yang ada. Ketepatan dalam mengelola proses perbaikan ini memengaruhi struktur biaya operasional, minimalisir limbah produksi, serta stabilitas stok perusahaan.

Memahami konsep rework dapat membantu bisnis Anda mengoptimalkan alur pemulihan produk di pabrik, meminimalkan kerugian finansial akibat barang cacat, dan menjaga konsistensi mutu sebelum produk sampai ke tangan konsumen. Artikel ini akan membahas apa itu rework, perannya dalam efisiensi manufaktur, berbagai prosedur perbaikan yang efektif, hingga bagaimana cara meminimalkan frekuensi pengerjaan ulang.

starsKey Takeaways
  • Rework adalah aktivitas perbaikan yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan yang muncul pada proses produksi.
  • Dampak rework mulai dari biaya tambahan, penurunan produktivitas, kualitas produk menurun, kepuasan pelanggan berkurang, penggunaan sumber daya tidak efisien.
  • Penerapan software manufaktur seperti ScaleOcean dapat membantu mencegah terjadinya kegiatan perbaikan pada produksi.

Coba Demo Gratis!

requestDemo

1. Apa itu Rework dalam Industri Manufaktur?

Rework adalah pengerjaan ulang suatu aktivitas atau produk yang tidak memenuhi standar kualitas (cacat/gagal) setelah inspeksi, sehingga perlu diperbaiki, dibongkar, atau dirakit kembali agar sesuai spesifikasi. Istilah berikut juga sering ditemukan dalam industri lain seperti konstruksi.

Hal ini bukan merupakan pengulangan langkah dalam proses produksi yang sama, namun perbaikan akan proses yang sudah terjadi. Hal tersebut berarti rework cenderung merupakan segala kegiatan yang dirancang khusus untuk memperbaiki kesalahan yang terjadi, sedangkan reprocess termasuk pengerjaan ulang sebuah atau keseluruhan tahapan produksi.

Dikarenakan reprocess berpotensi memakan banyak waktu dan anggaran produksi, rework lebih sering digunakan. Hal tersebut penting terutama dalam produksi massal karena jumlah produksinya yang banyak, sehingga memungkinkan jumlah kesalahan yang lebih banyak dibandingkan dengan proses produksi biasa.

2. Perbedaan Rework, Reprocess, dan Repair

Perbedaan antara ketiga aspek penting dalam produksi manufaktur ini terdapat pada beberapa hal, yaitu tujuan utama, kesesuaian dengan spesifikasi, serta dampak terhadap biaya dan waktu.

Berikut adalah penjelasan mengenai masing-masing aspek perbedaan rework, reprocess, dan repair:

a. Tujuan Utama

Tujuan utama menjadi salah satu aspek signifikan yang membedakan ketiga hal ini. Berikut adalah penjelasan perbedaan tujuan antara rework, reprocess, dan repair:

  • Rework: Memperbaiki produk yang tidak sesuai agar bisa memenuhi standar spesifikasi asli yang ditetapkan seperti ISO 9001. Tujuannya adalah membuat barang cacat menjadi barang yang seperti baru dan sesuai dengan perintah kerja awal.
  • Reprocess: Mengacu pada pengulangan langkah-langkah produksi yang sudah dilewati karena hasil pada tahap tersebut belum mencapai parameter yang diinginkan. Biasanya terjadi pada industri kimia atau makanan di mana bahan mentah diolah kembali.
  • Repair: Memperbaiki produk yang cacat agar bisa berfungsi kembali, namun hasil akhirnya mungkin tidak memenuhi spesifikasi teknis asli secara 100%.

b. Kesesuaian dengan Spesifikasi

Setelah memahami tujuannya, aspek krusial berikutnya yang harus diperhatikan adalah sejauh mana hasil akhir dari ketiga tindakan ini mampu memenuhi ekspektasi desain dan standar kualitas yang telah dijanjikan kepada pelanggan. Berikut adalah penjelasan mengenai perbedaan kesesuaian dengan spesifikasi dari ketiga tindakan ini:

  • Rework: Produk akhir harus mutlak sesuai dengan blue print atau spesifikasi awal. Konsumen tidak akan menyadari bahwa produk tersebut pernah mengalami perbaikan karena kualitasnya identik dengan produk normal.
  • Reprocess: Mengikuti spesifikasi awal karena prosesnya hanya mengulang alur yang sudah ada agar zat atau material mencapai tingkat kematangan/kepadatan yang benar.
  • Repair: Sering kali terjadi penyimpangan spesifikasi. Produk tetap bisa digunakan, namun biasanya memerlukan persetujuan khusus (concession) dari pelanggan atau tim kualitas karena ada bagian yang mungkin sedikit berbeda dari standar katalog.

c. Dampak terhadap Biaya dan Waktu

Manajemen juga harus mempertimbangkan implikasi finansial dan efisiensi waktu karena setiap tindakan perbaikan tentu membawa beban tambahan pada struktur biaya operasional. Berikut adalah penjelasan perbedaan ketiganya bedasarkan dampak terhadap biaya dan waktu:

  • Rework: Memakan biaya tambahan yang signifikan karena memerlukan tenaga kerja manual dan waktu ekstra di luar jadwal produksi normal. Ini sering kali menjadi penyebab utama pembengkakan biaya operasional.
  • Reprocess: Memiliki dampak biaya yang lebih terukur karena biasanya sudah masuk dalam perhitungan efisiensi mesin, meskipun tetap menyebabkan pemborosan energi dan waktu siklus produksi.
  • Repair: Sering kali menjadi pilihan terakhir yang paling ekonomis dibanding membuang produk secara keseluruhan. Meskipun ada biaya perbaikan, nilai yang diselamatkan jauh lebih besar, walaupun harga jual produk hasil repair terkadang harus didiskon.

Berikut adalah tabel ringkasan perbedaan rework, reprocess, dan repair bedasarkan masing-masing aspek pembedanya:

Aspek Rework Reprocess Repair
Tujuan utama Memperbaiki produk agar memenuhi standar spesifikasi asli (seperti baru). Mengulang tahapan proses yang sama karena parameter kualitas belum tercapai. Memperbaiki fungsi produk agar bisa digunakan kembali meskipun tidak sempurna.
Kesesuaian spesifikasi Mutlak dan sesuai, hasil akhir identik dengan standar katalog tanpa penyimpangan. Sesuai, mengikuti jalur produksi baku untuk mencapai kemurnian/kematangan. Menyimpang, ada toleransi perbedaan dari spesifikasi asli namun fungsi tetap aman.
Dampak biaya & waktu Tinggi, memerlukan tambahan tenaga kerja manual dan waktu di luar jadwal rutin. Moderat, menambah waktu siklus produksi dan penggunaan energi mesin. Ekonomis, pilihan terakhir untuk menyelamatkan nilai barang daripada menjadi scrap.

3. Penyebab Terjadinya Rework dalam Produksi

Beberapa penyebab terjadinya rework dalam produksi mencakup beberapa hal, mulai dari kesalahan pada perencanaan produksi, pengabaian terhadap manajemen risiko, kurangnya pengawasan dan kendali kualitas, hingga keterbatasan teknologi dan sistem informasi.

Berikut adalah penjelasan dari beberapa penyebab terjadinya rework dalam produksi manufaktur:

a. Kesalahan pada Perencanaan Produksi

Ketidakakuratan dalam menyusun jadwal dan kebutuhan sumber daya sering kali menjadi pemicu utama barang harus dikerjakan ulang. Ketika production planning tidak mempertimbangkan kapasitas mesin atau ketersediaan bahan baku dengan tepat, tim di lapangan cenderung terburu-buru untuk mengejar target, yang pada akhirnya mengorbankan ketelitian dan menyebabkan produk cacat.

Selain itu, perencanaan yang lemah biasanya tidak menyertakan instruksi kerja yang jelas bagi operator. Tanpa panduan yang sinkron dengan jadwal, risiko terjadinya salah persepsi terhadap spesifikasi produk menjadi sangat tinggi, sehingga hasil akhir tidak memenuhi standar kualitas dan memerlukan perbaikan ekstra.

b. Pengabaian Terhadap Manajemen Risiko

Penyebab lainnya adalah kurangnya analisis terhadap potensi kegagalan di setiap tahapan proses sebelum produksi dimulai. Perusahaan yang tidak menerapkan metode FMEA sering kali melewatkan titik-titik kritis yang rentan terhadap kesalahan teknis maupun operasional, sehingga masalah baru terdeteksi saat produk sudah jadi.

Dengan mengidentifikasi kemungkinan kegagalan lebih awal melalui analisis risiko tersebut, perusahaan sebenarnya dapat mencegah biaya perbaikan yang besar. Tanpa langkah preventif ini, tim produksi hanya akan bertindak reaktif terhadap kerusakan, yang justru memperpanjang waktu tunggu dan mengganggu efisiensi alur kerja secara keseluruhan.

c. Kurangnya Pengawasan dan Kendali Kualitas

Lemahnya pengawasan di lini produksi menyebabkan penyimpangan kecil berkembang menjadi kerusakan serius yang memerlukan pengerjaan ulang. Hal ini berkaitan erat dengan biaya kualitas, di mana kegagalan internal seperti rework sebenarnya menelan biaya jauh lebih besar daripada biaya pencegahan atau inspeksi rutin yang dilakukan secara disiplin.

Jika perusahaan tidak memiliki sistem pemantauan yang ketat, kesalahan pada komponen awal akan terus terbawa hingga ke tahap akhir. Akibatnya, alokasi anggaran yang seharusnya bisa digunakan untuk inovasi justru habis terpakai hanya untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang repetitif dan tidak terdeteksi sejak dini.

d. Keterbatasan Teknologi dan Sistem Informasi

Banyak proses rework terjadi karena penggunaan sistem manual yang rentan terhadap human error dalam pertukaran data. Tanpa dukungan perangkat lunak produksi terbaik seperti ScaleOcean, sinkronisasi antara dokumen order produksi dan eksekusi di lapangan sering terputus, sehingga operator bekerja menggunakan referensi data yang sudah kedaluwarsa atau tidak akurat.

Teknologi modern memungkinkan pemantauan setiap parameter produksi secara real-time dan otomatis. Dengan sistem yang terintegrasi, setiap potensi kesalahan dapat langsung dihentikan sebelum menjadi produk cacat, sehingga menjamin efisiensi manufaktur tetap terjaga dan angka pengerjaan ulang dapat ditekan hingga titik minimum.

4. Dampak Rework dalam Industri Manufaktur

Dampak Rework dalam Industri Manufaktur

Beberapa dampak dari adanya kegiatan rework mencakup beberapa hal, yaitu biaya tambahan, penurunan produktivitas, kualitas produk menurun, hingga kurangnya kepuasan pelanggan.

Berikut adalah penjelasan dari dampak yang dihasilkan dari kegiatan rework:

  • Biaya tambahan: Perusahaan kemungkinan perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk melakukan perbaikan, seperti biaya pengadaan bahan baku baru, perawatan mesin dan lain sebagainya.
  • Penurunan produktivitas: Proses rework memperlambat aliran produksi karena waktu yang digunakan untuk memperbaiki produk yang cacat mengganggu kelancaran jalur produksi utama.
  • Kualitas produk yang menurun: Ada kemungkinan bahwa kualitas produk yang dihasilkan setelah proses tersebut masih belum memenuhi standar karena dilakukan secara mendadak.
  • Kepuasan pelanggan berkurang: Ketidakmampuan untuk memenuhi kualitas dan tenggat waktu dalam sebuah perjanjian dapat menurunkan tingkat kepuasan dan kepercayaan pelanggan.
  • Penggunaan sumber daya yang tidak efisien: Ketika diperlukan perbaikan pada produk, hal tersebut berarti penggunaan sumber daya berlebih yang seharusnya tidak perlu digunakan.

5. Contoh Kasus Rework dalam Industri Manufaktur

Kasus rework dalam industri manufaktur sudah banyak terjadi di berbagai sub-industri, seperti otomotif, elektronik, hingga industri pakaian. Berikut adalah penjelasan contoh kasus rework dalam industri manufaktur:

a. Industri Otomotif

Di industri otomotif, proses perbaikan seringkali diperlukan ketika komponen mesin, seperti mesin kendaraan atau bagian lainnya, tidak memenuhi standar kualitas yang diinginkan. Contohnya, jika mesin yang dipasang pada mobil mengalami cacat selama proses pembuatan atau pengujian, mobil yang hampir selesai diproduksi tersebut akan diteruskan ke jalur rework untuk diperbaiki dengan bantuan sistem ERP otomotif.

b. Industri Elektronik

Rework dapat terjadi akibat kerusakan atau kegagalan pada komponen internal, seperti sirkuit atau kabel. Contohnya, dalam tahap perakitan televisi, jika terdapat kabel yang tidak terhubung dengan baik atau sirkuit yang tidak berfungsi, maka perangkat tersebut harus dibongkar untuk diperbaiki. Proses perbaikan ini mungkin melibatkan penggantian komponen yang rusak atau pengujian ulang sirkuit.

c. Industri Pakaian

Hal ini terjadi ketika produk yang sudah selesai, seperti pakaian jadi, mengalami kesalahan pada jahitan, ukuran yang tidak tepat, atau cacat lainnya. Sebagai contoh, jika sebuah jaket memiliki ukuran lengan yang terlalu panjang atau jahitan yang kurang rapi, maka pakaian tersebut harus diperbaiki terlebih dahulu sebelum siap dikirim ke toko atau pelanggan.

5. Cara Mencegah Terjadinya Rework

Cara mencegah terjadinya rework mencakup beberapa hal, mulai dari perencanaan produksi yang matang, kontrol kualitas yang tepat, pelatihan karyawan secara rutin, pemilihan material yang berkualitas, hingga penerapan teknologi.

Berikut adalah penjelasan dari masing-masing tahapan cara mencegah terjadinya rework:

a. Perencanaan Produksi yang Matang

Setelah mencapai sebuah persetujuan kontrak dengan pelanggan, sebuah rencana produksi bisa dilakukan. Segala tahapan yang terdapat dalam production planning perlu dirancang secara optimal untuk meminimalisir terjadinya kendala selama berlangsungnya perakitan produk. Contohnya, sebuah approved vendor list harus disusun terlebih dahulu untuk memastikan pasokan bahan baku berkualitas dari supplier yang handal.

b. Kontrol Kualitas yang Tepat

Kontrol kualitas merupakan sebuah aspek penting dalam proses produksi untuk menjamin hasil pengerjaan manufaktur yang sesuai dengan permintaan pelanggan. Pemantauan tidak dilakukan hanya pada barang jadi, tetapi juga segala barang yang terlibat seperti bahan baku dan komponen produk akhir yang diperlukan untuk menyelesaikan produksi.

c. Pelatihan Karyawan Secara Rutin

Pelatihan harus dilakukan secara rutin, terutama apabila terdapat anggota tenaga kerja baru, untuk memastikan bahwa karyawan karyawati dapat menjalankan prosedur dengan lancar. Perusahaan dapat melakukan audit kinerja secara periodik untuk mengetahui apakah diperlukannya pelatihan ulang atau tambahan.

d. Pemilihan Material yang Berkualitas

Seperti yang telah dinyatakan, perlu tersusunnya sebuah daftar pemasok yang dapat menjamin proses pengadaan bahan baku yang berkualitas. Bahan baku tersebut kemudian dapat diolah untuk memproduksi barang sesuai dengan keinginan pelanggan. Selain itu, dengan adanya pengetahuan tentang suppliersupplier yang handal, maka perusahaan dapat melakukan pengadaan ulang apabila terjadinya perbaikan.

e. Penerapan Teknologi

Apabila suatu bisnis ingin bersaing dalam era digital ini, mereka perlu mengikuti perkembangan teknologi dan mengimplementasikan teknologi terbaru untuk menjalankan tugasnya. Salah satu bentuk implementasi tersebut adalah penerapan perangkat lunak seperti software ERP manufaktur.

Manufaktur

7. Otomatiskan Penjadwalan Rework dengan Software Manufaktur ScaleOcean

Software manufaktur ScaleOcean dapat membantu mengoptimalkan penanganan tahapan rework dalam proses produksi bisnis manufaktur. Dengan integrasi yang mulus antara modul kontrol kualitas, perencanaan produksi, dan manajemen biaya, ScaleOcean memungkinkan perusahaan untuk mendeteksi kegagalan secara dini dan meningkatkan akurasi dalam setiap langkah perbaikan produk cacat.

Sistem ini secara otomatis memantau aliran pengerjaan ulang dan memastikan bahwa setiap sumber daya untuk perbaikan dialokasikan tanpa mengganggu jadwal produksi utama. Selain itu, ScaleOcean menyediakan pelaporan real-time mengenai tingkat kecacatan produk yang membantu manajer untuk melakukan analisis akar masalah (root cause analysis) guna mengurangi frekuensi rework di masa depan.

Kustomisasi yang fleksibel memungkinkan perusahaan menyesuaikan alur kerja perbaikan sesuai dengan kebutuhan spesifik, mulai dari kategori kerusakan hingga pemantauan standar kualitas hasil rework. Tidak hanya itu, ScaleOcean juga menyediakan layanan konsultasi dan demo gratis sehingga Anda dapat melihat bagaimana software manufaktur ini mendukung efisiensi biaya kualitas dan menjaga daya saing industri Anda.

Berikut fitur unggulan yang ditawarkan software manufaktur ScaleOcean untuk meminimalisir dan mengelola rework:

  • Integrasi industrial internet of things (IIOT): Menghubungkan mesin produksi untuk mendeteksi penyimpangan teknis secara instan sebelum produk menjadi cacat permanen.
  • Smart MRP (material requirement planning): Mengatur kebutuhan material tambahan untuk proses pengerjaan ulang tanpa mengganggu ketersediaan stok pesanan baru.
  • Detailed cost tracking: Melacak biaya tambahan akibat rework secara rinci, termasuk tenaga kerja ekstra dan bahan sisa, guna kontrol anggaran yang ketat.
  • BOM (bill of materials) management: Memastikan spesifikasi bahan untuk perbaikan tetap sesuai dengan standar original produk agar kualitas akhir tetap terjaga.
  • Automated stock replenishment: Menjamin ketersediaan komponen pengganti secara otomatis saat terjadi kerusakan masal di lini produksi.
  • Automated production scheduling: Mengatur ulang jadwal produksi secara dinamis untuk menyisipkan waktu pengerjaan ulang tanpa memicu keterlambatan pengiriman.
  • Quality control automation: Mengotomatiskan inspeksi ketat pada produk hasil rework untuk memastikan barang tersebut telah memenuhi standar kelayakan jual.

8. Kesimpulan

Rework adalah pengerjaan ulang suatu aktivitas atau produk yang tidak memenuhi standar kualitas (cacat/gagal) setelah inspeksi, sehingga perlu diperbaiki, dibongkar, atau dirakit kembali agar sesuai spesifikasi. Operasi produksi modern mengintegrasikan manajemen perbaikan yang efektif, pengawasan mutu yang ketat, hingga evaluasi kerugian finansial akibat barang cacat demi menjaga kelancaran bisnis.

Software manufaktur ScaleOcean hadir sebagai solusi cerdas melalui sistem smart manufacturing yang mengotomatiskan identifikasi dan pemulihan produk gagal secara efisien. Dengan fitur unggulan yang mendukung transparansi data pengerjaan ulang dan pengawasan kinerja secara real-time, ScaleOcean membantu perusahaan manufaktur menekan angka kegagalan hingga titik terendah.

Memahami dan menerapkan solusi teknologi ini akan membantu bisnis Anda meminimalisir kerugian akibat kesalahan manusia, mencegah pemborosan bahan baku, dan menekan biaya operasional yang tidak perlu. Jadwalkan demo gratis dan konsultasi dengan tim ahli kami untuk melihat secara langsung bagaimana sistem kami dapat mentransformasi efisiensi produksi Anda menjadi lebih baik!

FAQ:

1. Apa yang dimaksud dengan rework?

Rework adalah pengerjaan ulang suatu aktivitas atau produk yang tidak memenuhi standar kualitas (cacat/gagal) setelah inspeksi, sehingga perlu diperbaiki, dibongkar, atau dirakit kembali agar sesuai spesifikasi. Ini merupakan inefisiensi yang sering menyebabkan biaya tambahan, keterlambatan, dan penurunan produktivitas dalam konstruksi maupun manufaktur.

2. Apa dampak negatif jika frekuensi rework terlalu tinggi?

Tingginya angka rework dapat merugikan perusahaan dalam bentuk, pembengkakan biaya, penurunan produktivitas, risiko reputasi, hingga pemborosan waktu.

3. Mengapa rework penting dalam industri manufaktur?

Rework menjadi penting untuk memperbaiki produk atau pekerjaan yang tidak sesuai standar, memastikan produk akhir memenuhi spesifikasi teknis, serta menghindari pembuangan material secara total. Ini krusial untuk menjaga reputasi, meminimalkan kerugian finansial, dan meningkatkan kepuasan pelanggan.

 

Bestoto Ferninand
Bestoto Ferninand
Bestoto Ferninand adalah seorang professional dengan pengalaman 1 tahun sebagai content writer yang berpengalaman dalam menulis artikel seputar permasalahan dan solusi industri.

Jadwalkan Demo Gratis

Error message
Error message
Error message
Error message
Error message
Error message

Rekomendasi Artikel Terkait

Temukan Artikel Serupa untuk Solusi Bisnis Lebih Lengkap