Kenali Apa itu Dead Stock dan Bagaimana Cara Mengelolanya

ScaleOcean Team
Posted on
Share artikel ini

Dead stock seringkali muncul akibat perencanaan persediaan yang kurang akurat, perubahan tren pasar, atau prediksi permintaan yang meleset. Tanpa penanganan yang tepat, barang-barang yang tidak terjual ini akan terus membebani gudang, meningkatkan biaya penyimpanan, dan mengurangi efisiensi operasional.

Akibatnya, arus kas bisa terhambat, yang berdampak pada keuangan perusahaan secara keseluruhan. Jika tidak dikelola dengan baik, dead stock juga bisa mengurangi kemampuan perusahaan untuk berinvestasi pada barang yang lebih laris dan menguntungkan.

Untuk itu, penting untuk segera mengatasi masalah dead stock dengan strategi yang tepat, seperti perencanaan persediaan yang lebih akurat dan penerapan sistem manajemen stok yang efisien. Artikel ini akan membahas penyebab, dampak, serta solusi efektif untuk mengelola dan mengurangi dead stock di gudang.

starsKey Takeaways
  • Dead stock adalah produk yang tidak terjual dalam waktu lama, menumpuk di gudang, menghabiskan ruang, dan meningkatkan biaya operasional perusahaan.
  • Stok mati dapat menyebabkan kerugian finansial, menghambat pertumbuhan bisnis, mengurangi ruang gudang yang tersedia, dan berdampak negatif pada reputasi perusahaan.
  • Menghindari dead stock dapat dilakukan dengan memonitor pergerakan barang, memastikan ketersediaan stok di semua kanal, menjalankan promosi, dan menggunakan software inventory.
  • Software inventory ScaleOcean mencegah dead stock dengan memantau pergerakan barang real-time, menganalisis permintaan, dan merencanakan persediaan secara efisien.

Coba Demo Gratis!

requestDemo

1. Apa itu Dead Stock?

Dead stock adalah barang yang tidak terjual dalam waktu lama, usang, atau tidak lagi diminati pasar, sehingga menumpuk di gudang dan menambah biaya perusahaan, seperti makanan kedaluwarsa, produk musiman, atau model lama yang sudah tidak relevan.

Selain itu, dead stock tidak hanya mengurangi ruang penyimpanan, tetapi juga menurunkan efisiensi manajemen persediaan. Oleh karena itu, perusahaan perlu memperhatikan pola pembelian dan distribusi barang. Obsolete inventory adalah indikator kegagalan dalam strategi procurement dan inventory control yang harus segera dibenahi.

Untuk meminimalisasi dead stock, bisnis biasanya menerapkan analisis permintaan yang lebih akurat, diskon penjualan, atau bundling produk. Strategi tersebut membantu mempercepat perputaran barang yang menumpuk. Pada akhirnya, manajemen stok yang terkontrol mampu menjaga kesehatan keuangan perusahaan secara konsisten.

2. Penyebab Dead Stock

Penyebab Dead Stock

Faktor penyebab dead stock meliputi kesalahan dalam prediksi permintaan, persediaan berlebih, perubahan tren pasar, produk rusak atau kedaluwarsa, kualitas yang rendah, serta lemahnya pengelolaan inventaris, terutama MRO inventory. Faktor lainnya yang dapat menyebabkan dead stock termasuk promosi yang tidak efektif, produk yang sudah kedaluwarsa atau rusak, serta terlalu banyaknya variasi produk.

Hal ini membuat barang menumpuk di gudang, sulit terjual, dan kehilangan potensi pasar. Untuk lebih detail, berikut adalah penyebab terjadinya dead stock:

a. Kesalahan Perencanaan dan Prediksi Permintaan

Perusahaan sering kali mengalami kesalahan dalam perkiraan permintaan, baik terlalu optimis atau tidak mempertimbangkan data historis yang ada. Akibatnya, terjadi pembelian berlebihan yang tidak didasarkan pada analisis data dan tren pasar yang akurat.

Praktik pembelian yang tidak konsisten, seperti membeli di waktu yang salah atau dalam jumlah besar sekaligus, juga memperburuk situasi ini, menyebabkan stok menumpuk dan biaya operasional meningkat. Oleh karena itu, pemantauan stock level secara berkala sangat penting untuk menjaga keseimbangan persediaan.

b. Produk Usang atau Kedaluwarsa

Beberapa produk kehilangan nilai karena melewati masa berlaku, misalnya makanan, obat-obatan, atau barang musiman. Hal ini membuatnya tidak layak dipasarkan kembali. Untuk mengantisipasi, manajemen inventaris harus disiplin memantau siklus hidup barang dan memperhatikan tanggal kedaluwarsa.

Sebagai tambahan, perusahaan juga perlu menetapkan langkah penanganan barang expired agar risiko kerugian bisa ditekan. Misalnya, dengan pemusnahan sesuai regulasi atau mendistribusikannya untuk program sosial, sehingga stok yang tidak layak jual tetap dikelola secara bertanggung jawab.

c. Model yang Tidak Lagi Relevan

Dead stok juga bisa menyebabkan produk bisa kehilangan daya tarik ketika tidak sesuai dengan tren terbaru atau selera konsumen. Contohnya, pakaian musim dingin menjadi tidak relevan setelah musim berakhir. Oleh sebab itu, penyesuaian stok berdasarkan pola konsumsi dan tren pasar menjadi langkah strategis bagi perusahaan.

d. Penumpukan Stok Berlebih

Persediaan barang berlebih sering muncul karena produksi melebihi kebutuhan aktual pasar. Tanpa perencanaan permintaan yang akurat, gudang dipenuhi barang yang sulit terjual. Oleh karena itu, manajemen rantai pasok perlu menyeimbangkan kapasitas produksi dengan permintaan konsumen.

e. Barang Rusak atau Cacat

Produk yang mengalami kerusakan fisik tidak dapat dipasarkan dan akhirnya menumpuk di gudang. Masalah ini biasanya terjadi karena kesalahan dalam penyimpanan, pengiriman, atau proses produksi. Maka dari itu, penerapan standar kualitas yang ketat sangat diperlukan untuk meminimalkan kerugian.

Selain itu, perusahaan juga perlu menerapkan pengelolaan inventory control untuk memastikan setiap tahap distribusi berjalan lebih terpantau. Dengan pengawasan ini, potensi kerusakan dapat ditekan, sementara proses penyimpanan hingga pengiriman berlangsung lebih efisien dan sesuai standar yang ditetapkan.

f. Penurunan Minat Pembelian

Penurunan minat konsumen terhadap produk tertentu berdampak terhadap stok mati. Tren pasar yang berubah atau produk yang sudah tidak relevan menyebabkan barang-barang tersebut tidak laku. Oleh karena itu, lakukan evaluasi produk secara berkala agar inventaris barang dapat disesuaikan dengan tren dan kebutuhan pasar.

g. Manajemen Inventaris yang Kurang Efektif

Manajemen inventaris yang kurang optimal berpotensi besar menciptakan dead stock, terutama karena kurangnya sistem pemantauan stok yang efektif. Jumlah SKU (Stock Keeping Unit) yang terlalu banyak juga membuat pengelolaan inventaris menjadi lebih rumit, sementara kurangnya fleksibilitas dalam produksi menyulitkan penyesuaian dengan permintaan pasar.

Untuk mencegah hal ini, perusahaan dapat menggunakan software manajemen inventaris yang mempermudah proses audit dan pengelolaan stok, serta meningkatkan efisiensi operasional.

h. Rendahnya Kualitas Barang

Barang dengan kualitas yang buruk cenderung sulit terjual karena tidak memenuhi ekspektasi pelanggan. Produk cacat atau yang kurang memenuhi standar dapat menurunkan minat beli dan menyebabkan barang tersebut menumpuk di gudang.

Untuk memahami masalah ini, penting mengetahui arti inventory aging, yaitu analisis usia persediaan yang membantu perusahaan mengidentifikasi barang yang bergerak lambat atau menumpuk sehingga dapat segera diambil tindakan.

i. Manajemen Rantai Pasokan yang Buruk

Ketidakefisienan dalam rantai pasokan, seperti keterlambatan pengiriman atau koordinasi buruk antara pemasok dan perusahaan, dapat menyebabkan stok menumpuk secara tidak merata. Kurangnya sinkronisasi antara permintaan pasar dan pasokan mengakibatkan produk lama sulit terjual.

j. Penerapan Sistem WMS yang tidak Optimal

Penggunaan sistem warehouse management system (WMS) yang kurang efektif dapat menghambat pengelolaan stok yang akurat. Sistem yang tidak terintegrasi atau tidak diperbarui secara real-time berpotensi menyebabkan kesalahan data stok, sehingga produk tidak terpantau dengan baik dan akhirnya menumpuk sebagai stok mati.

Untuk mengatasi hal ini, ScaleOcean Inventory Software membantu Anda dalam mencegah dan mengatasi dead stock melalui pemantauan pergerakan barang secara real-time. Sistem ini memberikan visibilitas penuh terhadap stok yang ada, memudahkan analisis permintaan, serta mendukung perencanaan persediaan yang lebih efisien.

Dengan fitur seperti otomatisasi pemesanan ulang dan pengelolaan stok yang cerdas, ScaleOcean memastikan bahwa persediaan selalu dalam jumlah yang optimal, menghindari overstocking maupun kekurangan stok, dan mendukung kelancaran operasional perusahaan secara keseluruhan.

Warehouse

3. Dampak Dead Stock

Tidak hanya berdampak pada operasional, dead stock juga dapat menyebabkan berbagai dampak negatif, mulai dari kerugian finansial akibat terganggunya arus kas hingga berkurangnya ruang penyimpanan di inventaris. Hal ini dapat menghambat kelancaran operasional bisnis dan menimbulkan risiko-risiko yang merugikan perusahaan di masa depan seperti dampak-dampak berikut ini.

a. Kerugian Finansial

Stok mati dapat menyebabkan kerugian finansial yang signifikan karena modal yang tertanam pada barang yang tidak terjual tidak bisa segera dikembalikan. Selain itu, biaya penyimpanan dan perawatan stok juga akan meningkat. Jika dibiarkan, kerugian ini dapat membebani arus kas dan mengurangi profitabilitas perusahaan secara keseluruhan.

Salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan dalam mengelola risiko ini adalah stock out cost, yang membantu perusahaan mengukur dampak finansial dari kehabisan stok dan mengambil langkah preventif untuk menghindarinya.

b. Pertumbuhan Bisnis Terhambat

Lalu, dead stock juga menghambat pertumbuhan bisnis karena modal yang seharusnya bisa digunakan untuk investasi baru terbuang untuk menangani stok yang tidak bergerak. Hal ini membatasi peluang bisnis untuk mengembangkan produk atau layanan baru, menghambat inovasi, dan memperlambat ekspansi usaha.

c. Ruang Penyimpanan Berkurang

Setelah itu, ruang kosong pada gudang penyimpanan barang berkurang akibat adanya penumpukan barang yang tidak terjual. Dengan berkurangnya kapasitas gudang, bisnis akan menghadapi kendala logistik dalam menyimpan dan mengatur barang secara efisien. Hal ini dapat menambah biaya pengelolaan gudang dan memperlambat proses distribusi.

d. Menurunkan Efisiensi Operasional

Stok mati dapat menyebabkan penurunan efisiensi operasional karena barang yang menumpuk memakan ruang penyimpanan yang seharusnya bisa digunakan untuk produk yang bergerak lebih cepat. Selain itu, proses pencarian dan pengelolaan stok menjadi lebih rumit dan memakan waktu, sehingga menghambat kelancaran aktivitas gudang dan distribusi.

e. Mempengaruhi Reputasi Perusahaan

Terakhir, reputasi perusahaan akan mengalami penurunan sebab bisnis dinilai tidak mampu mengelola persediaan dengan baik. Hal ini berpotensi menurunkan kepercayaan konsumen dan mitra bisnis. Jika barang yang dijual sudah melewati masa tren atau terlihat kurang diminati, reputasi perusahaan bisa berdampak negatif.

4. Rumus dan Cara Menghitung Biaya Dead Stock

Rumus yang digunakan untuk menghitung biaya stok mati relatif simple, yakni hanya melakukan perkalian angka barang yang tidak terjual dengan cost per unit masing-masing produk tersebut. Perhatikanlah grafik berikut untuk mendapatkan gambaran lebih jelas:

Biaya Dead Stock = Jumlah Barang yang tidak Terjual x Cost Per Unit

Misalkan terdapat sebuah bisnis ecommerce yang gagal menjual 200 jumlah keripik kentang pada suatu periode, masing-masing dengan harga produksi Rp10 ribu, maka biaya dead stock-nya adalah:

Biaya Dead Stock = Jumlah Barang yang tidak Terjual x Cost Per Unit

Biaya Dead Stock = 200 x Rp10.000,00

Biaya Dead Stock = Rp2.000.000,00

Meskipun begitu, hal tersebut hanya mencakup biaya langsung, sedangkan terdapat lagi biaya-biaya lain yang perlu dipertimbangkan juga seperti carrying cost atau biaya penyimpanan. Rumusnya adalah sebagai berikut:

Biaya Penyimpanan Dead Stock = Biaya Dead Stock x Persentase Carrying Cost

Yang dimaksud dari persentase carrying cost di sini adalah persentase biaya penyimpanan yang dikeluarkan oleh perusahaan secara menyeluruh yang mencakup stok mati. Contohnya, bila persentase biaya penyimpanan perusahaan sebelumnya adalah 10%, maka carrying cost of dead stock konteks berikut adalah:

Biaya Penyimpanan Dead Stock = Biaya Dead Stock x Persentase Carrying Cost

Biaya Penyimpanan Dead Stock = Rp2.000.000,00 x 10%

Biaya Penyimpanan Dead Stock = Rp200.000,00

Tidak hanya itu, perusahaan dapat memanfaatkan Software inventory ScaleOcean untuk memantau data stok secara real-time dan akurat. Dengan pemantauan otomatis ini, perhitungan stok mati menjadi lebih cepat, sehingga keputusan terkait pengendalian biaya bisa diambil lebih efektif dan efisien.

5. Cara Mencegah dan Mengelola Dead Stock

deadstock adalah

Untuk mengatasi dead stock, perusahaan dapat melakukan promosi seperti memberikan diskon besar atau bundling dengan produk yang lebih laris. Selain itu, salah satu tips mengelola stok adalah dengan memantau perputaran barang secara rutin dan mengidentifikasi barang yang bergerak lambat. Berikut beberapa strategi efektif yang dapat diterapkan:

a. Analisa Tren Permintaan yang Akurat

Memahami dan menganalisis tren permintaan secara tepat memungkinkan perusahaan untuk menyesuaikan stok dengan kebutuhan pasar. Data historis, perilaku konsumen, dan faktor eksternal dianalisis untuk memprediksi produk mana yang akan laku dan kapan, sehingga stok yang disiapkan tidak berlebihan.

b. Menjalin Hubungan Erat dengan Pemasok

Kerja sama yang baik dengan pemasok memungkinkan perusahaan mendapatkan informasi yang cepat dan fleksibilitas dalam pengadaan barang. Dengan komunikasi yang lancar, penyesuaian pesanan bisa dilakukan sesuai kebutuhan aktual, mengurangi risiko stok berlebih yang tidak terpakai dan juga sebaliknya, yakni mencegah terjadinya out of stock.

c. Melakukan Uji Coba pada Produk Sebelum Diluncurkan

Melakukan test market atau uji coba produk baru sebelum peluncuran skala besar membantu mengukur respons pasar. Hasil uji coba ini menjadi dasar untuk menentukan volume produksi yang optimal, sehingga mengurangi kemungkinan produk gagal terjual dan menjadi stok mati.

d. Memastikan Kualitas Barang Sesuai

Menjaga kualitas produk sesuai standar yang diharapkan konsumen penting agar barang cepat laku. Produk berkualitas rendah atau cacat cenderung sulit terjual dan berpotensi menjadi stok mati, sehingga kontrol kualitas yang ketat harus diterapkan sejak awal.

Lean inventory membantu memastikan kualitas barang dengan meminimalkan pemborosan dan menghindari penumpukan stok yang tidak terjual. Dengan fokus pada kualitas dan pengelolaan persediaan yang efisien, perusahaan dapat mengurangi risiko dead stock dan memastikan produk yang tersedia selalu memenuhi harapan pelanggan.

e. Memonitor Setiap Pergerakan Barang

Mengawasi pergerakan barang secara menyeluruh dapat membantu mencegah penumpukan stok barang. Melalui pengawasan ketat, Anda bisa mengetahui produk yang kurang diminati sehingga stoknya dapat dikurangi terlebih dahulu. Data dari hasil pemantauan ini membantu memprediksi tren permintaan, yang memungkinkan perusahaan untuk merencanakan persediaan dengan lebih akurat dan menghindari overstocking.

f. Melakukan Survei Permintaan Pelanggan

Survei rutin terhadap pelanggan membantu mengumpulkan informasi kebutuhan dan keinginan mereka. Data ini menjadi acuan penting untuk menentukan stok barang yang sesuai dengan keinginan pasar dan menghindari penyimpanan barang yang tidak laku atau tidak diminati oleh konsumen.

g. Menawarkan Promosi dan Diskon

Strategi promosi dan diskon efektif untuk mempercepat perputaran stok barang yang bergerak lambat. Dengan cara ini, dead stock dapat berkurang tanpa harus menunggu permintaan dikarenakan adanya insentif bagi pelanggan untuk melakukan transaksi sebelum berakhirnya masa penawaran.

h. Menawarakan Bundling

Menggabungkan produk overstock dengan produk populer dalam paket bundling dapat meningkatkan daya tarik penjualan. Hal ini berarti perusahaan dapat menyatukan barang-barang kurang laku ke dalam sebuah paket penjualan dengan produk flagship, sehingga pendapatan meningkat dan barang tersebut tidak terlalu lama di gudang.

i. Melakukan Donasi atau Daur Ulang

Jika stok barang sudah tidak memungkinkan untuk dijual, alternatif seperti donasi ke lembaga sosial atau daur ulang menjadi solusi untuk mengurangi stok mati. Meskipun tidak berdampak pada angka pendapatan, adanya kegiatan-kegiatan tersebut dapat mengurangi biaya penyimpanan, serta juga meningkatkan gambaran perusahaan di kalangan masyarakat.

j. Menggunakan Software Inventory

Inventory software seperti ScaleOcean memudahkan pemantauan dan pengelolaan stok secara otomatis dengan fitur pemantauan stok real time dan analisis permintaan yang akurat. Dengan software inventory ScaleOcean, Anda dapat mengelola persediaan lebih efektif, mengetahui produk yang bergerak lambat, serta menyesuaikan stok dengan kebutuhan, sehingga risiko dead stock dan penumpukan di gudang dapat diminimalisir.

6. Kesimpulan

Dead stock adalah barang atau produk yang tidak terjual dan kemungkinan besar tidak akan terjual di masa depan. Barang-barang ini biasanya tersimpan di gudang atau rak toko dalam waktu yang lama tanpa permintaan dari pelanggan. Akibatnya, terjadi penumpukan barang yang membebani perusahaan dengan biaya tambahan, seperti produk kedaluwarsa, barang musiman yang tidak laku, atau model lama yang sudah tidak relevan.

Penerapan strategi seperti diskon, bundling, rotasi stok, buffer stock, serta optimalisasi tata letak gudang terbukti dapat membantu. Selain itu, penggunaan software inventory seperti ScaleOcean dapat menjadi solusi untuk mengurangi risiko dead stock melalui fitur perencanaan stok yang akurat.

ScaleOcean juga menghadirkan demo gratis software inventory yang dirancang untuk membantu bisnis Anda mengelola stok dengan lebih baik dan efisien. Solusi ini memungkinkan Anda mengoptimalkan manajemen stok sekaligus mendukung pertumbuhan bisnis Anda.

FAQ:

1. Apa yang dimaksud dengan dead stock?

Dead stock adalah barang yang tidak terjual atau tidak bergerak dalam waktu lama karena sudah usang, tidak lagi diminati, atau kedaluwarsa, sehingga menambah biaya operasional, mengikat modal, dan penggunaan ruang gudang perusahaan.

2. Penyebab Deadstock?

Dead stock disebabkan oleh perencanaan yang buruk, perubahan pasar, kesalahan pemasaran, kualitas produk rendah, manajemen stok lemah, atau kesalahan pemesanan, yang mengarah pada penumpukan barang yang tidak terjual dan membebani operasional serta keuangan perusahaan.

3. Perbedaan dead stock dan slow moving?

Perbedaan utama antara slow moving dan dead stock adalah, slow moving adalah barang dengan penjualan lambat namun masih memiliki potensi untuk terjual, misalnya melalui promosi. Sementara dead stock adalah barang yang sudah lama tidak terjual, dianggap usang, tidak relevan lagi, atau bahkan tidak mungkin terjual, seringkali akibat perubahan tren, kadaluarsa, atau kerusakan.

4. Bagaimana cara mengatasi dead stock?

Untuk mengurangi dan mengatasi dead stock, beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain: menganalisis data penjualan untuk memahami tren permintaan, menerapkan sistem penyimpanan yang efisien, menggunakan praktik Just-In-Time (JIT) inventory, mengadopsi metode FIFO atau LIFO, serta melakukan stock opname secara rutin untuk memastikan persediaan tetap terkelola dengan baik.

Jadwalkan Demo Gratis

Error message
Error message
Error message
Error message
Error message
Error message

Rekomendasi Artikel Terkait

Temukan Artikel Serupa untuk Solusi Bisnis Lebih Lengkap