Rasio Biaya Operasional (BOPO): Pengertian, Rumus, dan Contohnya

Posted on
Share artikel ini

Bisnis sering kali mengalami rasio biaya operasional yang rendah, namun keuntungan tidak juga meningkat. Hal ini bisa disebabkan oleh perhitungan rasio biaya operasional yang tidak tepat, yang pada akhirnya mengarah pada pengambilan keputusan yang kurang optimal.

Pemahaman yang kurang mendalam tentang implikasi dari Rasio BOPO/OER yang rendah atau tinggi dapat membuat bisnis melewatkan peluang untuk meningkatkan efisiensi. Padahal, rasio ini adalah indikator penting yang menunjukkan seberapa efektif bisnis mengelola pengeluaran untuk menghasilkan pendapatan. Tanpa informasi yang akurat, strategi yang diambil bisa menjadi kurang tepat dan menghambat pertumbuhan bisnis.

Maka dari itu, artikel ini akan membahas secara lengkap tentang pengertian rasio biaya operasional (BOPO) atau Operating Expense Ratio (OER) dalam bisnis. Kami akan menjelaskan mengapa rasio ini penting, bagaimana cara menghitungnya dengan benar, serta bagaimana menganalisisnya untuk meningkatkan kinerja keuangan bisnis Anda.

starsKey Takeaways

Coba Demo Gratis!

requestDemo

1. Apa itu Rasio Biaya Operasional (BOPO/OER)?

Rasio biaya operasional (BOPO) adalah metrik keuangan yang digunakan untuk mengukur efisiensi perusahaan dalam mengelola biaya operasional dibandingkan dengan pendapatan yang diperoleh dari aktivitas operasional.Rasio rendah menunjukkan pengelolaan efisien dan potensi profitabilitas tinggi, sedangkan rasio tinggi menandakan biaya operasional besar terhadap pendapatan.

Tujuan utama menghitung OER adalah untuk mengevaluasi seberapa efektif bisnis dalam mengendalikan pengeluaran yang terkait dengan aktivitas operasional sehari-hari. Dengan mengetahui rasio biaya operasional, perusahaan dapat mengidentifikasi area di mana biaya mungkin terlalu tinggi dan mencari peluang untuk meningkatkan efisiensi.

Manfaat lainnya termasuk membandingkan kinerja operasional dari waktu ke waktu atau dengan pesaing di industri yang sama. Kriteria yang mempengaruhi OER sangat beragam dan bergantung pada jenis bisnis, model operasional, dan kondisi pasar.

Tidak ada angka OER ideal yang berlaku untuk semua bisnis. Namun, OER yang lebih rendah umumnya dianggap lebih baik karena menunjukkan bahwa perusahaan mampu menghasilkan pendapatan dengan biaya operasional yang relatif kecil.

Untuk meningkatkan efisiensi, perusahaan perlu memahami struktur biaya operasional dengan tepat, sehingga dapat menilai apakah pengeluaran harian sudah optimal dalam mendukung perolehan pendapatan.

2. Manfaat Rasio Biaya Operasional

Manfaat Rasio Biaya Operasional

Rasio biaya operasional (BOPO/OER) adalah indikator penting dalam menilai efisiensi suatu perusahaan dalam mengelola operating cost. Dengan memahami manfaat rasio ini, perusahaan dapat membuat keputusan yang lebih tepat untuk meningkatkan kinerja dan daya saing. Berikut adalah beberapa manfaat utamanya:

a. Mengukur Efisiensi Operasional

Rasio ini memungkinkan perusahaan untuk menilai efisiensi dalam pengelolaan biaya operasional. Dengan analisis yang tepat, perusahaan dapat mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki dan mengoptimalkan sumber daya untuk meningkatkan profitabilitas.

b. Perbandingan dengan Industri

Rasio BOPO/OER memberikan kesempatan untuk membandingkan kinerja perusahaan dengan rata-rata industri. Hal ini membantu perusahaan mengevaluasi posisi mereka di pasar dan mengetahui apakah mereka lebih efisien atau perlu meningkatkan operasionalnya dibandingkan pesaing.

c. Pengambilan Keputusan Strategis

Data yang diperoleh dari rasio biaya operasional dapat digunakan untuk pengambilan keputusan yang strategis. Perusahaan dapat menentukan langkah-langkah untuk mengurangi biaya, merencanakan investasi, atau mengidentifikasi peluang penghematan yang berpotensi meningkatkan keuntungan.

Sebagai tambahan, perusahaan juga perlu memperhatikan jenis rasio profitabilitas yang relevan, seperti margin keuntungan dan return on investment (ROI), untuk mengevaluasi kinerja keuangan mereka dan menentukan prioritas strategis yang tepat.

d. Meningkatkan Kepercayaan Investor

Investor dan pemangku kepentingan biasanya menggunakan metrik ini sebagai patokan tingkat laba operasional perusahaan. Dengan memastikan rasio biaya operasional berada pada kisaran yang diharapkan, bisnis dapat meningkatkan kepercayaan perusahaan sehingga mereka tidak menarik keluar investasinya.

3. Apa yang Diberitahukan oleh Rasio Biaya Operasional?

Rasio ini merupakan salah satu metrik yang paling sering digunakan oleh calon investor dan pemangku kepentingan dalam mengambil keputusunnya. Hal ini seharusnya tidak membingungkan karena BOPO dapat memberikan gambaran mengenai tingkat efisiensi operasional perusahaan.

Contohnya, bayangkan Anda adalah seorang investor yang tertarik untuk berinvestasi dengan sebuah bisnis manufaktur, namun ingin mendapatkan wawasan kinerja terlebih dahulu melalui laporan keuangannya. Anda akan menggunakan rasio biaya operasional untuk menentukan tingkat profitabilitas bisnis.

Dari perhitungan itu, Anda menemukan bahwa perusahaan tersebut memiliki tingkat rasio OER yang rendah, yakni menunjukkan profit margin yang tinggi, sehingga Anda memilih untuk berinvestasi. Sebaliknya pula, bila hasil rasio tinggi, maka hal itu dapat menandakan pertumbuhan bisnis yang lambat.

Rasio biaya operasional yang tinggi dapat mempengaruhi margin dan markup, yang pada akhirnya berpengaruh pada pengembalian modal. Semakin rendah nilai OER, maka semakin tinggi juga laba perusahaan pada umumnya.

Namun, untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat, Anda perlu membandingkannya dengan rata-rata industri tertentu. Rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional yang baik biasanya beredar pada level 60% hingga 80% dari total pendapatan.

4. Cara Menghitung Rasio Biaya Operasional

Menghitung Rasio BOPO/OER relatif sederhana. Dikutip dari ResearchGate, berikut adalah rumus rasio biaya operasional:

Rasio Biaya Operasional = (Total Biaya Operasional / Total Pendapatan Operasional) x 100%

Hasil perhitungan ini akan memberikan persentase yang menunjukkan proporsi pendapatan yang digunakan untuk menutupi biaya operasional. Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas tentang profitabilitas perusahaan, Anda juga bisa mempertimbangkan gross profit margin, yang mengukur seberapa besar keuntungan kotor yang diperoleh dari pendapatan setelah mengurangi biaya langsung produksi.

Total Pendapatan Operasional mencakup seluruh pendapatan yang diperoleh dari kegiatan utama bisnis sebelum dikurangi bunga dan pajak. Untuk memastikan perhitungan rasio yang akurat, penting untuk menggunakan data pendapatan dan biaya operasional dari periode waktu yang sama, seperti bulanan, triwulanan, atau tahunan. Dengan demikian, hasil rasio yang dihitung akan lebih akurat dan dapat diandalkan.

Untuk memudahkan perhitungan ini, ScaleOcean ERP Akuntansi bisa memudahkan dan mengoptimalkan biaya operasional dan meningkatkan profitabilitas, sekaligus mendapatkan visibilitas real-time atas seluruh proses bisnis, dari produksi hingga keuangan.

ERP

5. Contoh Perhitungan Rasio Biaya Operasional (BOPO/OER)

Sebagai contoh, Bank Nusantara, sebuah bank umum swasta nasional yang telah beroperasi lebih dari 15 tahun, mencatat pertumbuhan penyaluran kredit dan pendapatan bunga dalam laporan keuangan tahun 2024.

Pada tahun tersebut, total biaya operasional Bank Nusantara sebesar Rp 500 juta dan pendapatan operasional sebesar Rp 2 miliar, dapat menghitung rasio BOPO/OER menggunakan rumus berikut:

Rasio Biaya Operasional (BOPO/OER) = (Rp 500 juta / Rp 2 miliar) x 100% = 25%

Dengan kata lain, perusahaan menghabiskan 25% dari pendapatan operasionalnya untuk menutupi biaya operasional. Rasio ini memberikan gambaran yang jelas tentang efisiensi siklus akuntansi perusahaan dalam mengelola biaya operasional relatif terhadap pendapatan yang diperoleh.

Rasio BOPO/OER yang rendah mengindikasikan bahwa perusahaan berhasil mengelola biaya operasional dengan efisien. Hal ini berarti perusahaan dapat mempertahankan pengeluaran yang lebih rendah, sehingga memungkinkan untuk menghasilkan keuntungan yang lebih besar.

Sebaliknya, rasio BOPO/OER yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan mungkin menghadapi tantangan dalam pengelolaan anggaran produksi. Kondisi ini dapat menandakan adanya pemborosan atau ketidakefisienan dalam berbagai aspek operasional.

Berdasarkan perhitungan sebelumnya, di mana rasio BOPO/OER tercatat sebesar 25%, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan cukup efisien dalam mengelola biaya operasionalnya. Dengan pengeluaran yang hanya 25% dari pendapatan operasional, perusahaan memiliki ruang yang cukup untuk memperkuat cadangan modal atau meningkatkan laba bersih, memberikan fleksibilitas untuk ekspansi dan pengembangan lebih lanjut.

6. Interpretasi Rasio Biaya Operasional

Rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional memberikan gambaran tentang efisiensi perusahaan dalam mengelola pengeluaran dibandingkan dengan pendapatan yang dihasilkan. Rasio ini penting untuk menilai profitabilitas dan efektivitas pengendalian biaya operasional. Berikut ini kedua interpretasi rasio biaya operasional:

a. Rasio Lebih Rendah

Rasio biaya operasional yang lebih rendah menunjukkan perusahaan lebih efisien dalam mengendalikan pengeluaran dibandingkan pendapatannya. Kondisi ini bagus karena mencerminkan pengelolaan biaya yang baik dan potensi profitabilitas lebih tinggi, sehingga lebih banyak pendapatan yang tersisa sebagai laba bersih yang pada akhirnya meningkatkan ekuitas adalah nilai bersih perusahaan.

b. Rasio Lebih Tinggi

Rasio yang lebih tinggi mengindikasikan biaya operasional menghabiskan porsi besar dari pendapatan. Situasi ini dapat menekan profitabilitas perusahaan, menandakan perlunya evaluasi pengeluaran dan strategi pengelolaan biaya yang lebih ketat.

7. Contoh Interpretasi Rasio Biaya Operasional

Contoh Interpretasi Rasio Biaya Operasional

Analisis rasio biaya operasional membantu perusahaan memahami efisiensi pengelolaan biaya dibanding pendapatan. Rasio ini memberikan indikasi seberapa banyak pendapatan yang tersisa sebagai laba bersih setelah menutupi biaya operasional. Berikut ini beberapa

a. Contoh pada Sektor Real Estat

Dalam sektor real estat, rasio biaya operasional rendah, misalnya 60%–80%, menunjukkan properti dikelola efisien. Sebagian besar pendapatan dapat masuk ke laba bersih, menandakan pengelolaan biaya operasional yang baik.

Sebagai tambahan, rasio biaya operasional properti kantor yang sehat biasanya berkisar antara 35% hingga 55%, tergantung pada ketentuan sewa. Rasio ini menunjukkan efisiensi pengelolaan gedung dan biaya operasional yang seimbang dengan pendapatan dari penyewa.

b. Contoh pada Sektor Retail

Untuk bisnis retail, rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional sekitar 50%–70% mencerminkan pengelolaan persediaan, gaji karyawan, dan biaya sewa yang efisien. Rasio rendah menunjukkan margin laba lebih besar dan kemampuan mengendalikan pengeluaran rutin.

c. Contoh pada Sektor Perhotelan

Di industri perhotelan, rasio biaya operasional 65%–75% menandakan efisiensi dalam mengelola biaya layanan, pemeliharaan, dan staf. Rasio yang terkendali memungkinkan hotel memaksimalkan pendapatan dari tarif kamar dan layanan tambahan, meningkatkan profitabilitas.

Dikutip dari Le Bijou, dalam industri perhotelan, OER yang rendah menunjukkan bahwa hotel mampu mengelola biaya operasional dengan efisien, memungkinkan peningkatan profitabilitas. Sebaliknya, OER yang tinggi dapat mengindikasikan adanya pemborosan atau ketidakefisienan dalam pengelolaan biaya, yang dapat menekan margin laba.

8. Hubungan antara OER, ROE, dan ROA

Rasio biaya operasional atau operational expense ratio (OER), Return on Equity (ROE), dan Return on Assets (ROA) adalah tiga metrik penting yang memberikan wawasan berbeda tentang kinerja keuangan suatu bisnis.

Meskipun mengukur aspek yang berbeda, ketiganya saling berkaitan dan memberikan gambaran yang lebih komprehensif. Memahami hubungan ini membantu dalam evaluasi kesehatan finansial perusahaan.

OER fokus pada efisiensi operasional, mengukur biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan bisnis relatif terhadap pendapatan. Sementara itu, ROE Return on Equity mengukur tingkat pengembalian modal pemilik, dan ROA mengukur seberapa efektif perusahaan menggunakan asetnya untuk menghasilkan keuntungan.

OER yang rendah umumnya berkorelasi positif dengan ROE dan ROA karena biaya operasional yang lebih rendah akan meningkatkan laba bersih.

Dengan pengelolaan biaya operasional yang efisien (tercermin dalam OER yang rendah), perusahaan berpotensi menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi. Laba bersih yang lebih tinggi ini akan meningkatkan nilai ROE karena pendapatan yang tersedia bagi pemegang saham menjadi lebih besar.

Demikian pula, ROA juga akan meningkat karena perusahaan menghasilkan lebih banyak laba dari aset yang dimilikinya.

Selain itu, rumus pertumbuhan laba dapat digunakan untuk mengukur seberapa efektif peningkatan laba bersih ini berkontribusi pada pertumbuhan keseluruhan perusahaan dari waktu ke waktu. Namun, penting untuk diingat bahwa OER yang terlalu rendah juga bisa mengindikasikan kurangnya investasi dalam pertumbuhan.

9. Bagaimana Software Akuntansi ScaleOcean Mengoptimalkan Rasio Operasional Bisnis?

ScaleOcean adalah software akuntansi yang dirancang untuk membantu bisnis mengelola keuangan secara efisien, termasuk mengoptimalkan rasio biaya operasional atau operational expense ratio (OER).

Software ini menyediakan berbagai fitur yang memudahkan bisnis dalam memantau dan mengendalikan pengeluaran operasional dan sudah mendukung integrasi ERP. Dengan Software Akuntansi ScaleOcean, Anda dapat memiliki visibilitas yang lebih baik terhadap setiap transaksi keuangan.

ScaleOcean memiliki beberapa fitur penting yang secara langsung berkontribusi pada pengelolaan OER:

  • Pelacakan Pengeluaran yang Komprehensif: Fitur ini memungkinkan Anda mencatat dan mengkategorikan semua pengeluaran bisnis secara detail, memberikan visibilitas penuh terhadap alokasi dana.
  • Penyusunan Anggaran dan Peramalan Keuangan: Dengan fitur ini, Anda dapat membuat anggaran yang terstruktur untuk berbagai pos biaya dan melakukan peramalan keuangan untuk pengambilan keputusan yang lebih baik.
  • Laporan Keuangan Real-time: ScaleOcean menghasilkan laporan keuangan secara otomatis dan real-time, termasuk contoh laporan laba rugi perusahaan manufaktur dan neraca, yang penting untuk memantau Rasio BOPO/OER.
  • Manajemen Faktur dan Penagihan: Fitur ini mempermudah proses pembuatan dan pengelolaan faktur penjualan serta penagihan kepada pelanggan, yang secara tidak langsung mempengaruhi efisiensi operasional.
  • Rekonsiliasi Bank Otomatis: ScaleOcean membantu dalam proses rekonsiliasi bank secara otomatis, memastikan catatan keuangan Anda akurat dan meminimalkan potensi kesalahan yang dapat mempengaruhi perhitungan OER.

Selain fitur-fitur tersebut, ScaleOcean menawarkan berbagai kelebihan lain. Penggunaan software ini dapat meningkatkan akurasi data keuangan, menghemat waktu dalam proses pembukuan, dan memberikan informasi yang lebih baik untuk pengambilan keputusan strategis terkait pengendalian biaya.

Dengan ScaleOcean, bisnis Anda dapat lebih fokus pada pertumbuhan sambil tetap menjaga OER pada tingkat yang optimal.

10. Kesimpulan

BOPO (Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional) merupakan alat ukur efisiensi yang menunjukkan proporsi biaya operasional terhadap total pendapatan. Semakin rendah nilai rasio ini, maka semakin efektif perusahaan dalam mengendalikan pengeluaran harian untuk mencetak keuntungan.

Dengan memantau rasio biaya operasional (OER) secara berkala, Anda dapat memperoleh wawasan tentang efektivitas pengelolaan pengeluaran dalam menghasilkan pendapatan. Hal ini juga memungkinkan Anda untuk mengidentifikasi area yang membutuhkan perbaikan, sehingga dapat meningkatkan efisiensi secara keseluruhan. Oleh karena itu, memahami dan mengelola rasio ini penting untuk menjaga efisiensi dan kesehatan finansial bisnis.

Untuk memudahkan pengelolaan dan analisis OER, ScaleOcean menawarkan software akuntansi dengan fitur lengkap untuk melacak, mengkategorikan, dan menganalisis biaya operasional. Dengan informasi real-time, Anda dapat membuat keputusan yang lebih strategis. Segera dapatkan akses ke demo gratis ScaleOcean dan rasakan manfaatnya langsung dalam mengoptimalkan kinerja keuangan bisnis Anda.

FAQ:

1. Berapa rasio BOPO atau OER yang baik?

Rasio BOPO (Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional) yang ideal berkisar antara 60% hingga 80%. Namun, semakin rendah rasio ini, semakin baik, karena menunjukkan efisiensi yang lebih tinggi dalam pengelolaan biaya operasional dibandingkan dengan pendapatan yang diperoleh perusahaan.

2. Biaya operasional terdiri dari apa saja?

Biaya operasional mencakup berbagai pengeluaran yang terkait dengan operasional sehari-hari perusahaan, seperti penggajian karyawan, asuransi, biaya lisensi, penelitian, serta pemasaran termasuk digital marketing. Selain itu, biaya sewa, penyusutan atau depresiasi aset, dan biaya perjalanan dinas juga termasuk dalam biaya operasional yang perlu dikelola oleh perusahaan.

3. Apa saja 4 rasio keuangan?

Empat rasio keuangan utama yang sering digunakan untuk menganalisis kinerja perusahaan adalah:
1. Rasio Likuiditas: Mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek, seperti rasio lancar.
2. Rasio Profitabilitas: Mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba, seperti margin laba bersih.
3. Rasio Solvabilitas: Mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka panjang, seperti rasio utang terhadap ekuitas.
4. Rasio Aktivitas: Mengukur efisiensi perusahaan dalam mengelola aset, seperti perputaran persediaan.

Jadwalkan Demo Gratis

Error message
Error message
Error message
Error message
Error message
Error message

Rekomendasi Artikel Terkait

Temukan Artikel Serupa untuk Solusi Bisnis Lebih Lengkap