
Apa Anda masih menggunakan sistem manual untuk mengendalikan seluruh lantai produksi? Jika ya, solusi digital bisa dijadikan solusinya untuk membantu staf merawat pelacakan progres produksi, pencatatan stok, pengawasan order yang datang, dan mengetahui kondisi barang dalam proses secara langsung tanpa harus bergantung pada metode pencatatan manual.
Namun sebelumnya, Anda harus paham terlebih dahulu tentang yang dimaksud dari work in progress itu sendiri. Work in Progress adalah barang, bahan, atau komponen yang telah masuk dalam proses produksi namun belum selesai dibuat menjadi barang jadi. Dalam bidang manufaktur, data work in progress diperlukan untuk membaca bottleneck, mengatur jadwal produksi, dan memaksimalkan kapasitas mesin.
Memahami pengelolaan WIP yang tepat dapat membantu menjaga stabilitas finansial dan efisiensi operasional bisnis manufaktur Anda. Artikel ini akan menjelaskan apa itu work in progress, manfaat, karakterisitik, contoh, serta mengapa pengelolaan WIP yang tepat sangat penting untuk keberlasungan bisnis.
Work in progress (WIP) merupakan persediaan barang yang masih menjalani proses produksi dan belum siap menjadi produk akhir. Persediaan ini bisa berupa bahan baku yang sudah mulai diolah, komponen setengah jadi, maupun barang yang masih menunggu tahapan produksi selanjutnya.
Dalam proses manufaktur, WIP membantu perusahaan untuk melihat barang yang masih dalam pengerjaan, biaya yang sudah masuk ke proses produksi, serta perkembangan di setiap tahapnya. Pencatatan yang rapi juga memudahkan tim menemukan bottleneck, menjaga biaya tetap terkendali, dan menggunakan kapasitas produksi dengan lebih efisien.
Penting untuk mengenali work in progress (WIP) melalui sifat dan ciri khasnya. Mengenali karakteristik ini memungkinkan perusahaan untuk mengklasifikasikan aset dengan benar, baik untuk tujuan siklus akuntansi manufaktur maupun manajemen operasional di lantai pabrik. Karakteristik utama WIP mencakup tahap produksi, biaya, status, hingga nilainya.
Berikut adalah penjelasan karakteristik utama yang mendefinisikan WIP:
Work in progress (WIP) dalam manufaktur terdiri dari tiga komponen biaya utama yang diinvestasikan pada produk yang belum selesai dibuat. Komponen ini mewakili nilai tambah yang diberikan pada bahan baku selama proses produksi. Komponennya antara lain adalah bahan baku langsung, tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik.
Berikut adalah penjelasan dari berbagai komponen utama dalam WIP:
Dengan menggunakan software shop floor, perusahaan dapat mengelola dan memonitor proses WIP dengan lebih efisien, mengurangi pemborosan, dan meningkatkan akurasi perhitungan biaya.

Work in process menjadi sangat penting dalam operasi bisnis karena menyediakan beberapa manfaat krusial untuk efektivitas produksi dan pengelolaan biaya bisnis manufaktur. Manfaatnya berupa mengukur efisiensi, memudahkan manajemen inventaris, mengoptimalkan proses, mengendalikan biaya produksi, serta mengurangi biaya penyimpanan.
Berikut penjelasan dari beberapa manfaat yang dimiliki oleh work in progress (WIP):
WIP dapat menjadi salah satu indikator untuk menilai efisiensi proses produksi secara lebih jelas. Dengan memantau perkembangan barang dari tahap awal hingga mendekati produk jadi, perusahaan dapat mengetahui waktu yang dibutuhkan pada setiap proses dan melihat apakah produksi berjalan sesuai target.
Data tersebut juga membantu perusahaan membandingkan waktu aktual dengan standar produksi. Jika suatu tahap membutuhkan waktu jauh lebih lama, tim dapat segera mengevaluasi penggunaan mesin, tenaga kerja, atau kapasitas yang tersedia.
Pengelolaan WIP membantu perusahaan menjaga jumlah barang setengah jadi agar tidak menumpuk terlalu lama di lantai produksi maupun gudang. Aliran material yang lebih teratur dapat menekan kebutuhan ruang penyimpanan sekaligus menjaga proses produksi tetap berjalan sesuai kebutuhan.
Semakin lama barang berada dalam status WIP, semakin besar pula risiko kerusakan, penurunan kualitas, kedaluwarsa, atau menjadi usang. Karena itu, pemantauan WIP membantu perusahaan mengatur pergerakan material sesuai jadwal produksi dan mengurangi pemborosan inventory.
Tumpukan WIP pada stasiun kerja tertentu sering menjadi tanda bahwa terdapat hambatan dalam alur produksi. Penyebabnya dapat berasal dari kapasitas mesin yang terbatas, kekurangan operator, waktu tunggu yang panjang, atau proses kerja yang kurang efisien.
Dengan bantuan WIP tracking software, manajer produksi dapat memantau posisi dan progres barang secara lebih terukur. Sistem juga dapat membantu menunjukkan ketika produk tertahan terlalu lama pada suatu tahap sehingga tim dapat segera menelusuri sumber hambatannya.
Barang yang masih dalam proses produksi sudah menyerap biaya bahan baku, tenaga kerja, dan overhead, tetapi belum menghasilkan pendapatan karena belum dapat dijual. Jika jumlah WIP terlalu besar, semakin banyak modal perusahaan yang tertahan di dalam proses produksi.
Dengan menjaga WIP pada tingkat yang sesuai, perusahaan dapat mengurangi pemborosan biaya sekaligus menjaga arus kas dan modal kerja tetap sehat. Pemantauan biaya pada setiap tahap juga memudahkan perusahaan melihat proses mana yang menghabiskan anggaran lebih besar dari rencana.
Pengelolaan WIP membantu perusahaan memeriksa kualitas produk sejak masih berada dalam proses produksi, bukan hanya setelah barang selesai. Tim dapat melakukan pemeriksaan pada setiap tahap untuk menemukan cacat atau ketidaksesuaian dengan standar seperti SNI maupun ISO 9001.
Pemantauan lebih awal membantu perusahaan menghindari pengerjaan ulang dalam jumlah besar. Dengan dukungan quality management software, hasil inspeksi, progres WIP, dan temuan kualitas juga dapat tercatat secara terstruktur sehingga tim lebih mudah melakukan tindak lanjut.
Dalam akuntansi manufaktur, WIP termasuk aset lancar yang perlu dihitung secara akurat dalam neraca perusahaan. Nilainya mencakup biaya yang sudah masuk ke barang selama proses produksi, tetapi belum menjadi produk jadi.
Perhitungan WIP yang akurat membantu perusahaan menentukan harga pokok produksi (HPP), nilai persediaan, dan laba dengan lebih tepat. Data tersebut juga membuat laporan keuangan lebih mencerminkan aktivitas produksi yang sebenarnya dan mendukung kebutuhan audit.
Data WIP memberikan gambaran mengenai jumlah barang yang sedang diproses dan progres produksi pada saat ini. Informasi tersebut membantu tim menentukan kebutuhan material, kapasitas mesin, tenaga kerja, dan jadwal produksi berikutnya dengan lebih tepat.
Perusahaan juga dapat mengurangi risiko overproduction maupun stock-out karena perencanaan tidak hanya mengandalkan permintaan, tetapi juga mempertimbangkan pekerjaan yang masih berlangsung. Implementasi software ERP manufaktur dapat membantu menghubungkan data WIP dengan inventory, procurement, produksi, dan kebutuhan material.
WIP yang menumpuk dapat memperpanjang waktu tunggu di antara proses produksi dan membuat jadwal penyelesaian barang semakin sulit diprediksi. Sebaliknya, pengelolaan WIP yang baik membantu menjaga material terus bergerak dari satu tahap ke tahap berikutnya tanpa antrean yang tidak perlu.
Aliran produksi yang lebih stabil membuat lead time lebih mudah diperkirakan. Dengan begitu, perusahaan dapat merencanakan penyelesaian pesanan dengan lebih akurat dan menjaga pengiriman kepada pelanggan tetap sesuai jadwal.
Barang yang termasuk dalam kategori work in process dapat ditemukan dalam wujud yang sangat berbeda di setiap sektor industri. Hal ini tergantung pada tahapan pengolahan spesifik yang sedang dijalankan. Beberapa contoh industri yang mempunyai WIP seperti industri logistik, makanan, hingga elektronik.
Berikut penjelasan dari beberapa contoh WIP di dalam berbagai sektor industri:
Contoh WIP yang paling jelas adalah proses perakitan mobil. Bayangkan rangka mobil yang sudah melewati tahap stamping (pembentukan bodi) namun belum memasuki tahap pengecatan (painting) atau pemasangan mesin. Rangka ini telah menyerap biaya material baja dan tenaga kerja, namun belum menjadi finished goods karena masih menunggu komponen interior dan pengujian akhir.
Conton WIP dalam industri makanan adalah proses adonan roti yang sedang dipanggang atau susu yang sedang dipasteurisasi. Pada kasus roti, adonan sudah mencakup biaya tepung, ragi, gula, dan biaya tenaga kerja untuk pengadukan. Produk ini belum bisa dijual sampai proses pemanggangan selesai. Begitu pula susu, yang sudah melalui pemrosesan awal tetapi masih dalam tahap kritis pasteurisasi untuk keamanan.
Salah satu contohnya adalah komponen komputer (misalnya, motherboard) yang sudah dirakit (assembled) tetapi belum diuji (testing) atau dikemas (packaging). Semua komponen kecil telah disolder dan dirakit pada papan sirkuit, menyerap biaya material dan labor. Namun, produk tersebut masih WIP karena belum lulus uji fungsional dan kualitas, serta belum dikemas sebagai unit siap jual.
Baca juga: Just in Time: Pengertian, serta Kekurangan & Kelebihan
Peran WIP sangat krusial bagi proses bisnis karena secara langsung memengaruhi efisiensi dan struktur proses produksi. Tingkat WIP yang terlalu tinggi menandakan adanya kemacetan (bottleneck), sementara WIP yang terlalu rendah bisa mengindikasikan bahwa produksi berjalan terlalu cepat tanpa menyesuaikan permintaan pasar. Implikasi utamanya dimulai dari penyelesaian, pengukuran, hingga komunikasi.
Berikut penjelasan dari beberapa implikasi WIP:
Selain mengidentifikasi hambatan, WIP juga harus memperhitungkan potensi produk sampingan yang mungkin bernilai ekonomi atau membutuhkan penanganan spesifik. Dengan memantau dan menghitung tingkat WIP secara berkelanjutan, kurva produksi dapat ditingkatkan, yang mengarah pada peningkatan kapasitas dan efisiensi manufaktur.

Untuk mengurangi WIP, perusahaan dapat menerapkan cara berupa menerapkan metode just-in-time, mempercepat proses pengiriman, dan menjalin kerjasama antar divisi. Maka dari itu, perusahaan harus mengetahui beberapa cara efektif dalam pengelolaan proses supply chain.
Berikut merupakan penjelasan dari strategi dalam mengelola WIP yang baik untuk bisnis manufaktur:
Metode JIT menjadi metode penggunaan barang yang hanya digunakan sesuai dengan besarnya jumlah permintaan. Anda bisa menggunakan bahan baku secara optimal, serta memiliki inventory turnover yang lebih baik untuk mengurangi jumlah biaya pengeluaran yang tidak perlu.
Ketepatan waktu dalam menerima bahan baku sangat krusial untuk menjaga tingkat WIP tetap stabil. Jika bahan baku datang terlambat atau tidak sesuai jadwal, aliran di lini produksi akan terhenti dan menyebabkan penumpukan barang setengah jadi di stasiun kerja berikutnya. Dengan memastikan lead time pasokan yang pendek, perusahaan dapat menjaga alur produksi tetap ramping (lean).
Cara berikutnya adalah dengan meningkatkan kinerja karyawan dan mengoptimalisasi mesin dan peralatan yang digunakan dalam jadwal produksi untuk meningkatkan sumber daya perusahaan. Anda bisa memberikan pelatihan kepada karyawan serta mempekerjakan lebih banyak karyawan, dan memperbaiki jaringan yang ada agar dapat mengurangi WIP.
Anda juga bisa mengelola dan mengorganisasi gudang sebagai cara untuk mengurangi WIP. Perusahaan dapat melakukannya terhadap alat, suku cadang, dan informasi yang diberikan terkait pengadaan barang untuk menghindai penundaan barang pada alur produksi. Cara lainnya juga bisa dilakukan dengan memberikan merek atau labrl pada setiap inventory dan penyimpanan barang agar Anda dapat mengaturnya lebih mudah.
Selain optimalisasi sistem, pengelolaan WIP juga sangat bergantung pada keselarasan dan sinergi antar karyawan. Perusahaan harus memastikan seluruh tim memiliki pemahaman mengenai tujuan dan setiap tahapan dalam proses produksi. Pemahaman bersama ini memungkinkan karyawan memprioritaskan work order serta memastikan pengerjaan sesuai dengan alur kerja yang optimal.
Nilai WIP mencerminkan biaya sumber daya, tenaga kerja, dan bahan yang diinvestasikan dalam produk yang belum selesai. Perhitungan nilai WIP yang akurat merupakan dasar penting untuk analisis biaya produksi manufaktur secara keseluruhan, membantu perusahaan memahami berapa banyak biaya yang terikat dalam proses produksi pada waktu tertentu.
Perusahaan manufaktur bisa menghitungnya dengan rumus dan perhitungan berikut:
WIP Akhir = WIP Awal + Biaya Produksi – Produk Jadi
Dari rumus WIP tersebut, Anda bisa menggambarkan nilai barang WIP dengan akurat pada periode tertentu. Perhitungan WIP ini sebagai bagian dari inventory perusahaan dan termasuk dalam laporan keuangan manufaktur sebagai aset. Ini contoh perhitungan nilai barang WIP untuk memudahkan pemahaman Anda:

Software manufaktur ScaleOcean membantu perusahaan mengelola work in progress (WIP) dengan menghubungkan perencanaan produksi, kebutuhan material, work order, BOM, kapasitas produksi, hingga biaya dalam satu platform. Dengan alur yang terintegrasi, perusahaan dapat menjaga jumlah WIP tetap sesuai kebutuhan produksi dan kapasitas setiap proses.
ScaleOcean Atlas memberikan visibilitas real-time terhadap status WIP di setiap tahapan produksi, sehingga tim dapat melihat barang yang masih diproses, antrean antar-workstation, serta potensi bottleneck. Data tersebut membantu perusahaan mengambil tindakan lebih cepat ketika terjadi keterlambatan, penumpukan WIP, kekurangan material, atau penyimpangan dari jadwal produksi.
Melalui fitur multi-level BOM, Material Requirements Planning (MRP), dan production costing, perusahaan dapat menghitung kebutuhan material sekaligus menelusuri biaya bahan baku, tenaga kerja, dan overhead yang melekat pada setiap proses produksi. Pendekatan ini membantu menjaga akurasi nilai WIP, COGM, serta margin produk tanpa bergantung pada pencatatan manual yang terpisah.
ScaleOcean Atlas juga dapat menyesuaikan alur produksi berdasarkan struktur dan kebutuhan perusahaan. Tim dapat menghubungkan PPIC, persediaan, pengadaan, produksi, quality control, hingga akuntansi dalam satu sistem agar perubahan pada permintaan, stok, atau kapasitas dapat langsung tercermin dalam rencana produksi. Perusahaan dapat menjadwalkan konsultasi untuk memetakan kebutuhan dan alur pengelolaan WIP yang sesuai dengan proses manufaktur mereka.
Berikut beberapa modul ScaleOcean Atlas dalam pengelolaan WIP:
Work in progress (WIP) adalah barang atau pekerjaan yang masih berada dalam proses produksi dan belum siap menjadi produk akhir. Meski belum dapat dijual, WIP tetap tercatat sebagai aset perusahaan. Jika jumlahnya tidak terkelola dengan baik, perusahaan berisiko menghadapi penumpukan barang, bottleneck, waktu tunggu yang lebih panjang, hingga peningkatan biaya produksi.
Untuk membantu mengelolanya, software manufaktur ScaleOcean menghubungkan data produksi, persediaan, dan biaya dalam satu sistem. Tim dapat memantau perkembangan WIP secara real-time, melihat tahapan produksi yang tertahan, serta menelusuri biaya yang muncul selama proses berlangsung. Dengan data yang lebih terhubung, perusahaan dapat mengurangi pencatatan manual sekaligus menjaga perhitungan WIP dan laporan keuangan tetap akurat.
Pengelolaan WIP yang tepat membantu perusahaan menjaga persediaan tetap seimbang, mengurangi penumpukan di lantai produksi, dan memperlancar aliran proses hingga menjadi barang jadi. Anda dapat jadwalkan konsultasi dengan tim ScaleOcean untuk membahas kebutuhan pengelolaan WIP sesuai alur produksi perusahaan Anda.
Work In progress (WIP) adalah produk yang masih dalam proses produksi, di mana sebagian bagian sudah selesai namun belum mencapai tahap final. WIP mencakup nilai bahan baku, tenaga kerja, dan biaya overhead yang sudah dikeluarkan untuk produk tersebut.
Pada umumnya, akuntan akan menghitung total bahan baku, mengumpulkan biaya tenaga kerja dan biaya overhead, kemudian mencatat total biaya tersebut sebagai entri aset dalam neraca.
Perbedaan antara WIP dan COGS terletak pada posisi dan peran mereka dalam laporan keuangan. WIP tercatat di neraca sebagai aset lancar dalam inventaris, termasuk produk yang masih dalam proses produksi. Setelah barang selesai dan siap dijual, nilai WIP dipindahkan ke akun barang jadi dalam inventaris. Ketika produk tersebut dijual, WIP diklasifikasikan sebagai COGS (biaya barang terjual) yang tercatat di laporan laba rugi.
Tantangan yang seringkali terjadi dalam mengelola work in progress (WIP) meliputi overproduksi, fluktuasi permintaan, keterlambatan pasokan, proses produksi yang tidak efisien, masalah kualitas, penjadwalan yang buruk, pengukuran kemajuan yang tidak akurat, dan biaya penyimpanan yang tinggi.
Untuk mengatasi masalah work in progress (WIP) dalam manufaktur, beberapa cara yang bisa diterapkan meliputi penerapan just-in-time (JIT), peningkatan efisiensi pengiriman, pengelolaan sumber daya yang optimal, dan manajemen gudang yang efektif. Selain itu, penggunaan perangkat lunak pelacak WIP dapat membantu memantau dan mengelola WIP dengan lebih efisien.