Apa itu Depresiasi, Manfaat, Faktor, dan Metodenya?

Posted on
Share artikel ini

Setiap aset perusahaan pasti akan mengalami penurunan nilai dan fungsi seiring bertambahnya usia serta intensitas penggunaan. Fenomena ini disebut depresiasi, sebuah elemen akuntansi penting yang harus dicatat sebagai beban operasional agar laporan keuangan tetap akurat.

Memahami metode penyusutan yang tepat membantu manajemen dalam merencanakan anggaran penggantian barang dan mengoptimalkan kewajiban pajak. Artikel ini akan membahas tentang aspek-aspek penyusutan yang wajib dipahami oleh setiap pemilik bisnis.

starsKey Takeaways
  • Depresiasi adalah sebuah fenomena di mana nilai aset perusahaan mengalami penyusutan seiring berjalannya waktu dikarenakan penggunaan atau siklus hidup.
  • Faktor penyusutan terdiri dari harga perolehan, estimasi masa manfaat, intensitasi penggunaan, nilai residu, faktor eksternal.
  • Metode yang dapat digunakan meliputi metode garis lurus, beban menurun, aktivitas, depresiasi khusus, saldo menurun ganda, unit produksi.
  • Penerapan sistem manajemen aset seperti ScaleOcean membantu perusahaan dalam menentukan kriteria dan melacak satuan dan keseluruhan nilai depresiasi secara realtime.

Coba Demo Gratis!

requestDemo

1. Apa itu Depresiasi?

Depresiasi adalah penurunan nilai suatu aset fisik seperti perangkat keras, gedung, dan kendaraan yang terjadi seiring waktu dikarenakan intensitas penggunaan atau kerusakan hal tertentu. Penyusutan berikut kemudian dicatat ke dalam jurnal akuntansi sebagai beban operasional selama masa penggunaan.

Jangan salah tanggap, “depresiasi” yang dibahas di artikel berikut termasuk dalam konteks akuntansi, bukan pengurangan nilai mata uang sebuah negara. Meski terlihat berbolak-balik, perhitungan penyusutan aset tetap dihitung oleh perusahaan dikarenakan perannya dalam memimalisir kerugian serta memberikan keuntungan pajak.

2. Apa Manfaat Perhitungan Depresiasi?

Perhitungan depresiasi mampu menurunkan beban pajak perusahaan.

Melakukan pemantauan terhadap penyusutan nilai barang bukan sekedar kewajiban administratif, melainkan strategi untuk menjaga kesehatan finansial perusahaan. Beberapa kegunaan utamanya mencakup aspek efisiensi pajak, akurasi laporan laba rugi, hingga perencanaan anggaran untuk penggantian aset di masa depan:

a. Meminimalisir Kerugian

Melalui pencatatan penyusutan, perusahaan dapat mengantisipasi penurunan nilai aset di masa depan dengan mengalokasikan cadangan dana. Hal ini mencegah terjadinya lonjakan biaya mendadak saat aset tersebut sudah tidak layak pakai dan harus diganti dengan yang baru.

b. Mengetahui Harga Awal Aset

Perhitungan ini berfungsi sebagai dokumentasi historis yang menunjukkan nilai perolehan asli setiap barang modal yang dimiliki. Informasi berikut penting saat perusahaan perlu melakukan audit internal maupun ketika akan melakukan penilaian kembali (revaluasi) aset.

c. Mencatat Keuntungan Akurat

Penyusutan merupakan biaya yang harus dikurangkan dari pendapatan kotor untuk menghasilkan angka laba bersih. Tanpa menghitung depresiasi, keuntungan perusahaan akan terlihat lebih besar dari kenyataannya, yang dapat berisiko pada pengambilan keputusan yang salah.

d. Mengetahui Biaya Depresiasi Setiap Periode

Setiap periode akuntansi memerlukan alokasi beban yang konsisten sesuai dengan penggunaan aset tersebut. Dengan mengetahui angka ini, manajemen dapat memetakan pengeluaran operasional secara lebih teratur dan memprediksi arus kas di masa mendatang.

e. Mendapatkan Potongan Pajak

Perhitungan depresiasi memberikan hak pada perusahaan atas pemotongan pajak akhir yang perlu dibayar perusahaan pada sebuah periode akuntansi. Persentase potongan bervariasi sesuai dengan metode yang digunakan dan skala bisnis, informasi lebih lengkap dapat ditemukan dalam PMK 72/2023.

3. Apa saja Faktor yang Mempengaruhi Depresiasi?

Besaran nilai penyusutan tidak ditentukan secara sembarang, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berkaitan dengan penggunaan dan kondisi aset. Penentuan beban ini bergantung pada beberapa aspek kunci seperti nilai beli awal, durasi pemakaian, hingga faktor-faktor eksternal:

a. Harga Perolehan (Acquisition Cost)

Faktor utama dalam depresiasi adalah nilai barang tersebut ketika pertama kali diperoleh atau dibeli perusahaan atau acquisition cost. Seiring berjalannya waktu, pihak manajemen keuangan bisnis akan menggunakan nilai awal sebagai tolak-ukur dalam perhitungan depresiasi.

b. Estimasi Masa Penggunaan

Dalam menghitung biaya depresiasi, bisnis biasanya memperkirakan periode penggunaan sebuah aset. Contohnya, perlengkapan kantor seperti laptop dan perangkat keras lainnya umum berada di kisaran 1-4 tahun, sedangkan kendaraan dan bangunan lebih lama, 4-8 tahun dan 10+ tahun, tetapi kembali lagi ke kondisi masing-masing perusahaan.

c. Intensitas Penggunaan

Berhubungan dengan poin sebelumnya, tingkat intensitas penggunaan aset bisnis juga mempengaruhi perhitungan periode penggunaannya. Bila sebuah barang perusahaan digunakan secara proaktif dan tanpa henti, maka masa penggunaan yang diterapkan dalam perhitungan cenderung lebih pendek.

d. Nilai Residu

Salvage value atau nilai residu adalah nilai terakhir sebuah aset yang ditetapkan perusahaan, dimana angka tersebut tidak dapat didepresiasi lebih lanjut lagi. Hal ini dikarenakan barang-barang tertentu masih memiliki nilai meskipun tidak digunakan lagi.

e. Faktor Eksternal

Selain kondisi internal perusahaan, variabel eskternal juga memegang peranan penting dalam menentukan nilai penyusutan. Hal ini mencakup perubahan pasar, kebijakan regulasi terbaru, hingga perkembangan teknologi yang dapat membuat kegunaan suatu aset menurun lebih cepat dari perkiraan awal.

Perlu diketahui bahwa masing-masing faktor tersebut tidak bersifat universal, melainkan disesuaikan berdasarkan jenis barang dan tujuan penggunaannya. Untuk mempermudah proses penetapan dan pelacakan masing-masing aset, Anda dapat mempertimbangkansistem asset management seperti ScaleOcean yang disertakan dengan ribuan jumlah fitur.

ERP

4. Metode-metode Perhitungan Depresiasi

Setiap perusahaan memiliki kebijakan berbeda dalam menentukan beban penyusutan sesuai dengan karakteristik aset yang mereka miliki. Pemilihan cara hitung ini dapat didasarkan pada durasi waktu, tingkat produktivitas, hingga penggunaan persentase ganda untuk mencerminkan penurunan nilai secara lebih akurat:

a. Metode Garis Lurus

Rumus depresiasi yang pertama adalah garis lurus atau straightline method. Jenis perhitungan berikut termasuk yang paling umum dan mudah dipahami, di mana biaya aset dibagi merata selama masa manfaatnya. Berikut adalah rumus dari metode ini:

Depresiasi = (Harga Perolehan – Nilai Residu) / Masa Penggunaan

b. Metode Beban Menurun

Metode beban menurun mengasumsikan bahwa aset akan mengalami penyusutan nilai yang lebih besar pada tahun-tahun awal penggunaannya. Beban depresiasi akan terus mengecil seiring berjalannya waktu karena performa aset dianggap menurun dibandingkan saat masih baru.

Depresiasi = Harga Perolehan x Persentase Penyusutan

c. Metode Aktivitas

Metode aktivitas didasarkan pada asumsi bahwa penyusutan bukan disebabkan oleh waktu, melainkan oleh tingkat produktivitas aset tersebut. Semakin tinggi tingkat penggunaan atau aktivitasnya, maka semakin besar pula nilai depresiasi yang dibebankan.

Depresiasi = [(Harga Perolehan – Nilai Residu) x Periode Penggunaan] / Estimasi Periode Penggunaan

d. Metode Depresiasi Khusus

Dalam kondisi tertentu, perusahaan dapat menggunakan metode khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan unik industri atau karakteristik aset tertentu. Hal ini biasanya diterapkan untuk aset yang sulit dinilai menggunakan rumus standar karena sifat teknisnya yang berbeda, disesuaikan dengan kondisi masing-masing perusahaan.

e. Metode Saldo Menurun Ganda

Jenis ini merupakan versi yang lebih agresif dari metode beban menurun, di mana tarif penyusutan biasanya ditetapkan dua kali lipat dari persentase garis lurus. Tujuannya adalah untuk mencerminkan penurunan nilai aset yang sangat cepat pada periode awal investasi.

Depresiasi = (Harga Perolehan : Estimasi Periode Penggunaan) x 2

f. Metode Unit Produksi

Rumus depresiasi unit produksi relevan untuk mesin pabrik karena penyusutannya dihitung berdasarkan jumlah unit yang dihasilkan selama satu periode tertentu. Metode ini memberikan gambaran beban yang lebih adil karena biaya depresiasi berbanding lurus dengan hasil produksi.

Depresiasi = [(Harga Perolehan – Nilai Residu) / Estimasi Total Produksi] x Angka Produksi Nyata

5. Contoh Perhitungan Depresiasi di Indonesia

Bayangkan terlebih dahulu skenario berikut. Pada tahun 2026, sebuah perusahaan memilih untuk membeli 10 jumlah laptop dengan nilai total Rp200.000.000,00 dan memperkirakan masa penggunaan selama 4 tahun dengan metode garis lurus dan nilai residu sebesar Rp20.000.000,00. Bila didasarkan dengan regulasi PSAK 16, maka perhitungannya:

Depresiasi = (200.000.000 – 20.000.000) / 4

Depresiasi = 180.000.000 / 4

Depresiasi = 45.000.000

Jadi, total depresiasi yang berlaku per tahun untuk periode tersebut adalah Rp45.000.000,00 dari total pendapatan perusahaan. Namun, perlu diketahui bahwa perhitungan berdasarkan PMK 72/2023 itu sedikit berbeda karena mengabaikan nilai residu dalam perhitungan pajak:

Depresiasi = 200.000.000 x 25%

Depresiasi = 50.000.000

Dan pajak yang berlaku per tahun, dengan asumsi bahwa bisnis tersebut merupakan sebuah usaha multi-nasional (MNC) dengan laba kotor tahunan Rp800.000.000,00, adalah:

Pajak yang Berlaku = (800.000.000 – 50.000.000 ) x 22%

Pajak yang Berlaku = 750.000.000 x 22%

Pajak yang Berlaku = 165.000.000

Mengapa terdapat perbedaan antara perhitungan PSAK dan PMK? Hal ini dikarenakan regulasi PSAK bertujuan untuk memastikan perusahaan menyertakan data finansial paling akurat kepada pemangku kepentingan, sedangkan PMK (meskipun ditetapkan perusahaan) mengabaikan nilai residu dalam perhitungan pajak.

6. Kesimpulan

Penerapan perhitungan penyusutan merupakan aspek vital dalam akuntansi untuk mencerminkan nilai aset yang sebenarnya serta memastikan laporan keuangan tetap kredibel. Dengan memahami berbagai faktor dan metode penyusutan, perusahaan dapat lebih siap dalam memaksimalkan efisiensi beban pajak.

Agar proses pemantauan nilai aset tetap akurat tanpa perlu penghitungan manual yang rumit, penggunaan solusi digital menjadi penting. ScaleOcean menawarkan solusi manajemen aset yang dapat mengotomatisasi pencatatan depresiasi secara realtime, yang bisa Anda pelajari lebih lanjut melalui layanan demo gratis yang tersedia.

FAQ:

1. Apa yang dimaksud dengan depresiasi?

Depresiasi adalah penurunan nilai sebuah aset selama berjalannya waktu dikarenakan panjang dan besarnya periode dan intensitas penggunaan. Hal ini dicatat sebagai beban operasional dalam laporan keuangan per kuartal atau tahunan.

2. Bagaimana cara menghitung depresiasi?

Untuk menghitung penyusutan, Anda dapat melakukannya dengan berbagai metode, yakni:
1. Metode Garis Lurus
2. Metode Beban Menurun
3. Metode Aktivitas
4. Metode Depresiasi Khusus
5. Metode Saldo Menurun Ganda
6. Metode Unit Produksi

3. Apakah depresiasi mengurangi pajak?

Iya, depresiasi dapat membantu mengurangi beban pajak karena diklasifikasikan sebagai beban operasional, yang kemudian akan dikurangi dari pendapatan periode tersebut, sehingga subjek pajak yang diperhitungkan menjadi lebih rendah.

Jadwalkan Demo Gratis

Error message
Error message
Error message
Error message
Error message
Error message

Rekomendasi Artikel Terkait

Temukan Artikel Serupa untuk Solusi Bisnis Lebih Lengkap