Biaya penyusutan adalah salah satu komponen penting dalam laporan keuangan perusahaan yang sering kali diabaikan. Meskipun tidak melibatkan uang tunai, penghitungan biaya penyusutan yang akurat sangat mempengaruhi kesehatan keuangan dan keputusan bisnis. Tanpa perhitungan yang tepat, laporan keuangan bisa menyesatkan.
Banyak perusahaan yang kesulitan dalam menghitung biaya penyusutan dengan benar. Kesalahan dalam alokasi atau perhitungan nilai sisa dan masa manfaat aset dapat menyebabkan laporan laba rugi yang tidak realistis. Hal ini bisa berdampak pada perencanaan pajak yang kurang efektif serta pengambilan keputusan yang salah.
Artikel ini akan membahas cara menghitung biaya penyusutan secara tepat dan manfaatnya dalam laporan keuangan. Selain itu, Anda juga akan mempelajari contoh biaya penyusutan pada berbagai aset tetap, serta bagaimana cara alokasi biaya ini membantu dalam perencanaan investasi dan pengelolaan aset.
- Biaya penyusutan adalah alokasi biaya untuk aset tetap yang dibebankan bertahap selama masa manfaatnya, mencerminkan penurunan nilai aset seiring penggunaannya.
- Contoh biaya penyusutan termasuk mesin produksi, kendaraan operasional, gedung, peralatan kantor, alat berat, dan perangkat teknologi.
- Cara menghitung biaya penyusutan mencakup penentuan harga perolehan, nilai sisa, dan masa manfaat, kemudian menghitungnya menggunakan rumus yang sesuai.
- Perhitungan biaya penyusutan dapat dikelola lebih akurat dengan software asset management seperti ScaleOcean yang mendukung metode penyusutan dan pelacakan nilai aset secara berkala.
1. Apa itu Biaya Penyusutan?
Biaya penyusutan adalah alokasi biaya dari nilai aset tetap, seperti mesin atau kendaraan, yang dibebankan secara bertahap selama masa manfaatnya. Ini mencerminkan penurunan nilai aset akibat pemakaian atau keausan, yang harus dicatat dalam laporan laba rugi perusahaan.
Biaya penyusutan, atau beban penyusutan bertujuan mencatat beban pemakaian aset secara adil setiap tahun, memberikan gambaran yang lebih realistis dalam laporan operasional. Penyusutan ini juga membantu mengurangi nilai buku aset, sehingga mencerminkan nilai aktual aset setelah dikurangi akumulasi penyusutan.
Terdapat beberapa metode untuk menghitung biaya penyusutan, seperti garis lurus, saldo menurun, atau unit produksi. Pemilihan metode ini disesuaikan dengan jenis aset dan tujuan perusahaan, penting untuk menghindari kesalahan dalam pelaporan keuangan yang dapat memengaruhi keputusan bisnis.
Aset yang disusutkan mencakup aset tetap berwujud dengan masa manfaat lebih dari satu tahun, seperti gedung, mesin, kendaraan, dan peralatan. Aset-aset ini mengalami penurunan nilai seiring pemakaian. Dengan pengecualian aset tanah, aset ini tidak disusutkan karena nilainya cenderung meningkat dari waktu ke waktu.
2. Apa Fungsi Biaya Penyusutan?
Biaya penyusutan bukan sekadar pencatatan akuntansi, tetapi juga berperan penting dalam berbagai aspek manajemen keuangan dan operasional. Berikut ini beberapa fungsi utamanya:
a. Alokasi Biaya Aset
Biaya penyusutan mengalokasikan biaya perolehan aset tetap, seperti mesin dan kendaraan, secara bertahap sepanjang masa manfaatnya. Dengan cara ini, pencatatan akuntansi menjadi lebih jelas dan transparan, memungkinkan perusahaan untuk memantau penggunaan aset serta menghitung beban secara tepat setiap periode.
b. Pendataan Laba Bersih
Biaya penyusutan dicatat sebagai beban dalam laporan laba rugi, yang secara langsung mengurangi pendapatan. Ini memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai konsumsi aset tetap dalam proses produksi dan menghasilkan laba bersih yang lebih realistis, yang penting untuk perencanaan pajak dan strategi bisnis.
c. Perencanaan Penggantian Aset
Dengan biaya penyusutan yang dicatat setiap periode, perusahaan dapat mengumpulkan dana untuk mengganti aset yang sudah tidak produktif atau rusak. Ini memastikan bahwa perusahaan memiliki dana cadangan untuk pembelian aset baru tanpa mengganggu kelangsungan operasional dan perencanaan investasi jangka panjang.
d. Pemantauan Pengurangan Nilai Aset
Penyusutan mencatat secara teratur penurunan nilai aset tetap setiap periode. Data ini memberikan wawasan mengenai kondisi aset yang dimiliki, membantu perusahaan membuat keputusan strategis terkait pembelian aset baru, dan memastikan kelancaran operasional jangka panjang.
3. Contoh Biaya Penyusutan
Contoh biaya penyusutan mencakup penyusutan mesin produksi, kendaraan operasional, gedung dan bangunan, serta peralatan kantor. Selain itu, terdapat penyusutan alat berat dan perangkat teknologi seperti server atau jaringan yang digunakan untuk mendukung aktivitas dan efisiensi operasional perusahaan. Berikut ini penjelasannya:
- Biaya Penyusutan Mesin: Penyusutan mesin produksi yang digunakan dalam kegiatan operasional bisnis.
- Biaya Penyusutan Kendaraan: Penyusutan kendaraan perusahaan, baik untuk operasional atau transportasi.
- Biaya Penyusutan Gedung dan Bangunan: Penyusutan properti yang digunakan sebagai tempat operasional bisnis.
- Biaya Penyusutan Peralatan Kantor: Penyusutan peralatan kantor seperti komputer, printer, dan furnitur.
- Biaya Penyusutan Alat Berat: Penyusutan alat berat seperti forklift, crane, dan excavator yang digunakan dalam industri.
- Biaya Penyusutan Perangkat Teknologi: Penyusutan perangkat IT seperti server dan jaringan yang digunakan dalam perusahaan.
Jika Anda kesulitan dalam mengelola dan menghitung biaya penyusutan secara tepat, menggunakan Software Manajemen Aset seperti ScaleOcean bisa menjadi solusi. ScaleOcean memungkinkan pencatatan aset dan penyusutan secara otomatis, membantu perencanaan anggaran dan pengelolaan investasi yang lebih efisien.
4. Metode Perhitungan Biaya Penyusutan
Untuk menghitung beban penyusutan, tentukan biaya perolehan aset, kurangi nilai sisa (jika ada), dan bagi dengan masa manfaat aset. metode biaya penyusutan yang sering digunakan untuk perhitungan ini adalah metode garis lurus.
Selain itu, terdapat metode biaya penyusutan lain seperti saldo menurun ganda dan unit produksi, yang bisa dipilih sesuai jenis aset dan tujuan perhitungannya. Untuk lebih mudah memahaminya, berikut metode untuk cara menghitung beban penyusutan:
a. Metode Garis Lurus
Untuk menghitung biaya ini, terdapat beberapa metode biaya penyusutan yang dapat digunakan, salah satunya adalah metode garis lurus. Metode ini menghitung penyusutan dengan jumlah yang sama setiap tahun sepanjang masa manfaat aset.
Metode garis lurus (straight line method) yang merupakan cara paling sederhana dan umum digunakan perusahaan manufaktur. Metode garis lurus memiliki rumus cara menghitung penyusutan sebagai berikut:
Biaya Penyusutan = (Biaya Perolehan Aset – Nilai Residu) / (Masa Manfaat Aset)
Contoh perhitungan dengan metode ini adalah:
Sebagai contoh biaya penyusutan, sebuah perusahaan manufaktur membeli mesin produksi seharga Rp120.000.000. Mesin tersebut diperkirakan memiliki masa manfaat selama 10 tahun, dengan nilai residu (nilai sisa) sebesar Rp20.000.000 di akhir masa pakainya. Dengan demikian maka penyusutan asetnya adalah:
Biaya Penyusutan = (Rp120.000.000 – Rp20.000.000) / 10 = Rp10.000.000
b. Metode Saldo Menurun
Metode biaya penyusutan selanjutnya adalah metode saldo menurun (declining balance method) atau metode penyusutan berakselerasi, pendekatan yang lebih agresif untuk menghitung biaya penyusutan.
Cara menghitung beban penyusutan ini memiliki asumsi dasar bahwa biaya penyusutan akan lebih besar pada tahun awal masa manfaat aset dan berkurang secara bertahap di tahun-tahun berikutnya.
Hal ini didasari pada aset yang cenderung mengalami penurunan efisiensi atau meningkatkan biaya perawatan seiring bertambahnya usia. Berikut cara menghitung dan rumus biaya penyusutan dengan saldo menurun:
Biaya penyusutan = Nilai buku bersih X Tarif penyusutan
Contoh perhitungan dengan metode ini adalah:
Misalkan perusahaan membeli mesin seharga Rp100.000.000 dengan masa manfaat 5 tahun. Persentase penyusutan ditetapkan sebesar 40% per tahun menggunakan metode saldo menurun.
Biaya penyusutan = Rp100.000.000 X 40% = Rp40.000.000
Dengan demikian, pada tahun pertama, penyusutan nilai asetnya sebesar Rp40.000.000. Maka nilai buku akhir tahun sebesar Rp60.000.000. Jika dihitung pada tahun kedua, maka nilai penyusutan adalah sebagi berikut:
Biaya penyusutan = Rp60.000.000 X 40% = Rp24.000.000
Nantinya, nilai buku akhir tahun kedua sebesar Rp60.000.000 – Rp24.000.000 = Rp36.000.000. Penyusutan ini terus dihitung setiap tahun dari nilai buku terakhir, bukan dari harga perolehan awal. Metode ini cocok untuk aset seperti mesin produksi yang biasanya mengalami penurunan performa signifikan di awal masa pakainya.
c. Metode Unit Produksi
Metode terakhir adalah metode unit produksi (units of production method), dimana dalam metode penyusutan ini dihubungkan langsung dengan penggunaan atau output aset tersebut.
Cara menghitung beban penyusutan didasarkan pada asumsi bahwa penyusutan nilai aset terkait dengan jumlah produksi yang dihasilkan. Rumus biaya penyusutan dengan metode unit produksi:
Biaya penyusutan = [(Biaya perolehan aset – Nilai sisa yang diharapkan) : Total produksi] X Realisasi Produksi
Contoh perhitungan dengan metode ini adalah:
Sebagai contoh biaya penyusutan, sebuah perusahaan membeli mesin senilai Rp150.000.000 dengan nilai residu Rp30.000.000. Mesin ini diperkirakan dapat memproduksi 120.000 unit selama masa manfaatnya. Pada tahun pertama, mesin digunakan untuk memproduksi 25.000 unit.
Pada langkah pertama, hitung penyusutan nilai per unit. Caranya adalah sebagai berikut:
Biaya penyusutan = (Rp150.000.000 – Rp30.000.000) ÷ 120.000 unit = Rp1.000 per unit
Selanjutnya, hitung biaya penyusutan tahun pertama:
Biaya penyusutan tahun pertama = Rp1.000 × 25.000 unit = Rp25.000.000
Dengan contoh biaya penyusutan di atas, jumlah penyusutan yang dicatat setiap tahun bergantung pada seberapa besar aset digunakan dalam proses produksi, sehingga lebih mencerminkan beban yang sebenarnya berdasarkan aktivitas operasional.
d. Metode Jumlah Digit Tahun
Metode Jumlah Digit Tahun (Sum-of-the-Years’ Digits Method) adalah metode percepatan dalam perhitungan penyusutan. Metode ini menggunakan rasio penyusutan, di mana pembilangnya adalah angka tahun yang tersisa, sedangkan penyebutnya adalah jumlah digit tahun dari total masa manfaat aset.
Rumus biaya penyusutan dengan metode ini adalah:
Biaya Penyusutan = Jumlah Digit Tahun / Sisa Masa Manfaat × (Biaya Perolehan − Nilai Sisa)
Contoh perhitungan dengan metode ini adalah:
Misalkan sebuah perusahaan manufaktur membeli mesin produksi dengan biaya perolehan Rp500.000.000 dan masa manfaat 5 tahun. Nilai sisa mesin tersebut diperkirakan Rp50.000.000. Dengan menggunakan metode Jumlah Digit Tahun, berikut cara menghitung biaya penyusutannya:
- Menentukan jumlah digit tahun:
Masa manfaat mesin adalah 5 tahun, sehingga jumlah digit tahun adalah 5+4+3+2+1=15 - Menghitung penyusutan untuk tahun pertama:
Pembilangnya adalah 5 tahun tersisa, sedangkan penyebutnya adalah 15. Maka, penyusutan untuk tahun pertama adalah:
Penyusutan = 15 / 5 × (500.000.000−50.000.000)
Penyusutan = 15 / 5× 450.000.000
Penyusutan = 150.000.000
Pada tahun-tahun berikutnya, rasio akan menurun, dengan penyusutan semakin berkurang seiring berjalannya waktu. Metode ini membantu perusahaan untuk mempercepat pengalokasian biaya penyusutan pada tahun-tahun awal, sesuai dengan pola penurunan nilai mesin yang lebih cepat.
5. Cara Menghitung Biaya Penyusutan
Langkah pertama dalam menghitung biaya penyusutan adalah menentukan harga perolehan aset secara menyeluruh, termasuk biaya tambahan seperti pemasangan, transportasi, dan instalasi. Selanjutnya, perkirakan nilai sisa aset di akhir masa manfaatnya, yang akan digunakan untuk mengurangi biaya penyusutan.
Langkah ketiga adalah menetapkan masa manfaat aset, yang dapat didasarkan pada panduan umum atau referensi industri terkait. Setelah itu, gunakan rumus yang sesuai untuk menghitung biaya penyusutan dan catat hasilnya dalam laporan keuangan setiap periode. Hal ini memastikan pencatatan yang akurat dan konsisten dalam laporan laba rugi perusahaan.
Berdasarkan studi dari Garuda, perhitungan biaya penyusutan akan mengurangi pajak terutang. Semakin besar biaya penyusutan, semakin kecil laba kena pajak yang dilaporkan, sehingga perusahaan dapat mengurangi beban pajak dan meningkatkan efisiensi keuangan.
Dilansir dari IGotAnOffer, beban penyusutan ini akan memengaruhi arus kas operasi. Contohnya, peningkatan biaya penyusutan sebesar $10 mengurangi laba sebelum pajak sebesar $10. Namun, karena biaya penyusutan adalah beban non-tunai, arus kas operasi perusahaan justru meningkat setelah penyesuaian penyusutan.
6. Kesimpulan
Biaya penyusutan adalah alokasi bertahap dari biaya perolehan aset tetap, seperti mesin, kendaraan, atau gedung, yang digunakan untuk mendukung operasional perusahaan. Penyusutan ini mencerminkan penurunan nilai aset akibat pemakaian, yang harus dicatat dalam laporan laba rugi.
Metode penyusutan yang digunakan, seperti garis lurus, saldo menurun, atau unit produksi, bergantung pada jenis aset dan kebutuhan perusahaan. Setiap metode memiliki cara perhitungan yang berbeda dan dapat disesuaikan untuk mencatat penyusutan nilai secara adil dan tepat sesuai dengan pemakaian aset.
Untuk mempermudah perhitungan dan pencatatan biaya penyusutan secara akurat dan efisien, ScaleOcean menyediakan solusi perangkat lunak yang membantu perusahaan mengelola dan memantau aset tetap. Cobalah demo gratis ScaleOcean dan temukan cara cerdas untuk mengelola biaya penyusutan perusahaan Anda!
FAQ:
1. Bagaimana cara menghitung penyusutan?
Cara menghitung penyusutan adalah dengan menggunakan rumus: Biaya Penyusutan = Nilai Buku Bersih x Tarif Penyusutan. Nilai buku bersih adalah nilai aset setelah dikurangi akumulasi penyusutan, dan tarif penyusutan ditentukan berdasarkan metode yang digunakan.
2. Biaya apa saja yang termasuk dalam penyusutan?
Biaya yang termasuk dalam penyusutan meliputi mesin, peralatan, bangunan, kendaraan, dan furnitur yang digunakan dalam operasional bisnis. Properti yang digunakan untuk keperluan pribadi tidak dapat diklaim untuk penyusutan.
3. Penyusutan masuk ke akun apa?
Penyusutan dicatat dalam akun kontra aset, yang mengurangi nilai aset secara keseluruhan. Akun akumulasi penyusutan dikreditkan, sementara beban penyusutan didebit pada setiap periode akuntansi.





