Dalam akuntansi, pengelolaan nilai aset tidak hanya berlaku pada benda fisik, tetapi juga pada kepemilikan non-fisik. Amortisasi merupakan metode untuk mengalokasikan beban biaya aset tidak berwujud tersebut secara proporsional selama masa penggunaannya.
Penerapan prosedur ini membantu perusahaan yang memiliki hak cipta, paten, maupun lisensi perangkat lunak agar laporan keuangan mencerminkan kondisi aktual. Artikel berikut membahas mengenai definisi, manfaat, serta metode perhitungan amortisasi yang berlaku dalam operasional bisnis.
- Amortisasi adalah proses pemisahan biaya aset non-fisik secara periodik selama masa manfaatnya.
- Yang diperhitungkan dalam proses berikut meliputi hak cipta, hak guna, paten, merek dagang, goodwill, izin dan lisensi usaha, biaya lisensi perangkat lunak.
- Metode perhitungan amortisasi cenderung berupa dua, yakni metode garis lurus dan saldo menurun.
- Implementasi sistem manajemen aset seperti ScaleOcean memungkinkan perusahaan untuk memantau dan mengelola status setiap aset secara sekaligus.
1. Apa itu Amortisasi?
Amortisasi adalah kegiatan akuntansi di mana perusahaan membagi biaya aset tidak terwujud secara bertahap seiring masa penggunaannya. Tujuannya adalah untuk mengurang nilai barang tertentu dari waktu ke waktu untuk mencerminkan kondisi finansial nyata di laporan keuangan.
Proses ini membantu perusahaan menghindari beban biaya besar di awal. Dengan mendistribusikan beban tersebut selama masa manfaat, manajemen dapat menjaga stabilitas profitabilitas tahunan sekaligus memastikan ketersediaan dana cadangan untuk pembaruan atau perpanjangan di masa mendatang.
2. Apa Fungsi dan Manfaat Amortisasi?
Penerapan amortisasi bukan sekadar kewajiban akuntansi, melainkan alat untuk memantau nilai aset non-fisik yang dimiliki perusahaan. Dengan metode yang tepat, bisnis dapat menjaga stabilitas arus kas sekaligus memastikan bahwa setiap aset memberikan kontribusi efisiensi pajak dan akurasi data:
a. Laporan Keuangan Lebih Akurat
Amortisasi memastikan pencatatan beban dilakukan secara bertahap sesuai masa manfaat aset, sehingga tidak ada loncatan biaya dalam satu periode. Hal ini membantu perusahaan menyajikan laba bersih yang akurat dan mencerminkan kondisi keuangan sebenarnya.
b. Meningkatkan Transparansi Finansial Perusahaan
Dengan mencatat penyusutan aset tidak berwujud secara rutin, para pemangku kepentingan dapat melihat bagaimana perusahaan mengelola modalnya. Informasi ini memberikan gambaran yang jelas mengenai nilai aset yang masih tersisa, beban yang telah dialokasikan, serta menjadi dasar pertimbangan revaluasi aset di masa mendatang.
c. Menilai Aset Tidak Terwujud
Amortisasi berfungsi sebagai alat ukur untuk memantau sisa nilai ekonomis dari aset non-fisik yang dimiliki. Hal ini memudahkan manajemen dalam menentukan kapan sebuah aset harus diperbarui atau jika nilai aset tersebut sudah tidak memberikan manfaat bagi bisnis serta memengaruhi perhitungan penyusutan fiskal di masa mendatang.
d. Menurunkan Beban Pajak
Karena amortisasi dicatat sebagai beban operasional dalam laporan laba rugi, hal ini secara otomatis mengurangi besaran pendapatan kena pajak perusahaan berdasarkan PMK 72/2023. Dengan demikian, perusahaan dapat mengurangi angka kewajiban pajak tahunannya selama masa penggunaan aset.
3. Jenis-jenis Aset yang Diperhitungkan dalam Amortisasi
Dalam perhitungan amortisasi, benda-benda yang diperhitungkan merupakan intangible assets atau aset tidak berwujud, yakni kepemilikan perusahaan yang tidak memiliki bentuk fisik, serta juga tidak memliki nilai residu (salvage value). Hal ini berupa hak cipta dan guna, paten, izin usaha, dan lisensi perangkat lunak, berikut penjelasan selebihnya:
- Hak Cipta (Copyrights): Hak yang dimiliki perusahaan terhadap karyanya, dapat berupa seni kreatif seperti cerita dan lukisan ataupun program software.
- Hak Guna (Rights): Berupa hak guna bangunan dan hak guna usaha.
- Paten (Patents): Hak eksklusif yang diberikan kepada perusahaan atas suatu invensi atau penemuan teknologi.
- Merek Dagang (Trademarks): Identitas berupa logo, nama, atau simbol yang membedakan produk perusahaan di pasar.
- Goodwill: Nilai selisih lebih yang muncul saat perusahaan mengakuisisi bisnis lain, mencakup reputasi baik, loyalitas pelanggan, hingga keunggulan strategis.
- Izin dan Lisensi Usaha: Hak legal yang diterima dari otoritas untuk menjalankan operasional atau aktivitas bisnis tertentu di suatu wilayah.
- Biaya Lisensi Perangkat Lunak: Biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan hak penggunaan program atau pengembangan perangkat lunak.
Biasanya dalam menjalankan operasi, bisnis, terutama MNC, memiliki banyak jumlah aset non-fisik yang perlu dikelola. Hal ini berarti pengelolaan manual tentu bukan merupakan suatu pilihan yang viable lagi, sehingga mereka beralih ke implementasi sistem asset management ScaleOcean.
4. Metode-metode Amortisasi
Berbeda dengan depresiasi (akan dibahas lebih lanjut dibawah), metode-metode yang dapat digunakan dalam amortisasi terbatas, yakni cenderung hanya berupa metode garis lurus dan saldo menurun. Pemilihan metode tersebut biasanya disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan perusahaan:
a. Metode Garis Lurus
Metode ini mengalokasikan beban secara merata setiap tahunnya selama masa manfaat aset. Karena tidak memiliki nilai residu, biaya perolehan aset dibagi langsung dengan estimasi umur ekonomisnya agar beban laporan keuangan tetap stabil. Rumusnya adalah:
Amortisasi = (Harga Perolehan – Nilai Residu) / Masa Penggunaan
b. Metode Saldo Menurun
Sedangkan, saldo menurun menetapkan beban amortisasi yang lebih besar pada tahun-tahun awal dan mengecil di periode berikutnya. Metode berikut digunakan jika perusahaan merasa manfaat ekonomi dari aset tidak berwujud tersebut akan lebih maksimal saat awal diperoleh. Rumusnya adalah:
Depresiasi = Harga Perolehan x Persentase Penyusutan
5. Contoh Perhitungan Amortisasi
Bayangkan skenario berikut. Sebuah perusahaan baru saja mengakuisi lisensi software ERP dari pihak penyedia sebesar Rp200.000.000,00 untuk masa penggunaan 4 tahun. Mereka kemudian menggunakan metode saldo menurun dengan persentase penyusutan di 50% pada setiap tahun. Maka perhitungan amortisasi pada tahun pertama adalah:
Amortisasi = 200.000.000 x 50%
Amortisasi = 100.000.000
Catatan Penting: Tahun ke-2 akan menjadi 50% dari 100.000.000, yakni 50.000.000, tahun ke-3 25.000.000, dan tahun ke-4 sisanya diamortisasikan secara sekaligus.
Untuk menghitung beban pajak pada tahun tersebut, kami harus merujuk pada pajak penghasilan (PPh) badan terkini berdasarkan UU no.7/2021, yakni 22%. Bila diasumsikan bahwa laba kotor pada periode tersebut adalah Rp 1 miliar, maka beban pajaknya adalah:
Pajak yang Berlaku = (1.000.000.000 – 100.000.000) x 22%
Pajak yang Berlaku = 900.000.000 x 22%
Pajak yang Berlaku = 198.000.000
6. Apa Perbedaan Amortisasi dan Depresiasi?
Selain amortisasi, terdapat juga sebuah istilah terkait yang serupa, yakni depresiasi. Kedua hal berikut merupakan beban operasional dan cenderung berdekatan satu sama lain dalam sebagian besar laporan keuangan, serta merupakan komponen dalam perhitungan EBITDA.
Jadi, apa yang membedakan kedua aspek akuntansi tersebut? Singkatnya, amortasi merupakan penyebaran biaya untuk aset-aset tidak berwujud seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Sedangkan, depresiasi merujuk pada penyebaran untuk aset-aset berwujud, contohnya aset tetap seperti kendaraan dan gedung yang memiliki nilai residu.
Baca juga: Aset Lancar dan Tidak Lancar: Pengertian dan Perbedaannya
7. Kesimpulan
Amortisasi adalah metode akuntansi untuk mendistribusikan beban aset non-fisik secara bertahap demi menjaga akurasi laporan keuangan. Selain mencerminkan nilai asli benda, praktik ini juga membantu perusahaan mengelola kewajiban pajak dan menjaga stabilitas arus kas secara lebih terukur.
Untuk mendukung perhitungan tersebut, implementasi asset management software seperti ScaleOcean dapat membantu menyederhanakan pencatatan aset perusahaan Anda. ScaleOcean menyediakan solusi yang mempermudah pengelolaan laporan keuangan secara otomatis melalui layanan demo gratis yang dapat Anda coba.
FAQ:
1. Apa yang dimaksud dengan amortisasi?
Amortisasi adalah alokasi harga perolehan sebuah aset non-fisik, seperti hak cipta dan lisensi software, yang dilakukan secara bertahap selama periode penggunaannya. Hal ini dilakukan untuk memberikan gambaran keuangan lebih akurat, beserta juga memberikan keuntungan pajak pada masing-masing siklus akuntansi.
2. Apa bedanya penyusutan dan amortisasi?
Perbedaan penyusutan (depresiasi) dan amortisasi terletak pada objek yang diperhitungkannya. Penyusutan memfaktorkan tangible assets atau aset berwujud, sedangkan amortisasi memfaktorkan intangible assets atau aset tidak berwujud.
3. Bagaimana cara menghitung amortisasi?
Metode perhitungan amortisasi cenderung terbatas dan biasanya dilakukan melalui dua metode, garis lurus dan saldo menurun.




