Upstream dan downstream adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan berbagai tahapan dalam suatu proses, khususnya dalam rantai pasokan (supply chain), industri, dan jaringan data. Namun, masih banyak perusahaan yang kesulitan memahami perbedaan kedua fase ini.
Memahami perbedaan antara upstream dan downstream sangat penting bagi perusahaan. Kedua tahapan ini menggambarkan alur proses yang berbeda, dan pemahaman yang mendalam akan membantu perusahaan merencanakan strategi produksi dan distribusi secara lebih efisien dan efektif.
Dalam artikel ini, pembaca dapat menggunakan informasi mengenai pengertian dan perbedaan upstream dan downstream. Hal ini dapat menjadi pertimbangan untuk merancang strategi rantai pasok bisnis yang lebih baik, meningkatkan efisiensi operasional, dan mengoptimalkan rantai pasokan perusahaan Anda.
- Upstream dan downstream adalah istilah yang merujuk pada tahapan dalam proses, di mana upstream adalah tahap awal (hulu) dan downstream adalah tahap akhir (hilir).
- Proses upstream dalam supply chain melibatkan pengadaan bahan baku, pemilihan pemasok, transportasi, dan pengelolaan persediaan.
- Proses downstream melibatkan distribusi produk jadi, penyimpanan di gudang, pemasaran, penjualan melalui pengecer, dan pengiriman ke konsumen akhir.
- Software Scale 360 dari ScaleOcean memberikan solusi ERP fleksibel, terintegrasi, dan hemat biaya untuk mengelola, mengukur, dan melaporkan kinerja bisnis secara efisien.
1. Apa itu Upstream dan Downstream?
Upstream adalah bagian dari rantai pasokan yang melibatkan pengadaan bahan baku dan proses produksi hingga menghasilkan barang jadi. Ini mencakup semua kegiatan yang terjadi sebelum produk akhir siap untuk didistribusikan.
Sedangkan, downstream merupakan bagian dari proses bisnis yang mencakup kegiatan distribusi, pemasaran, penjualan, hingga layanan pelanggan. Ini mengacu pada tahap dalam rantai nilai yang berfokus pada pergerakan produk jadi dari produsen ke konsumen akhir melalui jalur distribusi.
Dalam tahap upstream, perusahaan sering kali berfokus pada eksplorasi dan ekstraksi sumber daya alam, seperti minyak dan mineral, yang merupakan bagian dari bisnis ekstraktif. Kegiatan ini sangat bergantung pada kondisi geologis serta infrastruktur yang ada untuk mendukung operasi.
Di industri minyak dan gas, apa itu upstream merujuk pada kegiatan eksplorasi dan produksi sumber daya alam, yang berfokus pada pencarian, eksplorasi, dan produksi bahan mentah seperti minyak mentah dan gas alam. Upstream juga mencakup tahap awal yang penting sebelum produk tersebut diproses lebih lanjut dalam tahap downstream.
Sedangkan pihak yang terlibat dalam poses downstream di antaranya distributor, pengecer, dan saluran distribusi lainnya yang bertugas mengantarkan produk ke pasar atau langsung ke konsumen. Downstream juga mencakup aspek pemasaran dan penjualan produk akhir kepada konsumen atau industri lain.
Baca juga: Pengertian Green Supply Chain Management dan Manfaatnya
2. Tujuan Upstream dan Downstream
Dalam rantai pasokan, upstream dan downstream memainkan peran penting dalam memastikan kelancaran aliran barang dan layanan dari pemasok hingga ke konsumen akhir. Upstream fokus pada pengadaan bahan baku dan produksi, sementara downstream berfokus pada distribusi, penjualan, dan layanan pelanggan.
Ketika kedua aspek ini berjalan bersinergi, perusahaan dapat memaksimalkan kinerja operasional, mengurangi biaya, dan meningkatkan kepuasan pelanggan. Berikut pembahasan lebih detail dari tujuan keduanya.
a. Meningkatkan Efisiensi Operasional
Efektivitas dalam mengelola proses upstream dan downstream sangat penting untuk meningkatkan efisiensi operasional secara keseluruhan. Dengan memastikan aliran barang dan informasi yang lancar, perusahaan dapat mengurangi waktu tunggu di setiap tahap, dari pengadaan bahan baku hingga distribusi produk akhir.
Ketika kedua proses ini terkoordinasi dengan baik, proses produksi dan distribusi menjadi lebih cepat dan tepat waktu, meningkatkan produktivitas dan meminimalkan pemborosan. Koordinasi yang baik antara upstream dan downstream juga membantu perusahaan dalam menghindari masalah seperti kelebihan stok atau keterlambatan pengiriman.
Sebagai contoh, jika bahan baku diperoleh tepat waktu dan proses produksi berjalan sesuai jadwal, produk akan lebih cepat tersedia untuk distribusi. Hal ini mengurangi waktu yang diperlukan untuk memenuhi permintaan pelanggan dan membantu perusahaan mempertahankan keuntungan kompetitif di pasar yang semakin cepat dan dinamis.
b. Pengelolaan Sumber Daya yang Lebih Baik
Pengelolaan sumber daya yang baik di tahap upstream memastikan bahwa bahan baku yang dibutuhkan tersedia dengan tepat waktu dan dalam jumlah yang cukup. Hal ini mendukung kelancaran proses produksi tanpa adanya gangguan yang bisa memperlambat proses produksi.
Di sisi downstream, pengelolaan sumber daya yang efisien membantu dalam distribusi produk secara lebih tepat waktu dan minim biaya. Dengan perencanaan yang matang, perusahaan dapat mengoptimalkan setiap tahap dari produksi hingga pengiriman ke konsumen.
c. Pengendalian Biaya
Pengendalian biaya dalam upstream berfokus pada pemilihan pemasok yang tepat serta pengelolaan pengadaan bahan baku yang efisien. Dengan cara ini, perusahaan dapat menekan biaya produksi dan memastikan bahan baku yang dibeli sesuai dengan kualitas yang diinginkan tanpa pemborosan.
Di tahap downstream, pengendalian biaya berfokus pada pengelolaan biaya distribusi, penyimpanan, dan pemasaran produk. Dengan pengelolaan yang efisien, perusahaan dapat mengurangi pengeluaran yang tidak perlu dan meningkatkan profitabilitas dalam jangka panjang.
d. Peningkatan Kualitas Produk
Kualitas produk sangat dipengaruhi oleh pengelolaan bahan baku yang dilakukan di tahap upstream. Jika bahan baku yang diperoleh memiliki kualitas tinggi dan diproses dengan standar yang tepat, produk akhir yang dihasilkan akan lebih unggul dan memenuhi harapan pasar.
Pada tahap downstream, kualitas produk tetap dijaga dengan proses distribusi yang terorganisir dengan baik. Produk yang dikirim ke pasar dalam kondisi yang baik dan tepat waktu akan mempertahankan kualitasnya serta meningkatkan kepuasan pelanggan.
Menurut Deloitte, strategi rantai pasokan terintegrasi dengan visibilitas end-to-end membantu perusahaan menyelaraskan proses upstream dan downstream secara efisien. Hal ini juga memastikan bahwa kualitas bahan baku yang digunakan dan produk akhir yang dihasilkan tetap konsisten dan sesuai dengan standar yang diharapkan.
e. Memaksimalkan Penjualan dan Pendapatan
Upstream yang terkelola dengan baik memastikan bahan baku tersedia untuk produksi, mendukung kelancaran proses produksi. Ketika produksi dapat dilakukan sesuai jadwal, produk siap untuk memenuhi permintaan pasar dan berpotensi meningkatkan penjualan.
Di sisi downstream, distribusi yang efisien memastikan produk tersedia di pasar tepat waktu, memenuhi permintaan konsumen. Dengan pengelolaan yang baik, perusahaan dapat mengoptimalkan alur distribusi dan meningkatkan pendapatan melalui peningkatan penjualan produk.
f. Peningkatan Kepuasan Pelanggan
Efisiensi di tahap upstream memungkinkan produk diproduksi dengan lebih cepat dan memenuhi standar kualitas yang diinginkan. Produk yang diproduksi dengan kualitas tinggi dan tepat waktu akan meningkatkan kepuasan pelanggan yang pada akhirnya menciptakan loyalitas terhadap merek.
Di tahap downstream, distribusi yang efisien memastikan produk sampai ke konsumen akhir sesuai jadwal. Kepuasan pelanggan semakin meningkat ketika produk diterima dalam kondisi baik, serta adanya layanan purna jual yang responsif memperkuat hubungan jangka panjang dengan konsumen.
g. Mampu Fleksibel dalam Merespon Permintaan Pasar
Proses upstream yang efisien memungkinkan perusahaan menyesuaikan tingkat produksi dengan cepat sesuai perubahan permintaan pasar. Ketika perusahaan dapat dengan mudah mengatur kapasitas produksi, mereka dapat menghindari kekurangan atau kelebihan stok yang merugikan.
Fleksibilitas di tahap downstream juga penting untuk merespon permintaan pasar yang dinamis. Dengan sistem distribusi yang terkoordinasi dengan baik, perusahaan dapat menyesuaikan jumlah produk yang didistribusikan ke berbagai saluran, memastikan pasokan produk selalu sesuai dengan permintaan konsumen.
Menurut Forbes, perusahaan dapat meningkatkan fleksibilitas supply chain dengan mengoptimalkan kolaborasi dan penggunaan platform perencanaan yang canggih bersama pemasok. Ini membantu dalam merespon perubahan permintaan dan mengurangi risiko upstream.
3. Perbedaan Upstream dan Downstream

Upstream dan Downstream adalah istilah umum dalam rantai pasok, akuntansi, serta berbagai sektor industri. Perbedaannya terletak pada arah aliran material, informasi, dan fokus aktivitas.
Upstream mencakup proses awal seperti pengadaan bahan mentah dan produksi, sedangkan Downstream mencakup proses akhir seperti distribusi, penjualan, dan layanan purna jual. Untuk lebih detail, berikut adalah perbedaan downstream dan upstream:
a. Fokus
Fokus utama upstream adalah pada tahap pengadaan bahan baku dan sumber daya yang dibutuhkan untuk memulai proses produksi. Kegiatan ini mencakup eksplorasi, ekstraksi, dan pengolahan bahan mentah.
Sementara itu, downstream lebih fokus pada proses distribusi dan penjualan produk jadi kepada konsumen. Dalam hal ini, kegiatan downstream berperan untuk memastikan produk sampai ke tangan konsumen dengan cara yang efisien dan terorganisir.
b. Kegiatan Utama
Di bagian upstream, kegiatan utama melibatkan pencarian dan pemrosesan bahan baku, penelitian dan pengembangan produk baru, serta produksi komponen dasar. Hal ini melibatkan pencarian sumber daya alam atau bahan mentah.
Di sisi lain, downstream berfokus pada aktivitas yang berhubungan dengan distribusi, penjualan, serta pemasaran produk. Aktivitas ini memastikan produk siap dijual dan diterima oleh pasar.
c. Hubungan yang Harus Dikelola
Dalam upstream, perusahaan harus mengelola hubungan dengan pemasok bahan baku, pengembang teknologi, dan produsen komponen. Komunikasi yang baik sangat diperlukan untuk menjamin pasokan yang stabil.
Untuk downstream, hubungan yang harus dijaga lebih terfokus pada saluran distribusi, pengecer, dan konsumen akhir. Keterlibatan pihak ketiga dan keberhasilan dalam pemasaran memegang peranan penting dalam memastikan kelancaran proses distribusi.
d. Manajemen Risiko
Manajemen risiko dalam upstream berfokus pada faktor-faktor eksternal yang dapat memengaruhi kestabilan pasokan, seperti fluktuasi harga bahan baku dan keterbatasan pasokan. Selain itu, perusahaan juga perlu menghadapi tantangan terkait peraturan lingkungan yang dapat memengaruhi kelancaran operasi dan biaya produksi.
Sebaliknya, dalam downstream, risiko lebih terkait dengan permintaan pasar yang berubah-ubah, gangguan dalam distribusi, dan kepuasan pelanggan. Oleh karena itu, risiko yang dihadapi di setiap tahap ini memerlukan pendekatan yang berbeda dalam pengelolaannya.
e. Nilai Tambah
Nilai tambah dalam upstream sering kali terletak pada kemampuan untuk menyediakan bahan baku dengan kualitas tinggi, harga yang kompetitif, serta ketepatan waktu dalam pengiriman. Sementara itu, downstream menciptakan nilai tambah melalui pengalaman pelanggan yang lebih baik, aksesibilitas produk, dan peningkatan layanan purna jual.
Dengan demikian, kedua sisi rantai pasokan ini saling melengkapi untuk menciptakan produk akhir yang sukses di pasar. Untuk lebih mudah memahami penjelasan di atas, berikut tabel perbedaan upstream dan downstream secara detail:
| Kelebihan | Kekurangan | |
|---|---|---|
| Fokus |
|
|
| Aktivitas Utama |
|
|
| Hubungan yang Harus Dikelola |
|
|
| Manajemen Risiko |
|
|
| Nilai Tambah |
|
|
4. Tantangan dalam Proses Upstream dan Downstream
Dalam setiap rantai pasokan, upstream dan downstream memiliki tantangan unik yang dapat memengaruhi kelancaran operasi. Tantangan-tantangan ini memerlukan perhatian khusus agar aliran barang dan informasi tetap efisien.
Memahami dan mengelola masalah yang muncul di setiap tahap sangat penting untuk menjaga keberlanjutan dan efisiensi rantai pasokan secara keseluruhan. Berikut ini adalah penjelasan lebih dalam mengenai tantangan yang akan terjadi di metode upstream dan downstream.
a. Tantangan dalam Upstream
Pengadaan bahan baku yang sulit dan fluktuasi harga dapat mengganggu kelancaran produksi. Ketergantungan pada pemasok juga menambah risiko, karena masalah yang terjadi pada pemasok bisa memperlambat seluruh proses upstream.
Masalah bullwhip effect juga dapat memperburuk situasi ini, di mana ketidakpastian permintaan yang tidak akurat di hulu rantai pasok dapat menyebabkan perubahan yang berlebihan dalam volume pesanan dan persediaan, mempengaruhi seluruh proses produksi.
Perubahan regulasi, seperti kebijakan lingkungan, dapat memperburuk tantangan ini. Pembatasan baru dalam perolehan bahan baku atau pengelolaan limbah memengaruhi biaya dan waktu produksi, yang pada akhirnya berisiko merusak kelancaran operasional.
b. Tantangan dalam Downstream
Fluktuasi permintaan pasar sering menyebabkan kesulitan dalam merencanakan produksi dan distribusi. Kelebihan stok atau kekurangan pasokan dapat merugikan, mengganggu keseimbangan antara produksi dan pengiriman produk.
Masalah pengiriman, seperti keterlambatan atau kesalahan dalam distribusi, juga menjadi tantangan besar. Selain itu, perubahan regulasi terkait distribusi atau pajak dapat meningkatkan biaya dan memperlambat proses pengiriman ke konsumen akhir.
Software Scale 360 dari ScaleOcean adalah solusi lengkap yang mengintegrasikan semua fungsi bisnis Anda dalam satu platform, mempermudah pengelolaan operasional mulai dari pembelian, produksi, hingga distribusi. Dengan lebih dari 200 modul yang dapat disesuaikan, ScaleOcean memastikan setiap aspek bisnis berjalan efisien dan terhubung secara real-time.
Teknologi otomatisasi dan integrasi cerdas yang ditawarkan meningkatkan produktivitas tim Anda dan mempercepat pengambilan keputusan. Vendor ini menawarkan demo gratis dan juga konsultasi gratis untuk melihat bagaimana software ini dapat membantu mengoptimalkan bisnis Anda!


5. Proses Upstream pada Supply Chain
Apa itu upstream mencakup seluruh rangkaian kegiatan yang dimulai dari pengadaan bahan baku. Proses ini berlanjut dengan tahap produksi hingga menghasilkan barang jadi yang siap untuk didistribusikan.
Kegiatan ini meliputi pencarian pemasok, negosiasi harga, pengadaan bahan baku, manajemen persediaan, produksi, dan pengujian kualitas. Berikut adalah beberapa langkah utama dalam proses upstream pada supply chain:
a. Pencarian Sumber Bahan Baku
Proses ini melibatkan pencarian dan pemilihan pemasok yang dapat menyediakan bahan baku berkualitas tinggi dengan harga yang kompetitif. Perusahaan akan mengevaluasi berbagai pilihan pemasok berdasarkan kemampuan mereka dalam memenuhi kebutuhan material, waktu pengiriman, serta konsistensi kualitas bahan yang disediakan.
b. Pengadaan Bahan Baku
Setelah pemasok dipilih, perusahaan akan melakukan pembelian bahan baku yang dibutuhkan untuk produksi. Proses pengadaan melibatkan negosiasi harga, pengaturan pembayaran, serta kesepakatan mengenai waktu pengiriman. Pembelian bahan baku yang tepat waktu sangat penting untuk kelancaran produksi di tahap selanjutnya.
c. Transportasi dan Pengiriman Bahan Baku
Pengiriman bahan baku memerlukan pengaturan logistik yang efisien untuk memastikan bahan sampai tepat waktu dan dalam kondisi baik. Proses ini meliputi pengaturan transportasi, pelacakan pengiriman, serta pengelolaan risiko terkait kerusakan atau keterlambatan yang bisa memengaruhi kelancaran produksi.
d. Pemrosesan dan Pengolahan Bahan Baku
Beberapa bahan baku membutuhkan pemrosesan lebih lanjut sebelum digunakan dalam produksi, seperti pembersihan, pemotongan, atau perubahan sifat fisik dan kimiawi. Pengolahan ini menyiapkan bahan baku agar sesuai dengan standar yang diperlukan untuk tahap produksi berikutnya.
e. Pengelolaan Persediaan Bahan Baku
Manajemen persediaan bahan baku bertujuan untuk memastikan bahwa bahan yang diperlukan tersedia dalam jumlah yang cukup. Tujuannya adalah untuk menghindari kekurangan bahan yang dapat menghambat produksi, sekaligus mencegah pemborosan akibat kelebihan persediaan.
Sistem pengelolaan yang efisien meminimalkan biaya penyimpanan dan memastikan bahan baku tersedia saat dibutuhkan. Hal ini membantu perusahaan menghindari kekurangan atau kelebihan persediaan yang dapat memengaruhi biaya produksi.
f. Kualitas dan Pemeriksaan Standar
Pemeriksaan kualitas bahan baku penting untuk memastikan bahwa bahan yang diterima memenuhi standar yang ditentukan. Bahan baku yang tidak memenuhi syarat harus diganti atau diproses ulang. Proses kontrol kualitas ini mencegah penggunaan bahan yang cacat yang dapat memengaruhi kualitas produk akhir dan proses produksi.
Baca juga: Digital Supply Chain: Pengertian, Manfaat, dan Komponennya
6. Proses Downstream pada Supply Chain
Setelah membahas apa itu downstream, kami akan melanjutkan dengan membahas peran downstream dalam rantai pasokan. Downstream mencakup semua langkah yang terjadi setelah produk diproduksi dan siap untuk didistribusikan ke konsumen akhir melalui berbagai saluran distribusi.
Setiap tahap dalam proses ini sangat penting untuk memastikan produk sampai ke konsumen dengan baik dan tepat waktu. Berikut adalah beberapa langkah utama dalam proses downstream supply chain:
a. Distribusi Produk Jadi
Setelah produk selesai diproduksi, distribusi menjadi langkah penting untuk memastikan produk sampai ke konsumen. Hal ini melibatkan pengiriman ke grosir, pengecer, atau distributor melalui jalur logistik yang terorganisir. Pengaturan distribusi yang tepat waktu memastikan ketersediaan produk di pasar sesuai dengan permintaan konsumen.
b. Penyimpanan di Gudang
Perusahaan menyimpan produk jadi dalam gudang atau fasilitas penyimpanan sementara sebelum mendistribusikannya lebih lanjut. Pengelolaan gudang yang efisien sangat penting untuk mencegah penumpukan barang yang tidak perlu dan memastikan produk dapat dengan mudah diakses saat dibutuhkan untuk pengiriman ke pelanggan atau saluran distribusi.
c. Pemasaran dan Promosi
Pemasaran dan promosi produk merupakan bagian dari proses downstream yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan menarik minat konsumen. Strategi pemasaran ini mencakup berbagai kampanye iklan, diskon, atau promosi lainnya untuk membangun merek dan mendongkrak penjualan produk di pasar yang kompetitif.
d. Penjualan dan Pengecer
Produk yang sudah diproduksi akhirnya dijual melalui pengecer atau saluran distribusi lainnya. Ini bisa mencakup pengecer fisik atau platform e-commerce. Pengelolaan hubungan yang baik antara produsen dan pengecer penting untuk memastikan produk tersedia bagi konsumen dengan harga yang sesuai dan kualitas yang terjaga.
e. Pengiriman ke Konsumen Akhir
Setelah penjualan, produk dikirimkan kepada konsumen akhir, baik melalui pengiriman langsung atau pengambilan di toko. Pengiriman tepat waktu dan dalam kondisi baik sangat penting untuk kepuasan pelanggan. Sistem pengiriman yang efisien dapat memperkuat pengalaman konsumen dan membangun loyalitas terhadap merek.
f. Layanan Purna Jual
Layanan purna jual mencakup dukungan yang diberikan setelah produk diterima oleh konsumen, seperti garansi, perbaikan, atau penggantian produk. Hal ini memastikan kepuasan pelanggan berkelanjutan dan dapat meningkatkan loyalitas mereka terhadap produk atau merek, yang pada gilirannya mendorong repeat business dan rekomendasi positif.
7. Contoh Implementasi Upstream dan Downstream

Dalam setiap industri, upstream dan downstream perlu berjalan efektif untuk memastikan kelancaran rantai pasok. Berikut contoh penerapan keduanya untuk industri yang spesifik.
a. Industri Manufaktur
Sebagai contoh misalnya pada industri manufaktur otomotif. Tahap upstream berfokus pada pengadaan bahan baku seperti logam, plastik, dan komponen mesin. Pabrikan otomotif bekerja dengan pemasok bahan baku dan suku cadang untuk memastikan bahwa semua komponen tersedia tepat waktu untuk proses produksi dan memenuhi standar kualitas yang diperlukan.
Kemudian untuk proses downstream, produsen otomotif bekerja sama dengan dealer dan jaringan distribusi untuk memastikan kendaraan yang diproduksi dapat dijual dengan harga yang kompetitif. Selain itu, mereka juga mengelola layanan purna jual, termasuk pemeliharaan dan penyediaan suku cadang untuk pelanggan.
b. Industri Distribusi
Proses upstream untuk industri distribusi lebih mirip dengan manufaktur. Misalnya pada distribusi barang elektronik, hal ini melibatkan desain produk dan pengadaan bahan baku elektronik seperti chip, layar, dan baterai.
Proses ini juga mencakup hubungan dengan pemasok bahan mentah dan produsen komponen untuk memastikan kualitas dan ketersediaan barang untuk produksi. Sedangkan pada tahap downstream, perusahaan elektronik berfokus pada distribusi produk ke berbagai retailer dan e-commerce.
Mereka juga menyediakan layanan pelanggan dan garansi untuk produk-produk tersebut. Pengelolaan persediaan produk dan gudang yang efisien diperlukan untuk memastikan produk sampai ke konsumen dengan cepat dan tanpa kendala.
c. Industri Minyak dan Gas
Sedikit berbeda untuk industri minyak dan gas, apa itu upstream terjadi ketika perusahaan melakukan eksplorasi dan ekstraksi sumber daya alam, seperti pengeboran sumur minyak dan gas. Ini melibatkan kerja sama dengan berbagai pihak terkait, mulai dari teknologi pengeboran hingga pengelolaan lingkungan.
Setelah ekstraksi, tahap downstream berfokus pada pemurnian minyak dan gas, serta distribusinya ke pasar dalam bentuk produk olahan seperti bensin, diesel, dan gas alam. Proses ini melibatkan pengelolaan jalur distribusi dan pengecer, serta layanan purna jual bagi konsumen energi.
8. Kesimpulan
Artikel ini bisa kita tarik kesimpulan bahwa untuk memaksimalkan rantai pasokan dalam proses bisnis produksi, perusahaan bisa menerapkan upstream dan downstream dengan maksimal. Untuk itu, penting untuk memahami bagaimana pengelolaan dan perbedaan antara keduanya dengan mudah.
Dengan pemahaman tersebut, Anda bisa dengan mudah mengoptimalkan operasi, mengelola risiko, dan meningkatkan kepuasan pelanggan. Pengelolaan yang efektif di kedua tahap ini, memastikan kelancaran produksi dan distribusi, sekaligus meningkatkan daya saing di pasar.
Dengan Software Scale 360, Anda dapat mengoptimalkan seluruh proses bisnis secara efisien dan terintegrasi, memastikan setiap alur kerja berjalan lancar dan produktif. Vendor ini menawarkan demo gratis dan konsultasi gratis untuk mulai merasakan manfaat sistem ini dalam mengelola bisnis Anda!
FAQ:
1. Apa yang dimaksud dengan upstream?
Upstream melibatkan proses produksi yang fokus pada eksplorasi dan ekstraksi. Eksplorasi bertujuan untuk menemukan sumber minyak dan gas bumi menggunakan teknik khusus, sementara ekstraksi adalah proses pengambilan minyak dan gas dari bawah permukaan bumi ke permukaan.
2. Downstream artinya apa?
Downstream adalah proses lanjutan dari upstream, yaitu pengolahan bahan mentah menjadi produk jadi. Kegiatan ini melibatkan transformasi material dasar menjadi barang yang siap digunakan atau dijual.
3. Apa bedanya upstream dan downstream?
Rantai pasokan global mengoptimalkan penggunaan barang dan jasa dari berbagai negara untuk menghasilkan produk dengan biaya lebih rendah. Namun, tantangan seperti keterbatasan peralatan dan kendala tenaga kerja dapat mempengaruhi kelancaran operasi.



