Penerapan GSCM atau green supply chain management di Indonesia semakin menjadi fokus utama perusahaan-perusahaan yang ingin mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional. Untuk itu, penerapan GSCM menjadi langkah strategis untuk menghadapi tantangan lingkungan global.
Penerapan GSCM tidak hanya membantu mengurangi limbah dan emisi, tetapi juga menciptakan peluang baru untuk inovasi dalam proses produksi dan distribusi. Banyak perusahaan yang mulai beralih ke model bisnis ramah lingkungan, yang tidak hanya mendukung planet ini tetapi juga mendatangkan keuntungan jangka panjang.
Artikel ini akan mengulas bagaimana penerapan Green Supply Chain Management dapat mengoptimalkan operasional perusahaan, meningkatkan reputasi, dan membawa dampak positif pada keberlanjutan bisnis Anda. Kami juga akan memberikan contoh implementasi green supply chain management di Indonesia dari berbagai industri.
- Green supply chain management adalah penerapan prinsip keberlanjutan dan praktik ramah lingkungan dalam setiap tahap rantai pasok.
- Manfaat GSCM yaitu penghematan biaya operasional, peningkatan citra perusahaan, kepatuhan terhadap regulasi lingkungan, pengurangan dampak lingkungan, serta pengelolaan risiko.
- Tantangan dalam penerapan GSCM meliputi biaya investasi awal yang tinggi, kurangnya pemasok ramah lingkungan, keterbatasan teknologi, serta tantangan dalam merubah kebiasaan bisnis.
- Software ScaleOcean SCM membantu perusahaan mengintegrasikan praktik GSCM dalam rantai pasokan dengan mengoptimalkan sumber daya, mengurangi pemborosan, dan meningkatkan efisiensi.
1. Apa Itu Green Supply Chain Management (GSCM)?
Green Supply Chain Management (GSCM) adalah penerapan prinsip keberlanjutan dan praktik ramah lingkungan dalam setiap tahap rantai pasok. Ini mencakup pengadaan bahan baku, proses produksi, logistik, hingga pengelolaan produk akhir, dengan tujuan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan meningkatkan efisiensi operasional.
Penerapan GSCM berfokus pada pengurangan limbah, emisi, dan konsumsi energi. Inovasi seperti desain produk ramah lingkungan dan pengadaan hijau menjadi bagian penting dalam mencapainya. Melalui langkah-langkah ini, perusahaan dapat mengoptimalkan sumber daya, meningkatkan efisiensi, dan menekan biaya operasional.
Keberhasilan implementasi GSCM bergantung pada kerjasama yang erat antara perusahaan dan pemasok. Pemasok harus mematuhi standar lingkungan yang ketat, sementara perusahaan perlu mengikuti kebijakan lingkungan yang berlaku dan memenuhi persyaratan pasar. Hal ini memastikan manajemen rantai pasok berjalan secara berkelanjutan.
2. Elemen Kunci dalam Green Supply Chain Management
Komponen dalam Green Supply Chain Management (GSCM) mencakup green design, green purchasing, green production, green logistics, dan reverse logistics. Setiap elemen ini berperan penting dalam menciptakan rantai pasok berkelanjutan. Berikut ini penjelasan selengkapnya untuk setiap elemen tersebut:
a. Green Design
Green design adalah perancangan produk dengan mempertimbangkan dampak lingkungan. Ini mencakup pemilihan material yang mudah didaur ulang, desain proses produksi yang efisien dalam penggunaan energi, serta pengurangan limbah yang dihasilkan selama produksi. Tujuannya adalah untuk menciptakan produk yang lebih ramah lingkungan.
b. Green Purchasing/Procurement
Green purchasing/procurement melibatkan pemilihan bahan baku dan pemasok yang berkomitmen pada praktik ramah lingkungan. Perusahaan harus memastikan bahwa pemasok menggunakan bahan baku terbarukan, meminimalkan limbah, serta mematuhi standar lingkungan seperti sertifikasi ISO 14001 untuk meningkatkan keberlanjutan.
c. Green Production/Manfacturing
Proses produksi yang ramah lingkungan (green manufacturing) menggunakan sumber energi dengan dampak rendah dan menghasilkan sedikit limbah serta polusi. Green production berfokus pada efisiensi energi, pengurangan limbah, dan penggunaan teknologi yang mengurangi jejak karbon selama proses produksi.
d. Green Logistics
Green logistics bertujuan untuk mengurangi dampak lingkungan dari kegiatan logistik, seperti transportasi dan pergudangan. Beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain optimalisasi rute pengiriman, digitalisasi proses logistik, dan penggunaan armada yang ramah lingkungan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.
e. Reverse Logistics
Reverse logistics berfokus pada pengelolaan produk dan material yang digunakan kembali atau didaur ulang. Proses ini mencakup perbaikan, pembaruan, atau produksi ulang barang, serta pengelolaan limbah secara aman, untuk mengurangi dampak lingkungan dan memaksimalkan nilai dari produk yang sudah tidak terpakai.
Baca juga: Bullwhip Effect: Pengertian, Penyebab, dan Strateginya
3. Apa Manfaat Green Supply Chain Management?
Rantai pasok hijau membantu perusahaan menekan biaya operasional, meningkatkan citra dan reputasi, memastikan kepatuhan regulasi lingkungan, mendorong inovasi berkelanjutan, mengurangi dampak lingkungan, serta memitigasi risiko bisnis agar lebih tangguh dan berkelanjutan dalam jangka panjang. Ini penjelasan selengkapnya:
a. Penghematan Biaya
Meskipun penerapan rantai pasok hijau memerlukan investasi awal untuk teknologi dan pelatihan staf, manfaat finansial jangka panjang yang dihasilkan sangat signifikan. Penggunaan energi yang lebih efisien, pengurangan limbah, serta pengelolaan transportasi yang hemat bahan bakar dapat menurunkan biaya operasional secara keseluruhan.
Sebagai contoh, perusahaan logistik Geodis melaporkan bahwa mereka berhasil mengurangi emisi CO2 sebanyak 21 ton per tahun dan menghemat sekitar EUR 11.000 dalam biaya operasional tahunan. Hal ini menunjukkan pengelolaan supply chain ramah lingkungan dapat menghasilkan penghematan signifikan dalam jangka panjang.
b. Peningkatan Citra Perusahaan dan Reputasi
Dengan menerapkan GSCM, perusahaan dapat memperkuat citra merek mereka sebagai entitas yang peduli pada kelestarian lingkungan. Hal ini membantu menarik pelanggan dan investor yang berfokus pada keberlanjutan, serta memberikan keunggulan kompetitif dalam pasar yang semakin peduli terhadap isu-isu lingkungan.
Selain itu, melalui digitalisasi supply chain, perusahaan dapat meningkatkan transparansi dan efisiensi, yang semakin memperkuat reputasi mereka sebagai pelopor dalam penggunaan teknologi untuk keberlanjutan.
c. Kepatuhan terhadap Regulasi Lingkungan yang Ketat
Melalui rantai pasok hijau, perusahaan dapat memastikan kepatuhan terhadap regulasi lingkungan yang semakin ketat. Hal ini membantu perusahaan menghindari risiko hukum dan denda yang dapat merusak operasional serta menjaga kelancaran aktivitas bisnis mereka tanpa gangguan dari pelanggaran lingkungan.
d. Mendorong Inovasi dalam Produk dan Proses
Penerapan GSCM mendorong perusahaan untuk terus berinovasi dalam pengembangan produk dan proses yang ramah lingkungan. Inovasi ini dapat membuka peluang pasar baru dan memberi nilai tambah kepada perusahaan dengan memenuhi permintaan pasar yang lebih mengutamakan solusi berkelanjutan.
e. Pengurangan Dampak Lingkungan
Pentingnya green supply chain management di Indonesia yaitu untuk mengurangi jejak karbon dan limbah pabrik yang dihasilkan oleh operasional perusahaan. GSCM berfokus pada pengurangan emisi gas rumah kaca, penggunaan bahan beracun, dan volume limbah, yang mendukung pelestarian lingkungan dan ekosistem global.
Pajak karbon di Indonesia diatur dalam UU No. 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Perpajakan (UU HPP). UU ini menetapkan pajak atas emisi CO2 dari sektor pembangkit listrik tenaga uap batubara dengan tarif Rp30 per kg CO2e. Penerapan pajak ini bertujuan untuk mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca dan perubahan menuju energi bersih.
f. Manajemen Risiko untuk Keberlanjutan Bisnis
Mengadopsi GSCM membantu perusahaan memitigasi risiko yang terkait dengan kelangkaan sumber daya dan pengetatan regulasi lingkungan. Pendekatan berkelanjutan ini memastikan perusahaan siap menghadapi tantangan global dan meningkatkan ketahanan serta keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang.
4. Contoh Penerapan Green Supply Chain Management di Berbagai Industri
Contoh penerapan manajemen Green Supply Chain di berbagai industri antara lain F&B, otomotif, tekstil, dan logistik, yang berfokus pada pengurangan emisi, efisiensi sumber daya, penggunaan teknologi ramah lingkungan, serta optimalisasi proses distribusi dan produksi. Berikut ini penjelasannya:
- Industri F&B: Mengadopsi kemasan yang lebih ramah lingkungan dan mendukung pertanian lokal untuk mengurangi dampak ekologis.
- Industri Otomotif: Mengganti kendaraan berbahan bakar fosil dengan kendaraan listrik dalam proses distribusi untuk mengurangi emisi.
- Industri Tekstil: Menggunakan teknologi yang menghemat air dan energi dalam proses produksi kain untuk mengurangi penggunaan sumber daya, serta limbah tekstil.
- Industri Logistik: Mengoptimalkan rute pengiriman dan menggunakan kendaraan yang lebih hemat bahan bakar untuk menurunkan emisi dan biaya.
5. Tantangan dalam Penerapan Green Supply Chain Management
Tantangan utama penerapan green supply chain management adalah tingginya biaya investasi awal, keterbatasan pemasok ramah lingkungan, rendahnya kesadaran internal, regulasi yang belum konsisten, keterbatasan teknologi, serta kebutuhan perubahan proses dan budaya kerja di seluruh rantai pasok. Berikut penjelasan setiap tantangan tersebut:
- Biaya Investasi Awal yang Tinggi: Penerapan Green Supply Chain memerlukan investasi awal yang besar untuk teknologi ramah lingkungan dan pelatihan staf, yang dapat menjadi hambatan bagi banyak perusahaan.
- Kurangnya Pemasok dengan Standar Ramah Lingkungan: Banyak pemasok belum memenuhi standar lingkungan yang diperlukan, sehingga perusahaan kesulitan mencari mitra yang sesuai untuk mendukung inisiatif green supply chain.
- Edukasi dan Kesadaran di Internal Perusahaan: Kurangnya pemahaman dan kesadaran tentang pentingnya keberlanjutan di kalangan karyawan dapat menghambat penerapan rantai pasok hijau secara efektif dalam perusahaan.
- Kebutuhan Regulasi yang Konsisten dari Pemerintah: Kurangnya regulasi lingkungan yang konsisten dari pemerintah dapat menghambat perusahaan dalam mengimplementasikan kebijakan ramah lingkungan secara menyeluruh dan efisien.
- Keterbatasan Teknologi: Beberapa teknologi yang diperlukan untuk penerapan GSCM masih terbatas, dengan harga yang relatif tinggi, sehingga tidak semua perusahaan, terutama yang kecil dan menengah, dapat mengaksesnya.
- Merubah Aktivitas Bisnis: Perusahaan perlu mengubah kebiasaan di setiap tahapan supply chain untuk menerapkan GSCM, yang memerlukan waktu dan usaha besar dalam merubah mentalitas serta budaya kerja di dalam bisnis.
Walau memiliki berbagai tantangan, namun penerapan GSCM pada tidak hanya mendukung keberlanjutan lingkungan tetapi juga meningkatkan efisiensi operasional dan daya saing perusahaan. Dengan memanfaatkan ScaleOcean SCM, perusahaan dapat mengintegrasikan proses ramah lingkungan dalam rantai pasokan mereka.
6. Kesimpulan
Green Supply Chain Management adalah penerapan prinsip keberlanjutan dalam setiap tahap rantai pasok untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan meningkatkan efisiensi operasional. GSCM membantu perusahaan menciptakan proses yang lebih ramah lingkungan, mengurangi limbah, dan menghemat sumber daya.
Manfaat utama GSCM mencakup penghematan biaya operasional, peningkatan citra perusahaan, serta kepatuhan terhadap regulasi lingkungan yang ketat. Selain itu, GSCM mendorong inovasi berkelanjutan dalam produk dan proses, mengurangi dampak lingkungan, dan meningkatkan ketahanan bisnis untuk menghadapi tantangan global.
Meski begitu, penerapan rantai pasok hijau menghadapi tantangan seperti biaya investasi tinggi, keterbatasan pemasok ramah lingkungan, dan kebutuhan akan teknologi yang lebih baik. Untuk membantu perusahaan dalam mengimplementasikan GSCM, rekomendasi SCM System seperti ScaleOcean menawarkan solusi yang dapat mengoptimalkan rantai pasokan ramah lingkungan.
Dengan menggunakan teknologi kami, perusahaan dapat mengintegrasikan praktik keberlanjutan dalam supply chain mereka, meningkatkan efisiensi dan mengurangi dampak lingkungan. Cobalah demo sistem tanpa biaya dari ScaleOcean dan mulailah perjalanan menuju keberlanjutan!
FAQ:
1. Apa yang dimaksud dengan green supply chain?
Green Supply Chain Management (GSCM) adalah pendekatan di mana perusahaan mengelola aliran barang dan jasa mulai dari pengadaan bahan baku, produksi, hingga distribusi produk akhir dengan mempertimbangkan dampak lingkungan, untuk menciptakan proses yang lebih ramah lingkungan.
2. Bagaimana membuat rantai pasokan menjadi hijau?
Untuk membuat rantai pasokan lebih hijau, perusahaan dapat mengembangkan produk dan proses yang ramah lingkungan. Hal ini meliputi pengurangan dampak negatif terhadap udara, tanah, dan air, mengurangi emisi gas rumah kaca, dan memantau kemajuan dengan menetapkan target pengurangan yang jelas.
3. Apa peran logistik hijau dalam manajemen rantai pasokan?
Logistik hijau berperan untuk meningkatkan keberlanjutan rantai pasokan dengan mengurangi emisi kendaraan, mengurangi limbah kemasan, dan mengoptimalkan konsumsi energi. Pendekatan ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga lebih hemat biaya dan meningkatkan efisiensi operasional.





