Apa itu Cloud Supply Chain Management dan Cara Kerjanya?

ScaleOcean Team
Posted on
Share artikel ini

Kunci dari operasi bisnis yang efektif adalah cloud supply chain management. Dalam sebuah rantai pasokan, terdapat berbagai tahapan yang melibatkan banyak pihak seperti pemasok, produsen, distributor, dan pelanggan.

Namun, masalah visibilitas dalam rantai pasokan sering kali menjadi kendala bagi perusahaan dalam memaksimalkan kinerja dan keuntungan mereka. Nah, cloud supply chain management dapat membantu bisnis Anda meningkatkan visibilitas dan efisiensi rantai pasok.

Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi cloud menjadi salah satu solusi yang populer untuk masalah fleksibilitas di perusahaan. Dalam artikel ini, kita akan membahas lebih detail tentang bagaimana cloud SCM dapat membantu perusahaan meningkatkan visibilitas rantai pasokan.

starsKey Takeaways

Coba Demo Gratis!

requestDemo

1. Apa itu Cloud Supply Chain Management?

Cloud supply chain management adalah penerapan komputasi awan untuk mengelola proses rantai pasok secara terintegrasi, dari perencanaan hingga pengiriman, dalam satu sistem terpusat yang bisa diakses kapan saja. Pendekatan ini meningkatkan visibilitas serta efisiensi, didukung analitik data dan AI untuk mempercepat respons terhadap perubahan.

Cloud based supply chain management menyatukan data dan proses rantai pasok dalam satu platform online, tidak seperti SCM tradisional yang terpisah di server lokal. Hasilnya, perusahaan bisa memantau pesanan, inventaris, dan pergerakan barang secara real-time serta mempercepat koordinasi lintas tim dari mana saja.

Menurut survei Fortune Business Insights, sekitar 21% eksekutif supply chain telah mengadopsi teknologi berbasis cloud untuk mengelola seluruh proses supply chain mereka. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan digitalisasi dan transformasi operasional, tren adopsi cloud SCM diperkirakan akan terus berkembang di masa depan.

2. Karakteristik Cloud Based Supply Chain Management

Cloud based supply chain management memiliki karakteristik utama berupa sistem terpusat yang mengintegrasikan seluruh data dan proses rantai pasok dalam satu platform berbasis cloud. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan mengelola perencanaan, pengadaan, produksi, hingga distribusi tanpa bergantung pada server lokal atau sistem terpisah.

Selain itu, sistem ini dirancang untuk menyediakan visibilitas real-time terhadap pergerakan barang, status inventaris, dan kinerja mitra bisnis. Dengan akses data yang selalu diperbarui, perusahaan dapat memantau kondisi operasional secara menyeluruh dan mengambil keputusan lebih cepat berdasarkan informasi aktual.

Karakteristik berikutnya terletak pada model jaringan yang menghubungkan berbagai pihak dalam satu ekosistem digital. Pemasok, produsen, distributor, dan mitra logistik dapat berkolaborasi langsung dalam satu platform, sehingga alur komunikasi menjadi lebih terstruktur, transparan, dan minim keterlambatan.

Dari sisi skalabilitas, cloud based supply chain management memungkinkan kapasitas sistem menyesuaikan pertumbuhan bisnis tanpa investasi infrastruktur tambahan. Perusahaan dapat memperluas cakupan operasional, menambah mitra, atau meningkatkan volume transaksi dengan tetap menjaga stabilitas dan efisiensi sistem.

3. Cara Kerja Cloud Supply Chain Management

Cara Kerja Cloud Supply Chain Management

Cloud supply chain management bekerja melalui integrasi sistem terpusat yang menghubungkan seluruh proses inti rantai pasok dalam satu platform berbasis cloud. Pendekatan ini memastikan data, alur kerja, dan kolaborasi antar pihak berjalan sinkron dari hulu hingga hilir.

a. Integrasi ERP dan Sistem Inti

Cloud supply chain management dimulai dari integrasi ERP dan sistem operasional utama seperti keuangan, pengadaan, produksi, dan inventaris. Integrasi ini membentuk satu sumber data terpusat yang menyatukan seluruh informasi penting dalam rantai pasok.

Dengan struktur tersebut, perusahaan dapat memantau aktivitas lintas divisi secara konsisten tanpa duplikasi data. Alur kerja menjadi lebih sinkron, sehingga perencanaan dan eksekusi operasional dapat berjalan lebih cepat dan terkontrol.

b. Demand Sensing dan Forecasting

Sistem memanfaatkan analitik data dan kecerdasan buatan untuk membaca pola permintaan dari data historis, tren pasar, dan perilaku pelanggan. Mekanisme ini membantu perusahaan memahami perubahan kebutuhan secara lebih dini.

Hasil analisis kemudian digunakan untuk menyusun perencanaan produksi dan pengadaan yang lebih akurat. Dengan prediksi yang lebih presisi, risiko kelebihan stok maupun kekurangan persediaan dapat diminimalkan.

c. Koordinasi Logistik dan Distribusi

Pada tahap distribusi, cloud supply chain management mengelola pergerakan barang melalui pemantauan rute, jadwal pengiriman, dan status armada secara real-time. Informasi ini memberikan visibilitas menyeluruh terhadap proses pengiriman.

Koordinasi yang terpusat membantu perusahaan merespons keterlambatan lebih cepat dan menyesuaikan rute bila terjadi gangguan. Alur distribusi pun menjadi lebih efisien, stabil, dan dapat diprediksi.

d. Kolaborasi Pemasok

Seluruh pemasok dan mitra bisnis terhubung dalam satu jaringan digital yang memungkinkan pertukaran data pesanan, jadwal produksi, dan ketersediaan bahan baku secara langsung. Kolaborasi ini mempercepat arus informasi antar pihak.

Dengan akses data yang sama, perusahaan dapat menjaga kontinuitas pasokan dan mengurangi potensi miskomunikasi. Hubungan dengan pemasok menjadi lebih transparan, terstruktur, dan siap menghadapi perubahan permintaan.

ERP

4. Komponen Utama Cloud Supply Chain Management

Cloud supply chain management terdiri dari beberapa komponen utama yang saling terintegrasi dalam satu ekosistem digital. Komponen utamanya mencakup perencanaan demand, procurement dan supplier management, inventory dan warehouse management, logistics dan distribution, serta analytics dan control tower.

Setiap komponen berperan mengelola tahapan berbeda dalam rantai pasok dan saling terhubung untuk memastikan proses berjalan terkoordinasi, transparan, dan efisien. Seluruh elemen ini bekerja bersama untuk memastikan alur rantai pasok berjalan efisien, transparan, dan terkontrol.

a. Perencanaan dan Demand Management

Komponen ini berfungsi mengelola perencanaan kebutuhan berdasarkan data permintaan, tren pasar, dan histori penjualan yang terintegrasi. Dengan pendekatan berbasis data, perusahaan dapat menyusun rencana produksi dan pengadaan secara lebih presisi.

Melalui analitik dan pemodelan prediktif, sistem membantu mengantisipasi fluktuasi permintaan sejak dini. Hasilnya, risiko kelebihan stok maupun kekurangan persediaan dapat dikendalikan dengan lebih efektif.

b. Procurement dan Supplier Management

Procurement dan supplier management mengelola seluruh proses pengadaan, mulai dari pemilihan pemasok hingga pemantauan kinerja vendor. Seluruh aktivitas tercatat dalam satu platform yang memudahkan pengawasan dan evaluasi.

Dengan integrasi data pemasok, perusahaan dapat memastikan ketersediaan bahan baku serta menjaga kesinambungan pasokan. Hubungan dengan pemasok pun menjadi lebih transparan dan terukur.

c. Inventory dan Warehouse Management

Komponen ini mengatur pencatatan stok, penempatan barang, serta pergerakan persediaan di dalam gudang secara real-time. Sistem membantu menjaga akurasi data inventaris di berbagai lokasi penyimpanan.

Melalui visibilitas menyeluruh, perusahaan dapat mengoptimalkan pemanfaatan ruang, mempercepat proses picking, dan mengurangi risiko kehilangan maupun keusangan barang. Operasional gudang menjadi lebih efisien dan terkendali.

d. Logistics dan Distribution

Logistics dan distribution mengelola perencanaan rute, jadwal pengiriman, serta pemantauan status pengiriman dari gudang hingga pelanggan akhir. Informasi ini memberikan visibilitas penuh terhadap proses distribusi.

Dengan koordinasi terpusat, perusahaan dapat merespons keterlambatan lebih cepat dan menyesuaikan rencana pengiriman bila terjadi gangguan. Kinerja logistik pun menjadi lebih andal dan dapat diprediksi.

e. Collaboration dan Integration Layer

Lapisan kolaborasi dan integrasi menghubungkan seluruh mitra bisnis dalam satu jaringan digital yang terpusat. Data pesanan, jadwal produksi, dan status pasokan dapat dibagikan secara langsung antar pihak terkait.

Integrasi ini menghilangkan silo informasi dan mempercepat alur komunikasi lintas organisasi. Dengan koordinasi yang lebih baik, perusahaan dapat menjaga stabilitas operasional dan meningkatkan kecepatan respons terhadap perubahan.

f. Analytics dan Control Tower

Komponen analytics dan control tower menyediakan tampilan terpusat untuk memantau seluruh aktivitas rantai pasok secara end-to-end. Dashboard ini menyajikan indikator kinerja, status operasional, dan potensi risiko secara real-time.

Melalui analitik lanjutan, perusahaan dapat mengidentifikasi hambatan, memprediksi gangguan, dan mengambil keputusan berbasis data. Control tower menjadi pusat kendali yang memperkuat visibilitas dan ketahanan rantai pasok.

5. Manfaat Cloud Supply Chain Management bagi Perusahaan

Penerapan cloud supply chain management memberikan berbagai manfaat strategis bagi perusahaan dalam mengelola rantai pasok modern. Manfaat tersebut mencakup peningkatan visibilitas end-to-end yang memungkinkan pemantauan seluruh aliran barang dan informasi secara real-time.

Selain itu, sistem ini juga mendukung integrasi lintas mitra bisnis, memperkuat ketahanan operasional, memberikan fleksibilitas skala, serta meningkatkan efisiensi biaya dan pengelolaan aset. Seluruh manfaat ini membantu perusahaan menjaga kinerja rantai pasok tetap stabil di tengah dinamika pasar.

a. Visibilitas Real-Time End-to-End

Cloud supply chain management menyediakan visibilitas menyeluruh terhadap aliran barang, informasi, dan aktivitas operasional dari hulu hingga hilir. Perusahaan dapat memantau status pesanan, inventaris, produksi, hingga pengiriman secara real-time dalam satu dashboard terpusat.

Dengan informasi yang selalu diperbarui, potensi keterlambatan, kekurangan stok, atau hambatan distribusi dapat terdeteksi lebih awal. Visibilitas ini memperkuat kontrol operasional dan membantu pengambilan keputusan berlangsung lebih cepat dan akurat. Hal ini akan sangat bermanfaat untuk sebuah restoran yang memiliki banyak cabang.

b. Integrasi Lintas Mitra Bisnis

Sistem cloud menghubungkan perusahaan dengan pemasok, produsen, distributor, dan mitra logistik dalam satu jaringan digital. Seluruh pihak bekerja dengan data yang sama, sehingga koordinasi berjalan lebih sinkron dan minim perbedaan informasi.

Integrasi lintas mitra mempercepat pertukaran data pesanan, jadwal produksi, serta status pengiriman. Alur kolaborasi pun menjadi lebih transparan, terstruktur, dan mendukung kelancaran operasional jangka panjang.

c. Ketahanan dan Agility Rantai Pasok

Cloud supply chain management membantu perusahaan merespons gangguan dengan lebih cepat melalui pemantauan risiko dan analitik prediktif. Sistem mampu mengidentifikasi potensi hambatan sebelum berdampak besar terhadap operasional.

Dengan ketahanan dan agility yang lebih baik, perusahaan dapat menyesuaikan perencanaan, mengalihkan rute distribusi, atau mengganti sumber pasokan tanpa menghentikan proses bisnis. Rantai pasok pun menjadi lebih adaptif terhadap perubahan pasar dan kondisi global.

Menurut laporan 2025 MHI Annual Industry Report bersama Deloitte, sekitar 55% pemimpin supply chain meningkatkan investasi mereka dalam teknologi dan inovasi. Teknologi cloud computing dan storage dilaporkan diadopsi oleh sekitar 91% responden sebagai bagian dari transformasi digital end-to-end supply chain.

d. Skalabilitas Operasional

Model cloud memungkinkan kapasitas sistem menyesuaikan pertumbuhan bisnis tanpa investasi infrastruktur tambahan. Perusahaan dapat menambah volume transaksi, lokasi gudang, maupun mitra baru dengan tetap menjaga stabilitas sistem.

Skalabilitas ini mendukung ekspansi bisnis secara bertahap dan terkontrol. Operasional dapat berkembang seiring kebutuhan tanpa mengorbankan kinerja, keamanan, maupun efisiensi sistem.

e. Efisiensi Biaya dan Aset

Cloud supply chain management membantu mengoptimalkan penggunaan persediaan, aset logistik, dan kapasitas gudang melalui perencanaan berbasis data. Pemborosan akibat kelebihan stok, distribusi tidak efisien, atau idle asset dapat ditekan secara signifikan.

Selain itu, perusahaan tidak perlu menanggung biaya besar untuk infrastruktur fisik dan pemeliharaan sistem lokal. Pengelolaan biaya menjadi lebih terprediksi, sekaligus meningkatkan profitabilitas jangka panjang.

6. Tantangan dalam Menerapkan Cloud Supply Chain Management

Meskipun menawarkan banyak manfaat strategis, penerapan cloud supply chain management juga menghadirkan sejumlah tantangan yang perlu dipertimbangkan perusahaan. Tantangan ini mencakup kesiapan teknologi, integrasi sistem, keamanan data, serta pengelolaan perubahan organisasi agar implementasi berjalan optimal.

Tantangan ini umumnya berkaitan dengan kesiapan sistem, keamanan data, integrasi teknologi, serta pengelolaan perubahan organisasi. Pemahaman yang tepat terhadap hambatan ini membantu perusahaan merancang strategi adopsi yang lebih matang.

a. Kesiapan Infrastruktur dan Sistem

Penerapan cloud SCM membutuhkan infrastruktur jaringan yang stabil dan andal agar akses data real-time dapat berjalan optimal. Tanpa konektivitas yang memadai, performa sistem berpotensi menurun dan mengganggu kelancaran operasional.

Selain itu, perusahaan perlu memastikan kesiapan sistem pendukung yang sudah ada. Integrasi dengan aplikasi lama memerlukan perencanaan teknis yang matang agar tidak menimbulkan gangguan pada proses bisnis yang sedang berjalan.

b. Integrasi dengan Sistem Eksisting

Sebagian besar perusahaan telah menggunakan berbagai aplikasi operasional sebelum beralih ke cloud SCM. Perbedaan format data dan arsitektur sistem sering menjadi hambatan dalam proses integrasi.

Tanpa integrasi yang baik, data berisiko terfragmentasi dan kehilangan konsistensi. Kondisi ini dapat mengurangi manfaat utama cloud SCM sebagai platform terpusat yang menyatukan seluruh proses rantai pasok.

c. Keamanan Data dan Kepatuhan Regulasi

Cloud SCM mengelola data operasional, keuangan, dan informasi mitra bisnis yang bersifat sensitif. Risiko kebocoran data dan akses tidak sah menjadi perhatian utama dalam proses adopsi.

Selain aspek teknis, perusahaan juga perlu memperhatikan regulasi perlindungan data dan kebijakan lintas negara. Kepatuhan terhadap standar keamanan dan tata kelola data menjadi syarat penting agar sistem dapat digunakan secara berkelanjutan.

d. Kesiapan Sumber Daya Manusia

Keberhasilan implementasi cloud SCM sangat bergantung pada kompetensi tim internal. Tanpa pemahaman yang memadai, potensi sistem tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.

Perusahaan perlu menyiapkan pelatihan dan pendampingan agar tim mampu mengelola sistem, membaca analitik, serta menyesuaikan alur kerja baru. Manajemen perubahan menjadi kunci untuk memastikan adopsi berjalan efektif.

e. Pengelolaan Biaya Implementasi

Meskipun model cloud lebih fleksibel, biaya implementasi awal tetap memerlukan perencanaan yang cermat. Kesalahan perhitungan dapat menyebabkan pembengkakan anggaran atau pemilihan solusi yang kurang sesuai kebutuhan.

Perusahaan perlu menilai total biaya kepemilikan secara menyeluruh, termasuk lisensi, integrasi, pelatihan, dan pemeliharaan. Dengan perencanaan yang tepat, investasi dapat memberikan nilai jangka panjang yang optimal.

7. Tips Menerapkan Sistem Supply Chain Management Cloud

Tips Menerapkan Sistem Supply Chain Management Cloud

Setiap perusahaan memiliki alur rantai pasok yang berbeda. Maka dari itu, satu sistem cloud SCM belum tentu cocok untuk di aplikasikan di semua bisnis. Dalam memilih sistem yang tepat, banyak hal yang perlu Anda pertimbangkan.

Apa saja? Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih software SCM terbaik. Jika semua faktor dipertimbangkan dengan baik, sistem ini pun bisa menjadi alat yang sangat bermanfaat bagi perusahaan untuk meningkatkan kinerja dan keuntungan dalam jangka panjang.

a. Sesuai Budget Perusahaan

Biaya inventasi untuk cloud supply chain management memanglah tidak murah. Perusahaan harus menyiapkan budget yang lebih besar dari harga sistem. Pasalnya, banyak biaya lainnya yang juga harus diperhitungkan seperti biaya implementasi, pelatihan, hingga pemeliharaan sistem.

Karena biaya implementasi tidak sedikit, perusahaan perlu memilih sistem yang memberikan nilai optimal dengan struktur biaya yang efisien. Dengan perencanaan yang tepat, anggaran dapat dialokasikan secara terkontrol tanpa mengorbankan kualitas dan keberlanjutan operasional.

b. Kemampuan Bisnis

Sebelum mengadopsi sistem manajemen rantai pasok berbasis cloud, perusahaan perlu memastikan kesiapan infrastruktur dan keamanan data yang memadai. Selain itu, ketersediaan tim yang kompeten menjadi faktor penting agar implementasi dan pengelolaan sistem berjalan optimal.

Selain itu, bisnis Anda juga harus memiliki jaringan internet yang cepat dan stabil. Pasalnya, kelancaran akses software sangatlah bergantung pada koneksi internet.

c. Sistem Terintegrasi

Sebelum menerapkan software SCM berbasis cloud, sebagian besar perusahaan umumnya telah menggunakan berbagai aplikasi pendukung, seperti sistem gudang dan aplikasi POS. Kondisi ini menuntut integrasi yang matang agar seluruh sistem dapat saling terhubung dan bekerja secara sinkron.

Maka dari itu, kemampuan integrasi adalah poin terpenting dalam memilih software yang tepat. Integrasi sistem SCM yang tepat dengan aplikasi yang sudah ada dapat melancarkan seluruh proses bisnis, tak terkecuali rantai pasokan.

d. Penerapan Teknologi Terbaru

Anda harus memilih cloud supply chain management yang menggunakan teknologi terbaru. Contohnya ada teknologi informasi ERP, artificial intelligence (AI), atau Internet of Things (IoT).

Dengan software ERP, Anda bisa mengelola seluruh arus informasi rantai pasok secara otomatis. Lalu, penerapan AI pada software SCM cloud dapat digunakan untuk memprediksi permintaan pelanggan dan memudahkan manajemen persediaan.

Sementara IoT dapat digunakan untuk memantau kondisi produk dan peralatan di seluruh rantai pasok. Solusi cloud SCM yang didukung oleh teknologi terbaru dapat memberikan keuntungan yang lebih besar bagi perusahaan dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas.

e. Pilih Vendor Terbaik

Vendor yang dipilih harus memiliki reputasi yang baik dan menawarkan layanan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Selain itu, pilihlah vendor yang memiliki pengalaman dalam menyediakan cloud based supply chain.

Perusahaan penyedia yang sudah berpengalaman dapat memberikan layanan yang lebih baik dan lebih memahami kebutuhan bisnis Anda. Pastikan untuk memeriksa portofolio dan referensi vendor.

8. Contoh Modul dan Fungsi dalam Cloud Supply Chain Management

Cloud supply chain management didukung oleh berbagai modul dan fungsi yang mengelola setiap tahapan rantai pasok secara terintegrasi. Modul-modul ini membantu perusahaan menyelaraskan perencanaan, pengadaan, produksi, hingga distribusi dalam satu ekosistem digital yang terkoordinasi.

a. Perencanaan (Planning)

Modul perencanaan berfungsi mengelola perencanaan permintaan dan perencanaan pasokan berdasarkan data historis, tren pasar, dan proyeksi penjualan. Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat menyusun rencana produksi dan pengadaan secara lebih presisi.

Melalui sinkronisasi antara permintaan dan kapasitas pasokan, risiko kelebihan stok maupun kekurangan persediaan dapat ditekan. Perencanaan yang akurat juga membantu menjaga stabilitas operasional dan ketepatan jadwal produksi.

b. Pengadaan (Procurement)

Fungsi procurement mengatur proses pemilihan pemasok, pembuatan pesanan pembelian, serta evaluasi kinerja vendor secara terpusat. Seluruh aktivitas pengadaan tercatat dalam satu sistem yang memudahkan pengawasan dan pengendalian biaya.

Dengan data pemasok yang terintegrasi, perusahaan dapat menjaga kesinambungan pasokan dan mempercepat proses pembelian strategis. Hubungan dengan pemasok pun menjadi lebih transparan dan terukur.

c. Manufaktur

Modul manufaktur mengelola aktivitas produksi di pabrik, termasuk penjadwalan, pemanfaatan kapasitas mesin, dan pengendalian proses kerja. Sistem membantu memastikan proses produksi berjalan sesuai rencana dan standar kualitas yang ditetapkan.

Untuk manufaktur teralih daya, modul ini memfasilitasi koordinasi dengan mitra produksi eksternal. Perusahaan dapat memantau progres produksi dan menjaga konsistensi output meskipun sebagian proses dilakukan di luar fasilitas internal.

d. Logistik

Fungsi logistik mengelola inventaris, pergudangan, dan transportasi dalam satu sistem terintegrasi. Perusahaan dapat memantau ketersediaan stok, pergerakan barang, serta status pengiriman secara real-time dari berbagai lokasi.

Dengan koordinasi terpusat, proses distribusi menjadi lebih efisien dan dapat diprediksi. Risiko keterlambatan, kehilangan barang, atau penumpukan stok dapat diminimalkan secara sistematis.

e. Manajemen Pesanan

Modul manajemen pesanan mengatur pencatatan, pemrosesan, dan pemenuhan pesanan pelanggan secara end-to-end. Sistem memastikan setiap pesanan tercatat dengan akurat dan diteruskan ke proses produksi maupun distribusi tepat waktu.

Dengan alur yang terintegrasi, perusahaan dapat meningkatkan kecepatan pemrosesan dan ketepatan pengiriman. Kepuasan pelanggan pun terjaga melalui layanan yang konsisten dan dapat diandalkan.

9. Software Scale 360 dari ScaleOcean untuk Mengoptimalkan Operasional Bisnis Anda

Mengelola rantai pasok sering kali menjadi tantangan besar bagi perusahaan, mulai dari keterlambatan pengadaan, stok tidak akurat, hingga distribusi yang tidak efisien. Tanpa sistem yang terintegrasi, bisnis rentan mengalami pemborosan biaya dan kehilangan peluang penjualan.

Software 360 Scale dari ScaleOcean hadir dengan berbagai keunggulan USP yang ditawarkan seperti harga flat tanpa biaya per user, after-sales service langsung dari tim internal, serta kemudahan kustomisasi sesuai workflow perusahaan. Sistem ini mendukung integrasi cabang dan platform lain, ideal untuk bisnis yang tumbuh.

Dilengkapi dengan fitur Smart MRP, Warehouse Management, Purchasing, Inventory, dan Trackingsoftware ini membantu menyederhanakan dan mengoptimalkan seluruh proses supply chain. Vendor ini menawarkan demo gratis dan nikmati juga konsultasi bisnis agar Anda dapat bespoke sistemnya dengan leluasa.

  • Inventory Management: Memantau stok secara real-time dan otomatis, memastikan ketersediaan barang tepat waktu dan mencegah kehabisan atau kelebihan stok.
  • Purchasing Management: Mengelola seluruh proses pembelian mulai dari permintaan hingga pembayaran vendor, mempercepat pengadaan dan memastikan efisiensi biaya.
  • Smart MRP (Material Requirement Planning): Menghitung kebutuhan bahan baku berdasarkan jadwal produksi dan permintaan pasar, membantu perencanaan produksi lebih presisi.
  • Warehouse Management: Mengoptimalkan proses penyimpanan, pengambilan, dan pengiriman barang agar lebih cepat dan akurat, mendukung efisiensi logistik.
  • Shipment and Tracking: Melacak status pengiriman barang secara real-time, memastikan distribusi berjalan sesuai jadwal dan meningkatkan kepuasan pelanggan.

10. Kesimpulan

Dalam kesimpulannya, cloud supply chain management dapat memberikan keuntungan yang besar bagi perusahaan dalam meningkatkan visibilitas dan efisiensi rantai pasok. Pilihlah software dengan mempertimbangkan hal-hal di atas agar cloud SCM dapat diadopsi dan dimaksimalkan secara optimal.

Percayakan teknologi terkini sistem Scale 360 dari ScaleOcean untuk menjalankan seluruh manajemen rantai pasok Anda. Dengan satu sistem, Anda dapat mengelola seluruh tahapan dan mengotomatiskan tugas berulang dalam SCM. Vendor ini menawarkan demo gratis serta konsultasi gratis agar Anda dapat mempelajari kemampuannya secara langsung.

FAQ:

1. Apa yang dimaksud dengan supply chain management?

Supply chain management adalah pengelolaan aliran barang, informasi, dan aktivitas operasional dari pengadaan bahan baku hingga distribusi produk ke pelanggan. Proses ini bertujuan memastikan ketersediaan produk, efisiensi biaya, dan kelancaran rantai pasok perusahaan.

2. Apa itu sistem manajemen rantai pasok berbasis cloud?

Sistem manajemen rantai pasok berbasis cloud adalah platform digital yang mengelola seluruh proses supply chain melalui komputasi awan. Sistem ini menyatukan data, proses, dan kolaborasi mitra bisnis dalam satu platform terpusat yang dapat diakses secara real-time.

3. Bagaimana cara kerja sistem supply chain management berbasis cloud?

Sistem ini bekerja dengan mengintegrasikan ERP, data operasional, dan mitra bisnis dalam satu platform cloud. Melalui analitik dan pemantauan real-time, perusahaan dapat mengelola perencanaan, produksi, distribusi, serta merespons gangguan dengan lebih cepat dan terkoordinasi.

4. Apa saja fungsi utama dalam Cloud SCM?

Fungsi utama Cloud SCM meliputi perencanaan permintaan, pengadaan, manajemen inventaris, produksi, logistik, kolaborasi mitra, serta analitik kinerja. Seluruh fungsi ini saling terintegrasi untuk menjaga kelancaran, efisiensi, dan visibilitas rantai pasok end-to-end.

Jadwalkan Demo Gratis

Error message
Error message
Error message
Error message
Error message
Error message

Rekomendasi Artikel Terkait

Temukan Artikel Serupa untuk Solusi Bisnis Lebih Lengkap