B2B Supply Chain Management: Manfaat serta Tantangan

Posted on
Share artikel ini

Supply chain management adalah salah satu aspek penting dalam dunia bisnis yang membahas tentang pengelolaan aliran rantai pasok dari pengadaan barang hingga pengiriman produk ke pelanggan. Nah, setiap perusahaan memiliki konsumen akhir yang berbeda-beda, sebagian ada yang customer dan ada juga yang bisnis.

Jenisnya ada B2C dan B2B supply chain management. Dimana B2C sendiri adalah kependekan dari Business-to-Consumer dan B2B adalah Business-to-Business. Meskipun keduanya memiliki tujuan yang sama, ada beberapa perbedaan yang perlu Anda ketahui untuk memastikan pengelolaan yang sesuai dengan industri perusahaan.

starsKey Takeaways
  • B2B supply chain management berfokus pada hubungan antar perusahaan, sedangkan B2C berfokus pada hubungan dengan konsumen langsung.
  • Manfaat manajemen rantai pasokan B2B terletak pada peningkatan efisiensi dan keuntungan, visibilitas rantai pasokan, dan layanan yang diberikan kepada pelanggan.
  • Sedangkan tantangannya berupa kondisi sosio-politik, fluktuasi tren permintaan, kompleksitas rantai pasokan, dan kurangnya transparansi data.
  • Penerapan sistem ERP seperti ScaleOcean menjadi semakin umum dalam manajemen rantai pasokan dikarenakan kemampuannya untuk mengelola berbagai operasi secara terpusat.

Coba Demo Gratis!

requestDemo

1. Apa itu B2B & B2C Supply Chain Management?

B2C supply chain management adalah sebuah metode pengelolaan rantai pasok yang menghubungkan bisnis Anda dengan pembeli. Bisnis yang menggunakan jenis rantai pasok ini umumnya memiliki target pasar yang lebih luas, karena Anda akan menawarkan produk atau jasa secara langsung kepada konsumen akhir.

Berbeda dengan sebelumnya, B2B supply chain management adalah sebuah sistem pengelolaan rantai pasok yang menghubungkan perusahaan satu dengan bisnis lainnya. Jadi, bisnis yang menerapkan jenis SCM satu ini memiliki target pasar yang lebih spesifik, karena strategi penjualan B2B tidak sembarangan dan biasanya memiliki harga yang cukup mahal.

Namun, terdapat sebuah kesamaan diantara keduanya, yakni semakin tingginya ketergantungan pada sistem SCM untuk menjalankan operasinya. Hal ini divalidasi ulang dengan proyeksi dari Grand View Research, yang menyatakan market share manajemen rantai pasokan akan bertumbuh hingga valuasi USD$ 48.59 miliar pada tahun 2030.

2. Perbedaan Rantai Pasok B2C vs B2B

Perbedaan manajemen rantai pasokan B2B dan B2C terletak pada beberapa hal/

Ada dua jenis supply chain management yang umum digunakan dalam dunia bisnis, yaitu B2C dan B2B. Kedua jenis SCM ini memiliki tujuan yang sama, yaitu memastikan kelancaran setiap tahapan dalam rantai pasok. Namun, kedua metode tersebut juga memiliki perbedaan signifikan dalam beberapa hal. Berikut penjelasannya:

a. Kebutuhan dan Permintaan

Perbedaan pertama terletak pada kebutuhan dan permintaan. Dalam B2B supply chain management, permintaan cenderung bersifat konsisten dan terdapat perjanjian atau kontrak jangka panjang antara pemasok dan pembeli. Hal tersebut mengartikan bahwa besarnya permintaan bisnis dapat diprediksi dan dikelola dengan cermat.

Sementara itu, permintaan dalam rantai pasok B2C cenderung lebih fluktuatif dan dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal seperti musim, trend, dan promosi. Kebutuhan konsumen pun cenderung lebih sedikit, karena masing-masing individu hanya membeli dalam jumlah kecil.

b. Produksi dan Pengiriman

Poin ini merupakan perbedaan utama dari B2C dan B2B rantai pasokan. Dalam SCM B2C, produk atau jasa yang ditawarkan harus siap dijual dan dikirimkan dalam waktu yang singkat. Biasanya, besarnya batch produksi akan disesuaikan dengan jumlah permintaan, agar mempersingkat waktu proses supply chain management.

Sedangkan dalam rantai pasokan Business-to-Business, waktu yang dibutuhkan untuk proses produksi dan pengiriman barang cenderung lebih lama. Pasalnya, suatu bisnis pastilah melakukan pembelian dalam jumlah yang besar. Jadi, perusahaan penyedia barang jasa perlu mempersiapkannya dengan baik.

c. Pengelolaan Persediaan

Dalam B2B supply chain management, persediaan sering kali disimpan dalam jumlah besar agar bisa memenuhi permintaan jangka panjang dari klien. Hal ini memungkinkan perusahaan Anda untuk meminimalisir biaya pengadaan, karena membeli bahan baku dengan jumlah yang banyak biasanya mendapatkan harga yang lebih murah.

Hal berbeda dialami oleh rantai pasok B2C, dimana persediaan sering disimpan dalam jumlah kecil untuk meminimalisir kerugian karena permintaan bersifat fluktuatif. Mengelola persediaan dengan cara ini memungkinkan bisnis Anda untuk lebih fleksibel dalam memenuhi permintaan konsumen dan menghilangkan risiko barang yang tidak terjual.

d. Cara Komunikasi

Penting bagi perusahaan untuk memastikan bahwa komunikasi dilakukan secara efektif dan efisien untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan. Dalam B2B supply chain management, komunikasi sering kali dilakukan secara langsung antara perusahaan dan pemasok dengan menggunakan email, telepon, atau pertemuan tatap muka.

Di sisi lain, komunikasi di B2C cenderung lebih interaktif dan dilakukan melalui berbagai media sosial dan platform online lainnya. Perusahaan juga dapat memanfaatkan media tersebut untuk memberikan informasi terkait promosi, diskon, atau ulasan produk untuk memudahkan konsumen dalam memahami dan membuat keputusan pembelian lebih baik.

e. Pengambilan Keputusan

Selain itu, ada juga perbedaan dalam proses pengambilan keputusan antara B2C dan B2B supply chain management. Dalam B2C, keputusan biasanya diambil oleh pelanggan akhir dengan mempertimbangkan harga, kualitas, dan ketersediaan produk. Sedangkan dalam B2B, para manajemen lah yang akan mengambil keputusan berdasarkan faktor-faktor perusahaan.

f. Skala dan Kompleksitas Operasional

Dalam B2C, operasional biasanya dijalankan dalam skala yang luas, namun dengan transaksi yang relatif sederhana. Misalnya, seorang distributor besar mungkin menjual ribuan produk ke jutaan konsumen, tetapi setiap transaksi individual biasanya melibatkan jumlah barang yang terbatas dan sedikit variasi.

Sementara itu, dalam B2B supply chain, transaksi mungkin tidak sebanyak B2C, tetapi kompleksitas dan variasi setiap transaksi biasanya lebih tinggi. Sebuah perusahaan bisa saja memiliki kontrak dengan hanya beberapa pemasok, tetapi setiap kontrak tersebut mungkin memiliki spesifikasi produk, persyaratan pengiriman, dan kondisi pembayaran yang berbeda.

Perbedaan B2B B2C
Kebutuhan dan Permintaan Bersifat konsisten Bersifat fluktuatif
Produksi dan Pengiriman Cenderung lebih lama Cenderung lebih singkat
Pengelolaan Persediaan Disimpan dalam jumlah besar Disimpan dalam jumlah kecil
Cara Komunikasi Komunikasi langsung dengan perusahaan Lebih interaktif, dilakukan melalui berbagai saluran
Pengambilan Keputusan Lebih kompleks, tergantungan kepentingan kedua pihak Biasanya berada ditangan konsumen
Skala dan Kompleksitas Operasional Volume transaksi lebih rendah, nilai per transaksi lebih tinggi Volume transaksi lebih tinggi, nilai per transaksi lebih rendah

3. Peran Teknologi dalam Efisiensi Kedua Rantai Pasok

Dalam era digital yang semakin maju, penggunaan teknologi sangat penting untuk meningkatkan kecepatan dan akurasi. Anda bisa menerapkan teknologi seperti supply chain management system ataupun E-SCM dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam kedua jenis SCM ini.

Baik B2C maupun B2B supply chain management harus terus ditingkatkan operasionalnya agar bisnis dapat memenuhi kebutuhan pelanggan dan bersaing dalam pasar yang semakin sengit. Penggunaan teknologi sistem manajemen rantai pasok membantu Anda dalam mengotomatiskan pekerjaan berulang agar semua tahapan bisa selesai dengan cepat.

Selain itu, software SCM (Supply Chain Management) juga dapat membantu bisnis Anda untuk mengelola persediaan, memantau permintaan, dan mempercepat pengiriman barang dengan menggunakan teknologi berbasis ERP. Penggunaan teknologi dalam SCM juga bisa membantu meningkatkan keamanan dan ketahanan sistem, sehingga perusahaan dapat mengatasi risiko-risiko yang mungkin terjadi dalam manajemen rantai pasok.

ERP

4. Manfaat B2B Supply Chain Management

Pengelolaan distribusi yang terintegrasi memberikan dampak positif terhadap stabilitas dan pertumbuhan perusahaan. Mulai dari optimalisasi proses internal hingga penguatan relasi antar mitra, berikut adalah beberapa keuntungan utama yang dapat diperoleh:

a. Meningkatkan Efisiensi Operasional

Kerja sama yang ketat antar mitra bisnis meminimalisir adanya hambatan dalam proses produksi dan distribusi barang. Hal ini memastikan penggunaan sumber daya dilakukan secara akurat sehingga alur kerja berjalan lebih lancar, yang juga berkontribusi pada penerapan sustainable SCM untuk mengurangi pemborosan sumber daya.

b. Meningkatkan Keuntungan Bisnis

Pengelolaan alur distribusi yang optimal berdampak langsung pada penghematan biaya operasional. Penekanan pengeluaran serta peningkatan volume penjualan secara stabil membantu perusahaan mencapai margin laba yang lebih sehat.

c. Meningkatkan Visibilitas Rantai Pasokan

Adanya keterbukaan data memungkinkan perusahaan untuk memantau pergerakan aset dan pesanan secara realtime. Kemudahan dalam mengakses informasi ini membantu manajemen melakukan deteksi terhadap potensi kendala di lapangan.

d. Meningkatkan Layanan Pelanggan

Ketepatan waktu pengiriman dan kualitas produk yang konsisten membangun kepercayaan mendalam bagi masing-masing pelanggan usaha. Layanan yang konsisten krusial dalam memperkuat loyalitas serta menjamin keberlanjutan kerja sama jangka panjang.

5. Tantangan B2B Supply Chain Management

Menjalankan manajemen rantai pasokan B2B melibatkan berbagai tantangan eksternal yang biasanya tidak dapat dikendalikan oleh perusahaan. Mulai dari ketidakpastian pasar hingga hambatan regulasi, berikut adalah beberapa kendala utama yang sering dihadapi oleh para pelaku industri:

  • Perubahan Tren Permintaan: Berubahnya tren permintaan dari waktu ke waktu mempersulit proyeksi volume stok secara akurat.
  • Kondisi Sosio-Politik: Adanya perubahan kebijakan lokal dan/atau global, serta juga konflik kepentingan mampu meningkatkan biaya manajemen rantai pasokan.
  • Kompleksitas Rantai Pasokan Global: Meluasnya jaringan internasional menambah kerumitan dalam koordinasi dan pengawasan alur distribusi.
  • Kurangnya Transparansi Data: Pertukaran informasi yang terbatas antar pihak memicu terjadinya kesalahan prediksi.

Dalam menghadapi tantangan-tantangan ini, strategi rantai pasok yang efektif menjadi kunci. Perusahaan perlu mengembangkan pendekatan yang lebih adaptif dan berbasis data untuk merespons perubahan pasar, memperkuat hubungan dengan pemasok, serta meningkatkan transparansi dan kolaborasi dalam seluruh jaringan rantai pasokan.

6. Kesimpulan

Secara keseluruhan, B2B dan B2C supply chain management memiliki perbedaan yang signifikan dalam beberapa aspek. Dimana B2B bersifat lebih stabil, sedangkan B2C cenderung fluktuatif. Dalam kedua jenis rantai pasok, teknologi dapat menjadi kunci kesuksesan dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional.

Baik itu manajemen rantai pasokan B2B ataupun B2C, penerapan sistem ERP seperti ScaleOcean semakin lama semakin menjadi hal yang wajib dikarenakan kompleksitas perdagangan global. Mengapa demikian? SCM biasanya melibatkan beragam jenis kegiatan, dari pengadaan, pembayaran, produksi, dan tentu saja, distribusi.

Hal-hal berikut bila tidak dikelola secara terpusat akan memunculkan isu administratif kedepannya bila masih dilakukan manual, terutama bagi bisnis yang sedang berkembang. Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut bagaimana software ERP dapat membantu bisnis Anda, maka kami menyediakan demo gratis sebagai saran uji coba sistem terlebih dahulu.

FAQ:

1. Apa perbedaan antara B2B dan B2C supply chain management?

Perbedaan utama terletak pada skala dan kompleksitas transaksi. Rantai pasok B2B melibatkan volume barang yang besar, siklus pemesanan jangka panjang, serta hubungan kerja sama yang lebih mendalam antar perusahaan dibandingkan dengan model B2C yang langsung menyasar konsumen akhir.

2. Mengapa visibilitas data penting dalam B2B SCM?

Transparansi informasi secara memungkinkan seluruh pihak yang terlibat untuk memantau pergerakan stok dan status pengiriman dengan akurat. Hal ini krusial untuk mencegah terjadinya kesalahan koordinasi serta membantu manajemen mengambil keputusan strategis berdasarkan data di lapangan.

3. Cara mengoptimalkan biaya dalam rantai pasok B2B?

1. Penentuan Vendor yang Optimal
2. Negosiasi Ketat dengan Vendor
3. Memanfaatkan Teknologi Otomatisasi
4. Manajemen Stok Gudang Teratur

Jadwalkan Demo Gratis

Error message
Error message
Error message
Error message
Error message
Error message

Rekomendasi Artikel Terkait

Temukan Artikel Serupa untuk Solusi Bisnis Lebih Lengkap