E-Supply Chain Management (e-SCM): Arti, dan Manfaat

Posted on
Share artikel ini

Apakah Anda sering mengalami kesulitan dalam manajemen supply chain, seperti kelebihan atau kekurangan persediaan? Atau mungkin kesulitan memantau inventaris secara real-time yang sering menyebabkan ketidakakuratan dalam pengiriman dan permintaan pelanggan yang tidak terduga? Di sinilah E-supply chain management dapat membantu Anda.

e-Supply Chain Management (e-SCM) menawarkan solusi dengan memanfaatkan teknologi untuk mengotomatiskan dan mengintegrasi seluruh proses rantai pasok. Sistem ini memungkinkan perusahaan memantau stok real-time, meningkatkan visibilitas, dan kolaborasi, yang pada akhirnya meningkatkan efisiensi dan pengambilan keputusan.

Dalam artikel ini, akan diulas secara mendalam tentang pengertian e-SCM, komponen-komponen utama yang ada, serta manfaat yang bisa diperoleh perusahaan. Artikel ini juga akan memberikan contoh penerapan e-SCM di berbagai industri dan panduan memilih software e-SCM yang tepat untuk bisnis Anda.

starsKey Takeaways

Coba Demo Gratis!

requestDemo

1. Apa itu e-Supply Chain Management (e-SCM)?

e-Supply Chain Management (e-SCM) adalah penggunaan teknologi digital untuk mengintegrasi dan mengotomatiskan proses rantai pasok, mulai dari pengadaan bahan baku hingga pengiriman produk. Sistem ini meningkatkan efisiensi dan kolaborasi di seluruh mitra rantai pasok melalui platform elektronik dan teknologi seperti IoT.

Berbeda dengan SCM tradisional yang manual, e-SCM menghubungkan semua proses dalam satu sistem terintegrasi. Teknologi ini mempercepat pengelolaan inventaris, pengadaan, dan pengiriman. Selain itu, mendukung production planning and inventory control (PPIC) untuk perencanaan produksi dan pengendalian stok yang lebih akurat.

e-SCM menggunakan teknologi seperti ERP, cloud computing, dan IoT untuk mengotomatiskan tugas berulang, memantau persediaan, dan mengoptimalkan pengiriman barang. Hal ini memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat.

2. Komponen Utama dalam e-Supply Chain Management

e-Supply Chain Management (e-SCM) terdiri dari berbagai komponen yang bekerja bersama untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi dalam rantai pasok. Setiap komponen ini memainkan peran kunci dalam memastikan operasional rantai pasok berjalan lancar dan biaya dapat diminimalkan.

Dengan teknologi terintegrasi, e-SCM membantu perusahaan mengelola setiap aspek rantai pasok mulai dari perencanaan produksi hingga pengiriman barang. Berikut ini adalah pembahasan komponen-komponen utama yang mendukung keberhasilan implementasi e-SCM.

a. Advanced Scheduling dan Perencanaan Manufaktur

Advanced scheduling membantu perusahaan merencanakan proses produksi dengan lebih efisien, mengidentifikasi dan mengatasi hambatan lebih cepat. Sistem ini memungkinkan penggunaan sumber daya yang lebih optimal dan meningkatkan alur produksi secara keseluruhan.

Perencanaan manufaktur yang terintegrasi juga meningkatkan ketepatan waktu dan fleksibilitas dalam menghadapi perubahan permintaan. Hal ini mengurangi potensi keterlambatan dan memastikan produk siap tepat waktu sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

b. Demand Forecasting (Peramalan Permintaan)

Demand forecasting menggunakan data historis dan analitik untuk memprediksi permintaan pasar secara lebih akurat. Dengan prediksi yang tepat, perusahaan dapat mengoptimalkan persediaan dan mengurangi risiko kelebihan atau kekurangan stok.

Teknologi ini membantu perusahaan merencanakan pengadaan bahan baku dan kapasitas produksi dengan lebih efisien. Akurasi dalam peramalan permintaan juga memungkinkan pengelolaan sumber daya yang lebih baik dan pengurangan biaya operasional.

c. Perencanaan Transportasi dan Distribusi

e-SCM mengoptimalkan rute pengiriman untuk memastikan produk sampai tepat waktu dengan biaya yang lebih rendah. Sistem ini juga memungkinkan perusahaan memilih moda transportasi terbaik berdasarkan biaya, kecepatan, dan kapasitas.

Selain itu, sistem distribusi yang terintegrasi membantu mengelola pengiriman barang ke lokasi yang tepat, mengurangi risiko keterlambatan. Dengan visibilitas yang lebih baik, perusahaan dapat menyesuaikan strategi distribusi secara dinamis dengan perubahan permintaan.

d. Komitmen Pemesanan (Order Commitment)

Order commitment menjamin bahwa setiap pesanan dikirim sesuai jadwal dan dalam kondisi yang sesuai dengan permintaan pelanggan. Proses ini memonitor status setiap pesanan secara real-time untuk memastikan pengiriman tepat waktu.

Dengan sistem yang terintegrasi, order commitment menghubungkan seluruh proses rantai pasok dari pengadaan hingga pengiriman. Hal ini membantu mengurangi kesalahan dan memastikan pemenuhan pesanan yang lebih akurat.

e. e-Billing dan e-Procurement

e-billing mempercepat proses penagihan dengan mengotomatiskan pengiriman faktur dan pembayaran. Sistem ini mengurangi kesalahan manual, mempercepat transaksi, dan meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan keuangan.

e-procurement mempermudah pengadaan barang dan jasa dengan memungkinkan perusahaan untuk memilih pemasok terbaik secara elektronik. Hal ini meningkatkan transparansi dalam pengadaan dan mengurangi biaya pembelian yang tidak perlu.

3. Manfaat Utama Penerapan e-Supply Chain Management

Manfaat Utama Penerapan e-Supply Chain Management

Tujuan supply chain management adalah untuk memastikan kelancaran aliran barang dan informasi di seluruh proses rantai pasok. Sistem yang efektif menjadi kunci keberhasilan bagi banyak bisnis modern yang menghadapi tantangan kompleks dalam mengelola rantai pasokan.

Terutama dengan adanya sistem e-SCM yang semakin memudahkan perusahaan dalam mengurangi biaya, serta meningkatkan produktivitas kualitas dan efisiensi. Mari kita bahas, bagaimana sistem ini dapat membantu Anda dalam mengatasi tantangan di rantai pasokan.

a. Meningkatkan Visibilitas

Dalam cara manual, data-data SCM sering kali tersebar dan berceceran dimana-mana. Dimana memperbesar kemungkinan kehilangan dan ketidakjelasan informasi. Ketika membutuhkan datanya segera, Anda pun pasti kesulitan dalam mencarinya.

Namun, semua itu tidak akan Anda rasakan ketika menerapkan sistem manajemen rantai pasokan. Manajemen rantai pasok digital memungkinkan akses data yang lebih cepat dan terintegrasi, sehingga meningkatkan akurasi dan efisiensi pengelolaan informasi dalam setiap proses.

E-supply chain management dapat membantu meningkatkan transparansi dan visibilitas dalam rantai pasokan. Semua arus informasi terkait SCM, dapat Anda akses dan bagikan ke semua pihak terkait secara real-time. Tentu saja hal ini dapat membantu mempercepat waktu tanggap dan mengoptimalkan keputusan bisnis.

b. Kemudahan Analisis

Keuntungan lain dari menerapkan software SCM digital adalah memungkinkan perusahaan untuk mengukur dan menganalisis kinerja rantai pasokan secara efektif. Ketika masih menggunakan cara manual, pengukuran ini seringkali tidak akurat dan bahkan sering terlambat.

Dengan e-supply chain management, pengukuran kinerja dapat dilakukan secara otomatis dan real-time, yang memudahkan bisnis Anda mengidentifikasi masalah dan mengambil tindakan yang diperlukan dengan cepat. Sehingga, perusahaan Anda bisa menghindari segala risiko yang mungkin terjadi.

c. Keamanan Rantai Pasok

Perusahaan sering menghadapi risiko seperti fluktuasi harga bahan baku, keterlambatan pengadaan, dan potensi kerugian akibat kehilangan data. Dengan e-SCM, perusahaan dapat memantau seluruh tahapan rantai pasok secara real-time dan mengurangi risiko keterlambatan pengiriman dengan estimasi waktu yang lebih akurat.

Selain itu, e-SCM membantu mengoptimalkan persediaan dan mengurangi biaya produksi serta pengiriman. Sistem ini juga meningkatkan keamanan data dengan membatasi akses informasi hanya kepada pihak berwenang, sehingga mengurangi potensi kerugian akibat kebocoran data sensitif.

Menurut Forbes, penggunaan data real‑time dan teknologi digital memungkinkan perusahaan memperoleh visibilitas penuh di seluruh rantai pasok. Hal ini tidak hanya mempercepat respon terhadap gangguan, tetapi juga meningkatkan keamanan operasi dengan memberikan informasi yang lebih akurat dan dapat diakses secara instan.

d. Memperluas Jangkauan Pasar

Dalam bisnis global yang semakin kompleks, e-supply chain management juga dapat membantu perusahaan untuk memperluas jangkauan pasar dan menjangkau target customer baru. Ekspansi seringkali memerlukan investasi besar dan risiko yang tinggi jika masih dilakukan secara manual.

Namun, Anda bisa melakukan analisis pasar dan meluaskan basis pelanggan dengan mudah berdasarkan keseluruhan riwayat data yang tersimpan di e-SCM. Untuk sektor supply chain management bisnis retail, penggunaan e-SCM sangat krusial dalam menjaga kelancaran aliran barang dari pemasok hingga konsumen akhir.

Dengan sistem yang terintegrasi, perusahaan retail dapat lebih mudah mengantisipasi permintaan pasar dan mengelola stok secara lebih efektif. Hal ini memungkinkan mereka untuk merespons perubahan tren dengan cepat, meningkatkan efisiensi, dan mengurangi risiko operasional yang dapat terjadi.

e. Meningkatkan Kepuasan Pelanggan

Pelanggan seringkali harus menunggu lama untuk menerima pesanan mereka, dan tidak ada jaminan bahwa produk akan tiba tepat waktu. Lain halnya ketika Anda menerapkan e-SCM, sistem ini memungkinkan perusahaan untuk mengoptimalkan proses produksi dengan lebih efisien.

Selain itu, e-SCM memastikan bahwa pesanan pelanggan dapat diproses dan dikirim dengan cepat, tepat waktu, dan sesuai dengan permintaan yang telah ditetapkan. Hal ini dapat meningkatkan kepuasan pelanggan dan memperkuat reputasi bisnis.

Deloitte menyatakan bahwa alat digital yang memberikan update real‑time tentang status produk dan material dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan. Dengan informasi yang transparan dan respons yang lebih cepat, kepuasan pelanggan juga meningkat karena mereka dapat mengikuti perkembangan pesanan dengan lebih mudah.

f. Melancarkan Kerjasama

Manfaat software supply chain management pada rantai pasok juga dapat meningkatkan hubungan baik dengan penyedia barang jasa. Masalah utama pada kerjasama dengan pemasok biasanya terletak pada kurangnya koordinasi dan komunikasi yang jelas.

Namun, Anda bisa melancarkan kerjasama dengan supplier jika menerapkan e-SCM. Semua pihak yang terkait dapat dengan mudah berkomunikasi dan berbagi informasi. Dimana hal tersebut bisa memperkuat hubungan baik dan memudahkan kerjasama jangka panjang. Kedua belah pihak pun bisa sama-sama diuntungkan.

4. Tantangan dalam Penerapan e-Supply Chain Management

Meskipun e-Supply Chain Management (e-SCM) menawarkan banyak keuntungan, implementasinya tidaklah tanpa tantangan. Beberapa perusahaan seringkali menghadapi hambatan terkait biaya, perubahan pola kerja, dan kebutuhan akan infrastruktur teknologi yang memadai untuk mendukung sistem ini.

Untuk dapat mengatasi tantangan-tantangan tersebut, perusahaan perlu mempersiapkan anggaran yang cukup, beradaptasi dengan perubahan organisasi, dan memastikan sistem TI yang kuat. Berikut adalah beberapa tantangan utama yang sering muncul dalam penerapan e-SCM.

a. Investasi Teknologi yang Signifikan

Penerapan e-SCM memerlukan investasi awal yang besar untuk perangkat keras dan perangkat lunak yang sesuai. Selain itu, biaya pemeliharaan dan pembaruan sistem secara berkala harus diperhitungkan agar teknologi tetap relevan dan mendukung operasional yang efisien.

Investasi ini sering kali menjadi kendala bagi perusahaan kecil atau yang memiliki anggaran terbatas. Namun, keuntungan jangka panjang seperti pengurangan biaya operasional dan peningkatan efisiensi dapat mengimbangi biaya awal yang tinggi.

b. Manajemen Perubahan di Organisasi

Perubahan dari sistem manual ke digital memerlukan adaptasi budaya di seluruh organisasi. Karyawan perlu dilatih untuk menggunakan sistem baru, dan perubahan ini bisa mempengaruhi produktivitas sementara waktu.

Manajemen perubahan yang baik sangat penting untuk mengurangi resistensi terhadap sistem baru dan memastikan bahwa semua staf dapat beradaptasi dengan cepat. Ini melibatkan komunikasi yang jelas dan dukungan berkelanjutan dari pihak manajemen.

c. Ketergantungan pada Infrastruktur Digital yang Memadai

Penerapan e-SCM yang efektif membutuhkan infrastruktur TI yang kuat dan andal. Jika perusahaan tidak memiliki jaringan atau perangkat keras yang memadai, implementasi sistem ini bisa terhambat dan bahkan menimbulkan masalah operasional.

Selain itu, perusahaan perlu memastikan bahwa sistem TI yang ada dapat terintegrasi dengan solusi e-SCM yang baru. Tanpa infrastruktur digital yang solid, manfaat dari e-SCM akan sulit tercapai, sehingga perencanaan dan investasi dalam TI menjadi sangat penting.

Software Scale 360 ScaleOcean memberikan solusi terintegrasi untuk e-Supply Chain Management (e-SCM) yang mudah disesuaikan dengan infrastruktur yang ada. Dengan lebih dari 200 modul yang dapat disesuaikan, sistem ini membantu perusahaan mengoptimalkan rantai pasok tanpa khawatir biaya berlebihan atau kesulitan integrasi.

Teknologi canggih yang dimiliki memastikan alur kerja yang otomatis dan transparan, memberikan visibilitas real-time dan pengelolaan inventaris yang lebih efisien. Vendor ini menawarkan demo gratis dan konsultasi gratis agar Anda dapat melihat bagaimana sistem ini dapat mempercepat transformasi digital bisnis Anda.

ERP

5. Contoh Penerapan e-Supply Chain Management di Berbagai Industri

Penerapan e-Supply Chain Management (e-SCM) telah terbukti memberikan dampak positif di berbagai industri, terutama dalam meningkatkan efisiensi proses. Sistem ini juga membantu mengurangi biaya operasional dengan mengotomatisasi dan mengintegrasi berbagai aspek rantai pasok secara lebih efektif.

Sistem ini memungkinkan perusahaan untuk mengoptimalkan setiap tahap dalam rantai pasok, dari pengadaan bahan baku hingga pengiriman produk akhir. Berikut ini adalah beberapa contoh nyata penerapan e-SCM di berbagai sektor industri yang menunjukkan manfaat signifikan dalam operasional mereka.

a. Industri Manufaktur

Di industri manufaktur, e-SCM membantu perusahaan dalam mengelola proses produksi dengan lebih efisien, memastikan bahan baku tersedia tepat waktu dan meminimalkan pemborosan. Sistem ini juga mengoptimalkan distribusi produk jadi ke pasar, mengurangi waktu tunggu, dan meningkatkan pengiriman tepat waktu.

Dengan menggunakan e-SCM, perusahaan manufaktur dapat memantau alur produksi secara real-time, sehingga setiap masalah dapat segera diatasi tanpa mengganggu keseluruhan proses. Hal ini meningkatkan produktivitas dan mengurangi potensi downtime di lini produksi.

b. Ritel dan Distribusi

Di industri ritel, e-SCM memungkinkan pengelolaan stok yang lebih baik dengan menyediakan data persediaan secara real-time, meminimalkan kelebihan stok atau kekurangan barang. Sistem ini juga meningkatkan proses distribusi barang ke berbagai lokasi, memastikan pengiriman yang lebih cepat dan akurat ke pelanggan.

Penerapan e-SCM di sektor ritel juga mempermudah perencanaan permintaan, sehingga perusahaan dapat menyesuaikan produksi dan pengadaan dengan lebih tepat. Hal ini menghasilkan penghematan biaya dan peningkatan kepuasan pelanggan karena produk selalu tersedia saat dibutuhkan.

c. Logistik dan Pengiriman

Dalam industri logistik dan pengiriman, e-SCM meningkatkan efisiensi transportasi dengan mengoptimalkan rute dan memilih moda transportasi yang tepat. Sistem ini memungkinkan perusahaan untuk memantau status pengiriman barang secara real-time, mengurangi biaya transportasi, dan meningkatkan kecepatan pengiriman.

Penerapan e-SCM juga mempercepat proses administrasi pengiriman, seperti dokumentasi dan penagihan, dengan otomatisasi yang mengurangi kesalahan. Hal ini memungkinkan perusahaan logistik untuk memberikan layanan yang lebih cepat, akurat, dan andal kepada pelanggan.

6. Tips Memilih Software e-Supply Chain Management Tepat

Tips Memilih Software e-Supply Chain Management Tepat

Menerapkan sistem supply chain management yang tepat dapat membantu perusahaan dalam mengoptimalkan rantai pasokan. Namun, dengan banyaknya rekomendasi aplikasi SCM yang tersedia, memilih yang tepat bisa menjadi sebuah tantangan. Berikut adalah beberapa tips untuk membantu perusahaan dalam memilih software yang tepat.

a. Sesuaikan dengan Kebutuhan Bisnis

Pastikan software e-SCM yang dipilih memiliki fitur yang sesuai dengan kebutuhan dan tujuan perusahaan Anda. Memilih sistem yang menyediakan fungsionalitas yang relevan dengan model bisnis akan mempermudah integrasi dan mempercepat adopsi oleh tim.

Selain itu, fitur-fitur tersebut harus dapat mendukung pertumbuhan bisnis dan menjawab tantangan yang dihadapi perusahaan. Dengan memilih software yang tepat, perusahaan dapat mengoptimalkan kinerja rantai pasok dan mencapai efisiensi yang lebih tinggi.

b. Kemampuan Sistem untuk Integrasi dan Skalabilitas

Pilihlah software yang dapat dengan mudah terintegrasi dengan sistem lain yang sudah ada di perusahaan, seperti ERP atau CRM. Kemampuan untuk integrasi ini sangat penting agar data dapat mengalir secara mulus antar departemen tanpa hambatan.

Selain itu, pastikan sistem yang dipilih memiliki skalabilitas untuk mendukung pertumbuhan bisnis. Software yang dapat berkembang seiring dengan perkembangan perusahaan akan mengurangi biaya dan usaha dalam mengganti sistem di masa depan.

c. Dukungan dan Layanan Pelanggan

Kualitas dukungan yang diberikan oleh penyedia software sangat penting untuk memastikan kelancaran operasional. Pilihlah penyedia yang menawarkan layanan pelanggan yang responsif dan siap membantu mengatasi masalah yang mungkin timbul.

Pastikan juga bahwa penyedia software menyediakan pelatihan, pembaruan, dan pemeliharaan sistem secara berkala. Dengan dukungan yang baik, perusahaan dapat memanfaatkan software e-SCM secara maksimal dan menghindari gangguan operasional.

7. Perbedaan antara SCM dan e-SCM

Artikel ini akan membahas perbedaan antara Supply Chain Management (SCM) tradisional dan e-Supply Chain Management (e-SCM) dengan fokus pada aspek-aspek penting yang mempengaruhi keputusan perusahaan dalam memilih sistem yang tepat. Berikut adalah beberapa perbedaan utama antara keduanya yang perlu dipertimbangkan.

a. Proses dan Pengendalian

Dalam SCM tradisional, proses rantai pasok sering kali dilakukan secara manual, yang dapat menyebabkan keterlambatan dan kesalahan dalam pengelolaan. Pengendalian dilakukan melalui komunikasi antar departemen dan mitra secara terpisah, yang memerlukan waktu untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan.

Sebaliknya, e-SCM mengintegrasikan seluruh proses dalam satu sistem digital, memberikan visibilitas real-time terhadap status setiap tahap rantai pasok. Dengan sistem yang lebih terkontrol dan terotomatisasi, perusahaan dapat mengelola proses lebih efisien, mengurangi risiko kesalahan, dan meningkatkan pengambilan keputusan.

b. Komunikasi dan Kolaborasi

SCM tradisional mengandalkan komunikasi manual yang bisa memperlambat aliran informasi, terutama ketika berurusan dengan pemasok atau distributor yang terpisah secara geografis. Hal ini sering menyebabkan keterlambatan dalam pengambilan keputusan dan meningkatkan potensi kesalahan.

e-SCM memanfaatkan teknologi seperti platform berbasis cloud untuk memungkinkan komunikasi langsung dan kolaborasi yang lebih cepat antara semua mitra rantai pasok. Informasi yang dibutuhkan tersedia secara real-time, mempercepat alur kerja dan meningkatkan responsivitas terhadap perubahan permintaan atau masalah yang muncul.

c. Pengelolaan Data dan Analisis

Dalam SCM tradisional, data sering disimpan dalam format manual atau terpisah di berbagai sistem, membuatnya sulit untuk dianalisis secara menyeluruh. Pengambilan keputusan berbasis data yang akurat pun menjadi lebih lambat dan kurang optimal karena keterbatasan dalam mengakses dan mengolah data.

e-SCM mengotomatisasi pengumpulan data dan memungkinkan analisis data besar yang lebih cepat dan akurat. Dengan akses real-time terhadap data yang relevan, perusahaan dapat membuat keputusan yang lebih tepat, mengidentifikasi tren pasar, dan merespons perubahan dengan lebih cepat.

d. Fleksibilitas dan Skalabilitas

SCM tradisional sering kali membatasi fleksibilitas perusahaan karena perubahan dalam proses atau struktur memerlukan penyesuaian manual yang memakan waktu. Hal ini membuatnya sulit untuk beradaptasi dengan perubahan permintaan pasar atau memperluas operasi tanpa menambah beban kerja yang signifikan.

e-SCM, di sisi lain, menawarkan sistem yang lebih fleksibel dan dapat diskalakan. Dengan menggunakan teknologi cloud SCM dan integrasi otomatis, sistem ini dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan bisnis yang berkembang, memungkinkan perusahaan untuk beradaptasi dengan cepat dan mengelola pertumbuhan tanpa hambatan teknis.

e. Keamanan dan Perlindungan Data

SCM tradisional cenderung mengandalkan penyimpanan fisik atau sistem yang lebih rentan terhadap kerusakan atau kehilangan data. Keamanan data juga sering kali tidak terintegrasi, mengakibatkan kesulitan dalam mengelola informasi sensitif dan meningkatkan risiko kebocoran data.

e-SCM menawarkan solusi keamanan yang lebih baik dengan enkripsi data dan kontrol akses yang ketat. Sistem ini memastikan bahwa data hanya dapat diakses oleh pihak yang berwenang, mengurangi risiko pelanggaran data dan melindungi informasi penting yang terkait dengan rantai pasok.

f. Biaya dan Pengembalian Investasi (ROI)

SCM tradisional memerlukan biaya operasional yang lebih tinggi karena proses manual, pengelolaan stok yang tidak efisien, dan risiko kesalahan manusia. Semua ini dapat mengarah pada peningkatan biaya dan berkurangnya ROI bagi perusahaan.

e-SCM, meskipun membutuhkan investasi awal untuk teknologi, dapat mengurangi biaya operasional secara signifikan dengan mengotomatiskan proses dan meningkatkan efisiensi. Dalam jangka panjang, sistem ini menghasilkan ROI yang lebih tinggi dengan meningkatkan kecepatan, akurasi, dan pengelolaan rantai pasok yang lebih baik.

g. Integrasi Sistem dan Automasi

SCM tradisional seringkali beroperasi dalam sistem terpisah yang tidak terintegrasi, membuat aliran data antar departemen dan mitra menjadi terhambat. Hal ini bisa menyebabkan kesalahan informasi, keterlambatan, dan biaya yang lebih tinggi dalam pengelolaan rantai pasok.

e-SCM memungkinkan integrasi antar berbagai sistem yang ada, mengotomatisasi banyak proses seperti pengadaan dan penagihan. Dengan otomatisasi dan sistem terintegrasi, informasi dapat mengalir lebih lancar antar departemen dan mitra, meningkatkan efisiensi dan mengurangi kesalahan.

h. Dampak Lingkungan

SCM tradisional sering menghasilkan lebih banyak limbah dan konsumsi energi karena proses manual dan pengelolaan yang kurang efisien. Hal ini tidak hanya menambah biaya, tetapi juga memperburuk dampak lingkungan yang dihasilkan oleh perusahaan.

e-SCM membantu perusahaan mengurangi dampak lingkungan dengan mengoptimalkan penggunaan sumber daya dan mengurangi pemborosan. Teknologi yang digunakan dalam e-SCM juga memungkinkan pengurangan emisi karbon dan jejak lingkungan lainnya dengan mempercepat proses dan mengurangi kebutuhan transportasi yang tidak efisien.

8. Kesimpulan

Secara keseluruhan, e-supply chain management memiliki banyak keuntungan bagi bisnis dalam mengelola rantai pasokan mereka. Dengan seluruh manfaat yang sudah dijelaskan di atas, dapat membantu bisnis meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya, dan meningkatkan daya saing mereka di pasar global yang semakin kompleks.

Perusahaan harus memastikan bahwa mereka memiliki manajemen rantai pasokan yang sesuai. Terapkan saja software ERP ScaleOcean untuk melancarkan seluruh proses bisnis Anda! Dapatkan sistem fleksibel yang bisa menyesuaikan seluruh kebutuhan bisnis Anda.

FAQ:

1. Apa itu e-Supply Chain Management?

e-Supply Chain Management (e-SCM) adalah sistem yang memanfaatkan teknologi digital untuk mengintegrasi dan mengotomatiskan seluruh proses rantai pasok. Dengan e-SCM, perusahaan dapat memantau dan mengelola pengadaan, produksi, distribusi, dan pengiriman produk secara lebih efisien.

2. Apa Perbedaan e-SCM dengan SCM Tradisional?

Perbedaan utama antara e-SCM dan SCM tradisional terletak pada teknologi yang digunakan. e-SCM mengintegrasikan seluruh proses rantai pasok secara digital, meningkatkan visibilitas, efisiensi, dan kolaborasi real-time, sedangkan SCM tradisional mengandalkan proses manual yang lebih lambat dan terpisah.

3. Apa Saja Komponen Utama e-Supply Chain Management?

Komponen utama e-SCM meliputi advanced scheduling, demand forecasting, perencanaan transportasi dan distribusi, order commitment, serta e-billing dan e-procurement. Komponen ini bekerja bersama untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, dan responsivitas dalam rantai pasok.

4. Apa Manfaat Mengimplementasikan e-Supply Chain Management?

Mengimplementasikan e-SCM membawa manfaat seperti peningkatan efisiensi operasional, pengurangan biaya, visibilitas real-time dalam rantai pasok, serta kemampuan untuk merespons perubahan permintaan pasar dengan cepat. Hal ini juga meningkatkan kolaborasi antar mitra bisnis dan keamanan data.

Jadwalkan Demo Gratis

Error message
Error message
Error message
Error message
Error message
Error message

Rekomendasi Artikel Terkait

Temukan Artikel Serupa untuk Solusi Bisnis Lebih Lengkap