Keandalan aset menjadi faktor penentu kelancaran operasional dan stabilnya produktivitas harian. Gangguan kecil pada mesin dapat langsung menghentikan alur kerja dan menurunkan efisiensi tim. Karena itu, pemeliharaan yang konsisten bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan penting untuk menjaga performa aset.
Namun, banyak gangguan terjadi karena prosedur pemeliharaan tidak terdokumentasi dengan baik. Akibatnya, kerusakan ringan sering luput dari perhatian dan berkembang menjadi downtime besar. Tanpa panduan terstruktur, teknisi mudah melewatkan langkah penting, sehingga kualitas pemeliharaan menjadi tidak konsisten dan sulit dikontrol.
Untuk mengatasi masalah ini, perusahaan membutuhkan maintenance checklist sebagai panduan sistematis yang memastikan setiap tugas pemeliharaan dilakukan dengan benar. Checklist membantu menekan risiko kerusakan mendadak, menjaga stabilitas performa, dan memperkuat akuntabilitas tim teknisi. Artikel ini akan membahas manfaat, struktur, dan elemen penting dalam penyusunan checklist yang efektif.
- Maintenance checklist adalah daftar tugas untuk merawat aset seperti mesin dan peralatan. Dokumen ini memandu teknisi dalam inspeksi dan perbaikan sesuai standar.
- Elemen-elemen penting dalam maintenance checklist meliputi identifikasi aset, deskripsi tugas, dan standar kualitas yang jelas.
- Penerapan maintenance checklist yang fleksibel di berbagai sektor, mulai dari manufaktur hingga IT, menunjukkan perannya yang vital dalam menjaga kinerja beragam jenis aset.
- Langkah pelaksanaan maintenance checklist mulai dari persiapan hingga evaluasi adalah kunci untuk mendukung program pemeliharaan preventif dan korektif yang sukses.
- Software Asset Management ScaleOcean mengubah maintenance checklist dari dokumen manual menjadi alur kerja terintegrasi yang wajib diikuti.
1. Apa Itu Maintenance Checklist?
Maintenance checklist adalah daftar tugas pemeliharaan yang dirancang untuk memastikan aset, seperti mesin, gedung, atau peralatan, dirawat secara rutin dan efektif. Dokumen ini mengarahkan teknisi untuk melakukan berbagai langkah, mulai dari inspeksi hingga perbaikan, sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Dengan menggunakan checklist ini, proses pemeliharaan menjadi lebih terstruktur, mengurangi risiko kesalahan manusia, dan meningkatkan efisiensi operasional. Selain itu, checklist ini juga membantu memperpanjang umur aset dengan mencegah kerusakan yang tidak terduga, serta memastikan kepatuhan terhadap prosedur yang ada.
2. Fungsi dan Manfaat Utama Menggunakan Checklist Pemeliharaan
Penggunaan checklist maintenance memberikan kerangka kerja yang jelas, meningkatkan standardisasi, dan pencegahan, menjadikan setiap aspek pemeliharaan lebih terukur dan terkendali. Dengan mengimplementasikan checklist yang dirancang dengan baik, perusahaan dapat membangun budaya kerja yang disiplin, berorientasi pada data, serta mengurangi biaya tak terduga dan memperpanjang umur pakai aset.
Berikut adalah beberapa fungsi dan manfaat utamanya:
a. Standarisasi Proses
Setiap teknisi mungkin memiliki cara kerja yang sedikit berbeda yang dapat menimbulkan inkonsistensi dalam kualitas pemeliharaan. Dengan menggunakan maintenance checklist, setiap teknisi akan mengikuti prosedur yang sama persis setiap saat, memastikan standar yang konsisten di seluruh tim, terutama dalam perusahaan dengan banyak teknisi atau lokasi yang berbeda.
Kehadiran standar yang seragam mempermudah pelatihan teknisi baru dengan menyediakan panduan yang jelas. Hal ini juga membuat kualitas hasil kerja lebih dapat diprediksi, mengurangi variabilitas yang dapat mempengaruhi keandalan aset, dan menjadi dasar dari program pemeliharaan yang efektif dan dapat diandalkan.
b. Dokumentasi Terperinci
Setiap checklist yang telah diisi dan ditandatangani menjadi bukti otentik bahwa pemeliharaan telah selesai sesuai prosedur. Dokumentasi ini sangat penting untuk audit internal, kepatuhan regulasi, atau klaim garansi, serta memungkinkan manajer melacak riwayat pemeliharaan aset dengan mudah.
Data yang terkumpul dari checklist juga dapat dianalisis untuk mengidentifikasi tren, seperti suku cadang yang sering diganti atau masalah berulang pada aset. Informasi ini menjadi dasar pengambilan keputusan yang lebih baik, seperti merencanakan pengadaan suku cadang atau memutuskan kapan sebuah aset perlu diganti.
c. Pencegahan Masalah
Salah satu manfaat terbesar dari checklist pemeliharaan adalah kemampuannya untuk mendeteksi potensi masalah sebelum berkembang menjadi kerusakan serius. Pemeriksaan rutin terhadap komponen-komponen kritis memungkinkan teknisi mengidentifikasi tanda-tanda awal keausan atau kegagalan, sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan lebih awal.
Dengan pendekatan proaktif ini, perusahaan dapat mengurangi downtime yang tidak terencana yang sering menyebabkan kerugian produksi. Praktik pemeliharaan yang didukung oleh checklist yang komprehensif merupakan investasi cerdas untuk menjaga kelancaran operasi, serta langkah fundamental untuk beralih dari pemeliharaan reaktif ke pendekatan preventif.
d. Peningkatan Efisiensi Operasional
Ketika teknisi memiliki panduan yang jelas, mereka tidak perlu membuang waktu untuk menebak langkah yang harus diambil selanjutnya. Checklist yang baik menguraikan tugas secara logis, lengkap dengan alat dan material yang dibutuhkan, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan lebih cepat dan akurat. Efisiensi ini memungkinkan lebih banyak tugas pemeliharaan selesai dalam waktu yang sama.
Dengan alur kerja yang terstruktur, risiko kesalahan atau langkah yang terlewat dapat diminimalkan. Hal ini tidak hanya meningkatkan produktivitas tim, tetapi juga memastikan keselamatan kerja yang lebih baik. Pada akhirnya, efisiensi operasional yang lebih tinggi akan berkontribusi langsung pada profitabilitas perusahaan secara keseluruhan.
3. Elemen Penting yang Harus Ada dalam Checklist Pemeliharaan

Sebuah maintenance checklist yang efektif lebih dari sekadar daftar tugas biasa ia harus dirancang cermat untuk memastikan semua informasi relevan tercakup. Kelengkapan dan kejelasan setiap elemen akan menentukan sejauh mana checklist berfungsi sebagai alat yang andal. Tanpa komponen penting ini, checklist bisa menjadi tidak praktis dan gagal mencapai tujuannya.
Merancang form checklist yang komprehensif memerlukan pemahaman mendalam tentang aset yang dipelihara dan proses kerja yang ada, dengan setiap bagian dirancang untuk memandu teknisi secara intuitif dan menangkap data yang akurat. Berikut adalah elemen-elemen kunci yang wajib ada dalam setiap checklist pemeliharaan:
a. Informasi Identifikasi Aset dan Tanggal
Bagian paling atas checklist harus mencantumkan informasi dasar untuk identifikasi, seperti nama atau nomor aset, lokasinya, serta tanggal dan waktu pemeliharaan. Nama teknisi yang bertanggung jawab juga harus dicatat untuk akuntabilitas.
Informasi ini penting untuk pengarsipan dan pelacakan. Jika masalah muncul di kemudian hari, manajer dapat merujuk kembali ke checklist untuk mengetahui siapa yang melakukan pekerjaan dan kapan. Dengan software asset management terbaik, pengelolaan data menjadi lebih efisien dan terintegrasi.
b. Deskripsi Tugas dan Prosedur
Inti dari setiap checklist adalah daftar tugas yang harus dilakukan yang diuraikan secara spesifik dan mudah dipahami. Hindari instruksi yang ambigu seperti “periksa mesin” sebaliknya, gunakan perintah yang jelas seperti “periksa level oli hidrolik” atau “bersihkan filter udara”. Jika perlu, sertakan instruksi langkah demi langkah untuk tugas-tugas yang kompleks.
Deskripsi tugas yang terperinci memastikan bahwa tidak ada ruang untuk interpretasi yang salah, sehingga setiap teknisi melakukan pekerjaan dengan standar yang sama. Prosedur yang jelas juga berfungsi sebagai panduan keselamatan, mengingatkan teknisi tentang langkah-langkah keamanan yang harus diambil. Ini adalah elemen yang paling menentukan efektivitas sebuah checklist.
c. Daftar Peralatan dan Material yang Dibutuhkan
Untuk meningkatkan efisiensi, checklist harus mencantumkan semua alat, peralatan pelindung diri (APD), dan suku cadang yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan. Dengan daftar ini, teknisi dapat mempersiapkan segala sesuatunya sebelum memulai pekerjaan. Ini menghindari bolak-balik ke gudang yang membuang-buang waktu.
Menyertakan daftar material juga membantu dalam manajemen inventaris. Manajer dapat menggunakan informasi ini untuk memastikan ketersediaan suku cadang yang paling sering digunakan. Persiapan yang matang adalah kunci untuk pelaksanaan pemeliharaan yang lancar dan efisien.
d. Kriteria Pemeriksaan dan Standar Kualitas
Untuk setiap item pemeriksaan, harus ada kriteria yang jelas untuk menentukan apakah kondisinya dapat diterima (pass) atau tidak (fail). Misalnya, alih-alih hanya “periksa tekanan ban,” checklist harus menentukan “pastikan tekanan ban berada di antara 32-35 PSI.” Standar kuantitatif atau kualitatif yang jelas menghilangkan subjektivitas.
Kriteria ini memastikan bahwa evaluasi kondisi aset dilakukan secara objektif dan konsisten. Jika suatu item tidak memenuhi standar, checklist harus menyediakan ruang untuk mencatat temuan tersebut. Penilaian berbasis standar adalah dasar untuk tindakan korektif yang tepat dan terukur.
e. Ruang untuk Catatan dan Observasi
Tidak semua kondisi dapat diantisipasi dalam daftar tugas yang kaku. Oleh karena itu, sangat penting untuk menyediakan kolom atau bagian khusus bagi teknisi untuk mencatat observasi tak terduga atau anomali yang mereka temukan selama pemeriksaan. Catatan ini bisa berupa suara aneh, getaran tidak biasa, atau tanda-tanda kebocoran.
Ruang untuk catatan ini juga dapat digunakan untuk memberikan rekomendasi perbaikan atau saran untuk pemeliharaan di masa depan. Informasi kualitatif ini sering kali sangat berharga dan memberikan konteks tambahan yang tidak dapat ditangkap oleh kotak centang sederhana. Ini adalah sumber wawasan penting untuk perbaikan berkelanjutan.
Baca juga: Apa Itu Predictive Maintenance, Manfaat, dan Implementasinya
4. Contoh Penerapan Maintenance Checklist di Berbagai Sektor
Fleksibilitas maintenance checklist memungkinkan penerapannya di hampir semua industri yang mengandalkan aset fisik maupun digital untuk operasionalnya. Meskipun prinsip dasarnya sama, yaitu standardisasi dan dokumentasi, konten dan fokus checklist akan bervariasi tergantung pada jenis aset dan kebutuhan spesifik sektor tersebut. Adaptabilitas inilah yang menjadikan checklist sebagai alat yang universal.
Dari pabrik manufaktur yang bising hingga ruang server yang senyap, setiap lingkungan memiliki tantangan pemeliharaan unik, dan menggunakan checklist yang disesuaikan untuk setiap sektor sangat penting untuk memastikan relevansi dan efektivitasnya. Berikut adalah beberapa contoh penerapannya di berbagai bidang industri:
a. Peralatan Industri dan Mesin Produksi
Di sektor manufaktur, contoh checklist maintenance mesin adalah tulang punggung untuk menjaga kelancaran lini produksi. Checklist ini biasanya mencakup pemeriksaan harian seperti pelumasan bagian yang bergerak, pengecekan level cairan pendingin, dan pembersihan sensor. Pemeriksaan rutin ini mencegah keausan dini dan menjaga presisi mesin.
Untuk pemeliharaan yang lebih mendalam, checklist dapat mencakup kalibrasi alat ukur, inspeksi komponen listrik, dan pengecekan ketegangan sabuk penggerak. Data yang dikumpulkan membantu manajer pabrik dalam menjadwalkan perbaikan besar dan memprediksi potensi kegagalan, sehingga meminimalkan downtime yang merugikan.
b. Bangunan dan Fasilitas
Manajemen fasilitas (facility management) sangat bergantung pada checklist untuk memelihara gedung komersial, perkantoran, atau pusat perbelanjaan. Checklist ini mencakup sistem vital seperti HVAC (Heating, Ventilation, and Air Conditioning), sistem kelistrikan, pipa ledeng, dan sistem proteksi kebakaran. Pemeliharaan preventif pada sistem ini sangat penting untuk kenyamanan dan keselamatan penghuni.
Contoh tugas dalam checklist ini adalah membersihkan filter AC, menguji alarm asap, memeriksa fungsi pompa air, dan menginspeksi panel listrik dari potensi bahaya. Dengan checklist yang terstruktur, manajer gedung dapat memastikan kepatuhan terhadap peraturan keselamatan bangunan dan memperpanjang umur infrastruktur vital.
c. Kendaraan dan Alat Berat (Fleet Management)
Bagi perusahaan logistik, konstruksi, atau transportasi, keandalan armada kendaraan adalah segalanya. Daily maintenance checklist digunakan oleh pengemudi atau operator sebelum memulai perjalanan untuk memeriksa hal-hal esensial seperti kondisi ban, fungsi rem, level oli, dan lampu. Pemeriksaan sederhana ini dapat mencegah kecelakaan dan kerusakan di jalan.
Checklist yang lebih komprehensif digunakan oleh mekanik untuk servis berkala yang mencakup penggantian oli, inspeksi sistem transmisi, dan pengecekan komponen suspensi. Pengelolaan armada yang efektif menggunakan data dari checklist ini untuk mengoptimalkan jadwal servis dan mengelola biaya operasional kendaraan secara keseluruhan.
d. IT dan Perangkat Lunak
Dalam dunia digital, aset tidak hanya berbentuk fisik. Pemeliharaan infrastruktur IT juga memerlukan checklist yang sistematis untuk memastikan ketersediaan dan keamanan data. Tugas-tugasnya meliputi pemeriksaan kesehatan server, verifikasi keberhasilan proses backup, pemantauan penggunaan kapasitas penyimpanan, dan penerapan patch keamanan. Kinerja sistem yang stabil adalah tujuan utamanya.
Checklist ini juga dapat digunakan untuk pemeliharaan perangkat lunak, seperti memastikan semua lisensi diperbarui dan melakukan audit keamanan aplikasi. Dengan mengintegrasikan praktik ini ke dalam sistem manajemen aset digital, departemen IT dapat mengurangi risiko pelanggaran data dan memastikan kelangsungan layanan bisnis. Pendekatan terstruktur ini sangat penting untuk menjaga integritas aset digital.
5. Langkah-langkah dalam Pelaksanaan Checklist Maintenance
Memiliki maintenance checklist yang dirancang dengan baik hanyalah langkah awal keberhasilannya sangat bergantung pada bagaimana checklist tersebut diimplementasikan dalam alur kerja sehari-hari. Pelaksanaan yang efektif memerlukan proses terstruktur, mulai dari persiapan hingga evaluasi, yang memastikan checklist digunakan secara konsisten dan memberikan nilai maksimal.
Setiap tahap dalam siklus pelaksanaan ini memiliki perannya dalam mengubah checklist dari sekadar dokumen menjadi alat manajemen dinamis. Dengan mengikuti langkah-langkah ini, perusahaan dapat membangun budaya pemeliharaan yang proaktif dan berbasis data. Berikut adalah tahapan kunci dalam pelaksanaan checklist maintenance:
a. Persiapan Checklist dan Jadwal Pemeliharaan
Langkah pertama adalah merancang atau memilih form checklist maintenance yang sesuai dengan kebutuhan spesifik setiap aset. Libatkan teknisi berpengalaman dalam proses desain untuk memastikan checklist tersebut praktis dan relevan. Setelah final, tetapkan jadwal pemeliharaan yang jelas untuk setiap aset, menentukan frekuensi (harian, mingguan, bulanan) berdasarkan rekomendasi pabrikan dan pengalaman operasional.
Jadwal ini kemudian dikomunikasikan kepada tim pemeliharaan, dan tugas-tugas dialokasikan kepada teknisi yang relevan. Pada tahap ini, pastikan semua personel memahami cara menggunakan checklist dengan benar. Persiapan yang matang adalah fondasi untuk pelaksanaan yang lancar.
Software Asset Management ScaleOcean (terutama yang didukung AI) berperan sebagai penegak standar digital dalam penerapan maintenance checklist. Tanpa software, daftar periksa seringkali hanya berupa kertas yang bisa hilang, rusak, atau diisi asal-asalan setelah pekerjaan selesai. Software asset management ScaleOcean mengubah daftar ini menjadi alur kerja digital yang wajib dan terintegrasi.
Dengan solusi ini, setiap langkah pemeliharaan dapat dipantau dan dikelola secara sistematis, mengurangi risiko kesalahan dan memastikan kualitas yang konsisten. Untuk pengalaman langsung, Anda dapat mencoba demo gratis untuk melihat bagaimana sistem ini dapat meningkatkan efisiensi operasional Anda.
b. Pelaksanaan Prosedur Pemeliharaan
Pada tahap ini, teknisi melaksanakan tugas pemeliharaan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan dengan menggunakan checklist sebagai panduan utama. Mereka harus mengikuti setiap langkah secara berurutan dan menandai setiap item yang telah selesai. Penting untuk menekankan pentingnya kejujuran dan ketelitian dalam mengisi checklist.
Selama pelaksanaan, teknisi harus mencatat setiap temuan, baik yang sesuai standar maupun yang menyimpang, pada kolom yang tersedia. Jika ditemukan masalah yang memerlukan perhatian segera, mereka harus mengikuti prosedur eskalasi yang telah ditetapkan. Dokumentasi yang akurat selama proses ini sangat krusial.
c. Dokumentasi dan Tindak Lanjut
Setelah pekerjaan selesai, checklist yang telah diisi harus diserahkan dan diarsipkan, baik secara fisik maupun digital. Informasi yang terkandung di dalamnya menjadi catatan historis yang berharga. Setiap masalah atau item yang gagal pemeriksaan harus segera ditindaklanjuti dengan membuat perintah kerja (work order) untuk perbaikan.
Proses tindak lanjut ini memastikan bahwa masalah yang teridentifikasi tidak diabaikan. Manajer pemeliharaan bertanggung jawab untuk memantau status perintah kerja hingga semua masalah terselesaikan. Siklus pemeliharaan tidak lengkap tanpa adanya tindakan korektif yang efektif.
d. Review dan Perbaikan Prosedur
Checklist bukanlah dokumen yang statis ia harus ditinjau dan diperbarui secara berkala untuk memastikan relevansinya. Kumpulkan masukan dari teknisi mengenai apakah checklist tersebut mudah digunakan, apakah ada tugas yang perlu ditambahkan, atau apakah ada prosedur yang sudah usang. Proses review ini mendorong perbaikan berkelanjutan.
Selain itu, analisis data historis dari checklist yang terkumpul dapat mengungkap pola atau tren yang mungkin memerlukan penyesuaian pada frekuensi pemeliharaan atau prosedur itu sendiri. Dengan secara rutin mengevaluasi dan menyempurnakan checklist, perusahaan dapat terus mengoptimalkan strategi pemeliharaannya seiring waktu.
6. Fungsi Penggunaan Checklist dalam Pemeliharaan Preventif dan Korektif

Maintenance checklist berperan penting dalam strategi preventif dan korektif, menghubungkan perencanaan dengan eksekusi untuk memastikan pemeliharaan dilakukan secara sistematis dan efektif. Fleksibilitasnya memungkinkan penerapan konsisten di berbagai skenario pemeliharaan.
Dilansir Forbes, dalam jangka panjang, reactive maintenance (pemeliharaan korektif reaktif) dapat menghabiskan biaya hingga sembilan kali lebih mahal daripada pemeliharaan preventif. Oleh karena itu, investasi pada pemeliharaan proaktif yang didukung checklist adalah keharusan bisnis untuk pertumbuhan yang menguntungkan. Berikut adalah fungsi spesifik checklist dalam kedua konteks tersebut:
a. Menjamin Ketepatan Prosedur Preventif
Dalam pemeliharaan preventif, tujuan utamanya adalah melakukan serangkaian tugas terjadwal untuk menjaga aset tetap dalam kondisi optimal dan mencegah kegagalan. Preventive maintenance checklist adalah instrumen utama untuk mencapai tujuan ini. Checklist ini memastikan tidak ada langkah inspeksi kritis yang terlewat, dari pemeriksaan visual sederhana hingga pengukuran teknis yang lebih kompleks.
Dengan mengikuti checklist, teknisi dapat secara konsisten memeriksa semua titik rawan pada aset, mengidentifikasi tanda-tanda awal keausan, dan melakukan penyesuaian kecil sebelum masalah membesar. Hal ini meningkatkan keandalan program pemeliharaan preventif secara keseluruhan. Kepatuhan yang ketat terhadap checklist adalah kunci untuk memaksimalkan umur pakai aset dan meminimalkan downtime.
b. Mendukung Pemeliharaan Korektif yang Sistematis
Ketika sebuah aset mengalami kerusakan, pemeliharaan korektif diperlukan untuk mengembalikannya ke kondisi operasional. Meskipun bersifat reaktif, proses perbaikannya tetap harus sistematis untuk memastikan masalah teratasi sepenuhnya dan tidak terulang. Checklist dapat dirancang khusus untuk memandu proses diagnosis masalah (troubleshooting) dan perbaikan.
Checklist pemeliharaan korektif dapat mencakup langkah-langkah seperti identifikasi gejala, pengujian komponen secara berurutan, prosedur perbaikan standar, dan verifikasi akhir setelah perbaikan selesai. Penggunaan checklist dalam konteks ini membantu menstandarkan proses perbaikan, mengurangi waktu diagnosis, dan memastikan kualitas perbaikan yang konsisten, bahkan untuk teknisi yang kurang berpengalaman.
c. Meningkatkan Koordinasi dan Kepatuhan
Baik dalam pemeliharaan preventif maupun korektif, checklist berfungsi sebagai alat komunikasi dan koordinasi yang efektif. Ketika beberapa teknisi atau tim terlibat, checklist memberikan pandangan yang jelas tentang tugas apa yang telah selesai dan apa yang masih perlu dilakukan. Ini mengurangi tumpang tindih pekerjaan dan memastikan serah terima yang lancar.
Selain itu, checklist juga menjadi alat untuk menegakkan kepatuhan terhadap standar keselamatan dan regulasi industri. Dengan memasukkan item-item yang berkaitan dengan keselamatan (misalnya, “pastikan sumber daya telah dimatikan” atau “gunakan APD yang sesuai”), perusahaan dapat memperkuat budaya keselamatan kerja. Kepatuhan yang terdokumentasi ini juga penting untuk tujuan audit dan hukum.
7. Kesimpulan
Maintenance checklist adalah alat strategis yang memastikan keandalan operasional melalui perawatan terstruktur dan pencegahan masalah sejak dini. Dengan panduan yang jelas dan konsisten, checklist ini membantu teknisi menjaga performa aset secara optimal. Implementasi checklist yang disiplin dan terstandarisasi juga dapat memperpanjang umur pakai aset serta meningkatkan efisiensi dalam manajemen pemeliharaan perusahaan.
Software Asset Management ScaleOcean (terutama yang didukung AI) adalah solusi yang mentransformasi maintenance checklist dari kertas yang rawan hilang dan mudah diisi asal-asalan menjadi alur kerja digital yang sistematis dan terstandardisasi. Setiap langkah pemeliharaan dapat dipantau secara real-time, mengurangi risiko kesalahan, sekaligus menjaga konsistensi kualitas pekerjaan teknisi.
Dengan proses yang lebih transparan dan terintegrasi, perusahaan dapat mengambil keputusan lebih cepat dan cerdas. Untuk melihat peningkatan efisiensi secara langsung, Anda dapat mencoba demo gratis ScaleOcean.
FAQ:
1. Apa saja 4 jenis pemeliharaan?
Empat jenis pemeliharaan adalah:
1. Pemeliharaan preventif – dilakukan secara rutin dan berkala.
2. Pemeliharaan korektif – dilakukan saat ada masalah.
3. Pemeliharaan terjadwal – mengikuti jadwal pabrik.
4. Pemeliharaan berbasis kondisi – dilakukan sesuai kondisi yang membutuhkan pemeliharaan.
2. Apa tujuan dari maintenance?
Tujuan maintenance adalah memastikan mesin dan peralatan perusahaan berfungsi optimal untuk mencapai tujuan komersial, serta mencegah kerusakan dini yang dapat mengganggu operasi.
3. Maintenance tugasnya apa?
Tugas maintenance memastikan peralatan, mesin, dan infrastruktur berfungsi dengan baik melalui inspeksi, perawatan, perbaikan, dan pemantauan. Tujuannya mencegah kerusakan, memperpanjang umur aset, dan meminimalkan downtime.







