Apa itu Backorder? Arti, Cara Kerja, dan Strateginya

Posted on
Daftar Isi [hide]
Share artikel ini

Stok habis bukan berarti peluang penjualan harus berhenti. Dalam lingkup bisnis manufaktur dan ritel, ketersediaan barang terkadang sulit mengimbangi tingginya permintaan. Di sinilah backorder berperan sebagai jembatan untuk mempertahakan kepuasan pelanggan serta melancarkan kelangsungan arus kas bisnis Anda.

Melalui sistem backorder, pesanan tetap bisa diproses dengan jaminan pemenuhan stok di kemudian hari. Namun, mengelola pesanan tertunda ini butuh strategi yang matang agar tidak menjadi beban operasional. Dalam pembahasan kali ini, kami akan mengulas definisi, dampak, hingga tips praktis mengelola backorder secara efektif agar bisnis Anda tetap kompetitif di pasar.

starsKey Takeaways

Coba Demo Gratis!

requestDemo

1. Pengertian Backorder

Backorder adalah sebuah situasi di mana pesanan pelanggan sudah masuk, tetapi barangnya belum bisa langsung dikirim karena stok di gudang masih kosong. Hal ini biasanya terjadi saat minat pembeli melonjak tiba-tiba melampaui jumlah persediaan

Sistem backorder sering digunakan di industri dengan permintaan yang fluktuatif, seperti ritel, manufaktur, dan e-commerce. Ketika pelanggan melakukan pembelian, pesanan dicatat secara real-time dan produk akan dikirim setelah stok tersedia kembali. Estimasi pengiriman biasanya juga diinformasikan kepada pelanggan.

Namun, backorder dapat menimbulkan keterlambatan pengiriman jika tidak dikelola dengan tepat. Oleh karena itu, penting bagi pengelola untuk mengkomunikasikan hal ini dengan jelas dan sesuai dengan komitmen pengiriman.

Dengan pengelolaan yang baik, backorder dapat menngkatkan kepuasan pelanggan serta membantu kelangsungan penjualan. Sistem ini juga bisa dijadikan peluang perencanaan stok atau pembelian yang lebih banyak karena permintaan pasar melebihi stok.

2. Perbedaan Backorder dan Out of Stock (OOS)

Peran backorder

Banyak orang mengira backorder dan kehabisan stok adalah hal yang sama, padahal keduanya memiliki perbedaan yang jelas. Kehabisan stok terjadi ketika barang benar-benar tidak tersedia dan perusahaan tidak menerima pemesanan baru.

Biasanya, produk yang out of stock akan dinonaktifkan dari katalog atau diberi keterangan tidak tersedia karena belum ada kepastian kapan stok akan kembali. Dalam situasi ini, pelanggan tidak dapat memesan produk tersebut sama sekali.

Sementara itu, backorder merupakan kondisi saat pelanggan tetap diperbolehkan melakukan pemesanan meskipun barang sedang kosong. Namun, berbeda dengan kehabisan stok, backorder memberikan kepastian bahwa pesanan akan dipenuhi setelah stok tersedia kembali.

Biasanya, perusahaan sudah memiliki estimasi waktu kapan produk akan tiba, sehingga pelanggan bisa mengetahui kapan barang akan dikirimkan. Sistem ini sering digunakan pada produk dengan permintaan tinggi yang stoknya belum tersedia untuk sementara waktu.

Berikut ini adalah contoh sederhana agar lebih mudah dipahami, sebuah toko online menampilkan produk tas yang sudah habis. Jika statusnya out of stock, pembeli tidak bisa memasukkan produk tersebut ke dalam keranjang.

Sebaliknya, jika toko tersebut membuka backorder, pembeli tetap bisa memasukkan produk ke keranjang namun, pihak pengelola akan memberitahu bahwa pesanan tidak dapat dikirimkan langsung. Dalam pengelolaan bisnis, memahami perbedaan ini sangat penting.

Backorder masih memberikan peluang penjualan meski ada keterlambatan stok. Sedangkan kehabisan stok cenderung membuat pelanggan beralih ke kompetitor karena tidak ada opsi untuk memesan.

3. Dampak Positif Backorder

Meskipun sering dianggap sebagai kendala, backorder sebenarnya dapat memberikan sejumlah manfaat bagi bisnis. Menurut Investopedia, jika dikelola dengan baik, sistem ini justru mampu mendukung keberlanjutan penjualan dan membantu bisnis dalam memahami pola permintaan pasar secara lebih detail. Berikut penjelasan lebih lanjutnya:

a. Menjaga Loyalitas Pelanggan

Penerapan sistem backorder dapat membantu menjaga loyalitas pelanggan. Ketika bisnis tetap menerima pesanan meski stok kosong, pelanggan merasa lebih dihargai karena tetap diberikan kepastian. Dengan catatan, pengelola harus memberikan informasi yang jelas terkait estimasi waktu pengiriman.

Pendekatan ini membangun kepercayaan dan memperkuat hubungan jangka panjang dengan pelanggan setia. Untuk mendukungnya, pengendalian persediaan yang baik diperlukan agar pesanan dapat segera dipenuhi saat stok tersedia, sehingga kekurangan barang dapat dihindari dan kepuasan pelanggan tetap terjaga.

b. Mempertahankan Potensi Penjualan

Selanjutnya, backorder juga bermanfaat dalam menjaga potensi penjualan. Bisnis tetap bisa mencatat pendapatan dari pesanan yang masuk, meski barang baru akan dikirimkan nanti. Tanpa sistem ini, perusahaan dapat kehilangan peluang penjualan karena pelanggan memilih beralih ke kompetitor.

Menerapkan sistem backorder membantu Anda agar kegiatan penjualan tetap berjalan, sehingga arus kas pun menjadi lebih sehat. Selain itu, Anda bisa menentuka kebutuhan inventaris serta memproyeksikan angka penjualan ke depannya secara lebih tepat.

c. Memberi Sinyal Permintaan Tinggi ke Tim Produksi

Jumlah pesanan dalam sistem backorder memberikan sinyal langsung ke tim produksi. Hal ini mempermudah perusahaan dalam merencanakan kapasitas produksi dan jadwal restock. Backorder menunjukkan produk mana yang diminati pasar, sehingga memudahkan pengambilan keputusan produksi berdasarkan data nyata, bukan sekadar prediksi.

d. Mendorong Efisiensi Manajemen Stok Barang Masuk dan Keluar

Sistem ini juga mendorong efisiensi pengelolaan stok barang masuk dan keluar. Dengan adanya backorder, bisnis dapat lebih akurat menghitung kebutuhan stok ke depan. Perusahaan dapat menyesuaikan pengadaan barang sesuai volume permintaan riil, bukan sekadar perkiraan. Ini membantu meminimalisir risiko overstock atau kekurangan stok di masa mendatang.

4. Dampak Negatif Backorder

Meskipun dapat meningkatkan keuntungan, sistem backorder juga memiliki kekurangan. Jika tidak dikelola dengan baik, penumpukan pesanan tertunda bisa justru menjadi masalah bagi bisnis di masa depan. Karena itu, penting bagi setiap perusahaan untuk memiliki strategi mitigasi yang baik, agar potensi kendala operasional dapat diatasi sejak awal.

a. Risiko Keluhan Pelanggan

Salah satu dampak paling nyata dari backorder adalah meningkatnya risiko keluhan dari pelanggan. Waktu tunggu yang terlalu lama sering memicu ketidakpuasan karena pelanggan berharap produk tersedia lebih cepat. Jika ekspektasi ini tidak dikelola dengan komunikasi yang baik, keluhan pelanggan bisa semakin banyak dan memengaruhi reputasi bisnis.

b. Potensi Kehilangan Kepercayaan

Backorder yang dikelola dengan buruk dapat menurunkan kepercayaan pelanggan. Pelanggan yang kecewa cenderung mencari alternatif lain yang mampu memberikan layanan lebih cepat. Kondisi ini bisa berdampak pada loyalitas pelanggan yang sudah terbentuk sebelumnya, bahkan mendorong mereka beralih ke kompetitor.

c. Mengganggu Arus Kas Bisnis

Keterlambatan pengiriman menyebabkan penundaan aliran pemasukan, terutama jika pembayaran baru diproses saat barang dikirim. Selain itu, pembatalan pesanan berdampak pada operasional. Perusahaan juga harus menanggung stock out cost yang timbul akibat hilangnya kesempatan penjualan dan biaya tambahan untuk pemrosesan pesanan yang tertunda.

d. Kaitan dengan Laporan Stok Barang Gudang

Pengelolaan backorder yang kurang baik bisa membuat laporan stok barang gudang menjadi tidak akurat. Stok yang tercatat belum tentu mencerminkan kondisi fisik di lapangan karena adanya pesanan tertunda yang belum terpenuhi. Hal ini mempersulit perencanaan pengadaan dan distribusi barang di masa mendatang.

5. Faktor Penyebab Terjadinya Backorder

Ada berbagai faktor yang dapat memicu terjadinya backorder dalam proses operasional bisnis. Umumnya, penyebab ini berkaitan dengan ketidakseimbangan antara permintaan pasar dan ketersediaan stok. Karena itu, penting bagi bisnis untuk mengenali penyebab utamanya sebagai bahan evaluasi. Dengan begitu, Anda bisa menekan risiko yang muncul sekaligus meningkatkan kelancaran manajemen stok barang.

a. Prediksi Permintaan Meleset

Penyebab umum backorder adalah kesalahan prediksi permintaan pasar. Banyak bisnis mengalami lonjakan pesanan di luar perkiraan, sementara stok barangnya tidak memadai. Hal ini mempertegas bahwa Anda tidak bisa hanya menebak-nebak pasar. Dibutuhkan analisis penawaran dan permintaan (supply-demand) agar kapasitas produksi Anda sesuai dengan tren penjualan yang sedang terjadi.

Seperti yang sudah dijelaskan, kondisi ini sering terjadi karena kurangnya analisis tren, musim, atau dampak promosi yang memicu lonjakan penjualan secara tiba-tiba. Akibat dari kesalahan prediksi ini, bisnis akan mengalami kekurangan stok (understock).

b. Gangguan Produksi atau Pengiriman

Selain prediksi yang kurang akurat, gangguan produksi juga kerap memicu backorder. Kendala seperti keterlambatan pasokan bahan baku, peralatan rusak, hingga hambatan logistik dapat menghambat proses produksi. Akibatnya, pengiriman ke pelanggan menjadi tertunda dan pesanan harus diproses setelah stok tersedia kembali.

c. Supplier Terlambat

Lalu, keterlambatan dari pemasok juga sering kali menjadi penyebab. Situasi ini biasanya disebabkan oleh hambatan produksi, kendala pengiriman, atau ketidakpastian kondisi pasar. Jika supplier gagal memenuhi target waktu, stok perusahaan akan terganggu dan backorder menjadi langkah sementara untuk menjaga peluang penjualan.

Untuk mengantisipasi hal ini, beberapa perusahaan menerapkan strategi vendor managed inventory agar pemasok memiliki visibilitas langsung terhadap stok gudang dan dapat melakukan restock secara proaktif sebelum barang benar-benar habis.

d. Kegagalan Sistem Inventory

Pengelolaan stok yang buruk, khususnya pada pencatatan stock on hand, juga sering menyebabkan kesalahan data. Data yang tidak diperbarui secara real-time bisa membuat stok tampak tersedia, padahal barang sudah habis. Hal ini mengharuskan perusahaan tetap menerima pesanan tanpa kepastian ketersediaan barang dan harus memprosesnya melalui backorder.

e. Kesalahan Perencanaan Persediaan

Selain itu, perencanaan persediaan yang tidak tepat atau adanya kesalahan dalam pengelolaan juga mengakibatkan backorder. Ketika perusahaan salah dalam memprediksi berapa banyak produk yang harus disimpan di gudang, atau kapan harus melakukan pemesanan ulang, maka ada kemungkinan gudang kekurangan stok ketika permintaan datang.

f. Kapasitas Penyimpanan Terbatas

Penyebab lainnya yaitu kapasitas penyimpanan yang terbatas. Dengan keterbatasan ruang gudang, perusahaan bisa saja terpaksa menolak pesanan tambahan atau menunda pengiriman hingga ruang penyimpanan tersedia kembali atau persediaan baru tiba. Hal ini tidak hanya menyebabkan backorder, tapi juga kehilangan penjualan yang mempengaruhi keuangan perusahaan.

g. Fluktuasi Permintaan

Fluktuasi permintaan yang tiba-tiba dapat memicu backorder, terutama jika permintaan melampaui prediksi. Hal ini bisa disebabkan oleh perubahan musiman, tren pasar, atau promosi yang tak terduga, yang mengakibatkan ketidakseimbangan antara stok dan pesanan.

h. Tidak adanya Buffer Stock atau Safety Stock

Tidak memiliki buffer stock atau safety stock dapat menyebabkan backorder jika terjadinya permintaan tak terduga. Barang yang seharusnya disiapkan sebagai cadangan untuk mengantisipasi fluktuasi pasokan dan permintaan tidak tersedia.

i. Produk yang Sangat Populer

Terakhir, produk yang sangat populer sering kali menghadapi backorder karena permintaan yang melebihi stok yang tersedia. Ketika sebuah barang ternyata terjual lebih cepat dari yang diprediksi, perusahaan sering kali kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pasar yang tiba-tiba melonjak.

6. Cara Kerja Backorder dalam Perusahaan

Untuk memahami manfaat dan tantangan backorder, penting juga untuk mengetahui bagaimana sistem ini bekerja dalam operasional bisnis. Setiap perusahaan mungkin memiliki alur yang berbeda, tetapi secara umum, proses tersebut mengikuti tahapan yang serupa. Dengan pengelolaan yang tepat, proses backorder dapat membantu bisnis untuk memenuhi permintaan pelanggan:

a. Memeriksa Kecukupan Barang

Proses dimulai dengan memeriksa apakah stok barang yang dipesan cukup untuk memenuhi permintaan. Jika stok tidak mencukupi, pesanan akan masuk ke status backorder, dan perusahaan akan segera mengidentifikasi kapan barang tersebut dapat tersedia kembali.

b. Memberitahukan Backorder kepada Pelanggan

Begitu diketahui bahwa pesanan tidak dapat dipenuhi tepat waktu, kabari pelanggan mengenai status backorder. Pemberitahuan ini penting untuk mengatur ekspektasi pelanggan dan memberikan opsi mengenai pengiriman atau penggantian produk.

c. Mengatur Pesanan Barang Backorder

Perusahaan kemudian akan memprioritaskan pemesanan barang yang mengalami backorder. Ini bisa mencakup menghubungi pemasok untuk mempercepat pengiriman atau memproduksi barang sesuai permintaan. Semua langkah ini dilakukan agar barang dapat segera dikirim.

d. Menyusun Pengiriman Barang Backorder

Setelah barang tersedia, pengiriman barang backorder disusun. Proses ini melibatkan pengemasan dan pengiriman yang dilakukan dengan prioritas tinggi agar barang yang tertunda sampai ke pelanggan secepat mungkin.

e. Berkomunikasi dengan Pelanggan Mengenai Status Backorder

Selama proses backorder, penting untuk terus berkomunikasi dengan pelanggan tentang status pengiriman. Pastikan pelanggan selalu mendapatkan update terbaru mengenai status pengiriman mereka. Komunikasi yang proaktif seperti ini membuat mereka merasa tenang dan dihargai, sehingga rasa tidak puas akibat stok yang kosong bisa dicegah.

7. Strategi untuk Mengelola Backorder

Agar dampak negatif backorder tidak menghambat operasional bisnis, perusahaan perlu menerapkan strategi yang tepat. Ini bertujuan agat bisnis dapat memenuhi pesanan pelanggan dan menjaga kestabilan arus kerja, keuangan, dan kepuasan pelanggan. Dengan perencanaan yang matang, proses backorder dapat dikelola secara efektif tanpa mengurangi kualitas layanan:

a. Modifikasi Demand Forecasting

Akurasi dalam peramalan permintaan sangat bergantung pada data inventaris yang valid dan terbaru. Perusahaan bisa membuat prediksi yang lebih akurat melalui pemanfaatan informasi penjualan, pola musiman, dan tren pasar. Penelitian dari Jakšič & Fransoo menekankan pentingnya pengelolaan inventori yang terintegrasi dengan supply backorder untuk menjaga efisiensi rantai pasok dan mengurangi risiko stok kosong.

b. Gunakan Buffer Stock

Salah satu langkah preventif yang paling mendasar adalah menyediakan buffer stock atau stok cadangan. Anggap saja ini sebagai back up saat permintaan tiba-tiba melonjak atau ada gangguan tak terduga dari sisi suplai. Berkat adanya stok cadangan yang memadai, operasional bisnis Anda tetap bisa berjalan stabil tanpa membuat pelanggan merasa kecewa karena barang habis.

c. Memiliki Supplier Alternatif

Strategi lainnya adalah dengan memiliki beberapa pemasok alternatif. Mengandalkan hanya pada satu pemasok adalah hal yang cukup berisiko, terutama jika terjadi gangguan dalam rantai pasokan. Dengan memiliki pemasok cadangan, perusahaan dapat memastikan ketersediaan barang tetap terjaga. Jadi, meski satu pemasok menghadapi masalah, perusahaan tetap bisa mendapatkan barang dari sumber lain.

d. Buat Skala Prioritas Pengiriman

Tidak semua pesanan diperlakukan dengan cara yang sama saat stok barang terbatas. Anda perlu mengelompokkan pesanan berdasarkan kriteria tertentu, misalnya tingkat urgensi, nilai transaksi, atau loyalitas pelanggan. Dengan menentukan skala prioritas yang jelas, Anda bisa memastikan pelanggan setia atau produk paling laku tetap terlayani dengan baik.

e. Software Warehouse Management

Pemanfaatan software warehouse management juga sangat penting dalam mengelola backorder. Sistem ini membantu memantau ketersediaan stok secara real-time, mencatat data inventaris, dan mempermudah penjadwalan restock. Dengan informasi yang akurat, bisnis dapat mengatur prioritas pengiriman lebih cepat dan menekan potensi keterlambatan.

f. Menerapkan Kebijakan Refund

Menghadapi backorder sering kali memerlukan kebijakan refund yang jelas dan adil untuk pelanggan. Jika pesanan tidak dapat dipenuhi dalam waktu yang wajar, perusahaan perlu menawarkan pengembalian dana atau solusi lain untuk memastikan kepuasan pelanggan. Kebijakan ini memberi pelanggan pilihan untuk mendapatkan kembali uang mereka, yang dapat mengurangi ketidakpuasan dan meningkatkan loyalitas mereka.

g. Kelola Rantai Pasok secara Proaktif

Perusahaan sebaiknya jangan menunggu sampai timbulnya masalahuntuk mencari solusi. Lakukan evaluasi rantai pasokan secara rutin, mulai dari memantau ketersediaan bahan baku hingga menjaga komunikasi yang baik dengan pemasok. Dengan pendekatan yang proaktif, Anda dapat mengidentifikasi potensi hambatan lebih awal dan memastikan kelancaran aliran pasokan tetap terjaga.

8. Contoh Rumus dan Perhitungan Backorder

Untuk memantau dan mengelola backorder dengan lebih baik, pengelola perlu memahami cara menghitung backorder pesanan secara akurat. Perusahaan bisa memetakan seberapa besar ketertinggalan pengiriman dan menyesuaikan strategi pengadaan barang jika backorder dihitung dengan tepat.

Rumus yang sering digunakan adalah:

Jumlah Backorder = Jumlah Permintaan − Jumlah Stok yang Tersedia

Contohnya, jika total permintaan pelanggan sebanyak 500 unit, sementara stok tersedia hanya 400 unit, maka perhitungannya:

Jumlah backorder = 500 − 400

Jumlah backorder = 100 unit

Artinya, terdapat 100 unit yang masuk dalam daftar backorder dan perlu dipenuhi setelah stok tersedia.

Selain itu, perusahaan juga bisa mengukur backorder rate untuk mengetahui seberapa sering pesanan tidak dapat segera dipenuhi. Rumusnya:

Backorder Rate = (Jumlah backorder / Total Permintaan) × 100%

Misalnya, dari total permintaan 800 unit, terdapat 100 unit backorder, maka perhitungannya:

Backorder Rate = (100/800) × 100%

Backorder Rate = 12,5%.

Perhitungan ini berkaitan erat dengan penerapan rumus stok level inventaris. Dengan memahami batas minimum dan optimal stok, perusahaan dapat mengurangi risiko kekurangan barang yang memicu backorder. Manajemen stok yang akurat membantu menjaga ketersediaan barang, mengurangi potensi keterlambatan, dan meningkatkan kepuasan pelanggan.

9. Cara Mengurangi Kemungkinan Terjadinya Backorder

Agar backorder tidak terjadi secara berulang, bisnis perlu menerapkan strategi yang lebih proaktif supaya stok selalu tersedia sesuai kebutuhan. Karena itu, pesanan dapat diproses tepat waktu tanpa perlu menunggu restock. Jika dikelola dengan tepat, perusahaan tidak hanya mampu mempertahankan kepuasan pelanggan, tetapi juga membantu proses operasional agar berjalan stabil.

a. Optimasi Pengelolaan Stok

Langkah pertama yang penting dilakukan adalah mengoptimalkan pengelolaan stok. Perusahaan perlu menetapkan reorder point yang jelas dan melakukan perencanaan stok berbasis data historis penjualan. Selain itu, penting untuk memiliki buffer stock yang memadai, terutama untuk produk dengan permintaan tinggi. Strategi ini akan membantu meminimalisir risiko keterlambatan pengiriman akibat kekurangan stok.

b. Pemantauan Stok Lebih Akurat

Memanfaatkan teknologi seperti software stok inventory juga akan memudahkan pemantauan stok secara real-time. Dengan pemantauan yang akurat, perusahaan dapat mengetahui kapan stok mendekati batas minimum sehingga proses pengadaan dapat dilakukan lebih cepat. Teknologi ini juga membantu mengidentifikasi produk mana yang paling rentan kehabisan stok, sehingga perusahaan bisa lebih waspada.

c. Gunakan Laporan Stok Berkala

Selanjutnya, gunakan laporan stok barang gudang secara rutin. Hal ini memudahkan bisnis dalam mengevaluasi kondisi stok dengan lebih akurat. Laporan ini memberikan gambaran stok aktual, perputaran barang, serta potensi kekurangan stok. Dengan laporan yang rapi dan konsisten, perusahaan dapat mengambil keputusan lebih cepat untuk menghindari terjadinya backorder di masa mendatang.

10. Contoh Backorder

Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh nyata penerapan backorder. Studi kasus ini menunjukkan bagaimana perusahaan memanfaatkan backorder untuk menjaga penjualan tetap berjalan meskipun stok kosong.

Sebuah perusahaan retail pakaian mengalami lonjakan penjualan saat promo besar berlangsung, khususnya untuk produk jaket warna netral yang sedang menjadi tren. Awalnya, perusahaan sudah memperkirakan kebutuhan stok berdasarkan data penjualan sebelumnya. Namun, permintaan pasar kali ini melebihi prediksi, sehingga stok cepat habis sebelum masa promo berakhir.

Untuk mempertahankan momentum penjualan, perusahaan menerapkan sistem backorder bagi pelanggan yang ingin tetap membeli produk. Pelanggan diberi informasi bahwa produk akan dikirim dalam waktu seminggu setelah stok tersedia. Dengan sistem ini, perusahaan menjaga arus penjualan meski stok sedang kosong, sambil memberikan pembaruan status pesanan agar pelanggan merasa aman dan terlayani.

Dari sisi bisnis, langkah ini membantu perusahaan untuk memaksimalkan penjualan, menjaga kepercayaan pelanggan, dan mencegah kehilangan konsumen ke kompetitor. Tim operasional menggunakan data backorder untuk mempercepat restock dari pemasok. Contoh ini menunjukkan bahwa hal tersebut bukan hanya solusi sementara, tetapi juga strategi keberlanjutan bisnis jika dikelola dengan transparan dan profesional.

11. Optimalkan Pengendalian Backorder dengan Software WMS ScaleOcean

Minimalisir backorder dengan software inventory ScaleOcean

Perusahaan sering menghadapi tantangan dalam mengelola persediaan yang dapat memicu backorder, seperti kesulitan memantau stok yang akurat, ketidaksesuaian antara pesanan dan ketersediaan stok, serta risiko kehabisan stok yang mengganggu kelancaran operasional. Masalah-masalah ini dapat berdampak pada produktivitas, kepuasan pelanggan, dan pendapatan perusahaan.

Bila anda menggunakan demo gratis yang kami tawarkan, anda dapat merasakan fitur – fitur yang kami tawarkan. Dengan Inventory Management ScaleOcean ERP, perusahaan dapat memanfaatkan fitur seperti Real-Time Stock Visibility, yang memastikan ketersediaan barang selalu terpantau secara akurat.

  • Real-Time Stock Visibility: Memastikan ketersediaan stok terpantau secara akurat di seluruh gudang dan lokasi penyimpanan, mengurangi risiko kehabisan stok dan backorder.

  • Automated Stock Replenishment (Reorder Point): Memberikan notifikasi dan/atau membuat perintah untuk stock replenishment ketika stok mencapai batas minimum, mencegah kekurangan stok yang memicu backorder.

  • Integrated with Sales & Purchasing: Menyinkronkan data stok dengan modul penjualan dan pembelian, mencegah overcommitment, dan memastikan kelancaran alur bisnis antara pesanan dan pengadaan.

Untuk memahami lebih jauh bagaimana Inventory Management ScaleOcean ERP dapat membantu mengatasi masalah backorder dan mengoptimalkan manajemen stok, kami menyediakan penggunaan tak terbatas. Tim kami juga siap memberikan konsultasi gratis untuk membantu Anda menyesuaikan solusi ERP dengan kebutuhan spesifik bisnis Anda.

12. Kesimpulan

Sebenarnya, backorder tidak selalu berarti hambatan. Jika dikelola dengan benar, sistem ini bisa menjadi penyelamat agar transaksi tetap berjalan meski stok sedang kosong. Kuncinya terletak pada pengelolaan yang transparan dan menjaga kepercayaan pelanggan. Dengan begitu, Anda tetap bisa memanfaatkan peluang penjualan meski ada masalah stok.

Tentunya, kelancaran proses ini membutuhkan strategi yang tepat dan dukungan teknologi. Penggunaan software warehouse management, misalnya, sangat memudahkan Anda untuk memantau pergerakan barang secara real-time tanpa perlu mengandalkan perkiraan.

Bagi bisnis yang ingin mengelola backorder lebih efektif, Anda dapat mempertimbangkan solusi modern dari ScaleOcean. Dengan sistem yang terintegrasi, proses pengadaan dan distribusi akan lebih terstruktur, sehingga risiko keterlambatan dapat diminimalkan. ScaleOcean menawarkan demo gratis yang bisa anda coba untuk bisnis anda.

FAQ:

1. Apa itu backorder?

Backorder merupakan istilah yang mengacu pada situasi ketika pesanan pelanggan tetap diterima meskipun stok barang sedang kosong.

2. Apa dampak negatif dari backorder?

backorder dapat mengurangi rasa kepercayaan pelanggan, memicu ketidakpuasan pelanggan, dan membuat penghasilan tersendat.

3. Bagaimana cara meminimalisir backorder?

Untuk meminimalisir backorder dapat dilakukan dengan cara, mengadakan buffer stock, mengimplementasikan software inventory management, dan rutin melihat laporan stok.

Cristofel Timoteus
Cristofel Timoteus
Cristofel memiliki pengalaman hampir satu tahun di bidang content writing, dengan fokus pada penulisan artikel edukasi seputar teknologi, proses bisnis, dan topik industri. Terlatih dalam menyusun konten informatif yang merangkum konsep teknis menjadi penjelasan yang lebih jelas, ringkas, serta mudah dipahami pembaca.

ERP Buat Bisnis Ngebut

Operasional rapi, bisnis makin cepat

ERP Dashboards Demo Gratis
Dekson Sinarmas Bank of China Changi Shalby

Coba Demo Gratis!

Error message
Error message
Error message
Error message
Error message
Error message

Rekomendasi Artikel Terkait

Temukan Artikel Serupa untuk Solusi Bisnis Lebih Lengkap