Apa itu Scheduled Maintenance, Pemicu, serta Manfaatnya

Posted on
Share artikel ini

Kerusakan mesin saat puncak musim, hasil produksi yang tidak konsisten, dan risiko kecelakaan kerja seringkali mengganggu operasional bisnis. Hal ini pada akhirnya memicu downtime, tingkat reject tinggi, dan denda cedera. Untuk itu, scheduled maintenance menjadi solusi untuk mengurangi risiko dengan pemeliharaan mesin terjadwal secara rutin.

Dengan scheduled maintenance, perusahaan dapat memperpanjang usia mesin, menjaga efisiensi, dan mengurangi kebutuhan pembelian mesin baru. Pemeliharaan terjadwal juga membantu mengoptimalkan manajemen downtime, stok suku cadang, dan biaya operasional, meningkatkan produktivitas secara keseluruhan.

Artikel ini akan menjelaskan apa itu scheduled maintenance, perbedaannya dengan pemeliharaan jenis lain, manfaat utamanya, hingga langkah implementasi yang paling efektif.

starsKey Takeaways
  • Schedule maintenance adalah proses merencanakan dan mengatur kegiatan pemeliharaan peralatan atau aset secara berkala dan terstruktur.
  • Berbagai jenis pemicu scheduled maintenance mulai dari waktu, penggunaan, atau kondisi real-time aset untuk efisiensi maksimal.
  • Manfaat utama scheduled maintenance mencakup pengurangan downtime, penghematan biaya signifikan, dan peningkatan keselamatan kerja di lantai produksi.
  • Software Aset ScaleOcean membantu menyederhanakan penjadwalan, pelacakan, dan optimalkan seluruh program scheduled maintenance pabrik Anda.

Coba Demo Gratis!

requestDemo

1. Apa itu Scheduled Maintenance?

Scheduled maintenance adalah strategi pemeliharaan proaktif di mana tugas-tugas inspeksi, perbaikan, dan penggantian komponen dilakukan pada interval waktu atau penggunaan yang telah ditentukan sebelumnya. Tujuannya yaitu untuk mencegah kegagalan peralatan sebelum terjadi.

Perusahaan dapat mengidentifikasi dan mengatasi masalah kecil sebelum berkembang menjadi kerusakan besar. Berbeda dengan pendekatan reaktif yang menunggu mesin rusak baru diperbaiki, scheduled maintenance beroperasi berdasarkan kalender atau metrik penggunaan yang jelas.

Penjadwalan yang konsisten ini memastikan bahwa setiap aset kritikal menerima perhatian yang dibutuhkan untuk tetap beroperasi pada performa puncaknya. Inti dari factory scheduled maintenance adalah perencanaan dan antisipasi. Strategi ini memungkinkan tim pemeliharaan untuk mempersiapkan suku cadang, alat, dan tenaga kerja yang diperlukan jauh-jauh hari.

Dengan demikian, interupsi terhadap produksi dapat diminimalkan karena pekerjaan pemeliharaan dilakukan pada waktu yang paling tidak mengganggu, seperti di luar jam kerja atau selama periode produksi rendah.

2. Perbedaan Scheduled Maintenance vs Planned Maintenance

Istilah scheduled maintenance dan planned maintenance sering digunakan secara bergantian. Namun keduanya memiliki makna yang sedikit berbeda meskipun saling terkait erat. Scheduled maintenance secara spesifik mengacu pada penentuan waktu (kapan) pekerjaan pemeliharaan akan dilakukan.

Planned maintenance berfokus pada persiapan pekerjaan (apa, bagaimana, dan dengan apa). Ini mencakup semua langkah yang diperlukan sebelum teknisi benar-benar mulai bekerja, seperti mengidentifikasi masalah, menyusun prosedur kerja langkah demi langkah, memesan suku cadang yang diperlukan, memastikan ketersediaan alat khusus, dan mengalokasikan teknisi dengan keahlian yang tepat.

Setiap tugas scheduled maintenance harus melalui proses planned maintenance terlebih dahulu. Sebuah perintah kerja yang hanya dijadwalkan tanpa perencanaan yang matang dapat menyebabkan inefisiensi, seperti teknisi tiba di lokasi tanpa suku cadang yang benar atau instruksi yang jelas.

3. Manfaat Utama Penerapan Scheduled Maintenance

Manfaat Utama Penerapan Scheduled Maintenance

Manfaat scheduled maintenance meliputi pengurangan downtime, penghematan biaya perbaikan, serta perpanjangan umur aset. Selain meningkatkan keselamatan dan kepatuhan, pemeliharaan terjadwal juga membantu alokasi sumber daya yang lebih efisien dan mendukung profitabilitas jangka panjang. Berikut ini penjelasannya:

a. Mengurangi Waktu Henti

Scheduled maintenance mengurangi risiko downtime yang tidak terencana dengan mendeteksi masalah sejak dini. Proses ini memungkinkan perusahaan untuk mengatur waktu pemeliharaan secara terjadwal, sehingga tidak mengganggu operasional bisnis. Setiap jam yang diselamatkan dari downtime berkontribusi langsung pada profitabilitas.

b. Penghematan Biaya

Meskipun memerlukan investasi awal, scheduled maintenance mengurangi biaya perbaikan darurat yang lebih mahal akibat kerusakan besar. Dengan mencegah kegagalan mesin secara dini, biaya perbaikan dapat ditekan, selain itu, pengelolaan stok dan suku cadang menjadi lebih efisien, mengurangi pemborosan dan biaya tak terduga.

c. Memperpanjang Umur Aset

Perawatan mesin secara rutin dapat memperpanjang usia aset berharga perusahaan. Dengan memperlambat proses keausan, perusahaan dapat menunda biaya penggantian mesin dan memastikan bahwa aset tetap berjalan dengan optimal dalam jangka waktu yang lebih lama, sehingga meningkatkan ROI.

d. Meningkatkan Keselamatan dan Kepatuhan

Pemeliharaan rutin memastikan bahwa mesin beroperasi sesuai standar dan mengurangi potensi kecelakaan. Selain itu, tersedianya laporan perawatan mesin yang lengkap membantu perusahaan memenuhi regulasi keselamatan yang ketat serta mempermudah proses audit internal maupun eksternal.

e. Alokasi Sumber Daya yang Efisien

Dengan perencanaan pemeliharaan yang jelas, perusahaan dapat menjalankan preventive maintenance dengan alokasi sumber daya lebih efisien. Hal ini mencakup pengelolaan waktu dan anggaran secara optimal sehingga produktivitas tim dapat dimaksimalkan tanpa pemborosan.

4. Jenis Pemicu (Triggers) dalam Penjadwalan Maintenance

Efektivitas program scheduled maintenance bergantung pada pemilihan pemicu yang tepat untuk setiap aset. Pemicu ini menentukan kapan sebuah tugas pemeliharaan harus dieksekusi. Memilih pemicu yang paling relevan untuk setiap jenis mesin dapat mengoptimalkan penggunaan sumber daya dan memaksimalkan keandalan aset.

Berikut beberapa jenis pemicu yang memicu dalam scheduled maintenance:

a. Time-based (Berdasarkan Waktu)

Pemicu berbasis waktu adalah metode yang paling sederhana dan umum digunakan dalam scheduled maintenance. Tugas pemeliharaan dijadwalkan berdasarkan interval kalender yang tetap, seperti harian, mingguan, bulanan, atau tahunan.

Contoh klasiknya adalah inspeksi keselamatan mingguan, penggantian oli setiap tiga bulan, atau servis tahunan pada sistem pendingin pabrik. Kelebihan utama dari pemicu ini adalah kemudahannya dalam perencanaan dan penganggaran.

Namun, kelemahannya adalah ia tidak memperhitungkan intensitas penggunaan aset yang sebenarnya. Sebuah mesin yang jarang digunakan mungkin menerima pemeliharaan yang tidak perlu, sementara mesin yang bekerja terus-menerus mungkin memerlukan servis lebih cepat dari jadwal yang ditentukan.

b. Usage-based (Berdasarkan Penggunaan)

Pemicu berbasis penggunaan menjadwalkan pemeliharaan berdasarkan metrik operasional aktual, bukan waktu kalender. Metrik ini bisa berupa jam operasional mesin, jumlah siklus produksi, jarak tempuh (untuk kendaraan), atau jumlah unit yang diproduksi.

Pendekatan ini lebih akurat daripada berbasis waktu karena pemeliharaan dilakukan saat benar-benar dibutuhkan sesuai dengan tingkat keausan aset. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk melakukan perawatan tepat waktu, menghindari kegagalan mendadak, serta memaksimalkan umur dan kinerja aset.

Misalnya, sebuah mesin CNC mungkin dijadwalkan untuk kalibrasi ulang setiap 500 jam operasi, atau pisau pemotong pada mesin lain diganti setelah memproses 10.000 unit produk. Implementasi pemicu ini memerlukan sistem manajemen aset untuk melacak penggunaan secara akurat, seperti hour meter atau integrasi dengan sistem kontrol produksi.

c. Condition-based (Berdasarkan Kondisi Real-time)

Pemeliharaan berbasis kondisi adalah bentuk pemeliharaan proaktif yang serupa dengan prinsip predictive maintenance. Tugas pemeliharaan dipicu oleh data kondisi realtime aset dikumpulkan melalui sensor dan teknik pemantauan khusus untuk meminimalkan kegagalan mendadak.

Contohnya termasuk analisis getaran, termografi inframerah, analisis oli, atau pemantauan tekanan. Tindakan pemeliharaan hanya dilakukan ketika data menunjukkan adanya penurunan kinerja atau tanda-tanda awal kegagalan.

Misalnya, perbaikan pada bearing motor dijadwalkan ketika sensor getaran mendeteksi anomali yang melampaui ambang batas aman. CBM memungkinkan intervensi yang sangat tepat waktu, memaksimalkan umur komponen, dan meminimalkan interupsi pada masa pemeliharaan.

d. One-off Work Orders (Perintah Kerja Sekali Jalan)

Ada kebutuhan untuk perintah kerja sekali jalan (one-off work orders) yang muncul dari inspeksi, audit, atau permintaan khusus. Meskipun tidak berulang, tugas-tugas ini tetap perlu dijadwalkan agar dapat dieksekusi secara terorganisir.

Contohnya termasuk perbaikan kecil yang ditemukan saat inspeksi rutin, pemasangan pelindung keamanan baru sesuai rekomendasi audit, atau modifikasi mesin untuk proyek produksi baru.

Memasukkan perintah kerja ini ke dalam sistem maintenance schedule adalah hal yang krusial. Ini memastikan bahwa sumber daya yang diperlukan dialokasikan dengan benar dan pekerjaan tersebut tidak terlupakan di tengah kesibukan operasional harian.

5. Contoh Penerapan Scheduled Maintenance di Lapangan

Contoh Penerapan Scheduled Maintenance di Lapangan

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, mari kita lihat beberapa contoh scheduled maintenance yang umum diterapkan di berbagai fasilitas. Contoh-contoh ini menunjukkan bagaimana prinsip pemeliharaan terjadwal diadaptasi untuk berbagai jenis aset dan kebutuhan operasional.

Berikut adalah beberapa contoh penerapan scheduled maintenance yang umum diterapkan:

a. Inspeksi Sistem HVAC dan Penggantian Filter

Sistem pemanasan, ventilasi, dan pendingin udara (HVAC) sangat penting untuk menjaga kualitas udara, suhu, dan kelembaban yang terkontrol di banyak pabrik, terutama di industri makanan, farmasi, dan elektronik.

Jadwal pemeliharaan yang umum adalah inspeksi bulanan dan penggantian filter udara setiap tiga bulan. Inspeksi bulanan mungkin mencakup pemeriksaan level refrigeran, pembersihan koil, dan pengecekan fungsi termostat.

Penggantian filter secara teratur sangat penting untuk menjaga efisiensi energi dan kualitas udara. Menjadwalkan tugas-tugas ini mencegah kegagalan sistem HVAC yang dapat menghentikan seluruh produksi dan merusak produk yang sensitif terhadap kondisi lingkungan.

b. Kalibrasi Peralatan Manufaktur Secara Berkala

Di industri yang mengutamakan presisi, seperti otomotif, dirgantara, atau perangkat medis, kalibrasi peralatan adalah tugas pemeliharaan yang tidak bisa ditawar. Mesin CNC, alat ukur, dan sensor harus dikalibrasi secara berkala untuk memastikan mereka beroperasi dalam toleransi yang ditentukan.

Jadwal kalibrasi biasanya didasarkan pada rekomendasi pabrikan (OEM) atau standar industri. Melewatkan jadwal kalibrasi dapat mengakibatkan produksi komponen yang cacat, pemborosan material, dan penolakan produk oleh pelanggan.

Dengan menjadwalkan kalibrasi secara proaktif, perusahaan menjaga kualitas dan konsistensi produk. Dokumentasi dari setiap sesi kalibrasi juga penting untuk tujuan pelacakan dan kepatuhan standar kualitas seperti ISO 9001.

c. Planned Shutdowns untuk Pemeliharaan Besar

Untuk aset yang sangat besar dan kompleks seperti lini perakitan, tungku industri, atau reaktor kimia seringkali diperlukan penghentian operasional total (planned shutdown) untuk melakukan pemeliharaan besar. Shutdown ini dijadwalkan jauh-jauh hari, seringkali hanya sekali setahun.

Hal ini berfungsi untuk meminimalkan dampaknya terhadap produksi. Selama shutdown, tim pemeliharaan dapat melakukan pekerjaan yang tidak mungkin dilakukan saat mesin beroperasi, seperti perbaikan besar, penggantian komponen utama, dan inspeksi mendalam.

Perencanaan untuk shutdown ini sangat detail, mencakup ribuan tugas individu yang harus dikoordinasikan. Eksekusi yang efisien sangat penting untuk mengembalikan pabrik ke operasional secepat mungkin.

6. Langkah Implementasi Program Scheduled Maintenance yang Efektif

Membangun program scheduled maintenance dari awal atau menyempurnakan yang sudah ada memerlukan pendekatan yang sistematis. Implementasi yang terburu-buru tanpa perencanaan yang matang dapat menyebabkan hasil yang tidak optimal.

Berikut adalah lima langkah kunci untuk mengimplementasikan program pemeliharaan terjadwal yang efektif dan berkelanjutan:

a. Inventarisasi Aset

Langkah pertama adalah mengetahui aset apa saja yang Anda miliki. Buatlah daftar komprehensif dari semua peralatan dan mesin di fasilitas Anda yang memerlukan pemeliharaan. Daftar ini harus detail, mencakup informasi seperti nama aset, lokasi, nomor seri, tanggal pemasangan, dan dokumentasi teknis seperti manual dari pabrikan (OEM).

Setelah daftar dibuat, setiap aset perlu dievaluasi untuk menentukan tingkat kekritisannya terhadap proses produksi. Aset yang kegagalannya dapat menghentikan seluruh lini produksi harus menjadi prioritas utama. Hierarki aset yang jelas akan membantu Anda memfokuskan sumber daya pemeliharaan di tempat yang paling penting.

b. Menentukan Kebutuhan

Langkah selanjutnya adalah menentukan jenis dan frekuensi pemeliharaan yang dibutuhkan oleh setiap aset. Mulailah dengan meninjau rekomendasi dari pabrikan (OEM) yang terdapat dalam manual peralatan. Rekomendasi ini adalah titik awal yang baik karena didasarkan pada desain dan pengujian ekstensif dari pembuat mesin.

Selain itu, analisis data historis pemeliharaan Anda sendiri. Kapan terakhir kali mesin ini rusak dan apa penyebabnya? Data ini memberikan wawasan berharga tentang pola kegagalan yang spesifik untuk lingkungan operasional Anda. Kombinasi rekomendasi OEM dan data historis akan membantu Anda membuat daftar tugas pemeliharaan yang paling relevan.

c. Prioritaskan Tugas

Tidak semua tugas pemeliharaan memiliki tingkat urgensi yang sama. Prioritaskan pekerjaan berdasarkan analisis kekritisan aset dan dampak potensial dari kegagalan. Gunakan matriks prioritas yang mempertimbangkan faktor-faktor seperti dampak pada keselamatan, dampak pada produksi, dan kemungkinan terjadinya kegagalan.

Teknik lain yang berguna adalah analisis berbasis data, seperti menghitung metrik mean time between failure (MTBF) untuk setiap aset. Aset dengan MTBF yang rendah jelas memerlukan perhatian lebih sering. Dengan sistem prioritas yang jelas, Anda dapat memastikan bahwa sumber daya yang terbatas dialokasikan untuk tugas yang lebih berdampak.

d. Membuat Jadwal

Dengan daftar tugas dan prioritas di tangan, saatnya untuk membuat jadwal pemeliharaan yang sebenarnya. Gunakan perangkat lunak computerized maintenance management system (CMMS) untuk mengotomatiskan proses ini.

Perangkat lunak ini memungkinkan Anda untuk membuat perintah kerja berulang, menetapkan teknisi, dan melacak penyelesaian tugas. Jadwal harus realistis dan mempertimbangkan ketersediaan teknisi, jadwal produksi, dan waktu pengiriman suku cadang.

Komunikasikan jadwal ini dengan jelas kepada tim produksi dan pemeliharaan untuk memastikan semua orang selaras. Koordinasi yang baik antara departemen adalah kunci untuk eksekusi yang lancar tanpa mengganggu operasional secara berlebihan.

e. Tinjau dan Optimalkan

Program ini adalah proses perbaikan berkelanjutan. Gunakan data dan umpan balik dari teknisi di lapangan untuk menyempurnakan frekuensi tugas, memperbarui poin-poin dalam checklist maintenance, serta mengoptimalkan alokasi sumber daya agar program pemeliharaan tetap efektif.

Kumpulkan umpan balik dari teknisi di lapangan, karena mereka seringkali memiliki wawasan terbaik tentang apa yang berhasil dan apa yang tidak. Gunakan data dan umpan balik ini untuk menyempurnakan frekuensi tugas, prosedur kerja, dan alokasi sumber daya.

7. Apa itu Schedule Maintenance Critical Path (SMCP)?

Apa itu Schedule Maintenance Critical Path (SMCP)?

SMCP atau scheduled maintenance critical path adalah urutan tugas pemeliharaan yang saling bergantung yang menentukan total durasi minimum dari keseluruhan proyek pemeliharaan. Dengan kata lain, jika ada penundaan pada salah satu tugas di jalur kritis ini maka keseluruhan jadwal pemeliharaan akan ikut tertunda.

Konsep ini dipinjam dari manajemen proyek, di mana CPM digunakan untuk merencanakan dan mengelola proyek yang kompleks. Perusahaan harus fokus terhadap sumber daya pada tugas-tugas yang paling sensitif terhadap waktu. Tugas-tugas yang tidak berada di jalur kritis memiliki sejumlah kelonggaran waktu dan penundaannya tidak akan langsung mempengaruhi tanggal penyelesaian proyek secara keseluruhan.

Memahami SMCP sangat krusial untuk meminimalkan downtime selama pemeliharaan besar. Ini membantu tim untuk mengidentifikasi potensi hambatan dan secara proaktif mengelolanya. Perusahaan dapat mengalokasikan teknisi terbaik, memastikan ketersediaan suku cadang, dan memantau kemajuan tugas-tugas tersebut dengan lebih ketat.

8. Cara Menghitung Schedule Maintenance Critical Path

Untuk menghitung critical path pada scheduled maintenance, Anda perlu menjumlahkan durasi semua tugas di setiap jalur potensial dalam jadwal proyek, lalu pilih jalur dengan total durasi terpanjang sebagai critical path. Jalur terpanjang ini merupakan urutan tugas terlama yang harus diselesaikan tepat waktu agar proyek selesai sesuai jadwal.

Dalam SMCP kita tidak menggunakan satu rumus tunggal, melainkan serangkaian perhitungan untuk setiap aktivitas (tugas pemeliharaan) dalam jaringan. Perhitungan ini menentukan waktu mulai dan berakhir paling awal/paling lambat dari setiap tugas.

Setiap tugas pemeliharaan memiliki komponen waktu berikut:

  • Durasi (D): Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas tersebut (misalnya, 4 jam).
  • Waktu mulai paling awal (early start – ES): Waktu paling awal suatu tugas dapat dimulai, setelah semua tugas pendahulunya selesai.
  • Waktu selesai paling awal (early finish – EF): Waktu paling awal suatu tugas dapat diselesaikan. Rumusnya adalah:

EF = ES + D

  • Waktu selesai paling lambat (late finish – LF): Waktu paling lambat suatu tugas boleh diselesaikan tanpa menunda tanggal akhir proyek secara keseluruhan.
  • Waktu mulai paling lambat (late start – LS): Waktu paling lambat suatu tugas boleh dimulai tanpa menunda tanggal akhir proyek. Rumusnya adalah:

LS = LF – D

  • Waktu tenggang (float / slack – F): Jumlah waktu tunda maksimum suatu tugas sebelum mulai menunda proyek secara keseluruhan. Rumusnya adalah:

F = LS – ES

Mari kita bahas salah satu contoh skenario perhitungan dari SMCP. Tujuannya untuk mnegetahui cara menghitung waktu total perawatan minimum dan mengidentifikasi jalur kritisnya (SMCP). Kita akan melakukan perawatan terjadwal pada sebuah genset yang melibatkan dua rangkaian tugas (Jalur A dan Jalur B) yang bisa dikerjakan secara paralel, setelah tugas awal selesai.

Tugas Deskrispsi Durasi (Jam) Pendahulu
    P1
    Mematikan dan mengisolasi genset
    1
    Tidak ada
    A2
    Cek dan ganti filter oli
    3
    P1
    B2
Cek dan ganti baterai
    1
    P1
    F3
    Uji coba genset
    1
    A2, B2

Berikut adalah tiga cara untuk menghitung scheduled maintenance critical path:

a. Perhitungan Waktu Paling Awal (Forward Pass)

Perhitungan dimulai dari Tugas P1 (ES = 0).

P1:

  • ES = 0
  • EF = 0 + 1 = 1

A2: (Dimulai setelah P1 selesai pada jam 1)

  • ES = 1
  • EF = 1 + 3 = 4

B2: (Dimulai setelah P1 selesai pada jam 1)

  • ES = 1
  • EF = 1 + 1 = 2

F3 (akhir): (Dimulai setelah pendahulu terlama selesai, yaitu pada jam 4 dari Tugas A2)

  • ES = [Max](EF A2, EF B2) = Max(4, 2) = 4
  • EF = 4 + 1 = 5

Durasi proyek minimum: Perawatan genset ini membutuhkan waktu minimum 5 jam.

b. Perhitungan Waktu Paling Lambat (Backward Pass)

Perhitungan dimulai dari waktu akhir proyek (LF = 5 jam).

F3:

  • LF = 5
  • LS = 5 – 1 = 4

A2: (Harus selesai sebelum F3 mulai pada jam 4)

  • LF = LS F3 = 4
  • LS = 4 – 3 = 1

B2: (Harus selesai sebelum F3 mulai pada jam 4)

  • LF = LS F3 = 4
  • LS = 4 – 1 = 3

P1: (Harus selesai sebelum A2 atau B2 mulai paling lambat)

  • LF = [Min](LS A2, LS B2] = [Min](1, 3) = 1
  • LS = 1 – 1 = 0

c. Identifikasi Jalur Kritis (SMCP)

Jalur kritis adalah urutan tugas di mana waktu tenggang (float) = LS – ES adalah nol. Coba perhatikan tabel berikut:

Tugas ES LS Float Keterangan
    P1
0
    0
    0
    Kritis
    A2
    1
    1
    0
    Kritis
    B2
1
    3
    2
    Tidak kritis
    F3
4
    0
    Kritis

Berdasarkan informasi pada tabel tersebut, diketahui bahwa jalur kritis (SMCP) perawatan genset adalah P1 > A2 > F3

  • Waktu total minimum: 5 jam.
  • Jalur kritis: P1, A2, dan F3. Tugas ganti filter oli (A2) dengan durasi 3 jam adalah penentu utama waktu penyelesaian proyek.
  • Tugas B2 ganti baterai: Memiliki float 2 jam. Artinya, tugas ini dapat ditunda hingga 2 jam tanpa menunda waktu total perawatan (5 jam).

9. Manfaat Melacak SMCP untuk Prioritas Perbaikan

Melacak SMCP secara aktif selama eksekusi proyek pemeliharaan memberikan manfaat strategis yang signifikan, terutama dalam memprioritaskan pekerjaan dan mengelola sumber daya. Manfaat utamanya adalah kemampuan untuk membuat keputusan yang lebih cerdas dan cepat saat menghadapi tantangan tak terduga.

Berikut adalah beberapa manfaat utama dari pelacakan SMCP:

  • Fokus pada yang paling penting: Dengan mengetahui tugas mana yang berada di jalur kritis, manajer dapat memusatkan perhatian dan pengawasan pada aktivitas yang paling berdampak pada jadwal.
  • Alokasi sumber daya yang lebih baik: Mengarahkan sumber daya terbaik ke tugas kritis yang wajib diselesaikan tepat waktu. Tugas non-kritis bisa menggunakan sumber daya yang lebih fleksibel, menjaga agar jadwal akhir pemeliharaan tetap aman.
  • Manajemen risiko proaktif: Tim dapat mengidentifikasi risiko potensial di sepanjang jalur kritis dan mengembangkan rencana mitigasi. Misalnya, jika pengiriman suku cadang untuk tugas kritis berisiko terlambat maka rencana cadangan dapat disiapkan.
  • Komunikasi dan koordinasi yang ditingkatkan: Menyediakan kerangka kerja yang jelas bagi seluruh tim, termasuk kontraktor dan departemen lain. Semua orang memahami tugas mana yang paling mendesak.

Untuk mempermudah pelacakan dan prioritas pemeliharaan, software asset management ScaleOcean menawarkan solusi terintegrasi yang memungkinkan Anda melacak kondisi aset secara real-time. Dengan fitur ini, Anda dapat fokus pada tugas kritis, mengalokasikan sumber daya secara efisien, serta mengelola risiko pemeliharaan secara proaktif.

ERP

10. Kesimpulan

Scheduled maintenance adalah proses merencanakan dan mengatur kegiatan pemeliharaan peralatan atau aset secara berkala dan terstruktur. Pendekatan ini dapat mengurangi downtime dan biaya perbaikan.

Strategi ini juga memperpanjang umur aset dan meningkatkan keselamatan kerja. Keberhasilan implementasi perawatan terjadwal memerlukan komitmen pada perencanaan aset dan optimalisasi jadwal. Software Manajemen Aset ScaleOcean dapat membantu menyederhanakan proses scheduled maintenance.

Fitur ini didukung oleh manajemen suku cadang otomatis dan digitalisasi perintah kerja menjamin prosedur standar dan riwayat audit yang rapi. Paling penting, ScaleOcean memanfaatkan AI dan data IIoT untuk beralih ke sistem maintenance yang lebih modern yang akan mengoptimalkan servis berdasarkan kebutuhan aktual mesin.

Memahami bagaimana implementasi schedulel maintenance yang tepat dapat membantu perusahaan Anda mengotomatisasi pemicu jadwal perawatan dan mensinkronkannya secara cerdas dengan jadwal produksi untuk menghindari kendala. Jadwalkan demo gratis dan konsultasi dengan tim ahli kami untuk melihat bagaimana software ini dapat membantu bisnis Anda!

FAQ:

1. Apa yang dimaksud dengan schedule maintenance?

Scheduled maintenance adalah kegiatan pemeliharaan yang direncanakan dan dijadwalkan secara berkala untuk memastikan peralatan atau aset tetap berfungsi dengan baik. Pendekatan ini membantu mengurangi downtime, menekan biaya perbaikan, dan memperpanjang umur aset sambil meningkatkan keselamatan kerja di tempat operasional.

2. Apa contoh dari pemeliharaan terjadwal?

Contoh pemeliharaan terjadwal meliputi penggantian oli mesin setiap tiga bulan atau pengujian sistem HVAC setiap enam bulan. Kegiatan ini dilakukan secara berkala untuk memastikan peralatan tetap berfungsi optimal dan mencegah kerusakan yang tidak terduga.

3. Apa perbedaan antara perawatan terjadwal dan terencana?

Perawatan terjadwal (scheduled maintenance) adalah pemeliharaan yang dilakukan pada waktu yang telah ditentukan berdasarkan interval waktu tertentu. Sementara itu, perawatan terencana (planned maintenance) mencakup perawatan yang direncanakan dengan memperhitungkan kondisi aset dan kebutuhan yang lebih spesifik.

Cicilia Velly
Cicilia Velly
Cicilia memiliki hampir 1 tahun pengalaman di bidang content writing dalam menyusun artikel seputar manajemen data dan solusi praktis untuk meningkatkan efisiensi operasional bisnis.

Jadwalkan Demo Gratis

Error message
Error message
Error message
Error message
Error message
Error message

Rekomendasi Artikel Terkait

Temukan Artikel Serupa untuk Solusi Bisnis Lebih Lengkap