Perhitungan nilai akhir sangat penting dalam manajemen gudang untuk memastikan akurasi laporan keuangan. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah biaya rata-rata tertimbang untuk menghitung nilai persediaan akhir.
Menghitung nilai persediaan akhir dengan metode biaya rata-rata tertimbang melibatkan harga rata-rata dari semua persediaan yang tersedia, baik yang baru dibeli maupun yang ada di gudang. Berikut akan dijelaskan langkah-langkah perhitungannya serta tips untuk memastikan akurasinya.
- Biaya rata-rata tertimbang (Weight Average Cost) adalah metode penentuan biaya rata-rata suatu barang, di mana setiap unit diberi bobot sesuai proporsi atau kuantitasnya dalam keseluruhan.
- Rumus biaya rata-rata tertimbang adalah WAC = (Biaya Persediaan yang Tersedia untuk Dijual) / (Jumlah Unit yang Tersedia untuk Dijual)
- Fungsi biaya rata-rata tertimbang meliputi: menyederhanakan pencatatan, mengurangi fluktuasi harga, membantu menentukan HPP, dan meningkatkan efisiensi persediaan.
- Software inventory ScaleOcean dengan fitur otomatis yang menerapkan biaya rata-rata tertimbang, mempermudah perhitungan, dan memastikan akurasi laporan keuangan.
1. Apa itu Biaya Rata-Rata Tertimbang Persediaan?
Biaya rata-rata tertimbang persediaan atau Weighted Average Cost (WAC) adalah metode akuntansi untuk menentukan nilai persediaan dan harga pokok penjualan (HPP). Caranya dengan membagi total biaya barang yang tersedia untuk dijual dengan jumlah unit yang ada pada periode tertentu, sehingga diperoleh biaya rata-rata per unit.
Metode biaya rata‑rata tertimbang (WAC) adalah metode akuntansi internasional untuk menentukan biaya persediaan. Menurut Deloitte, selain FIFO, WAC juga diperbolehkan untuk menentukan biaya inventaris dalam laporan keuangan sesuai dengan IFRS dan US GAAP.
Pendekatan ini membuat penilaian persediaan lebih konsisten karena tidak terlalu terpengaruh oleh perubahan harga pembelian. Tidak hanya itu, juga memudahkan pencatatan dan menyajikan laporan keuangan yang lebih stabil.
Baca juga: Bagaimana Cara Menghitung Persediaan Awal dan Akhir?
2. Rumus Biaya Rata-Rata Tertimbang
Rumus biaya rata-rata tertimbang digunakan untuk menghitung harga pokok penjualan (HPP) dan nilai persediaan dengan mempertimbangkan jumlah unit yang dibeli pada setiap harga.
Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat memperoleh nilai rata-rata yang lebih stabil, menghindari fluktuasi yang disebabkan oleh perubahan harga yang tajam pada metode FIFO atau LIFO. Berikut rumus WAC yang bisa digunakan untuk perhitungan metode ini, yaitu:
WAC = (Biaya Persediaan yang Tersedia untuk Dijual) / (Jumlah Unit yang Tersedia untuk Dijual)
Di mana biaya persediaan yang tersedia untuk dijual dihitung dengan menambahkan nilai persediaan awal dengan pembelian barang selama periode tersebut.
Sedangkan jumlah unit yang tersedia untuk dijual adalah total unit yang ada dalam persediaan, yang dihitung dengan menjumlahkan unit persediaan awal dan unit pembelian barang.
Dengan rumus ini, perusahaan Anda dapat menghitung biaya rata-rata produk yang ada dalam persediaan. Metode ini membantu dalam pengelolaan stok dan perhitungan harga pokok penjualan secara lebih akurat dan efisien.
Metode perhitungan biaya ini dapat digunakan bersama dengan rumus lainnya, seperti rumus days of inventory, untuk memantau lama waktu barang berada dalam persediaan.
a. Sistem Persediaan Periodik vs Perpetual
Dalam pengelolaan persediaan, terdapat dua sistem utama yaitu, periodik dan perpetual. Keduanya berbeda dalam cara menghitung biaya rata-rata tertimbang dan memantau persediaan serta Harga Pokok Penjualan (HPP). Berikut penjelasan mengenai perbedaan keduanya.
Sistem Persediaan Periodik
Dalam sistem persediaan periodik, perusahaan menghitung biaya persediaan akhir pada interval tertentu, misalnya setiap bulan atau kuartal. Sebagai contoh, sebuah perusahaan Ready-Made Garment memiliki persediaan awal 400 unit dengan harga Rp75.000 per unit pada 1 Januari.
Pada akhir kuartal pertama, mereka melakukan beberapa pembelian dengan harga berbeda, menghasilkan total 830 unit yang tersedia. Setelah penjualan selama kuartal pertama, perusahaan menghitung biaya persediaan dan Harga Pokok Penjualan (HPP) dengan rumus WAC (biaya rata-rata tertimbang) pada akhir periode.
Perhitungan WAC untuk unit yang terjual selama kuartal pertama adalah sebagai berikut:
WAC per unit = (Total biaya persediaan) / (Total unit yang tersedia)
WAC per unit = (Rp30.000.000 + Rp1.000.000 + Rp12.000.000 + Rp18.850.000) / 830
WAC = Rp74.518
Dalam hal ini, HPP untuk 506 unit yang terjual selama periode tersebut adalah:
506 x Rp74.518 = Rp37.706.108
Unit yang tersisa masuk ke persediaan akhir, menghasilkan nilai akhir persediaan sebesar Rp24.143.892.
b. Sistem Persediaan Perpetual
Berbeda dengan sistem periodik, dalam sistem persediaan perpetual, perusahaan menghitung biaya rata-rata setelah setiap pembelian, memberikan gambaran yang lebih real-time mengenai nilai persediaan dan HPP. Sebagai contoh, perusahaan menggunakan sistem ini untuk menentukan biaya rata-rata sebelum penjualan unit pertama pada Januari.
Dengan pembelian awal 600 unit dengan total biaya Rp30.000.000 dan tambahan pembelian sebesar Rp1.000.000, biaya rata-rata per unit dihitung sebagai:
WAC per unit = (Rp30.000.000 + Rp1.000.000) / 600
WAC = Rp51.670
Setelah penjualan 121 unit pada bulan Januari, biaya rata-rata dihitung kembali, dan HPP untuk unit yang terjual adalah:
121 x Rp51.670 = Rp6.252.070
Sisa persediaan setelah penjualan adalah:
Rp31.000.000 – Rp6.252.070 = Rp24.747.930
Pengaruh pada Perhitungan Biaya Rata-Rata Tertimbang
Perbedaan utama antara kedua sistem ini adalah cara perhitungan dan kapan biaya rata-rata dihitung. Pada sistem periodik, perhitungan dilakukan setelah periode tertentu, sementara sistem perpetual menghitung biaya rata-rata secara berkelanjutan, setiap kali ada transaksi.
Hal ini mempengaruhi akurasi dan waktu pencatatan biaya dalam laporan keuangan. Sistem perpetual memberikan gambaran yang lebih cepat dan akurat, sementara sistem periodik cenderung lebih terstruktur dan dilakukan pada akhir periode tertentu.
3. Contoh Perhitungan Biaya Rata-Rata Tertimbang
Berikut contoh perhitungan biaya rata-rata tertimbang menggunakan skenario sederhana. Misalkan sebuah toko memiliki persediaan awal 100 unit barang dengan harga Rp10.000 per unit. Pada bulan yang sama, toko membeli tambahan 50 unit dengan harga Rp12.000 per unit. Pada akhir bulan, toko menjual 80 unit.
Langkah perhitungannya adalah:
a. Hitung total biaya barang yang tersedia untuk dijual:
Persediaan awal: 100 unit × Rp10.000 = Rp1.000.000
Pembelian: 50 unit × Rp12.000 = Rp600.000
Total biaya = Rp1.600.000
Dengan ini maka total biaya barang yang tersedia adalah Rp1.600.000.
b. Hitung total unit yang tersedia:
Total unit yang tersedia = 100 unit + 50 unit = 150 unit
c. Tentukan biaya rata-rata per unit
Biaya rata-rata per unit = Rp1.600.000 ÷ 150 unit = Rp10.667
Dengan demikian, rata-rata biaya persediaan untuk periode ini adalah Rp10.667 per unit, yang digunakan untuk menghitung harga pokok penjualan dan nilai persediaan pada akhir periode.
d. Hitung harga pokok penjualan dan nilai persediaan akhir:
HPP: 80 unit terjual × Rp10.667 = Rp853.333
Nilai persediaan akhir: 70 unit × Rp10.667 = Rp746.667
Dengan metode WAC, setiap unit barang dinilai dengan biaya rata-rata Rp10.667, sehingga perhitungan menjadi lebih konsisten tanpa perlu memisahkan unit berdasarkan harga pembelian.
Hal ini juga mudah digabungkan dengan laporan gudang barang, seperti laporan yang dapat dihitung menggunakan Excel.
Untuk perhitungan biaya rata-rata tertimbang secara otomatis, Anda bisa menggunakan software inventory ScaleOcean yang dapat memberikan kemudahan dalam menghitung biaya persediaan secara real-time.
Penggunaan inventory system menjadi solusi yang tidak hanya dapat menghemat waktu, tetapi juga meningkatkan akurasi laporan keuangan dan membantu pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat.
Lakukan demo gratis dan konsultasi dengan tim profesional ScaleOcean untuk dapatkan solusi menyeluruh dan dapat dikustomisasi sesuai kebutuhan spesifik bisnis Anda.
4. Fungsi Biaya Rata-Rata Tertimbang
Metode biaya rata-rata tertimbang memberikan berbagai manfaat penting dalam pengelolaan persediaan dan akuntansi, sama seperti metode penetapan harga stok. Metode ini dihitung berdasarkan nilai barang yang tersedia untuk dijual, sehingga perusahaan dapat mengoptimalkan laporan keuangan dan pengelolaan stok secara efisien.
Berikut adalah beberapa fungsi utama dari penggunaan perhitungan biaya rata-rata tertimbang dalam bisnis, diantaranya:
a. Menyediakan Gambaran Akurat untuk Persediaan Akhir
Metode WAC membantu perusahaan dalam menghitung persediaan akhir dengan cara yang lebih realistis, dengan menggunakan rata-rata biaya dari seluruh barang yang tersedia. Ini memastikan laporan keuangan mencerminkan nilai persediaan yang lebih tepat, memberikan gambaran yang jelas dan akurat untuk analisis keuangan serta pengambilan keputusan strategis.
Biaya pokok penjualan (COGS) dihitung dengan menggabungkan biaya persediaan awal, pembelian selama periode tersebut, dan biaya persediaan akhir. Metode ini lebih sederhana, tetapi memberikan data yang kurang real-time tentang manajemen inventory di gudang.
b. Menyederhanakan Proses Pencatatan Akuntansi
Dibandingkan dengan metode FIFO atau LIFO, metode biaya rata-rata tertimbang lebih sederhana dan mudah diterapkan, khususnya pada perusahaan dengan banyak transaksi sejenis.
Dengan menggunakan metode ini, perusahaan dapat mengurangi kerumitan dalam menghitung harga pokok penjualan dan secara konsisten menjaga akurasi laporan akuntansi persediaan tanpa perlu mengelola fluktuasi harga secara terpisah.
Dengan menggunakan fungsi data warehouse, Anda juga dapat mudah dalam mengelola dan menganalisis data harga serta transaksi dengan lebih efisien, mendukung penerapan metode biaya rata-rata tertimbang dan memastikan laporan akuntansi tetap akurat dan terorganisir.
c. Memitigasi Dampak Fluktuasi Harga
Salah satu keuntungan utama dari metode WAC adalah kemampuannya untuk mengurangi dampak fluktuasi harga yang terjadi dalam pembelian barang. Dengan menghitung rata-rata biaya, metode ini menstabilkan harga pokok persediaan meskipun terjadi perubahan harga yang signifikan dalam pasar.
Pendekatan ini membantu perusahaan mendapatkan estimasi biaya yang lebih konsisten. Selain itu, pendekatan tersebut mendukung analisis keuangan, seperti perhitungan cost of debt, yang memungkinkan pengambilan keputusan bisnis yang lebih akurat.
d. Membantu Menentukan Harga Pokok Penjualan (HPP)
Metode biaya rata-rata tertimbang memberikan kemudahan dalam menghitung harga pokok penjualan (HPP) yang akurat. Hal ini memudahkan perusahaan menetapkan biaya untuk barang yang dijual dan mendapatkan hasil yang lebih realistis dalam laporan laba rugi, yang pada gilirannya meningkatkan pengelolaan laba dan efisiensi operasional.
Menurut Forbes Advisor, inventory sering menjadi biaya terbesar kedua dalam operasional bisnis kecil setelah biaya tenaga kerja. Hal ini menunjukkan bahwa penentuan Harga Pokok Penjualan (HPP) yang akurat sangat penting untuk menjaga stabilitas laba dan memastikan pengelolaan persediaan yang efektif.
e. Meningkatkan Efisiensi Pengelolaan Persediaan
Metode WAC juga memungkinkan pengelolaan persediaan yang lebih efisien, terutama untuk perusahaan dengan produk serupa dalam jumlah besar. Hasil perhitungannya membuat perusahaan dapat meminimalkan kompleksitas dalam pemantauan dan pembaruan inventaris.
Selain itu, dengan menghitung weight average cost, perusahaan juga dapat mengoptimalkan pengelolaan barang, mengurangi risiko kelebihan atau kekurangan stok, dan mendukung pengambilan keputusan terkait capital structure agar pendanaan perusahaan lebih efisien.
Anda bisa menggunakan sistem manajemen gudang untuk mengotomatisasi pengelolaan persediaan dan perhitungan WAC secara mudah dan real-time. Sistem ini juga memungkinkan perhitungan biaya rata-rata tertimbang (WAC) yang dilakukan secara otomatis setiap kali ada perubahan dalam persediaan.
Hal ini tidak hanya mengurangi potensi kesalahan manusia tetapi juga memberikan data yang lebih akurat dan terkini, memungkinkan perusahaan untuk membuat keputusan yang lebih baik dan cepat.
5. Kelebihan dan Kekurangan Metode Biaya Rata-rata Tertimbang
Metode WAC menawarkan sejumlah keuntungan yang membuatnya praktis digunakan, tetapi di sisi lain juga memiliki keterbatasan yang perlu dipertimbangkan agar penggunaannya tepat. Kelebihan dan kekurangan tersebut mencakup:
a. Kelebihan Metode WAC
- Penyederhanaan perhitungan: WAC memudahkan pencatatan karena tidak perlu melacak biaya unit satu per satu, cukup gunakan rata-rata biaya.
- Objektif: Nilai persediaan lebih netral karena berbasis perhitungan rata-rata, sehingga kecil kemungkinan dimanipulasi secara internal.
- Konsisten: Memberikan biaya per unit yang seragam sepanjang periode, membuat laporan keuangan lebih stabil dan mudah dibandingkan.
b. Kekurangan Metode WAC
- Kurang akurat: Rata-rata tidak selalu mencerminkan biaya nyata dari unit yang dijual maupun tersisa, sehingga hasilnya bisa berbeda dari kondisi riil.
- Tidak sesuai untuk semua bisnis: Metode ini kurang cocok untuk usaha dengan barang unik atau bernilai tinggi yang perlu dilacak secara individual.
6. Kesimpulan
Biaya rata-rata tertimbang adalah metode yang efektif untuk menghitung harga pokok penjualan dan nilai persediaan, memberikan gambaran yang lebih stabil meskipun terjadi fluktuasi harga.
Dengan cara ini, perusahaan dapat mengelola persediaan mereka secara lebih efisien dan akurat, menghindari ketidaksesuaian yang bisa terjadi pada metode FIFO atau LIFO. Untuk mempermudah penerapan metode ini, menggunakan perangkat lunak terbaik seperti software inventory yang tepat sangatlah penting.
Software inventory management ScaleOcean menyediakan solusi yang dapat membantu perusahaan dalam mengotomatisasi perhitungan biaya rata-rata tertimbang, memantau persediaan secara real-time, serta menyajikan laporan yang akurat untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih baik.
Dengan integrasi penuh dan kemudahan penggunaan, ScaleOcean memberikan solusi yang tepat untuk mengoptimalkan proses manajemen persediaan dan keuangan perusahaan. Lakukan demo gratis dan konsultasikan kebutuhan bisnis spesifik Anda untuk dapatkan solusi terkonfigurasi secara komprehensif.
FAQ:
1. Apa itu biaya rata-rata tertimbang?
Biaya rata-rata tertimbang (weighted-average cost) adalah salah satu metode akuntansi untuk menilai persediaan. Metode ini menghitung nilai persediaan dengan mengambil nilai rata-rata dari semua barang yang tersedia untuk dijual. Tujuannya adalah untuk menghaluskan fluktuasi harga beli dan memberikan nilai yang seragam untuk setiap unit stok.
2. Bagaimana cara menghitung biaya rata-rata tertimbang?
Untuk menghitung biaya rata-rata tertimbang, Anda dapat menggunakan rumus berikut: Biaya Rata−Rata Tertimbang = Total Jumlah Unit yang Tersedia untuk Dijual / Total Biaya Seluruh Unit yang Tersedia untuk Dijual.
Nilai yang dihasilkan kemudian digunakan untuk menghitung nilai persediaan akhir dan harga pokok penjualan (HPP) dalam laporan keuangan.
3. Kapan metode ini cocok digunakan?
Metode biaya rata-rata tertimbang cocok untuk:
1. Produk yang Seragam: Barang sulit dibedakan, seperti bahan baku.
2. Perusahaan dengan Fluktuasi Harga: Bisnis dengan perubahan harga sering.
3. Penyederhanaan Akuntansi: Perusahaan yang mencari metode penilaian mudah tanpa pelacakan unit per unit.




