Tantangan seperti ketidakpastian dalam menentukan harga pokok produksi serta kesulitan dalam mengalokasikan biaya pada produksi massal sering kali menjadi hambatan besar bagi bisnis manufaktur. Tanpa metode perhitungan yang tepat, perusahaan berisiko mengalami kesalahan estimasi biaya per unit yang tidak akurat atau bahkan mengalami distorsi informasi pada penilaian inventaris.
Penerapan metode perhitungan biaya melalui job costing atau process costing dapat menjadi salah satu solusi untuk mnegatasi masalah tersebut. Job costing berfokus pada pengumpulan biaya untuk setiap proyek atau pesanan unik secara spesifik, sementara process costing mengakumulasikan biaya berdasarkan departemen atau proses produksi yang identik dan massal.
Memahami karakteristik dari kedua metode ini akan membantu dalam menyusun laporan keuangan serta menjaga efisiensi proses manufaktur bisnis Anda. Artikel ini akan menguraikan secara mendalam pengertian job costing dan process costing, perbedaan mendasar dalam pengumpulan biayanya, keunggulan hingga masing-masing metode.
- Job costing adalah metode akuntansi biaya yang digunakan untuk menentukan biaya produksi masing-masing pekerjaan atau proyek secara terpisah.
- Process costing adalah metode akuntansi biaya yang diterapkan oleh perusahaan manufaktur yang memproduksi barang dalam jumlah besar dan terus-menerus
- Perbedaan job costing dan process costing terletak pada objek biayanya, job costing melacak biaya pesanan khusus, sedangkan process costing mengumpulkan biaya per tahap produksi massal.
- Software manufaktur ScaleOcean menyederhanakan penerapan job order costing dan process costing melalui otomatisasi data, pelacakan real-time, dan pelaporan akurat.
Apa itu Job Costing?
Job costing adalah metode akuntansi biaya yang digunakan untuk menentukan biaya produksi masing-masing pekerjaan atau proyek secara terpisah. Metode ini mengidentifikasi biaya langsung seperti bahan baku, tenaga kerja, dan overhead, sehingga perusahaan dapat menetapkan harga dengan tepat.
Metode ini memungkinkan bisnis untuk menganalisis biaya secara lebih rinci. Setiap elemen biaya dihitung, termasuk biaya overhead, yang membantu menentukan harga yang tepat dan menganalisis profitabilitas. Oleh karena itu, job costing memberikan gambaran yang jelas mengenai pengeluaran proyek.
Selain itu, job costing juga berfungsi sebagai alat untuk merencanakan dan mengendalikan biaya. Dengan memantau pengeluaran proyek secara real-time, perusahaan bisa menghindari pemborosan. Informasi yang diperoleh dari sistem ini memungkinkan manajer untuk membuat keputusan yang lebih baik, meningkatkan kontrol biaya, dan meningkatkan margin keuntungan pada proyek serupa di masa depan.
Baca juga: 22 Rekomendasi Software Manufaktur Terbaik di Tahun 2026
6 Karakteristik Job Costing
Job costing memiliki beberapa karakteristik, yang mencakup produksi berbasis pesanan, produk bervariasi dan unik, pengumpulan biaya per job, proses poroduksi yang terputus-putus, hingga penentuan biaya akhir.
Berikut adalah penjelasan dari beberapa karakteristik yang dimilliki job costing:
1. Produksi Berbasis Pesanan
Dalam sistem ini, aktivitas manufaktur hanya akan dimulai setelah perusahaan menerima pesanan atau kontrak spesifik dari pelanggan. Berbeda dengan produksi massal yang bertujuan memenuhi stok gudang, metode ini fokus pada pemenuhan permintaan individu, sehingga volume produksi biasanya lebih kecil dan sangat bergantung pada fluktuasi pesanan yang masuk.
2. Produk Bervariasi dan Unik
Hasil produksi dalam metode ini tidak bersifat identik atau standar. Setiap barang atau jasa memiliki spesifikasi, desain, dan kualitas yang berbeda sesuai keinginan pemesan. Karena keunikan ini, biaya yang dikeluarkan untuk satu pesanan tidak bisa disamakan begitu saja dengan pesanan lainnya, meskipun jenis produknya mungkin serupa.
3. Pengumpulan Biaya per Job
Seluruh pengeluaran, mulai dari bahan baku hingga tenaga kerja, dicatat secara mendetail untuk setiap nomor pesanan tertentu. Perusahaan biasanya menggunakan alat bantu berupa kartu harga pokok pesanan (job order cost sheet) untuk mengumpulkan data biaya secara spesifik, sehingga manajemen dapat mengetahui profitabilitas dari masing-masing proyek secara transparan.
4. Proses Produksi Terputus-putus
Proses manufaktur dalam sistem ini tidak berjalan secara terus-menerus atau berkelanjutan. Mesin dan tenaga kerja akan bekerja secara intensif saat ada pesanan dan mungkin akan berhenti atau beralih ke setelan yang berbeda saat pesanan tersebut selesai. Sifat operasionalnya sangat fleksibel dan dinamis mengikuti jadwal tenggat waktu setiap kontrak.
5. Alokasi Biaya Overhead Pabrik
Karena biaya tidak langsung (seperti listrik pabrik atau penyusutan mesin) sulit ditelusuri ke satu pesanan secara fisik, maka digunakanlah tarif alokasi tertentu. Biaya overhead biasanya dibebankan ke setiap job berdasarkan dasar alokasi yang relevan, seperti jumlah jam kerja langsung atau jam mesin yang digunakan selama proses pengerjaan pesanan tersebut.
6. Penentuan Biaya Akhir
Total biaya produksi dan harga pokok per unit baru dapat dipastikan secara akurat setelah seluruh rangkaian proses pengerjaan pesanan tersebut dinyatakan selesai. Perhitungan dilakukan dengan menjumlahkan seluruh biaya yang tercatat di kartu pesanan, lalu membaginya dengan jumlah unit yang dihasilkan dalam satu batch pesanan tersebut.
Apa Manfaat Implementasi Job Costing bagi Bisnis Manufaktur?
Penggunaan metode job costing memiliki sejumlah manfaat untuk bisnis manufaktur. Manfaatnya mulai dari pengendalian biaya yang lebih ketat, penetapan harga jual yang akurat, analisis porfitabilitas, hingga dasar pengambilan keputusan yang strategis.
Berikut adalah penjelasan dari beberapa manfaat implementasi job costing:
1. Pengendalian Biaya yang Lebih Ketat
Metode ini memungkinkan manajemen untuk memantau pengeluaran secara mendetail pada setiap proyek yang sedang berjalan. Dengan pencatatan yang spesifik, perusahaan dapat segera mengidentifikasi jika terjadi pemborosan material atau penggunaan jam kerja yang berlebihan pada satu pesanan tertentu.
2. Penetapan Harga Jual yang Akurat
Dengan mengetahui total biaya produksi, perusahaan dapat menentukan harga pokok produksi yang lebih presisi dan kompetitif. Data biaya historis dari pesanan serupa juga dapat digunakan sebagai dasar dalam menyusun proposal tender atau penawaran harga kepada pelanggan di masa depan, sehingga risiko kerugian akibat salah estimasi harga dapat diminimalisir.
3. Analisis Profitabilitas per Proyek
Job costing memberikan visibilitas penuh terhadap keuntungan atau kerugian dari setiap pekerjaan secara individu. Manajemen dapat dengan mudah mengevaluasi jenis pesanan atau pelanggan mana yang memberikan margin keuntungan tertinggi dan mana yang justru merugikan. Informasi ini sangat krusial untuk menentukan fokus strategi bisnis dan mengoptimalkan portofolio layanan perusahaan.
4. Dasar Pengambilan Keputusan Strategis
Data yang dikumpulkan dari kartu biaya pesanan memberikan fondasi yang kuat bagi perencanaan dan evaluasi proyek di masa mendatang. Manajemen dapat menggunakan data ini untuk memutuskan apakah perusahaan perlu meningkatkan efisiensi di area tertentu, menginvestasikan mesin baru, atau bahkan menghentikan jenis pesanan yang secara konsisten tidak efisien.
Bagaimana Cara Kerja Metode Job Costing?

1. Sistem Pencatatan Biaya Terpisah
Dalam job costing, setiap pesanan atau proyek dianggap sebagai unit akuntansi yang mandiri. Perusahaan menggunakan dokumen khusus yang disebut kartu harga pokok pesanan untuk mendokumentasikan setiap pengeluaran secara eksklusif. Hal ini dilakukan agar biaya satu pesanan tidak tercampur dengan pesanan lainnya, sehingga perusahaan memiliki rekam jejak yang jelas mengenai sumber daya yang telah dikonsumsi.
2. Pengumpulan Tiga Komponen Biaya Utama
Identifikasi dan akumulasi biaya dari tiga kategori fundamental manufaktur:
- Bahan baku langsung (direct materials): Mencatat setiap bahan yang secara fisik menjadi bagian dari produk jadi sesuai permintaan pelanggan.
- Tenaga kerja langsung (direct labor): Menghitung upah yang dibayarkan kepada pekerja yang menangani pesanan tersebut secara langsung, biasanya diukur berdasarkan jam kerja yang tercatat dalam kartu jam kerja.
- Overhead pabrik (factory overhead): Mengalokasikan biaya tidak langsung, seperti listrik, sewa pabrik, dan penyusutan mesin menggunakan tarif yang telah ditentukan sebelumnya karena biaya ini tidak bisa ditelusuri secara langsung ke satu produk saja.
3. Perhitungan Total Biaya dan Penentuan Profit
Setelah semua komponen biaya terkumpul, langkah terakhir adalah menjumlahkan ketiganya untuk mendapatkan total biaya produksi dari pekerjaan tersebut. Data ini sangat krusial bagi manajemen untuk mengevaluasi apakah harga jual yang ditawarkan kepada pelanggan sudah memberikan margin keuntungan yang diinginkan atau justru mengalami kerugian.
Contoh Penerapan Metode Job Costing
Untuk memahami bagaimana karakteristik dan manfaat tersebut diimplementasikan dalam dunia nyata, berikut adalah beberapa contoh penerapan metode job costing pada berbagai sektor industri:
- Bengkel modifikasi kendaraan: Digunakan saat mengerjakan pesanan kustom untuk pelanggan, seperti penggantian knalpot, modifikasi lampu, hingga pengecatan bodi.
- Perusahaan konstruksi dan renovasi: Diterapkan pada pembangunan rumah atau gedung yang memiliki desain unik sesuai keinginan klien.
- Agensi kreatif dan percetakan: Digunakan oleh jasa desain grafis atau percetakan yang memproduksi barang sesuai permintaan khusus, seperti pembuatan logo, cetak undangan pernikahan, atau merchandise perusahaan.
- Industri manufaktur pesawat atau kapal: Mengingat satu unit pesawat atau kapal membutuhkan waktu pengerjaan yang lama dan spesifikasi yang sangat teknis sesuai kontrak.
Apa itu Process Costing?
Process costing adalah metode akuntansi biaya yang diterapkan oleh perusahaan manufaktur yang memproduksi barang dalam jumlah besar dan terus-menerus, seperti makanan, minuman, atau bahan kimia. Metode ini menghitung biaya produksi per unit dengan mengumpulkan dan mengalokasikan biaya (bahan baku, tenaga kerja, dan overhead) ke setiap tahap produksi.
Metode ini mengalokasikan biaya berdasarkan proses produksi yang terlibat dalam pembuatan barang. Setiap tahap produksi akan mengumpulkan biaya untuk kemudian dibagi merata ke semua unit yang diproduksi, membuat biaya per unit lebih terkontrol dan mudah dianalisis. Dalam proses costing, biaya yang dihitung mencakup bahan baku, tenaga kerja, dan overhead.
Keunggulan utama dari process costing adalah efisiensi dalam mengelola biaya produksi dalam jumlah besar. Metode ini memungkinkan perusahaan untuk menetapkan harga jual yang lebih tepat, serta mengidentifikasi area yang perlu dioptimalkan guna meningkatkan profitabilitas.
6 Karakteristik Process Costing
Process costing memiliki beberapa karakteristik, yang mencakup produk massal dan kontinu, produk homogen dan seragam, pengumpulan biaya per departemen, perhitungan biaya per unit, hingga tujuan produksi untuk persediaan.
Berikut adlaah penjelasan lebih detail terkait karakteristik process costing:
1. Produksi Massal dan Kontinu
Metode ini dirancang untuk lingkungan manufaktur di mana produk dihasilkan dalam jumlah yang sangat besar dan tanpa henti. Berbeda dengan job costing yang menunggu pesanan, process costing menjalankan mesin secara terus-menerus untuk mengisi stok pasar. Alur produksinya bersifat standar dan berulang, sehingga menciptakan pola kerja yang efisien namun kurang fleksibel terhadap perubahan spesifikasi.
2. Produk Homogen dan Seragam
Karakteristik produk yang dihasilkan dalam metode ini adalah identik atau seragam dalam segala aspek. Karena diproduksi menggunakan mesin dan formula yang sama secara massal, satu unit produk tidak dapat dibedakan dengan unit lainnya—seperti produk minuman kaleng atau bahan kimia. Hal ini memudahkan perusahaan dalam menentukan standar kualitas karena setiap produk melewati perlakuan yang sama.
3. Pengumpulan Biaya per Departemen
Dalam process costing, biaya (bahan baku, tenaga kerja, dan overhead) tidak dicatat per pesanan, melainkan diakumulasikan per departemen atau pusat biaya produksi. Misalnya, biaya dikelompokkan pada Departemen Pencampuran, Departemen Pengemasan, hingga Departemen Penyaluran. Pendekatan ini memungkinkan manajemen untuk memantau efisiensi di setiap tahap operasional secara spesifik.
4. Perhitungan Biaya per Unit Rata-Rata
Karena produknya identik, perusahaan tidak perlu menghitung biaya unit per unit secara individual. Total biaya yang dikeluarkan oleh satu departemen dalam satu periode dibagi dengan total unit yang diproduksi (termasuk unit yang masih dalam proses). Hasilnya adalah biaya rata-rata per unit yang akan menjadi dasar penilaian harga pokok penjualan dan nilai persediaan.
5. Penggunaan Konsep Unit Ekuivalen
Salah satu keunikan metode ini adalah penggunaan unit ekuivalen untuk mengukur barang yang masih dalam tahap pengerjaan. Konsep ini menyetarakan unit yang belum selesai dengan unit jadi berdasarkan persentase penyelesaiannya. Misalnya, jika ada 1.000 unit yang baru selesai 50% di akhir periode, maka unit tersebut dianggap setara dengan 500 unit produk jadi untuk keperluan perhitungan biaya.
6. Tujuan Produksi untuk Persediaan
Fokus utama dari process costing adalah untuk membentuk persediaan (inventory) guna memenuhi permintaan pasar secara berkelanjutan. Produksi dilakukan berdasarkan perkiraan permintaan (forecast), bukan instruksi khusus pelanggan. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk selalu memiliki stok yang siap didistribusikan ke distributor atau pengecer kapan saja diperlukan.
Apa Manfaat Process Costing untuk Bisnis Manufaktur?
Manfaat process costing antara lain mencakup pengelolaan biaya produksi yang lebih efisien melalui perhitungan biaya yang tepat, perencanaan keuangan yang lebih akurat, dan pengambilan keputusan yang lebih baik terkait dengan penetapan harga dan efisiensi operasional.
Berikut manfaat utama process costing dalam perusahaan manufaktur:
1. Pengendalian Biaya
Metode perhitungan ini akan memudahkan perusahaan dalam mengontrol biaya produksi, di mana pencatatan biaya per unit akan dilakukan lebih sistematis. Dengan menggunakan rumus TR dan TC, perusahaan dapat menghitung total revenue (TR) dan TC (total cost) secara lebih tepat.
Hasil data ini bisa Anda gunakan untuk perbandingan biaya aktual dengan anggaran yang telah ditetapkan. Dengan perhitungan ini, perusahaan bisa dengan mudah dan cepat mengidentifikasi penyimpangan yang terjadi, kemudian mengambil langkah perbaikan untuk menjaga efisiensi produksi secara menyeluruh serta memberikan akurasi untuk laporan biaya.
2. Pengambilan Keputusan
Informasi dari perhitungan ini juga dapat menjadi dasar bagi penetapan harga jual, analisis profitabilitas, bahkan strategi product cost management di perusahaan Anda. Data produksi yang transparan, membuat Anda dapat membuat keputusan yang lebih rasional untuk meningkatkan daya saing, memperbaiki margin keuntungan, dan menyusun perencanaan produksi ke depan.
3. Evaluasi Kinerja Produksi
Process costing juga akan memberikan Anda gambaran rinci mengenai kinerja setiap departemen dan batch produksi, sehingga perusahaan bisa membandingkan biaya aktual dengan standar yang ditentukan. Hal ini akan memudahkan perusahaan dalam melakukan evaluasi efisiensi operasional, mengidentifikasi area pemborosan, dan meningkatkan produktivitas melalui perbaikan proses yang terukur dan berbasis data.
Dengan demikian, setiap departemen berfungsi layaknya sebuah pusat biaya yang dapat dievaluasi, sehingga perusahaan dapat merasakan keuntungan cost center dalam memantau dan mengoptimalkan pengeluaran di setiap tahapan produksi.
4. Penyusunan Laporan Keuangan yang Akurat
Process costing yang efektif juga akan membantu perusahaan dalam menyusun laporan keuangan lebih akurat dan konsisten. Alokasi dan perhitungan biaya produksi yang akurat, akan memudahkan perusahaan menyusun laporan laba rugi dan neraca yang mencerminkan kondisi keuangan perusahaan secara lebih tepat sesuai dengan prinsip akuntansi umum (PSAK 1/IFRS).
Berdasarkan riset terbaru McKinsey dan wawancara dengan para ahli industri, pendekatan terbaik untuk meningkatkan efisiensi produksi adalah melalui pengurangan biaya tidak langsung berbasis teknologi. Anda bisa menggunakan metode process costing yang didukung teknologi canggih seperti sistem ERP manufaktur yang dapat mengidentifikasi dan mengalokasikan biaya tidak langsung ini dengan lebih akurat.
Bagaimana Cara Kerja Metode Process Costing?
Beberapa tahapan langkah dalam implementasi metode process costing meliputi identifikasi tahapan proses produksi, pengumpulan data biaya dan unit, perhitungan unit ekuivalen, hingga penyusunan laporan biaya produksi. Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai langkah-langkah dan mekanisme kerja dalam metode process costing:
1. Identifikasi Tahapan Proses Produksi
Langkah awal dalam process costing adalah memetakan seluruh alur produksi ke dalam departemen atau pusat biaya yang jelas. Setiap tahap, seperti departemen pencampuran, penggilingan, hingga pengemasan, dianggap sebagai unit tanggung jawab mandiri. Hal ini bertujuan agar efisiensi produksi perusahaan dan akumulasi biaya secara spesifik di setiap titik transformasi sebelum barang berpindah ke tahap berikutnya.
2. Pengumpulan Data Biaya dan Unit
Setelah proses diidentifikasi, perusahaan harus mencatat semua input biaya serta data fisik unit untuk periode tersebut. Data yang dikumpulkan mencakup jumlah unit yang mulai diproses, unit yang telah selesai ditransfer ke departemen selanjutnya, serta unit yang masih tertinggal sebagai barang dalam proses (work in process/WIP) di akhir periode.
3. Perhitungan Unit Ekuivalen
Karena dalam produksi kontinu sering kali terdapat barang yang belum selesai di akhir periode, perusahaan harus menghitung unit ekuivalen dengan menyetarakan unit WIP sesuai persentase penyelesaiannya. Penggunaan metode full costing dalam tahap ini sangat krusial, karena nilai persediaan WIP tersebut akan mencakup seluruh komponen biaya produksi, termasuk biaya overhead pabrik tetap.
4. Perhitungan Biaya per Unit Rata-Rata
Pada tahap ini, total biaya yang terakumulasi di setiap departemen dibagi dengan jumlah unit ekuivalen yang telah dihitung sebelumnya. Perhitungan dilakukan secara terpisah untuk setiap elemen biaya (Bahan Baku, Tenaga Kerja, dan Overhead) karena tingkat penyelesaian masing-masing elemen sering kali berbeda. Hasilnya adalah biaya rata-rata per unit yang akan digunakan sebagai dasar penilaian inventaris.
5. Alokasi Biaya ke Produk Jadi dan WIP
Setelah biaya per unit ditemukan, langkah selanjutnya adalah mendistribusikan total biaya departemen. Biaya dialokasikan ke unit yang telah selesai ditransfer keluar dan ke unit yang masih tersisa di departemen tersebut. Proses ini memastikan bahwa semua biaya yang dikeluarkan selama periode tersebut telah habis terbagi dan tercatat secara akurat dalam akun persediaan.
6. Penyusunan Laporan Biaya Produksi
Tahap akhir adalah merangkum seluruh informasi tersebut ke dalam laporan biaya produksi. Laporan ini merinci arus fisik unit, total biaya yang harus dipertanggungjawabkan dan rekonsiliasi biaya akhir. Dokumen ini menjadi alat kontrol bagi manajemen untuk mengevaluasi efisiensi operasional dan kinerja biaya termasuk COGM (cost of goods manufactured) yang dihitung untuk setiap pekerjaan.
Contoh Penerapan Process Costing
Process costing digunakan secara luas di berbagai industri seperti industri kimia, industri makanan, hingga industri tekstil. Berikut adalah penjelasan lebih detail terkait contoh penerapan process costing:
1. Industri Kimia
Dalam industri kimia, process costing digunakan untuk menghitung biaya bahan baku dan overhead yang diperlukan dalam setiap batch produksi. Metode ini bertujuan agar setiap tahap, mulai dari pencampuran bahan hingga pengemasan, memiliki alokasi biaya yang jelas. Dengan data ini, perusahaan dapat menganalisis efisiensi produksi dan mengoptimalkan anggaran.
2. Industri Makanan
Industri makanan menerapkan process costing untuk mengalokasikan biaya dari tahap pengolahan bahan mentah hingga pengemasan dan distribusi. Perusahaan dapat memantau biaya di setiap proses, seperti pencampuran bahan, pemasakan, dan pengepakan, dengan metode ini, sehingga mereka dapat menjaga harga jual yang kompetitif dan tetap menguntungkan.
3. Industri Tekstil
Industri tekstil menggunakan process costing untuk melacak biaya produksi dari pencelupan kain hingga pembuatan pakaian jadi. Perusahaan menghitung secara rinci setiap tahap produksi, seperti pemotongan, jahit, dan finishing. Pendekatan ini membantu perusahaan dalam mengelola anggaran dengan lebih optimal dan menjaga profitabilitas perusahaan.
5 Perbedaan Job Costing dan Process Costing
Perbedaan utama job costing dan process costing terletak pada fokus produksi, karakteristik biaya, perhitungan biaya, penggunaan di sistem keuangan manufaktur, hingga kemudahan laporan keuangan.
Berikut adalah penjelasan lebih detail terkait perbedaan job costing dan process costing:
1. Fokus Produksi
Perbedaan job order costing dan process costing yang pertama dilihat dari fokusnya dalam proses produksi di perusahaan manufaktur. Job order costing digunakan dalam proses bisnis manufaktur yang produknya disesuaikan atau diproduksi sesuai dengan pesanan spesifik dari pelanggan.
Sedangkan process costing, digunakan di pabrik proses manufaktur dengan produksi yang seragam dan berkelanjutan, di mana produk melewati beberapa proses atau tahapan yang masing-masing memiliki biaya yang diakumulasikan dan diatribusikan dalam jumlah besar produk yang homogen.
2. Karakteristik Biaya
Karakteristik biaya menjadi perbedaan job order costing dan process costing yang selanjutnya, di mana dalam job order costing biaya dikumpulkan per job yang mengakomodasikan keunikan dan variabilitas produk. Biaya produksi metode ini ditentukan berdasarkan spesifikasi job tersebut, dan biaya bisa sangat berbeda antar job.
Process costing mengumpulkan biaya untuk setiap proses atau tahapan, di mana biaya tersebut akan diatribusikan secara merata ke semua unit yang dihasilkan, sehingga dapat menunjukkan biaya rata rata per unit yang konstan. Maka dari itu, process costing ini cocok untuk proses produksi massal tanpa adanya perbedaan besar antar unit, serta membantu perusahaan dalam menyusun anggaran biaya produksi dengan lebih akurat.
3. Perhitungan Biaya
Job order costing membutuhkan pencatatan yang rinci dengan setiap pelacakan job secara terpisah, sehingga akan mengakumulasikan biaya yang terkait secara langsung dengan job tersebut. Proses tersebut melibatkan perhitungan yang teliti dari setiap biaya produksi untuk setiap pesanan.
Sedangkan perhitungan process costing, memudahkan pengalokasian biaya dengan menggunakan metode average. Di mana total biaya untuk suatu proses dibagi dengan jumlah unit yang dihasilkan, dan menghasilkan biaya per unit yang menunjukkan pengeluaran rata rata untuk produksi tersebut.
4. Penggunaan di Proses Bisnis Manufaktur
Perbedaan job order costing dan process costing juga dilihat dari bagaimana penggunaannya di proses bisnis manufaktur. Job order costing ini biasanya digunakan di industri dengan produk yang disesuaikan secara signifikan. Contohnya seperti pabrik manufaktur pembuat pesawat, konstruksi, atau perusahaan pembuat alat khusus dengan setiap item dapat sangat berbeda satu sama lain.
Masalah produksi di pabrik sering kali terjadi dalam proses berkelanjutan, di mana anggaran biaya produksi bisa terpengaruh oleh gangguan atau kesalahan dalam alur produksi. Berbeda dengan process costing, di mana penggunaannya lebih diaplikasikan dalam industri manufaktur dengan produksi berkelanjutan dan output yang sama.
5. Kemudahan Pelaporan
Laporan keuangan yang dihasilkan dalam siklus akuntansi juga menjadi perbedaan job costing dan process costing. Job order costing ini cenderung lebih kompleks karena masing-masing job memerlukan pemantauan dan dokumentasi yang detail, serta harus adanya penerapan software akuntansi manufaktur yang mampu menangani berbagai informasi biaya secara terpisah untuk setiap pekerjaan.
Sedangkan pelaporan process costing ini lebih sederhana dan terstandarisasi, karena biaya per unit dihitung berdasarkan proses, dan tidak per job. Proses penulisan laporan biaya dalam metode ini juga akan memudahkan agregasi data, dan analisis tren dalam skala yang lebih besar serta lebih seragam.
| Aspek | Job Costing | Process Costing |
|---|---|---|
| Fokus produksi | Bedasarkan pesana spesifik pelanggan. | Produksi massal dan berkelanjutan. |
| Karakteristik biaya |
| Biaya dikumpulkan per proses. |
| Perhitungan biaya | Pencatatan rinci dan terpisah untuk setipa job. |
|
| Penggunaan industri | Industri dengan produk khusus. | Industri dengan produksi massal. |
| Kemudahan pelaporan |
|
|
Optimalkan Perhitungan Job Costing dan Process Costing Anda dengan Software Manufaktur ScaleOcean
Software manufaktur ScaleOcean adalah perangkat lunak yang membantu perusahaan manufaktur mengelola biaya produksi dengan metode job costing maupun process costing secara lebih efisien. Dengan visibilitas real-time dan analisis data yang mendalam, sistem ini mempermudah pengambilan keputusan strategis, baik untuk pesanan kustom yang unik maupun produksi massal yang kontinu.
Dirancang untuk menyederhanakan seluruh alur kerja, ScaleOcean memberikan cara baru bagi perusahaan untuk meningkatkan efisiensi dan menekan biaya operasional di setiap lini. Selain memudahkan pengelolaan rantai pasok, ScaleOcean membantu perusahaan mengontrol biaya dengan lebih presisi melalui pemantauan akurat terhadap biaya bahan baku, tenaga kerja, dan alokasi overhead pada setiap departemen produksi.
Hal ini memungkinkan perusahaan untuk mengoptimalkan alokasi anggaran dan meningkatkan profitabilitas secara menyeluruh. Dengan otomatisasi proses dan integrasi data, ScaleOcean meminimalisir human error yang sering terjadi pada pencatatan manual. ScaleOcean juga menawarkan demo gratis agar Anda bisa melihat langsung bagaimana software ini mentransformasi bisnis manufaktur Anda.
Berikut adalah beberapa fitur utama lainnya dari software manufaktur ScaleOcean:
- Smart MRP (material requirement planning): Mengotomatiskan perhitungan kebutuhan bahan baku untuk setiap pesanan spesifik maupun produksi massal guna mencegah pemborosan material.
- Cost management: Memantau dan menghitung harga pokok produksi dengan akurat, memfasilitasi penggunaan kartu biaya pesanan (job cost sheet) maupun laporan biaya per departemen.
- Order management: Mengotomatisasi pemrosesan pesanan unik pada sistem job costing untuk meningkatkan kecepatan layanan dan akurasi pemenuhan.
- Integrated SCM (supply chain management): Mengelola alur produksi dari pengadaan bahan hingga pengiriman produk jadi secara terintegrasi untuk menjaga kontinuitas proses manufaktur.
- Warehouse management: Memastikan stok bahan baku dan produk jadi selalu terkelola dengan baik, mengoptimalkan inventaris baik untuk barang kustom maupun produk homogen.
Kesimpulan
Job costing dan process costing adalah metode krusial untuk melacak pengeluaran berdasarkan karakteristik produk yang dihasilkan. Job costing berfokus pada pelacakan biaya spesifik untuk setiap pesanan atau proyek unik agar akurasi biaya per unit terjaga. Sebaliknya, process costing mengalokasikan biaya secara massal dan seragam melalui departemen produksi.
Software manufaktur ScaleOcean dapat menjadi salah satu solusi untuk mengelola alokasi biaya manufaktur yang tepat. Dengan fitur seperti bill of materials(BOM) dan costing module, software ini melacak dan menghitung biaya untuk setiap pesanan maupun proses produksi secara otomatis. Anda mendapatkan visibilitas real-time ke biaya pabrik.
Memahami perhitungan biaya manufaktur yang tepat dapat membantu perusahaan menjaga skala profitabilitas dan efisiensi operasional bisnis manufaktur Anda. Jadwalkan demo gratis dan konsultasi dengan tim ahli kami untuk melihat bagaimana software ini dapat membantu bisnis Anda!
FAQ:
1. Apa yang dimaksud dengan job costing?
Job costing adalah metode penghitungan biaya yang digunakan untuk melacak biaya produksi berdasarkan pekerjaan atau proyek tertentu. Metode ini umumnya digunakan dalam industri yang menghasilkan produk atau layanan yang unik dan berbeda-beda, seperti konstruksi, percetakan, atau perusahaan jasa konsultasi.
2. Apa yang dimaksud dengan process costing?
Process costing adalah metode akuntansi biaya untuk menghitung harga pokok produksi per unit pada perusahaan yang memproduksi barang secara massal, kontinu, dan sejenis (homogen) seperti cat, minuman, atau bahan kimia.
3. Apa bedanya job order costing dan process costing?
Job order costing melacak biaya untuk produk unik/pesanan khusus (konstruksi, percetakan) berdasarkan pekerjaan, sementara process costing mengumpulkan biaya untuk produk massal identik (kimia, makanan) per departemen/proses, lalu dibagi per unit ekuivalen.



