Dalam menjalankan bisnis, Anda tentunya ingin memastikan tingkat efisiensi 100% pada setiap operasi Anda. Namun, terkadang terjadi fenomena di mana karyawan atau alat produksi dalam pabrik tidak menjalankan kegiatannya meskipun tidak terdapat hambatan sama sekali, yakni idle time.
Sayangnya, fenomena tersebut bukan merupakan suatu hal yang dapat dihindari dalam proses produksi dikarenakan kesulitannya mengelola waktu dan penjadwalan produksi pada skala luas. Adanya pemahaman lebih tentang istilah idle dapat membantu perusahaan untuk menyusun rencana manufaktur dengan lebih efisien, sehingga meminimalisir waktu pengangguran yang terjadi.
Artikel berikut akan membahas lebih lanjut tentang fenomena tersebut dalam konteks produksi, jenis-jenis, dampak, dan perbedaannya dengan konsep downtime yang serupa. Selain itu, kami juga akan menyertakan solusi canggih terbaik untuk membantu dalam pengelolaan idle time yang lebih baik dalam perusahaan, suatu hal yang dapat menjaga stabilitas efisiensi perakitan pada bisnis Anda!
- Idle time adalah waktu di mana sumber daya dalam proses produksi perusahaan tersedia, namun tidak menjalankan kegiatannya.
- Penyebab terjadinya waktu idle meliputi keterlambatan pengiriman, kerusakan atau perawatan alat, kurangnya koordinasi, kondisi tenaga kerja, kecelakaan atau bencana alam.
- Rumus dari waktu diam adalah Waktu Tidak Aktif / Total Waktu Produksi) x 100%
- Penerapan sistem manufaktur seperti ScaleOcean yang terintegrasi dengan CMMS dapat membantu dalam pengelolaan idle time lebih optimal pada proses produksi.
1. Apa itu Idle Time?
Idle time adalah suatu istilah yang merujuk pada kondisi di mana tenaga kerja, alat, dan fasilitas perusahaan dapat bekerja, namun sedang tidak menjalankan kegiatan produksi. Hal berikut biasanya terjadi dikarenakan faktor internal atau eksternal seperti penungguan bahan baku atau prosedur lainnya.
Secara umum, hal tersebut dapat dinyatakan sebagai waktu di mana para tenaga kerja perlu menunggu untuk sementara waktu sebelum menjalankan cycle time produksi lagi. Hal ini dapat terjadi dikarenakan pihak manajemen perusahaan telah merencanakan proses perawatan alat dan fasilitas dalam perusahaan, atau dikarenakan faktor tidak terkendali seperti bencana alam.
2. Jenis-jenis Idle Time
Dalam proses manufaktur, waktu idle dapat dibedakan menjadi dua jenis, yakni terencana dan tidak terencana. Berikut penjelasan lebih lengkapnya:
a. Idle Time Terencana
Seperti yang baru dijelaskan secara singkat di atas, waktu idle terencana adalah waktu tunggu yang telah diperhitungkan dan direncanakan oleh perusahaan sebelumnya. Hal ini dapat berupa waktu istirahat tenaga kerja dan perawatan fasilitas produksi manufaktur, yakni kegiatan-kegiatan wajar dalam produksi yang dapat dikendalikan oleh bisnis dengan perencanaan yang matang.
b. Idle Time Tidak Terencana
Idle time tidak terencana dalam pabrik terjadi ketika alur produksi terhenti tanpa perencanaan, misalnya akibat keterlambatan bahan baku ke area produksi, kerusakan mendadak pada mesin CNC, atau gangguan sistem kontrol produksi.
Menurut Lean Enterprise Institute, kondisi ini merupakan salah satu pemborosan (waste) yang timbul karena adanya ketidaksinkronan alur kerja, sehingga mesin atau tenaga kerja harus menunggu proses sebelumnya selesai. Hal ini dapat menyebabkan penurunan produktivitas, peningkatan biaya operasional, dan pengabaian target produksi.
3. Penyebab Terjadinya Idle Time dalam Proses Produksi
Untuk lebih memahami faktor-faktor yang menyebabkan idle time dalam proses produksi, penting untuk melihat berbagai aspek yang mempengaruhi kelancaran operasional. Berikut ini penjelasan tentang penyebab idle time:
a. Keterlambatan Pengiriman atau Keterbatasan Bahan Baku
Dalam manufaktur, keterlambatan bahan baku menyebabkan mesin produksi dan operator menganggur di lini perakitan, karena proses tidak dapat dimulai tanpa material yang sesuai spesifikasi produksi. Terjadinya fenomena ini menandakan bahwa manajemen rantai pasokan dan ketersediaan perusahaan masih belum maksimal, sehingga perlu dioptimalkan ulang.
b. Kerusakan atau Perawatan Alat dan Fasilitas
Pada lingkungan pabrik, kerusakan mesin seperti press, conveyor, atau mesin injection molding secara langsung menyebabkan idle pada stasiun kerja tertentu yang kemudian berdampak pada keseluruhan aliran produksi.Â
Kegiatan tersebut bila direncanakan seharusnya tidak memunculkan hambatan pada pengendalian produksi. Namun sebaliknya, bila kerusakan terjadi secara tiba-tiba, maka hal tersebut berpotensi mencegah penyelesaian proses perakitan tepat waktu.
c. Kurangnya koordinasi antara Masing-masing Departemen
Di manufaktur, lemahnya koordinasi antara PPIC, produksi, dan gudang dapat membuat mesin sudah siap jalan, tetapi tidak ada material atau instruksi kerja yang jelas, sehingga lini produksi menjadi idle.
Misalnya, jika divisi produksi tidak mendapatkan informasi yang jelas dari divisi pengadaan atau penjualan mengenai bahan baku yang dibutuhkan, maka proses produksi akan terhambat.
d. Kondisi Tenaga Kerja
Masing-masing anggota tenaga kerja memiliki pribadi dan permasalahannya masing-masing. Dalam pabrik, kekurangan operator terampil, absensi mendadak, atau ketidaksesuaian skill dengan jenis mesin dapat membuat stasiun kerja berhenti beroperasi meskipun mesin tersedia.
Selain itu, waktu idle juga dapat terjadi ketika para karyawan tidak merasa puas dengan kondisi lapangan manufaktur. Faktor-faktor seperti gaji yang stagnan, keuntungan yang kurang, dan lain sebagainya, dapat memunculkan tindakan aktivisme yang cenderung meliputi pemberhentian kerja secara massal.
e. Kecelakaan dan Bencana Alam
Pada manufaktur, kecelakaan kerja di area produksi atau bencana alam seperti banjir yang merendam mesin akan menyebabkan lini produksi terhenti dan menciptakan idle time masif di pabrik.
Untuk mengatasi hal tersebut, perusahaan biasanya menyisakan beberapa stok bahan baku atau barang, yakni buffer stock, agar proses perakitan tetap dapat berjalan meskipun terjadinya hambatan sementara pada rantai pasokan.
4. Dampak Idle Time terhadap Efektivitas Produksi
Untuk lebih memahami dampak yang ditimbulkan oleh idle time dalam proses produksi, kita perlu melihat bagaimana fenomena ini mempengaruhi kinerja dan biaya operasional perusahaan. Berikut penjelasan dari dampak idle time:
a. Penurunan Produktivitas
Idle time di pabrik membuat output per jam mesin (OEE) menurun karena kapasitas mesin tidak dimanfaatkan secara optimal meskipun biaya operasional tetap berjalan. Hal ini berarti angka produksi perusahaan akan menurun, sehingga pendapatan yang seharusnya didapatkan hangus karena tidak mampu memenuhi jumlah permintaan yang beredar.
Dengan menggunakan capacity planning software terbaik, perusahaan dapat mengidentifikasi dan mengurangi idle time, mengoptimalkan penggunaan mesin, dan meningkatkan produktivitas secara keseluruhan.
b. Biaya Operasional Meningkat
Meskipun tenaga kerja dan alat tidak digunakan pada waktu nganggur, Dalam manufaktur, idle time menyebabkan biaya tetap seperti depresiasi mesin, listrik, dan tenaga kerja tetap muncul tanpa menghasilkan unit produk, sehingga cost per unit meningkat. Selain itu, bisnis juga berpotensi perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk mengatasi dan menyelesaikan faktor penyebab terjadinya waktu idle.
c. Keterlambatan Pengiriman dan Tidak Terpenuhinya Pesanan
Ketika lini produksi idle, target output harian tidak tercapai, sehingga jadwal delivery dari pabrik ke distributor atau customer menjadi mundur. Jika proses produksi tidak berjalan sesuai jadwal, perusahaan tidak dapat memenuhi pesanan tepat waktu, yang berpotensi merusak reputasi bisnis dan menyebabkan hilangnya pelanggan atau pembatalan kontrak.
Untuk menghindari hal ini, perusahaan perlu menghitung lead time secara akurat, sehingga dapat merencanakan produksi dan pengiriman dengan lebih baik dan memenuhi komitmen terhadap pelanggan.
5. Cara Menghitung Idle Time
Sebelum perusahaan dapat menyusun tindakan untuk mengatasi waktu nganggur yang terjadi, perlu adanya perhitungan terlebih dahulu mengenai seberapa besar persentase terjadinya idle time mesin pada suatu produksi. Hal tersebut dapat dilakukan melalui rumus:
Idle Time = (Waktu Tidak Aktif / Total Waktu Produksi) x 100%
Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas, bayangkan sejenak apabila total waktu produksi perusahaan adalah 180 jam per bulan. Namun, selama berjalannya operasi produksi, ternyata terjadi waktu idle selama 20 jam. Maka, persentase idle time yang terjadi pada bulan tersebut berupa:
Idle Time = (Waktu Tidak Aktif / Total Waktu Produksi) x 100%
Idle Time = (20 jam / 180 jam) x 100%
Idle Time = 0.1 x 100%
Idle Time = 10%
Jadi, persentase waktu nganggur yang terjadi pada bulan produksi tersebut adalah 10%. Pengukuran berikut dapat dilakukan secara otomatis pada setiap operasi perakitan dengan penerapan perangkat lunak computerized maintenance management system (CMMS).
6. Contoh Idle Time pada Proses Produksi
Telah dinyatakan sebelumnya bahwa waktu idle dapat disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Contohnya, sebuah perusahaan manufaktur tekstil di Surabaya memiliki idle time manufaktur yang relatif tinggi dikarenakan adanya tantangan yang muncul pada rantai pasokan, yakni sebuah hal yang dapat termasuk permasalahan internal atau eksternal.
Bila hal tersebut terjadi dikarenakan pengelolaan bahan baku atau raw material yang tidak efisien dari perusahaan, maka kendala itu merupakan sebuah isu internal. Sebaliknya pula, apabila kendaraan logistik mengalami kecelakaan atau gudang perusahaan terdampak oleh bencana alam seperti banjir atau gempa bumi, yakni hal-hal di luar kendali bisnis, maka faktor terjadinya permasalahan tersebut adalah faktor eksternal.
7. Strategi untuk Mengurangi Idle Time
Untuk mengurangi idle time dalam proses produksi, perusahaan perlu menyusun strategi yang tepat dan efisien. Berikut adalah pembahasan lebih lanjut strategi-strategi tersebut:
a. Perencanaan dan Penjadwalan yang Efisien
Sebelum proses manufaktur mulai, perusahaan cenderung menyusun terlebih dahulu sebuah penjadwalan produksi yang bertindak sebagai panduan penyelesaian. Seharusnya perusahaan memfaktorkan kemungkinan terjadinya waktu idle selama berlangsungnya proses perakitan, sehingga pesanan dapat dipenuhi dengan tenggat waktu yang realistis.
b. Penjadwalan Pemeliharaan Preventif dan Perbaikan yang Optimal
Segala alat dan fasilitas dalam pabrik produksi tentunya memerlukan perawatan rutin untuk menjamin keberlangsungan penggunaan barang-barang tersebut. Berdasarkan perhitungan mean time to repair (MTTR), bisnis seharusnya mempunyai gambaran jelas tentang kapan seharusnya pemeliharaan dilakukan lagi, sehingga dapat mengatur idle time yang terencana.
c. Pelatihan dan Pengembangan Karyawan
Memberikan pelatihan kepada karyawan untuk meningkatkan keterampilan dan efisiensi dalam melaksanakan tugas mereka. Karyawan yang terampil dapat mengurangi kesalahan dan meningkatkan produktivitas, sehingga mengurangi waktu idle yang disebabkan oleh kekurangan keterampilan atau ketidaktahuan dalam mengoperasikan peralatan.
d. Pemanfaatan Software Manufaktur Terintegrasi
Software manufaktur ScaleOcean dapat mengintegrasikan cabang-cabang gudang atau pabrik perusahaan dengan mudah, serta memiliki kemampuan untuk berintegrasi dengan sistem yang sudah diterapkan sebelumnya.
Keunggulan utama dari sistem ini terletak pada fleksibilitasnya dalam mendukung berbagai jenis operasi manufaktur, memberikan solusi end-to-end yang efisien dan dapat disesuaikan. Dengan menggunakan teknologi terkini, ScaleOcean memastikan kelancaran proses operasional, efisiensi produksi, dan pengelolaan yang lebih transparan.
Spesifikasi lebih lengkapnya dapat Anda ketahui melalui demo gratis yang ditawarkan oleh ScaleOcean. Ini memberi kesempatan untuk merasakan langsung manfaat dari software manufaktur ScaleOcean dan memahami bagaimana solusi ini dapat diintegrasikan dengan sistem perusahaan Anda. Berikut fitur unggulannya:
- Pemantauan Waktu Nyata Mesin: Memantau status mesin secara real–time, mendeteksi kapan mesin tidak aktif, dan mengidentifikasi penyebab waktu nganggur untuk tindakan perbaikan.
- Jadwal Pemeliharaan Otomatis: Menyusun jadwal pemeliharaan preventif secara otomatis, mengurangi idle time yang tidak terjadwal akibat kerusakan mesin yang tidak terdeteksi sebelumnya.
- Pengelolaan Sumber Daya Manusia: Menyediakan data alokasi tenaga kerja dan memantau produktivitas pekerja, sehingga waktu idle karena kurangnya personel atau alokasi yang tidak efisien dapat diminimalkan.
- Analisis Waktu Siklus Produksi: Menggunakan data waktu siklus produksi untuk mengidentifikasi bagian-bagian yang memakan waktu lama atau tidak efisien, dan mengoptimalkan proses untuk mengurangi waktu nganggur.
- Real-Time Tracking dan Reporting: Memberikan laporan dan analitik secara langsung tentang idle time dan kinerja produksi, memungkinkan manajer untuk mengambil tindakan cepat dalam mengatasi pemborosan waktu.
Baca juga: Apa itu Perencanaan Kapasitas, Manfaat, serta Strateginya
8. Kesimpulan
Idle time produksi adalah fenomena yang tidak dapat dihindari, namun dampaknya dapat diminimalisir dengan perencanaan yang matang. Faktor seperti keterlambatan bahan baku, kerusakan mesin, dan kurangnya koordinasi antar departemen dapat menyebabkan terjadinya waktu idle yang merugikan produktivitas perusahaan.
Untuk mengatasi waktu nganggur, perusahaan perlu menerapkan strategi yang tepat, seperti penjadwalan pemeliharaan rutin, perencanaan produksi yang efisien, dan pelatihan karyawan. Penggunaan teknologi, seperti software manufaktur dan CMMS, dapat mempermudah pemantauan dan pengelolaan idle time secara lebih efektif.
Penggunaan perangkat lunak manufaktur yang terintegrasi, seperti ScaleOcean, dapat membantu perusahaan mengoptimalkan proses produksi dan mengurangi waktu idle. Fitur-fitur canggih yang ditawarkan dapat memberikan kontrol penuh terhadap operasional, serta membantu dalam pengelolaan waktu produksi. Fitur-fitur tersebut dapat Anda coba melalui demo gratis yang ditawarkan oleh ScaleOcean.
FAQ:
1. Bagaimana cara menghitung idle time?
Idle time dihitung dengan mengurangi jam produktif dari total waktu yang dijadwalkan.
2. Bagaimana cara mengurangi idle time dalam proses produksi?
Mengurangi idle time dapat dilakukan dengan memperbaiki jadwal produksi, pemeliharaan mesin preventif, dan memastikan pasokan bahan baku tepat waktu.
3. Apa dampak dari idle time yang tidak terkelola dengan baik pada produksi?
Idle time yang tidak terkelola dapat menurunkan efisiensi, meningkatkan biaya, dan memperlambat pencapaian target produksi.





