Bagi banyak perusahaan, belanja modal sering kali menjadi tantangan utama dalam menjaga kelangsungan operasi dan pertumbuhan bisnis. Tanpa perencanaan yang matang, pembelian aset yang diperlukan bisa mengganggu aliran kas dan mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk berinovasi serta berkompetisi.
Belanja modal adalah pengeluaran yang dilakukan perusahaan untuk memperoleh, menambah, atau memelihara aset tetap dan aset lainnya. Keputusan terkait pengeluaran tersebut sangat penting karena berpengaruh langsung terhadap kapasitas perusahaan dalam mendukung operasional dan ekspansi.
Di artikel ini, Anda akan menemukan informasi mengenai pengertian, contoh belanja modal, dan rumus untuk menghitungnya. Anda dapat menggunakan informasi ini sebagai pertimbangan untuk merencanakan pengeluaran perusahaan yang efisien, guna mendukung pertumbuhan dan stabilitas finansial jangka panjang perusahaan.
- Belanja modal adalah pengeluaran untuk memperoleh, memelihara, atau meningkatkan aset tetap dan aset lainnya dalam anggaran perusahaan.
- Rumus belanja modal dapat dihitung dengan: (aset tetap akhir – aset tetap awal) + penyusutan, untuk mengukur pengeluaran kas bersih terkait investasi aset tetap.
- Perbedaan belanja modal adalah untuk investasi jangka panjang seperti gedung dan mesin, sementara belanja operasional untuk pengeluaran harian.
- Software akuntansi terbaik ScaleOcean dapat membantu melacak dan mengelola pengeluaran belanja modal secara akurat, memastikan pencatatan aset yang efisien dan transparan.
1. Apa itu Belanja Modal?
Belanja modal adalah pengeluaran anggaran yang digunakan untuk membeli, merawat, atau memperbaiki aset tetap dan aset lain yang memberikan manfaat jangka panjang (lebih dari satu periode akuntansi), seperti tanah, bangunan, peralatan, kendaraan, atau aset tak berwujud.
Tujuan utama belanja modal (disebut juga Capital Expenditure atau CapEx) adalah untuk membangun modal yang mendukung kelangsungan dan perkembangan operasional bisnis atau pemerintah di masa depan, bukan untuk biaya sehari-hari seperti belanja operasional (Opex).
Penting untuk memisahkan belanja modal dari biaya operasional dalam laporan keuangan. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk memantau pengeluarannya dan mengevaluasi sejauh mana investasi pada aset tetap memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan bisnis.
Baca juga: Procure to Pay (P2P): Pengertian, Proses, dan Manfaatnya
2. Jenis-jenis Belanja Modal
Belanja modal adalah pengeluaran yang digunakan untuk membeli atau memperbaiki aset tetap yang digunakan dalam operasional perusahaan. Terdapat berbagai kategori dalam pengeluaran tersebut yang mencakup berbagai jenis aset. Berikut adalah jenis-jenis belanja modal yang perlu Anda ketahui:
- Belanja Modal Tanah: mencakup biaya yang terkait dengan perolehan tanah, termasuk pengadaan, pembebasan, sertifikasi, serta biaya administratif untuk memperoleh hak atas tanah tersebut.
- Belanja Peralatan dan Mesin: meliputi biaya pembelian, pengangkutan, serta instalasi peralatan dan mesin yang siap digunakan, seperti kendaraan, mesin produksi, atau komputer.
- Belanja Modal Gedung dan Bangunan: mencakup pembangunan atau pembelian gedung, termasuk pengeluaran untuk perizinan (seperti IMB) dan administrasi lainnya hingga bangunan siap digunakan.
- Belanja untuk Teknologi dan Sistem Informasi: digunakan untuk mengadopsi teknologi baru, seperti sistem ERP, perangkat lunak, dan perangkat keras lainnya.
- Belanja untuk Pembelian Lisensi atau Hak atas Aset Intangible: perusahaan juga dapat mengalokasikan pengeluaran tersebut untuk membeli lisensi, paten, atau hak cipta yang mendukung operasional bisnis.
3. Karakteristik Belanja Modal

Ciri utama belanja modal adalah memberikan manfaat jangka panjang (>1 periode akuntansi), menambah aset (baik tetap maupun tak berwujud) dalam neraca, bersifat sekali saja dan signifikan, serta dibebankan secara bertahap melalui penyusutan atau amortisasi, bukan langsung sebagai beban operasional.
Secara lebih rinci, karakteristik utama belanja modal adalah:
a. Manfaat Jangka Panjang
Belanja modal memberikan manfaat yang dapat bertahan lebih dari satu tahun buku. Pengeluaran ini mendukung kelangsungan operasional perusahaan dan meningkatkan efisiensi jangka panjang.
b. Penambahan Aset
Pengeluaran untuk dicatat sebagai aset di neraca. Ini termasuk aset tetap seperti gedung dan mesin, atau aset tak berwujud seperti paten dan perangkat lunak.
c. Sifat Investasi
Tidak hanya itu, belanja modal berfokus pada peningkatan kapasitas atau kualitas aset yang sudah ada, atau memperoleh aset baru. Ini sering kali mencerminkan investasi untuk masa depan.
Dalam hal ini, cost of capital memainkan peran penting, karena perusahaan harus mempertimbangkan biaya yang terkait dengan pendanaan investasi tersebut, baik melalui utang maupun ekuitas.
d. Tidak Berulang
Pengeluaran ini biasanya tidak terjadi secara rutin dan melibatkan jumlah yang signifikan. Berbeda dengan biaya operasional harian, belanja modal cenderung bersifat lebih jarang.
Selain itu, penting untuk mempertimbangkan struktur modal perusahaan dalam perencanaan pengeluaran anggaran, karena pengaturan yang tepat antara utang dan ekuitas dapat mempengaruhi likuiditas dan keberlanjutan finansial perusahaan dalam jangka panjang.
e. Penyusutan/Amortisasi
Biaya belanja modal dialokasikan sepanjang masa manfaat aset. Alih-alih dibebankan langsung pada tahun perolehan, biaya ini dialokasikan bertahap melalui penyusutan atau amortisasi. Perusahaan akan membuat jurnal modal awal, yang mencatat nilai perolehan aset sebagai pengeluaran investasi awal.
Selanjutnya, rumus modal akhir digunakan untuk menentukan nilai sisa aset setelah dikurangi dengan penyusutan atau amortisasi. Rumus ini membantu perusahaan mengevaluasi berapa nilai yang tersisa dari investasi awal dalam aset jangka panjang.
f. Nilai Material
Terakhir, pengeluaran anggaran perusahaan ini sering kali juga melibatkan expense perusahaan dengan jumlah yang cukup besar. Hal ini mencerminkan pentingnya investasi untuk meningkatkan aset perusahaan.
4. Contoh Belanja Modal untuk PerusahaanÂ
Contoh belanja modal meliputi pengeluaran untuk aset tetap yang memberikan manfaat jangka panjang, seperti pembelian mesin produksi, kendaraan, dan infrastruktur (jalan, jembatan, jaringan irigasi), serta pengadaan perangkat lunak dan aset tak berwujud lainnya yang meningkatkan kapasitas atau nilai perusahaan/organisasi, bukan untuk keperluan operasional sehari-hari.
Untuk lebih mudah memahaminya, berikut beberapa contoh belanja modal untuk perusahaan:
a. Pembelian Mesin Produksi Baru
Perusahaan manufaktur membeli mesin baru untuk meningkatkan kapasitas produksi. Mesin ini akan digunakan selama bertahun-tahun dan dapat menghasilkan produk lebih cepat dan efisien, meningkatkan produktivitas dan menurunkan biaya operasional.
Misalnya, perusahaan manufaktur membeli mesin baru senilai Rp1 miliar untuk meningkatkan kapasitas produksi. Mesin ini akan digunakan selama 10 tahun dan diharapkan dapat meningkatkan output sebesar 30%, mengurangi biaya produksi, serta mempercepat waktu penyelesaian pesanan pelanggan.
b. Renovasi Gedung Perkantoran
Sebuah perusahaan melakukan renovasi gedung kantor untuk memperbaiki fasilitas dan meningkatkan kenyamanan karyawan. Renovasi ini juga termasuk penambahan ruang rapat dan fasilitas lainnya untuk mendukung pertumbuhan perusahaan.
c. Pembelian Kendaraan Operasional
Perusahaan distribusi membeli kendaraan baru untuk armada pengantaran barang. Kendaraan ini akan digunakan untuk pengiriman dalam jangka panjang dan membantu perusahaan untuk mempercepat proses distribusi produk ke pelanggan.
d. Investasi dalam Sistem ERP
Perusahaan teknologi menginvestasikan dana untuk membeli dan mengimplementasikan sistem ERP yang akan mengintegrasikan berbagai fungsi operasional, seperti keuangan, produksi, dan distribusi, untuk meningkatkan efisiensi manajemen dan pengambilan keputusan.
Selain itu, perusahaan juga perlu mengawasi laporan perubahan modal, yang mencerminkan bagaimana investasi dalam sistem ERP mempengaruhi struktur modal mereka. Laporan ini membantu pemangku kepentingan memahami aliran dana dan perubahan yang terjadi dalam posisi keuangan perusahaan.
e. Pembangunan Gudang Baru
Perusahaan ritel membangun gudang baru untuk menampung inventaris yang lebih banyak barang dan meningkatkan kapasitas penyimpanan. Gudang baru ini akan mendukung distribusi barang ke toko-toko dengan lebih cepat dan mengurangi biaya penyimpanan yang tidak efisien.
5. Rumus dan Cara Menghitung Belanja ModalÂ
Dalam akuntansi bisnis, belanja modal dihitung dengan mengurangkan nilai aset tetap awal dari nilai aset tetap akhir di neraca, kemudian menambahkan kembali beban penyusutan yang telah dibebankan selama periode tersebut.
Untuk menghitung belanja modal, rumus umumnya adalah:
Belanja Modal = (Aset Tetap Akhir – Aset Tetap Awal) + Beban Penyusutan
atau rumus belanja modal lainnya, seperti:
Belanja Modal = Pembelian Aset Tetap Baru + Peningkatan Aset Tetap yang Ada – Penjualan Aset Tetap
Sementara itu, untuk cara menghitung belanja modal adalah sebagai berikut:
- Identifikasi Aset yang Dibeli: menentukan aset tetap yang dibeli atau diperbaiki, seperti mesin, gedung, atau kendaraan. Aset ini akan menjadi dasar penghitungan belanja modal.
- Tentukan Nilai Aset Awal: selanjutnya, hitung nilai aset tetap sebelum pengeluaran dilakukan. Ini disebut nilai buku awal yang mencerminkan harga perolehan atau nilai tercatat sebelumnya.
- Hitung Nilai Aset Akhir: tentukan nilai aset setelah dilakukan pengeluaran atau perbaikan. Nilai buku akhir ini memperlihatkan harga aset setelah dilakukan investasi.
- Kalkulasi Belanja Modal: hitung belanja modal dengan rumus yang disebutkan di atas. Ini mencakup semua biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan atau meningkatkan aset tetap, termasuk biaya penyusutan selama periode berjalan.
Dengan menghitung pengeluaran tersebut secara tepat, perusahaan dapat memantau pengelolaan keuangan jangka panjang, mengoptimalkan alokasi anggaran, dan memastikan bahwa investasi pada aset tetap mendukung pertumbuhan serta efisiensi operasional.
Selain itu, perusahaan juga dapat menggunakan CAPM (Capital Asset Pricing Model) untuk menilai risiko investasi dan menentukan tingkat pengembalian yang diharapkan, yang dapat mempengaruhi keputusan belanja modal mereka.
Untuk memastikan keakuratan dalam perhitungan belanja modal, perusahaan dapat memanfaatkan software akuntansi. Dengan menggunakan software ini, proses pencatatan aset dan penyusutan menjadi lebih efisien, akurat, dan terintegrasi, yang mendukung pengambilan keputusan finansial yang lebih baik.
ScaleOcean menawarkan software akuntansi terbaik yang dirancang untuk mengoptimalkan perhitungan belanja modal perusahaan Anda dengan efisiensi dan akurasi tinggi. Dengan modul akuntansi yang lengkap, sistem ini memungkinkan Anda untuk mengelola dan memantau pengeluaran modal secara real-time.
Sebagai vendor ERP lokal terpercaya, skalabilitas dari ScaleOcean memungkinkan bisnis dari berbagai ukuran untuk menyesuaikan penggunaan sistem sesuai dengan kebutuhan spesifik mereka. Untuk melihat sistem ini bekerja meningkatkan kontrol atas pengeluaran modal perusahaan, Anda bisa menjadwalkan demo gratis bersama tim internal ScaleOcean.
6. Apa Perbedaan Belanja Modal dengan Belanja Operasional?
Perbedaan antara Belanja Modal (CapEx) dan Belanja Operasional (OpEx) terletak pada tujuan dan jangka waktunya. Belanja modal digunakan untuk investasi dalam aset jangka panjang, seperti pembelian gedung, mesin, atau peralatan lainnya yang memberikan manfaat lebih dari satu periode akuntansi.
Sementara itu, belanja operasional mencakup biaya rutin untuk kegiatan sehari-hari perusahaan, seperti pembayaran gaji, utilitas, biaya pemasaran, dan pembelian bahan baku. Pengeluaran ini langsung dibebankan sebagai biaya pada periode terjadinya, karena manfaatnya hanya dirasakan dalam jangka pendek.
Baca juga: Procure to Pay (P2P): Pengertian, Proses, dan Manfaatnya
7. Kesimpulan
Mengelola belanja modal dengan bijak sangat krusial agar perusahaan dapat mempertahankan efisiensi operasional dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya. Tanpa pengelolaan yang tepat, risiko pemborosan dan gangguan finansial dapat mengancam stabilitas jangka panjang perusahaan.
Dengan menggunakan Software Akuntansi ScaleOcean, perusahaan dapat memantau dan mengelola belanja modal secara lebih akurat dan efisien. Fitur-fitur unggulannya memudahkan pencatatan, perencanaan, serta analisis pengeluaran modal, membantu Anda membuat keputusan bisnis yang lebih tepat dan strategis.
FAQ:
1. Apa itu belanja modal?
Belanja modal (capital expenditure) adalah pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh, meningkatkan, atau memperbaiki aset tetap yang akan memberikan manfaat jangka panjang, biasanya lebih dari satu tahun. Belanja ini tidak termasuk biaya operasional sehari-hari. Contoh belanja modal adalah pembelian mesin baru, gedung, kendaraan, atau perangkat lunak besar. Pengeluaran ini akan dicatat sebagai aset di neraca perusahaan, bukan sebagai beban di laporan laba rugi.
2. Apa perbedaan belanja modal dan belanja operasional?
Perbedaan utama terletak pada manfaat yang diberikan dan bagaimana keduanya dicatat dalam laporan keuangan.
1. Belanja Modal (Capital Expenditure): Pengeluaran untuk aset jangka panjang yang akan memberikan manfaat di masa depan. Belanja ini tidak langsung dibebankan ke laporan laba rugi, melainkan disusutkan (depreciation) selama masa manfaat aset tersebut. Contoh: Membeli mobil untuk operasional.
2. Belanja Operasional (Operating Expense):): Pengeluaran yang terkait langsung dengan kegiatan operasional sehari-hari dan langsung dibebankan sebagai biaya di laporan laba rugi dalam periode yang sama. Contoh: Membeli bensin untuk mobil operasional.
3. Mengapa belanja modal penting bagi pertumbuhan bisnis?
Belanja modal sangat krusial karena:
1. Peningkatan Kapasitas: Memungkinkan perusahaan untuk meningkatkan kapasitas produksi atau layanan, yang penting untuk pertumbuhan.
2. Efisiensi Jangka Panjang: Investasi pada aset baru dapat meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya operasional, dan memperbarui teknologi.
3. Keunggulan Kompetitif: Perusahaan yang berinvestasi pada teknologi atau aset baru cenderung lebih kompetitif di pasar.
4. Peningkatan Nilai Aset: Belanja modal meningkatkan nilai aset perusahaan di neraca, yang dapat menarik investor.



