Merchandising: Definisi, Manfaat, dan Strateginya

Posted on
Daftar Isi [hide]
Share artikel ini

Apakah banyak produk di cabang retail yang tidak terjual? Salah satu penyebab masalah ini adalah karena barang yang dijual tidak sesuai dengan preferensi penduduk lokal. Akibatnya, stok menumpuk, perputaran barang melambat, dan margin keuntungan tergerus karena produk kurang diminati oleh lokal.

Lalu bagaimana Anda mengatasi tantangan berikut? Anda memerlukan sistem merchandising. Merchandising adalah praktik dalam usaha retail untuk mempromosikan, menampilkan, dan menjual produk serta memaksimalkan penjualannya. Salah satu bagian merchandising berupa assortment optimization. Dimana dengan pemanfaatan data penjualan, perilaku konsumen, dan tren lokal.

Hasilnya, display Anda menjadi lebih relevan, penjualan meningkat, dan keputusan pengadaan tidak berdasarkan asumsi tetapi data yang akurat. Artikel ini akan membahas dengan detail apa itu merchandising, unsur-unsurnya, manfaat merchandising bagi usaha retail Anda, serta strateginya.

starsKey Takeaways
  • Merchandising adalah praktik dalam ritel untuk mempromosikan, menampilkan, dan menjual produk serta memaksimalkan penjualannya.
  • Merchandising memberikan manfaat strategis seperti mengembangkan merek secara bawah sadar, meningkatkan arus pengunjung, dan meningkatkan penjualan dan pendapatan Anda.
  • Komponen-komponen penting dalam merchandising adalah assortment planning, strategi penetapan harga, manajemen inventaris, sampai pemantauan kinerja.
  • Software Retail Scaleocean dapat membantu proses merchandising dengan data manajemen stok terpusat dan analisa perilaku konsumen di satu sistem yang terintegrasi.

Coba Demo Gratis!

1. Apa Itu Merchandising? 

Merchandising adalah praktik dalam ritel untuk mempromosikan, menampilkan, dan menjual produk serta memaksimalkan penjualannya. Secara aktif, bisnis mengatur pemilihan produk, penempatan, harga, hingga promosi sehingga konsumen lebih mudah menembukan dan membeli barang. Merchandising tidak hanya fokus pada tampilan, tetapi juga pada strategi penjualan yang terukur.

Dengan ini, konsumen lebih mudah menemukan dan membeli barang, terutama saat berada di area point of purchase. Dengan kata lain, arti merchandising tidak hanya fokus pada tampilan, tetapi juga pada strategi penjualan yang terukur.

Selain itu, merchandising menghubungkan data penjualan dengan perilaku konsumen untuk memastikan produk yang ditawarkan relevan dengan penduduk lokal. Oleh karena itu, Anda tidak bisa mengandalkan intuisi, tetapi menggunakan analisis secara mendalam untuk menentukan assortment yang tepat. Strategi merchandising yang efektif mampu meningkatkan perputaran stok sekaligus memaksimalkan profitabilitas.

2. Apa Saja Unsur-unsur 5 P dalam Merchandising?

Banyak praktisi retail menggunakan kerangka 5 P dalam merchandising, yaitu product, price, place, promotion, dan presentation, sebagai panduan agar eksekusi di lapangan tetap terarah dan terukur. Dengan pendekatan ini, bisnis dapat menyelaraskan strategi produk hingga promosi secara sistematis. Berikut penjelasan mengenai kelima unsur P tersebut:

1. Product (Produk)

Product menekankan pada pemilihan dan pengelolaan assortment yang tepat. Bisnis harus secara aktif menganalisis data penjualan, tren pasar, serta preferensi pelanggan lokal sebelum menentukan produk yang ditawarkan. Dengan demikian, risiko menjual barang yang tidak relevan dapat diminimalkan.

Strategi produk yang tepat meningkatkan perputaran stok dan mengurangi dead stock. Oleh sebab itu, optimalisasi assortment menjadi fondasi utama dalam merchandising yang efektif dan berkelanjutan.

2. Price (Harga)

Price berperan penting dalam keputusan pembelian konsumen. Perusahaan perlu menetapkan harga kompetitif namun tetap menguntungkan melalui analisis margin, daya beli, dan strategi pesaing.

Di sisi lain, penyesuaian harga secara berkala memungkinkan bisnis merespons perubahan pasar dengan cepat. Karena itu, integrasi data penjualan dan elastisitas permintaan menjadi kunci dalam menentukan strategi pricing yang optimal.

3. Place (Penempatan)

Place berfokus pada bagaimana dan di mana produk ditempatkan dalam toko atau kanal distribusi. Penempatan yang strategis seperti area dengan traffic tinggi mampu meningkatkan visibilitas dan peluang pembelian impulsif. Oleh karena itu, tata letak rak tidak boleh dilakukan secara acak, melainkan disusun berdasarkan strategi planogram yang mempertimbangkan kategori dan kontribusi penjualan.

Selain itu, analisis heatmap dan pola pergerakan pelanggan membantu menentukan posisi produk unggulan. Dengan strategi penempatan yang tepat, bisnis dapat memaksimalkan potensi setiap meter ruang display.

4. Promotion (Promosi)

Berikutnya, promotion bertujuan mendorong minat beli melalui aktivitas promosi yang terencana. Hal-hal sepert diskon bundling, promo, hingga program loyalty dapat meningkatkan awareness sekaligus mempercepat perputaran stok. Dengan demikian, promosi tidak hanya menarik perhatian tetap berdampak langsung pada penjualan.

Studi POPAI menunjukkan bahwa materi promosi dan display di titik penjualan memiliki pengaruh kuat terhadap pembelian impulsif. Dengan demikian, Promotion yang terintegrasi dengan data pelanggan memungkinkan penawaran yang lebih personal. Oleh sebab itu, Anda dapat meningkatkan efektivitas kampanye sekaligus memperkuat hubungan dengan konsumen.

5. Presentation (Presentasi)

Terakhir, presentation menitikberatkan tampilan visual produk di rak. Display yang rapi, informatif, dan menarik akan meningkatkan pengalaman belanja pelanggan. Karena itu, visual merchandising menjadi bagian penting dalam menciptakan kesan profesional dan terpercaya.

Selain itu, konsistensi branding dalam penataan produk membantu memperkuat identitas merek. Dengan presentasi optimal, produk tidak hanya terlihat menarik, tetapi lebih mudah dipilih oleh konsumen

3. Manfaat Strategis Merchandising bagi Ritel Enterprise

Manfaat Strategis Merchandising bagi Ritel Enterprise

Merchandising bukan sekadar taktik display, melainkan instrumen pertumbuhan bisnis yang terintegrasi dengan data, supply chain, dan strategi brand. Dalam praktik manajemen ritel modern, merchandising menjadi fondasi untuk menyelaraskan operasional toko dengan tujuan bisnis jangka panjang. Berikut manfaat-manfaat strategis merchandising berikan bagi ritel enterprise:

a. Peningkatan Penjualan dan Pendapatan

Merchandising yang tepat secara langsung mendorong peningkatan penjualan melalui penempatan produk strategis dan assortment yang relevan. Dengan analisis data yang akurat, Anda dapat memastikan produk dengan margin tinggi tampil lebih menarik. Sehingga, konversi pembelian meningkat secara signifikan.

Selain itu, promosi yang terintegrasi dengan strategi display mempercepat perputaran stok. Oleh sebab itu, enterprise dapat meningkatkan pendapatan tanpa harus menambah jumlah outlet atau lini produk baru.

b. Pengembangan Merek secara Bawah Sadar

Merchandising berperan dalam membangun persepsi merek secara bawah sadar melalui konsistensi visual dan pengalaman belanja. Penataan produk yang rapi dan selaras dengan identitas brand menciptakan kesan profesional serta terpercaya. Dengan demikian, pelanggan lebih mudah mengingat merek Anda.

Di sisi lain, pengalaman positif yang berulan memperkuat asosiasi emosional konsumen terhadap brand Anda. Karena itu, merchandising menjadi alat branding efektif meskipin tidak disadari secara langsung oleh pelanggan.

c. Peningkatan Arus Pengunjung

Strategi display yang menarik mampu meningkatkan traffic pengunjung kedalam toko. Penempatan produk unggulan di area depan atau zona high-traffic mendorong rasa penasaran dan eksplorasi lebih lanjut. Sehingga, durasi kunjungan pelanggan bertambah.

Kampanye promosi yang didukung visual merchandising yang kuat dapat menarik segmen pelanggan baru. Oleh karena itu, Anda tidak hanya mempertahankan pelanggan lama, tetapi memperluas basis pasar secara konsistensi.

d. Optimalisasi Ruang Ritel dan Perputaran Inventaris

Merchandising membantu enterprise memaksimalkan setiap meter ruang retail. Dengan analisis performa rak dan kategori produk, perusahaan dapat mengalokasikan space berdasarkan kontribusi penjualan. Dengan begitu, ruang tidak terbuang untuk produk yang kurang produktif.

Selain itu, optimalisasi assortment mempercepat perputaran inventaris dan mengurangi dead stock. Karena itu, strategi merchandising yang terintegrasi dengan pengelolaan inventaris bisnis ritel mampu menjaga arus kas tetap sehat serta menekan biaya penyimpanan secara signifikan.

e. Pencapaian Efisiensi Operasional dan Biaya

Merchandising berbasis sistem memungkinkan standarisasi display dan perencanaan stok di seluruh cabang. Dengan proses terstruktur, tim operasional Anda dapat bekerja lebih efisien dengan minim kesalahan.

Di samping itu, integrasi data penjualan dan supply chain membantu perencanaan pengadaan menjadi lebih tepat. Sehingga, enterprise Anda dapat mengurangi pemborosan sekaligus meningkatkan akurasi forecasting.

f. Penguatan Loyalitas Pelanggan dan Persepsi Brand

Merchandising yang relevan dengan kebutuhan lokal meningkatkan kepuasan pelanggan dengan brand Anda. Ketika konsumen menemukan produk yang mereka butuhkan, mereka cenderung kembali berbelanja di tempat yang sama. Dengan demikian, loyalitas pelanggan terbentuk secara alami.

Lebih jauh lagi, pengalaman belanja yang konsisten di berbagai cabang memperkuat persepsi brand Anda menjadi retail yang profesional dan terpercaya. Oleh karena itu, merchandising bukan hanya strategi penjual, tetapi fondasi dalam membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan.

4. Jenis-jenis Merchandising yang Umum Digunakan

Jenis-jenis Merchandising yang Umum Digunakan

Setiap jenis merchandising memiliki pendekatan, media, dan tujuan berbeda. Namun tetap berfokus pada peningkatan daya tarik serta penjualan produk, sehingga pemilihan jenis merchandising harus sesuai dengan model bisnis dan kanal distribusi yang digunakan. Berikut beberapa jenis merchandising yang paling banyak digunakan:

a. Visual Merchandising

Visual merchandising berfokus pada tampilan fisik produk di dalam toko. Strategi ini mencakup pengaturan tata letak, pencahayaan, pencampuran warna, hingga display estetis yang menarik perhatian pelanggan. Dengan penataan tepat, produk terlihat lebih premium dan menggugah minat beli.

Selain itu, visual merchandising membantu mengarahkan alur pergerakan pelanggan dalam toko. Sehingga, Anda dapat menempatkan produk unggulan di area strategi untuk meningkatkan peluang pembelian impulsif sekaligus memperkuat pengalaman belanja.

b. Digital Merchandising (E-Merchandising)

Digital merchandising atau e-merchandising diterapkan pada etalase digital seperti website dan platform e-commerce. Strategi ini mencakup tata letak halaman, urutan produk, rekomendasi personalisasi, serta optimasi kategori agar pengguna mudah menemukan produk yang relevan. Dengan demikian, pengalaman belanja online menjadi intuitif.

Di sisi lain, analisis data perilaku pengguna memungkinkan kurasi produk yang lebih tepat. Karena itu, Anda dapat menampilkan produk berdasarkan histori pencarian adan pembelian, sehingga meningkatkan konversi sekaligus nilai transaksi rata-rata.

c. Retail Merchandising

Retail merchandising berfokus pada manajemen stok dan presentasi produk di supermarket atau toko retail. Strategi ini mencakup pengelolaan inventory, perencanaan assortment, serta pengaturan planogram agar setiap rak bekerja secara optimal. Dengan pendekatan ini, produk yang paling laku mendapatkan porsi ruang yang sesuai.

Selain itu, retail merchandising membantu menjaga keseimbangan antara ketersediaan stok dan permintaan pasar. Sehingga, Anda menghindari overstock maupun out-of-stock yang berpotensi merugikan penjualan.

d. Merchandising sebagai Produk Promosi (Souvenir)

Merchandising juga hadir dalam bentuk produk promosi seperti tumbler, kaos, atau lightstick yang membawa identitas merek. Produk tidak hanya berfungsi sebagai barang fisik, tetapi juga sebagai alat pemasaran yang memperluas eksposur brand. Dengan demikian, merek Anda tetap terlihat bahkan di luar lingkungan toko.

Selain itu, penggunaan souvenir sebagai media promosi mampu menciptakan kedekatan emosional dengan pelanggan. Oleh sebab itu, strategi ini sering digunakan untuk memperkuat loyalitas sekaligus brand awareness secara berkelanjutan.

5. Komponen Utama Rencana Merchandising yang Sukses

Tanpa perencanaan yang matang, strategi merchandising berisiko berjalan dengan tidak konsisten di setiap cabang atau kanal penjualan. Anda perlu merancang komponen-komponen utama yang saling terintegrasi agar eksekusinya efektif. Berikut komponen-komponen utama yang perlu diperhatikan:

a. Pemilihan Produk dan Perencanaan Ragam (Assortment Planning)

Anda harus menentukan produk yang relevan dengan kebutuhan pasar lokal. Dengan menganalisa data penjualan, tren, dan preferensi pelanggan. Anda dapat menyusun ragam produk yang tepat di setiap lokasi. Sehingga risiko overstock dan produk tidak laku dapat diminimalkan.

Assortment planning juga membantu alokasikan ruang rak secara proporsional berdasarkan performa kategori. Oleh sebab itu, produk dengan kontribusi tinggi mendapatkan prioritas penempatan dan stok yang memadai.

b. Strategi Penetapan Harga

Strategi harga harus disesuaikan dengan positioning brand dan daya beli target pasar. Perusahaan perlu menganalisis margin, elastisitas permintaan, serta harga kompetitor sebelum menentukan kebijakan pricing. Dengan begitu, harga tidak hanya menarik tetapi juga menguntungkan Anda.

Penyesuaian harga secara dinamis memungkinkan bisnis merespons perubahan pasar dengan cepat. Karena itu, integrasi sistem data menjadi kunci agar keputusan harga lebih akurat dan terukur.

c. Manajemen Inventaris yang Terintegrasi

Manajemen inventaris yang terintegrasi memastikan ketersediaan stok tetap seimbang dengan permintaan. Dengan sistem yang terhubung antar cabang dan gudang, perusahaan dapat memantau pergerakan barang secara real time. Hasilnya, risiko kehabisan stok atau penumpukan dapat ditekan.

Integrasi inventaris mempermudah perencanaan pengadaan dan distribusi. Sehingga operasional menjadi lebih efisien dan biaya penyimpanan dapat dikendalikan.

d. Eksekusi Visual Merchandising yang Menarik

Eksekusi visual merchandising harus konsisten dan menarik perhatian pelanggan. Penataan produk, pencahayaan, dan elemen visual lainnya perlu dirancang untuk menciptakan pengalaman belanja yang nyaman. Dengan demikian, peluang pembelian impulsif dapat meningkat.

Selain itu, standar display yang seragam di seluruh cabang memperkuat identitas brand. Karena itu perusahaan perlu menyediakan panduan visual yang jelas agar implementasi di lapangan tetap konsisten.

e. Pemantauan Kinerja dan Optimalisasi Berkelanjutan

Anda harus secara rutin memantau performa merchandising melalui indikator seperti sell-through-rate, margin, dan perputaran stok. Dengan evaluasi yang berkelanjutan, bisnis dapat segera mengidentifikasi produk atau strategi yang kurang efektif. Oleh karena itu, proses optimalisasi menjadi bagian penting dari siklus merchandising.

Lebih lanjut, penggunaan dashboard analitik membantu manajemen mengambil keputusan berbasis data. Sehingga, rencana merchandising tidak berhenti pada eksekusi awal, melainkan terus berkembang mengikuti dinamika pasar.

6. Perbedaan Merchandising Digital vs Tradisional

Strategi merchandising kini terbagi menjadi pendekatan digital dan tradisional. Keduanya bertujuan meningkatkan penjualan, namun berbeda dalam media sampai metode pengukur. Anda perlu memahami perbedaannya utamanya yang berupa:

a. Media dan Kanal Distribusi

Merchandising tradisional berfokus pada toko fisik dengan pengaturan rak, tata letak, dan display visual. Strategi ini mengandalkan pengalaman langsung pelanggan di dalam toko untuk mendorong pembelian. Sehingga elemen seperti pencahayaan dan penempatan produk menjadi krusial.

Sebaliknya, merchandising digital diterapkan pada website, aplikasi, dan platform e-commerce. Produk ditampilkan melalui halaman kategori, banner, dan rekomendasi personalisasi. Oleh karena itu, tampilan antarmuka dan navigasi pengguna menjadi faktor penentu keberhasilan.

b. Interaksi dan Pengalaman Konsumen

Pada pendekatan tradisional, pelanggan berinteraksi langsung dengan produk secara fisik. Mereka dapat menyentuh, mencoba, dan membandingkan barang sebelum membeli. Karena itu, pengalaman sensorik memainkan peran penting dalam keputusan pembelian.

Di sisi lain, merchandising digital mengandalkan pengalaman visual dan kemudahan akses informasi. Ulasan pelanggan, foto produk, serta fitur pencarian cepat membantu konsumen membuat keputusan. Dengan demikian, kecepatan dan kenyamanan menjadi nilai tambah utama.

c. Pengukuran dan Analitik Kinerja

Pengukuran kinerja pada merchandising tradisional biasanya menggunakan data penjualan, traffic toko, dan observasi lapangan. Proses ini membutuhkan waktu lebih lama untuk idanalisis. Sehingga, evaluasi strategi dilakukan secara periodik.

Sebaliknya, merchandising digital memungkinkan pemantauan real time melalui dashboard analitik. Bisnis dapat melacak klik, conversion rate, hingga cart abandonment secara instan. Dengan begitu, optimalisasi strategi dapat dilakukan lebih cepat dan presisi.

d. Fleksibilitas dan Kecepatan Implementasi

Merchandising tradisional memerlukan waktu dan biaya lebih besar untuk mengubah tata letak atau display fisik. Setiap perubahan membutuhkan koordinasi tim operasional di lapangan. Akibatnya proses penyesuaian menjadi lebih lambat.

Sementara itu, merchandising digital memungkinkan perubahan tampilan atau promosi dalam hitungan menit. Dengan sistem yang terinterasi, bisnis dapat melakukan A/B testing untuk menetukan strategi paling efektif. Sehingga fleksibilitas menjadi keunggulan utama pendekatan digital

Berikut ringkasan terkait perbedaan antara merchandising tradisional, dengan merchandising digital.

 Aspek Merchandising Tradisional Merchandising Digital
 Media Toko fisik, rak, display langsung Website, aplikasi, e-commerce
Interaksi Pengalaman fisik dan sensorik Pengalaman visual dan navigasi digital
Pengukuran Data penjualan & observasi periodik Analitik real-time & dashboard data
Fleksibilitas Perubahan lebih lambat & butuh biaya fisik Perubahan cepat & dapat diuji (A/B testing)

7. Strategi Merchandising Lanjutan

Pada tahap ini, Anda tidak hanya fokus pada display atau stok, tetapi juga pengalaman pelanggan yang relevan dan adaptif. Anda dapat meningkatkan konversi, memperkuat brand engagement, dan memaksimalkan potensi setiap kanal penjual dengan strategi berikut:

a. Pengalaman Belanja yang Dipersonalisasi

Personalisasi memungkinkan bisnis menampilkan produk yang sesuai dengan preferensi masing-masing pelanggan. Dengan memanfaatkan data histori pembelian dan perilaku browsing, perusahaan dapat merekomendasikan produk secara lebih akurat. Hasilnya peluang konversi meningkat secara signifikan.

Selain itu, pengalaman yang relevan membuat pelanggan merasa dipahami dan dihargai. Oleh karena itu, personalisasi tidak hanya meningkatkan penjualan tetapi juga memperkuat loyalitas jangka panjang.

b. A/B Testing untuk Tampilan Produk

Selanjutnya, A/B testing membantu Anda menentukan tampilan produk yang paling efektif. Anda dapat menguji dua versi layout, banner, atau urutan produk untuk melihat mana yang menghasilkan konversi lebih tinggi. Sehingga keputusan yang Anda lakukan tidak berbasis asumsi.

Di sisi lain, pengujian rutin memungkinkan optimalisasi berkelanjutan. Karena itu, bisnis dapat terus menyempurnakan strategi merchandising berdasarkan data performa nyata.

c. Optimalisasi Perangkat Seluler

Optimalisasi perangkat seluler menjadi prioritas karena sebagian besar konsumen berbelanja melalui smartphone. Tampilan yang responsif, navigasi sederhana, dan waktu muat cepat sangat memengaruhi pengalaman pengguna. Oleh karena itu, desain mobile-first semakin relevan dalam merchandising digital.

Selain itu, integrasi fitur seperti pembayaran instan dan rekomendasi produk mempercepat proses pembelian. Dengan pengalaman yang lancar, tingkat cart abandonment dapat ditekan secara signifikan.

d. Social Commerce dan Influencer Marketing

Berikutnya, social commerce memungkinkan produk Anda dipasarkan langsung melalui platform media sosial. Anda dapat memanfaatkan fitur toko di media sosial untuk memperpendek jalur pembelian. Dengan begitu, pelanggan dapat bertransaksi tanpa harus perpindah platform.

Selain itu, kolaborasi dengan influencer membantu meningkatkan kredibilitas dan jangkauan brand. Oleh sebab itu, strategi ini efektif dalam membangun awareness sekaligus mendorong penjualan secara cepat.

e. Siklus Merchandising Musiman

Siklus merchandising membantu Anda menyesuaikan produk dengan tren dan periode tertentu, seperti hari raya atau akhir tahun. Dengan perencanaan yang matang, perusahaan dapat mengoptimalkan stok dan promosi sesuai momentum pasar. Sehingga, potensi penjualan musiman dapat dimaksimalkan.

Evaluasi performa setiap musim memberikan insight untuk perencanaan tahun berikutnya. Dengan pendekatan ini, strategi merchandising menjadi lebih adaptif dan selaras dengan dinamika permintaan pasar.

8. Tantangan dalam Implementasi Merchandising dan Cara Mengatasinya

Merchandising menawarkan banyak manfaat strategis, tapi implementasinya tidak selalu berjalan mulus. Perusahaan sering menghadapi hambatan yang berkaitan dengan perubahan perilaku konsumen, kompleksitas data, hingga kesiapan teknologi. Berikut merupakan beberapa tantangan yang seing dialami merchandise serta cara mengatasinya:

a. Adaptasi Tren Konsumen

Tren konsumen berubah dengan cepat seiring perkembangan gaya hidup dan teknologi. Jika bisnis Anda tidak responsif, produk yang ditawarkan bisa menjadi kurang relevan dala mwaktu singkat. Akibatnya, penjualan menurun dan stok berisiko menumpuk.

Untuk mengatasinya, Anda harus memantau data penjualan dan insight pasar secara berkala. Selain itu, evaluasi assortment dan promosi perlu dilakukan secara dinamis agar selalu selaras dengan kebutuhan pelanggan.

b. Manajemen Data

Volume data penjualan, inventaris, dan perilaku pelanggan yang besar sering kali sulit dikelola. Tanpa sistem yang terintegrasi, data menjadi terfragmentasi dan sulit dianalisis secara menyeluruh. Oleh sebab itu, keputusan merchandising menjadi kurang akurat.

Sebagai solusi, Anda perlu menggunakan sistem terpusat yang mampu mengolah data secara real time. Dengan dashboard analitik yang komprehensif, manajemen dapat mengambil keputusan berbasis data yang lebih cepat dan presisi.

c. Integrasi Teknologi

Integrasi teknologi menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi enterprise dengan banyak cabang. Perbedaan sistem antar departemen dapat menghambat sinkronisasi data dan proses operasional. Akibatnya, implementasi merchandising tidak berjalan seragam.

Untuk mengatasinya, Anda perlu mengadopsi platform yang terintegrasi antara inventaris, penjualan, dan analitik. Selain itu, pelatihan tim operasional sangat penting agar teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal dan konsisten di seluruh lini bisnis.

Software Retail Scaleocean adalah solusi strategis yang bisa mendukung keberhasilan implementasi strategi merchandising Anda, dengan manajemen stok terpusat, otomatisasi harga, serta menganalisa perilaku konsumen di dalam satu sistem terintegrasi. Software ini membantu Anda memastikan ketersediaan produk tetap optimal dan sesuai dengan permintaan pasar di setiap cabang.

Lebih lanjut, software retail ScaleOcean adalah solusi end-to-end dalam satu ekosistem. Software ini meminimalkan silo data Anda sehingga dapat menyelaraskan strategi merchandising dengan operasional, keuangan, dan supply chain secara lebih efisien dan terukur.

Software retail ScaleOcean juga menawarkan harga berbasis kebutuhan bisnis Anda, sehingga skema pricing disesuaikan dengan scope dan kompleksitas implementasi software dengan perusahaan. Jika Anda ingin melihat bagaimana software retail ini membantu dengan merchandising usaha retail Anda, segera konsultasi dengan tim kami dan melihat bagaimana software ini membantu usaha Anda melalui demo gratis.

Kesimpulan

Merchandising adalah praktik dalam ritel untuk mempromosikan, menampilkan, dan menjual produk serta memaksimalkan penjualannya. Melalui perencanaan yang terstruktur, Anda dapat memastikan setiap produk dengan kebutuhan pasar lokal. Anda tidak lagi mengandalkan intuisi, tetapi analisis yang dapat mendorong peningkatan penjualan, efisiensi operasional dan optimalisasi ruang ritel.

Pada level enterprise, merchandising menjadi fondasi pertumbuhan yang terhubung dengan supply chain, teknologi, dan strategi brand. Solusi berbasis teknologi dan evaluasi berkelanjutan mampu menjaga konsistensi performa. Merchandising yang dijalankan secara strategis dan adaptif akan memperkuat loyalitas pelanggan sekaligus memaksimalkan profitabilitas jangka panjang.

Software Retail ScaleOcean membantu proses merchandising Anda sehingga berjalan dengan lancar, efisien, dan memaksimalkan keuntungan bisnis retail Anda. Untuk melihat cara kerja modul dan fitur dalam proses merchandising, segera jadwalkan demo gratis untuk konsultasi langsung dengan tim kami.

FAQ terkait Merchandising:

1. Apa saja 7 R dalam merchandising?

7 R dalam merchandising berupa Relationship, Revenue, Retention/Rewards, Retail, Redemption, Recovery, dan Regulatory.

2. Apa tujuan dari merchandising?

Secara umum, merchandising mempromosikan produk dan meningkatkan penjualan di ruang fisik sekaligus di platform digital.

3. Apa saja pilar-pilar merchandising?

Pilar merchandising berupa Right Product, Right Time, Right Place, Right Price, dan Right Quantity.

4. Apa teknik visual merchandising yang efektif untuk toko fisik?

Teknik visual merchandising yang efektif adalah fokus pada titik pandang, teknik pencahayaan, cross-merchandising, teori warna dan visual hierarchy, pemanfaatan panca indra, signage dan tata letak.

5. Apa tugas seorang merchandiser?

Tugas seorang merchandiser adalah mengurus penataan dan visual produk, mengelola inventaris, mengurus aktivitas strategis dan promosi, membuat pelaporan dan melakukan riset.

Jadwalkan Demo Gratis

Error message
Error message
Error message
Error message
Error message
Error message

Rekomendasi Artikel Terkait

Temukan Artikel Serupa untuk Solusi Bisnis Lebih Lengkap