Dalam industri logistik, perusahaan sering menghadapi tantangan besar seperti biaya distribusi yang tinggi, rute yang tidak efisien, dan kesulitan menjangkau daerah terpencil. Model hub and spoke menawarkan solusi dengan memusatkan alur distribusi, menyederhanakan rute, dan menekan biaya.
Namun, di Indonesia dengan kondisi geografis yang luas dan infrastruktur terbatas, penerapan model ini tidaklah mudah. Tanpa sistem yang tepat, masalah-masalah tersebut bisa memperlambat pengiriman dan meningkatkan biaya operasional. Artikel ini akan mengupas cara kerja, kelebihan, dan tantangan model hub and spoke dalam konteks Indonesia.
- Model hub and spoke adalah sistem distribusi yang memusatkan lalu lintas barang melalui hub pusat untuk mencapai efisiensi dan skala ekonomi.
- Keunggulan utama model hub and spoke meliputi penghematan biaya, rute yang lebih sederhana, kontrol terpusat, serta fleksibilitas dalam memperluas jaringan distribusi.
- Tantangan model hub and spoke meliputi risiko titik kegagalan tunggal di hub dan potensi waktu transit yang lebih lama
- Software logistics ScaleOcean memungkinkan Anda mengoptimalkan manajemen logistik hub and spoke dengan visibilitas dan kontrol penuh menggunakan platform canggih kami.
1. Apa Itu Model Logistik Hub and Spoke?
Model hub and spoke adalah sistem distribusi terpusat di mana lokasi utama atau hub berfungsi sebagai titik konsolidasi dan distribusi dalam logistik. Lokasi-lokasi yang lebih kecil, disebut spoke, terhubung ke hub untuk proses transportasi dan pendistribusian barang. Dengan pendekatan ini, barang disortir dan dikirim ke tujuan akhir atau hub lain melalui titik pusat.
Mirip dengan roda sepeda, hub adalah pusatnya dan spoke adalah cabang-cabang yang terhubung darinya. Sistem ini memungkinkan transportasi yang lebih efisien dengan menggabungkan kargo di titik pusat, sebelum akhirnya didistribusikan ke lokasi tujuan. Model ini mengoptimalkan penggunaan aset transportasi dan mengurangi rute yang tidak efisien.
2. Bagaimana Cara Kerja Hub and Spoke dalam Alur Distribusi Barang?
Sistem Hub and Spoke mengumpulkan barang dari berbagai lokasi (spoke) di pusat distribusi utama (hub). Barang-barang kemudian disortir dan dikelompokkan untuk mengonsolidasikan pengiriman, yang menghemat waktu dan sumber daya. Konsolidasi ini memungkinkan pengiriman dalam jumlah besar dengan biaya yang lebih rendah.
Setelah konsolidasi, barang-barang didistribusikan kembali ke tujuan akhir atau hub lain. Pengiriman ini dilakukan menggunakan moda transportasi yang lebih efisien, seperti truk atau kontainer besar, yang dapat menampung lebih banyak barang untuk mengurangi biaya per unit.
Proses ini menyederhanakan manajemen logistik dengan memungkinkan perusahaan mengelola distribusi secara terpusat. Dengan cara ini, perusahaan dapat mengoptimalkan penggunaan aset transportasi, mengurangi biaya operasional, dan memastikan pengiriman yang lebih terorganisir dan efisien.
3. Perbandingan Model Hub and Spoke vs Point-to-Point
Penting untuk memahami perbedaan mendasar antara model hub and spoke dengan alternatif utamanya, yaitu model point-to-point. Setiap model memiliki karakteristik unik yang membuatnya cocok untuk skenario bisnis yang berbeda. Pemilihan model yang tepat akan berdampak langsung pada biaya, kecepatan, dan kompleksitas operasional rantai pasok Anda
Berikut adalah perbandingan antara kedua model ini berdasarkan beberapa faktor utama yang dapat memengaruhi keputusan Anda:
a. Model Hub and Spoke: Konsolidasi Kargo di Pusat Distribusi
Model hub and spoke unggul dalam efisiensi biaya, terutama untuk perusahaan dengan volume kargo besar dan banyak titik asal. Dengan memusatkan penyortiran di hub, perusahaan dapat mengoptimalkan kapasitas kendaraan dan mengurangi perjalanan. Konsep ini inti dari freight consolidation, menggabungkan pengiriman kecil menjadi satu besar.
Keunggulannya adalah pencapaian skala ekonomi yang sulit dicapai model lain. Pengiriman besar dari hub ke spoke memungkinkan tarif angkutan lebih rendah dan penggunaan aset yang lebih efisien. Meski transit lebih lama, penghematan biaya sering menjadi faktor penentu.
b. Model Point-to-Point: Koneksi Langsung Antar Titik Tanpa Hub
Model point-to-point, atau jala (mesh network), menawarkan pengiriman langsung dari asal ke tujuan tanpa melalui hub. Ini memberikan kecepatan pengiriman yang superior, ideal untuk pengiriman mendesak atau kargo bernilai tinggi.
Namun, model ini menjadi tidak efisien ketika titik asal dan tujuan meningkat. Penambahan lokasi baru menciptakan banyak rute baru yang sulit dikelola, meningkatkan biaya operasional dan mengurangi efisiensi penggunaan armada.
4. Keuntungan dan Manfaat Utama Model Hub and Spoke
Implementasi model hub and spoke yang efektif dapat memberikan serangkaian keuntungan strategis yang signifikan bagi operasional logistik perusahaan. Manfaat ini tidak hanya terbatas pada penghematan biaya, tetapi juga mencakup peningkatan kontrol, produktivitas, dan fleksibilitas jaringan.
Memahami keunggulan ini membantu para pengambil keputusan berikut keuntungan dan manfaat utamanya:
a. Peningkatan Efisiensi Biaya dan Skala Ekonomi
Keuntungan utama model hub and spoke adalah pengurangan biaya operasional. Dengan mengkonsolidasikan pengiriman di hub, perusahaan dapat menggunakan moda transportasi besar dan efisien, menghasilkan biaya per unit lebih rendah dibandingkan pengiriman terpisah.
Skala ekonomi tercapai melalui standardisasi proses di hub. Penyortiran dan pemuatan terpusat memungkinkan otomatisasi dan spesialisasi tenaga kerja, yang meningkatkan efisiensi dan margin keuntungan.
b. Rute yang Lebih Sederhana dan Kontrol Operasional Terpusat
Mengelola ratusan atau ribuan rute dalam model point-to-point bisa sangat rumit. Model hub and spoke menyederhanakan hal ini dengan mengurangi jumlah rute utama menjadi koneksi antara hub dan spoke, membuat perencanaan dan penjadwalan rute lebih mudah dikelola.
Kontrol terpusat di hub memberikan visibilitas yang lebih baik terhadap alur barang. Manajer logistik dapat memantau inventaris, melacak pengiriman, dan mengalokasikan sumber daya lebih efektif, yang memungkinkan respons cepat terhadap gangguan dan pengambilan keputusan yang lebih tepat.
c. Peningkatan Produktivitas Tenaga Kerja dan Aset Transportasi
Model ini mendorong pemanfaatan aset yang lebih tinggi karena truk atau kontainer berangkat dari hub dengan kapasitas penuh, menghindari pemborosan ruang dan bahan bakar. Konsolidasi memungkinkan pengiriman dengan perbedaan FTL dan LTL menjadi lebih efisien, seperti FTL (Full Truckload).
Produktivitas tenaga kerja meningkat dengan spesialisasi tugas di hub. Pekerja terlatih dalam proses tertentu meningkatkan kecepatan dan akurasi, sementara pengemudi fokus pada rute yang telah ditentukan untuk penjemputan (first-mile) dan pengantaran (last-mile).
d. Fleksibilitas dalam Mengakses Jaringan yang Lebih Luas
Keunggulan utama model hub and spoke adalah kemudahan dalam memperluas jangkauan jaringan. Dikutip dari transportgeography, untuk melayani area baru, perusahaan cukup menambah satu ‘spoke’ yang terhubung ke hub yang ada. Ini jauh lebih efisien dan hemat biaya dibandingkan membangun koneksi point-to-point baru.
Fleksibilitas ini memungkinkan perusahaan beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan pasar atau permintaan pelanggan. Jika volume di satu area menurun, rute ‘spoke’ dapat disesuaikan tanpa mengganggu jaringan lainnya, memberikan keunggulan kompetitif yang signifikan.
Baca juga: 11 Software Transportation Management System Terbaik
5. Kekurangan dan Tantangan dalam Implementasi Hub and Spoke
Meskipun menawarkan banyak keuntungan, model hub and spoke tidak lepas dari tantangan dan potensi kekurangan. Penting bagi para pemimpin bisnis untuk memahami risiko ini secara menyeluruh sebelum mengadopsi model ini. Berikut cara evaluasi yang cermat terhadap potensi kelemahan:
a. Risiko Titik Kegagalan Tunggal (Single Point of Failure) pada Fasilitas Hub
Ketergantungan pada fasilitas hub pusat menciptakan risiko signifikan. Jika hub utama mengalami gangguan, baik karena bencana alam, masalah teknis, atau insiden lainnya, seluruh jaringan distribusi dapat terhenti. Risiko ini dikenal sebagai titik kegagalan tunggal atau single point of failure.
Dampak dari kegagalan hub dapat menyebar dengan cepat ke seluruh rantai pasok, menyebabkan penundaan dan kerugian finansial. Untuk itu, perusahaan harus memiliki rencana kontingensi yang solid, seperti hub cadangan atau prosedur pengalihan rute darurat untuk meminimalkan dampak gangguan.
b. Potensi Waktu Tempuh yang Lebih Lama Dibandingkan Rute Langsung
Salah satu kompromi utama dalam model hub and spoke adalah kecepatan. Barang harus melewati hub untuk disortir dan dikonsolidasikan, dengan proses transhipment yang menambah waktu transit. Hal ini mengakibatkan pengiriman menjadi lebih lambat dibandingkan model point-to-point.
Bagi pengiriman yang sangat sensitif terhadap waktu, penundaan ini bisa menjadi masalah serius. Meskipun efisien dari segi biaya, perusahaan harus mempertimbangkan apakah penghematan biaya sebanding dengan waktu pengiriman yang lebih lama. Dalam beberapa kasus, model hibrida dengan rute langsung untuk pengiriman premium bisa jadi solusi lebih baik.
c. Beban Kerja dan Kebutuhan Kapasitas yang Sangat Tinggi di Fasilitas Hub
Fasilitas hub merupakan inti dari seluruh operasi dan harus mampu menangani volume kargo yang besar secara efisien. Ini memerlukan investasi besar dalam infrastruktur, teknologi, dan tenaga kerja. Hub perlu dilengkapi dengan sistem penyortiran otomatis, ruang gudang yang luas, serta staf terlatih untuk mengelola arus barang yang konstan.
Beban kerja di hub seringkali fluktuatif, dengan puncak aktivitas pada waktu-waktu tertentu. Mengelola kapasitas untuk menangani puncak ini tanpa menciptakan kemacetan (bottleneck) menjadi tantangan operasional. Jika kapasitas hub tidak mencukupi, penundaan dapat merambat ke seluruh jaringan distribusi.
6. Penerapan Hub and Spoke dalam Konteks Logistik Indonesia
Kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan dengan ribuan pulau tersebar menghadirkan tantangan unik dalam distribusi logistik. Model hub and spoke menjadi sangat relevan dan banyak diterapkan untuk mengatasi kompleksitas ini.
Berikut strategi yang memungkinkan konektivitas yang efisien antara pulau-pulau besar dan kecil di seluruh nusantara:
a. Jaringan Distribusi Perusahaan Kargo dan Ekspedisi Nasional
Perusahaan kurir besar di Indonesia, seperti JNE, TIKI, dan SiCepat, sangat bergantung pada model hub and spoke. Mereka mengoperasikan hub-hub besar di kota-kota strategis seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan untuk memproses jutaan paket setiap hari. Paket-paket dari seluruh negeri dikumpulkan di hub ini sebelum didistribusikan kembali ke kota tujuan.
Untuk mengelola operasi yang kompleks ini, software logistics ScaleOcean dapat membantu perusahaan mengoptimalkan proses distribusi, memantau pengiriman secara real-time, dan merampingkan pengelolaan inventaris. Dengan teknologi ini, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi operasional dan menjaga biaya tetap kompetitif.
Struktur ini memungkinkan mereka menawarkan layanan dengan jangkauan nasional yang luas dan biaya yang tetap kompetitif. Tanpa sistem hub, biaya untuk menghubungkan setiap kota di Indonesia secara langsung akan sangat tinggi. Model ini menjadi tulang punggung operasi mereka, terutama dalam menangani volume e-commerce yang terus meningkat.
b. Rute Maskapai Penerbangan dan Kargo Udara di Indonesia
Industri penerbangan adalah contoh penerapan model hub and spoke. Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) di Jakarta dan Juanda (SUB) di Surabaya berfungsi sebagai hub utama maskapai nasional. Penerbangan dari kota kecil (spoke) transit di hub sebelum menuju destinasi akhir.
Model serupa berlaku untuk kargo udara, di mana barang dikonsolidasikan di bandara hub dan diangkut menggunakan pesawat kargo besar. Ini memungkinkan maskapai mengoptimalkan kapasitas kargo dan melayani lebih banyak rute dengan efisien.
c. Konsep Tol Laut sebagai Jaringan Hub and Spoke Maritim Nasional
Program Tol Laut adalah implementasi model hub and spoke untuk logistik maritim di Indonesia. Pelabuhan utama seperti Tanjung Priok (Jakarta) dan Tanjung Perak (Surabaya) berfungsi sebagai hub internasional, sementara kapal feeder mendistribusikan barang ke pelabuhan sekunder.
Tujuan program ini adalah mengurangi disparitas harga antara wilayah barat dan timur Indonesia dengan menciptakan sistem distribusi laut yang efisien. Dengan memusatkan arus kargo di pelabuhan hub, pemerintah berharap dapat menurunkan biaya logistik dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.
7. Kapan Model Hub and Spoke Ideal untuk Rantai Pasok Anda?
Model Hub and Spoke ideal untuk bisnis dengan volume pengiriman tinggi dalam area geografis tertentu, seperti e-commerce, perusahaan 3PL, atau bisnis pengiriman hiperlokal. Model ini juga cocok bagi perusahaan yang ingin mengkonsolidasikan operasi logistik dan mengelola inventaris secara terpusat, seperti jaringan kantor cabang atau pusat distribusi.
Selain itu, model ini efektif untuk menangani fluktuasi permintaan dan mengoptimalkan biaya pengiriman dengan mengurangi rute yang tidak terisi penuh. Dengan mengurangi kompleksitas dan meningkatkan efisiensi, model hub and spoke membantu memastikan kelancaran dalam rantai pasok yang lebih besar dan kompleks.
8. Kesimpulan
Model hub and spoke efektif meningkatkan efisiensi distribusi di Indonesia yang memiliki kondisi geografis kompleks. Perusahaan dapat mencapai skala ekonomi, menyederhanakan rute, dan memaksimalkan aset dengan memusatkan distribusi di hub.
Meski menawarkan banyak keunggulan, model ini tetap menghadapi risiko seperti titik kegagalan tunggal dan waktu transit lebih lama. Oleh karena itu, perusahaan membutuhkan solusi yang mampu memberi visibilitas penuh dan kendali lebih baik atas rantai pasok.
Teknologi menjadi kunci untuk mengatasi tantangan ini. Dengan software logistik ScaleOcean, perusahaan dapat meningkatkan visibilitas dan menekan risiko. Coba demo gratis untuk menemukan solusi yang sesuai dengan kebutuhan bisnis Anda.
FAQ:
Apa itu Hub and Spoke model?
Sistem hub & spoke adalah model di mana pelabuhan utama (hub) menghubungkan pelabuhan kecil (spoke) untuk konsolidasi, transfer, dan distribusi kargo secara efisien.
Apa contoh maskapai hub and spoke?
Contoh sistem hub-and-spoke adalah Delta Airlines, dengan hub di Bandara Internasional Hartsfield Atlanta.
Bagaimana cara kerja sistem hub and spoke?
Sistem hub & spoke menghubungkan pelabuhan utama (hub) dengan pelabuhan kecil (spoke) untuk konsolidasi, transfer, dan distribusi kargo secara efisien.




