Prediksi arus kas yang tepat sangat berperan bagi keberlangsungan pertumbuhan bisnis perusahaan. Namun, rekonsiliasi dan penyusunan laporan yang manual dapat menghambat hasil prediksinya, sehingga laporan account receivable aging juga kurang akurat untuk memantau kesehatan piutang bisnis.
Ketidakpastian jadwal penerimaan kas sering kali memaksa manajemen mengambil pinjaman jangka pendek demi menutupi biaya operasional yang mendesak. Selain itu, data yang tersaji juga tidak real-time, sehingga pengambilan keputusan tidak berdasar pada informasi terbaru.
Oleh sebab itu, perkembangan sistem otomatis menjadi jawaban untuk mengatasi masalah tersebut dengan memberikan visibilitas penuh terhadap seluruh saldo piutang. Artikel ini akan membahas metode account receivable aging, cara menghitung, cara membuat, contoh perhitungan, hingga kegunaan AR aging.
- Account receivable aging adalah metode laporan yang mengklasifikasikan piutang berdasarkan durasi tunggakan untuk memantau kelancaran penagihan.
- Cara menghitung AR aging terdiri dari mengumpulkan data invoice, menentukan periode umur piutang, membuat AR aging report, menentukan metode, dan menghitung rumus AR aging.
- Kegunaan account receivable aging untuk mendukung praktik penagihan, mengevaluasi risiko kredit, dan mengestimasi piutang tak tertagih.
- Software Akuntansi ScaleOcean menawarkan perhitungan otomatis dan visibilitas real-time untuk memastikan account receivable aging selalu akurat.
Apa itu Account Receivable Aging?
Account receivable aging adalah laporan finansial yang mengelompokkan piutang pelanggan berdasarkan usia tunggakannya atau jangka waktu belum dibayar. AR aging berfungsi untuk mengawasi tagihan yang hampir jatuh tempo, memastikan stabilitas arus kas bisnis, dan mendeteksi potensi piutang tak tertagih.
Komponen utama dari aging report meliputi daftar pelanggan, jumlah piutang, dan kelompok umur. Di samping itu, account receivable aging bermanfaat untuk manajemen arus kas perusahaan, evaluasi kebijakan yang diberikan kepada pelanggan, dan analisi potensi risiko.
Dalam AR aging terdapat beberapa kategori umur, antara lain 0-30 hari (belum jatuh tempo atau baru jatuh tempo), 31-60 hari (mulai menunggak), 61-90 hari (penunggakan serius), dan >90 hari (risiko tinggi piutang macet). Oleh karena itu, perusaahaan perlu memantau laporan secara rutin untuk menekan risiko piutang macet dan memastikan akurasi jurnal penerimaan kas.
Baca juga: Buku Besar Pembantu: Pengertian, Manfaat, serta Jenisnya
Mengapa Account Receivable Aging Report Penting bagi Bisnis?
Account receivable aging report penting untuk manajemen arus kas, identifikasi risiko kredit, estimasi piutang tak tertagih, dan audit keuangan perusahaan. Laporan ini juga penting bagi kelangsungan dan pertumbuhan bisnis di masa depan, serta memastikan manajemen piutang yang terstruktur dan baik.
Berikut adalah alasan utama account receivable aging report sangat penting bagi bisnis:
- Manajemen Arus Kas: Membantu perusahaan memproyeksikan saldo kas masuk secara akurat untuk memenuhi kebutuhan operasional harian dan kewajiban pembayaran.
- Indentifikasi Risiko Kredit: Mendeteksi pelanggan yang sering terlambat membayar, sehingga perusahaan bisa mengevaluasi ulang kebijakan kredit dan meminimalkan potensi kerugian finansial.
- Estimasi Piutang Tak Tertagih: Mempermudah perhitungan penyisihan piutang yang mungkin tidak tertagih berdasarkan kategori usia piutang untuk menjaga akurasi laporan posisi keuangan.
- Audit Keuangan: Menyediakan bukti valid bagi auditor mengennai keaslian piutang, sehingga proses verifikasi data keuangan tahunan lebih cepat dan transparan.
Berdasarkan data survey dari Atradius Payment Practices Barometer, diketahui bahwa sebesar 49% dari total nilai invoice B2B di Indonesia dibayar melebihi tanggal jatuh tempo. Tingginya angka keterlambatan ini menegaskan pentingnya pemanfaatan laporan account receivable aging secara rutin agar perusahaan dapat mendeteksi piutang bermasalah
Apa Saja Isi Account Receivable Aging Report?
Isi account receivable aging report mencakup daftar nama pelanggan, detail faktur, kategori umur piutang, total saldo terhutang, dan persentase total piutang setiap kategori umur. Komponen pertama adalah daftar nama pelanggan yang diurutkan sesuai abjad atau berdasarkan total saldo piutang terbesar.
Selanjutnya, laporan akan menampilkan rincian faktur yang belum lunas untuk setiap pelanggan, namun beberapa laporan hanya menampilkan total saldo terutang per pelanggan. Untuk laporan lebih terperinci, informasi seperti nomor faktur, tanggal faktur, dan jumlah total faktur akan dicantumkan.
Di samping itu, kolom kategori umur piutang (aging buckets) juga harus ada di dalam laporan umur piutang. Kategori ini dapat dituliskan dalam laporan seperti “Belum Jatuh Tempo”, “1-30 Hari”, “31-60 Hari”, “61-90 Hari”, dan “90+ Hari”, yang menunjukkan di mana saldo terutang pelanggan berada.
Di bagian bawah laporan terdapat total tiap kategori umur untuk gambaran menyeluruh distribusi piutang, serta persentase total piutang per kategori untuk digunakan sebagai metrik analisis tren. Hal ini akan membantu manajemen memantau apakah proporsi piutang lama meningkat atau justru menurun.
Kapan AR Aging Report Digunakan?
AR aging report dibuat dan digunakan oleh tim keuangan pada setiap bulan secara rutin dan konsisten. Tinjauan bulanan ini dilakukan untuk mendeteksi potensi atas masalah penagihan sejak dini, tren pembayaran pelanggan yang memburuk, dan dasar perencanaan kinerja arus kas keuangan perusahaan.
Selanjutnya, manajemen menggunakan laporan ini dalam rapat strategis untuk menyesuaikan kebijakan kredit dan peramalan kas. CEO memanfaatkan data konkret tersebut untuk manajemen piutang dan mengalokasikan sumber daya secara efektif sehingga keputusan bisnis tetap selaras dengan kondisi keuangan terkini.
Selain itu, auditor eksternal menganalisis laporan ini untuk memverifikasi keaslian saldo piutang pada neraca perusahaan. Mereka juga menilai kelayakan nilai penyisihan piutang tak tertagih guna memastikan laporan keuangan menyajikan gambaran bisnis yang benar-benar akurat serta transparan.
Cara Menghitung Account Receivable (AR) Aging
Cara menghitung account receivable (AR) aging terdiri dari mengumpulkan data invoice, menentukan periode umur piutang, membuat AR aging report, menentukan metode account receivable aging, dan menghitung dengan rumus account receivable aging. Berikut adalah cara menghitung account receivable aging:
1. Kumpulkan Data Invoice
Langkah pertama adalah mengumpulkan semua data faktur penjualan kredit yang masih beredar atau belum lunas. Data ini harus mencakup informasi esensial seperti nama pelanggan, nomor faktur, tanggal penerbitan faktur, dan jumlah tagihan.
2. Tentukan Periode Umur Piutang
Selanjutnya, tetapkan kategori atau aging buckets untuk mengklasifikasikan piutang berdasarkan durasi tunggakannya. Kategori standar yang umum digunakan adalah saat ini (belum jatuh tempo), 1-30 hari, 31-60 hari, 61-90 hari, dan di atas 90 hari.
3. Buat AR Aging Report
Buatlah sebuah tabel atau spreadsheet dengan nama pelanggan di baris dan kategori umur di kolom. Untuk setiap faktur yang belum lunas, hitung umurnya dengan mengurangi tanggal faktur dari tanggal laporan, lalu masukkan jumlah faktur tersebut ke dalam kolom kategori yang sesuai.
4. Tentukan Metode Accounts Receivable Aging
Pelaku bisnis seirng kali menggunakan metode ini untuk tujuan akuntansi dalam mengestimasi piutang tak tertagih. Perusahaan akan menerapkan persentase estimasi tak tertagih yang berbeda untuk setiap kategori umur, di mana persentase ini meningkat seiring bertambahnya umur piutang.
5. Hitung dengan Rumus Accounts Receivable Aging
Rumus dasar account receivable aging adalah menjumlahkan semua saldo faktur dalam setiap kategori umur untuk mendapatkan total piutang per kategori. Total dari semua kategori ini harus sama dengan total saldo piutang usaha perusahaan yang tercatat di buku besar.
Cara Membuat AR Aging Report
Langkah pembuatan AR aging report terdiri dari pengumpulan data, penentuan kategori umur piutang, urutan data berdasarkan kategori umur, segmentasi data, tambahan catatan, perhitungan metrik utama, visualisasi data, serta tinjau dan evaluasi. Berikut adalah langkah-langkah membuat AR aging report:
1. Kumpulkan Data
Tim akan mengumpulkan semua data piutang yang terbuka dari sistem akuntansi perusahaan. Pastikan data ini mencakup semua detail yang relevan, termasuk nama pelanggan, nomor identifikasi pelanggan, nomor faktur, tanggal faktur, dan jumlah terutang.
2. Tentukan Kategori Umur Piutang (Aging Buckets)
Pilih kategori umur yang paling sesuai dengan siklus bisnis dan industri perusahaan. Berikut adalah kategori umur piutang yang umum digunakan:
- Current: Meliputi seluruh tagihan pelanggan yang belum melewati tanggal jatuh tempo pembayaran, sehingga masih diganggap sebagai piutang lancar.
- 1-30 Hari: Mencakup piutang yang telah melewati jatuh tempo selama satu bulan pertama dan memerlukan pengingat pembayaran awal kepada pihak pelanggan.
- 31-60 Hari: Menunjukkan keterlambatan yang mulai signifikan, sehingga tim penagihan harus melakukan komunikasi lebih intensif untuk menghindari risiko macet.
- >60 Hari/90+ Hari: Berisikan tunggakan lama yang berisiko tinggi menjadi piutang tak tertagih dan membutuhkan tindakan hukum atau penghapusan dalam laporan keuangan.
3. Urutkan Data berdasarkan Kategori Umur
Dalam proses menentukan kategori umur, tim keuangan dapat mengetahuinya dengan menghitung selisih hari antara tanggal laporan dan tanggal faktur. Kemudian, tempatkan jumlah setiap faktur ke dalam kolom kategori umur yang benar di sebelah nama pelanggan yang bersangkutan.
4. Segmentasi Data berdasarkan Profil Risiko
Tim dapat mempertimbangkan untuk membuat segmentasi pelanggan berdasarkan profil risiko atau riwayat pembayaran. Selanjutnya, Anda dapat menambahkan kolom tambahan untuk menandai pelanggan sebagai “risiko rendah”, “risiko sedang”, atau “risiko tinggi” untuk memprioritaskan tagihan.
5. Tambahkan Catatan dan Langkah Selanjutnya
Selain itu, perusahaan dapat membuat laporan yang lebih fungsional dengan menambahkan kolom untuk catatan atau status tindakan. Di kolom ini, tim penagihan dapat mencatat tindakan yang telah diambil seperti telah mengirimkan email pengingat pada tanggal tertentu dan merencanakan langkah selanjutnya.
6. Hitung Metrik Utama
Selain total per kategori, perlu juga menghitung metrik lainnya seperti persentase total piutang untuk setiap kategori. Anda juga bisa menghitung Days Sales Outstanding (DSO) untuk mengukur efektivitas penagihan secara keseluruhan.
7. Visualisasikan Data
Ubah data tabel menjadi format visual seperti diagram batang atau diagram lingkaran. Visualisasi ini membantu para pembuat keputusan untuk dengan cepat memahami distribusi umur piutang dan mengidentifikasi area masalah tanpa harus membaca setiap baris data.
8. Tinjau dan Validasi
Sebelum mendistribusikan laporan, Anda perlu melakukan peninjauan akhir untuk memastikan akurasi. Peninjauan ini bertujuan untuk memastikan total saldo di laporan umur piutang sesuai dengan saldo akun piutang di buku besar, sehingga integritas laporan bisnis lebih terjamin.
Contoh Perhitungan dan Laporan Account Receivable Aging
Untuk memahami konsep ini dengan lebih baik, mari kita lihat contoh sederhana. Misalkan PT Sinar Abadi memiliki dua pelanggan dengan faktur yang belum lunas per tanggal 31 Mei 2025. Untuk PT Tekno Utama terdiri dari tiga faktur, yaitu INV-041/05/25 sebesar Rp9.000.000, INV-032/04/25 sebesar Rp 6.200.000, dan INV-020/03/25 sebesar Rp4.000.000.
Sementara, PT Global Mandiri juga terdiri dari tiga faktur antara lain INV-050/05/25 sebesar Rp13.500.000, INV-035/04/25 sebesar Rp7.200.000, dan INV-018/03/25 sebesar Rp5.300.000. Langkah pertama adalah menentukan umur piutang berdasarkan tanggal jatuh tempo 31 Mei 2025.
Kemudian, setiap saldo faktur dikelompokkan ke dalam kategori umur piutang yang sesuai. PT Tekno Utama memiliki Rp9.100.000 pada kategori belum jatuh tempo, Rp6.200.000 pada 1–30 hari, dan Rp4.000.000 pada 31–60 hari, sedangkan PT Global Mandiri memiliki Rp13.500.000 pada belum jatuh tempo, Rp7.200.000 pada 1–30 hari, dan Rp5.300.000 pada 31–60 hari.
Persentase umur piutang yang diberlakukan perusahaan sebesar 1% untuk piutang belum jatuh tempo, 3% untuk piutang dengan umur 1-30 hari, dan 5% untuk piutang dengan umur 31-60 hari. Perusahaan menghitung estimasi kerugian berdasarkan persentase tak tertagih, yaitu dengan mengalikan nominal piutang dengan persentase tak tertagih sesuai umur piutangnya.
Berikut adalah contoh tabel account receivable aging report untuk PT Sinar Abadi per 31 Mei 2025:
Bagaimana Manajemen Menggunakan Account Receivable Aging?
Manajemen menggunakan account receivable aging untuk praktik penagihan, risiko kredit, dan penyisihan piutang tak tertagih. Berikut adalah beberapa cara utama manajemen memanfaatkan laporan ini:
1. Praktik Penagihan (Collection Practices)
Manajemen dan tim penagihan menggunakan laporan ini untuk memprioritaskan upaya mereka. Mereka dapat segera mengidentifikasi akun-akun yang paling terlambat dan memiliki saldo terbesar, lalu mengalokasikan sumber daya penagihan secara lebih efektif ke akun-akun tersebut.
2. Risiko Kredit (Credit Risk)
Laporan ini berfungsi sebagai alat ukur untuk mengevaluasi efektivitas kebijakan kredit yang ada. Jika terjadi peningkatan signifikan pada piutang di kategori umur yang lebih tua, manajemen dapat memutuskan untuk meninjau ulang dan memperketat syarat kredit bagi pelanggannya.
3. Penyisihan Piutang Tak Tertagih (Allowance for Bad Debts)
Secara akuntansi, perusahaan wajib mengestimasi piutang tak tertagih berdasarkan laporan umur piutang. Persentase tertentu diterapkan pada tiap kategori untuk menghitung cadangan kerugian yang dicatat dalam jurnal penghapusan piutang. Hal ini menjamin laporan keuangan tetap akurat dan konservatif.
Masalah yang Terungkap dari Laporan Umur Piutang dan Cara Mengatasinya
Masalah yang terungkap dari laporan umur piutang seperti konsentrasi piutang jatuh tempo yang tinggi, penagihan lambat dan kenaikan Days Sales Outstanding, pembayaran terlambat, faktur yang disengketakan, dan piutang terpusat pada pelanggan besar. Berikut adalah beberapa masalah umum yang sering terungkap dari laporan umur piutang:
1. Konsentrasi Piutang Jatuh Tempo yang Tinggi
Ini menunjukkan bahwa sebagian besar piutang perusahaan sudah melewati tanggal jatuh tempo. Solusinya adalah dengan memperbaiki proses penagihan secara keseluruhan, seperti menerapkan pengingat otomatis atau menugaskan staf khusus untuk menindaklanjuti piutang yang semakin lama.
2. Penagihan Lambat dan Kenaikan DSO (Days Sales Outstanding)
Jika metrik DSO terus meningkat, artinya perusahaan membutuhkan waktu lebih lama untuk mengubah penjualan menjadi kas. Untuk mengatasinya, perusahaan dapat menawarkan diskon untuk pembayaran lebih awal atau menerapkan denda keterlambatan yang untuk mendorong pembayaran tepat waktu.
3. Pembayaran Terlambat Konsisten dari Pelanggan Utama
Ketika pelanggan besar terus-menerus membayar terlambat, ini menimbulkan risiko pada kelancaran arus kas. Langkah yang harus diambil adalah melakukan komunikasi langsung dengan pelanggan tersebut untuk memahami masalahnya dan menegosiasikan kembali syarat pembayaran jika diperlukan.
4. Faktur yang Disengketakan dan Kesalahan Penagihan
Laporan ini memberikan gambaran terkait faktur yang tidak dibayar karena adanya sengketa atau kesalahan dalam penagihan. Solusinya adalah dengan segera menyelidiki setiap sengketa, memperbaiki kesalahan faktur, dan menerbitkan kembali faktur yang benar untuk mempercepat pembayaran.
5. Piutang Terpusat pada Beberapa Pelanggan Besar
Jika laporan menunjukkan bahwa sebagian besar piutang berasal dari sekumpulan pelanggan, maka perusahaan perlu menaruh perhatian khusus terhadap piutang-piutang tersebut. Solusinya adalah dengan berupaya mendiversifikasi basis pelanggan untuk mengurangi ketergantungan pada beberapa klien besar.
Efisiensikan Perhitungan AR Aging dengan Software Akuntansi ScaleOcean
Software Akuntansi ScaleOcean adalah solusi untuk mengotomatisasikan seluruh proses pemantauan piutang bisnis secara akurat dan efisien. Sistem ini akan mengelola alur kerja keuangan agar tetap teroganisir, sehingga operasional bisnis berjalan lebih lancar dan transparan.
Di samping itu, solusi digital dari ScaleOcean juga memudahkan manajemen dalam merancang kebijakan kredit yang jauh lebih aman bagi likuiditas perusahaan. Oleh karena itu, pihak manajemen dapat menjaga stabilitas arus kas secara optimal dan meminimalkan potensi kerugian finansial jangka panjang.
Jika Anda tertarik untuk melihat bagimana sistem ini mengatasi masalah pengelolaan piutang bisnis Anda, maka demo gratis menjadi solusi yang tepat untuk merasakan manfaatnya secara langsung.
Berikut adalah fitur-fitur unggulan Software Akuntansi ScaleOcean:
- Otomatisasi Perhitungan yang Lebih Akurat: Mencatat dan menghitung piutang secara otomatis, sehingga mengurangi kesalahan perhitungan manual.
- Meminimalkan Risiko Piutang Tak Tertagih: Mendeteksi potensi piutang macet labih awal, sehingga perusahaan lebih cepat menetukan tindakan pencegahan.
- Integrasi Modul: Menghubungkan dengan data penjualan dan pembayaran secara otomatis.
- Visibilitas Real-time: Memantau data piutang jatuh tempo secara langsung tanpa perlu menunggu proses closing.
- Analisis Keputusan: Mempermudah tim manajemen perusahaan untuk mengambil keputusan dengan cepat dan akurat yang berbasis data.
- Efisiensi Operasional Bisnis: Mengurangi biaya untuk penambahan tenaga kerja karena proses bisnis yang sudah berjalan secara otomatis dan cepat.
Kesimpulan
Account receivable aging adalah metode untuk mengklasifikasikan piutang berdasarkan umur jatuh temponya, sehingga perusahaan dapat menilai kualitas piutang dan mengidentifikasi risiko keterlambatan pembayaran. Maka dari itu, perusahaan dapat mengoptimalkan arus kas, meningkatkan efektivitas penagihan, dan menstabilkan keuangan.
Kemudahan dan ketepatan menjadi salah satu faktor keberhasilan pengelolaan piutang, sehingga penggunaan Software Akuntansi ScaleOcean akan membantu perhitungan piutang, memantau progres piutang, dan menyajikan laporan yang akurat. Apabila Anda ingin merasakan langsung manfaat sistem ini, Anda dapat mengajukan demo gratis bersama tim expert kami.
FAQ:
1. Apa itu account receivable aging?
Account receivable aging adalah metode akuntansi untuk memantau berapa lama tagihan pelanggan belum terlunasi. Perusahaan dapat mengidentifikasi keterlambatan pembayaran secara cepat untuk mempercepat penagihan, serta memastikan arus kas perusahaan tetap terjaga dengan sehat.
2. Apa itu aging dalam perusahaan?
Aging dalam perusahaan adalah proses akuntansi untuk melacak durasi kepemilikan aset atau lamanya suatu tagihan yang belum terbayar.
3. Bagaimana cara menggunakan metode penuaan dalam akuntansi?
Metode penuaan akuntansi digunakan dengan mengatur faktur yang belum lunas ke dalam kategori umur, seperti 0-30 hingga di atas 90 hari. Cara ini menjadi alat penting untuk melacak pembayaran pelanggan sistematis, sehingga manajemen dapat mengelola arus kas jauh lebih efektif.













































WhatsApp Tim Kami
Demo With Us



