Apa itu Middle Mile Logistik, Cara Kerja, dan Manfaatnya?

Posted on
Share artikel ini

Perusahaan sering menghadapi tantangan-tantangan seperti keterlambatan pengiriman, koordinasi antargudang yang kurang efektif, biaya distribusi yang meningkat, hingga visibilitas yang terbatas. Akibatnya, perusahaan kesulitan menjaga ketepatan waktu, mengoptimalkan kapasitas armada, dan memenuhi ekspektasi pelanggan secara konsisten.

Middle mile merupakan salah satu strategi yang bisa diimplementasikan untuk menghubungkan center of production atau gudang utama dengan center of distribution maupun hub regional sebelum produk sampai ke tangan konsumen. Pengaturan middle mile yang ideal bisa mempercepat proses pindahnya produk dan juga mengurangi potensi terjadinya keterlambatan dan pembengkakan biaya logistik.

Oleh sebab itu, memahami middle mile menjadi langkah penting untuk membangun rantai pasok yang efisien dan responsif. Artikel ini membahas apa itu middle mile, manfaatnya bagi bisnis, tantangan saat menerapkannya, dan strategi-strategi untuk mengoptimalkannya.

starsKey Takeaways
  • Middle mile adalah tahap logistik yang menghubungkan gudang utama, pusat distribusi, atau hub regional menuju titik-titik yang dekat dengan pelanggan.
  • Middle mile dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan dengan jaringan distribusi luas dan volume pengiriman tinggi.
  • Perusahaan perlu menerapkan strategi seperti memanfaatkan data, teknologi, hingga memantau performa secara rutin untuk memastikan middle mile berjalan lancar.
  • Software Logistik ScaleOcean Atlas membantu mengelola middle mile melalui perencanaan distribusi, transfer stok, pelacakan real-time, hingga monitoring biaya dalam satu sistem.

Coba Demo Gratis!

requestDemo

Apa itu Middle Mile?

Middle mile adalah tahap logistik yang menghubungkan gudang utama, pusat distribusi, atau hub regional menuju titik-titik yang dekat dengan pelanggan. Ini adalah langkah yang menghubungkan produksi dengan pengiriman akhir ke konsumen.

Perbedaan first mile dengan middle mile adalah bahwa middle mile lebih banyak menekankan distribusi dari satu fasilitas ke fasilitas lainnya. Dalam proses ini dilakukan konsolidasi benda, penjadwalan armada, sampai transfer antar-hub.

Untuk memahami posisi middle mile secara utuh, penting juga untuk mengenali apa itu manajemen logistik secara keseluruhan. Manajemen logistik mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian arus barang mulai dari titik asal hingga titik konsumsi akhir.

Mengapa Middle Mile Penting dalam Rantai Pasok?

Mengapa Middle Mile Penting dalam Rantai Pasok

Middle mile memastikan stok tersedia di hub, branch, store, ataupun fulfillment center. Jika proses middle mile dilakukan dengan efektif, maka kesediaan barang pada point of distribution tersebut terus terjaga sehingga proses penjualan tidak terganggu.

Namun, ketidakefisienan middle mile secara langsung memengaruhi last mile. Pengiriman barang ke customer menjadi lambat dibandingkan estimasi awal, sehingga perusahaan harus mengeluarkan biaya operasional yang lebih banyak untuk melakukan pengiriman.

Kondisi ini relevan karena biaya logistik nasional menjadi perhatian pemerintah. Berdasarkan data Bappenas, biaya logistik Indonesia di tahun 2023 tercatat sebesar 14,29 persen dari produk domestik bruto, sehingga efisiensi di setiap tahap distribusi, termasuk middle mile, menjadi krusial.

Siapa yang Membutuhkan Middle Mile Logistic?

Middle mile menjadi penting bagi industri yang memiliki sistem distribusi luas dan jumlah distribusi yang tinggi. Perusahaan-perusahaan EPL, e-commerce, dan retailer chain biasanya membutuhkan middle mile agar dapat memastikan stok mereka tersedia di semua poin penjualan.

Faktor lain yang menggunakan middle mile adalah distributor FMCG, manufaktur, cold chainautomotive, dan farmasi. Sifat produk yang rentan terhadap suhu dan waktu menjadi faktur yang membuat middle mile sebuah komponen penting dalam operasional.

Dampak middle mile juga dirasakan oleh perusahaan yang memiliki banyak gudang dan cabang. Karena semakin banyaknya titik distribusi, semakin rumit koordinasinya.

Perbedaan First Mile, Middle Mile, dan Last Mile Logistics

Perbedaan First Mile, Middle Mile, dan Last Mile Logistics

First mile mencakup proses pengambilan barang dari produsen menuju gudang awal. Tahap ini menjadi titik awal dari keseluruhan siklus logistik sebelum barang bergerak lebih jauh dalam rantai distribusi.

Lalu, middle mile mengambil alih proses tersebut dengan memindahkan barang antar-hub, ke gudang regional, atau ke distribution center. Fokus utamanya adalah efisiensi transportasi dan konsolidasi muatan dalam skala besar.

Sementara itu, last mile menjadi tahap akhir yang mengantarkan barang langsung ke tangan pelanggan. Ketiga tahap ini terhubung dan membentuk satu kesatuan proses distribusi yang tidak dapat dipisahkan.

Ketiga tahap ini adalah bagian dari inbound dan outbound logistics yang terhubung. Inbound mencakup penerimaan barang masuk, sedangkan outbound mencakup pengiriman barang keluar menuju tujuan berikutnya.

Cara Kerja Middle Mile Logistics

Middle mile bekerja dalam 5 tahap dari merencanakan kebutuhan bahan baku hingga penerusan ke tahapan last mile. Masing-masing tahap ini terkait erat dengan satu sama lainnya sehingga berikut cara kerja Middle Mile Logistics:

1. Perencanaan kebutuhan Barang

Tahap ini dimulai dengan menganalisis kebutuhan stok di tiap hub atau cabang berdasarkan data permintaan historis. Perencanaan yang akurat mencegah kelebihan maupun kekurangan stok di titik distribusi.

Setelah itu, tim logistik merancang jadwal pengiriman pertamanya berdasarkan rencana yang dibuat. Hal ini merupakan dasar dari siklus logistik yang dilakukan pada tahapan-tahapan selanjutnya.

2. Konsolidasi barang di Gudang atau Hub

Lalu, barang dari berbagai supplier atau jalur produksi dikumpulkan terlebih dahulu di gudang pusat atau hub. Langkah ini membantu perusahaan dalam memaksimalkan kapasitas angkutan sebelum dikirim ke tujuan berikutnya.

Kegiatan konsolidasi barang ini memberikan kesempatan kepada perusahaan untuk mengurangi jumlah perjalanan yang tidak diperlukan dengan cara memperhatikan tujuan dan prioritas penjualannya, yang mengurangi biaya transportasi.

3. Load Planning dan Penjadwalan Armada

Setelah barang terkonsolidasikan, tim logistik menyusun rencana muatan agar kapasitas kendaraan digunakan seoptimal mungkin. Load planning yang baik mempertimbangkan berat, volume, dan urutan bongkar muat.

Penjadwalan armada kemudian disesuaikan dengan rute dan waktu tempuh menuju masing-masing hub tujuan. Ketepatan jadwal ini menentukan seberapa cepat barang sampai ke titik berikutnya.

4. Pengiriman Antar Hub atau Distribution Center

Barang yang sudah dimuat kemudian dikirimkan menuju hub atau distribution center sesuai rute yang direncanakan. Proses ini melibatkan perjalanan jarak menengah hingga jauh antarkota atau antarwilayah.

Selama pengiriman berlangsung, pemantauan posisi kendaraan menjadi penting untuk mendeteksi potensi keterlambatan lebih awal. Informasi ini membantu tim menyesuaikan rencana penerimaannya di hub tujuan.

5. Receiving dan Handoff ke Proses Berikutnya

Setiba di hub tujuan, barang diperiksa kesesuaiannya dengan dokumen pengiriman sebelum diterima secara resmi. Proses receiving yang teliti mencegah selisih stok yang mengganggu tahap berikutnya.

Setelah dinyatakan sesuai, barang kemudian diserahkan ke proses last mile atau disimpan sementara di hub. Handoff yang rapi memastikan kelanjutan siklus distribusi berjalan tanpa hambatan.

Contoh Middle Mile Logistics dalam Bisnis

Penggunaan middle mile beragam tergantung pada sifat industri dan jaringan distribusinya. Baik retail chain maupun cold chain logistics. Setiap industri mempunyai tantangan dan cara masing-masing dalam menjalankan middle mile. Berikut beberapa contoh penggunaan middle mile dalam setiap industri:

1. Retail Chain

Retail chain mengirimkan stok dari pusat gudangnya ke berbagai cabang toko mereka. Middle mile akan memastikan bahwa setiap toko memiliki stok sesuai dengan pola penjualannya.

Tanpa pengelolaan stok yang baik, sebagian toko bisa mengalami kekosongan stok, sementara toko lain justru kelebihan stok. Kondisi ini berdampak langsung pada penjualan dan kepuasan pelanggan.

2. E-commerce Fulfillment

Perusahaan e-commerce menggunakan middle mile untuk mentransfer produk mereka dari gudang pusat ke fulfillment center yang berlokasi lebih dekat dengan konsumen. Proses ini pada akhirnya mempercepat pengiriman last mile.

Volume pesanan yang tinggi menuntut proses konsolidasi dan pengiriman antar-hub yang cepat dan akurat. Keterlambatan di tahap ini secara langsung memengaruhi waktu pengiriman ke pembeli,

3. Distributor FMCG

Fungsi dari distributor FMCG adalah memindahkan produk mereka secara teratur dari warehouse pusat mereka ke depot atau subdistributor mereka di berbagai lokasi. Frekuensi pemindahan yang tinggi memerlukan perencanaan logistik yang baik.

Produk dari FMCG biasanya memiliki masa kedaluwarsa yang singkat, yang berarti middle mile harus cepat dan selesai sebelum barang kedaluwarsa. Penundaan proses ini berakibat negatif bagi bisnis tersebut dengan adanya kerugian yang disebabkan oleh produk kedaluwarsa.

4. Manufaktur

Para perusahaan manufaktur, fungsi middle mile untuk memindahkan raw material ke facility produksi atau memindahkan produk jadi ke warehouse distributor. Ini bertujuan untuk memastikan kelancaran operasional produksi.

Penyimpangan pada middle mile dapat mengganggu pemasokan raw material dan juga schedule produksi mereka secara keseluruhan. Oleh karena itu, on-time delivery antar facility menjadi hal yang paling penting dalam proses ini

5. Cold Chain Logistics

Cold chain logistics menggunakan middle mile dengan pengontrolan suhu selama transportasi inter-hub. Produk-produk seperti makanan beku atau obat-obatan membutuhkan penanganan khusus.

Kegagalan menjaga suhu selama proses ini merusak produk dan menimbulkan kerugian besar. Oleh karena itu, pemantauan suhu secara real-time menjadi bagian penting dari middle mile dalam sektor ini.

Manfaat Middle Mile yang Terkelola dengan Baik

Pengelolaan middle mile yang rapi memberikan dampak positif pada berbagai aspek operasional bisnis. Manfaatnya terasa dari efisiensi biaya hingga peningkatan visibilitas rantai pasok. Berikut manfaat-manfaat utama middle mile yang dikelola dengan barik dan terukur secara konsisten:

1. Menekan Biaya Transportasi

Pertama, efisiensi dalam konsolidasi muatan dan pengaturan muatan yang optimal mengecilkan jumlah perjalanan yang tidak perlu. Sehingga, setiap mobil mampu mengangkut beban maksimumnya setiap saat bekerja.

Karena itu, biaya pengangkutan ditekan oleh penghematan tersebut. Hal ini memberikan dampak baik terhadap laba perusahaan Anda secara keseluruhan.

2. Mempercepat Replenishment Stok

Angkutan middle mile yang efisien memungkinkan pengisian ulang stok di hub atau cabang berlangsung dengan cepat. Pengisian ulang tepat waktu tersebut juga memastikan stabilitas stok.

Kecepatan ini penting bagi bisnis dengan perputaran stok tinggi seperti ritel dan e-commerce. Stok yang selalu tersedia mengurangi risiko kehilangan akibat kekosongan stok barang.

3. Meningkatkan Akurasi Inventory

Proses receiving dan handoff yang tercatat rapi membuat data stok di setiap hub lebih akurat. Perusahaan dapat memantau posisi barang-barangnya secara real-time.

Akurasi ini membantu tim perencanaan mengambil keputusan replenishment yang tepat sasaran. Kesalahan pencatatan stok pun dapat diminimalkan sejak tahap awal distribusi.

4. Mengurangi Risiko Keterlambatan Last Mile

Middle mile yang berjalan sesuai jadwal memastikan barang tiba di hub tepat waktu sebelum tahap last mile dimulai. Kondisi ini mengurangi tekanan waktu pada proses pengiriman akhir.

Sehingga, kurir atau last mile fleet mempunyai cukup waktu untuk melakukan pengiriman sesuai dengan estimasi. Pada gilirannya, pelanggan juga akan menerima barang mereka sesuai dengan jani yang sudah ditentukan.

5. Meningkatkan Visibilitas Supply chain

Integrated middle mile management memungkinkan perusahaan melihat kondisi barangnya di seluruh supply chain. Visibilitas tersebut dapat membantu perusahaan melihat adanya hambatan yang bisa ditemui secara lebih cepat.

Dengan data yang transparan, setiap tim yang terlibat dalam siklus logistik dapat berkoordinasi tanpa harus menunggu laporan manual. Dengan ini, pengambilan keputusan pun menjadi lebih responsif.

Tantangan dalam Middle Mile Logistics

Pengelolaan middle mile memiliki berbagai tantangan operasional yang muncul akibat kompleksitas jaringan distribusi. Dari masalah route planning hingga kompleksitas mengelola multi-hub dan multi-vendor, berikut tantangan-tantangan yang ada saat menerapkan middle mile:

1. Route Planning yang Tidak Efisien

Pertama, perencanaan rute yang kurang matang menyebabkan kenderaan menempuh jarak yang lebih jauh. Kondisi ini memboroskan waktu, bahan bakar, dan biaya operasional armada.

Tanpa sistem yang mendukung, penyusunan rute sering kali bergantung pada perkiraan manual. Pendekatan ini menghasilkan rute yang kurang optimal, terutama untuk jaringan distribusi yang luas.

2. Kurangnya Real-Time Visibility

Lalu, banyak perusahaan masih kesulitan memantau posisi barangnya secara real-time selama perjalanan antar-hub. Minimnya visibilitas membuat tim baru mengetahui keterlambatan setelah dampaknya terasa.

Akibatnya, langkah antisipasi sering datang terlambat dan tidak mencegah gangguan pada pengiriman. Pelanggan pun berpotensi menerima informasi status barang yang tidak akurat.

3. Inventory Handoff Tidak Sinkron

Proses serah terima barang antar gudang atau hub sering tidak tercatat secara konsisten. Selisih data ini bisa memicu kesalahan pencatatan stok di sistem perusahaan.

Ketidaksesuaian data handoff menyulitkan tim untuk melacak penyebab kehilangan atau kerusakan barang. Masalah ini menjadi semakin kompleks ketika melibatkan banyak titik transfer sekaligus.

4. Biaya Operasional Sulit Dikontrol

Tanpa data yang terpusat, perusahaan kesulitan memantau komponen biaya di setiap tahap middle mile secara detail. Kemudian, pengeluaran untuk BBM, tol, dan perawatan armada biasanya dicatat secara berbeda.

Hal ini membuat peluang penilaian efisiensi biaya menjadi lebih sulit dilakukan. Ini mengakibatkan perusahaan kesusahan mengidentifikasi area-area pemborosan yang bisa ditekan.

5. Kompleksitas Multi-Hub dan Multi-Vendor.

Perusahaan enterprise umumnya bekerja dengan banyak hub, carrier, vendor trucking, warehouse, dan cabang sekaligus. Koordinasi tersebut merupakan tugas yang rumit tanpa adanya sistem yang terintegrasi.

Tidak adanya kontrol data pusat menyebabkan informasi antara vendor dan hub mudah pecah dan juga sulit untuk disinkronkan. Hal ini menghambat proses pengambilan keputusan dan meningkatkan risiko kesalahan koordinasi.

Untuk membantu Anda mengatasi tantangan-tantangan dalam middle mile, Anda dapat memakai software logistik terbaik yang membantu memantau rantai pasokan, merencanakan rute yang paling optimal, serta mengintegrasikan data antar-hub dan vendor. Dengan begitu, Anda dapat meningkatkan efisiensi distribusi sekaligus menjaga ketepatan pengiriman Anda.

Logistik

Strategi Mengoptimalkan Middle Mile Logistics

Ada beberapa strategi yang harus diterapkan perusahaan supaya middle mile berjalan dengan efisien dan optimal. Beberapa strategi tersebut memanfaatkan data, teknologi, dan bahkan monitoring performance. Berikut strategi yang dapat Anda terapkan untuk optimasi middle mile logistik Anda:

1. Gunakanan Data Demand untuk Replenishment

Logistik yang berbasis data demand memastikan bahwa perusahaan mendapatkan pengetahuan tentang jumlah dan waktu pengiriman. Hal ini meminimalkan kerugian akibat overstock.

Dengan data yang akurat, tim dapat menyesuaikan jadwal replenish-nya sesuai pola permintaan di masing-masing wilayah. Hasilnya, stok tetap tersedia tanpa membebani biaya penyimpanan berlebih.

2. Optimalkan Route dan Load Planning

Penyusunan rute yang mempertimbangkan jarak, waktu tempuh, dan kapasitas kendaraan membantu memaksimalkan efisiensi pengiriman. Load planning yang matang memastikan setiap perjalanan mengangkut muatan secara optimal,

Penggunaan kedua metode ini dapat langsung membantu mengurangi biaya logistik dan memberikan peningkatan pada waktu pengiriman antar-hub. Penerapan metode ini juga memudahkan perusahaan dalam melakukan alokasi armada mereka.

3. Terapkan Hub-and-Spoke Distribution.

Hub and spoke merupakan pendekatan yang mempersatukan proses distribusi lewat satu atau beberapa hub utama sebelum barang-barang tersebut dikirim ke tempat-tempat lainnya. Pendekatan ini mengorganisasikan sistem logistik yang rumit.

Dengan pendekatan ini, perusahaan bisa melakukan konsolidasi load sebelum melakukan distribusi ke cabang atau toko. Efisiensi rute pun meningkat karena perjalanan yang terstruktur.

4. Gunakan Real-Time Tracking

Teknologi pelacakan real-time memungkinkan tim memantau posisi armada dan status pengirimannya kapan saja. Informasi ini membantu mendeteksi potensi keterlambatan sejak dini.

Dengan visibilitas yang menyeluruh, perusahaan dapat mengambil tindakan cepat sebelum masalah berdampak pada last mile. Pelanggan pun mendapatkan estimasi pengiriman yang akurat.

5. Pantau KPI Middle Mile secara Rutin

Pemantauan indikator seperti on-time delivery, akurasi stok, dan biaya per pengiriman membantu perusahaan mengevaluasi performa middle mile secara berkala. Data ini menjadi dasar perbaikan berkelanjutan.

Berdasarkan Logistics Performance Index, Indonesia menempati posisi ke-63 dari 139 negara dalam penilaian tersebut, yang menunjukkan bahwa sistem distribusi nasional masih perlu diperbaiki. Maka, dengan itu, evaluasi KPI ini membantu perusahaan menutup kesenjangan tersebut di level operasional mereka.

Kelola Middle Mile Logistics dengan Software ScaleOcean Atlas

Software Logistic ScaleOcean Atlas membantu perusahaan menengah hingga enterprise dengan mengelola middle mile logistics secara terpusat. Melalui satu sistem terintegrasi, ScaleOcean Atlas mendukung perencanaan pengiriman, transfer stok antar-hub, serta route planning yang efisien. Fitur ini membantu perusahaan menyusun jadwal armada tanpa mengandalkan perhitungan manual yang rawan kesalahan.

Semua modul yang disediakan oleh ScaleOcean Atlas juga memiliki integrasi yang end-to-end sehingga mempermudah tim Anda mencari data yang diperlukan. Karena itu, software ini akan membantu Anda mengelola vendor trucking, biaya, operasional, dan memudahkan warehouse handoff.

Selain itu, ScaleOcean Atlas dilengkapi dengan ScaleMind, suatu AI business assistant yang memberikan forecast dan insight berbasis data, memprediksi kebutuhan distribusi, smart alert untuk mendeteksi anomali biaya, serta mempercepat pengambilan keputusan logistik secara proaktif.

Dengan ScaleOcean Atlas, tim manajemen Anda bisa membuat keputusan yang berdasarkan pada data agar proses distribusi Anda terus ditingkatkan. Apabila Anda ingin mengetahui cara software ini membantu proses logistik Anda, segera jadwalkan konsultasi bersama tim kami!

Berikut fitur-fitur dari software logistic ScaleOcean Atlas:

  • Booking Management: software memudahkan customer melakukan booking pengiriman untuk berbagai bentuk transportasi.
  • Tracking Shipment: software membantu melacak pengiriman secara real-time dengan memberikan nomor pelacakan unik untuk setiap pengiriman.
  • Import and Export: software memungkinkan pengguna menangani seluruh aspek logistik internasional, termasuk manajemen dokumen, perizinan, dan pemenuhan peraturan internasional.
  • Custom Clearance: software membuat segala jenis dokumen bea cukai yang dibutuhkan untuk pengiriman, lalu mengirim dokumen yang diperlukan kepada otoritas dari satu sistem.
  • Margin Calculation: software membantu perusahaan menghitung margin keuntungan dari setiap pengiriman untuk memastikan bahwa semua biaya tercatat dan dianalisis dengan akurat.

Kesimpulan

Middle mile merupakan tingkat distribusi yang menghubungkan gudang, hub, atau distribution center sebelum produk masuk pada tahap last mile. Jadi, manajemen middle mile yang efektif memudahkan Anda untuk menjaga inventaris, menurunkan biaya logistik, serta memastikan bahwa rantai pasok berjalan dengan baik.

Software Logistik ScaleOcean Atlas membantu Anda dalam melakukan manajemen middle mile mulai dari planning distribusi, transfer stok, tracking real-time, sampai monitoring biaya dalam satu aplikasi. Jadi kalau Anda ingin mengetahui cara kerja ScaleOcean Atlas dalam menyelesaikan masalah logistik Anda, silakan langsung menjadwalkan konsultasi dengan tim kami sekarang juga!

FAQ:

1. Last mile logistics adalah?

Last-mile logistics adalah tahap akhir dari proses pengiriman barang menuju pelanggan.

2. Apa itu gudang jarak menengah (mid-mile warehouse)?

Middle mile adalah bagian rantai pasokan yang fokus pada pemindahan produk dari fasilitas manufaktur ke gedugan, pusat distribusi atau fasilitas ritel.

3. Apa arti “mil pertama”?

Tahap pengiriman mil pertama adalah awal perjalanan barang dalam proses logistik. Barang diambil oleh produsen, dikemas, lalu ditaruh ke dalam truk untuk dikirim ke gudang pusat.

Adriel Thomas Dwiputranto
Adriel Thomas Dwiputranto
Adriel adalah SEO Content Writer dengan hampir 1 tahun dalam pembuatan konten informatif seputar bisnis, teknologi, dan transformasi digital yang membantu perusahaan enterprise dari berbagai industri di Indonesia.

ERP Buat Bisnis Ngebut

Operasional rapi, bisnis makin cepat

ERP Dashboards Demo Gratis
Dekson Sinarmas Bank of China Changi Shalby

Coba Demo Gratis!

Error message
Error message
Error message
Error message
Error message
Error message

Rekomendasi Artikel Terkait

Temukan Artikel Serupa untuk Solusi Bisnis Lebih Lengkap