RCCP (Rough Cut Capacity Planning): Arti, Manfaat, Tekniknya

ScaleOcean Team
Posted on
Share artikel ini

Ketidakseimbangan antara ketersediaan sumber daya dengan jadwal produksi dapat memicu gangguan serius pada alur operasional bisnis manufaktur. Tantangan lainnya seperti kelebihan beban kerja pada mesin serta alokasi tenaga kerja yang tidak efisien dapat memicu pembengkakan biaya operasional, keterlambatan pengiriman produk, serta menurunnya tingkat kepuasan pelanggan setia Anda.

Implementasi rough cut capacity planning (RCCP) yang efektif dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi tantangan tersebut. Hal ini mencakup seluruh aktivitas evaluasi sumber daya utama, mulai dari penilaian kapasitas mesin hingga pemastian kecukupan jumlah tenaga kerja. Dengan teknik RCCP yang tepat, perusahaan dapat menjamin kelayakan jadwal produksi dan mengidentifikasi hambatan potensial secara dini.

Memahami peran dan penerapan RCCP dapat membantu menjaga kelancaran operasional dan meningkatkan efektivitas strategi perencanaan kapasitas bisnis Anda. Artikel ini akan membahas lebih dalam mengenai apa itu RCCP, manfaat utamanya dalam industri manufaktur, tujuan strategis yang ingin dicapai, hingga cara mengevaluasi penerapannya guna menghindari masalah yang merugikan operasional.

starsKey Takeaways
  • RCCP adalah metode perencanaan produksi tingkat awal untuk mengevaluasi apakah kapasitas sumber daya yang tersedia cukup untuk memenuhi jadwal induk produksi yang telah ditetapkan.
  • Tujuan RCCP adalah memvalidasi rencana produksi, mengelola dan mengalokasikan sumber daya secara efektif, serta mengidentifikasi overloading dan underloading.
  • Manfaat RCCP antara lain mengidentifikasi kekurangan kapasitas, menyusun jadwal produksi realistis, dan mengurangi biaya overhead.
  • Software manufaktur ScaleOcean dapat optimalkan fungsi RCCP secara lebih efisien dan dapat menilai kesiapan mesin, tenaga kerja, hingga infrastruktur sebelum proses produksi dijalankan.

Coba Demo Gratis!

requestDemo

1. Apa itu Rough Cut Capacity Planning (RCCP)?

Rough cut capacity planning atau RCCP adalah metode perencanaan produksi tingkat awal untuk mengevaluasi apakah kapasitas sumber daya yang tersedia (mesin, tenaga kerja) cukup untuk memenuhi jadwal induk produksi yang telah ditetapkan. Pada tahap RCCP, perusahaan dapat melakukan penyesuaian terhadap jadwal produksi dan kapasitas sumber daya, yang juga berhubungan erat dengan master production schedule.

Dalam penerapannya, RCCP membantu mengoptimalkan pemanfaatan kapasitas produksi dengan memprediksi kebutuhan sumber daya. Melalui pendekatan ini, perusahaan dapat mengelola kapasitas secara lebih efektif, mengurangi risiko keterlambatan produksi, dan mengoptimalkan biaya operasional.

Dengan informasi yang dihasilkan melalui RCCP, perusahaan dapat merencanakan kebutuhan material dan tenaga kerja secara lebih akurat. Sehingga, RCCP bukan hanya memfokuskan pada kapasitas mesin, tetapi juga mencakup alokasi tenaga kerja dan pengelolaan persediaan secara keseluruhan.

2. Tujuan Pembuatan RCCP (Rough Cut Capacity Planning)

Tujuan utama RCCP adalah untuk memvalidasi rencana produksi dengan memeriksa ketersediaan sumber daya seperti tenaga kerja, mesin, dan peralatan. Selain itu, RCCP mengidentifikasi kendala kapasitas, mengalokasikan sumber daya secara efisien, dan membuat jadwal produksi yang realistis berdasarkan kapasitas yang tersedia.

Untuk detailnya, berikut beberapa tujuan rough cut capacity planning dalam perusahaan manufaktur:

a. Validasi Rencana Produksi Agregat

Tujuan utama dilakukannya rough cut capacity planning adalah untuk memvalidasi rencana produksi yang telah dibuat secara menyeluruh berdasarkan demand forecast. Melalui RCCP, perusahaan memastikan bahwa sumber daya yang diperlukan seperti tenaga kerja, mesin, dan lahan produksi selalu tersedia. Dalam konteks pengembangan fasilitas, validasi ini membantu perusahaan tetap patuh pada regulasi.

Mengingat regulasi perencanaan kapasitas dan infrastruktur di Indonesia diatur dalam UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang mencakup kewenangan daerah dalam penataan ruang industri. Hal ini memastikan bahwa peningkatan kapasitas produksi tetap berjalan selaras dengan izin dan regulasi pembangunan yang berlaku.

b. Pengelolaan dan Alokasi Sumber Daya

RCCP ini dilakukan dengan tujuan untuk membantu Anda mengelola sumber daya dengan lebih efektif, sehingga Anda akan mudah untuk melakukan alokasi sumber daya secara strategis. Hal tersebut akan memaksimalkan output produksi dan mengurangi pemborosan biaya penyimpanan, termasuk optimalisasi penjadwalan produksi, tenaga kerja, dan penggunaan peralatan.

c. Mengidentifikasi Overloading dan Underloading

RCCP juga bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi perusahaan mengalami overloading atau underloading dalam proses produksi, sehingga RCCP ini dilakukan untuk menyeimbangkan kapasitas produksi dengan permintaan pasar. Dengan begitu, perusahaan bisa mengoptimalkan penggunaan sumber daya dan meminimalkan biaya produksi.

d. Membuat Jadwal yang Realistis

Terakhir, RCCP membantu dalam menciptakan jadwal produksi yang lebih realistis dan dapat dicapai. Proses ini memungkinkan manajemen untuk merencanakan dan menyesuaikan jadwal sesuai dengan kapasitas yang tersedia, sehingga penjadwalan produksi dapat berjalan dengan efisien.

3. Teknik RCCP di Perusahaan Manufaktur

Teknik RCCP di Perusahaan ManufakturRCCP yang memiliki tiga teknik strategi untuk mengestimasi dan mengelola kapasitas produksi pada tahap awal perencanaan, mulai dari CPOF, BOLA, dan RPA. Berikut adalah penjelasan lebih detail terkait ketiga teknik yang dimiliki RCCP:

a. Capacity Planning Using Overall Factors

Teknik pertama ada capacity planning using overall factors (CPOF) merupakan pendekatan yang menggabungkan kebutuhan kapasitas total dari semua produk, seperti faktor kapasitas menyeluruh untuk mengestimasi kapasitas yang diperlukan. Teknik ini biasanya dilakukan dengan dasar data historis dan asumsi mengenai efisiensi juga waktu operasional produksi.

Sederhananya, teknik ini dapat Anda lakukan jika variasi dalam produksi Anda tidak terlalu ekstrem, sehingga Anda bisa menggunakan rata-rata atau nilai agregat untuk perencanaan yang lebih cepat dan bisa memberikan estimasi kasar yang berguna. Hal tersebut akan membantu pengambilan keputusan strategis untuk manajemen perusahaan, juga solusi jika terjadi perubahan signifikan dalam produk dan teknologi produksi.

b. Bill of Labor Approach

Bill of labor hampir sama dengan BOM, tapi bill of labor memiliki fokus pada kebutuhan tenaga kerja. Teknik RCCP ini akan menentukan jumlah jam kerja yang diperlukan untuk setiap komponen dan unit produk. Nantinya informasi ini akan dikumpulkan dan dijumlahkan untuk mendapatkan estimasi total kebutuhan tenaga kerja untuk memenuhi rencana produksi.

Teknik RCCP ini akan memberikan kemudahan dalam perencanaan tenaga kerja untuk kapasitas produksi yang akan dibuat, sehingga perusahaan bisa mengalokasikan dan merencanakan sumber daya manusia lebih efektif, dan membantu identifikasi kebutuhan pelatihan dan potensi keterampilan tenaga kerja yang bisa mempengaruhi kapasitas produksi.

c. Resource Profile Approach

Teknik terakhir yang bisa Anda lakukan untuk RCCP adalah resource profile approach yang akan mengambil langkah lanjut dengan membuat profil kapasitas untuk setiap sumber daya yang terlibat dalam produksi seperti mesin, tenaga kerja, dan peralatan produksi. Teknik ini juga meliputi informasi mengenai kapasitas maksimum, efisiensi yang diharapkan, dan ketersediaannya selama periode produksi.

Untuk rough cut capacity planning hal ini adalah pendekatan untuk melihat gambaran jelas mengenai penggunaan sumber daya sepanjang waktu, sehingga akan membantu Anda mengidentifikasi periode mana yang memiliki sumber daya kurang atau lebih. Teknik RCCP yang dilakukan ini akan memudahkan Anda dalam menyesuaikan jadwal produksi untuk mencapai keseimbangan optimal antara permintaan dan kapasitas sumber daya.

Manufaktur

4. Apa Manfaat RCCP (Rough Cut Capacity Planning)?

Manfaat rough cut capacity planning (RCCP) antara lain mencakup, identifikasi awal masalah kapasitas,meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, penyusunan jadwal produksi lebih realistis, hingga pengurangan biaya overhead.

Berikut adalah penjelasan lebih detail terkait manfaat RCCP:

a. Identifikasi Potensi Kekurangan Kapasitas

Salah satu manfaat utama RCCP adalah kemampuannya untuk mengidentifikasi kekurangan kapasitas sebelum menjadi masalah besar. Dengan cara ini, perusahaan dapat mengambil langkah-langkah preventif untuk menghindari gangguan dalam proses produksi yang dapat merugikan operasional.

b. Peningkatan Efisiensi Penggunaan Sumber Daya

RCCP berfokus pada sumber daya kritis seperti tenaga kerja dan mesin. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk memastikan kapasitas yang ada digunakan secara optimal, tanpa ada sumber daya yang terbuang, sehingga meningkatkan efisiensi secara keseluruhan.

c. Penyusunan Jadwal Produksi yang Lebih Realistis

Dengan mengidentifikasi kapasitas yang tersedia, RCCP memungkinkan perusahaan untuk membuat jadwal produksi yang lebih realistis. Hal ini memastikan bahwa produksi dapat berjalan sesuai dengan kapasitas yang dapat dipenuhi, meminimalkan kemungkinan penundaan.

d. Pengurangan Biaya Overhead

RCCP juga membantu mengurangi biaya overhead yang terkait dengan kekurangan kapasitas atau penggunaan sumber daya yang berlebihan. Dengan merencanakan kapasitas dengan lebih tepat, perusahaan dapat mengoptimalkan penggunaan sumber daya dan mengurangi pemborosan biaya.

5. Cara Kerja Melakukan RCCP

Implementasi RCCP memiliki serangkaian langkah kerja penting yang perlu diperhatikan mulai dari, memulai proses dengan MPS, menilai struktur produk dan waktu tunggu, menghitung jam standar, menghitung kebutuhan aktual, membandingkan kebutuhan dengan kapasitas yang tersedia, hingga membuat visualisasi.

Berikut adalah penjelasan lebih detail terkaitlangkah-langkah dalam proses rough cut capacity planning:

a. Memulai dengan Master Production Schedule (MPS)

Langkah awal dalam RCCP adalah menetapkan jadwal produksi induk atau master production schedule (MPS). MPS merupakan pernyataan tentang produk akhir apa yang akan dibuat, kapan dibutuhkan, dan dalam jumlah berapa. Tanpa data MPS yang valid, perhitungan kapasitas akan kehilangan arah karena tidak ada target output yang jelas yang menjadi dasar perhitungan beban kerja di lantai produksi.

Sebagai contoh, sebuah pabrik perakitan sepeda motor menetapkan dalam MPS bahwa mereka harus memproduksi 1.000 unit model Sport-X pada minggu ketiga bulan Maret. Data ini menjadi input utama bagi manajer operasional untuk mulai menghitung apakah fasilitas produksi yang ada saat ini sanggup memenuhi angka tersebut atau justru melampaui batas kemampuan mesin yang tersedia.

b. Menilai Struktur Produk dan Waktu Tunggu

Setelah mendapatkan MPS, pahami bagaimana produk akhir diproduksi dari komponen-komponennya. Tentukan juga waktu tunggu (lead time) yang dibutuhkan untuk setiap komponen di setiap stasiun kerja untuk memastikan aliran produksi yang efisien.

Bayangkan dalam pembuatan lemari kayu, struktur produknya terdiri dari panel pintu, rangka, dan rak. Jika proses pengeringan kayu membutuhkan waktu 2 hari sebelum masuk ke mesin potong, maka kapasitas mesin potong harus dijadwalkan tepat setelah waktu tunggu tersebut selesai. Tanpa sinkronisasi antara struktur dan waktu tunggu, risiko penumpukan barang setengah jadi di satu titik akan meningkat.

c. Menghitung Jam Standar (Standard Hours)

Selanjutnya, tentukan waktu baku per unit produk atau komponen. Kalikan waktu baku ini dengan jumlah unit yang diproduksi per minggu berdasarkan MPS, untuk memperoleh total jam mesin yang dibutuhkan untuk memenuhi jadwal produksi.

Misalnya, jika pembuatan satu buah kursi membutuhkan waktu standar 0,5 jam pada mesin CNC, dan MPS meminta 500 kursi per minggu, maka total jam standar yang dibutuhkan adalah 250 jam mesin. Perhitungan ini sangat krusial karena seringkali manajer hanya melihat jumlah unit (500 kursi) tanpa menyadari bahwa kapasitas total mesin dalam satu minggu mungkin hanya 200 jam, sehingga terjadi bottleneck.

d. Menghitung Kebutuhan Aktual (Actual Requirements)

Tentukan efisiensi mesin yang digunakan dalam produksi, lalu hitung kebutuhan aktual dengan membagi jam standar mesin dengan persentase efisiensi. Ini akan memberikan gambaran lebih realistis mengenai kapasitas yang diperlukan.

Sebagai skenario, jika kebutuhan jam standar adalah 250 jam namun efisiensi historis mesin tersebut hanya 80%, maka kebutuhan aktualnya menjadi 250 / 0,80 = 312,5 jam. Dengan angka ini, manajemen menyadari bahwa mereka sebenarnya membutuhkan kapasitas yang lebih besar dari sekadar hitungan jam standar di atas kertas untuk mengantisipasi kehilangan waktu produktif.

e. Membandingkan Kebutuhan dengan Kapasitas yang Tersedia

Perbandingan antara kebutuhan aktual dan kapasitas yang tersedia pada setiap stasiun kerja sangat penting. Identifikasi apakah terdapat kekurangan atau kelebihan kapasitas yang perlu diperbaiki atau disesuaikan.

Contohnya, jika sebuah lini produksi memiliki kapasitas tersedia sebesar 300 jam per minggu, namun hasil perhitungan kebutuhan aktual menunjukkan angka 312,5 jam, maka terdapat kekurangan kapasitas sebesar 12,5 jam. Identifikasi dini ini memungkinkan manajer untuk mencari solusi sebelum produksi benar-benar dimulai, sehingga tidak terjadi keterlambatan pengiriman ke konsumen.

f. Membuat Visualisasi dan Mengambil Keputusan

Gunakan grafik untuk memvisualisasikan perbandingan antara kebutuhan dan kapasitas seiring waktu. Dengan melihat hasilnya, tim produksi dapat membuat keputusan tentang penyesuaian kapasitas, seperti menambah jam kerja, mesin, atau tenaga kerja, untuk mencapai target produksi.

Misalnya, melalui grafik terlihat bahwa lonjakan beban kerja hanya terjadi di minggu ke-2, sementara minggu ke-3 cenderung sepi. Keputusan yang bisa diambil adalah menggeser sebagian jadwal produksi dari minggu ke-2 ke minggu ke-3 daripada harus membayar biaya lembur yang mahal. Visualisasi ini memastikan keputusan yang diambil didasarkan pada data yang akurat dan mudah dipahami oleh seluruh tim produksi.

6. Optimalkan Proses RCCP Manufaktur dengan Software Manufaktur ScaleOcean

Software manufaktur ScaleOcean adalah perangkat lunak yang membantu perusahaan manufaktur menjalankan fungsi rough cut capacity planning (RCCP) secara lebih efisien dan terintegrasi. Dengan visibilitas real-time dan analisis beban kerja yang mendalam, sistem ini mempermudah pengambilan keputusan strategis dalam menilai kesiapan mesin, tenaga kerja, hingga infrastruktur sebelum proses produksi dijalankan.

ScaleOcean meningkatkan efisiensi dan menekan biaya operasional akibat kelebihan beban kerja (overload). Selain memudahkan sinkronisasi jadwal produksi induk (MPS), ScaleOcean membantu perusahaan memvalidasi rencana kapasitas dengan lebih presisi melalui pemantauan akurat terhadap ketersediaan sumber daya utama, deteksi dini hambatan, serta penyesuaian alokasi tenaga kerja di setiap lini produksi.

Hal ini memungkinkan perusahaan untuk mengoptimalkan pemanfaatan aset dan meningkatkan profitabilitas melalui pengurangan waktu henti mesin (downtime) dan lembur yang tidak terencana. ScaleOcean juga menawarkan demo gratis agar Anda bisa melihat langsung bagaimana software ini mentransformasi sistem RCCP dan perencanaan kapasitas di bisnis manufaktur Anda.

Berikut adalah beberapa fitur utama lainnya dari software manufaktur ScaleOcean yang dapat memperkuat fungsi RCCP Anda:

  • Capacity load analysis: Menganalisis beban kerja vs kapasitas tersedia secara otomatis untuk memastikan jadwal produksi realistis dan dapat dicapai.
  • Bottleneck detection: Mengidentifikasi stasiun kerja atau mesin yang berpotensi menjadi penghambat alur produksi guna melakukan tindakan pencegahan lebih awal.
  • Integrated scheduling: Menghubungkan rencana produksi global dengan kapasitas nyata di lantai pabrik untuk menjamin ketepatan waktu pengiriman barang.
  • Resource management: Mengelola ketersediaan operator dan durasi penggunaan mesin secara sistematis guna menghindari konflik jadwal antar pesanan.
  • Real-time dashboard: Menyajikan data visual terkait utilisasi sumber daya yang memudahkan manajemen melakukan penyesuaian kapasitas secara cepat dan akurat.

7. Kesimpulan

Rough cut capacity planning (RCCP) adalah metode perencanaan produksi tingkat awal untuk mengevaluasi apakah kapasitas sumber daya yang tersedia (mesin, tenaga kerja) cukup untuk memenuhi jadwal induk produksi yang telah ditetapkan. Sistem perencanaan ini berfokus pada validasi awal rencana produksi dan identifikasi potensi hambatan guna memastikan seluruh target permintaan di masa depan aman terkendali.

Software manufaktur ScaleOcean dapat menjadi salah satu solusi untuk mengelola proses RCCP secara tepat dan otomatis. Dengan fitur canggih untuk mengotomatiskan perencanaan dan pemantauan kapasitas, software ini mempermudah manajemen dalam melakukan penyesuaian volume produksi serta menjaga keseimbangan beban kerja di lantai produksi sebelum beralih ke perencanaan yang lebih rinci.

Memahami penerapan RCCP yang tepat dapat membantu perusahaan menjaga skala profitabilitas dan efisiensi operasional bisnis manufaktur Anda. Jadwalkan demo gratis dan konsultasi dengan tim ahli kami untuk melihat bagaimana software ini dapat membantu optimalisasi perencanaan kapasitas di bisnis Anda!

FAQ:

1. Apa itu metode RCCP?

Rough cut capacity planning (RCCP) merupakan metode yang digunakan untuk mengukur kapasitas stasiun kerja sehingga dapat diketahui apakah suatu jadwal produksi memerlukan kerja lembur, sub contract, dll untuk memenuhi permintaan yang tepat waktu.

2. Apa tujuan dari RCCP?

Tujuannya untuk menyeimbangkan permintaan dan kapasitas secara kasar dengan melihat gambaran besar tanpa terlalu mendalam. Hasil RCCP dapat mengarah pada penyesuaian MPS atau kapasitas (misalnya menambah lembur, shift, atau mesin) untuk memastikan produksi dapat berjalan.

3. Kapan waktu yang tepat untuk melakukan RCCP?

RCCP dilakukan segera setelah jadwal produksi induk (MPS) disusun tetapi sebelum menjalankan sistem MRP. Ini berfungsi sebagai saringan agar perusahaan tidak memesan material jika ternyata kapasitas mesin atau orangnya tidak mencukupi untuk memprosesnya.

Jadwalkan Demo Gratis

Error message
Error message
Error message
Error message
Error message
Error message

Rekomendasi Artikel Terkait

Temukan Artikel Serupa untuk Solusi Bisnis Lebih Lengkap