Apa Itu Condition Based Maintenance dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Posted on
Share artikel ini

Ketergantungan pada reactive maintenance dapat meningkatkan kerugian operasional. Studi NIST terhadap industri manufaktur AS memperkirakan biaya dan kerugian akibat maintenance yang tidak memadai mencapai US$222 miliar per tahun. Bahkan, perusahaan dengan ketergantungan reactive maintenance mengalami 3,3 kali lebih banyak downtime daripada kelompok dengan ketergantungan terendah.

Meskipun demikian, preventive maintenance (PM) yang berdasarkan jadwal pemeriksaan rutin juga menghadapi beberapa kesulitan karena perusahaan melakukan perawatan pada waktu tertentu tanpa mengetahui pasti kondisi aset mereka. Hal ini mengakibatkan perusahaan mengganti bagian-bagian yang sebenanya masih memiliki masa pakai.

Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, perusahaan membutuhkan metode perawatan yang menyesuaikan tindakan maintenance dengan kondisi nyata mesin. Artikel ini akan membahas apa itu condition based maintenance, cara kerja, manfaat penerapannya, parameter pemantauan kondisi aset, dan perbedaannya dengan metode maintenance lainnya.

starsKey Takeaways
  • Condition Based Maintenance (CBM) adalah menentukan tindakan maintenance berdasarkan kondisi aset dan data pemantauan untuk mendeteksi potensi gangguan sebelum gagal.
  • CBM bermanfaat untuk industri manufaktur mengurangi downtime, mengoptimalkan biaya maintenance, memperpanjang umur mesin, dan mendukung keputusan berbasis data.
  • Komponen CBM meliputi condition monitoring, sensor, IoT device, data analytics, maintenance management system, dan human expertise untuk menentukan perawatan.
  • Metode CBM mencakup Vibration Monitoring, Temperature Monitoring, Oil Analysis, Pressure Monitoring, Infrared Thermography, dan Electrical Parameter Monitoring.
  • ScaleOcean Atlas for Manufacturing didukung ScaleMind menghubungkan asset management, maintenance workflow, inventory, produksi, dan keuangan.

Coba Konsultasi Gratis!

requestDemo

1. Apa Itu Condition Based Maintenance?

Condition Based Maintenance (CBM) adalah metode perawatan mesin produksi yang menentukan tindakan maintenance berdasarkan kondisi aktual aset. Berbeda dengan reactive maintenance (RM) yang menunggu mesin mengalami kerusakan, CBM menggunakan data hasil pemantauan kondisi mesin untuk mengidentifikasi potensi gangguan sebelum terjadi kegagalan.

Penerapan CBM membantu perusahaan menentukan waktu perawatan yang lebih tepat berdasarkan perubahan performa aset, seperti peningkatan getaran, perubahan suhu, atau penurunan kualitas kerja mesin. Dengan cara ini, divisi maintenance dapat melakukan bertindak sesuai dengan kondisi sebenarnya aset tersebut bukan hanya berdasarkan perkiraan atau jadwal rutin.

Tujuan utama dari CBM adalah:

  • Meminimalkan kemungkinan terjadinya downtime karena adanya kerusakan peralatan secara tiba-tiba.
  • Meningkatkan fungsi mesin agar dapat bekerja secara lebih efektif.
  • Mengurangi pengeluaran biaya maintenance dengan hanya melakukan maintenance ketika memang perlu.
  • Meningkatkan umur aset dengan melakukan pemeliharaan yang tepat.
  • Menghindari penggantian komponen yang masih layak pakai.

2. Cara Kerja Condition Based Maintenance

Cara Kerja Condition Based Maintenance

CBM bekerja dengan memanfaatkan kondisi peralatan itu sendiri untuk menentukan kebutuhan pemeliharaan yang benar. Prosesnya berawal dengan memantau kondisi mesin, mengumpulkan data tentang kinerja aset, menilai kondisi mesin, menentukan waktu yang tepat untuk melakukan perawatan lalu melakukan pekerjaan perawatan sesuai dengan kondisi aset. Berikut adalah tahapannya:

a. Monitoring Kondisi Mesin

Tahap awal dari CBM melibatkan inspeksi dan pemantauan secara rutin terhadap kondisi mesin melalui berbagai metode inspeksi dan sensor pemantauan. Hal ini membantu divisi maintenance mengetahui setiap perubahan pada aset, termasuk suhu yang lebih tinggi, getaran, atau performa mesin yang lebih rendah.

b. Pengumpulan Data Performa Aset

Setelah proses monitoring berjalan, sistem mengumpulkan berbagai data terkait kondisi dan performa aset secara berkala. Data tersebut dapat berasal dari sensor, hasil inspeksi teknisi, maupun catatan operasional mesin yang membantu perusahaan memahami kondisi aktual peralatan.

c. Analisis Kondisi Mesin

Divisi maintenance kemudian mengevaluasi data yang terkumpul untuk menemukan indikasi gangguan atau perubahan performa mesin. Hasil evaluasi tersebut membantu perusahaan memahami tingkat kesehatan aset dan menentukan kebutuhan tindakan perawatan yang sesuai.

d. Menentukan Waktu Maintenance

Berdasarkan hasil analisis kondisi mesin, perusahaan dapat menentukan waktu yang paling tepat untuk melakukan perawatan. Langkah ini betujuan agar divisi maintenace dapat melakukan inspeksi tanpa harus mengikuti jadwal waktu yang mungkin tidak sesuai dengan kondisi aset.

e. Menjalankan Maintenance Action

Langkah terakhir melibatkan melakukan maintenance berdasarkan hasil dari penilaian kondisi mesin. Divisi maintenance dapat melakukan inspeksi, perbaikan, atau penggantian sparepart yang akan membantu memastikan aset beroperasi secara optimal dan dapat meminimalkan peluang terjadinya downtime.

3. Komponen Utama dalam Condition Based Maintenance

Komponen Utama dalam Condition Based Maintenance

Penerapan CBM membutuhkan beberapa komponen yang saling terhubung, mulai dari condition monitoring untuk memantau aset, sensor dan IoT device untuk mengumpulkan data, data analytics untuk mengolah informasi, maintenance management system untuk mengatur perawatan, hingga human expertise untuk menentukan tindakan maintenance yang tepat. Berikut ini adalah komponennya:

a. Condition Monitoring

Condition monitoring merupakan proses pemantauan kondisi aset secara berkala untuk mengetahui perubahan performa mesin. Proses ini menggunakan metode inspeksi seperti pemantauan getaran, suhu, tekanan, atau parameter lain untuk menemukan tanda awal gangguan sebelum menyebabkan kerusakan.

b. Sensor dan IoT Device

Sensor dan IoT device berfungsi mengumpulkan data kondisi mesin secara otomatis dan real-time. Perangkat ini mengumpulkan informasi tentang berbagai parameter operasional, meliputi tingkat getaran, temperatur, dan fungsi dari komponen lalu meneruskan informasi tersebut untuk membantu proses pemantauan aset.

c. Data Analytics

Data analytics membantu perusahaan dalam mengubah informasi tentang kondisi aset menjadi informasi yang mudah dipahami. Melalui data analytics, divisi maintenance dapat mengidentifikasi tren perubahan kinerja mesin dan bertindak sesuai dengan itu.

d. Maintenance Management System

Maintenance management system membantu perusahaan mengelola proses pemeliharaan mereka berdasarkan hasil dari pemantauan kondisi aset. Sistem ini memfasilitasi penjadwalan kegiatan pemeliharaan, pencatatan riwayat pelayanan, dan mengoordinasikan kegiatan divisi maintenance.

e. Human Expertise

Human expertise tetap menjadi komponen penting dalam penerapan CBM karena teknisi dan engineer memiliki peran dalam memahami hasil pemantauan aset. Keahlian tersebut membantu perusahaan menentukan keputusan maintenance berdasarkan data dan kondisi aktual mesin.

4. Jenis-Jenis Condition Based Maintenance

CBM memiliki beberapa metode pemantauan, di antaranya Vibration Monitoring, Temperature Monitoring, Oil Analysis, Pressure Monitoring, Infrared Thermography, dan Electrical Parameter Monitoring. Berikut adalah jenis-jenis CBM yang umum digunakan:

  • Vibration Monitoring: Memantau getaran mesin untuk mendeteksi terjadinya ketidakseimbangan atau kerusakan mekanis pada mesin.
  • Temperature Monitoring: Mengawasi perubahan suhu mesin untuk menemukan indikasi panas berlebih karena gesekan, beban kerja tinggi, atau masalah komponen.
  • Oil Analysis: Mengevaluasi kondisi oli untuk menentukan apakah ada kontaminasi, komponen yang dan kualitas pelumasan mesin.
  • Pressure Monitoring: Mengukur perubahan tekanan pada sistem mesin untuk mengidentifikasi kebocoran, penyumbatan, atau penurunan performa operasional.
  • Infrared Thermography: Mendeteksi perubahan suhu permukaan dan potensi masalah pada komponen mesin menggunakan inframerah.
  • Electrical Parameter Monitoring: Memeriksa parameter listrik seperti arus, tegangan, dan daya untuk menentukan kondisi dan kinerja mesin listrik.

5. Perbedaan Condition Based Maintenance vs Preventive Maintenance

CBM adalah strategi pemeliharaan dimana kegiatan pemeliharaan bergantung pada kondisi peralatan. Perusahaan menggunakan data dari sensor, inspeksi, atau analisis kinerja aset untuk mengetahui kapan peralatan tersebut membutuhkan perawatan. Hal ini memastikan divisi maintenance melakukan pemeliharaan berdasarkan kondisi yang sebenarnya bukan hanya perkiraan saja.

Sementara itu, PM merupakan metode perawatan yang berjalan secara berkala berdasarkan jadwal atau interval waktu tertentu, meskipun mesin belum menunjukkan tanda kerusakan. Tujuan dari teknik ini adalah untuk mempertahankan efisiensi aset dengan melakukan inspeksi, penggantian spare part, atau pemeliharaan secara berkala sesuai dengan periode yang telah ditentukan.

CBM cocok untuk mesin kritis yang memiliki risiko downtime tinggi, seperti mesin produksi, turbin, atau kompresor industri. Sebaliknya, PM cocok untuk mesin yang memiliki jadwal maintenance berkala sepert filter dan oli. Di samping dua metode tersebut, ada Total Productive Maintenance (TPM) yang membantu perusahaan untuk meningkatkan efisiensi mesin melalui keterlibatan seluruh divisi.

6. Apa Manfaat Condition Based Maintenance untuk Industri Manufaktur?

Penerapan CBM memberikan berbagai manfaat bagi industri manufaktur, di antaranya mengurangi downtime produksi, mengoptimalkan biaya maintenance, memperpanjang umur mesin, meningkatkan efisiensi divisi maintenance, dan mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Berikut adalah manfaat CBM bagi industri manufaktur:

a. Mengurangi Downtime Produksi

CBM membantu perusahaan mendeteksi indikasi awal kerusakan mesin sebelum gangguan terjadi. Dengan pemantauan kondisi aset secara berkala, divisi maintenance dapat melakukan tindakan perbaikan lebih cepat sehingga risiko downtime yang menghambat proses produksi dapat berkurang.

b. Mengoptimalkan Biaya Maintenance

Penerapan CBM membantu perusahaan mengalokasikan biaya maintenance secara lebih efektif berdasarkan kebutuhan aktual mesin. Divisi maintenance tidak perlu melakukan perawatan yang belum perlu sehingga perusahaan dapat mengurangi pengeluaran untuk inspeksi maupun penggantian komponen.

c. Memperpanjang Umur Mesin

CBM membantu perusahaan menjaga kondisi mesin melalui pemantauan performa dan tindakan perawatan yang sesuai. Dengan menangani potensi gangguan lebih awal, perusahaan dapat mengurangi tingkat keausan komponen dan memperpanjang masa penggunaan aset.

d. Meningkatkan Efisiensi Tim Maintenance

CBM membantu divisi maintenance menyusun prioritas pekerjaan berdasarkan kondisi aset yang membutuhkan perhatian. Pendekatan ini membuat teknisi dapat menjalankan tugas maintenance pabrik manufaktur secara lebih efektif, mulai dari inspeksi mesin, analisis kondisi aset, hingga pelaksanaan tindakan perawatan sesuai kebutuhan.

e. Mendukung Pengambilan Keputusan Berbasis Data

CBM menyediakan informasi kondisi aset yang membantu perusahaan mengambil keputusan maintenance secara lebih tepat. Data hasil pemantauan dapat menjadi dasar bagi divisi maintenance untuk menyusun strategi perawatan, menentukan prioritas, dan mengevaluasi performa aset melalui indikator seperti MTBF, MTTR, dan MTTF.

7. Contoh Penerapan Condition Based Maintenance di Industri

Contoh Penerapan Condition Based Maintenance di Industri

CBM berlaku pada berbagai aset industri manufaktur untuk menjaga performa dan mencegah gangguan operasional. Penerapannya mencakup mesin CNC manufacturing, mesin injection molding, conveyor production line, packaging machine, dan compressor dan utility equipment yang membutuhkan pemantauan kondisi secara berkala. Berikut adalah contoh penerapan CBM di industri:

a. Mesin CNC Manufacturing

Pada mesin CNC, CBM membantu memantau kondisi komponen seperti spindle, motor, dan sistem pemotongan. Sensor dapat mendeteksi perubahan getaran atau suhu sehingga divisi maintenance dapat melakukan tindakan sebelum terjadi penurunan kualitas hasil produksi.

b. Mesin Injection Molding

CBM pada mesin injection molding membantu perusahaan memantau kondisi heater, hydraulic system, dan komponen cetakan. Pemantauan parameter mesin membantu mendeteksi gangguan lebih awal agar proses produksi plastik tetap berjalan stabil.

c. Conveyor Production Line

Penerapan CBM pada conveyor production line membantu memantau kondisi motor, belt, dan roller selama proses produksi. Data pemantauan dapat membantu divisi maintenance menemukan tanda keausan atau gangguan sebelum menghambat aliran produksi.

d. Packaging Machine

CBM pada packaging machine membantu menjaga performa mesin pengemasan melalui pemantauan komponen seperti sensor, motor, dan sistem mekanis. Perusahaan dapat mengidentifikasi potensi gangguan untuk menjaga kecepatan dan kualitas proses packaging.

e. Compressor dan Utility Equipment

CBM pada compressor dan utility equipment membantu memantau tekanan, suhu, serta performa komponen utama. Pemantauan ini membantu perusahaan menjaga ketersediaan utility equipment penting dan mengurangi risiko gangguan yang dapat memengaruhi operasional manufaktur.

8. Tantangan Implementasi Condition Based Maintenance

Implementasi CBM membantu perusahaan dalam mengatasi masalah maintenance, terutama jika mereka bergantung pada break down maintenance yang menunggu peralatan rusak. Selain itu perusahaan juga harus memastikan kesiapan teknologi, kualitas data, dan kompetensi tim untuk sistem CBM agar dapat berfungsi secara efektif. Berikut adalah tantangan dalam penerapan CBM:

a. Membutuhkan Investasi Teknologi

Penerapan CBM membutuhkan investasi teknologi seperti sensor, IoT device, dan sistem monitoring untuk mengumpulkan data kondisi aset. Perusahaan perlu menyiapkan infrastruktur yang sesuai agar proses pemantauan mesin berjalan efektif dan memberikan hasil yang optimal.

b. Membutuhkan Data yang Akurat

CBM bergantung pada kualitas data kondisi mesin untuk menentukan tindakan maintenance yang tepat. Data yang tidak lengkap atau tidak akurat dapat membuat perusahaan kesulitan mengidentifikasi potensi gangguan dan mengambil keputusan perawatan yang sesuai.

c. Membutuhkan Kompetensi Tim

Penerapan CBM membutuhkan kemampuan teknis dari divisi maintenance untuk memahami data, membaca kondisi aset, dan menentukan tindakan yang diperlukan. Perusahaan perlu meningkatkan kompetensi teknisi agar sistem CBM dapat berjalan sesuai tujuan operasional.

Tantangan tersebut membuat perusahaan membutuhkan sistem terintegrasi untuk menghubungkan data aset, maintenance, inventory, dan operasional. ScaleOcean Atlas for Manufacturing membantu mengelola proses tersebut, sementara ScaleMind sebagai AI Business Assistant memberikan insight untuk keputusan maintenance. Jadwalkan konsultasi gratis bersama ScaleOcean!

Manufaktur

9. Hubungan Condition Based Maintenance dengan Smart Manufacturing

Peran CBM dalam smart manufacturing meningkat karena dapat membantu perusahaan untuk menghubungkan divisi maintenance mereka dengan teknologi digital. Melalui sensor, IoT, dan sistem analitik, perusahaan dapat memantau kondisi mesin secara real-time serta memperoleh informasi untuk menjaga kelancaran proses produksi.

Selain itu, CBM mendukung konsep smart manufacturing dengan mengubah aktivitas maintenance dari tindakan reaktif menjadi strategi yang lebih proaktif. Data kondisi aset membantu divisi maintenance mengenali potensi gangguan lebih awal, menentukan prioritas perawatan, dan mengurangi risiko penghentian produksi yang tidak terencana.

Integrasi CBM dengan smart manufacturing juga membantu perusahaan meningkatkan efisiensi operasional melalui pengambilan keputusan berbasis data. Dengan memanfaatkan teknologi digital, perusahaan dapat mengoptimalkan penggunaan aset, meningkatkan produktivitas mesin, dan membangun sistem produksi yang lebih fleksibel serta berkelanjutan.

10. Cara Implementasi Condition Based Maintenance di Perusahaan Manufaktur

Implementasi CBM melibatkan proses yang memastikan perusahaan memanfaatkan informasi tentang kondisi asetnya. Proses ini terdiri dari identifikasi komponen mesin, menetapkan kriteria pemantauan, pemasangan sensor, pengembangan sistem pemeliharaan, pengaturan ambang batas dan alarm dan evaluasi kinerja. Berikut adalah langkah implementasi CBM di perusahaan manufaktur:

a. Identifikasi Mesin Kritis

Mengidentifikasi mesin yang kegagalannya memengaruhi operasi produksi adalah langkah pertama dalam menerapkan CBM. Perusahan harus mampu mengidentifikasi peralatan yang mungkin mengalami seringnya kerusakan, perbaikan yang mahal dan/atau penting dalam kelangsungan proses produksi.

b. Tentukan Parameter Monitoring

Setelah mengidentifikasi mesin kritis, maka perusahaan harus menetapkan parameter untuk memantau mesin berdasarkan sifat mesin tersebut. Beberapa parameter yang bisa ditetapkan antara lain getaran, suhu, tekanan, atau kondisi oli dari mesin tersebut.

c. Pasang Sensor dan Sistem Monitoring

Pemasangan sensor dan sistem pemantauan akan membantu perusahaan dalam memperoleh data tentang kondisi mesin. Teknologi ini membantu divisi maintenance dalam memperoleh informasi tentang kondisi aset dan mengidentifikasi perubahan apa saja yang mungkin mengganggu operasi.

d. Integrasikan dengan Maintenance System

Integrasi CBM dengan maintenance system membantu perusahaan menghubungkan data kondisi aset dengan aktivitas perawatan. Sistem ini memudahkan divisi maintenance mengatur jadwal pekerjaan, mencatat riwayat perawatan, dan menentukan tindakan berdasarkan hasil pemantauan.

e. Buat Threshold dan Alert

Perusahaan harus menetapkan tingkat alert setiap variabel mesin untuk memastikan bahwa sistem dapat mengidentifikasi variasi yang tidak normal. Peringatan ini akan membantu divisi maintenance menyadari adanya masalah dan akhirnya bisa mengambil langkah-langkah pencegahan terjadinya kerusakan lebih parah.

f. Evaluasi Performance

Langkah terakhir adalah mengevaluasi kinerja proses CBM untuk menilai efisiensi proses maintenance. Perusahaan dapat menganalisis data mengenai waktu henti, biaya pemeliharaan, dan status aset untuk memeriksa proses pemeliharaan berkelanjutan performance suatu mesin.

11. Kesimpulan

CBM membantu perusahaan manufaktur melakukan perawatan mesin berdasarkan kondisi aktual aset, bukan hanya jadwal atau setelah terjadi kerusakan. Dengan pemantauan sensor, analisis data, dan sistem maintenance yang tepat, CBM dapat mengurangi downtime, mengoptimalkan biaya, serta meningkatkan keandalan mesin.

Untuk mendukung penerapan maintenance berbasis data, ScaleOcean Atlas for Manufacturing menghubungkan asset management, maintenance workflow, inventory, produksi, dan keuangan dalam satu sistem. ScaleMind yang embedded sebagai AI Business Assistant juga membantu tim membaca data, merangkum performa aset, dan menemukan insight. Jadwalkan konsultasi gratis bersama ScaleOcean untuk menjaga aset perusahaan Anda!

FAQ:

1. Apa itu RCM (Reliability-Centered Maintenance)?

Reliability-Centered Maintenance (RCM) adalah metode pemeliharaan yang menentukan strategi maintenance paling efektif berdasarkan fungsi, risiko, dan kondisi aset. Pendekatan ini membantu perusahaan memilih tindakan perawatan yang tepat agar mesin tetap berjalan optimal sesuai kebutuhan operasional.

2. Apa saja 8 pilar Total Productive Maintenance (TPM)?

8 pilar Total Productive Maintenance (TPM) adalah pendekatan untuk meningkatkan keandalan mesin dan efisiensi operasional melalui perbaikan berkelanjutan. Pilar tersebut mencakup Focused Improvement, Autonomous Maintenance, Planned Maintenance, Quality Maintenance, Early Equipment Management, Education and Training, Administrative TPM, dan Safety, Health, and Environment (SHE).

3. Bagaimana 7 langkah autonomous maintenance?

7 langkah autonomous maintenance membantu operator melakukan perawatan dasar mesin secara mandiri. Tahapannya mencakup peningkatan pengetahuan operator, pembersihan dan inspeksi awal, menghilangkan sumber kontaminasi, membuat standar sementara, inspeksi umum, standarisasi manajemen mandiri, hingga menjalankan perawatan secara mandiri.

Keisha Felita Aryamaulana
Keisha Felita Aryamaulana
Felita adalah SEO content writer yang merancang strategi dan menulis konten untuk membantu pelaku bisnis menemukan solusi tepat lewat pemanfaatan software ERP.

ERP Buat Bisnis Ngebut

Operasional rapi, bisnis makin cepat

ERP Dashboards Demo Gratis
Dekson Sinarmas Bank of China Changi Shalby

Coba Demo Gratis!

Error message
Error message
Error message
Error message
Error message
Error message

Rekomendasi Artikel Terkait

Temukan Artikel Serupa untuk Solusi Bisnis Lebih Lengkap