Revolusi Industri 4.0: Pengertian, Dampak, dan Contohnya bagi Bisnis

Posted on
Share artikel ini

Revolusi industri 4.0 adalah sebuah evolusi digital yang mengubah cara perusahaan menjalankan operasional, mengelola data, dan meningkatkan efisiensi bisnis. Konsep ini melibatkan penggunaan teknologi seperti Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), big data, dan SaaS untuk menciptakan proses kerja yang lebih cepat, akurat, dan terintegrasi.

Penerapan revolusi industri 4.0 membantu perusahaan mengintegrasikan data, mempercepat proses kerja, dan meningkatkan akurasi pengambilan keputusan. Melalui artikel ini, Anda akan memahami pengertian revolusi industri 4.0, dampaknya bagi bisnis, serta contoh teknologi yang mendukung penerapannya di berbagai industri.

starsKey Takeaways

Coba Demo Gratis!

requestDemo

1. Pengertian Revolusi Industri 4.0

Revolusi industri 4.0 adalah transformasi digital yang mengintegrasikan teknologi paling baru dan canggih ke berbagai proses bisnis untuk meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas output bisnis. Teknologi yang digunakan meliputi Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), big data, hingga sistem berbasis cloud seperti SaaS.

Istilah ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 2011 di Hannover Fair, Jerman. Seiring perkembangan teknologi, hal ini tidak lagi sebatas konsep, melainkan sudah menjadi standar baru dalam operasional bisnis di berbagai industri, mulai dari manufaktur, logistik, retail, hingga jasa profesional.

Namun, dengan perkembangan pesat teknologi pada belakangan ini, terutama AI, salah satu bentuk tren ERP, semakin banyak negara dan bisnis di dunia mulai menerapkan teknologi industri 4.0 untuk mengoptimalkan proses bisnis. Dengan adanya revolusi industri 4.0, keterlibatan manusia berkurang dan otomatisasi meningkat, sehingga kemungkinan terjadinya human error berkurang.

2. Kondisi Revolusi Industri 4.0 di Indonesia

Melalui pembahasan singkat sebelumnya, dapat dinyatakan bahwa partisipasi persiapan demi industri 4.0 merupakan suatu hal yang wajib dilakukan oleh negara-negara di dunia untuk bersaing dari era globalisasi ini.

Indonesia memiliki potensi besar dalam penerapan industri 4.0, terutama dengan tingginya jumlah pengguna internet dan pertumbuhan ekonomi digital. Namun, tingkat adopsi teknologi di berbagai sektor masih belum merata jika dibandingkan dengan negara seperti Singapura, Malaysia, atau Thailand.

Walau sudah banyak perusahaan besar telah mulai mengadopsi sistem digital untuk meningkatkan efisiensi operasional, mbanyak bisnis yang menghadapi kendala seperti keterbatasan infrastruktur, investasi teknologi, serta kesiapan sumber daya manusia.

Bahkan, dampaknya sudah pernah dirasakan oleh bisnis lokal sebelumnya. Pada bulan Maret 2025, PT Sritex, sebuah perusahaan tekstil ternama di Indonesia, resmi bangkrut. Hal ini terjadi dikarenakan adanya beberapa faktor, yakni impor tekstil ilegal yang lebih murah dari Cina dan praktiknya yang kurang kompetitif.

PT Sritex PHK.

Salah satu alasan produk impor dari negara bambu sering lebih murah adalah perbedaan tingkat otomatisasi dan efisiensi produksi. Dalam tayangan CNA Insider, terlihat bahwa sejumlah pabrik di sana telah menggunakan mesin dan sistem otomatis untuk menjalankan proses produksi secara berkelanjutan, dengan campur tangan manusia yang lebih terbatas pada pengawasan dan pengendalian teknologi.

Keunggulan tersebut tentu saja sangat menekankan produsen lokal seperti PT Sritex yang masih melibatkan banyak jumlah manusia ke dalam proses produksi tekstil. Tidak hanya proses bisnis yang kurang efisien, hal ini juga dapat meningkatkan harga produk akhir untuk menutupi gaji tenaga kerja yang berlimpah, yakni berada di kisaran 10.600 yang juga kena PHK pada bulan Maret lalu.

Hal ini sebenarnya tidak dapat sepenuhnya dapat dikendalikan oleh PT Sritex atau bisnis manapun itu, karena memerlukan insentif besar dari pemerintah untuk mengembangkan industri-industri negara. Namun, tindakan-tindakan pemerintah yang bersifat melindungi industri lokal dari negara lain malahan dapat mencegah terjadinya perkembangan tersebut.

Situasi serupa juga dapat dilihat di bidang lain, seperti pertanian dan perikanan. Di banyak negara, pemanfaatan alat modern dan sistem otomatis telah membantu mempercepat proses kerja, meningkatkan produktivitas, serta menekan biaya operasional. Sementara itu, di Indonesia, adopsi teknologi di sektor-sektor tersebut masih berkembang secara bertahap dan belum merata.

Padahal, penerapan prinsip otomasi industri sederhana pada alat-alat pertanian dapat melipatgandakan hasil panen sekaligus menekan biaya operasional para petani, dan membuat proses kerja menjadi lebih efisien dan mudah dipantau

Contohnya, negara-negara lain, termasuk Cina telah menerapkan teknologi canggih seperti traktor untuk menanam dan mengolah pertaniannya. Sedangkan petani-petani di Tanah Air masih menggunakan kerbau untuk melakukan proses yang sama, karena mereka tentu saja tidak mampu membeli teknologi-teknologi canggih tersebut.

Kasus E-Fishery yang belakangan ini muncul sangat mengharukan para investor, namun ide dan konsep dari bisnis itu sebenarnya bagus. Sistem dan mesinnya tidak hanya dapat memberi makan kepada ikan secara periodik dan otomatis, namun juga merupakan produk anak bangsa yang dapat menjadi salah satu komponen inti dalam penerapan revolusi industri 4.0 di Indonesia.

Bayangkan sejenak, apabila pemerintah memilih untuk melakukan akuisisi pada E-Fishery dan menjadikannya sebagai BUMN. Pemerintah kemudian memberikan subsidi kepada pemilik perkebunan ikan untuk membeli mesin feeder tersebut, sehingga lebih mudah terjangkau oleh mereka. Hasil akhirnya? Industri perikanan di Indonesia tentu saja akan berkembang dengan sangat pesat dan menjadi lebih kompetitif.

Dari sini dapat dilihat bahwa revolusi industri 4.0 tidak hanya relevan bagi pabrik atau industri manufaktur. Pemanfaatan teknologi juga berpotensi memperkuat sektor pertanian, perikanan, distribusi, hingga jasa, selama penerapannya disesuaikan dengan kebutuhan dan kesiapan masing-masing industri.

3. Dampak Revolusi Industri 4.0 Terhadap Bisnis

Tentunya penerapan revolusi industri 4.0 dalam perusahaan dapat membawa dampak negatif bagi perusahaan. Namun, bisnis akan mengalami peningkatan performa dan daya saing apabila menggunakan teknologi seperti enterprise systems dalam prosesnya. Simak dampaknya berikut ini:

a. Dampak Positif Industri 4.0

  • Efisiensi operasional meningkat karena proses bisnis dapat berjalan otomatis dan terintegrasi.
  • Pengambilan keputusan lebih cepat berkat data real-time dan analitik yang akurat.
  • Daya saing bisnis meningkat karena perusahaan mampu beradaptasi dengan perubahan pasar.
  • Jangkauan pasar lebih luas melalui platform digital dan sistem terintegrasi.
  • Pengendalian biaya lebih optimal dengan pemantauan proses yang lebih transparan.

b. Dampak Negatif Industri 4.0

  • Perusahaan perlu membeli teknologi paling canggih dan baru untuk mengoptimalkan produksi pabriknya, sehingga biaya yang diperlukan cenderung sangat besar.
  • Meskipun unggul, penyimpanan data ke server atau cloud digital memungkinkan terjadinya serangan siber terhadap perusahaan yang memaksa bisnis untuk melakukan investasi pada infrastruktur dan tenaga kerja yang terampil.
  • Bila menerapkan teknologi untuk otomatisasi proses tentunya akan menghadapi tantangan dari tenaga kerja karena bisnis akan melakukan PHK dalam skala besar yang menghapus pendapatan mereka.

4. Apa Saja Contoh Penerapan Revolusi Industri 4.0 di Indonesia

Penerapan revolusi industri 4.0 sebenarnya sudah cukup dekat dengan aktivitas sehari-hari di Indonesia. Kehadirannya terlihat dari berbagai layanan digital yang digunakan masyarakat untuk berbelanja, pendidikan, bertransaksi, hingga mengakses jasa dengan lebih cepat dan praktis.

Indonesia merupakan negara peringkat ke-4 di dunia dengan jumlah pengguna internet paling besar, yang berarti mempunyai potensi penerapan industri 4.0 paling besar di dunia. Meskipun revolusi industri ini belum sepenuhnya diterapkan di Indonesia, sudah terdapat beberapa contoh penerapannya yakni seperti berikut:

a. 3D Printing

3D printing merupakan teknologi yang memungkinkan pembuatan objek berdasarkan desain digital dengan cara mencetak material secara bertahap. Proses ini berbeda dari metode tradisional seperti pemotongan atau pengecoran, yang justru mengurangi atau membentuk bahan dari blok besar. Teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk membuat prototipe produk, alat bantu medis, hingga komponen tertentu dengan proses yang lebih cepat dan menghemat biaya.

b. E-Commerce Platform

Hal ini merupakan suatu hal yang sangat umum di Indonesia, dan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di kalangan masyarakat. Platformplatform seperti Shopee dan Tokopedia merupakan dua contoh utama ecommerce di Indonesia. Meskipun begitu, terdapat beberapa permasalahan seputar penjualan barang-barang impor ilegal yang melanda penjualan dari platformplatform tersebut.

c. Service Aggregator

Sebuah aggregator layanan adalah pihak yang mengumpulkan beberapa informasi, jasa atau bisnis menjadi satu agar lebih mudah diakses oleh orang tertentu. Contoh service aggregator paling umum di Indonesia adalah aggregator keuangan seperti GoPay dan ShopeePay yang mengintegrasikan berbagai metode pembayaran ke dalam satu platform.

d. Digital Marketing Agency

Peran digital marketing agency juga menjadi bagian dari revolusi industri 4.0 karena membantu bisnis memasarkan produk secara digital. Hal ini penting dalam mendukung business digital transformation dari sisi branding dan komunikasi agar memastikan perusahaan tetap relevan di mata konsumen digital.

Jenis-jenisnya beragam, dapat berupa agensi spesialis periklanan, sosial media, talent atau SEO (Search Engine Optimization).

e. Online Courses

Kursus online juga mencerminkan penerapan industri 4.0 dalam kehidupan sehari-hari. Melalui sistem pembelajaran digital, masyarakat dapat mengakses materi, mengikuti kelas, dan meningkatkan keterampilan dari mana saja tanpa terbatas oleh lokasi fisik.

5. Jenis Teknologi Pendukung Industri 4.0

Teknologi-teknologi yang diterapkan ke dalam masing-masing bisnis cenderung bervariasi dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan, dari teknologi yang terintegrasi ERP hingga database. Beberapa contoh dari teknologi industri 4.0 tersebut adalah:

a. SaaS dan ERP Terintegrasi ScaleOcean

Menerapkan sistem ERP manufaktur scaleocean dalam industri 4.0.

SaaS atau Software as a Service adalah sebuah jasa pelayanan perangkat lunak yang membantu perusahaan meningkatkan kinerja operasionalnya. Teknologi ini memberikan kemampuan bagi pimpinan untuk memantau segala proses bisnis dari satu dasbor.

Sebagai salah satu software ERP terbaik Indonesia, ScaleOcean mendukung business digital transformation dengan fitur yang fleksibel untuk berbagai sektor, mulai dari ritel hingga jasa profesional.

Software-nya menjadi pilihan banyak perusahaan karena fitur dan modulnya yang beragam, sehingga dapat memenuhi kebutuhan apa saja yang dimiliki bisnis. Kemudahan integrasi antar cabang perusahaan dan sistem seperti aplikasi akuntansi juga merupakan beberapa pertimbangan lain yang sering muncul.

Vendor tersebut menyediakan demo gratis bagi perusahaan-perusahaan yang belum pernah menggunakan SaaS untuk merasakan secara langsung manfaat dari penerapan perangkat lunak. Berikut ini beberapa fitur utama dalam sistem ERP ScaleOcean

  • Production Planning and Scheduling: Membuat jadwal produksi dengan mempertimbangkan kemampuan mesin, ketersediaan bahan, serta permintaan pelanggan, agar terhindar dari hambatan dan waktu kosong dalam proses produksi.
  • Machine Monitoring System (Integrasi IIoT): Memantau kinerja dan keadaan mesin secara langsung, mengirimkan pemberitahuan jika ada penurunan kinerja mesin atau memerlukan perawatan.
  • Quality Control (QC): Mengawasi pemeriksaan kualitas di setiap tahapan produksi, mencatat langkah-langkah perbaikan dan laporan kualitas barang.
  • Smart MRP (Material Requirement Planning): Mengotomatiskan penghitungan kebutuhan bahan baku sesuai dengan rencana produksi dan waktu pengiriman, membantu menjamin bahwa bahan tersedia pada waktu yang tepat dan dalam jumlah yang sesuai.
  • BOM Management (Bill of Materials): Mengatur daftar bahan baku, elemen, dan elemen kecil secara otomatis, membuat proses perencanaan dan pengendalian produksi menjadi lebih mudah.
  • Integrated SCM (Supply Chain Management): Menggabungkan semua aspek rantai pasokan mulai dari pengaturan waktu hingga pengolahan pesanan dalam satu sistem.
  • Cost Management: Menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) dengan cara otomatis dan tepat, serta mengawasi semua elemen pengeluaran seperti bahan utama, tenaga kerja, dan biaya tambahan.

b. Internet of Things (IoT)

Internet of Things (IoT) adalah penggunaan perangkat yang saling terhubung untuk mengawasi dan mengoptimalkan aset perusahaan secara real-time. Perangkat ini bisa berupa sensor mesin di pabrik, pelacak armada logistik, hingga sistem keamanan kantor pintar.

c. Big Data dan Analitik

Big data merujuk pada volume data besar yang berhubungan dengan segala operasi bisnis. Informasi-informasi tersebut kemudian dianalisis secara mendalam untuk membantu dalam pengambilan keputusan strategis perusahaan.

Penerapan konsep big data dalam ERP memberikan visibilitas yang tajam bagi pimpinan untuk mengantisipasi perubahan perilaku konsumen. AI menjadi tulang punggung yang memungkinkan pengambilan keputusan otomatis yang cerdas.

d. AI (Artificial Intelligence)

AI (Artificial Intelligence) atau kecerdasan buatan merupakan suatu hal yang semakin merajalela pada belakangan tahun ini. Teknologi berikut lah yang menjadi tulang punggung yang memungkinkan otomatisasi operasional bisnis total pada industri 4.0.

Kecerdasan buatan dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu generative AI dan agentic AI. Gen AI berfungsi untuk membuat suatu hal, sedangkan agentic AI berperan dalam mengambil keputusan.

6. Kesimpulan

Revolusi industri 4.0 merupakan sesuatu yang masih berada dalam tahapan-tahapan awal, namun penting bagi bisnis untuk menerapkan teknologi-teknologi yang ada ke dalam operasinya untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing dalam era perdagangan internasional sekarang yang sangat kompetitif. Bila tidak, perusahaan yang Anda bangun dari dulu hingga sekarang berpotensi runtuh seperti PT Sritex.

Jika Anda tidak ingin hal tersebut terjadi, sebaiknya Anda mulai menerapkan teknologi industri 4.0 ke dalam bisnis Anda dengan segera. Jenis teknologi yang biasanya diimplementasi terlebih dahulu adalah sistem ERP ScaleOcean yang memberikan gambaran lebih jelas terhadap keseluruhan produksi. Anda dapat mencoba terlebih dahulu sistemnya melalui demo gratis yang ditawarkan oleh vendor tersebut.

FAQ:

1. Apa saja contoh industri 4.0 yang ada?

Industri 4.0 mencakup penggunaan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), big data, dan cloud computing. Tujuannya adalah untuk mendorong otomatisasi dan digitalisasi dalam berbagai sektor, seperti manufaktur, layanan publik, perdagangan (e-commerce), dan kesehatan.

2. Bagaimana penerapan Revolusi Industri 4.0 dapat memecahkan masalah dalam industri?

Penerapan ini dapat memecahkan masalah industri dengan mengumpulkan lebih banyak data dari lantai pabrik dan menggabungkannya dengan data operasional perusahaan lainnya. Pabrik pintar yang memanfaatkan data terintegrasi ini dapat mencapai transparansi informasi untuk keputusan yang lebih baik.

3. Apa dampak revolusi industri 4.0 dalam kehidupan pekerjaan di masa kini?

Dampak utamanya bukan menggantikan manusia, melainkan memungkinkan manusia untuk bekerja lebih cerdas, efisien, dan kreatif. Revolusi Industri 4.0 bertujuan menciptakan dunia kerja yang lebih dinamis dan inovatif melalui kolaborasi antara manusia dan teknologi baru.

Bestoto Ferninand
Bestoto Ferninand
Bestoto Ferninand adalah seorang professional dengan pengalaman 1 tahun sebagai content writer yang berpengalaman dalam menulis artikel seputar permasalahan dan solusi industri.

Jadwalkan Demo Gratis

Error message
Error message
Error message
Error message
Error message
Error message

Rekomendasi Artikel Terkait

Temukan Artikel Serupa untuk Solusi Bisnis Lebih Lengkap