Fenomena ghost assets menjadi tantangan dalam pengelolaan aset, terutama di perusahaan yang masih menggunakan pencatatan manual. Aset yang tercatat tapi hilang, rusak, atau tak terpakai ini dapat menyebabkan pemborosan biaya, kesalahan laporan keuangan, dan keputusan investasi yang tidak tepat.
Oleh karena itu, penerapan asset tracking menjadi langkah strategis untuk menangani sekaligus mencegah munculnya ghost assets. Dengan memanfaatkan teknologi pelacakan dan pencatatan otomatis, perusahaan dapat memantau lokasi serta status aset secara real-time.
Visibilitas data yang akurat membantu tim memastikan setiap aset benar-benar ada dan digunakan secara optimal. Artikel ini akan membahas mengenai apa itu asset tracking, manfaatnya bagi perusahaan Anda, cara kerja sistem tersebut, serta contoh penerapannya dalam industri.
- Asset tracking adalah proses yang memantau lokasi, penggunaan, serta kondisi aset tetap menggunakan teknologi seperti barcode, RFID dan IoT
- Asset tracking perlu diterapkan oleh perusahaan untuk meningkatkan visibilitas, keamanan, dan efisiensi operasional perusahaan.
- Manfaat asset tracking bagi perusahaan berupa penyediaan data yang akurat, real-time, dan terpusat serta pengotomatisasian perhitungan depresiasi.
- Software asset management ScaleOcean membantu perusahaan mengintegrasikan asset tracking dalam satu sistem terpusat yang efisien.
1. Apa Itu Asset Tracking?
Asset tracking adalah proses yang memantau lokasi, penggunaan, serta kondisi aset tetap menggunakan teknologi seperti barcode, RFID dan IoT. Proses ini melibatkan penggunaan teknologi untuk mengetahui lokasi, status, kondisi, dan riwayat pemeliharaan setiap aset secara real-time.
Fokus utama dari pelacakan aset adalah pada fixed assets, yaitu barang yang dimiliki perusahaan untuk penggunaan jangka panjang dan tidak untuk dijual kembali dalam waktu dekat. Dengan memantau aset-aset bernilai tinggi ini, perusahaan dapat membuat keputusan yang cerdas terkait pemeliharaan, penggantian, dan alokasi sumber daya.
2. Mengapa Perusahaan Perlu Menerapkan Asset Tracking?
Perusahaan perlu menerapkan sistem asset tracking karena sistem tersebut meningkatkan visibilitas, keamanan, dan efisiensi operasional perusahaan. Dengan adanya urgensi di pasar Indonesia, serta dampak buruknya manajemen aset secara manual berikan kepada perusahaan besar. Berikut alasan-alasan mengapa perusahaan perlu menerapkan asset tracking:
a. Urgensi Digitalisasi Aset di Pasar Indonesia
Pasar Indonesia yang terus berkembang pesat menuntut perusahaan untuk lebih adaptif dan efisien melalui transformasi digital. Perusahaan yang masih mengandalkan metode manual akan tertinggal jauh dari kompetitor yang telah mengadopsi teknologi untuk mengelola sumber dayanya.
Proses digitalisasi memungkinkan perusahaan memiliki visibilitas penuh terhadap seluruh aset yang tersebar di berbagai lokasi, mulai dari kantor pusat hingga cabang terpencil. Dengan data yang terpusat di cloud, manajer dapat membuat keputusan berbasis data secara cepat dan akurat tanpa harus bergantung pada laporan fisik yang lambat dan tidak efisien.
Urgensi ini didorong oleh ekspektasi pelanggan dan mitra bisnis yang semakin tinggi terhadap kecepatan dan keandalan layanan. Ketika aset operasional seperti kendaraan pengiriman atau alat berat dapat dilacak secara real-time, perusahaan dapat memberikan estimasi waktu yang lebih akurat dan mengoptimalkan jadwal kerja.
b. Dampak Buruk Manajemen Aset Manual bagi Perusahaan Besar
Skala operasi yang luas dengan ribuan aset di berbagai lokasi membuat metode manual menjadi sangat tidak praktis dan penuh risiko. Salah satu dampak terburuknya adalah tingginya potensi human error yang dapat menyebabkan data aset menjadi tidak akurat.
Kesalahan pencatatan seperti salah ketik nomor seri, lokasi, atau status aset dapat berujung pada keputusan bisnis yang keliru. Misalnya, perusahaan mungkin membeli aset baru padahal aset serupa yang masih berfungsi tersedia di lokasi lain, atau sebaliknya, gagal melakukan pemeliharaan tepat waktu karena jadwal yang tercatat salah. Implementasi sistem manajemen aset modern dapat mengeliminasi risiko-risiko ini secara efektif.
Selain itu, proses manual menghabiskan waktu dan sumber daya manusia yang sangat berharga. Tim harus meluangkan waktu berjam-jam untuk melakukan inventarisasi fisik, rekonsiliasi data, dan menyusun laporan yang sering kali sudah usang begitu selesai dibuat. Waktu yang terbuang ini seharusnya dapat dialokasikan untuk aktivitas yang lebih strategis, seperti analisis kinerja aset atau perencanaan investasi.
Baca juga: Maintenance Checklist: Pengertian, Manfaat dan Elemennya
3. Cara Kerja Asset Tracking dalam Operasional Bisnis
Alur kerja dimulai dari pemberian identitas unik pada setiap aset, kemudian data dari identitas tersebut ditangkap oleh perangkat pemindai, ditransmisikan ke sistem pusat, diolah, dan disajikan dalam format yang mudah dipahami. Setiap langkah dalam proses ini dirancang untuk meminimalkan intervensi manual dan memaksimalkan otomatisasi. Berikut penjelasan mengenai setiap tahap dari asset tracking:
a. Pelabelan dan Identifikasi (Tagging)
Langkah pertama dalam implementasi asset tracking adalah memberikan identitas digital yang unik pada setiap aset fisik. Proses ini dikenal sebagai tagging, di mana sebuah label atau tag yang berisi pengenal unik ditempelkan pada aset.
Teknologi yang digunakan untuk tagging sangat beragam, mulai dari yang sederhana seperti barcode dan QR code hingga yang lebih canggih seperti tag RFID (Radio Frequency Identification) atau suara BLE (Bluetooth Low Energy). Pemilihan jenis tag sangat bergantung pada jenis aset, lingkungan operasional, dan tingkat detail informasi yang dibutuhkan.
Misalnya, barcode cocok untuk aset di lingkungan kantor, sementara tag RFID yang lebih tahan lama ideal untuk peralatan di lingkungan industri yang keras. Pemberian identitas unik ini adalah fondasi dari keseluruhan sistem, karena tanpanya, aset tidak dapat dilacak secara individual dan akurat.
b. Penangkapan Data (Scanning/Sensing)
Setelah setiap aset memiliki tag, tahap selanjutnya adalah menangkap atau membaca data dari tag tersebut. Proses ini dilakukan menggunakan perangkat keras khusus seperti barcode scanner, pembaca RFID, atau bahkan smartphone yang dilengkapi dengan aplikasi pemindai.
Pada sistem yang lebih canggih, seperti yang menggunakan GPS atau sensor IoT, penangkapan data terjadi secara otomatis dan berkelanjutan tanpa perlu pemindaian manual. Sensor secara proaktif mengirimkan data lokasi, suhu, kelembapan, atau status operasional aset secara periodik. Otomatisasi ini meningkatkan efisiensi dan akurasi data, terutama untuk aset bergerak atau yang berada di lokasi terpencil.
c. Transmisi Data ke Cloud
Data yang ditangkap oleh pemindai atau sensor kemudian harus dikirim ke sistem pusat untuk diproses lebih lanjut. Pada sistem modern, transmisi ini umumnya dilakukan secara nirkabel ke platform berbasis cloud. Penggunaan cloud memungkinkan data diakses dari mana saja dan kapan saja, memberikan fleksibilitas yang luar biasa bagi tim yang bekerja di lokasi berbeda.
Konektivitas dapat menggunakan berbagai teknologi, seperti Wi-Fi, jaringan seluler (4G/5G), atau teknologi LPWAN (Low-Power Wide-Area Network) yang dirancang khusus untuk perangkat IoT. Akurasi dan kecepatan transmisi data sangat menentukan agar informasi di dalam sistem selalu terbarui. Hal ini memungkinkan manajer mengambil respons cepat terhadap setiap perubahan kondisi aset.
d. Pemrosesan di Platform Perangkat Lunak
Setelah data tiba di server cloud, asset management software akan mengambil alih. Platform inilah yang menjadi otak dari keseluruhan sistem, tempat semua data mentah diolah, diorganisir, dan diubah menjadi informasi yang bermakna. Perangkat lunak ini akan memperbarui catatan setiap aset secara otomatis setiap kali ada data baru yang masuk.
Di dalam platform ini, setiap aset memiliki profil digital yang lengkap, mencakup informasi seperti ID unik, lokasi terakhir, riwayat pergerakan, jadwal pemeliharaan, data garansi, dan nilai depresiasi. Perangkat lunak juga dapat dikonfigurasi untuk memicu peringatan otomatis jika terjadi anomali, seperti saat sistem mendeteksi suhu mesin yang terlalu tinggi, sistem akan memberitahu personel terkait secara proaktif.
e. Visualisasi dan Pelaporan
Tahap akhir sistem asset tracking adalah menyajikan data dalam format yang mudah dipahami melalui dashboard interaktif, peta, dan laporan yang fleksibel. Melalui fitur ini, pengguna dapat menelusuri aset, memantau lokasi, serta mengakses data historis untuk mendukung analisis dan perencanaan aset.
Sejalan dengan kebutuhan tersebut, penggunaan software asset management ScaleOcean membantu perusahaan mengelola aset secara lebih terstruktur dan terintegrasi. Melalui modul asset tracking yang terintegrasi dengan fitur lain seperti Asset Reporting, seluruh data aset dari nama, tipe, hingga spesifikasi khusus tersimpan rapi dalam sistem terpusat yang mudah diakses kapan pun dibutuhkan.
Lebih lanjut, ScaleOcean dirancang untuk menjawab kebutuhan enterprise dengan kompleksitas proses bisnis yang tinggi, sehingga implementasinya dapat disesuaikan dengan struktur organisasi dan alur kerja perusahaan Anda. Untuk melihat bagaimana sistem ini mendukung pengelolaan aset secara lebih optimal, segera jadwalkan sesi demo gratis ScaleOcean sekarang!
4. Manfaat Strategis Penerapan Asset Tracking pada Perusahaan
Keunggulan strategis ini muncul dari kemampuan sistem untuk menyediakan data yang akurat, real-time, dan terpusat serta mengotomatisasi perhitungan depresiasi, sampai mengoptimalisasi biaya pemeliharaan. Berikut manfaat penerapan asset tracking pada perusahaan:
a. Membantu Penelusuran Aktiva Tetap & Visibilitas Real-Time
Dalam perusahaan besar dengan banyak departemen atau lokasi cabang, kehilangan jejak aset adalah masalah umum yang menyebabkan inefisiensi. Dengan asset tracking, karyawan dapat dengan cepat menemukan peralatan yang mereka butuhkan tanpa membuang waktu mencari secara manual.
Visibilitas real-time ini penting untuk aset bergerak seperti kendaraan atau kontainer pengiriman. Manajer logistik dapat memantau pergerakan armada, mengoptimalkan rute, dan memberikan informasi akurat kepada pelanggan mengenai waktu kedatangan. Kemampuan untuk melacak aset di mana pun berada secara signifikan meningkatkan efisiensi alur kerja dan responsivitas perusahaan terhadap kebutuhan pasar.
b. Pencatatan Fixed Asset yang Lebih Akurat
Pencatatan manual lewat spreadsheet rawan salah input, duplikasi, dan data usang. Asset tracking mengotomatisasi pembaruan data setiap aset yang dipindai sehingga database tetap akurat. Akurasi ini penting untuk laporan keuangan, depresiasi, dan pajak agar perhitungan tidak keliru.
Selain meningkatkan efisiensi operasional, pengelolaan aset yang akurat menjadi tuntutan kepatuhan terhadap standar akuntansi seperti PSAK 16 tentang Aset Tetap. Standar ini mewajibkan perusahaan mencatat nilai perolehan, penyusutan, serta kondisi aset secara sistematis. Oleh karena itu, penggunaan asset tracking memastikan data aset selalu akurat dan siap digunakan dalam pelaporan keuangan.
c. Otomatisasi Perhitungan Nilai Depresiasi (Penyusutan) Aset
Menghitung nilai depresiasi untuk ratusan atau ribuan aset secara manual adalah tugas yang rumit dan memakan waktu. Perangkat lunak manajemen aset modern mengotomatiskan seluruh proses ini. Perusahaan hanya perlu memasukkan data awal seperti harga perolehan, masa manfaat, dan metode depresiasi yang digunakan. Sistem akan menghitung dan memperbarui nilai buku setiap aset secara otomatis setiap periode.
Otomatisasi ini menghemat waktu departemen akuntansi dan memastikan konsistensi dan kepatuhan terhadap standar akuntansi yang berlaku. Selain itu, dengan data depresiasi yang akurat, manajer dapat membuat keputusan yang lebih baik terkait perencanaan penggantian aset. Proses ini merupakan bagian integral dari asset lifecycle management yang efektif untuk menjaga operasional tetap berjalan lancar.
d. Menjalankan Audit Aset dengan Lebih Efisien & Transparan
Audit aset fisik tradisional sering mengganggu operasional karena tim harus menghentikan pekerjaan untuk menghitung dan mencocokkan aset secara manual. Dengan asset tracking, auditor cukup memakai pemindai portabel yang otomatis merekonsiliasi data, sehingga audit menjadi lebih cepat, transparan, dan mudah diverifikasi.
Dalam sektor publik dan BUMN, pengelolaan aset juga harus mengikuti PP No. 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Regulasi ini menuntut transparansi dan akuntabilitas dalam pencatatan aset negara. Oleh sebab itu, pemanfaatan asset tracking menjadi salah satu langkah strategis untuk memastikan data aset tetap tercatat secara akurat dan mudah diaudit.
e. Optimalisasi Biaya Pemeliharaan & Pengadaan Aset
Data historis yang dikumpulkan oleh asset tracking system memberikan wawasan berharga untuk mengoptimalkan biaya. Dengan melacak riwayat pemeliharaan dan perbaikan, perusahaan dapat beralih dari pemeliharaan reaktif ke pemeliharaan preventif atau prediktif. Penjadwalan pemeliharaan rutin berdasarkan data penggunaan dapat memperpanjang umur aset dan mencegah kerusakan yang mahal.
Selain itu, data tentang utilitas aset membantu dalam pengambilan keputusan pengadaan. Manajer dapat mengidentifikasi aset mana yang sering digunakan dan mana yang jarang terpakai. Informasi ini memungkinkan perusahaan untuk menghindari pembelian aset yang tidak perlu dan mengalokasikan kembali aset yang ada untuk memaksimalkan penggunaannya, sehingga menghemat anggaran belanja modal (CAPEX).
5. Perbedaan Asset Tracking vs Inventory Tracking
Dalam dunia manajemen bisnis, istilah asset tracking dan inventory tracking sering digunakan secara bergantian, padahal keduanya merujuk pada dua proses yang berbeda dengan tujuan yang juga berbeda. Memahami perbedaan antara keduanya penting bagi perusahaan untuk menerapkan strategi yang tepat sesuai dengan kebutuhan spesifik mereka. Berikut perbedaan antara kedua sistem tersebut:
a. Fokus Utama
Fokus utama asset tracking adalah pada aktiva tetap, yaitu barang-barang yang dibeli untuk penggunaan operasional jangka panjang dan tidak dimaksudkan untuk dijual kembali. Aset ini merupakan tulang punggung yang memungkinkan perusahaan menjalankan aktivitas bisnisnya sehari-hari.
Sebaliknya, inventory tracking berkonsentrasi pada aktiva lancar, yaitu barang yang dimiliki perusahaan dengan tujuan untuk dijual kepada konsumen atau untuk diolah menjadi produk jadi. Fokusnya bersifat eksternal, yaitu bagaimana cara menggerakkan barang-barang ini keluar dari gudang secepat dan seefisien mungkin.
b. Tujuan
Tujuan dari asset tracking adalah untuk memaksimalkan umur dan utilitas aset, serta meminimalkan biaya kepemilikan sepanjang siklus hidupnya. Ini melibatkan pemantauan kondisi, penjadwalan pemeliharaan, pelacakan lokasi, dan perhitungan depresiasi. Tujuannya adalah menjaga aset tetap produktif selama mungkin.
Sementara itu, tujuan inventory tracking adalah untuk mengoptimalkan tingkat persediaan guna memenuhi permintaan pelanggan tanpa menimbulkan biaya penyimpanan yang berlebihan. Tujuannya adalah untuk memastikan perputaran inventaris yang sehat dan menghindari kehabisan stok (stockouts) atau kelebihan stok (overstock).
c. Jenis Barang
Barang yang dilacak dalam asset tracking adalah barang-barang yang digunakan berulang kali oleh perusahaan. Contohnya sangat beragam, mulai dari peralatan IT seperti komputer dan server, hingga mesin produksi di pabrik, kendaraan operasional, dan bahkan perabotan kantor. Intinya, barang-barang ini adalah alat untuk menjalankan bisnis.
Di sisi lain, inventory tracking melacak barang-barang yang bersifat konsumtif atau transformatif. Ini bisa berupa produk jadi yang siap dijual di rak toko, bahan baku yang akan digunakan dalam proses manufaktur, atau barang dalam proses (work-in-progress). Barang-barang ini adalah produk yang ditawarkan oleh bisnis.
d. Umur Barang
Aset yang dilacak umumnya memiliki umur ekonomis yang panjang, biasanya lebih dari satu tahun. Perusahaan berinvestasi pada aset-aset ini dengan harapan dapat menggunakannya selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, aspek siklus hidup aset menjadi sangat penting dalam pengelolaannya.
Inventaris, sebaliknya, memiliki umur yang pendek di dalam perusahaan. Tujuannya adalah untuk menjualnya secepat mungkin untuk menghasilkan arus kas. Semakin lama inventaris tersimpan di gudang, semakin tinggi biaya penyimpanan dan risiko usang, sehingga kecepatan perputaran adalah kunci.
e. Data Dilacak
Data yang dikumpulkan dalam asset tracking lebih berfokus pada aspek operasional dan finansial jangka panjang. Metrik yang penting meliputi lokasi, status (digunakan, diperbaiki, tersedia), jadwal pemeliharaan, riwayat perbaikan, dan nilai depresiasi. Data ini digunakan untuk optimalisasi penggunaan dan perencanaan modal.
Untuk inventory tracking, data yang dilacak bersifat lebih transaksional dan berorientasi pada penjualan. Metrik utamanya adalah kuantitas stok, nomor SKU (Stock Keeping Unit), lokasi di gudang, tanggal kedaluwarsa (jika ada), dan kecepatan penjualan. Data ini digunakan untuk manajemen rantai pasok dan pemenuhan pesanan.
f. Nilai Ekonomi
Dari perspektif akuntansi, nilai aktiva tetap akan mengalami penyusutan atau depresiasi seiring berjalannya waktu karena pemakaian dan keusangan teknologi. Nilai aset di neraca akan terus menurun setiap tahunnya. Dengan demikian, nilai ekonominya berkurang seiring penggunaan.
Sebaliknya, nilai aktiva lancar tetap konstan selama berada di gudang dan baru akan direalisasikan menjadi pendapatan ketika berhasil dijual kepada pelanggan. Nilai ekonominya tidak menyusut, melainkan diubah menjadi kas melalui transaksi penjualan. Oleh karena itu,nilai ekonominya bersifat potensial hingga terjual.
Untuk gambaran yang lebih jelas, berikut tabel perbandingan antara Asset Tracking dan Inventory Tracking:
| Aspek | Asset Tracking | Inventory Tracking |
|---|---|---|
| Fokus Utama | Aset internal perusahaan (aktiva tetap) | Barang untuk dijual atau produksi (aktiva lancar) |
| Tujuan | Memantau lokasi, kondisi, pemeliharaan, dan siklus hidup aset | Mengelola stok, penjualan, dan perputaran barang |
| Jenis Barang | Laptop, mesin, kendaraan, perabotan kantor | Produk jadi, bahan baku, suku cadang untuk dijual |
| Umur Barang | Jangka panjang (lebih dari satu tahun) | Jangka pendek (diharapkan segera terjual) |
| Data Dilacak | Depresiasi, riwayat pemeliharaan, lokasi, status | Kuantitas, SKU, tanggal kedaluwarsa, tingkat penjualan |
| Nilai Ekonomi | Nilai menyusut seiring waktu (depresiasi) | Nilai direalisasikan saat penjualan terjadi |
6. Teknologi Utama dalam Sistem Asset Tracking
Teknologi dalam sistem asset tracking memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, dan sering kali kombinasi beberapa teknologi memberikan hasil yang paling optimal. Dari label sederhana hingga jaringan sensor yang kompleks, inovasi terus mendorong batas-batas dari apa yang mungkin dilakukan dalam manajemen aset. Berikut teknologi utama yang umum digunakan dalam sistem asset tracking modern:
a. Barcode & QR Code (Kode Batang)
Barcode dan QR Code adalah teknologi identifikasi optik yang paling umum dan hemat biaya. Keduanya menyimpan data dalam format visual yang dapat dibaca dengan cepat oleh pemindai optik atau kamera smartphone. Barcode menyimpan sejumlah kecil data numerik, sementara QR Code menyimpan informasi yang lebih kompleks seperti teks, URL, atau detail kontak.
Kelebihan utama teknologi ini adalah biayanya yang rendah dan kemudahan implementasinya dengan perusahaan. Namun, kekurangannya adalah pemindai harus berada dalam jarak pandang langsung (line-of-sight) dengan kode dan hanya dapat memindai satu kode pada satu waktu. Teknologi ini ideal untuk aset di lingkungan yang terkontrol seperti kantor atau perpustakaan.
b. Radio Frequency Identification (RFID) Tags
RFID menggunakan gelombang radio untuk mentransmisikan data dari sebuah tag ke sebuah reader tanpa memerlukan kontak fisik atau line-of-sight. Ini memungkinkan pemindaian beberapa aset secara bersamaan dengan cepat, bahkan jika tag tersembunyi di dalam kotak atau tidak terlihat. Tag RFID dapat bersifat pasif (tanpa baterai) atau aktif (dengan baterai).
Teknologi ini meningkatkan kecepatan dan efisiensi proses inventarisasi dan audit aset. Misalnya, seorang staf dapat berjalan melalui sebuah ruangan dengan pembaca RFID dan secara otomatis mendata semua aset dalam hitungan detik. Penggunaan RFID tag aktif memungkinkan jangkauan baca yang lebih jauh, cocok untuk aset bernilai tinggi.
c. Global Positioning Systems (GPS)
GPS adalah teknologi pelacakan berbasis satelit untuk memantau aset yang bergerak dalam area yang luas. Pelacak GPS yang terpasang pada kendaraan, alat berat, atau kontainer pengiriman memberikan data lokasi secara real-time di mana saja di dunia. Ini adalah teknologi andalan untuk manajemen armada dan logistik.
Selain lokasi, banyak pelacak GPS modern dilengkapi dengan sensor tambahan untuk memantau parameter lain seperti kecepatan, konsumsi bahan bakar, atau suhu. Meskipun sangat efektif untuk pelacakan di luar ruangan, GPS tidak bekerja dengan baik di dalam gedung karena sinyal satelit terhalang. Oleh karena itu, GPS sering dikombinasikan dengan teknologi lain untuk pelacakan indoor-outdoor yang komprehensif.
d. Bluetooth Low Energy (BLE)
BLE adalah teknologi komunikasi nirkabel jarak pendek yang dirancang untuk konsumsi daya yang sangat rendah. Dalam asset tracking, aset dilengkapi dengan beacon BLE yang secara periodik memancarkan sinyal. Sinyal ini kemudian ditangkap oleh pembaca (gateways) yang ditempatkan di seluruh fasilitas atau oleh smartphone di sekitarnya.
Teknologi ini baik untuk pelacakan aset di dalam ruangan dengan biaya yang relatif terjangkau. BLE memungkinkan perusahaan untuk mengetahui di ruangan atau zona mana sebuah aset berada. Karena konsumsi dayanya yang rendah, baterai pada beacon dapat bertahan selama bertahun-tahun, menjadikannya solusi pemeliharaan rendah.
e. Internet of Things (IoT) & Industrial IoT (IIoT)
IoT merujuk pada jaringan perangkat fisik yang disematkan dengan sensor, perangkat lunak, dan teknologi lain untuk terhubung dan bertukar data melalui internet. Dalam konteks asset tracking, sensor IoT dapat dipasang pada aset untuk memantau lokasi, suhu, kelembapan, getaran, atau tingkat penggunaan.
IIoT adalah aplikasi IoT di lingkungan industri yang fokus pada pemantauan mesin dan proses manufaktur. Data dari sensor IIoT memungkinkan predictive maintenance, di mana sistem dapat memprediksi potensi kegagalan mesin sebelum terjadi. Ini membantu meminimalkan downtime yang tidak terduga dan mengoptimalkan jadwal produksi.
f. Low-Power Wide-Area Network (LPWAN)
LPWAN adalah kategori teknologi komunikasi nirkabel yang dirancang untuk memungkinkan komunikasi jarak jauh dengan konsumsi daya yang sangat rendah. Teknologi seperti LoRaWAN dan NB-IoT termasuk dalam kategori ini. LPWAN ideal untuk menghubungkan perangkat pelacak bertenaga baterai yang tersebar di area geografis yang luas, seperti aplikasi smart city atau pertanian presisi.
Dibandingkan dengan jaringan seluler tradisional, LPWAN menawarkan biaya konektivitas yang rendah dan masa pakai baterai yang lama. Ini membuka kemungkinan untuk melacak aset bernilai lebih rendah atau aset di lokasi terpencil di mana daya listrik tidak tersedia. LPWAN menjadi infrastruktur kunci untuk aplikasi IoT skala besar.
g. Near Field Communication (NFC)
NFC adalah cabang dari teknologi RFID yang beroperasi pada jarak yang sangat pendek, biasanya hanya beberapa sentimeter. Teknologi ini dikenal melalui penggunaan pada pembayaran tanpa kontak. Namun demikian, teknologi tersebut juga bermanfaat dalam asset tracking, terutama untuk aktivitas yang membutuhkan interaksi langsung yang terkontrol dan tingkat keamanan yang tinggi.
Karena jangkauannya yang pendek, NFC menyediakan lapisan keamanan tambahan karena data tidak dapat dibaca dari jarak jauh. Ini cocok untuk proses check-in/check-out aset, di mana pengguna secara aktif mengonfirmasi peminjaman atau pengembalian item.
h. Ultrasonic Tracking
Sistem pelacakan ultrasonik menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk menentukan lokasi aset di dalam ruangan. Tag yang terpasang pada aset memancarkan sinyal ultrasonik yang diterima oleh beberapa sensor yang dipasang di langit-langit. Dengan mengukur waktu yang dibutuhkan sinyal untuk mencapai setiap sensor, sistem dapat menghitung posisi tag secara presisi melalui triangulasi.
Teknologi ini memberikan akurasi lokasi yang tinggi, sering kali hingga tingkat sentimeter, menjadikannya ideal untuk aplikasi yang memerlukan presisi tinggi. Contohnya termasuk melacak alat bedah di ruang operasi atau perkakas di pabrik perakitan. Namun, implementasinya bisa lebih kompleks dan mahal dibandingkan dengan teknologi indoor tracking lainnya seperti BLE.
7. Contoh Penerapan Asset Tracking System
Asset tracking system telah diterapkan di berbagai industri untuk meningkatkan visibilitas dan kontrol terhadap aset perusahaan. Misalnya, pada sektor manufaktur, sistem ini digunakan untuk melacak lokasi mesin produksi secara real-time sehingga memudahkan tim maintenance dalam menjadwalkan perawatan. Dengan demikian, risiko downtime dapat diminimalkan dan produktivitas tetap terjaga.
Selain itu, di industri logistik dan distribusi, asset tracking system membantu perusahaan memonitor kendaraan operasional dan peralatan pendukung selama proses pengiriman. Melalui pemantauan berbasis GPS atau RFID, manajer dapat memastikan aset berada di jalur yang tepat. Akibatnya, efisiensi operasional meningkat dan potensi kehilangan aset dapat ditekan.
Tidak hanya itu, perusahaan di sektor kesehatan juga memanfaatkan sistem ini untuk melacak peralatan medis bernilai tinggi. Dengan pencatatan lokasi dan status aset secara otomatis, staf dapat menemukan alat dengan cepat saat dibutuhkan. Oleh karena itu, pelayanan kepada pasien dapat berjalan lebih optimal dan risiko kesalahan operasional dapat dikurangi.
8. Kesimpulan
Asset tracking adalah proses yang memantau lokasi, penggunaan, serta kondisi aset tetap menggunakan teknologi seperti barcode, RFID, GPS, dan IoT. Dengan demikian, perusahaan dapat memperoleh visibilitas penuh terhadap lokasi, kondisi, serta riwayat aset sehingga pengambilan keputusan menjadi lebih cepat dan akurat.
Sejalan dengan kebutuhan tersebut, penggunaan software asset management ScaleOcean membantu perusahaan mengintegrasikan asset tracking dalam satu sistem terpusat yang efisien. Oleh karena itu, jadwalkan demo gratis ScaleOcean sekarang untuk melihat bagaimana pengelolaan aset dapat berjalan lebih terstruktur dan optimal.
FAQ terkait Asset Tracking:
1. Apa perbedaan antara asset tracking RFID dan BLE?
Perbedaannya berupa RFID yang memeriksa tag aset di titik tetap, sementara pada BLE tag menyiarkan keberadaannya agar gateway atau perangkat terdekat dapat mendeteksinya dan melaporkan lokasinya.
2. Bagaimana cara menentukan prioritas aset yang harus dilacak terlebih dahulu?
Prioritas diberikan pada aset bernilai tinggi, aset kritis operasional, atau aset yang sering berpindah lokasi.
3. Bagaimana memilih software asset tracking yang sesuai dengan ukuran perusahaan?
Perusahaan kecil biasanya membutuhkan sistem sederhana dengan biaya rendah, sedangkan perusahaan besar memerlukan solusi seperti ScaleOcean yang scalable, terintegrasi, dan mendukung multi-location.
4. Apakah asset tracking dapat membantu mengatasi tantangan spesifik seperti kehilangan aset atau penggunaan aset tanpa izin?
Ya, fitur notifikasi real-time dan audit trail membantu mendeteksi penggunaan tidak sah serta meminimalkan kehilangan aset.
5. Area spesifik apa yang paling penting untuk dianalisis dalam asset tracking?
Beberapa area penting meliputi tingkat utilisasi aset, biaya pemeliharaan, serta siklus hidup aset untuk memastikan efisiensi investasi.




