
Halo, kami siap bantu cari solusi ERP sesuai kebutuhan Anda.
Konsultasi Sekarang

Banyak perusahaan di kawasan berikat masih kesulitan dalam memantau pergerakan barang secara akurat dan efisien. Tanpa sistem yang tepat, kesalahan dalam pencatatan inventaris bisa berisiko besar. Untuk itu, pemerintah Indonesia mewajibkan penerapan IT inventory kawasan berikat, yang dirancang untuk memastikan transparansi dan kepatuhan dalam proses ekspor-impor, serta memudahkan pemantauan secara real-time.
IT inventory adalah suatu perangkat lunak yang dirancang untuk membantu perusahaan mengelola ketersediaan barangnya dengan mudah. Dalam konteks kawasan berikat, penerapan sebuah software inventaris wajib dilakukan untuk membantu proses pengerjaan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) dan memenuhi fungsi bea cukai.
Artikel berikut akan membahas lebih mendalam tentang IT inventory kawasan berikat dan manfaatnya dalam bisnis, serta juga persyaratan pemilihan sistem yang optimal. Simaklah isi dari artikel berikut!
IT inventory kawasan berikat adalah sebuah sistem informasi yang wajib digunakan oleh perusahaan di kawasan berikat untuk memantau pergerakan barang secara real-time, dan harus terintegrasi dengan sistem Bea Cukai.
Jika diimplementasi, laporan untuk DJBC dapat dirancang secara otomatis. Penggunaan Sistem inventory management yang tepat memastikan pelaporan ketersediaan barang akurat, sehingga perusahaan tetap diperbolehkan melakukan proses ekspor dan impor sesuai regulasi.
Sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor PER-19/BC/2018, kawasan berikat adalah sebuah wilayah penumpukan barang-barang impor atau barang luar dalam daerah pabean untuk diolah dan dikembangkan lebih lanjut untuk diekspor. Kawasan berikat memiliki fasilitas-fasilitas seperti penangguhan bea masuk, pembebasan cukai dan tidak berlakunya PPN, PPnBM dan PPh Pasal 22.
IT inventory di kawasan berikat sangat penting karena merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh pengusaha untuk mendapatkan izin beroperasi. Dengan adanya sistem tersebut, perusahaan dapat mencatat dan mengelola barang yang masuk atau keluar dari kawasan berikat, sehingga memastikan kegiatan operasional sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Pentingnya hal tersebut juga terletak pada kemampuannya untuk mendukung pengawasan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Dengan sistem ini, DJBC dapat melakukan pemantauan yang lebih efektif terhadap aktivitas barang, mulai dari penerimaan, penyimpanan, hingga distribusi. Hal ini membantu dalam mencegah penyalahgunaan barang atau tindakan yang melanggar hukum.
Selain itu, IT inventory berperan dalam meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengerjaan sistem inventory di kawasan berikat. Sistem ini memungkinkan data barang yang lebih mudah diakses dan diperiksa oleh pihak berwenang, sehingga mengurangi risiko kesalahan dan meningkatkan kepercayaan antara pihak pengusaha dan pemerintah.
Ini juga membantu perusahaan menjalankan kegiatan ekspor-impor dengan lebih efisien. Untuk persyaratan penggunaan sistem TI dalam kawasan berikat, lihat kriteria minimal dari DJBC.

Penerapan sistem IT inventory kawasan berikat tidak hanya diwajibkan di wilayah tersebut, tetapi juga diterapkan di luar kawasan untuk meningkatkan efisiensi operasional dan memastikan akurasi data inventaris. Dengan integrasi ini, perusahaan dapat memastikan kepatuhan terhadap kebijakan pemerintah, memperlancar proses ekspor-impor, dan memberikan visibilitas yang jelas bagi semua pihak, termasuk DJBC dan CEISA.
Berikut adalah gambaran lebih lengkap mengenai manfaat IT inventory kawasan berikat bagi Bisnis dan DJBC:
Bagi Bisnis
Bagi DJBC
DJBC menetapkan empat kategori aplikasi IT inventory kawasan berikat, yakni jenis A, B, C dan D. Masing-masing kategori tersebut memiliki tata pengerjaannya sendiri yang berdampak besar pada efsiensi operasional gudang. Berikut penjelasan lebih lengkapnya:
Perusahaan jenis A hanya menggunakan satu sistem pembukuan utama, yang terintegrasi dengan software IT inventory. Sistem ini dilengkapi dengan real-time synchronization, user access control, histori transaksi lengkap, dan fitur audit trail, guna memastikan akurasi dan transparansi dalam pengelolaan inventaris tanpa adanya kesalahan pencatatan.
Jenis B adalah jenis perusahaan kawasan berikat yang menggunakan dua sistem, yakni sistem pembukuan dan sistem IT inventory. Kedua sistem tersebut diintegrasikan bersama dan menggunakan data yang sama untuk melakukan proses pencatatan dan pemantauannya. Perusahaan yang menggunakan sistem IT inventory dengan integrasi yang tepat akan mempermudah pelaporan terkait impor dan ekspor barang ke DJBC.
Jenis C serupa dengan jenis B, namun memiliki satu perbedaan kritis. Perbedaan tersebut adalah tidak terintegrasi sistem pembukuan dengan sistem IT inventory. Hal ini berarti kedua sistem bekerja secara terpisah dan tidak membagi data antar satu sama lain. Pada umumnya, kategori ini digunakan oleh perusahaan kecil atau yang baru beralih dari sistem manual.
Perusahaan Jenis D adalah bisnis-bisnis kawasan berikat yang tidak menggunakan sistem sama sekali, melainkan masih melakukan proses pencatatan dan pelaporannya secara manual. DJBC biasanya memberikan perhatian berlebih pada jenis ini dikarenakan kemungkinan besar terjadinya kesalahan pada data laporan.

Sempat disebutkan sebelumnya bahwa penerapan IT inventory dapat membantu perusahaan dan DJBC untuk menyusun dan menerima laporan-laporan yang diperlukan untuk menjalankan proses ekspor-impor. Jenis laporan-laporan tersebut beragam, yakni adalah sebagai berikut:
Sesuai dengan namanya, laporan berikut memberikan visualisasi tentang segala barang yang masuk ke dalam kawasan berikat. Hal ini penting untuk memastikan tidak adanya kesalahan atau kebohongan mengenai jenis dan jumlah barang yang diterima oleh bisnis.
Berbolak-balikan dengan jenis laporan sebelumnya, laporan berikut memberikan gambaran tentang barang yang dikeluarkan perusahaan dari kawasan berikat. Dengan adanya penyertaan laporan ini, DJBC dapat dengan lebih mudah mengawasi ketepatan data ketersediaan barang dalam warehouse logistics dengan data barang yang keluar atau diekspor.
Dengan adanya penerapan software IT inventory kawasan berikat yang terintegrasi dengan software freight forwarding, perusahaan dan DJBC dapat memantau berjalannya proses produksi atau perakitan yang sedang berlangsung pada kawasan tertentu. Hal ini meliputi jenis, serta jumlah barang yang diproduksi. Segala permasalahan yang muncul juga cenderung dilansirkan pada laporan berikut.
Laporan ini mencakup informasi tentang semua mesin dan peralatan yang digunakan dalam proses produksi di kawasan berikat. Setiap mesin dan fasilitas dijelaskan fungsi, serta kondisi dan status operasionalnya. Laporan ini penting untuk memastikan kelancaran produksi dan meminimalkan downtime dengan mengidentifikasi kebutuhan pemeliharaan.
Laporan mutasi mesin dan fasilitas mencatat pergerakan atau perubahan status mesin dan peralatan yang digunakan dalam proses produksi di kawasan berikat. Laporan ini mencakup detail penggunaan, pemeliharaan, dan perbaikan fasilitas tersebut, yang penting untuk menjaga kelancaran operasional dan memastikan efisiensi dalam penggunaan alat.
Laporan bahan baku mencakup informasi tentang persediaan bahan baku yang ada di kawasan berikat, termasuk pemasukan, penggunaan, dan pengeluaran bahan tersebut. Laporan ini membantu dalam pemantauan stok bahan baku dan memastikan bahwa produksi berjalan sesuai dengan kebutuhan tanpa terjadi kekurangan atau pemborosan.
Laporan mutasi adalah suatu jenis laporan yang digunakan untuk mencatat dan melaporkan pergerakan data atau objek tertentu. Maka dari itu, laporan mutasi barang baku berisi tentang pergerakan bahan baku baik di proses pemasukan, penggunaan dan pengeluarannya. Laporan mutasi bahan baku yang tepat sangat bergantung pada prosedur stock audit yang baik untuk mengidentifikasi perbedaan antara catatan dan barang yang ada di gudang.
Serupa dengan laporan sebelumnya, laporan mutasi bahan jadi melaporkan tentang pergerakan barang jadi. Hal tersebut berarti melacak pemasukan dan perakitan barang jadi, barang yang telah dikeluarkan, serta juga barang-barang yang akan atau sedang mengalami proses pengiriman.
Laporan produk akhir mencatat pergerakan barang jadi, mulai dari pemasukan, perakitan, hingga pengeluaran barang dari kawasan berikat. Laporan ini penting untuk memantau status produk akhir yang siap untuk didistribusikan atau dikirimkan, serta membantu memastikan bahwa pengiriman berjalan lancar dan sesuai dengan permintaan pasar.
Laporan sisa barang mencatat barang yang masih ada di gudang dan belum digunakan atau dikirim. Ini mencakup baik bahan baku yang belum diproses maupun barang jadi yang belum dikirim. Laporan ini memberikan gambaran yang jelas tentang stok yang tidak terpakai dan membantu perusahaan dalam pengelolaan ruang penyimpanan serta pengambilan keputusan untuk pengeluaran barang.
Yang dimaksud sisa barang adalah semua barang yang masih berada di pergudangan dan belum digunakan atau dikirim. Jadi, laporan mutasi barang sisa adalah sebuah laporan yang berisi tentang segala barang, baik itu bahan baku atau bahan jadi, yang masih ada di ketersediaan.
Apabila sebuah perusahaan kawasan berikat tidak menerapkan sistem IT inventory dalam pengerjaannya, hal tersebut tidak hanya dapat menurunkan efisiensi operasional bisnis, tetapi juga merupakan pelanggaran terhadap kebijakan DJBC yang berlaku, sehingga berpotensi memunculkan sengketa hukum.
Tanpa sistem yang baik, perusahaan akan kesulitan dalam manajemen stok barang, yang dapat menyebabkan kesalahan dalam laporan barang yang diterima dan dikeluarkan. Berikut adalah beberapa dampak yang mungkin muncul dari hal tersebut:
Memitigasi risiko sanksi dan inefisiensi memerlukan sistem yang mampu menyelaraskan data gudang dengan standar kepabeanan secara otomatis. Software inventaris ScaleOcean hadir membantu Anda memastikan kepatuhan regulasi melalui pelaporan yang akurat dan transparan.
Apabila suatu perusahaan telah menerapkan sebuah sistem IT inventory, hal tersebut bukan merupakan jaminan bahwa operasional bisnis akan secara otomatis mengalami peningkatan efisiensi. Keberhasilan implementasi bergantungan dengan kebutuhan bisnis, serta sistem yang diterapkan.
Sebuah software inventaris harus memiliki kemampuan untuk berintegrasi dengan sistem lain dalam perusahaan seperti sistem pembukuan atau akuntansi untuk memastikan akurasi pelaporan data yang akurat. Untuk memastikan integrasi yang mulus, sistem IT inventory yang dipilih harus mendukung inventory control yang efisien, mempercepat pengelolaan dan pelaporan barang.
Untuk memastikan penerapan sistem yang sukses, perhatikanlah beberapa persyaratan berikut:
Berdasarkan ketentuan sebelumnya, maka dapat dinyatakan bahwa proses pemilihan sistem inventaris yang optimal bagi perusahaan bukan merupakan sebuah hal yang mudah dilakukan. Terlebih lagi dikarenakan banyaknya jumlah penyedia sistem ERP dan sejenisnya pada masa kini. Oleh karena itu, artikel ini akan memberikan sebuah rekomendasi penyedia yang handal yaitu ScaleOcean.
Software IT inventory ScaleOcean merupakan sebuah sistem yang dirancang khusus untuk membantu perusahaan mengelola dan melacak ketersediaan barang di penyimpanannya. Vendor tersebut sendiri merupakan sebuah penyedia berpengalaman, yakni lebih dari 10 tahun, yang berasal dari Singapura dan sedang melakukan ekspansi ke tanah air.
Banyak klien internasional memilih ScaleOcean tidak hanya untuk perangkat lunaknya yang optimal, tetapi juga untuk hal lain seperti jumlah user yang tidak terbatas sehingga dapat digunakan oleh siapa saja secara internal maupun eksternal. Tidak hanya itu, sistem-sistemnya juga dibangung dari praktik bisnis dan industri terbaik, sehingga menjamin berjalan lancarnya segala kegiatan dalam bisnis.
Anda dapat melakukan demo gratis yang ditawarkannya untuk mengetahui terlebih dahulu apakah software IT inventory-nya cocok dengan kebutuhan bisnis Anda. Selain dari yang telah disebutkan, terdapat juga fitur-fitur utama perangkat lunak inventarisnya, yang yakni adalah sebagai berikut:
Baca juga: Apa itu Stokis dan Ketahui Perannya dalam Bisnis
Demikian isi dari artikel berikut mengenai IT inventory kawasan berikat. Penerapan sistem IT inventory di kawasan berikat merupakan sebuah kewajiban yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk menjamin kemudahan proses pelacakan dan pemantauan data ketersediaan barang yang masuk, yang masih dimiliki dan yang telah dikeluarkan atau digunakan.
Apabila tidak diterapkan, hal tersebut akan menurunkan efisiensi operasional bisnis, serta juga memungkinkan terjadinya kesenjangan antara perusahaan dengan pemerintah. Namun, hal tersebut tidak berarti sebuah software inventaris dapat diterapkan secara sembarangan, melainkan harus dipilih sesuai dengan kebutuhan bisnis dan fitur-fitur yang ditawarkan sistem tersebut.
Contoh sistem IT inventory yang optimal adalah ScaleOcean yang dibangun dari praktik bisnis dan industri terbaik, sehingga menjamin tingkat efisiensi yang paling optimal. Tidak hanya itu, perangkat lunaknya tidak memiliki keterbatasan user, sehingga dapat digunakan oleh pihak internal perusahaan, maupun pihak eksternal seperti DJBC. Maka dari itu, cobalah demo gratis Anda sekarang dan kembangkan pengelolaan inventaris bisnis Anda!
Kawasan Berikat adalah zona industri di Indonesia yang mendapat fasilitas fiskal dan kepabeanan khusus, seperti pembebasan bea masuk dan pajak. Dalam konteks ini, IT inventory adalah sistem teknologi informasi yang wajib digunakan oleh perusahaan di kawasan tersebut untuk mengelola dan melaporkan setiap pergerakan barang. Sistem ini memastikan seluruh aktivitas persediaan barang, dari penerimaan hingga pengiriman, tercatat secara real time dan sesuai dengan peraturan bea cukai.
Prosedur utamanya berfokus pada pelaporan yang ketat dan terintegrasi dengan pihak bea cukai:
1. Integrasi Sistem: Perusahaan harus memiliki sistem IT yang terhubung langsung dengan sistem bea cukai (misalnya, melalui aplikasi CEISA).
2. Pencatatan Real Time: Setiap mutasi stok, baik masuk atau keluar, harus dicatat dan dilaporkan secara instan.
3. Penggunaan Dokumen Elektronik: Semua dokumen pendukung, seperti pemberitahuan pabean (BC 2.3), wajib dibuat dan disubmit secara elektronik.
4. Audit Digital: Sistem IT mempermudah proses audit oleh bea cukai karena data historisnya tersimpan rapi dan akurat.
Pengelolaan IT inventory yang tepat sangat krusial karena:
1. Kepatuhan Regulasi: Memastikan perusahaan mematuhi peraturan bea cukai dan menghindari sanksi atau denda.
2. Efisiensi Operasional: Proses pencatatan yang otomatis mempercepat alur kerja dan mengurangi kesalahan manusia.
3. Fasilitas Kepabeanan: Dengan sistem yang akurat, perusahaan dapat terus menikmati fasilitas pembebasan bea masuk dan pajak.
4. Visibilitas Stok: Manajemen memiliki visibilitas penuh terhadap pergerakan stok, yang membantu pengambilan keputusan strategis.