
Perkiraan jumlah biaya yang dibutuhkan dalam proyek merupakan tugas yang dijalankan oleh perusahaan konstruksi yang bisa mempengaruhi kesuksesan hasil akhir dari rencana konstruksi tersebut. Perkiraan biaya konstruksi memudahkan perusahaan dalam membuat rencana, mengalokasikan sumber daya, dan mengevaluasi kelayakan proyek.
Jika tidak ada estimasi yang sesuai, proyek konstruksi berpeluang untuk mengalami penundaan pengerjaan, kerugian yang signifikan, atau bahkan gagal dalam mewujudkan proyeknya.
Oleh karena itu, pengetahuan dan fungsi-fungsi estimasi biaya tersebut merupakan hal yang penting agar dapat menjamin kelancaran dalam proses pelaksanaan proyek. Artikel ini akan menjelaskan fungsi estimasi biaya konstruksi serta contoh estimasi biaya proyek.
Estimasi biaya konstruksi adalah proses memperkirakan biaya yang terlibat dalam menyelesaikan sebuah proyek bangunan. Hasilnya disajikan dalam Rencana Perkiraan Biaya (RAB) yang terdiri dari biaya bahan, tenaga kerja, peralatan dan biaya overhead.
Estimasi seperti ini memudahkan perusahaan dalam menentukan anggaran, kelayakan proyek, dan pengendalian biaya sepanjang proyek. Perhitungan yang terlibat adalah volume pekerjaan, harga satuan, waktu, dan tarif tenaga kerja.
Selain itu, estimasi yang juga bisa membantu mencegah pembengkakan anggaran dan menjadi dasar laporan keuangan proyek. Penyusunan rencana ini merupakan salah satu tugas utama dari seorang Quantity Surveyor (QS).

Estimasi biaya konstruksi berperan penting dalam memperkirakan biaya dari setiap proyek konstruksi. Metode seperti Value Engineering (VE) dapat digunakan sebagai tambahan dari perkiraan biaya untuk menambah nilai dalam proses pengambilan keputusan.
Penggunaan lain dari perkiraan biaya yaitu untuk mengevaluasi kelayakan proyek tersebut serta manajemen risiko keuangan dan memastikan penyelesaian proyek dalam jangka waktu dan anggaran yang telah ditentukan. Fungsi dari perkiraan biaya konstruksi antara lain:
Estimasi biaya konstruksi berfungsi untuk menentukan anggaran, kerangka waktu, dan sumber daya yang dibutuhkan dalam sebuah proyek.
Dengan estimasi yang tepat, proyek tersebut bisa merencanakan setiap langkah prosesnya lebih sistematis, dari mulai pemilihan material, tenaga kerja, hingga waktu selesai. Ini akan memastikan pula kontraktor proyek tersebut berjalan dengan dasar yang kuat sesuai dengan perencanaannya.
Estimasi biaya akan membantu klien dan kontraktor dalam menentukan langkah-langkah yang harus diambil mengenai kelanjutan proyek. Melalui estimasi biaya ini, keduanya bisa menilai apakah proyek tersebut cocok dilanjutkan, apakah anggaran cukup sejalan dengan tujuan, atau apakah ada yang perlu ditambah atau dikurangi dari ruang lingkup tersebut.
Selain itu, estimasi biaya konstruksi membantu perusahaan melihat kebutuhan dana secara menyeluruh dan menilai apakah proyek layak dijalankan dari sisi finansial.
Estimasi biaya konstruksi menjadi hal penting dalam pengelolaan pengeluaran proyek sebagai upaya perusahaan untuk bisa memastikan bahwa proyek tersebut berjalan sesuai dengan anggaran yang telah ditentukan. Building information modelling juga bisa membantu proses tersebut dengan memberikan data yang dapat digunakan untuk penghitungan biaya.
Karena estimasi biaya yang tepat, maka tim proyek bisa melakukan pengawasan real-time mengenai pengeluaran proyek agar tidak terjadi pemborosan dan penanggulangan biaya lainnya yang diperlukan agar tidak perlu mengeuarkan biaya tidak terduga.
Estimasi biaya juga berfungsi untuk merencanakan dan mengalokasikan sumber daya yang dibutuhkan secara efisien. Dengan mengetahui biaya setiap bagian proyek, manajer proyek dapat memprioritaskan penggunaan material, tenaga kerja, dan peralatan secara optimal.
Dengan estimasi biaya dalam proses konstruksi, dapat membantu memastikan bahwa setiap sumber daya digunakan secara efektif, menghindari pemborosan, dan meningkatkan efisiensi dalam penyelesaian proyek.
Dengan melakukan estimasi yang akurat, perusahaan dapat memastikan proyek selesai sesuai budget yang telah ditetapkan. Penyusunan rencana anggaran biaya yang teliti membantu kontraktor dalam memetakan arus kas, memastikan pembayaran vendor tepat waktu, dan menjaga agar margin keuntungan perusahaan tetap terjaga.
Langkah-langkah dalam pembuatan anggaran estimasi biaya konstruksi adalah mengidentifikasi lingkup proyek, menghitung jumlah bahan yang dibutuhkan, mengumpulkan informasi tentang harga bahan bagunan, menghitung biaya, penyesuaian, dan membuat kesimpulan dan ringkasan.
Membantu pengambilan keputusan dalam estimasi biaya konstruksi penting karena dapat membantu pemangku kepentingan untuk membuat keputusan yang tepat berdasarkan informasi yang akurat. Selain itu, ini juga dapat membantu menunjang kesuksesan proyek konstruksi secara keseluruhan.
Langkah estimasi membantu pemangku kepentingan memilih material dan metode kerja. Selain itu, akurasi dalam menghitung KDB, KLB, dan KDH pada tahap awal penting agar luas bangunan yang direncanakan tidak melanggar aturan koefisien lahan, sehingga risiko denda atau pembongkaran di masa depan dapat dihindari.
Menentukan harga penawaran sebagai fungsi estimasi biaya konstruksi melibatkan beberapa langkah. Pertama, perusahaan perlu mengumpulkan semua informasi yang diperlukan tentang proyek konstruksi, termasuk gambar desain, spesifikasi material, dan lingkup pekerjaan yang diinginkan oleh klien.
Kemudian, perusahaan mengestimasi biaya dengan mengacu pada spesifikasi dan volume pekerjaan. Rincian ini kemudian dituangkan ke dalam bill of quantity proyek sebagai lampiran penawaran, untuk memberikan transparansi kepada klien mengenai harga satuan dan total volume yang akan dikerjakan oleh kontraktor..
Margin keuntungan biasanya merupakan persentase tertentu dari total biaya konstruksi, yang dapat bervariasi tergantung pada faktor-faktor seperti risiko kegagalan proyek, persaingan pasar, dan kebutuhan perusahaan untuk mencapai target keuntungan.
Manajemen risiko dalam konteks estimasi biaya konstruksi melibatkan identifikasi, evaluasi, dan mengelola potensi risiko yang dapat mempengaruhi biaya konstruksi.
Ini melibatkan langkah-langkah seperti mengidentifikasi risiko yang dapat mempengaruhi biaya konstruksi, evaluasi risiko, perencanaan penanganan risiko, pelaksanaan dan pemantauan, dan evaluasi pasca-proyek.
Perkiraan biaya konstruksi merupakan beberapa bagian penting yang mempengaruhi perhitungan biaya total proyek tersebut. Setiap bagian memiliki fungsi masing-masing agar dapat menjamin kelancaran suatu proyek dan menghindari pembengkakan biaya. Berikut adalah komponen-komponen dalam estimasi biaya yang harus diperhatikan.
Material dan bahan baku mencakup seluruh kebutuhan yang digunakan selama proyek, seperti beton, baja, dan berbagai bahan bangunan lainnya. Biaya ini dihitung berdasarkan volume atau jumlah material yang diperlukan sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan. Menghitung biaya material dengan tepat sangat penting untuk memastikan bahwa pengeluaran tidak melebihi anggaran dan kualitas pekerjaan tetap terjaga.
Upah tenaga kerja merupakan biaya yang dikeluarkan sebagai kompensasi atas tenaga kerja yang melakukan pekerjaan pada proyek konstruksi berdasarkan sistem upah harian ataupun borongan. Upah ini melibatkan pembayaran kepada pekerja lapangan berdasarkan jumlah jam kerja ataupun pekerjaan yang dilakukan. Tentu saja penentuan upah tenaga kerja ini harus sangat tepat agar menghindari dari penguangan biaya.
Kemudian ada biaya peralatan dimana itu merupakan biaya yang timbul dari pembelian atau penyewaan alat berat maupun alat tambahan lainnya yang dibutuhkan dalam proyek konstruksi tersebut. Ini bisa berupa mesin-mesin yang digunakan untuk menggali, mencetak, maupun memindahkan bahan-bahan. Keputusan membeli atau menyewa alat perlu disesuaikan dengan kebutuhan, durasi proyek, dan anggaran agar biaya tetap efisien.
Beberapa perusahaan konstruksi juga dapat memiliki subkontraktor untuk pekerjaan tertentu, seperti pekerjaan kabel listrik, pipa, pendingin udara dan pemanas, struktur baja atau dekorasi interior dalam beberapa proyek tertentu. Biaya subkontraktor perlu di perkiraan dengan memperhitungkan cakupan pekerjaan, nilai kontrak, kualitas dan persyaratan tenggat waktu. Manajemen yang efektif akan membantu dalam menjaga biaya tambahan tetap dalam anggaran dan jadwal proyek.
Beberapa contoh dari biaya overhead adalah biaya listrik, biaya telepon, biaya air, dan biaya transportasi. Ini adalah hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam perhitungan total biaya proyek karena dapat berperan dalam proses operasional proyek. Perhitungan dengan baik tentang biaya overhead dapat menghindari kejutan keuangan ketika proyek sedang berlangsung
Namun sebelum proses konstruksi dimulai ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh perusahaan tersebut termasuk pembersihan lahan,pembentukan mesin-mesin,pembuatan fasilitas sementara, izin dan rencana desain.
Ini termasuk biaya jasa arsitek, konsultan struktur, konsultan MEP, dokumen, dan sertifikasi. Perencanaan yang baik sejak awal akan meminimalkan kemungkinan adanya perubahan dalam pekerjaan dan biaya tambahan selama proyek.
Aspek keselamatan merupakan bagian penting dalam pengelolaan proyek konstruksi. Biaya yang terlibat dalam mencapai K3 (Keselamatan) meliputi biaya penyediaan alat pelindung diri (APD), pelatihan keselamatan, inspeksi lapangan, rambu keselamatan, hingga kebutuhan petugas safety.
Dengan mempertimbangkan biaya K3 sejak awal perusahaan dapat membuat lingkungan kerja yang lebih aman dan meminimalkan risiko gangguan operasional yang mungkin timbul akibat kecelakaan di tempat kerja.
Dana Cadangan atau Contingency Fund yang dipegang sebagai persiapan untuk menghadapi hal-hal tak terduga dalam jangka waktu pelaksanaan project tersebut. Umumnya, dana cadangan ini berada pada rentang 5-10% dari total perkiraan biaya proyek. Dana cadangan membantu menutup kenaikan harga material, perubahan desain, dan biaya tak terduga selama proyek berlangsung.
Saat menyusun nilai akhir dari proyek, perusahaan harus mempertimbangkan komponen pajak dan margin keuntungan kontraktor. Perkiraan tersebut bertujuan untuk memastikan nilai kontrak tersebut sesuai dan cukup untuk menutupi semua biaya dan menghasilkan keuntungan bisnis yang sesuai.
Pembuatan estimasi biaya proyek konstruksi dilakukan dengan berbagai pendekatan, masing-masing memiliki tingkat kedalaman perhitungan yang berbeda sesuai dengan tujuan, data, dan spesifikasi proyek. Berikut adalah metode yang umum digunakan dalam estimasi biaya konstruksi.
Metode SNI memenuhi persyaratan standar yang selaras dengan teknologi konstruksi modern. Pendekatan ini mencakup informasi yang lebih rinci tentang analisis harga satuan termasuk koefisien material, tenaga kerja, peralatan dan teknis yang dapat digunakan untuk berbagai proyek dengan segala ukuran.
Menurut hasil penelitian perbandingan yang dilakukan oleh Syntax terdapat perbedaan yang signifikan dalam perhitungan biaya ketika menggunakan pendekatan SNI dibandingkan dengan pendekatan lain seperti BOW atau AHSP. Hal ini disebabkan karena SNI menggunakan koefisien standar untuk bahan,upah tenaga kerja dan peralatan.
Metode BOW, yang berasal dari era Belanda, menghitung biaya berdasarkan upah dan material dengan pendekatan konvensional. Metode ini lebih sederhana dan umumnya digunakan untuk proyek kecil atau yang membutuhkan pengerjaan padat karya, seperti pembangunan rumah dengan teknologi terbatas.
Dilansir dari studi perbandingan yang sama seperti sebelumnya, metode BOW masih sering digunakan dalam estimasi biaya, khususnya pada proyek padat karya dan pekerjaan sederhana. Metode ini memberikan nilai koefisien yang lebih konservatif, sehingga sering menghasilkan perkiraan biaya yang lebih tinggi.
Metode ini lebih fleksibel dan sering digunakan oleh estimator di lapangan. Perhitungan didasarkan pada survei dan pengalaman tim, serta kebutuhan proyek aktual. Setelah perkiraan kasar dibuat, estimator akan membandingkannya dengan metode SNI atau BOW untuk memastikan akurasi.
Metode AHSP membuat perhitungan yang rinci dan melibatkan semua komponen, dari volume sampai bahan dan upah tenaga kerja. Metode ini dipakai dalam proyek yang memerlukan spesifikasi dan rencana yang jelas sehingga membuat penaksiran lebih akurat.
ScaleOcean Atlas for Construction memungkinkan perusahaan untuk integrasi metode taksirannya menjadi lebih efisien. ScaleOcean otomatisasi proses taksiran biaya serta membantu pengelolaan proyek dengan data yang akurat dan real-time, memastikan bahwa seluruh tahapan proyek berlangsung sesuai dengan anggaran yang telah ditetapkan.
Jenis estimasi biaya konstruksi dapat dikategorikan berdasarkan tingkat detail, tujuan, dan waktu pembuatannya dalam siklus proyek. Berikut adalah beberapa jenis estimasi biaya konstruksi yang umum digunakan dalam industri.
Estimasi tingkat kasar (atau rough order of magnitude estimation) adalah metode perkiraan biaya yang digunakan pada tahap awal perencanaan proyek konstruksi untuk memberikan perkiraan kasar tentang biaya keseluruhan proyek.
Metode ini sering digunakan ketika detail proyek masih sedikit atau ketika proyek berada pada tahap awal pengembangan. Estimasi tingkat kasar biasanya dilakukan dengan menggunakan data historis dari proyek-proyek serupa atau berdasarkan pengalaman dan pengetahuan ahli dalam industri konstruksi.
Metode estimasi biaya tingkat kasar ini dapat menghasilkan perkiraan biaya yang memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi karena ketidakpastian tentang lingkup proyek, spesifikasi teknis, dan kondisi proyek.
Estimasi tingkat kasar seringkali dinyatakan dalam kisaran, misalnya ± 30% hingga ± 50% dari nilai tengah. Ini membantu memperhitungkan ketidakpastian dan variasi yang mungkin terjadi dalam pelaksanaan proyek.
Estimasi skematik adalah proses perkiraan biaya yang dilakukan pada tahap awal desain sebuah proyek konstruksi. Ini dilakukan ketika desain masih dalam tahap konseptual atau skematik, dimana detail-detail teknis belum sepenuhnya ditentukan.
Estimasi skematik memberikan perkiraan biaya yang cukup kasar berdasarkan informasi yang terbatas yang tersedia pada tahap awal proyek. Biasanya, jenis ini dilakukan dengan menggunakan metode perhitungan biaya yang cepat dan berbasis pada informasi yang tersedia pada saat itu.
Contohnya seperti ukuran dan jenis bangunan, jenis material yang mungkin digunakan, dan biaya konstruksi umum di daerah tersebut. Hal ini dapat memberikan gambaran awal kepada pemilik proyek tentang biaya keseluruhan proyek dan membantu dalam pengambilan keputusan pada tahap awal perencanaan.
Estimasi yang rinci di sisi estimasi biaya konstruksi merupakan metode yang digunakan untuk merancang perkiraan biaya bagi proyek konstruksi dengan tingkat detail yang cukup tinggi. Hal ini berarti bahwa metode ini mencakup penelitian komprehensif atas beberapa aspek proyek tersebut, seperti bahan, tenaga kerja, alat-alat, waktu, serta biaya lainnya yang berkaitan dengan pembuatan sebuah struktur.
Estimasi yang rinci ini merupakan pengkajian rinci atas setiap aspek dari proyek tersebut. Hal ini mencakup spesifikasi material yang akan digunakan, jenis pekerjaan yang dibutuhkan, jam kerja yang dibutuhkan, harga per unit dari setiap item, serta biaya lainnya seperti overhead costs dan profit.
Semua faktor dalam estimasi biaya perlu dianalisis dan dihitung secara rinci agar hasil perhitungannya lebih akurat.
Metode ini menghitung biaya dengan mengalikan jumlah unit dengan biaya per unit. Teknik ini mempermudah perhitungan material konstruksi untuk item standar seperti lantai atau dinding, sehingga estimator dapat memberikan perkiraan biaya yang lebih cepat tanpa harus merinci setiap komponen.
Estimasi biaya operasional dalam konteks estimasi biaya konstruksi adalah perkiraan biaya yang diperlukan untuk menjalankan dan memelihara proyek konstruksi setelah selesai dibangun.
Biaya operasional ini mencakup segala hal yang diperlukan untuk menjaga proyek tetap berfungsi dengan baik setelah selesai dibangun, seperti biaya listrik, air, perawatan rutin, perbaikan, dan pengelolaan properti.
Dalam menentukan estimasi biaya operasional, beberapa faktor yang harus dipertimbangkan meliputi biaya energi, biaya perawatan, biaya manajemen, biaya asuransi, biaya pengelolaan limbah, dan biaya administratif.
Estimasi biaya operasional penting dalam merencanakan dan mengelola keuangan proyek konstruksi jangka panjang karena membantu memperhitungkan total biaya kepemilikan properti, termasuk biaya konstruksi awal dan biaya operasional selama siklus hidup properti tersebut.

Estimasi biaya konstruksi merupakan suatu proses yang melibatkan berbagai tahapan yang diperlukan agar dapat merencanakan dengan tepat dan manajemen anggaran biaya menjadi efisien. Di bawah ini adalah penjelasan mengenai cara mengestimasi biaya konstruksi:
Pertama-tama, langkah utama yang harus diambil adalah pemahaman mengenai seluruh detail pekerjaan yang perlu diselesaikan dalam proyek tersebut. Hal ini meliputi review penuh terhadap dokumen penawaran spesifikasi proyek untuk memastikan bahwa semua aspek pekerjaan sudah tercakup.
Dengan memahami lingkup kerja, perusahaan konstruksi dapat menentukan estimasi biaya yang tepat untuk setiap elemen dalam proyek, termasuk pekerjaan utama dan pekerjaan tambahan.
Setelah memahami lingkup pekerjaan, langkah selanjutnya adalah mengunjungi lokasi proyek. Kunjungan ini bertujuan untuk memeriksa kondisi fisik lokasi, seperti aksesibilitas, kondisi tanah, dan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi biaya.
Dengan mengetahui potensi masalah atau kebutuhan khusus di lapangan, Anda dapat menyesuaikan estimasi biaya konstruksi untuk mencakup kondisi yang tidak terduga.
Untuk memperoleh estimasi biaya bahan, sangatlah penting untuk mendapatkan data harga terbaru dari berbagai sumber dan jumlah bahan yang dibutuhkan pada setiap tahap proyek.
Di samping itu, estimasi tenaga kerja juga perlu dipertimbangkan melalui estimasi jam kerja yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan tersebut. Dengan adanya data tersebut akan dapat membantu kita mendapatkan estimasi biaya langsung proyek.
Setelah melakukan pengecekan tentang materi serta tenaga kerja, langkah selanjutnya adalah mencari tahu tentang harga dari berbagai supplier atau vendor. Anda bisa menghubungi supplier untuk mendapatkan harga terbaik atas material dan equipment yang diperlukan.
Membandingkan harga dari berbagai sumber juga bisa menjadi alternatif untuk mendapatkan harga yang lebih kompetitif dan mengurangi biaya pengadaan dalam proses konstruksi
Biaya overhead dan biaya tidak langsung juga perlu diperhitungkan dalam estimasi. Ini termasuk biaya untuk asuransi, penyusutan peralatan, serta biaya administrasi dan staf kantor. Biaya ini sering kali tidak langsung terkait dengan pekerjaan di lapangan, namun tetap harus dipertimbangkan karena berpengaruh pada total biaya konstruksi.
Jika sudah menentukan jumlah biaya langsung dan tidak langsung, ditambah lagi dengan margin yang wajar bagi kontraktor, juga harus ada alokasi dana cadangan (kontinjensi) guna mengatasi adanya risiko atau biaya yang tak terduga.
Kontinjensi pada proses penilaian biaya konstruksi bertujuan untuk menyikapi perubahan-perubahan tak terduga seperti kenaikan harga material atau masalah tak terduga di lapangan.
Langkah terakhir adalah lakukan pemeriksaan ulang terhadap perhitungan estimasi biaya yang telah dibuat. Verifikasi setiap angka dan komponen agar estimasi biaya sudah pasti akurat dan mencakup semua aspek proyek.
Dengan mengevaluasi keakuratan estimasi, Anda dapat mengidentifikasi potensi kesalahan atau ketidaksesuaian yang dapat mempengaruhi anggaran dan memastikan proyek dapat berjalan sesuai rencana.
Estimasi biaya proyek konstruksi sering bermasalah akibat pengukuran yang tidak akurat, kurangnya review pekerjaan, fluktuasi harga material, serta pengabaian biaya tenaga kerja. Faktor-faktor ini dapat menyebabkan selisih anggaran signifikan jika tidak diantisipasi sejak tahap perencanaan. Berikut penjelasan selengkapnya:
Baca juga: Kenali 11 Jenis Kontrak Proyek Konstruksi beserta Contohnya
Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh simulasi sederhana Rencana Anggaran Biaya (RAB) kasar untuk pembangunan rumah tinggal tipe 36.

Template RAB konstruksi untuk estimasi biaya proyek yang lebih akurat.
Setelah penghitungan biaya langsung dilakukan, maka perusahaan konstruksi tersebut harus menambahkan biaya tak langsung atau indirect cost, yaitu biaya overhead, profit, juga dana cadangan atau kontinjensi untuk memastikan keuntungan proyek tersebut.
Angka tersebut masih berupa simulasi awal. Dalam proyek sebenarnya, biaya material dan tenaga kerja dapat berubah tergantung kondisi pasar, lokasi proyek, serta tingkat kerumitan desain yang diinginkan klien.
Estimasi biaya konstruksi digunakan di berbagai tahap proyek untuk mendukung pengambilan keputusan dan pengendalian anggaran. Setiap tahap memiliki tingkat detail yang berbeda sesuai kebutuhan analisis dan eksekusi proyek.
Pada tahap konseptual, estimasi dilakukan secara kasar dengan pendekatan berbasis luas bangunan untuk menilai kelayakan awal proyek. Perusahaan menggunakan estimasi ini untuk menentukan apakah proyek layak dilanjutkan sebelum masuk ke tahap perencanaan yang lebih rinci.
Pada tahap perencanaan, estimasi disusun secara terperinci berdasarkan gambar kerja dan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan. Perhitungan ini digunakan untuk menyusun Rencana Anggaran Biaya secara akurat sebagai dasar pengendalian biaya proyek.
Di tahap tendering, kontraktor membuat perkiraan biaya yang menjadi dasar pembuatan harga penawaran kepada pemilik proyek tersebut. Perkiraan biaya tersebut memperhitungkan biaya langsung dan tak langsung sehingga dapat membuat penawaran yang kompetitif dan tetap menguntungkan.
Perkiraan biaya dianggap sebagai patokan selama pelaksanaan proyek dimana biaya aktual yang terjadi selama pelaksanaan proyek dibandingkan dengan anggaran sehingga dapat memastikan bahwa proyek tetap berada dalam anggaran dan tidak melebihi alokasi anggaran yang telah ditetapkan.
Estimasi biaya konstruksi adalah tahap perencanaan proyek yang membantu menentukan jumlah anggaran yang sesuai, pengelolaan sumber daya yang efisien, dan kelancaran pelaksanaan proyek. Proses ini membuat kontraktor dapat menghindari pembengkakan biaya dan memastikan proyek diselesaikan sesuai dengan anggaran.
Untuk membuat estimasi biaya lebih terukur, perusahaan konstruksi dapat menggunakan ScaleOcean Atlas untuk mengelola anggaran, material, tenaga kerja, dan progres proyek dalam satu sistem terintegrasi.
Dengan data real-time, tim dapat membandingkan rencana dan realisasi biaya, mendeteksi potensi pembengkakan anggaran lebih awal, serta mengambil keputusan proyek dengan lebih cepat dan akurat. Jadwalkan konsultasi bersama tim ScaleOcean untuk mengetahui bagaimana solusi ini dapat mendukung kebutuhan bisnis Anda.
Metode perhitungan estimasi biaya konstruksi antara lain:
1. Metode SNI, mengacu pada standar nasional Indonesia dengan analisis sesuai perkembangan teknologi konstruksi.
2. Metode BOW, berdasarkan perhitungan klasik dari Belanda, biasanya untuk proyek skala sederhana.
3. Metode Kontraktor, menggunakan pengalaman serta data biaya aktual dari kontraktor.
4. Metode AHSP, menghitung biaya berdasarkan analisis harga satuan pekerjaan tiap item.
Biaya pengawasan konstruksi umumnya berkisar 2%–5% dari total nilai proyek. Besarnya persentase dipengaruhi oleh kompleksitas pekerjaan, skala proyek, serta standar yang berlaku, sehingga tiap proyek dapat memiliki biaya pengawasan yang berbeda.
Unsur biaya dalam estimasi konstruksi terbagi dua, yaitu biaya langsung dan biaya tidak langsung. Biaya langsung mencakup material, tenaga kerja, peralatan, serta subkontraktor. Sedangkan biaya tidak langsung meliputi overhead, risiko/kontingensi, keuntungan, hingga biaya izin, asuransi, dan pajak.