Banyak perusahaan menghadapi tantangan dalam mengalokasikan modal secara tepat, terutama ketika keputusan investasi tidak didasarkan pada metrik yang jelas. Akibatnya, dana sering dialokasikan ke proyek dengan potensi pengembalian rendah, sementara peluang yang lebih menguntungkan justru terlewatkan.
Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih terstruktur untuk memastikan setiap keputusan investasi memberikan nilai optimal. Penerapan hurdle rate terutama melalui pendekatan segmented hurdle rates membantu perusahaan menyesuaikan standar pengembalian berdasarkan tingkat risiko tiap proyek. Dengan demikian, perusahaan dapat mengevaluasi investasi secara lebih akurat dan kontekstual.
Pendekatan ini memungkinkan alokasi modal menjadi efisien, terarah, dan selaras dengan strategi bisnis jangka panjang. Namun, apa itu hurdle rates? Artikel ini akan membahas mengenai definisi ,dan fungsinya, cara menghitungnya, serta kelebihan dan kekurangan dari penerapan metrik tersebut.
- Hurdle rate adalah tingkat pengembalian yang wajib dicapai proyek atau divisi sebelum dianggap layak untuk dilaksanakan
- Fungsi utama hurdle rate adalah sebagai alat strategis dengan fungsi sebagai alat evaluasi, pengendali risiko, sampai menentukan nilai saat ini proyek.
- Jenis-jenis hurdle rate berdasarkan konteks dan sumber pendanaannya adalah WACC, Cost of Equity, Risk-Adjusted Hurdle Rate, MARR, dan Opportunity Cost.
- Software Akuntansi ScaleOcean membantu perusahaan menetapkan hurdle rate yang tepat dan mendukung analisis capital budgeting secara lebih sistematis.
1. Apa itu Hurdle Rate?
Hurdle rate adalah tingkat pengembalian yang wajib dicapai proyek atau divisi sebelum dianggap layak untuk dilaksanakan. Sebuah proyek investasi harus mampu menghasilkan tingkat pengembalian (return) yang lebih tinggi dari metrik yang telah ditentukan. Jika proyeksi return berada di bawah angka ini, proyek tersebut akan ditolak tanpa pertimbangan lebih lanjut.
Penetapan standar ini memastikan perusahaan tidak hanya mengejar proyek yang menghasilkan keuntungan, tetapi juga proyek yang keuntungannya cukup signifikan untuk menutupi biaya modal dan risiko yang melekat. Metrik ini menjadi filter objektif yang membantu perusahaan mengalokasikan sumber daya modalnya secara efisien dan strategis.
2. Fungsi Utama Hurdle Rate
Hurdle rate bukan sekadar angka acak yang ditetapkan oleh tim keuangan, melainkan sebuah alat strategis dengan fungsi sebagai alat evaluasi, pengendali risiko, sampai menentukan nilai saat ini proyek. Berikut penjelasan detail engenai masing-masing fungsi metrik tersebut:
a. Sebagai Alat Evaluasi Investasi yang Objektif
Hurdle rate adalah alat evaluasi yang objektif. Dalam lingkungan bisnis, sering ada proposal investasi yang bersaing untuk mendapatkan dana terbatas, dan setiap manajer proyek akan mempromosikan proyeknya sebagai yang terbaik. Metrik ini menghilangkan subjektivitas dengan menyediakan patokan numerik yang jelas dan tegas.
Sebuah proyek yang diperkirakan memiliki Internal Rate of Return (IRR) sebesar 15% mungkin terdengar menarik pada awalnya. Namun, jika perusahaan telah menetapkan hurdle rate sebesar 18% untuk proyek sejenis, maka proposal tersebut secara objektif tidak memenuhi syarat. Dengan demikian, keputusan investasi didasarkan pada data dan analisis finansial yang solid.
b. Pengendalian Risiko Proyek Berisiko Tinggi
Setiap investasi membawa tingkat risiko yang berbeda-beda, dan fungsi penting dari hurdle rate adalah untuk mengelola dan mengendalikan risiko ini. Proyek dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi, seperti masuk ke pasar baru atau mengembangkan teknologi yang belum teruji, secara inheren lebih berisiko. Untuk mengompensasi risiko tambahan ini, perusahaan akan menetapkan target yang lebih tinggi.
Sebagai contoh, proyek rutin seperti penggantian mesin mungkin hanya memiliki hurdle rate sebesar 12%, sementara proyek riset dan pengembangan inovatif bisa dikenakan rate hingga 25%. Mekanisme ini secara efektif memaksa manajer untuk mempertimbangkan risiko secara eksplisit dalam proposal mereka.
c. Memprioritaskan Proyek di Tengah Keterbatasan Modal
Hurdle rate adalah alat yang sangat efektif untuk memprioritaskan alokasi modal di antara berbagai proyek yang bersaing. Ketika dihadapkan pada beberapa proyek yang semuanya tampak menguntungkan, hurdle rate membantu menyusun peringkat berdasarkan potensi pengembalian di atas ambang batas minimum.
Misalnya, sebuah perusahaan memiliki tiga proyek yang semuanya diperkirakan akan menghasilkan return positif, tetapi modal yang tersedia hanya cukup untuk dua proyek. Dengan membandingkan seberapa jauh IRR masing-masing proyek melampaui hurdle rate, manajemen dapat membuat keputusan yang memberikan nilai tambah maksimal bagi pemegang saham.
d. Menentukan Nilai Saat Ini (Net Present Value)
Fungsi krusial lainnya dari hurdle rate adalah perannya dalam perhitungan net present value (NPV). Dalam analisis NPV, hurdle rate digunakan sebagai discount rate untuk menghitung nilai sekarang dari arus kas masa depan yang diharapkan dari sebuah proyek. Perhitungan ini penting untuk memahami profitabilitas riil sebuah investasi dalam nilai uang hari ini.
Jika hasil perhitungan NPV positif, itu berarti proyek tersebut diperkirakan akan menghasilkan pengembalian yang lebih besar dari hurdle rate, sehingga menciptakan nilai bagi perusahaan. Sebaliknya, jika NPV negatif, proyek tersebut tidak mampu mencapai tingkat pengembalian minimum yang disyaratkan dan harus ditolak. Dengan demikian, hurdle rate menjadi penentu utama dalam analisis NPV yang merupakan salah satu pilar utama dalam pengambilan keputusan investasi.
3. Cara Menghitung Hurdle Rate
Proses perhitungan yang tepat memastikan standar yang ditetapkan realistis dan relevan. Fondasi dari perhitungan ini adalah biaya modal perusahaan yang dikenal sebagai Weighted Average Cost of Capital (WACC). Angka ini kemudian disesuaikan dengan menambahkan premi risiko untuk mencerminkan ketidakpastian yang terkait dengan proyek yang sedang dievaluasi. Berikut cara menghitung hurdle rate dengan tepat:
a. Memahami Hurdle Rate Formula
Formula dasar untuk menghitung hurdle rate adalah dengan menjumlahkan biaya modal rata-rata tertimbang (WACC) dengan premi risiko (Risk Premium). Formula ini secara matematis dapat ditulis sebagai:
Hurdle Rate = WACC + Risk Premium
Memahami logika di balik formula ini sangatlah penting. WACC merepresentasikan biaya untuk mendanai operasional perusahaan secara umum, sehingga menjadi dasar minimum absolut. Sementara itu, premi risiko adalah komponen yang membuat hurdle rate menjadi alat yang fleksibel dan spesifik untuk setiap proyek, mengakui bahwa tidak semua investasi memiliki tingkat risiko yang sama.
b. Tentukan WACC (Weighted Average Cost of Capital)
Setelah memahami formula dasar, langkah selanjutnya adalah menentukan nilai WACC atau Weighted Average Cost of Capital. WACC mencerminkan rata-rata biaya modal yang berasal dari kombinasi utang dan ekuitas perusahaan.
Dengan mengetahui nilai WACC, perusahaan dapat memahami berapa biaya minimum yang harus dibayar untuk mendapatkan pendanaan. Hal ini menjadi acuan penting sebelum menambahkan komponen risiko dalam perhitungan hurdle rate. Rumus WACC adalah sebagai berikut:
WACC = (E / V × Re) + (D / V × Rd × (1 − T))
- E = Nilai ekuitas
- D = Nilai utang
- V = Total nilai perusahaan (E + D)
- Re = Biaya ekuitas
- Rd = Biaya utang
- T = Tarif pajak perusahaan
Selain itu, WACC membantu perusahaan menilai efisiensi struktur pendanaan. Semakin optimal struktur modal, semakin akurat pula hasil perhitungan hurdle rate yang dihasilkan. Menentukan WACC secara tepat akan memberikan dasar yang kuat untuk melanjutkan ke tahap berikutnya, yaitu menambahkan premi risiko.
c. Tambahkan Risk Premium (Premi Risiko)
Komponen ini digunakan untuk mencerminkan tingkat ketidakpastian yang melekat pada suatu proyek atau investasi. Premi risiko menjadi penting karena tidak semua investasi memiliki tingkat risiko yang sama. Oleh karena itu, proyek dengan risiko lebih tinggi biasanya memerlukan hurdle rate yang lebih tinggi pula. Berikut rumus premi risiko:
Risk Premium = Expected Return − Risk-Free Rate
Risk premium membantu perusahaan mengantisipasi kemungkinan kerugian akibat faktor eksternal. Dengan menambahkan komponen ini, perhitungan hurdle rate menjadi lebih realistis dan mencerminkan kondisi pasar yang sebenarnya. Dengan kata lain, semakin tinggi tingkat risiko investasi, semakin besar premi risiko yang perlu ditambahkan dalam perhitungan akhir.
d. Kombinasikan WACC dan Risk Premium
Langkah terakhir adalah menggabungkan kedua komponen tersebut untuk mendapatkan hurdle rate final. Dengan menjumlahkan WACC dan premi risiko yang telah ditentukan, perusahaan akan memperoleh tingkat pengembalian minimum yang spesifik untuk proyek yang sedang dievaluasi. Proses kombinasi ini menghasilkan sebuah patokan yang sangat relevan dan disesuaikan dengan konteks.
Sebagai contoh, jika WACC sebuah perusahaan adalah 10% dan sebuah proyek dianggap memiliki risiko tambahan yang layak diberi premi sebesar 5%, maka hurdle rate untuk proyek tersebut adalah 15%. Proyek lain yang lebih aman mungkin hanya memiliki premi risiko 2%, sehingga hurdle rate-nya adalah 12%. Fleksibilitas inilah yang menjadikanhurdle rate alat yang ampuh dalam alokasi modal yang cerdas.
Proses penentuan hurdle rate membutuhkan data keuangan yang akurat dan proyeksi yang terukur. Oleh karena itu, perusahaan dapat memanfaatkan software akuntansi ScaleOcean untuk mendukung analisis capital budgeting secara lebih sistematis. Dengan dashboard yang menggabungkan berbagai divisi ke dalam satu dashboard terintegrasi untuk meminimalkan silo data, manajemen dapat mengevaluasi berbagai skenario investasi dengan lebih cepat dan konsisten.
Selain itu, melalui fitur cash flow forecasting, ScaleOcean membantu mencatat transaksi keuangan sekaligus memprediksi arus kas masa depan secara lebih akurat. Dengan demikian, perusahaan memastikan keputusan investasi didukung oleh proyeksi keuangan yang realistis dan berbasis data. Untuk melihat bagaimana software membantu menetapkan hurdle rate yang tepat di perusahaan Anda, segera jadwalkan sesi demo gratis!
Baca juga: Apa Itu Capital Budgeting? Manfaat, Tahapan, dan Contohnya
4. Metode Penggunaan Hurdle Rate untuk Evaluasi Investasi
Penggunaannya tidak berhenti pada sekadar penetapan angka, tetapi terintegrasi langsung ke dalam kerangka analisis keuangan untuk menghasilkan keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dua metode paling umum yang memanfaatkan hurdle rate secara ekstensif adalah analisis Net Present Value (NPV) dan perbandingan dengan Internal Rate of Return (IRR). Berikut penjelasan detail mengenai metode penggunaan hurdle rate:
a. Evaluasi Melalui Pendekatan Net Present Value (NPV)
Dalam pendekatan NPV, hurdle rate digunakan sebagai tingkat diskonto untuk menghitung nilai sekarang dari seluruh arus kas masa depan (baik masuk maupun keluar) yang diproyeksikan dari sebuah investasi. Tujuannya untuk mengetahui berapa nilai proyek tersebut dalam mata uang hari ini.
NPV yang positif mengindikasikan bahwa proyek tersebut tidak hanya akan mengembalikan investasi awal, tetapi juga menghasilkan keuntungan yang melebihi tingkat pengembalian minimum yang disyaratkan (hurdle rate). Sebaliknya, NPV negatif berarti proyek tidak mampu mencapai garis batas tersebut dan akan menggerus nilai perusahaan. Oleh karena itu, penggunaan hurdle rate sebagai discount rate adalah inti dari analisis NPV yang valid.
b. Membandingkan Internal Rate of Return (IRR) dengan Hurdle Rate
Metode populer lainnya adalah membandingkan internal rate of return (IRR) proyek dengan hurdle rate yang telah ditetapkan. IRR adalah tingkat diskonto yang membuat NPV dari semua arus kas sebuah proyek sama dengan nol. Secara intuitif, IRR merepresentasikan tingkat pengembalian tahunan rata-rata yang diharapkan dari sebuah investasi.
Aturan pengambilan keputusannya juga sangat sederhana dan lugas. Jika IRR proyek lebih besar dari hurdle rate (IRR > Hurdle Rate), maka proyek tersebut diterima karena menghasilkan pengembalian yang lebih tinggi dari biaya modal dan kompensasi risikonya. Jika IRR lebih rendah, proyek tersebut ditolak. Perbandingan langsung ini menjadikan IRR sebagai alat intuitif bagi para pengambil keputusan untuk menilai profitabilitas relatif sebuah proyek.
5. Perbandingan Hurdle Rate vs Discount Rate vs WACC
Dalam diskusi keuangan, istilah hurdle rate, discount rate, dan WACC digunakan dan terkadang tumpang tindih, yang dapat menimbulkan kebingungan. Meskipun ketiganya saling terkait erat, mereka memiliki definisi dan fungsi yang berbeda dalam analisis keuangan.
Secara singkat, WACC adalah biaya modal, discount rate adalah tingkat yang digunakan untuk mendiskontokan arus kas masa depan, dan hurdle rate adalah tingkat pengembalian minimum yang dapat diterima. Hurdle rate sering kali menggunakan WACC sebagai dasarnya dan sering berfungsi sebagai discount rate dalam perhitungan NPV.
Berikut adalah perbandingan lebih rinci untuk memperjelas perbedaan dan hubungan di antara ketiganya:
- Tujuan Utama: Hurdle rate bertujuan menetapkan standar kelayakan minimum, sedangkan discount rate digunakan untuk menghitung nilai sekarang, dan WACC mengukur biaya modal perusahaan secara keseluruhan.
- Komponen: Hurdle rate umumnya terdiri dari WACC ditambah premi risiko, sementara discount rate bisa berupa hurdle rate atau tingkat lain, dan WACC terdiri dari biaya utang dan ekuitas.
- Keputusan: Keputusan berdasarkan hurdle rate adalah “terima/tolak” proyek, sedangkan discount rate memengaruhi nilai NPV, dan WACC menjadi dasar untuk berbagai keputusan pendanaan dan investasi.
- Karakteristik: Hurdle rate bersifat spesifik per proyek dan dapat bervariasi; discount rate adalah variabel dalam perhitungan, sementara WACC adalah metrik tunggal untuk seluruh perusahaan pada satu waktu.
Berikut adalah tabel perbandingan hurdle rate vs discount rate:
| Aspek | Hurdle Rate | Discount Rate | WACC |
|---|---|---|---|
| Definisi | Tingkat pengembalian minimum yang dapat diterima dari suatu proyek. | Tingkat bunga yang digunakan untuk menghitung nilai sekarang dari arus kas masa depan. | Biaya modal rata-rata tertimbang dari semua sumber pendanaan perusahaan. |
| Aplikasi Utama | Sebagai patokan untuk keputusan “Go/No-Go” pada proyek investasi. | Sebagai variabel dalam perhitungan Net Present Value (NPV). | Sebagai dasar untuk hurdle rate dan evaluasi kinerja perusahaan secara keseluruhan. |
| Sifat | Spesifik per proyek (disesuaikan dengan risiko). | Kontekstual (bisa sama dengan hurdle rate, WACC, atau suku bunga lainnya). | Berlaku untuk seluruh perusahaan (tingkat risiko rata-rata). |
6. Jenis Hurdle Rate
Meskipun konsep dasarnya sama, yaitu sebagai tingkat pengembalian minimum, hurdle rate dapat ditetapkan menggunakan berbagai pendekatan tergantung pada konteks, sumber pendanaan, dan filosofi manajemen risiko perusahaan. Berikut adalah beberapa jenis atau pendekatan umum dalam menetapkan hurdle rate.
a. Weighted Average Cost of Capital (WACC)
Pendekatan yang paling dasar dan umum adalah menggunakan WACC sebagai hurdle rate. Dalam metode ini, perusahaan menetapkan bahwa setiap proyek baru setidaknya harus menghasilkan pengembalian yang cukup untuk menutupi biaya pendanaan gabungan dari utang dan ekuitas.
Namun, kelemahan utamanya adalah metode ini mengabaikan perbedaan risiko antarproyek. Menggunakan satu WACC untuk semua jenis proyek, dari yang sangat aman hingga yang sangat spekulatif, dapat menyebabkan keputusan yang salah. Proyek berisiko rendah bisa jadi ditolak secara tidak adil, sementara proyek berisiko tinggi mungkin terlihat lebih menarik daripada yang seharusnya.
b. Cost of Equity (Biaya Modal Ekuitas)
Biaya ekuitas adalah tingkat pengembalian yang diharapkan oleh para pemegang saham sebagai kompensasi atas investasi mereka. Biasanya, biaya ekuitas lebih tinggi dari WACC karena pemegang saham menanggung risiko yang lebih besar daripada pemberi pinjaman.
Penggunaan biaya ekuitas sebagai hurdle rate mencerminkan fokus yang kuat pada penciptaan nilai bagi pemegang saham. Pendekatan ini memastikan bahwa proyek tidak hanya menguntungkan secara operasional, tetapi juga memenuhi ekspektasi pengembalian dari para pemilik perusahaan. Ini adalah standar yang lebih ketat dan sering digunakan dalam analisis yang berorientasi pada nilai pemegang saham.
c. Risk-Adjusted Hurdle Rate (Hurdle Rate Berbasis Risiko)
Di sini, WACC berfungsi sebagai dasar, dan premi risiko ditambahkan untuk setiap proyek secara individual berdasarkan penilaian risikonya. Metode ini secara eksplisit mengakui bahwa proyek yang berbeda memiliki tingkat ketidakpastian yang berbeda.
Dengan menyesuaikan hurdle rate untuk setiap proyek, perusahaan dapat membuat keputusan alokasi modal yang jauh lebih akurat. Proyek berisiko tinggi dihadapkan pada standar yang lebih tinggi, sementara proyek berisiko rendah dievaluasi dengan standar yang lebih masuk akal. Ini adalah praktik terbaik dalam capital budgeting yang modern.
d. Minimum Acceptable Rate of Return (MARR)
MARR adalah istilah yang sering digunakan secara bergantian dengan hurdle rate dan pada dasarnya merujuk pada konsep yang sama. Ini adalah tingkat pengembalian absolut terendah yang bersedia diterima oleh manajemen sebelum mempertimbangkan faktor-faktor lain. MARR sering kali ditetapkan oleh dewan direksi atau komite investasi sebagai kebijakan tingkat tinggi.
MARR bisa jadi hanya didasarkan pada WACC, atau bisa juga mencakup pertimbangan strategis lainnya. Misalnya, sebuah perusahaan mungkin menetapkan MARR sebesar 15% sebagai kebijakan umum, meskipun WACC-nya hanya 10%. Ini mencerminkan ambisi perusahaan untuk hanya mengejar peluang dengan potensi keuntungan yang signifikan.
e. Opportunity Cost (Biaya Kesempatan)
Pendekatan lain dalam menetapkan hurdle rate adalah dengan mempertimbangkan opportunity cost. Dalam konteks ini, hurdle rate ditetapkan berdasarkan tingkat pengembalian dari peluang investasi terbaik berikutnya yang tersedia bagi perusahaan. Logika di baliknya sederhana: mengapa berinvestasi dalam proyek A jika proyek B yang sama amannya menawarkan pengembalian yang lebih tinggi?
Misalnya, jika perusahaan dapat berinvestasi dalam obligasi pemerintah yang hampir bebas risiko dengan imbal hasil 7%, maka setiap proyek berisiko yang dipertimbangkan harus memiliki hurdle rate yang jauh di atas 7%. Pendekatan ini memastikan bahwa modal perusahaan selalu dialokasikan ke peluang yang paling produktif. Ini adalah cara yang pragmatis dan berorientasi pasar dalam menetapkan standar investasi.
7. Faktor yang Perlu Dipertimbangkan Saat Menetapkan Hurdle Rate
Faktor-faktor ini berkisar dari kondisi inflasi dan suku bunga di Indonesia hingga peluang investasi alternatif (Opportunity cost). Sebuah hurdle rate yang komprehensif menciptakan patokan yang dinamis dan relevan dengan realitas bisnis. Berikut adalah beberapa faktor kunci yang harus dipertimbangkan:
a. Tingkat Inflasi dan Suku Bunga di Indonesia
Tingkat inflasi dan suku bunga acuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia memiliki dampak langsung terhadap hurdle rate. Inflasi yang tinggi menggerus nilai riil dari pengembalian masa depan, sehingga perusahaan harus menuntut tingkat pengembalian nominal yang lebih tinggi untuk menjaga daya beli keuntungannya. Ini secara alami akan mendorong hurdle rate ke atas.
Sebagai contoh, Bank Indonesia pada Maret 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 4,75% guna menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi. Perubahan suku bunga acuan seperti ini secara langsung memengaruhi biaya pinjaman dan WACC perusahaan, sehingga berdampak pada penetapan hurdle rate dalam evaluasi investasi.
Demikian pula, kenaikan suku bunga acuan akan meningkatkan biaya pinjaman bagi perusahaan yang pada gilirannya akan menaikkan WACC. Karena WACC adalah komponen dasar dari hurdle rate, setiap perubahan kebijakan moneter harus dipantau dengan cermat. Mengabaikan faktor-faktor eksternal ini membuat hurdle rate menjadi tidak relevan dengan kondisi ekonomi saat ini.
b. Biaya Modal (Cost of Capital)
Faktor internal yang paling fundamental adalah biaya modal perusahaan itu sendiri. Struktur modal perusahaan (proporsi utang dan ekuitas), peringkat kreditnya, dan persepsi pasar terhadap risikonya semuanya memengaruhi WACC. Perusahaan dengan struktur modal yang efisien dan rekam jejak yang solid cenderung memiliki WACC yang lebih rendah, yang memberikan dasar hurdle rate yang lebih kompetitif.
Manajemen harus meninjau dan menghitung ulang WACC untuk memastikan angkanya tetap akurat. Perubahan signifikan dalam harga saham, suku bunga utang, atau strategi pendanaan perusahaan akan berdampak pada WACC. Oleh karena itu, biaya modal adalah titik awal yang dinamis, bukan angka yang statis, dalam penetapan hurdle rate.
c. Risiko Spesifik Proyek dan Volatilitas Pasar
Penilaian risiko yang cermat untuk setiap proyek adalah kunci untuk menetapkan premi risiko yang sesuai. Ini melibatkan analisis mendalam terhadap berbagai aspek, seperti kompleksitas teknologi, potensi gangguan pasar, kepastian estimasi arus kas, dan pengalaman tim proyek. Praktik akuntansi manajemen yang baik sangat membantu dalam mengkuantifikasi risiko-risiko ini.
Selain risiko internal proyek, volatilitas pasar secara umum juga harus dipertimbangkan. Industri yang sangat kompetitif atau rentan terhadap perubahan tren konsumen yang cepat memerlukan premi risiko yang lebih tinggi. Dengan demikian, analisis risiko yang holistik, mencakup baik elemen mikro (proyek) maupun makro (pasar), sangat penting untuk kalibrasi hurdle rate yang tepat.
d. Peluang Investasi Alternatif (Opportunity Cost)
Manajemen harus sadar akan peluang investasi lain yang tersedia, baik di dalam maupun di luar perusahaan. Jika ada peluang investasi lain dengan profil risiko serupa yang menawarkan pengembalian lebih tinggi, maka tingkat pengembalian dari alternatif tersebut secara efektif menjadi hurdle rate minimum untuk proyek yang sedang dipertimbangkan.
Misalnya, jika departemen A mengusulkan proyek dengan IRR 15%, tetapi departemen B memiliki proyek dengan IRR 20% dan risiko serupa, maka proyek departemen A mungkin tidak akan didanai. Pertimbangan biaya kesempatan ini memastikan modal selalu mengalir ke penggunaan yang paling bernilai tambah.
8. Contoh Perhitungan Hurdle Rate
PT Digital Nusantara sedang mempertimbangkan untuk berinvestasi dalam proyek pengembangan platform cloud computing baru. Proyek ini dianggap strategis tetapi memiliki risiko yang lebih tinggi daripada bisnis inti perusahaan. Tim keuangan PT Digital Nusantara menetapkan hurdle rate yang sesuai untuk proyek ini guna mengevaluasi kelayakannya.
Tim keuangan mengumpulkan data berikut untuk menghitung WACC:
- Nilai pasar ekuitas (E): Rp 80 triliun
- Nilai pasar utang (D): Rp 20 triliun
- Total modal (V = E + D): Rp 100 triliun
- Biaya ekuitas (Re): 15% (dihitung menggunakan CAPM)
- Biaya utang (Rd): 8% (berdasarkan suku bunga obligasi perusahaan)
- Tarif pajak perusahaan (Tc): 22%
WACC = (80/100 * 15%) + (20/100 * 8% * (1 – 0.22))
WACC = (0.8 * 0.15) + (0.2 * 0.08 * 0.78)
WACC = 0.12 + 0.01248
WACC = 0.13248 atau 13.25%
Jadi, biaya modal rata-rata tertimbang untuk PT Digital Nusantara adalah 13.25%. Ini adalah dasar untuk hurdle rate. Selanjutnya, tim manajemen mengevaluasi risiko-risiko spesifik yang terkait dengan proyek platform cloud:
- Risiko Teknologi: 2.0%
- Risiko Kompetisi: 3.5%
- Risiko Eksekusi: 1.5%
Total Premi Risiko = 2.0% + 3.5% + 1.5% = 7.0%
Sekarang, Anda dapat menghitung hurdle rate final untuk proyek ini dengan menjumlahkan WACC dan total premi risiko.
Hurdle Rate = 13.25% + 7.0%
Hurdle Rate = 20.25%
Hurdle Rate = 13.25% + 7.0% = 20.25%
Dengan demikian, hurdle rate yang ditetapkan untuk proyek pengembangan platform cloud computing adalah 20.25%.
Tim proyek kemudian memproyeksikan arus kas dari platform cloud tersebut dan menghitung IRR-nya. Jika hasil perhitungan IRR proyek ini adalah 25%, maka proyek akan diterima karena 25% > 20.25%. Namun, jika IRR yang dihitung hanya 18%, proyek tersebut akan ditolak karena tidak memenuhi tingkat pengembalian minimum yang disyaratkan.
9. Kelebihan Utama Hurdle Rate
Keunggulan hurdle rate terletak pada kemampuannya untuk menyaring investasi objektif, mengendalikan risiko, dan menganalisis NPV. Berikut penjelasan mengenai kelebihan yang diberikan oleh metrik ini:
a. Penyaring Investasi Objektif
Kelebihan paling mendasar dari hurdle rate adalah perannya sebagai penyaring investasi yang objektif dan konsisten. Ini menyediakan kriteria “ya atau tidak” yang jelas, yang mengurangi ambiguitas dan potensi bias dalam pengambilan keputusan.
Objektivitas ini berharga dalam organisasi besar di mana banyak departemen bersaing untuk mendapatkan anggaran. Hurdle rate menciptakan lapangan bermain yang setara, di mana semua proposal dievaluasi berdasarkan metrik yang sama. Hal ini mendorong para manajer untuk membangun kasus bisnis yang kuat dan didukung oleh data yang solid.
b. Pengendalian Risiko yang Lebih Baik
Dengan memasukkan secara eksplisit premi risiko ke dalam perhitungannya, hurdle rate menjadi alat manajemen risiko yang sangat efektif. Ini memaksa perusahaan untuk tidak hanya memikirkan potensi keuntungan, tetapi juga secara sistematis mengidentifikasi, menilai, dan mengkuantifikasi risiko yang terkait dengan setiap investasi.
Proses penetapan premi risiko mendorong diskusi mendalam tentang potensi tantangan, mulai dari volatilitas pasar hingga kendala teknis. Hal ini memastikan perusahaan hanya mengambil risiko yang diperhitungkan dan mendapatkan kompensasi yang memadai untuknya. Dengan demikian, hurdle rate membantu menciptakan keseimbangan yang sehat antara risiko dan imbal hasil dalam portofolio investasi perusahaan.
c. Alat Analisis NPV/IRR
Hurdle rate adalah komponen yang tak terpisahkan dari dua alat analisis investasi yang paling dihormati, yaitu NPV dan IRR. Tanpa hurdle rate sebagai tingkat diskonto atau patokan pembanding, kedua metode tersebut kehilangan banyak signifikansinya. Hurdle rate memberikan konteks yang diperlukan untuk menafsirkan hasil perhitungan NPV dan IRR.
NPV positif hanya bermakna jika tingkat diskonto yang digunakan (hurdle rate) secara akurat mencerminkan biaya modal dan risiko proyek. Demikian pula, IRR yang tinggi hanya mengesankan jika secara signifikan melebihi hurdle rate. Oleh karena itu, keandalan analisis NPV dan IRR sangat bergantung pada penetapan hurdle rate yang cermat dan realistis.
10. Kekurangan Hurdle Rate
Mengandalkan metrik ini secara membabi buta tanpa menyadari potensi kelemahannya dapat mengarah pada keputusan suboptimal. Kelemahan ini umumnya berasal dari asumsi yang melekat dalam perhitungannya dan dari bagaimana metrik ini berinteraksi dengan jenis proyek tertentu. Berikut adalah beberapa kekurangan utama yang perlu diwaspadai.
a. Bias Terhadap Proyek Jangka Panjang
Salah satu kritik yang paling umum terhadap hurdle rate adalah biasnya terhadap proyek jangka panjang. Proyek dengan periode pengembalian yang lebih panjang, seperti investasi besar dalam infrastruktur atau penelitian dan pengembangan fundamental, cenderung memiliki arus kas yang signifikan di masa depan yang jauh. Hurdle rate yang tinggi akan mendiskontokan nilai arus kas masa depan ini secara drastis.
Akibatnya, proyek-proyek strategis jangka panjang ini mungkin menunjukkan NPV yang rendah atau bahkan negatif, membuatnya tampak tidak menarik dibandingkan dengan proyek jangka pendek yang menghasilkan keuntungan lebih cepat. Hal ini dapat mendorong perusahaan untuk fokus pada keuntungan jangka pendek dan mengabaikan investasi transformasional yang penting untuk daya saing masa depan.
b. Mengabaikan Nilai Absolut
Metode evaluasi yang menggunakan hurdle rate, seperti perbandingan IRR, berfokus pada tingkat pengembalian relatif daripada kontribusi nilai absolut. Hal ini menjadi masalah ketika membandingkan proyek dengan skala yang berbeda. Sebuah proyek kecil mungkin memiliki IRR yang sangat tinggi, tetapi hanya menghasilkan keuntungan absolut sebesar Rp 1 miliar.
Di sisi lain, proyek besar dan strategis mungkin memiliki IRR yang hanya sedikit di atas hurdle rate, tetapi mampu menghasilkan keuntungan absolut sebesar Rp 50 miliar. Jika perusahaan hanya berfokus pada pemeringkatan berdasarkan IRR, mereka mungkin akan salah memprioritaskan proyek yang lebih kecil. Oleh karena itu, penting untuk melengkapi analisis dengan melihat nilai absolut yang diciptakan.
c. Sensitif Terhadap Kondisi Ekonomi
Penetapan hurdle rate sangat bergantung pada variabel pasar yang dapat berfluktuasi, seperti suku bunga, harga saham, dan persepsi risiko investor secara umum. Komponen-komponen ini membentuk WACC dan premi risiko. Akibatnya, penghitungan bisa menjadi sangat volatil dan berubah seiring waktu karena faktor-faktor di luar kendali perusahaan.
Ketergantungan pada kondisi pasar ini menciptakan inkonsistensi dalam pengambilan keputusan. Sebuah proyek yang dianggap layak hari ini mungkin akan ditolak beberapa bulan kemudian hanya karena perubahan kondisi makroekonomi, meskipun fundamental proyek itu sendiri tidak berubah. Oleh karena itu, manajemen perlu menggunakan penilaian strategis dan tidak hanya mengikuti angka secara mekanis.
11. Kesimpulan
Hurdle rate adalah tingkat pengembalian yang wajib dicapai proyek atau divisi sebelum dianggap layak untuk dilaksanakan. Dengan demikian, metrik ini membantu perusahaan mengevaluasi investasi secara objektif sekaligus mengarahkan alokasi modal secara lebih strategis.
Software akuntansi ScaleOcean membantu perusahaan menetapkan hurdle rate yang tepat dan memprediksi arus kas secara lebih akurat melalui fitur cash flow forecasting. Oleh karena itu, jadwalkan demo gratis sekarang untuk melihat bagaimana ScaleOcean mendukung keputusan investasi yang lebih tepat.
FAQ terkait Hurdle Rate:
1. Apa risiko jika hurdle rate terlalu rendah?
Perusahaan bisa menerima proyek yang tidak cukup menguntungkan dan berisiko merugikan.
2. Apakah hurdle rate selalu sama untuk semua proyek dalam satu perusahaan?
Tidak selalu. Banyak perusahaan menetapkan hurdle rate yang berbeda untuk setiap proyek, terutama jika proyek tersebut memiliki tingkat risiko, durasi, atau sektor bisnis yang berbeda.
3. Bagaimana hubungan antara hurdle rate dan capital budgeting?
Hurdle rate merupakan salah satu parameter utama dalam capital budgeting karena digunakan untuk menilai kelayakan proyek sebelum dana dialokasikan.
4. Apakah hurdle rate digunakan dalam merger dan akuisisi (M&A)?
Hurdle rate digunakan untuk mengevaluasi apakah akuisisi atau merger akan memberikan return yang sesuai dengan risiko investasi.
5. Apakah hurdle rate sama dengan target return perusahaan?
Tidak selalu. Hurdle rate adalah minimum return, sedangkan target return bisa lebih tinggi tergantung strategi perusahaan.













































WhatsApp Tim Kami
Demo With Us



