Reputasi bisnis perusahaan di pasar global saat ini sedang dipermainkan oleh ESG score karena investor dan lembaga keuangan menjadikan nilai ini sebagai tanda ideal suatu perusahaan. Namun, ketidakpastian menghadapi regulasi seperti pajak karbon menjadi salah satu tantangan dalam menjaga ESG score.
Regulasi yang tidak pasti dapat menyebabkan biaya operasional melonjak tiba-tiba karena emisi perusahaan yang tidak terukur dengan benar. Maka dari itu, manajemen harus segera beralih ke sistem pemantauan nilai tersebut yang lebih akurat sesuai kondisi terkini.
Harapannya, score ESG yang akurat dapat menjadi indikator atau peringatan dini bagi perusahaan dalam memprediksi liabilitas finansial dari jejak karbon dan membantu perancangan strategi mitigasi. Dengan demikian, artikel ini akan mengulas topik seputar definisi, cara menghitung, dampak, faktor, tantangan, dan cara meningkatkan ESG score.
- ESG score adalah angka yang menunjukkan sejauh mana kinerja keberlanjutan perusahaan serta dampaknya terhadap lingkungan, sosial, dan tata kelola.
- Cara menghitung skor ESG dimulai dari penentuan materialitas, pengumpulan data, pemberian skor, pembobotan dan agregasi, serta benchmarking.
- Faktor-faktor ESG score adalah aspek lingkungan (environmental impact), aspek sosial (social responsibility), dan aspek tata kelola (corporate governance).
- Software ERP ScaleOcean membantu perusahaan mengelola ESG secara terintegrasi, real-time, dan sesuai regulasi untuk meningkatkan ESG score.
1. Apa Itu ESG Score?
ESG score adalah nilai numerik yang mengukur kinerja keberlanjutan suatu perusahaan dan dampaknya terhadap lingkungan, sosial, dan tata kelola. Sebelum bekerja sama dengan suatu perusahaan, pemangku kepentingan seperti investor menggunakan nilai ini untuk mengetahui apakah suatu perusahaan aman dan rendah risiko.
Komponennya meliputi aspek lingkungan (Environmental), sosial (Social), tata kelola (Governance). Skor ESG berguna untuk analisis risiko, keputusan investasi, penanda kinerja saham, serta pendorong transparansi dan reputasi perusahaan.
Biasanya, nilai tersebut berada pada skala 0-100. Apabila suatu perusahaan mendapat skor yang lebih tinggi, hal ini menunjukkan perusahaan telah memberikan kinerja keberlanjutan yang baik dan berdampak positif pada ketiga aspek tersebut.
2. Mengapa ESG Score Sangat Penting bagi Perusahaan?
Bagi investor, ESG score merupakan faktor penentu utama dalam pengambilan keputusan investasi. Skor perusahaan mencerminkan perkiraan keuntungan finansial yang dapat diperoleh oleh investor di masa depan setelah menanamkan modalnya di suatu perusahaan.
Selain itu, perusahaan dengan skor yang tinggi berarti manajemen berhasil mengelola dampak dan risiko jangka panjang yang sejalan dengan konsep sustainable business. Ketika harus berhadapan dengan dinamika bisnis global secara tiba-tiba, perusahaan lebih siap menghadapi tantangannya seperti perubahan iklim dan ketidaksetaraan sosial.
Tidak hanya untuk menarik perhatian investor, tetapi perusahaan yang berfokus pada pengelolaan lingkungan juga menarik di mata para calon pekerja. Misalnya, generasi saat ini cenderung memiliki perusahaan yang sesuai dengan keyakinan nilai pribadi mereka, yaitu cinta lingkungan.
Komitmen perusahaan terhadap isu sosial dan lingkungan dapat meningkatkan citra perusahaan sebagai tempat yang positif dan berujung pada penarikan talenta terbaik yang sesuai dengan tujuan perusahaan. Peningkatan penjualan juga dapat dirasakan perusahaan karena banyak konsumen yang lebih memilih untuk mendukung produk dari brand yang bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan.
Baca juga: Balanced Scorecard: Pengertian, Fungsi dan Cara Menyusunnya
3. Apa Perbedaan ESG Score vs. ESG Rating?
Perbedaan ESG score dan ESG rating dilihat dari definisi dan fokus, format hasil, tujuan, sifat, dan penggunanya. Berikut adalah perbedaan utama antara ESG score dan ESG rating yang perlu perusahaan ketahui:
a. Definisi dan Fokus
ESG score lebih berfokus pada informasi nilai secara numerik yang berasal dari dari data kinerja ESG suatu perusahaan. Sementara itu, ESG rating menekankan pada kategori tertentu yang berguna untuk mengklasifikasikan perusahaan berdasarkan risiko dan kinerjanya.
b. Format Hasil
Dikarenakan ESG score berfokus pada nilai berupa angka, maka skala yang digunakan adalah 0-100. ESG rating ditunjukkan dengan huruf sebagai kategorinya, seperti AAA, BB, atau CCC, mirip dengan peringkat kredit.
c. Tujuan
Tujuan skor ESG adalah sebagai analisis internal dan pelacakan kinerja dari waktu ke waktu. Di lain sisi, pemangku kepentingan menggunakan ESG rating untuk perbandingan eksternal, yaitu membandingkan kinerja satu perusahaan dengan perusahaan lain.
d. Sifat
Secara sifat, ESG score lebih objektif karena didasarkan langsung pada data yang dilaporkan oleh perusahaan. Sebaliknya, ESG rating bersifat lebih subjektif karena melibatkan analisis dan interpretasi, dan peninjauan dari lembaga pemeringkat.
e. Pengguna
Tim manajemen internal, tim Corporate Social Responsibility (CSR), dan tim operasional perusahaan lebih sering menggunakan ESG score. Pengguna utama ESG rating adalah investor eksternal, manajer aset, dan analis keuangan untuk membuat keputusan investasi.
Perbedaan ini penting karena digunakan sebagai aspek krusial bagi perusahaan di Indonesia, khususnya yang masuk ke dalam Bursa Efek Indonesia (BEI) dan terkait dengan IDXESGL. Indeks tersebut mengukur dan menyeleksi emiten yang memiliki penilaian keberlanjutan yang baik, sehingga pelaku pasar modal menjadikan itu sebagai patokan utama.
Ketika ingin menanamkan modalnya, para investor bisa memanfaatkan ESG rating untuk analisis perbandingan dalam menentukan portofolio investasi yang aman. Dari sisi regulasi, Otoritas Jasa Keungan (OJK) meminta perusahaan meningkatkan transparansi melalui publikasi laporan keberlanjutan.
4. Bagaimana Cara Menghitung ESG Score?
Proses perhitungan ESG score dimulai dari penentuan materialitas, pengumpulan data, pemberian skor, pembobotan dan agregasi, dan benchmarking. Berikut adalah langkah-langkah dalam proses penghitungan ESG score:
a. Penentuan Materialitas (Materiality Assessment)
Pertama, manajemen harus menentukan apa saja isu sosial dan lingkungan yang paling relevan dan berdampak signifikan bagi industri dan perusahaan. Isu yang menjadi fokus perusahaan tambang akan berbeda dengan perusahaan teknologi.
b. Pengumpulan Data
Selanjutnya, tim akan mengumpulkan data seperti laporan tahunan, sustainability report, pengajuan ke regulator, website perusahaan, dan sumber pihak ketiga (media dan LSM). Setiap tahapannya membutuhkan data yang lengkap dan berkualitas, sehingga hasil penilaian akhir dapat lebih akurat.
c. Pemberian Skor (Scoring)
Metriks data yang relevan akan diberi skor berdasarkan metode yang telah ditetapkan. Dalam prosesnya, penilaian dilakukan berdasarkan kebijakan, kinerja, dan target ESG keberlanjutan yang dilaporkan oleh perusahaan.
d. Pembobotan dan Agregasi
Pada tahap ini, skor dari masing-masing metrik dibobotkan sesuai dengan tingkat materialitasnya. Kemudian, skor-skor ini disatukan untuk menghasilkan skor akhir untuk setiap aspek, yaitu lingkungan, sosial, dan tata kelola serta skor ESG keseluruhan.
e. Benchmarking (Perbandingan dengan Kompetitor)
Terakhir, lembaga pemeringkat akan membandingkan skor perusahaan dengan skor kompetitor di industri yang sama. Lembaga pemeringkat melakukan ini untuk mengetahui posisi suatu perusahaan di antara para pesaingnya dalam mendukung ESG.
Perhitungan dan pengelolaannya dapat dikendalikan dengan satu sistem terpusat seperti Software ERP ScaleOcean. Beberapa fitur pendukungnya adalah integrasi data ESG yang terpisah-pisah ke dalam satu sistem, dashboard real-time mendukung pengukuran kinerja ESG kapan saja, serta pelaporan ESG otomatis sesuai standar GRI atau SASB yang akan menimalkan risiko kesalahan manual.
Sistem ini juga mampu mengevaluasi risiko ESG, memastikan data laporan ESG mematuhi regulasi nasional dan internasional, dan memberikan perusahaan akses untuk memantau seluruh upaya keberlanjutannya. Penasaran bagaimana ScaleOcean dapat mengoptimalkan kinerja ESG bisnis Anda? Jadwalkan demo gratis untuk melihat cara kerjanya.
5. Apa Dampak ESG Score yang Rendah bagi Perusahaan?
Secara sederhana, skor ESG yang rendah menggambarkan kinerja keberlanjutan yang masih kurang, sehingga perusahaan akan sulit mendapatkan modal dari lembaga keuangan. Perusahaan bisa menghadapi penolakan investasi dari investor karena risiko keberlanjutannya yang tinggi.
Bukan hanya kehilangan modal, melainkan reputasi perusahaan juga menjadi taruhannya. Reputasi yang buruk dapat secara langsung menurunkan tingkat kepercayaan publik dan berujung pada penurunan angka penjualan.
Kinerja ESG yang lemah terus-menerus memperbesar potensi terjadinya tuntutan hukum dan risiko denda akibat ketatnya regulasi dari pemerintah. Baik cepat maupun lambat, perusahaan dapat dianggap gagal dan mengelola risiko non-finansial ini dan berakhir pada kehilangan keunggulan kompetitif.
6. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Skor ESG Perusahaan
Faktor yang memengaruhi skor ESG perusahaan adalah aspek lingkungan, aspek sosial, dan aspek tata kelola. Berikut adalah tiga faktor utama yang memengaruhi ESG skor suatu perusahaan:
a. Aspek Lingkungan (Environmental Impact)
Aspek lingkungan menilai bagaimana perusahaan mengelola dampak aktivitas operasionalnya terhadap lingkungan atau bumi. Pengukurannya dilihat dari emisi gas rumah kaca, efisiensi penggunaan energi dan air, kebijakan pengelolaan limbah dan polusi, dan penggunaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
b. Aspek Sosial (Social Responsibility)
Dalam hal ini, perusahaan memprioritaskan hubungan perusahaan dengan manusia dan faktor yang dinilai meliputi kebijakan ketenagakerjaan seperti upah, kesehatan dan keselamatan kerja, keberagaman, dan program pengembangan karyawan. Di luar perusahaan, dilihat dampaknya pada komunitas lokal, rantai pasok, keamanan produk, serta praktik CSR.
c. Aspek Tata Kelola (Corporate Governance)
Sedangkan aspek ini lebih menekankan pada pengujian sistem, kebijakan, dan proses untuk mengarahkan dan mengendalikan perusahaan. Selain itu, faktor transparansi, etika bisnis, dan struktur dewan direksi juga masuk dalam penilaian untuk menjamin kinerja keberlanjutan.
Apabila perusahaan aktif dalam tiga aspek ini, maka perusahaan tidak akan kesulitan dalam mematuhi regulasi POJK No.51/POJK.03/2017 tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan bagi Lembaga Jasa Keuangan, Emiten, dan Perusahaan Publik. Aturan ini mengharuskan perusahaan menyusun laporan keberlanjutan dan menyampaikannya kepada OJK setiap tahun.
7. Tantangan dan Limitasi dalam Pengukuran ESG Score
Lima tantangan dalam pengukuran ESG score antara lain kurangnya standarisasi global, inkonsistensi skor antar lembaga pemeringkat, masalah kualitas dan ketersediaan data, risiko greenwashing, dan lagging indicators. Berikut adalah beberapa tantangan utama dalam proses pengukuran skor ESG:
a. Kurangnya Standarisasi Global
Tidak tersedianya suatu kerangka laporan atau metode ESG secara universal, maka akan menyulitkan perusahaan dalam melaporkan data kinerja keberlanjutannya secara konsisten. Investor juga akan menghadapi kebingunan saat ingin membandingkan kinerja antar perusahaan.
b. Inkonsistensi Skor antar Lembaga Pemeringkat
Hasil skor atau rating dari lembaga pemeringkat sering berbeda untuk perusahaan yang sama karena standarisasi yang kurang. Nilai skor yang tidak konsisten ini dapat menciptakan kebingungan di pasar dan merusak kepercayaan terhadap validitas penilaian ESG.
c. Masalah Kualitas dan Ketersediaan Data
Terkadang perusahaan lebih banyak memiliki data ESG yang sulit diukur, sehingga tantangan yang harus dihadapi adalah mengumpulkan data yang lengkap, akurat, dan mudah diverifikasi. Oleh karena itu, solusi digital seperti software esg diperlukan untuk mempermudah penyimpanan dan validasi data.
d. Risiko Greenwashing
Greenwashing adalah praktik ketika perusahaan berpura-pura atau memanipulasi yang seakan-akan produk dan aktivitas bisnisnya ramah lingkunga, padahal sebenarnya tidak. Tindakan ini akan merusak integritas data ESG dan menyulitkan investor untuk membedakan antara komitmen ESG perusahaan yang sesuai.
e. Lagging Indicators (Data yang Tertunda)
Laporan data ESG umumnya dilaporakan hanya setahun sekali, sehingga lembaga pemeringkat menggunakan data yang mungkin sudah tidak relevan. Data yang tertunda ini menyebabkan skor ESG yang tidak sesuai dengan kinerja perusahaan secara real-time.
8. Manfaat Mengelola ESG Score bagi Bisnis
Mengelola ESG score bermanfaat untuk meningkatkan citra perusahaan, akses ke pembiayaan dan investasi, mitigasi risiko dan ketahanan bisnis, serta peningkatan efisiensi operasional dan penghematan biaya. Berikut adalah manfaat utama dari pengelolaan ESG score bagi bisnis:Â
a. Meningkatkan Citra Perusahaan
Komitmen terhadap ESG dapat meningkatkan reputasi dan citra merek di mata konsumen, karyawan, dan masyarakat umum. Lebih lanjut, perusahaan akan mendapatkan kepercayaan dan loyalitas yang lebih baik.
b. Akses ke Pembiayaan dan Investasi
Investor lebih tertarik dengan perusahaan yang memiliki skor ESG tinggi dan mereka akan mempertimbangkan untuk memberikan modalnya bagi perusahaan. Kini, banyak dana investasi yang disalurkan ke perusahaan yang telah memenuhi kriteria ESG.
c. Mitigasi Risiko dan Ketahanan Bisnis (Risk Management)
Kerangka kerja ESG membantu perusahaan mengidentifikasi, mengukur, dan mengelola berbagai risiko non-finansial, mulai dari risiko perubahan iklim hingga risiko rantai pasok. Manajemen risiko yang lebih baik ini pada akhirnya meningkatkan ketahanan operasional dan stabilitas perusahaan dalam menghadapi krisis.
d. Peningkatan Efisiensi Operasional dan Penghematan Biaya
Efisiensi energi dan pengurangan limbah membantu perusahaan dalam menghemat biaya operasionalnya. Contohnya adalah program carbon offset yang terencana, sehingga mengurangi beban pajak karbon di masa depan.
9. Contoh Perusahaan dengan ESG Score Tinggi
Sudah cukup banyak perusahaan baik di dalam negeri maupun liuar negeri yang memiliki tim khusus yang bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan. Perusahaan besar seperti Unilever juga turut mengambil bagian dalam pengelolaan dampak bisnis terhadap lingkungan dan sosial.
Dikutip dari Unilever.co.id, diketahui bahwa Unilever telah mendapatkan apresiasi dari CSA Awards atas komitmennya dalam menerapkan prinsip keberlanjutan. Unilever mengedepankan penggunaan energi terbarukan, pertanian regeneratif, dan pengurangan penggunaan plastik.
Sejak 2015 hingga 2023, mereka telah mengurangi 89,45% emisi karbon dan berhasil mengelola sampah plastik sebanyak 56.159 ton. Selain Unilever, ada juga BCA yang menaruh perhatiannya pada aspek-aspek tersebut.
Usaha komitmen ESG dari BCA terlihat dari beberapa upayanya seperti bergabung dengan Partnership for Carbon Accounting Financials (PCAF) untuk menghitung emisi pembiayaan, menyampaikan rencana Aksi Keuangan Berkelanjutan (RAKB) kepada OJK, serta pembinaan UMKM.
BCA diketahui telah menyalurkan dananya sebesar Rp169,8 miliar untuk meningkatkan kualitas hidup masyarkat. Melalui berbagai upaya yang dilakukannya, BCA meraih ESG score sebesar 86 dari salah satu lembaga keuangan di dunia, yaitu Refinitiv dan hal ini menunjukkan BCA sudah sangat bagus dalam mengelola dampak bisnisnya.
10. Cara Meningkatkan ESG Score Perusahaan Anda
ESG score dapat diitingkatkan dengan fokus pada keberlanjutan lingkungan, meningkatkan praktik sosial, memperkuat tata kelola, dan menyusun kebijakan ESG dengan baik. Berikut adalah cara perusahaan untuk meningkatkan skor ESG:
a. Fokus pada Keberlanjutan Lingkungan (Environmental)
Sebagai langkah awal, tim manajemen memulai dengan mengukur dan menetapkan target keberlanjutan seperti untuk mengurangi emisi karbon, penggunaan air, dan limbah. Kemudian secara pelan-pelan mulai mengimplementasikan program efisiensi energi dan penggunaan energi terbarukan dalam aktivitas bisnisnya.
b. Meningkatkan Praktik Sosial (Social)
Untuk memastikan praktik sosial yang baik, perusahaan harus memastikan kebijakan upah yang adil, lingkungan yang aman, dan keberagaman yang kuat. Terciptanya hubungan dan lingkungan yang positif baik dengan anggota internal maupun mitra eksternal akan menunjukkan praktis sosial yang etis dari perusahaan.
c. Memperkuat Tata Kelola (Governance)
Perusahaan perlu meninjau ulang struktur dewan direksi untuk memastikan adanya ketidakberpihakan dan keragaman yang baik. Di samping itu, kembangkan kebijakan anti-korupsi, tingkatkan transparansi dalam setiap laporan, dan kuatkan perlindungan hak bagi pemegang saham minoritas.
d. Menyusun Kebijakan ESG dengan Baik
Komitmen ESG bukan hanya sebuah tujuan biasa, maka dari itu perusahaan perlu membuat standar dan kebijakan formal yang terstruktur. Kebijakan meliputi tujuan jangka pendek dan jangka panjang, metrik KPI, dan tanggung jawab yang jelas.
11. Kesimpulan
ESG score adalah metrik numerik yang mengukur kinerja keberlanjutan suatu perusahaan dan dampak etika yang dilakukan perusahaan terhadap lingkungan dan sosial. Skor yang tinggi memberikan banyak keuntungan seperti investor lebih tertarik, reputasi meningkat, hingga peningkatan penjualan.
Digitalisasi dengan Software ERP ScaleOcean membantu pengelolaan ESG score dengan fitur integrasi data terpusat, otomatisasi laporan, dan analisis risiko. Sudah siap untuk beralih menjadi bisnis berkelanjutan? Anda dapat memulainya dengan demo gratis bersama tim ScaleOcean.
FAQ:
1. Indikator ESG apa saja?
Indikator ESG meliputi metrik non-keuangan untuk menilai keberlanjutan perusahaan. Penilaiannya mencakup emisi karbon, keberagaman karyawan, keselamatan kerja, transparansi finansial penggunaan energi, limbah, hingga kemandirian dewan direksi.
2. Apa yang dimaksud dengan ESG score?
Skor ESG adalah tolak ukur yang digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan dalam menghadapi isu lingkungan, sosial, dan tata kelola.
3. Apa yang dimaksud dengan ESG?
ESG (Environmental, Social, and Governance) adalah standar atau acuan yang dipakai perusahaan maupun investor untuk menilai performa keberlajutan berserta dampak moral dari suatu perusahaan.







