Menentukan nilai riil bisnis sering kali menantang, meskipun operasional berjalan efisien dan kepatuhan pajak terjaga. Hal ini disebabkan oleh kurangnya formalisasi keahlian internal dan prosedur penting dalam bentuk aset terstruktur, seperti SOP digital atau hak lisensi, yang membuat penilaian bisnis menjadi tidak jelas.
Untuk mengatasi hal ini, pengelolaan aset tak berwujud dengan benar adalah kunci untuk mengubah keahlian tersebut menjadi nilai yang terukur. Dengan menjadikan lisensi software, basis pengetahuan, dan protokol keamanan sebagai aset resmi, perusahaan dapat memperkuat posisinya dan meningkatkan valuasi bisnis secara signifikan.
Dalam artikel ini, temukan informasi terkait pengertian, karakteristik, serta contoh aset tak berwujud. Dengan memahami hal tersebut, Anda dapat mempertimbangkan langkah-langkah yang tepat dalam pengelolaannya untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan perusahaan secara lebih efisien.
- Aset tak berwujud adalah aset non-moneter tanpa wujud fisik yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau tujuan administratif.
- Karakteristik utama aset tak berwujud meliputi ketiadaan wujud fisik, dapat diidentifikasi, serta manfaat jangka panjang bagi perusahaan.
- Kategori aset tak berwujud mencakup hak kekayaan intelektual, aset teknologi, aset pelanggan, aset kontrak, hingga goodwill yang muncul dari akuisisi.
- Software Akuntansi ScaleOcean dapat mengotomatisasi perhitungan amortisasi dan memastikan penilaian aset tak berwujud.
1. Apa Itu Aset Tak Berwujud (Intangible Asset)?
Aset tak berwujud atau intangible asset adalah aset non-moneter yang dapat diidentifikasi, tidak memiliki wujud fisik, dan dimiliki untuk digunakan dalam menghasilkan barang atau jasa, disewakan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif. Berbeda dengan aset berwujud seperti tanah, bangunan, atau inventaris, nilai aset tak berwujud tidak terletak pada substansi fisiknya.
Nilai aset tak berwujud berasal dari hak, keuntungan kompetitif, dan klaim atas manfaat ekonomi di masa depan, seperti pengetahuan, hubungan, atau hak hukum. Menurut SAK, aset ini harus memenuhi tiga kriteria utama, yaitu dapat diidentifikasi, dikendalikan perusahaan, dan memberikan manfaat ekonomi di masa depan.
Keteridentifikasian berarti aset tersebut dapat dipisahkan dari perusahaan dan dijual, dialihkan, atau dilisensikan. Pengendalian berarti perusahaan memiliki kekuatan untuk memperoleh manfaat ekonomi dari aset tersebut dan membatasi akses pihak lain terhadap manfaat tersebut.
Baca juga: Laporan Posisi Keuangan: Pengertian, Fungsi, Jenis, dan Contoh
2. Karakteristik Utama Aset Tak Berwujud
Karakteristik utama aset tak berwujud meliputi tidak memiliki wujud fisik, dapat diidentifikasi dan dipisahkan dari perusahaan atau berasal dari hak kontraktual, diharapkan memberikan manfaat ekonomi di masa depan, dan dimiliki atau dikendalikan oleh entitas untuk kegiatan komersial.
Berikut penjelasan dari karakteristik utama aset tak berwujud:
a. Tidak Memiliki Wujud Fisik
Karakteristik utama aset tak berwujud adalah ketiadaan substansi fisik. Keberadaannya lebih bersifat konseptual atau legal, seperti hak cipta atau merek dagang. Meskipun demikian, aset ini tetap bernilai dan dapat dipisahkan serta diperdagangkan secara independen, seperti halnya hak paten atau perangkat lunak.
b. Memiliki Nilai Ekonomi
Setiap aset, baik berwujud maupun tak berwujud, memiliki nilai ekonomi yang diakui dalam laporan keuangan. Untuk aset tak berwujud, nilai tersebut datang dari hak dan keistimewaan yang memberi keunggulan kompetitif atau potensi pendapatan masa depan. Meski sulit diukur, nilai ini berkontribusi pada arus kas perusahaan.
c. Memberikan Manfaat Jangka Panjang
Aset tak berwujud dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan, melebihi satu periode akuntansi. Manfaat ini bisa berupa peningkatan pendapatan atau efisiensi operasional yang terus berlanjut. Aset ini, meski umurnya terbatas atau tidak terbatas, memberikan keuntungan yang dihitung melalui amortisasi dalam proses akuntansi.
3. Kategori dan Contoh Aset Tak Berwujud dalam Bisnis
Aset tak berwujud hadir dalam berbagai bentuk dan dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori utama berdasarkan sifat dan fungsinya. Mengelompokkan aset-aset ini membantu perusahaan dalam mengidentifikasi, mengelola, dan menilainya dengan lebih efektif.
Berikut adalah kategori dan contoh aset tak berwujud dalam bisnis:
a. Hak Kekayaan Intelektual (HKI)
HKI adalah kategori aset tak berwujud yang memberikan hak eksklusif pada pencipta atas kreasinya. Melalui perlindungan hukum, seperti hak paten, hak cipta, dan merek dagang, perusahaan dapat memonetisasi inovasi mereka dan melindungi produk dari peniruan ilegal.
b. Aset Terkait Teknologi dan Software
Aset berbasis teknologi mencakup inovasi yang mendukung keunggulan kompetitif perusahaan. Contoh pentingnya adalah perangkat lunak, basis data, dan rahasia dagang. Aset ini sangat vital bagi perusahaan teknologi dan manufaktur yang bergantung pada keamanan data dan proses inovatif mereka.
c. Aset Terkait Pelanggan dan Pemasaran
Aset ini berfokus pada hubungan perusahaan dengan pelanggannya, termasuk daftar pelanggan dan loyalitas mereka. Aset ini memiliki potensi pendapatan berulang, yang sangat berharga dalam industri jasa dan B2B, di mana hubungan jangka panjang dengan pelanggan menjadi kunci sukses.
d. Aset Terkait Kontrak
Aset tak berwujud juga mencakup hak yang diberikan melalui kontrak, seperti perjanjian waralaba dan lisensi. Aset ini memungkinkan perusahaan untuk melakukan aktivitas bisnis tertentu atau mengakses aset lain, yang dapat memberikan keuntungan ekonomi yang jelas selama jangka waktu kontrak.
e. Goodwill dan Ekuitas Merek
Goodwill adalah aset tak berwujud yang muncul dalam akuisisi bisnis, menggambarkan nilai lebih dari harga pembelian atas aset bersih. Ekuitas merek, di sisi lain, mencerminkan nilai tambahan yang diberikan oleh konsumen terhadap merek yang dikenal, meningkatkan potensi keuntungan dari reputasi merek yang kuat.
4. Penjabaran Hak-hak Spesifik dalam Aset Tak Berwujud

Berikut merupakan penjabaran hak-hak cipta yang membentuk aset tak berwujud:
a. Hak Cipta
Hak cipta (copyright) adalah hak hukum eksklusif yang diberikan kepada pencipta atau pemegang hak atas karya asli mereka, seperti karya sastra, musik, seni, atau perangkat lunak. Hal ini memberikan kontrol penuh kepada pemiliknya untuk mereproduksi, mendistribusikan, menampilkan, atau membuat karya turunan dari ciptaan tersebut.
Perlindungan hak cipta biasanya berlaku selama hidup pencipta ditambah periode waktu tertentu setelahnya. Dalam konteks bisnis, hak cipta sangat relevan bagi perusahaan di industri media, penerbitan, hiburan, dan teknologi. Kode sumber perangkat lunak, konten situs web, materi pemasaran, dan manual pelatihan adalah contoh aset yang dilindungi hak cipta.
b. Hak Paten
Hak paten (patent) adalah hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada penemu atas penemuannya untuk jangka waktu terbatas. Sebagai imbalannya, penemu harus mengungkapkan penemuannya secara rinci kepada publik. Hak paten memberikan pemiliknya wewenang untuk melarang pihak lain membuat, menggunakan, menjual, atau mengimpor penemuan yang dipatenkan tanpa izin.
Paten merupakan aset krusial bagi perusahaan di sektor farmasi, teknologi, dan manufaktur, di mana inovasi produk dan proses menjadi pendorong utama pertumbuhan. Mendapatkan paten adalah proses yang mahal dan kompleks, tetapi memberikan monopoli terbatas yang dapat menghasilkan keuntungan finansial yang sangat besar.
c. Hak Merek Dagang
Hak merek dagang (trademark) adalah hak yang melindungi tanda-tanda pembeda seperti nama, logo, slogan, atau desain yang digunakan untuk mengidentifikasi dan membedakan barang atau jasa dari satu pihak dengan pihak lainnya. Tujuannya adalah untuk mencegah kebingungan di kalangan konsumen dan melindungi reputasi serta goodwill yang telah dibangun oleh pemilik merek.
Perlindungan merek dagang dapat berlangsung tanpa batas waktu selama merek tersebut terus digunakan dalam perdagangan. Merek dagang adalah salah satu aset tak berwujud yang paling berharga karena menjadi wajah perusahaan di mata publik. Merek yang kuat seperti Apple, Nike, atau Coca-Cola memiliki nilai yang luar biasa karena mampu membangun kepercayaan dan loyalitas pelanggan.
d. Hak Franchise dan License,
Hak waralaba (franchise) dan lisensi (license) adalah hak kontraktual yang memungkinkan satu pihak (franchisee atau licensee) untuk menggunakan properti, merek, teknologi, atau model bisnis milik pihak lain (franchisor atau licensor). Sebagai imbalannya, penerima hak biasanya membayar biaya awal dan royalti berkelanjutan. Perjanjian ini mendefinisikan secara spesifik ruang lingkup hak yang diberikan, wilayah, dan durasi.
Bagi franchisor, ini adalah cara untuk berekspansi dengan modal yang lebih rendah. Sementara bagi franchisee, ini memberikan akses ke model bisnis yang telah terbukti. Lisensi perangkat lunak, lisensi penggunaan karakter media, dan hak siar acara olahraga adalah contoh umum dari aset berbasis lisensi.
e. Hak Sewa
Hak sewa (leasehold) adalah hak yang diperoleh penyewa untuk menggunakan suatu properti atau aset milik pihak lain (lessor) untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan ketentuan dalam perjanjian sewa. Meskipun properti dasarnya adalah aset berwujud, hak untuk menggunakannya dianggap sebagai aset tak berwujud bagi penyewa, terutama dalam sewa jangka panjang.
Standar akuntansi modern (seperti IFRS 16) kini mengharuskan sebagian besar sewa diakui sebagai hak guna aset di neraca penyewa. Hak ini memberikan manfaat ekonomi kepada penyewa karena mereka dapat menggunakan aset untuk kegiatan operasional mereka tanpa harus menanggung biaya kepemilikan penuh. Nilai dari hak sewa ini terutama signifikan untuk sewa properti di lokasi strategis atau sewa peralatan mahal. .
f. Hak Eksklusif
Hak eksklusif adalah istilah yang lebih luas yang mencakup berbagai hak kontraktual atau hukum yang memberikan keuntungan unik kepada pemegangnya. Ini bisa berupa hak distribusi eksklusif untuk suatu produk di wilayah tertentu, hak penambangan di sebidang tanah, atau hak untuk mengoperasikan layanan feri di rute tertentu. Aset ini memberikan pemegangnya semacam monopoli atau keuntungan pasar yang dilindungi.
Karakteristik utama dari hak eksklusif adalah kemampuannya untuk membatasi persaingan dan mengamankan aliran pendapatan. Nilai dari hak-hak ini sangat bergantung pada profitabilitas yang diharapkan dari aktivitas eksklusif tersebut dan durasi hak yang diberikan. Identifikasi dan penilaian hak-hak ini memerlukan analisis cermat terhadap kontrak dan kondisi pasar yang relevan.
5. Mengapa Aset Tidak Berwujud Penting Bagi Perusahaan?
Di masa lalu, neraca perusahaan didominasi oleh aset fisik. Namun, pergeseran ke ekonomi berbasis pengetahuan dan layanan telah mengubah paradigma ini secara drastis. Kini, aset tak berwujud sering kali menjadi komponen paling berharga dari sebuah perusahaan yang mendorong inovasi, pertumbuhan, dan profitabilitas jangka panjang.
Berikut adalah alasan mengapa aset tak berwujud penting bagi perusahaan:
a. Meningkatkan Valuasi Perusahaan
Aset tak berwujud, seperti merek, paten, dan perangkat lunak, dapat memiliki nilai lebih besar daripada aset fisik. Dalam industri seperti teknologi dan farmasi, valuasi perusahaan sering kali dipengaruhi oleh kekuatan portofolio HKI dan merek yang dimiliki, yang membuka peluang untuk pendapatan yang lebih besar dan lebih stabil.
Bagi perusahaan di sektor teknologi dan farmasi, aset tak berwujud sangat penting dalam menentukan nilai pasar dan potensi pendapatan. Laporan laba rugi yang akurat perlu memperhitungkan nilai kontribusi dari portofolio HKI dan merek, karena faktor-faktor ini dapat menghasilkan pendapatan yang lebih stabil dan menguntungkan.
b. Memberikan Keunggulan Kompetitif dan Perlindungan Hukum
Aset tak berwujud seperti hak cipta dan paten memberikan perlindungan hukum yang kuat bagi perusahaan. Hak eksklusif ini memungkinkan perusahaan mempertahankan keunggulan kompetitif dan mencegah pesaing meniru produk mereka. Selain itu, perusahaan dapat mengambil langkah hukum terhadap pelanggaran yang merugikan.
c. Meningkatkan Akses ke Pembiayaan
Dengan semakin dihargainya aset tak berwujud, perusahaan dapat memanfaatkannya untuk mengakses pembiayaan. Paten dan merek dagang dapat dijadikan jaminan untuk pinjaman, dan aset tak berwujud yang bernilai tinggi dapat menarik investor modal ventura serta private equity yang tertarik pada potensi pertumbuhan perusahaan.
Seiring dengan meningkatnya nilai aset tak berwujud, perusahaan dapat memanfaatkannya untuk mendapatkan pembiayaan. Namun, untuk menarik perhatian investor, analisis laporan keuangan yang menyeluruh perlu menunjukkan bagaimana paten dan merek dagang berkontribusi pada pendapatan dan potensi pertumbuhan perusahaan.
6. Perlakuan Akuntansi dan Penilaian
Meskipun sangat berharga, perlakuan akuntansi untuk aset tak berwujud penuh dengan kompleksitas. Aturan yang mengatur pengakuan, pengukuran, dan amortisasinya dirancang untuk memastikan bahwa nilai yang dilaporkan dapat diandalkan dan relevan bagi para pemangku kepentingan. Memahami prinsip-prinsip ini sangat penting untuk menyajikan laporan keuangan perusahaan yang akurat.
Berikut perlakukan dan penilaian akuntansi terhadap aset tak berwujud:
a. Metode Penilaian Aset Tak Berwujud
Menentukan nilai moneter dari aset tak berwujud adalah salah satu tantangan terbesar dalam akuntansi. Terdapat tiga pendekatan utama yang umum digunakan, yaitu:
- Metode biaya (lost approach): Menilai aset berdasarkan biaya untuk menciptakan atau menggantinya. Metode ini sering digunakan untuk aset yang dikembangkan secara internal seperti perangkat lunak.
- Metode pasar (market approach): Membandingkan aset dengan aset serupa yang baru-baru ini diperjualbelikan di pasar aktif.
- Metode pendapatan (income approach): Mendasarkan penilaian pada pendapatan, arus kas, atau penghematan biaya yang diharapkan akan dihasilkan oleh aset tersebut di masa depan.
b. Amortisasi Aset Tak Berwujud
Amortisasi adalah proses alokasi biaya perolehan aset tak berwujud secara sistematis selama masa manfaatnya. Proses ini serupa dengan penyusutan aktiva tetap, namun istilah amortisasi digunakan khusus untuk aset tak berwujud. Hanya aset tak berwujud dengan masa manfaat terbatas (finite useful life) yang diamortisasi, seperti paten atau hak cipta.
Sebaliknya, aset tak berwujud dengan masa manfaat tidak terbatas (indefinite useful life), seperti goodwill atau merek dagang tertentu tidak diamortisasi. Sebaliknya, aset-aset ini harus diuji penurunan nilainya (impairment test) setidaknya setahun sekali untuk memastikan nilai tercatatnya tidak melebihi nilai terpulihkannya.
c. Identifiable vs Unidentifiable Intangible Assets
Aset tak berwujud dapat diklasifikasikan lebih lanjut menjadi aset yang dapat diidentifikasi (identifiable) dan yang tidak dapat diidentifikasi (unidentifiable). Aset yang dapat diidentifikasi adalah aset yang dapat dipisahkan atau dibedakan dari entitas dan dijual, dialihkan, dilisensikan, atau disewakan, baik secara individu maupun bersama dengan kontrak, aset, atau kewajiban terkait.
Di sisi lain, aset tak berwujud yang tidak dapat diidentifikasi tidak dapat dipisahkan dari perusahaan secara keseluruhan. Satu-satunya contoh utama dari aset jenis ini adalah goodwill. Perbedaan ini sangat penting karena aset yang dapat diidentifikasi dapat dibeli atau dijual secara terpisah, sedangkan goodwill hanya dapat diakui sebagai bagian dari akuisisi bisnis secara keseluruhan.
7. Tantangan dan Regulasi Aset Tak Berwujud
Pengelolaan dan pelaporan aset tak berwujud tidak lepas dari berbagai tantangan dan kerumitan regulasi. Sifatnya yang non-fisik dan seringkali unik membuat penilaian dan akuntansinya menjadi lebih subjektif dibandingkan aset berwujud. Perusahaan harus menavigasi standar akuntansi yang kompleks dan terus berkembang untuk memastikan kepatuhan dan transparansi.
Berikut adalah tantangan dan kerumitan regulasi dari aset tak berwujud:
a. Perbedaan Aset Tak Berwujud Menurut PSAK dan OECD
Standar akuntansi yang mengatur aset tak berwujud dapat bervariasi antar yurisdiksi dan badan standar. Di Indonesia, Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 19 menjadi acuan utama. PSAK 19 yang sebagian besar mengadopsi International Accounting Standard (IAS) 38. Hal ini menetapkan kriteria ketat untuk pengakuan, terutama untuk aset yang dikembangkan secara internal.
Sementara itu, organisasi seperti Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) sering kali memiliki definisi yang lebih luas terutama dalam konteks perpajakan dan transfer pricing. Memahami perbedaan nuansa ini sangat penting bagi perusahaan multinasional saat menyusun laporan keuangan konsolidasi dan merencanakan strategi pajak global mereka.
b. Kesulitan dalam Pengukuran Nilai Wajar
Salah satu tantangan terbesar adalah menentukan nilai wajar (fair value) dari aset tak berwujud. Tidak seperti saham atau obligasi, banyak aset tak berwujud tidak memiliki pasar aktif, sehingga sulit untuk menggunakan pendekatan pasar. Penilaian sering kali harus bergantung pada pendekatan pendapatan, yang memerlukan proyeksi arus kas masa depan dan asumsi tingkat diskonto yang sangat subjektif.
Subjektivitas ini dapat menyebabkan perbedaan valuasi yang signifikan dan membuka potensi manipulasi. Auditor dan regulator menaruh perhatian khusus pada penilaian ini, terutama dalam konteks kombinasi bisnis. Transparansi dalam asumsi dan metodologi yang digunakan menjadi kunci untuk mendapatkan keyakinan dari para pemangku kepentingan mengenai nilai yang dilaporkan di neraca.
Software akuntansi ScaleOcean dapat membantu Anda mengotomatisasi perhitungan amortisasi dan memastikan penilaian aset tak berwujud yang akurat di neraca keuangan. Dengan fitur utama capitalization and book value tracking software ini mencatat perolehan aset tak berwujud dengan otomatis. Didukung oleh impairment adjustment and expiry tracking, sistem mencatat kerugian penurunan nilai dan memberikan notifikasi kadaluarsa.
8. Kesimpulan
Aset tak berwujud adalah aset non-moneter tanpa wujud fisik yang memberikan manfaat ekonomi di masa depan, seperti paten, merek dagang, hak cipta, dan perangkat lunak. Sering disebut modal intelektual, aset ini berbeda dengan aset berwujud dan keuangan, nilainya berasal dari ide, inovasi, dan reputasi.
Dengan pemahaman yang tepat tentang aset tak berwujud, perusahaan dapat meningkatkan nilai bisnis yang lebih terukur. Hal ini akan membuka peluang baru bagi perusahaan untuk lebih menarik perhatian investor dan pasar, serta memfasilitasi perencanaan jangka panjang yang lebih strategis.
Untuk mendukung pengelolaan aset tak berwujud, menggunakan Software Akuntansi ScaleOcean dapat membantu mengonversi informasi tersebut menjadi data yang terstruktur. Dengan sistem ERP yang terintegrasi, ScaleOcean memberikan solusi akurat untuk memantau, mengelola, dan menilai aset perusahaan secara efisien. Jadwalkan demo gratis sekarang juga!
FAQ:
1. Apa yang dimaksud dengan aset tak berwujud?
Aset tak berwujud adalah aset non-keuangan yang tidak memiliki wujud fisik, seperti paten, hak cipta, merek dagang, goodwill, dan perangkat lunak. Nilainya berasal dari hak, kekayaan intelektual, atau reputasi dan digunakan untuk menghasilkan barang atau jasa, meskipun tidak bisa disentuh secara fisik.
2. Aset tak berwujud contohnya apa?
Aset tak berwujud adalah aset yang tidak memiliki perwujudan fisik atau finansial dan biasa disebut sebagai aset pengetahuan (knowledge asset) atau modal intelektual (intellectual capital). Contoh aset tidak berwujud meliputi hak paten, hak cipta, merek (trade mark), goodwill, dan waralaba (franchise).
3. Bagaimana cara mengaudit aset tidak berwujud?
Untuk aset tak berwujud lainnya, auditor perlu meninjau dokumentasi relevan yang tersedia dan, dalam beberapa kasus, juga meninjau penerimaan pendapatan terkait, seperti royalti, untuk memverifikasi keberadaan aset tersebut. Perlu dicatat bahwa tidak semua biaya paten harus dikapitalisasi.



