Apa Itu Sistem Kerja Borongan: Panduan Lengkap dan Penerapan

Posted on
Daftar Isi [hide]
Share artikel ini

Tahukah Anda apa yang menyebabkan terjadinya pembengkakan biaya tenaga kerja bangunan di luar rencana? Presentasi penggunaan sistem harian yang sulit dikontrol masih membludak, mengakibatkan proyek harus menghabiskan pengeluaran terus-menerus yang tidak sesuai dengan progres.

Hal ini berimbas pada melesatnya anggaran proyek dan memiliki potensi merusak cash flow. Selain itu, kemungkinan produktivitas tenaga kerja bisa terganggu dan tidak lagi mempunyai target jelas.

Sistem kerja borongan memberikan solusi atas masalah tersebut dengan mengunci biaya sejak awal dengan skema fixed-price, dan berdasarkan oleh volume pekerjaan itu sendiri. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan lebih detail tentang apa itu sistem kerja borongan dan panduan lengkap, serta penerapannya dalam proyek bangunan.

starsKey Takeaways

Coba Demo Gratis!

requestDemo

1. Apa Itu Sistem Kerja Borongan?

Sistem kerja borongan adalah metode kerja di mana upah ditentukan berdasarkan target penyelesaian dan hasil pekerjaan. Dalam praktiknya, sistem ini banyak digunakan dalam proyek bangunan karena dinilai lebih efisien dan mudah dikontrol.

Pembayaran dalam kerja sistem borongan dilakukan setelah pekerjaan selesai sesuai kesepakatan. Artinya, tenaga kerja tidak dibayar berdasarkan waktu, melainkan dari volume atau hasil pekerjaan yang telah diselesaikan di lapangan.

Karena itu, sistem borongan bangunan sering dipilih untuk membantu mengontrol biaya borongan bangunan agar lebih terukur. Dengan sistem ini, pemilik proyek bisa merencanakan anggaran sejak awal sekaligus menjaga pekerjaan tetap sesuai target.

2. Karakteristik Kerja Sistem Borongan

karakteristik kerja sistem borongan

Karakteristik sistem kerja borongan menitikberatkan pada hasil atau volume pekerjaan sebagai dasar pemberian upah bagi tenaga kerja, bukan durasi pelaksanaan. Secara lebih rinci, berikut merupakan beberapa karakteristik utama yang biasa diimplementasikan:

  • Pembayaran Berdasarkan Hasil (Output)
    Hasil pekerjaan atau volume masalah yang terselesaikan menjadi penentu utama upah pekerja, bukan lagi dari durasi kerja di lapangan.
  • Fokus pada Kecepatan dan Efisiensi
    Selanjutnya, pekerjaan bisa menjadi lebih cepat selesai sebab target yang ingin dicapai menjadi patokan pendapatan itu sendiri.
  • Kemandirian Pekerja (Mandiri)
    Adanya target hasil akhir bisa selesai sesuai standar berdampak baik atas kemandirian tenaga kerja yang bekerja tanpa adanya pengawasan.
  • Risiko dan Tanggung Jawab
    Pelaksana bertanggung jawab atas risiko keterlambatan dan kesalahan pekerjaan yang tidak sesuai dengan perjanjian awal.
  • Hubungan Kerja
    Terakhir, hubungan antara pemilik proyek dan pekerja kini terarah pada hasil kerja yang sifatnya kontraktual, bukan pada ikatan kerja jangka panjang.

3. Cara Kerja Sistem Borongan dalam Proyek Bangunan

Cara kerja sistem borongan dalam proyek bangunan bertumpu pada penyelesaian pekerjaan berdasarkan target atau volume kerja dalam kontrak awal. Saat hasil sudah sesuai, pemilik proyek baru membayarkan upah kepada pekerja. Berikut merupakan tahapan yang bisa dilakukan dalam sistem borongan proyek konstruksi, di antaranya:

a. Pemilik Proyek Menentukan Scope Pekerjaan

Pertama, pemilik proyek harus menentukan secara rinci ruang lingkup pekerjaan, baik jenis pekerjaan, spesifikasi bahan dan alat, sampai hasil akhir sebagai tujuan utama. Hal ini mempermudah implementasi sistem kerja borongan konstruksi dan menghindari adanya kesalahan dalam menghitung biaya.

b. Kontraktor Menghitung Estimasi Biaya Sistem Kerja Borongan

Setelah itu, kontraktor menghitung estimasi biaya borongan bangunan, dengan mempertimbangkan volume pekerjaan dan kebutuhan bahan. Supaya sistem mampu megontrol dasar dana yang realistis, hal ini harus mengacu pada RAB.

Hal ini sejalan dengan Permen PUPR No. 1 Tahun 2022 tentang Pedoman Penyusunan Perkiraan Biaya Pekerjaan Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Kesimpulannya, regulasi ini menjadi acuan dalam perhitungan biaya agar lebih terstruktur dan dapat semua pihak pertanggungjawabkan.

c. Kedua Pihak Menyepakati Kontrak

Proses selanjutnya melibatkan pemilik proyek dan kontraktor dalam sebuah kesepakatan resmi mengenai biaya, durasi penyelesaian, serta rincian pekerjaan yang akan dilakukan. Kontrak tersebut kemudian menjadi landasan utama dalam sistem tersebut. Hal ini mampu mencegah adanya konflik yang tidak sesuai perjanjian awal.

d. Pekerjaan Dilakukan Sesuai Target

Keempat, target yang ada menjadi garis awal pekerjaan berlangsung. Dalam sistem borongan bangunan sendiri, penyelesaian pekerjaan sesuai durasi, perencanaan biaya, dan volume hasil sesuai standar menjadi fokus utama pekerja.

e. Hasil Pekerjaan Dicek Sebelum Pembayaran

Terakhir, pengecekan atau quality control menjadi tahapan akhir sebelum pemilik proyek membayar pekerja. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa hasil telah sesuai dengan persyaratan dalam kontrak proyek konstruksi di awal. Biaya yang keluar setelahnya pun menjadi setimpal.

4. Jenis-Jenis Sistem Kerja Borongan Bangunan

Sistem kerja borongan konstruksi atau bangunan tidak hanya menerapkan skema yang sama. Terdapat beberapa jenis sistem yang dapat menyesuaikan segala kebutuhan proyek, berdasarkan pembagian tanggung jawab dan rencana perhitungan biaya borongan.

Berikut jenis-jenis sistem kerja borongan bangunan:

a. Borongan Full/Total

Pertama, sistem borongan total memberikan kewenangan keseluruhan bagi main kontraktor untuk menangani seluruh pekerjaan sampai melakukan persediaan material. Hal ini membuat biaya terkontrol sejak awal dan implementasinya menjadi lebih praktis.

b. Borongan Upah Kerja

Selanjutnya, berbanding terbalik dengan sistem full, borongan upah kerja memiliki scope sempit di mana kontraktor hanya mengatur tenaga kerja saja. Di lain sisi, untuk penyediaan dan pengontrolan kualitas bahan dipegang langsung oleh pemilik proyek. Meskipun demikian, sistem kerja ini tetap mengacu pada hasil.

c. Borongan Satuan / Volume

Borongan satuan menjadikan satuan pekerjaan, seperti luas per meter atau per unit proyek menjadi fondasi pembayaran jasa. Sistem ini adalah sistem yang cukup umum ditemukan karena proses perhitungan biaya bisa lebih transparan dan terperinci.

d. Borongan Material

Terakhir, kontraktor biasanya menggunakan jenis borongan material karena ruang lingkup wewenangnya hanya dalam agenda penyediaan material tertentu. Banyak ditemukan adanya kolaborasi antara borongan material dengan sistem lain. Artinya, hal ini bertujuan untuk menekan efisiensi dan fleksibilitas biaya yang harus dikeluarkan.

5. Contoh Pekerjaan dengan Sistem Borongan

Penerapan sistem kerja borongan bangunan ada dalam berbagai tahapan proyek, dari awal sampai selesai. Hanya saja, metode perhitungannya beragam, menyesuaikan volume hasil dan kompleksitas proses. Hal ini membuat biaya borongan bangunan lebih terkontrol dan terikat.

Di bawah ini adalah contoh pekerjaan dengan sistem borongan:

a. Pekerjaan Persiapan

Pekerjaan persiapan biasanya menerapkan kerja dengan sistem borongan. Beberapa hal yang dilakukan yakni pembersihan lahan, pengukuran, pemasangan batas atau patok. Langkah satu ini bersifat esensial, bertujuan memastikan proyek siap dikerjakan dan sesuai planning yang ada.

b. Pekerjaan Struktur

Selanjutnya, pekerjaan struktur terdiri dari pondasi, kolom, balok, hingga pengecoran area. Perhitungannya berpacu pada volume dengan tujuan pengendalian biaya dan hasil yang sesuai dengan kondisi teknis di lapangan.

c. Pekerjaan Dinding dan Finishing

Selain itu, cara ini juga melingkupi pekerjaan dinding hingga finishing seperti plester, aci, dan pengecatan. Dengan adanya perhitungan area per meter persegi, transparansi biaya borongan bangunan tercipta dan proses pengawasan akhir menjadi lebih mudah.

d. Pekerjaan Instalasi

Proses pemasangan listrik, air, dan sanitasi juga umumnya mengimplementasikan hal yang sama. Kontraktor menentukan biaya dan konsep instalasi sesuai melalui perhitungan per titik atau unit dan bisa menyesuaikan kebutuhan pemilik proyek.

Berbagai contoh pekerjaan dalam sistem borongan menunjukkan bahwa setiap tahap membutuhkan koordinasi, perhitungan biaya, dan kontrol progres yang tepat. Tanpa pengelolaan yang terintegrasi, risiko keterlambatan hingga selisih biaya bisa lebih mudah terjadi, terutama pada proyek dengan banyak jenis pekerjaan.

Untuk itu, penggunaan aplikasi konstruksi terbaik seperti ScaleOcean Construction Software dapat membantu memantau progres proyek secara real-time, mencatat biaya secara lebih transparan, serta memastikan termin pembayaran tetap selaras dengan pekerjaan di lapangan. Dengan sistem yang terintegrasi, pengelolaan kerja borongan menjadi lebih efisien dan minim risiko.

Konstruksi

6. Perbedaan Sistem Borongan dan Sistem Harian

Ada perbedaan signifikan antara sistem kerja borongan dan harian terletak pada cara pembayaran, manajemen waktu, serta pengontrolan biaya. Pemahaman tersebut mampu membantu pemilik proyek dalam memilih metode kerja yang paling sesuai kebutuhan dan skala proyek.

Untuk lebih mudah memahaminya, berikut perbedaan sistem kerja borongan dan sistem kerja harian:

a. Dasar Pembayaran

Upah sistem kerja borongan bertumpu pada hasil atau volume pekerjaan yang berperan sebagai dasar pembayaran. Namun sebaliknya, sistem harian mengkalkulasikan upah dari durasi kerja, sehingga tidak selalu mencerminkan tingkat produktivitas tenaga kerja di lapangan.

b. Estimasi Biaya

Dalam sistem borongan bangunan, kesepakatan biaya biasanya terjadi di awal. Di sisi lain, dalam sistem harian, kesepakatannya bersifat fleksibel dan memiliki risiko sulitnya pengontrolan biaya apabila waktu penyelesaian terus bertambah.

c. Waktu Pengerjaan Sistem Kerja Borongan

Kerja sistem borongan cenderung lebih cepat karena berorientasi pada target hasil. Oleh sebab itu, jika ada penambahan waktu, kontraktor perlu mengajukan surat permohonan perpanjangan kontrak proyek ke pemilik. Sebaliknya, sistem harian bergantung pada durasi kerja, sehingga waktu penyelesaian proyek bisa lebih lama tanpa tekanan target yang jelas.

d. Pengawasan

Produktivitas sistem harian bisa tercipta dengan adanya pengawasan intens. Di sisi lain, dalam sistem kerja borongan, fokus sudah terpusat pada kualitas hasil dan durasi sesuai perjanjian awal, jadi tidak terlalu memerlukan pengawasan.

e. Fleksibilitas Perubahan

Tingkat fleksibilitas sistem harian bagi perubahan di tengah proyek lebih tinggi daripada sistem borongan bangunan. Oleh karena itu, kerja borongan perlu melakukan penyesuaian kontrak sebab perubahan bisa mempengaruhi biaya dan volume yang ditentukan sejak awal.

7. Kelebihan Sistem Kerja Borongan

Kelebihan Sistem Kerja Borongan

Sistem kerja borongan menawarkan beberapa keunggulan dalam manajemen proyek, khususnya atas efisiensi biaya dan waktu. Maka dari itu, sistem borongan bangunan seringkali menjadi pilihan banyak penyelenggara proyek konstruksi.

a. Memprediksi Biaya Lebih Mudah

Pemilik proyek dan kontraktor menentukan biaya dalam sistem kerja borongan yang berpacu pada volume. Karenanya, pemilik proyek dapat menghindari adanya pembengkakan anggaran di masa depan.

b. Waktu Pengerjaan Lebih Cepat

Pekerja terpacu untuk menyelesaikan pekerjaan lebih cepat sebab pengupahan kini berbasis hasil. Sistem borongan bangunan ini mempermudah efisiensi proyek agar sesuai target dan durasi dalam kontrak awal.

c. Cocok untuk Pekerjaan dengan Scope Jelas

Terakhir, sistem ini efektif untuk diterapkan saat ruang lingkup pekerjaan telah terperinci dan jelas dari awal. Oleh sebab itu, kerja sistem borongan bisa berlangsung tanpa adanya hambatan ketidaksesuaian atau revisi berlebihan.

8. Kekurangan Sistem Kerja Borongan

Tidak hanya kelebihan, sistem kerja borongan juga mempunyai beberapa kekurangan yang bisa jadi pertimbangan. Tujuannya adalah untuk melihat apakah penerapan sistem sesuai dengan kebutuhan proyek dan tidak menjadi penyebab timbulnya risiko baru.

a. Perubahan Desain Bisa Menambah Biaya

Perubahan desain di tengah keberlangsungan proyek menyebabkan timbulnya penambahan biaya borongan bangunan. Oleh sebab itu, pengadaan revisi perlu berdasarkan persetujuan kedua belah pihak untuk menghindari adanya perbedaan persepsi.

b. Risiko Kualitas Jika Pengawasan Sistem Kerja Borongan Lemah

Walaupun fokus pada hasil bisa meningkatkan efisiensi operasional, ada risiko kualitas hasil yang perlu pemilik proyek perhatikan. Maka dari itu, pemilik proyek dan kontraktor perlu melakukan pengecekan kontrol agar hasil sesuai ekspektasi standar.

c. Detail Pekerjaan Harus Jelas Sejak Awal

Selanjutnya, kejelasan pekerjaan sejak awal menjadi esensial. Ruang lingkup yang tidak terperinci, pertimbangan risiko kemungkinan kesalahan, revisi, sampai konflik bisa menjadi konflik yang menghambat proses keberlangsungan proyek.

d. Harga Awal Bisa Terlihat Lebih Tinggi

Biaya awal sistem borongan biasanya tampak lebih besar daripada sistem harian. Akan tetapi, sistem tersebut dapat mempermudah terjadinya efisiensi biaya dalam jangka panjang.

9. Cara Menghitung Biaya Sistem Kerja Borongan

Cara menghitung biaya sistem kerja borongan adalah dengan mengalikan luas bangunan atau volume pekerjaan (m²/m³) dengan harga borongan per unit sesuai kesepakatan. Pendekatan ini biasanya selaras dengan jenis pekerjaan dan kesepakatan proyek. Oleh karena itu, perhitungan biaya borongan bangunan menjadi lebih jelas.

Di bawah ini merupakan beberapa metode perhitungan biaya sistem borongan:

a. Berdasarkan Luas Bangunan

[Biaya = Luas Bangunan (m²) × Harga per m²]

Formula ini adalah yang paling sederhana dan sering digunakan dalam membangun rumah tinggal. Selain itu, rumus di atas cocok juga untuk estimasi awal karena proses perhitungannya cepat, meski detail biaya borongan bangunan belum terlalu spesifik.

b. Berdasarkan Volume Pekerjaan

[Biaya = Volume Pekerjaan × Harga Satuan]

Volume bisa berupa m³, m², atau unit pekerjaan. Cara ini lebih akurat karena mampu menghitung tiap item pekerjaan, sehingga biaya borongan bangunan lebih terperinci sesuai kondisi lapangan.

c. Berdasarkan RAB Proyek

[Total Biaya = Σ (Volume × Harga Satuan)]

RAB melingkupi seluruh pekerjaan dari awal hingga selesainya sebuah proyek. Dalam sistem borongan bangunan, metode ini adalah yang paling lengkap karena mencakup semua komponen biaya. Karenanya, hasil perhitungan lebih terstruktur dan rendah selisih.

d. Berdasarkan Termin Pembayaran

[Termin = Persentase Progres × Total Nilai Kontrak]

Terakhir, pemilik proyek bisa membayar secara bertahap sesuai progres kerja. Sistem ini bertujuan untuk menjaga cash flow proyek dan memastikan biaya borongan bangunan selaras dengan perkembangan pekerjaan.

10. Contoh Penerapan Sistem Kerja Borongan Bangunan

Sebagai gambaran, di bawah ini merupakan contoh perhitungan kerja sistem borongan pada proyek skala enterprise. Misalnya pembangunan gedung kantor 5 lantai seluas 5.000 m² dengan sistem borongan penuh, di mana kontraktor menangani pekerjaan dan material sekaligus.

[Total Biaya = Luas Bangunan × Harga Borongan per m²]

Misal harga borongan: Rp4.500.000/m²

[Total biaya = 5.000 m² × Rp4.500.000 = Rp22.500.000.000]

Dalam penerapannya, biaya borongan bangunan ini kemudian terbagi dalam beberapa termin pembayaran, misalnya:
Termin 1 (20%) = Rp4,5 M (pekerjaan awal & struktur bawah)
Termin 2 (30%) = Rp6,75 M (struktur utama)
Termin 3 (30%) = Rp6,75 M (arsitektur & finishing)
Termin 4 (20%) = Rp4,5 M (finalisasi & serah terima)

Dengan seperti ini, perusahaan dapat mengontrol biaya sejak awal karena pemilik proyek dan kontraktor telah menyepakati kontrak. Selain itu, progres pekerjaan juga menjadi lebih terukur sebab setiap pembayaran berkaitan langsung dengan pencapaian di lapangan.

11. Tantangan Mengelola Sistem Borongan di Proyek Konstruksi

Sistem kerja borongan tidak selalu berjalan sesuai dengan ekspektasi. Terdapat beberapa tantangan yang seringkali muncul dan biasanya berkaitan dengan kontrol progres, transparansi biaya, serta pembayaran pekerjaan yang selaras, sebagai berikut:

a. Sulit Memantau Progres Lapangan Secara Real-Time

Memantau progres secara real-time seringkali menjadi tantangan. Pemilik proyek dan kontraktor akan kesulitan mendeteksi keterlambatan jika tidak melibatkan sistem monitoring yang baik. Hal ini bisa mengganggu durasi proyek yang sudah ada di awal.

b. Biaya Tambahan Tidak Terdokumentasi Rapi

Kedua, masalah dana tambahan sering timbul di luar perencanaan awal yang tidak tercatat dengan baik. Biaya borongan yang tidak transparan dan menyulitkan pengontrolan anggaran. Hal tersebut berpotensi terciptanya selisih perhitungan.

c. Termin Pembayaran Tidak Selaras dengan Progres

Terakhir, ketidaksesuaian di antara termin pembayaran dan progres pekerjaan dapat mengganggu cash flow proyek. Dalam sistem borongan bangunan, hal ini mampu menimbulkan konflik jika pembayaran tidak sesuai dengan capaian pekerjaan di lapangan.

12. Kesimpulan

Sistem kerja borongan adalah metode kerja yang menetapkan upah dengan hasil atau volume pekerjaan yang diselesaikan sebagai penentunya. Pembayaran tenaga kerja borongan sesuai output, bukan lagi durasi. Oleh sebab itu, biaya lebih terukur dan kontraktor dan pemilik proyek lebih mudah mengontrol anggaran maupun progres.

Untuk memastikan sistem ini berjalan optimal dan memperkecil risiko, penggunaan solusi seperti Construction Software ScaleOcean dapat membantu memantau progres, mengelola biaya, dan menyelaraskan pembayaran dengan pekerjaan secara real-time. Lakukan demo gratisnya sekarang untuk melihat bagaimana proyek bisa berjalan lebih efisien dan terkontrol.

FAQ:

1. Apa itu sistem kerja borongan?

Sistem kerja borongan adalah proses pengerjaan sebuah protek dengan membayarkan upah berdasarkan hasil atau volume pekerjaan sudah selesai, bukan durasi pengerjaan. Misalnya, ada penentuan biaya berdasarkan per m²/m³ atau per unit, sehingga anggaran yang dibutuhkan menjadi lebih pasti.

2. Bagaimana cara menghitung sistem upah borongan?

Perhitungan upah borongan dilakukan dengan mengalikan total luas bangunan (m²) dengan harga borongan per meter persegi yang telah disepakati. Rumus dasar: Total Biaya Borongan = Luas Bangunan × Harga Borongan per m². Contoh: Jika luas bangunan 130 m² dan harga borongan Rp5.000.000 per m², maka total biaya borongan adalah Rp650.000.000.

3. Apa bedanya pekerjaan borongan dan harian?

Sistem harian memiliki proses pengelolaan kerja yang lebih fleksibel, sedangkan sistem borongan menawarkan efisiensi untuk proyek besar sebab biaya lebih terkontrol sesuai kesepakatan.

Jadwalkan Demo Gratis

Error message
Error message
Error message
Error message
Error message
Error message

Rekomendasi Artikel Terkait

Temukan Artikel Serupa untuk Solusi Bisnis Lebih Lengkap