GHG Protocol: Pengertian, Tujuan, Standar, dan Scope

Posted on
Daftar Isi [hide]
Share artikel ini

Risiko denda administratif dan penolakan laporan keberlanjutan menjadi mimpi buruk bagi pelaku bisnis akibat ketidakpastian dalam menghadapi regulasi pajak karbon. Ketidakpastiaan akan menghambat operasional karena perusahaan sulit memenuhi standar pelaporan emisi yang diminta oleh pihak otoritas terkait.

Oleh karena itu, GHG Protocol dirancang untuk menjadi solusi yang menyelaraskan akurasi pelaporan sesuai dengan kriteria global dan nasional seperti POJK 51/2017. Dengan kerangka ini, maka perusahaan dapat lebih menjamin validitas data emisi dan memperkuat kredibilitas perusahaan di hadapan investor.

Dengan demikian, integrasi standar emisi yang tepat akan mempermudah perusahaan dalam mencapai target keberlanjutan jangka panjang yang lebih terukur. Artikel ini akan membahas konsep, tujuan, standar utama, scope, hingga cara kerja dari GHG Protocol.

starsKey Takeaways
  • GHG Protocol adalah kerangka kerja global yang digunakan organsiasi untuk mengelola, menghitung, serta melaporkan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari aktivitas operasional.
  • 7 standar GHG Protocol yaitu Corporate Standard, GHG Protocol for Cities, Mitigation Goal Standard, Corporate Value Chain, Policy and Action, Product Standard, dan Project Protocol.
  • GHG Protocol scope mencakup Scope 1 (emisi langsung), Scope 2 (emisi tidak langsung dari energi), dan Scope 3 (emisi tidak langsung lainnya).
  • Software ERP ScaleOcean merupakan solusi terintegrasi yang membantu perusahaan untuk mengukur, mengelola, dan melaporkan emisi gas rumah kaca secara tepat dengan mengacu pada standar GHG Protocol.

Coba Demo Gratis!

requestDemo

Apa Itu GHG Protocol?

GHG Protocol adalah standar global utama yang digunakan berbagai organisasi untuk mengelola, mengukur dan melaporkan emisi gas rumah kaca dari aktivitas operasional. Protokol ini merupakan hasil kolaborasi WRI dan WBCSD yang mengelompokkan emisi ke dalam scope 1, 2, dan 3 untuk memastikan transparansi pengeloaan dampak perubahan iklim.

Tujuan utama GHG Protocol adalah menyusun sebuah kerangka kerja untuk proses perhitungan akuntansi dan pelaporan emisi gas rumah kaca. Standar ini juga dikenal dengan sebutan protokol GRK, panduan perhitungan jejak karbon, atau standar akuntansi emisi.

Secara umum, penggunaannya untuk menghitung emisi dari pembakaran bahan bakar, listrik yang digunakan, dan proses supply chain untuk mencapai tujuan emisi nol bersih (net zero). Lebih lanjut, protokol ini penting untuk meningkatkan akurasi dan transparansi, kepatuhan global, dan manajemen risiko perusahaan.

Mengapa GHG Protocol Penting untuk Keberlanjutan (Sustainability)?

Saat ini, keberlanjutan merupakan aspek penting dari strategi bisnis jangka panjang. GHG Protocol menyediakan standar yang sama bagi seluruh organisasi dalam mengukur dan melaporkan dampak iklim, sehingga memungkinkan perusahaan untuk mempertimbangkan aspek lingkungan ke dalam pengambilan keputusan.

Investor dan regulator mulai menjadikan data emisi sebagai alat ukur untuk menilai kinerja ESG. Melalui pelaporan transparan, perusahaan dapat memperkuat kepercayaan pemangku kepentingan sekaligus membuka akses luas terhadap modal untuk pengembangan sustainable business.

Implementasi protokol ini menunjukkan area boros energi sehingga perusahaan mampu menekan biaya operasional melalui efisiensi sumber daya yang lebih terukur. Oleh karena itu, pengelolaan jejak karbon secara proaktif menjadi langkah utama dalam membangun model bisnis berkelanjutan yang jauh lebih tangguh.

Perusahaan yang secara transparan melaporkan emisi mereka sesuai GHG Protocol akan membangun reputasi sebagai pemimpin yang bertanggung jawab. Selain itu, komitmen perusahaan dalam pencegahan perubahan iklim akan memperkuat daya saing dan keunggulan kompetitif di tengah persaingan modern.

Di samping itu, penerapan standar ini membantu perusahaan memenuhi kewajiban POJK No. 51/2017 mengenai penyusunan Laporan Keberlanjutan tahunan bagi LJK, emiten, dan perusahaan publik. Dengan data emisi yang terstandarisasi, perusahaan dapat menjamin kepatuhan regulasi sekaligus meningkatkan kredibilitas di mata otoritas.

Apa Tujuan Utama dari GHG Protocol?

GHG Protocol bertujuan untuk menyediakan standar internasional, mengukur dan melaporkan emisi secara akurat, mendukung target mitigasi iklim, dan membangun kapasitas industri. Berikut adalah tujuan-tujuan utama GHG Protocol:

1. Menyediakan Standar Internasional

Tujuan utamanya adalah menciptakan kerangka kerja akuntansi dan pelaporan emisi yang terstandardisasi secara global dan kredibel. Hal ini memastikan bahwa semua pihak menggunakan metode yang sama, sehingga hasilnya dapat dibandingkan secara adil.

2. Mengukur dan Melaporkan Emisi secara Akurat

Protokol ini bertujuan untuk menyederhanakan dan mengurangi biaya dalam proses inventarisasi emisi gas rumah kaca. Dengan panduan yang jelas, perusahaan dapat mengumpulkan data dan menghitung emisi dengan lebih efisien dan akurat.

3. Mendukung Target Mitigasi Iklim

GHG Protocol yang memuat data emisi dapat membantu perusahaan dan pemerintah dalam merancang strategi pengurangan emisi yang tepat sasaran. Di samping itu, data ini menjadi dasar untuk menetapkan target iklim yang realistis.

4. Membangun Kapasitas Industri

Tujuan lainnya yaitu meningkatkan keahlian operasional profesional dan auditor melalui penyediaan berbagai GHG protocol tools, panduan, serta program pelatihan komprehensif. Selain itu, inisiatif ini membantu para ahli industri menyusun laporan emisi secara lebih akurat dan terstandarisasi.

Siapa Saja yang Perlu Menggunakan GHG Protocol?

Siapa Saja yang Perlu Menggunakan GHG Protocol?

Pihak-pihak yang menggunakan GHG Protocol adalah perusahaan energi (minyak dan gas, listrik, energi terbarukan), industri manufaktur, sektor jasa keuangan, serta pemerintah dan lembaga regulasi di Indonesia. Berikut adalah pihak-pihak utama yang perlu menggunakan GHG Protocol:

1. Perusahaan Energi (Minyak & Gas, Listrik, Energi Terbarukan)

Sektor ini merupakan salah satu penghasil emisi langsung terbesar, sehingga pelaporan yang akurat sangat penting. Perusahaan energi menggunakan protokol ini untuk mengelola risiko regulasi dan menunjukkan komitmen mereka terhadap transisi energi.

2. Industri Manufaktur dan Skala Besar Lainnya

Industri seperti otomotif, semen, baja, dan barang konsumsi memiliki rantai pasok yang kompleks dan jejak energi yang signifikan. Maka dari itu, GHG Protocol membantu mereka mengidentifikasi sumber emisi utama di seluruh operasional dan rantai nilai bisnis mereka.

3. Sektor Jasa Keuangan (Bank dan Investor)

Lembaga keuangan menggunakan data yang dilaporkan berdasarkan GHG Protocol untuk menilai risiko iklim dalam portofolio investasi dan pinjaman mereka. Ini merupakan bagian penting dari praktik corporate social responsibility dan manajemen risiko finansial.

4. Pemerintah dan Lembaga Regulasi di Indonesia

Pemerintah menggunakan kerangka kerja GHG Protocol untuk merancang kebijakan iklim nasional dan daerah yang efektif. Standar ini juga menjadi dasar untuk program pelaporan emisi wajib yang mungkin akan diberlakukan di masa depan.

Dikutip dari Ghgprotocol.org, sebanyak 97% perusahaan yang termasuk ke dalam S&P 500 menggunakan standar GHG Protocol dalam memberikan laporan lingkungan kepada CDP. Data tersebut menegaskan bahwa standar GHG Protocol digunakan para pemimpin industri global dalam membangun transparansi dan akuntabilitas laporan keberlanjutan.

7 Standar Utama GHG Protocol

Standar utama GHG Protocol antara lain Corporate Standard, GHG Protocol for Cities, Mitigation Goal Standard, Corporate Value Chain Standard, Policy and Action Standard, Product Standard, dan Project Standard. Berikut adalah tujuh standar utama yang membentuk ekosistem GHG Protocol:

1. Corporate Standard

Ini adalah standar yang paling umum digunakan dan menyediakan kerangka kerja bagi perusahaan untuk menghitung dan melaporkan emisi dari operasional mereka, khususnya Scope 1 dan Scope 2. Standar ini menjadi dasar bagi sebagian besar pelaporan keberlanjutan perusahaan di seluruh dunia.

2. GHG Protocol for Cities

Standar ini dirancang khusus untuk pemerintah kota untuk mengukur dan melaporkan emisi di seluruh wilayah kepemimpinan mereka. Dengan demikian, pemerintah kota dapat merencanakan kebijakan iklim dan melacak progres menuju target pengurangan emisi.

3. Mitigation Goal Standard

Mitigation goal standard memberikan panduan bagi negara dan kota untuk menilai dan melaporkan kemajuan dalam mencapai target mitigasi emisi skala besar. Selain itu, standar ini bertujuan untuk memastikan tercapainya transparansi dalam pelaporan komitmen iklim nasional dan sub-nasional.

4. Corporate Value Chain (Scope 3) Standard

Sebagai pelengkap dari Corporate Standard, standar ini dirancang untuk memberikan metode dalam mengukur emisi di seluruh rantai nilai perusahaan (Scope 3). Emisi tersebut dapat berasal dari pemasok, penggunaan produk oleh konsumen, hingga akhir masa pakainya.

5. Policy and Action Standard

Pemerintah dan pembuat kebijakan memperhatikan standar ini untuk memperkirakan dampak emisi dari kebijakan dan tindakan spesifik yang mereka implementasikan. Secara lebih lanjut, policy and action standard dimanfaatkan sebagai alat penting untuk evaluasi efektivitas kebijakan iklim.

6. Product Standard

Standar produk lebih berfokus pada pengukuran emisi sepanjang siklus hidup suatu produk, dari bahan baku hingga pembuangan. Oleh karena itu, perusahaan dapat mengidentifikasi jejak karbon produk individu dan mengkomunikasikannya kepada konsumen.

7. Project Protocol

Protokol ini digunakan untuk menghitung pengurangan emisi dari proyek-proyek mitigasi perubahan iklim tertentu. Tujuannya adalah menjadi dasar atau landasan pertimbangan bagi banyak program pasar karbon dan skema offsetting.

GHG Protocol Scopes: Lingkup Emisi 1, 2, dan 3

GHG Protocol Scope terdiri dari Scope 1 (emisi langsung), Scope 2 (emisi tidak langsung dari energi), dan Scope 3 (emisi tidak langsung lainnya). Berikut adalah GHG Protocol Scopes yang perlu diketahui oleh para pelaku bisnis:

1. Scope 1 (Emisi Langsung)

Emisi langsung berasal dari sumber-sumber yang dimiliki atau dikendalikan langsung oleh perusahaan. Contohnya seperti emisi dari proses pembakaran di fasilitas seperti boiler dan tungku, emisi dari armada kendaraan perusahaan, dan emisi fugitive (kebocoran zat pendingin).

2. Scope 2 (Emisi Tidak Langsung dari Energi)

Scope 2 mencakup emisi tidak langsung yang dihasilkan dari pembangkitan energi seperti listrik, uap, panas, atau pendingin yang dibeli dan dikonsumsi oleh perusahaan. Meskipun emisi ini terjadi di fasilitas pembangkit listrik, perusahaan bertanggung jawab atas emisi tersebut karena mereka juga mengonsumsi energi tersebut.

3. Scope 3 (Emisi Tidak Langsung Lainnya)

Ini adalah lingkup yang paling kompleks dan sering kali merupakan sumber emisi terbesar bagi banyak perusahaan, mencakup semua emisi tidak langsung lain yang terjadi di rantai nilai perusahaan. Contohnya meliputi emisi dari pembelian barang dan jasa, transportasi dan distribusi, perjalanan bisnis, penggunaan produk yang dijual, hingga pengelolaan limbah.

Membedakan ketiganya memungkinkan perusahaan untuk memetakan jejak karbon mereka dan mengidentifikasi risiko serta peluang di seluruh rantai nilai. Data emisi ini menjadi komponen dalam penyusunan laporan keberlanjutan yang transparan dan komprehensif.

Bagaimana Cara Kerja dan Proses Implementasi GHG Protocol?

Bagaimana Cara Kerja dan Proses Implementasi GHG Protocol?

Cara kerja GHG Protocol dimulai dari memilih standar yang tepat, menetapkan batasan, membangun inventaris emisi, metodologi pengumpulkan data, menetapkan target dan tujuan, verifikasi dan jaminan, serta pelaporan dan komunikasi transparan. Berikut adalah langkah-langkah dalam proses implementasi GHG Protocol:

1. Memilih Standar yang Tepat untuk Bisnis Anda

Langkah pertama adalah mengidentifikasi standar GHG Protocol yang paling relevan dengan jenis organisasi Anda. Sebagian besar perusahaan akan memulai dengan GHG Protocol Corporate Standard untuk emisi operasional mereka.

2. Menetapkan Batasan dan Ruang Lingkup (Boundary Setting)

Perusahaan harus menetapkan batasan organisasional dengan menentukan entitas mana yang akan dimasukkan dan batasan operasional emisi (Scope 1, 2, dan 3) yang akan dihitung. Keputusan yang diambil perusahaan ini akan memengaruhi seluruh proses inventarisasi.

3. Membangun Inventaris Emisi yang Sesuai (Customized Inventory)

Setelah batasan ditetapkan, langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi semua sumber emisi potensial di dalam batasan tersebut. Selanjutnya, perusahaan harus melakukan pemetaan proses operasional, fasilitas, dan aktivitas rantai nilai yang relevan.

4. Metodologi Pengumpulan Data dan Perhitungan Emisi

Perusahaan perlu mengumpulkan data aktivitas, seperti jumlah bahan bakar yang dikonsumsi dan kWh listrik yang dibeli. Kemudian, mengalikannya dengan faktor emisi yang sesuai, sehingga perusahaan memperoleh data yang berkualitas dan dapat dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan.

5. Menetapkan Target dan Tujuan Berbasis Sains (Science-Aligned Targets)

Setelah memiliki data dasar emisi, perusahaan dapat menetapkan target pengurangan emisi yang terukur. Target yang selaras dengan ilmu pengetahuan iklim (Science-Based Targets) semakin menjadi standar penting bagi kepemimpinan iklim korporat.

6. Verifikasi, Jaminan (Assurance), dan Pemantauan Progres

Untuk meningkatkan kredibilitas, banyak perusahaan memilih untuk melakukan verifikasi data emisi mereka oleh pihak ketiga yang independen. Proses pemantauan yang berkelanjutan juga penting untuk melacak kemajuan terhadap target yang telah ditetapkan.

7. Pelaporan dan Komunikasi Transparan (Sustainability Reporting)

Langkah terakhir adalah melaporkan inventaris emisi secara transparan kepada para pemangku kepentingan. Pelaporan ini biasanya dilakukan melalui laporan keberlanjutan, situs web perusahaan, atau platform seperti CDP.

Proses yang kompleks ini sering kali memerlukan dukungan teknologi untuk memastikan efisiensi dan akurasi. Penggunaan platform seperti software ESG dapat menyederhanakan pengumpulan data, otomatisasi perhitungan, dan pembuatan laporan. Selain itu, teknologi berperan dalam mengubah data emisi menjadi informasi yang dapat ditindaklanjuti.

Perbandingan GHG Protocol vs ISO 14064

Perbandingan GHG Protocol dan ISO 14064 dapat dilihat dari sisi fokus utama, verifikasi, dan cakupan (Scope) dan batasan. Berikut adalah perbandingan antara GHG Protocol dan ISO 14064 yang dapat dipertimbangkan oleh perusahaan:

1. Fokus Utama

GHG Protocol lebih berfokus pada kerangka kerja akuntansi dan pelaporan, menyediakan panduan komprehensif yang detail untuk menghitung emisi. Sebaliknya, ISO 14064 lebih menekankan pada spesifikasi dan panduan untuk kuantifikasi, pemantauan, pelaporan, serta verifikasi emisi GRK.

2. Verifikasi

ISO 14064 memiliki standar khusus yaitu ISO 14064-3 yang menetapkan persyaratan proses verifikasi dan validasi, sehingga menjadikannya kerangka kerja yang kuat untuk jaminan pihak ketiga. Sedangkan GHG Protocol juga mendorong verifikasi, namun tidak memiliki standar verifikasi yang terintegrasi di dalamnya.

3. Cakupan (Scope) & Batasan:

GHG Protocol secara praktis mendefinisikan emisi ke dalam Scope 1, 2, dan 3, yang telah menjadi bahasa umum dalam pelaporan korporat. ISO 14064 menggunakan istilah lain yang sedikit berbeda, seperti emisi langsung dan tidak langsung, namun konsep dasarnya tetap selaras.

Secara keseluruhan, keduanya dapat dijadikan sebagai standar laporan emisi. Perusahaan sebaiknya memilih GHG Protocol jika membutuhkan panduan teknis mendalam untuk menyusun laporan emisi yang sesuai dengan standar pelaporan korporat global.

Jika fokus utama perusahaan adalah mendapat sertifikasi resmi serta validasi pihak ketiga yang ketat, maka perusahaan lebih cocok untuk menggunakan ISO 14064. Pemilihan kerangka kerja yang tepat akan menjamin transparansi data sekaligus memitigasi risiko hukum secara lebih efektif.

Otomatiskan Pengelolaan Data Emisi dengan Software ERP ScaleOcean

Software ERP ScaleOcean adalah sistem terintegrasi yang memudahkan perusahaan dalam menghitung, mengelola, dan melaporkan emisi gas rumah kaca secara akurat. Melalui sistem ini, Anda dapat memantau jejak karbon operasional secara otomatis guna mendukung efisiensi sumber daya perusahaan.

Selain itu, sistem ini membantu dalam menghasilkan laporan keberlanjutan (Sustainability Report) yang sudah memenuhi standar GHG Protocol. Keunggulan tersebut poin krusial karena pelaporan emisi yang terstandarisasi kini menjadi kebutuhan mendesak bagi perusahaan level enterprise.

Kredibilitas perusahaan di mata investor juga meningkat karena perusahaan mempertahankan transparansi data lingkungan. Tertarik untuk otomatiskan laporan keberlanjutan yang 100% memenuhi GHG Protocol? Anda dapat menjadwalkan demo gratis dengan tim expert ScaleOcean.

Berikut adalah fitur-fitur unggulan Software ERP ScaleOcean:

  • AI-Driver Emission Factor Mapping: Memetakan data aktivitas bisnis secara otomatis ke faktor emisi standar GHG Protocol tanpa perlu rumus kalkulasi manual.
  • Predictive Analytics: AI memproyeksi tren emisi di masa depan dan menyarankan langkah strategis untuk menghemat energi dan biaya.
  • Multi-Scope Dashboard Tracking: menyajikan data real-time untuk memantau emisi langsung maupun tidak langsung dari seluruh departemen perusahaan.
  • Automated Standardized Sustainability Reporting: Menghasilkan laporan keberlanjutan yang sesuai standar internasional dan regulasi Indonesia untuk kebutuhan audit.
  • Real-time IoT Monitoring Integration: Menghubungkan perangkat IoT untuk menarik data energi secara langsung ke ERP guna menjamin akurasi laporan emisi Scope 2.
  • Audit Trail: Menyediakan fitur pelacakan digital agar setiap angka emisi dapat dilacak kembali ke dokumen sumber aslinya saat audit ESG.

Kesimpulan

GHG Protocol merupakan standar internasional utama yang memandu organisasi dalam mengukur, mengelola, serta melaporkan emisi gas rumah kaca secara transparan. Melalui kerangka kerja Scope 1, 2, dan 3, protokol ini membantu pelaku bisnis mengintegrasikan aspek keberlanjutan ke dalam strategi operasional mereka.

Software ERP ScaleOcean dapat menjadi solusi digital yang efektif untuk mengotomatisasikan penghitungan emisi dan penyusunan laporan keberlanjutan yang sesuai standar tersebut. Jika Anda tertarik untuk melihat bagaimana sistem kami mempermudah pelaporan emisi, Anda dapat mengajukan demo gratis bersama kami.

FAQ:

1. Apa itu protokol GHG?

Protokol GHG adalah standar global yang menyediakan kerangka kerja menyeluruh untuk menghitung serta mengelola emisi gas rumah kaca di sektor publik maupun swasta. Pedoman ini mencakup pemantauan operasional, seluruh rantai nilai, hingga evaluasi efektivitas berbagai tindakan mitigasi iklim.

2. Apa saja 7 standar protokol GHG?

Terdapat tujuh standar Protokol GHG yaitu Standar Korporasi, Standar Kota, Standar Tujuan Mitigasi, dan Standar Rantai Nilai (Scope 3). Selain itu, terdapat Standar Kebijakan dan Tindakan, Standar Produk, serta Protokol Proyek untuk memastikan perhitungan emisi yang komprehensif di berbagai sektor.

3. Apa singkatan GHG?

GHG adalah singkatan dari Greenhouse Gas atau Gas Rumah Kaca (GRK). Istilah ini merujuk pada gas di atmosfer, seperti CO2 dan metana, yang memerangkap panas matahari sehingga memicu efek rumah kaca serta perubahan iklim global.

Khatrine Alicia Winata
Khatrine Alicia Winata
Khatrine memiliki pengalaman kurang lebih 1 tahun dalam menulis artikel seputar teknologi bisnis, manajemen bisnis, transformasi digital, dan pengembangan strategi berbasis teknologi untuk bisnis yang lebih efektif.

Jadwalkan Demo Gratis

Error message
Error message
Error message
Error message
Error message
Error message

Rekomendasi Artikel Terkait

Temukan Artikel Serupa untuk Solusi Bisnis Lebih Lengkap