Apakah perusahaan Anda mengalami kesulitan untuk menilai apakah aset tetap yang ada benar-benar menghasilkan pendapatan yang sebanding dengan investasi yang dikeluarkan? Gedung, mesin, dan kendaraan terus digunakan, tetapi tanpa metrik yang tepat, efisiensi aset sering kali hanya asumsi. Di sinilah fixed asset turnover ratio menjadi indikator yang membantu melihat apakah aset bekerja sesuai harapan.
Memahami rasio ini memungkinkan Anda menilai kontribusi tiap aset terhadap pendapatan secara lebih akurat. Anda dapat mengidentifikasi aset yang produktif, aset yang membebani biaya, dan aset yang perlu diganti.
Selain itu, insight ini membantu perusahaan berpindah menuju strategi pengelolaan aset yang lebih terukur. Artikel ini akan membahas pengertian fixed asset turnover, cara menghitungnya, serta cara membaca hasilnya agar keputusan bisnis Anda semakin tajam dan strategis.
- Fixed Asset Turnover (FAT) adalah rasio yang mengukur seberapa efektif perusahaan menggunakan aset tetap untuk menghasilkan pendapatan.
- Perhitungan fixed asset turnover akurat didasarkan pada rumus penjualan bersih dibagi dengan rata-rata aset tetap bersih, yang datanya diambil dari laporan keuangan.
- Interpretasi nilai fixed asset turnover harus mempertimbangkan konteks industri dan tren historis perusahaan, karena rasio tinggi tidak selalu berarti lebih baik.
- Software Akuntansi ScaleOcean menghitung fixed asset turnover secara real-time dan menganalisis efisiensi penggunaan aset tetap.
1. Apa Itu Fixed Asset Turnover (FAT)?
Fixed Asset Turnover (FAT) adalah rasio keuangan yang mengukur seberapa efektif suatu perusahaan menggunakan aset tetapnya (seperti gedung, mesin, dan peralatan) untuk menghasilkan pendapatan penjualan. Rasio ini dihitung dengan membagi penjualan bersih dengan rata-rata aset tetap bersih.
Rasio yang lebih tinggi umumnya menunjukkan efisiensi yang lebih baik dalam penggunaan aset tersebut untuk menghasilkan penjualan. Sebaliknya, rasio yang rendah bisa menandakan bahwa perusahaan tidak memanfaatkan aset tetapnya secara optimal atau terdapat masalah dalam penggunaan investasi modal yang ada.
2. Mengapa Penting Mengetahui Fixed Asset Turnover Ratio?
Mengetahui dan memantau fixed asset turnover ratio akan memberikan wawasan mendalam, lebih dari soal angka laba-rugi sederhana. Dengan memahami metrik ini, manajemen dapat mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dalam operasional perusahaan. Berikut alasannya:
a. Mengukur Efisiensi Operasional
Fungsi utama dari rasio perputaran aset tetap adalah sebagai barometer efisiensi operasional. Rasio ini secara langsung mengukur seberapa baik perusahaan mengubah investasi dalam aset fisik menjadi pendapatan. Efisiensi yang tinggi berarti aset yang ada, seperti mesin produksi atau armada pengiriman, bekerja optimal untuk menghasilkan penjualan.
Dengan memantau rasio ini dari waktu ke waktu, manajemen dapat melacak peningkatan atau penurunan produktivitas aset. Penurunan rasio bisa menjadi peringatan dini adanya masalah, seperti mesin yang sering rusak atau fasilitas yang tidak terpakai. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk mengambil tindakan korektif sebelum masalah tersebut berdampak lebih besar pada profitabilitas.
Software Akuntansi ScaleOcean, terutama yang didukung oleh AI, akan membantu tim finance Anda menghitung dan mengelola fixed asset turnover (FAT). Rasio ini mengukur seberapa efisien perusahaan menggunakan aset tetapnya, seperti mesin, gedung, dan peralatan, untuk menghasilkan penjualan.
Software Akuntansi ScaleOcean mengotomatiskan perhitungan fixed asset turnover untuk memberikan angka yang akurat secara real-time, membantu perusahaan memantau efisiensi operasional dan membuat keputusan yang lebih baik. Anda dapat mencoba fitur ini dengan demo gratis untuk merasakan manfaatnya secara langsung.
b. Dasar Pengambilan Keputusan Investasi
Setiap keputusan untuk membeli aset tetap baru merupakan komitmen finansial yang signifikan. Fixed asset turnover ratio menyediakan data historis yang krusial untuk memandu keputusan belanja modal (capital expenditure) di masa depan. Analisis tren rasio ini membantu memvalidasi keputusan investasi yang telah dibuat.
Jika rasio tetap tinggi atau meningkat setelah pembelian aset baru, ini menandakan bahwa investasi tersebut berhasil dan produktif. Sebaliknya, jika rasio menurun, manajemen perlu mengevaluasi kembali strategi investasinya. Mungkin perusahaan berinvestasi pada teknologi yang salah atau kapasitas yang dibeli melebihi permintaan pasar, sehingga perlu penyesuaian strategi investasi ke depan.
c. Tolok Ukur Persaingan
Dalam lanskap bisnis yang dinamis, memahami posisi perusahaan relatif terhadap pesaing sangat penting. Rasio perputaran aset tetap dapat digunakan sebagai alat pembanding yang efektif, memberikan perspektif objektif tentang kinerja perusahaan dibandingkan dengan rata-rata industri atau pesaing utama.
Jika rasio Anda lebih rendah dari pesaing, ini bisa menandakan efisiensi operasional yang kurang optimal. Sebaliknya, rasio yang lebih tinggi bisa menjadi keunggulan kompetitif yang dapat dipromosikan kepada investor dan pemangku kepentingan.
d. Evaluasi Potensi Pertumbuhan Jangka Panjang
Bagi investor dan analis, fixed asset turnover ratio adalah salah satu indikator kesehatan dan potensi pertumbuhan jangka panjang perusahaan. Sebuah perusahaan yang secara konsisten menunjukkan rasio yang kuat menandakan bahwa manajemennya kompeten dalam mengalokasikan modal. Hal ini menciptakan kepercayaan pada kemampuan perusahaan untuk tumbuh secara berkelanjutan.
Kemampuan untuk menghasilkan pendapatan yang signifikan dari basis aset yang ada menunjukkan model bisnis yang efisien dan skalabel. Hal ini sering kali berkorelasi positif dengan metrik keuangan lainnya, termasuk rasio profitabilitas yang lebih baik. Pada akhirnya, efisiensi aset adalah fondasi bagi penciptaan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.
3. Rumus Fixed Asset Turnover
Menghitung rasio perputaran aset tetap sebenarnya cukup sederhana dan hanya memerlukan dua komponen data utama dari laporan keuangan perusahaan. Rumus fixed asset turnover adalah sebagai berikut:
Fixed Asset Turnover = Penjualan Bersih / Rata-rata Aset Tetap Bersih
Kedua variabel ini dapat ditemukan dalam laporan laba rugi dan neraca perusahaan. penjualan bersih (net sales) adalah total pendapatan dari penjualan setelah dikurangi retur, potongan, dan diskon, yang tercatat di baris teratas laporan laba rugi. Sementara itu, rata-rata aset tetap bersih adalah nilai rata-rata aset tetap perusahaan selama periode tertentu, setelah memperhitungkan penyusutan.
4. Contoh Cara Menghitung Rata-rata Aset Tetap Bersih
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat, kita menggunakan nilai rata-rata aset tetap bersih untuk menghindari distorsi akibat pembelian atau penjualan aset besar di tengah periode. Rumusnya adalah:
Rata-rata Aset Tetap Bersih = (Aset Tetap Bersih Awal Periode + Aset Tetap Bersih Akhir Periode) / 2
Misalnya, Perusahaan ABC memiliki aset tetap bersih sebesar Rp 500.000.000 pada awal tahun. Pada akhir tahun, setelah membeli mesin baru, nilai aset tetap bersihnya menjadi Rp 600.000.000. Rata-rata aset tetap bersihnya adalah (Rp 500.000.000 + Rp 600.000.000) / 2 = Rp 550.000.000.
Angka aset tetap bersih ini dapat ditemukan dalam laporan posisi keuangan perusahaan dari dua periode yang berurutan. Jika penjualan bersih selama tahun tersebut adalah Rp 1.500.000.000, maka rasio FAT-nya adalah Rp 1.500.000.000 / Rp 550.000.000 = 2,73. Artinya, setiap Rp 1 yang diinvestasikan pada aset tetap menghasilkan pendapatan sebesar Rp 2,73.
5. Bagaimana Cara Mengetahui Baik Tidaknya Rasio FAT?

Setelah berhasil menghitung fixed asset turnover ratio, pertanyaan selanjutnya adalah apakah hasilnya baik atau buruk? Jawabannya tidak sesederhana melihat angka tinggi atau rendah. Interpretasi rasio ini sangat bergantung pada konteks industri, model bisnis, dan tren historis perusahaan itu sendiri. Berikut ini caranya:
a. Arti Rasio FAT Tinggi
Secara umum, rasio FAT yang tinggi sering dianggap sebagai pertanda positif. Ini menunjukkan bahwa perusahaan sangat efisien dalam menggunakan aset tetapnya untuk menghasilkan penjualan. Manajemen dinilai berhasil memaksimalkan produktivitas dari setiap investasi modal yang ditanamkan.
Akan tetapi, rasio yang sangat tinggi juga bisa menjadi sinyal peringatan yang perlu diwaspadai. Hal ini bisa berarti perusahaan beroperasi dengan aset yang sudah tua dan hampir sepenuhnya terdepresiasi. Meskipun terlihat efisien saat ini, perusahaan mungkin menghadapi risiko kebutuhan investasi besar di masa depan untuk mengganti aset usang tersebut agar kapasitas produksi tetap terjaga.
b. Arti Rasio FAT Rendah
Sebaliknya, rasio FAT yang rendah umumnya menandakan inefisiensi. Ini bisa berarti perusahaan memiliki kelebihan kapasitas atau telah melakukan investasi berlebihan pada aset yang tidak memberikan kontribusi sepadan terhadap pendapatan. Aset yang menganggur atau kurang produktif menjadi beban bagi kinerja keuangan secara keseluruhan.
Situasi ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari penurunan permintaan pasar hingga strategi investasi yang keliru. Rasio yang rendah menjadi pemicu bagi manajemen untuk melakukan analisis rasio keuangan yang lebih dalam. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi aset-aset yang berkinerja buruk dan mempertimbangkan opsi seperti penjualan aset (divestasi) atau optimalisasi penggunaannya.
c. Pentingnya Konteks Industri
Konteks industri adalah faktor terpenting dalam menilai baik atau buruknya sebuah rasio FAT. Perusahaan di sektor padat modal, seperti manufaktur baja atau perusahaan listrik, secara alami akan memiliki rasio yang jauh lebih rendah. Mereka membutuhkan investasi besar dalam pabrik dan peralatan, yang menjadi penyebut besar dalam rumus rasio.
Di sisi lain, perusahaan di sektor jasa atau teknologi mungkin memiliki sedikit sekali aset tetap, sehingga rasio mereka akan sangat tinggi. Oleh karena itu, perbandingan yang paling relevan adalah dengan rata-rata industri dan dengan kinerja historis perusahaan itu sendiri. Membandingkan rasio perusahaan manufaktur dengan perusahaan perangkat lunak tidak akan memberikan wawasan yang berarti.
Baca juga: Current Ratio (Rasio Lancar): Pengertian dan Rumus Menghitungnya
6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nilai Rasio FAT
Nilai fixed asset turnover ratio tidak statis dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor internal maupun eksternal. Memahami faktor-faktor ini akan membantu para pengambil keputusan untuk tidak hanya membaca angka, tetapi juga mengerti cerita di baliknya. Berikut ini beberapa faktor yang mempengaruhi:
a. Jenis dan Skala Industri Perusahaan
Struktur industri sangat mempengaruhi rasio FAT. Industri padat modal dengan mesin berat dan infrastruktur fisik cenderung memiliki aset besar, sehingga rasio FAT lebih rendah. Sementara itu, industri berbasis pengetahuan atau jasa, seperti konsultan dan pengembang software, memiliki rasio lebih tinggi.
Skala perusahaan juga berperan. Perusahaan besar dengan aset lebih tua dan terdepresiasi cenderung memiliki rasio lebih tinggi. Sebaliknya, perusahaan rintisan yang baru berinvestasi besar akan memiliki rasio rendah hingga operasionalnya mencapai kapasitas penuh.
b. Umur Aset dan Metode Penyusutan (Depresiasi)
Umur aset mempengaruhi nilai buku bersih aset tetap yang merupakan penyebut dalam rumus FAT. Aset yang lebih tua memiliki nilai buku lebih rendah karena akumulasi penyusutan yang lebih besar. Hal ini dapat menghasilkan rasio FAT yang lebih tinggi, meskipun tidak selalu mencerminkan efisiensi operasional yang lebih baik.
Metode penyusutan yang digunakan perusahaan juga sangat berpengaruh. Perusahaan yang memilih metode penyusutan dipercepat akan melaporkan nilai aset bersih yang lebih rendah pada tahun-tahun awal, yang menghasilkan rasio FAT lebih tinggi. Oleh karena itu, memahami kebijakan penyusutan aktiva tetap sangat penting untuk melakukan perbandingan yang adil antar perusahaan.
c. Kebijakan Outsourcing atau Sewa Aset (Leasing)
Keputusan strategis perusahaan terkait kepemilikan aset juga sangat mempengaruhi rasio FAT. Perusahaan yang memilih untuk menyewa (leasing) sebagian besar aset operasionalnya, seperti gedung atau kendaraan, akan memiliki nilai aset tetap yang jauh lebih rendah di neraca mereka. Akibatnya, rasio perputaran aset tetap mereka akan terlihat sangat tinggi.
Namun, kondisi ini berubah dengan diterapkannya PSAK 73 (Sewa). Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), pengesahan PSAK 73 bertujuan untuk mengatasi masalah off-balance sheet financing yang disebabkan oleh sewa operasi. Sebelum PSAK 73 berlaku, sewa operasi tidak dicatat sebagai aset dan liabilitas di neraca, sehingga aset perusahaan terlihat rendah dan rasio FAT terlihat tinggi.
Dengan implementasi PSAK 73, perusahaan diwajibkan mengakui hampir semua sewa, termasuk sewa operasi, di neraca sebagai Aset Hak Guna dan Liabilitas Sewa. Perubahan ini akan meningkatkan nilai Aset Tetap pada neraca perusahaan penyewa, sehingga rasio FAT akan cenderung menurun dan lebih akurat mencerminkan penggunaan aset dalam bisnis.
7. Keterbatasan Rasio Fixed Asset Turnover

Meskipun fixed asset turnover ratio adalah alat analisis yang sangat berguna, penting bagi para pemimpin bisnis untuk menyadari keterbatasannya. Mengandalkan rasio ini secara eksklusif tanpa mempertimbangkan metrik lain dan konteks yang lebih luas dapat mengarah pada kesimpulan yang keliru. Berikut ini alasannya:
a. Tidak Memperhitungkan Aset Tak Berwujud
Salah satu kelemahan terbesar dari rasio FAT adalah fokusnya yang sempit pada aset tetap yang berwujud. Di era ekonomi digital saat ini, banyak perusahaan yang nilai dan pendapatannya sangat bergantung pada aset tak berwujud (intangible assets). Aset seperti hak paten, merek dagang, perangkat lunak, dan reputasi merek sering kali menjadi pendorong pendapatan utama.
Untuk perusahaan di sektor teknologi, farmasi, atau barang konsumsi, mengabaikan aset tak berwujud berarti mengabaikan sebagian besar sumber daya produktif mereka. Rasio FAT pada perusahaan-perusahaan ini bisa jadi tidak relevan atau bahkan menyesatkan. Oleh karena itu, analisis perlu dilengkapi dengan metrik lain yang dapat menangkap nilai dari aset tak berwujud.
b. Distorsi Akibat Inflasi pada Nilai Aset Lama
Aset tetap dicatat dalam neraca berdasarkan biaya perolehan historisnya. Seiring waktu, inflasi membuat nilai tercatat ini tidak mencerminkan biaya penggantian aset yang sebenarnya. Aset lama yang dibeli bertahun-tahun lalu akan memiliki nilai buku lebih rendah dibandingkan dengan aset baru yang memiliki fungsi serupa.
Hal ini dapat menciptakan distorsi, di mana perusahaan dengan aset lebih tua terlihat lebih efisien (rasio FAT lebih tinggi) daripada perusahaan dengan aset baru. Perbandingan antar perusahaan yang didirikan pada waktu yang berbeda menjadi sulit. Oleh karena itu, selain rasio FAT, rasio solvabilitas juga penting untuk menilai kesehatan keuangan jangka panjang secara lebih komprehensif.
8. Kesimpulan
Fixed asset turnover adalah indikator penting untuk menilai efisiensi penggunaan investasi aset tetap dalam menghasilkan pendapatan. Rasio ini membantu manajemen dan investor melihat produktivitas aset secara lebih objektif. Namun, interpretasinya tetap perlu mempertimbangkan kondisi industri, sejarah kinerja, serta strategi bisnis agar analisisnya lebih akurat dan tidak menyesatkan.
Software akuntansi ScaleOcean mengotomatiskan seluruh komponen perhitungan Fixed asset turnover mulai dari penjualan bersih hingga rata-rata aset tetap bersih untuk memberikan angka yang akurat dan selalu terbarui. Dengan analisis real-time, perusahaan dapat memahami efisiensi penggunaan aset tetap secara lebih tepat serta merumuskan strategi yang lebih solid.
Solusi ini membantu tim keuangan bekerja lebih cepat tanpa risiko human error dalam pengelolaan data aset. Anda juga dapat mencoba fitur ini melalui demo gratis untuk merasakan langsung bagaimana otomatisasi dapat meningkatkan kontrol dan kinerja operasional.
FAQ:
1. Bagaimana cara menemukan rasio perputaran aset tetap?
Rasio perputaran aset tetap (FAT) mengukur efisiensi perusahaan dalam menghasilkan penjualan dari aset tetap, dihitung dengan membagi penjualan bersih dengan rata-rata aset tetap. Rasio yang lebih tinggi menunjukkan penggunaan aset yang lebih efektif.
2. Turnover yang baik berapa?
Tingkat turnover yang baik bervariasi antar industri, namun umumnya di bawah 10% dianggap ideal. Sebaiknya bandingkan angka Anda dengan rata-rata industri, karena beberapa sektor seperti ritel dan perhotelan cenderung memiliki tingkat turnover lebih tinggi.
3. Apa bedanya current asset dan fixed asset?
Aset lancar adalah aset jangka pendek yang mudah dikonversi menjadi kas, sementara aset tetap adalah investasi jangka panjang yang tidak mudah diuangkan.







