OTIF (On-Time In-Full): Apa Itu, Rumus serta Contohnya

Posted on
Share artikel ini

OTIF (On Time, In Full) adalah indikator yang menilai ketepatan waktu dan kelengkapan dari pengiriman produk. Jika terjadi penundaan dan kesalahan pada pengiriman, maka pihak perusahaan akan mesti mengeluarkan biaya yang lebih, termasuk biaya transport.

Hal ini berdampak pada profitabilitas perusahaan. Pengeluaran yang berupa bahan bakar, tol dan gaji bagi sopir bisa berubah menjadi dua kali lipat hanya untuk memenuhi satu pesanan saja. Dengan demikian, laba yang diterima semakin rendah dan daya kompetitif usaha juga jadi menurun. Untuk itu, penggunaan indikator ini harus dimulai dari awal proses logistik, dari picking, packing sampai perencanaan rute pengiriman.

Ketika pengiriman dilakukan secara tepat waktu dan barangnya lengkap, perusahaan bisa melakukan penghematan dalam on-cost dan mempertahankan kinerja supply chain-nya. Dalam artikel ini, kami akan menjelaskan definisi dan pentingnya OTIF dalam bisnis, serta strategi dan solusi yang bisa membantu meningkatkan OTIF tersebut.

starsKey Takeaways
  • OTIF (On-Time In-Full) adalah indikator yang mencakup persentase order yang dipenuhi tepat waktu dan lengkap, yang menjadi salah satu KPI yang penting bagi evaluasi efisiensi logistik.
  • Manfaat dari OTIF adalah meningkatkan kepuasan pelanggan, menekan biaya operasional, dan meningkatkan efisiensi serta daya saing perusahaan di pasar.
  • Nilai OTIF dihitung dengan membagi jumlah pesanan yang terkirim tepat waktu dan lengkap dengan total jumlah pesanan yang dikirimkan.
  • Untuk meningkatkan skor OTIF, perusahaan perlu menerapkan strategi seperti perencanaan produksi yang matang, komunikasi efektif dengan pemasok, hingga optimalisasi operasional logistik secara menyeluruh.
  • Software Logistik ScaleOcean membantu perusahaan dalam mencapai indikator tersebut dengan visibilitas real-time, automasi proses, serta koordinasi pesanan yang lebih akurat.

Coba Demo Gratis!

requestDemo

1. Apa Itu OTIF (On-Time In-Full)?

OTIF (On-Time In-Full) adalah metrik rantai pasokan yang mengukur persentase order yang dikirim dengan tepat waktu dan dalam jumlah yang tepat kepada pelanggan. Dalam konteks bisnis logistik, metrik ini memudahkan sebuah perusahaan untuk mengevaluasi efektivitas pengiriman order.

Sebuah pesanan bisa disebut sebagai order yang memenuhi kriteria OTIF jika kedua kriteria ini terpenuhi, yaitu order datang tepat waktu dan dalam jumlah yang tepat. Jika pesanan ini memenuhi hanya salah satu kondisi, maka pengiriman belum dapat dipandang sebagai order OTIF.

Oleh karena itu, OTIF merupakan indikator penting untuk menilai kualitas layanan logistik. Indikator ini mempertimbangkan kinerja pengiriman dari aspek kecepatan pengiriman dan juga kelengkapan pesanan sesuai kebutuhan sejak pengiriman pertama.

2. Komponen Utama OTIF

OTIF atau On-Time In-Full memiliki dua komponen utama yang menentukan keberhasilan sebuah pengiriman dan kepuasan pelanggan akhir. Berikut adalah penjelasan mengenai dua komponen OTIF:

a. On Time (Tepat Waktu)

Komponen ‘on time‘ atau tepat waktu merujuk pada situasi ketika pesanan tiba di tempat tujuan pada tanggal atau jangka waktu tertentu yang telah disepakati dengan pelanggan. Dengan demikian, barang yang sudah dikemas harus tidak hanya diberangkatkan tepat waktu tetapi juga harus sampai tepat waktu.

Pengiriman tepat waktu ditentukan oleh efisiensi proses internal, mulai dari pemesanan hingga performa angkutan transportasi. Estimasi pengiriman harus selalu diawasi untuk memastikan ekspektasi pelanggan tetap tinggi.

Pemenuhan aspek ‘on time’ seringkali gagal karena produksi terlambat, management gudang yang kurang efisien, atau perencanaan jalur yang salah. Masalah ini bisa diatasi dengan kontrol yang lebih jelas melalui pelacakan real-time dan sistem manajemen transportasi yang membantu pengiriman lebih terpantau.

Dilansir dari Kementerian Keuangan, Laporan Indeks Kinerja Logistik (LPI) 2023, Indonesia turun posisi menjadi nomor 61 dengan skor 3,0. Penurunan tersebut disebabkan oleh waktu pengiriman, dimana package delivery di Indonesia rata-rata memakan waktu 13,3 hari, jauh lebih lama daripada Malaysia (5,2 hari) dan China (5,6 hari).

b. In Full (Lengkap)

Komponen ‘in full‘ atau lengkap adalah kondisi dimana pesanan diterima oleh konsumen dalam jumlah yang sesuai berdasarkan permintaannya. Dengan kata lain, perusahaan bisnis harus mengendalikan pengecekan inventaris dan pesanan mereka tepat dari gudang.

Masalah ketidaksesuaian pesanan, seperti pesanan yang salah kirim atau rusak dapat mempengaruhi kepercayaan konsumen dan mengakibatkan biaya pengembalian dan kirim ulang. Agar pesanan benar-benar terkirim lengkap, perusahaan perlu mengelola stok dengan rapi, menerapkan proses picking yang jelas, dan mengecek kualitas barang sebelum dikirim ke pelanggan.

3. Perbedaan OTIF vs OTD (On-Time Delivery)

Perbedaan OTIF vs OTD (On-Time Delivery)

Perbedaan utama OTIF (On-Time In-Full) dan OTD (On-Time Delivery) terletak pada hal yang dinilai. OTD hanya menilai apakah pesanan tiba tepat waktu. Sedangkan, OTIF menilai dua hal sekaligus, yaitu ketepatan waktu dan kelengkapan pesanan yang diterima pelanggan.

Dalam kata lain, pesanan yang tiba sesuai jadwal belum tentu memenuhi standar OTIF jika masih ada barang yang kurang, rusak, atau tidak sesuai spesifikasi. Melalui OTIF, perusahaan dapat menjamin setiap pesanan sampai tepat waktu, diterima dengan lengkap, dan sesuai dengan kualitas yang diminta pelanggan.

Jadi, dengan menggunakan penilaian OTIF, perusahaan dapat memperoleh analisis yang lebih lengkap terkait efektivitas sistem logistik. Perusahaan mungkin mendapatkan skor OTD yang sangat tinggi, tapi memiliki skor OTIF yang lebih rendah karena pesanan yang diterima tepat waktu belum sesuai dengan permintaan.

Melalui penilaian OTIF, perusahaan dapat menilai kualitas pengiriman dengan lebih akurat, tidak hanya dari sisi kecepatan. Selain itu, ETA dan ETD juga perlu dipantau untuk membantu menyesuaikan jadwal pengiriman agar proses logistik berjalan lebih terkendali.

Logistik

4. Apa Saja Manfaat OTIF?

OTIF menawarkan manfaat yang memudahkan penilaian apakah barang tersebut sudah dikirim sesuai harapan pelanggan atau tidak. Melalui metrik ini, perusahaan bisa menjaga konsistensi kualitas layanan serta mengurangi risiko kesalahan pengiriman. Dibawah ini adalah beberapa manfaat OTIF:

a. Meningkatkan Kepuasan Pelanggan

Pelanggan akan merasa puas jika kualitas layanan yang mereka terima sesuai dengan harapan. Dengan kata lain, produk atau layanan harus sampai tepat waktu, dalam jumlah yang sesuai, dan dengan kualitas yang tetap terjaga.

Sebaliknya, pengiriman yang terlambat, tidak lengkap, rusak, atau tertukar akan menurunkan kepercayaan pelanggan. Maka dari itu, di sinilah OTIF berperan penting. Dengan menerapkan OTIF, perusahaan dapat menjamin agar setiap pesanan tiba sesuai ekspektasi, sehingga kepuasan, kepercayaan, dan loyalitas pelanggan tetap terjaga dalam jangka panjang.

b. Mengurangi Biaya Operasional

OTIF juga bisa membatu perusahaan untuk mengurangi beban operasional mereka melalui pengurangan resiko pengembalian, re-delivery, dan biaya keterlambatan. Dengan pengiriman produk yang tepat waktu dan dalam jumlah yang tepat sejak awal, perusahaan tidak akan perlu memeriksa hal-hal tersebut sekali lagi.

Sebaliknya, skor OTIF yang rendah bisa membuat biaya logistik membengkak. Barang yang terlambat, kurang, rusak, atau tidak sesuai akan membuat pelanggan melakukan komplain, retur, hingga pengiriman ulang. Oleh karena itu, perusahaan perlu menjaga akurasi proses fulfillment dan memiliki Service Level Agreement (SLA) yang jelas untuk mencegah timbulnya biaya tak terduga.

c. Meningkatkan Kinerja Rantai Pasokan

OTIF adalah gambaran kesehatan seluruh rantai pasokan pada proses logistik. Untuk mencapai skor OTIF yang tinggi, setiap bagian dalam rantai pasok harus berjalan selaras, mulai dari pemasok, produksi, gudang, hingga transportasi. Dengan meningkatkan OTIF, perusahaan dapat termotivasi untuk memperbaiki proses di setiap tahap agar pengiriman berjalan tepat waktu, lengkap, dan efisien.

Proses ini membantu perusahaan dalam mengidentifikasi proses bottleneck yang ada dalam rantai pasokan, mendorong peningkatan tingkat akuratitas prediksi permintaan, serta optimasi tingkat inventaris. Selain itu, perusahaan perlu mengoptimalkan hubungan kerjasama dengan mitranya seperti supplier dan penyedia layanan logistik. Dengan demikian, rantai pasokan akan menjadi lebih fleksibel, kredibel, dan kuat,

d. Mengoptimalkan Sumber Daya

Efisiensi operasional akan membantu perusahaan agar dapat mengelola sumber daya secara lebh optimal, mulai dari tenaga kerja, pengiriman armada, hingga kapasitas gudang. Apabila skor OTIF tinggi, maka sumber daya yang dimaksud telah digunakan secara optimal dalam memenuhi kebutuhan dari pelanggan. Dengan adanya target OTIF yang sudah ditetapkan, perusahaan juga dapat merencanakan kerja yang lebih efisien tanpa terlalu boros.

Sebagai contoh, data yang akurat dan perencanaan produksi yang rapi bisa membantu perusahaan mengurangi lembur serta menyusun jadwal kerja gudang dengan lebih tertata. Selain itu, rute pengiriman yang direncanakan dengan baik membuat armada bekerja lebih optimal dan penggunaan bahan bakar lebih hemat. Untuk memudahkan pengelolaan biaya logistik, perusahaan juga perlu memahami cara menghitung terminal handling charges dengan tepat.

e. Meningkatkan Daya Saing Perusahaan

Di tengah persaingan pasar yang semakin ketat, kualitas pengiriman pesanan yang konsisten menjadi nilai pembeda bagi perusahaan. Bisnis dengan skor OTIF yang tinggi akan lebih dipercaya karena pelanggan dan mitra menganggapnya sebagai pihak yang mampu memenuhi janji pengiriman. Keunggulan ini memberikan keuntungan kompetitif yang mungkin sulit ditiru oleh pesaingnya.

Ketika perusahaan dikenal sebagai penyedia barang yang berkualitas, peluang bisnis baru akan lebih mudah terbuka, terutama dari pelanggan besar yang memiliki standar rantai pasok tinggi. Selain itu, OTIF juga membantu meningkatkan efisiensi, sehingga perusahaan bisa menawarkan harga yang lebih kompetitif atau menjaga profitabilitas tetap sehat.

5. Bagaimana Cara Menghitung OTIF?

Menghitung skor OTIF adalah langkah pertama untuk melihat seberapa baik performa pengiriman perusahaan. Meski terdengar sulit, rumusnya sebenarnya cukup sederhana. Kuncinya, perusahaan harus memiliki data yang akurat serta standar yang jelas mengenai ketepatan waktu dan kelengkapan, sesuai kesepakatan dengan pelanggan. Berikut adalah rumus dan contoh perhitungan OTIF:

a. Rumus Sederhana OTIF

Untuk menghitung nilai OTIF, Anda perlu membagikan jumlah pengiriman yang berhasil OTIF (On-Time dan In-Full) dengan jumlah total pengiriman dalam periode waktu tertentu. Kemudian, hasilnya dikalikan 100 untuk mendapatkan persentase. Rumus KPI OTIF dapat dituliskan sebagai berikut:

OTIF(%) = (Jumlah Pengiriman OTIF ÷ Jumlah Total Pengiriman) × 100.

Penting untuk diingat bahwa sebuah pengiriman dianggap ‘berhasil’ jika memenuhi kedua kriteria tersebut secara bersamaan. Jika pengiriman sampai tepat waktu namun jumlahnya tidak sesuai, atau penyerahan itu lengkap namun terlambat, pengiriman tersebut didefinisikan sebagai kegagalan dalam metrik OTIF. Pendekatan biner ini menjadikan OTIF metrik yang sangat ketat namun akurat.

b. Contoh Perhitungan

Agar Anda lebih memahami cara hitungnya, kami berikan satu contoh hitung skor OTIF. Dalam satu bulan, PT Astra Jaya mengirimkan total 600 pesanan kepada pelanggannya. Setelah dievaluasi, ditemukan bahwa 550 pesanan tiba tepat waktu dan dengan jumlah serta jenis barang yang benar.

Berdasarkan data tersebut, Anda dapat menghitung skor OTIF PT Astra Jaya menggunakan rumus yang sebelumnya dijelaskan:

OTIF = (550 / 600) x 100 = 91.67%.

Ini berarti skor OTIF perusahaan adalah 91.67%, yang menunjukkan bahwa 8.33% dari total pesanan mereka tidak memenuhi standar kesempurnaan yang ditetapkan. Data ini memberikan gambaran yang jelas bagi manajemen untuk menganalisis penyebab kegagalan pada 50 pesanan tersebut dan merumuskan strategi perbaikan.

6. Strategi Meningkatkan Skor OTIF

Mencapai skor OTIF yang tinggi tidak bisa dilakukan hanya dengan satu perbaikan kecil. Perusahaan perlu merancang strategi yang saling terhubung, mulai dari perencanaan stok, koordinasi gudang, proses pengiriman, hingga komunikasi dengan pelanggan.

Oleh karena itu, semua departemen perlu bekerjasama untuk memperbaiki prosesnya dari waktu ke waktu. Dibawah ini adalah beberapa strategi yang bisa diterapkan untuk meningkatkan OTIF:

a. Meningkatkan Perencanaan dan Pengendalian Produksi

Kemampuan untuk mengirimkan pesanan secara lengkap dan tepat waktu dimulai dari lantai produksi. Perencanaan produksi yang buruk dapat menyebabkan kekurangan stok atau penundaan pengiriman. Oleh karena itu, implementasi sistem perencanaan canggih seperti MRP atau APS menjadi sangat penting untuk meramalkan permintaan dan menjadwalkan produksi secara efisien.

Sistem ini memberikan visibilitas yang lebih baik terhadap kemampuan produksi dan ketersediaan bahan baku, sehingga perusahaan dapat memberikan janji pengiriman yang lebih realistis. Selain itu, pengendalian kualitas yang ketat di setiap tahap produksi juga penting untuk memastikan produk memenuhi standar dan mengurangi risiko retur.

b. Meningkatkan Komunikasi Efektif dengan Pemasok

Kinerja pemasok bahan baku mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk memenuhi jadwal produksi dan mencapai nilai OTIF. Keterlambatan pengiriman atau kualitas yang buruk dari bahan baku tersebut dapat menghambat kegiatan operasional produksi secara keseluruhan. Maka dari itu, dibutuhkan komitmen untuk menjalin hubungan kerja sama dan transparan antara perusahaan dengan pemasok.

Komunikasi yang efektif perlu dibangun sejak awal, mulai dari berbagi data perkiraan permintaan, memberikan notifikasi pesanan yang jelas, hingga menyepakati standar kinerja yang harus dicapai. Menggunakan platform kolaborasi atau portal online dapat memudahkan pertukaran informasi secara real-time, sementara evaluasi kinerja pemasok secara berkala membantu memastikan ketersediaan bahan baku yang berkualitas.

c. Meningkatkan Komunikasi dengan Pelanggan

Jalin komunikasi yang aktif dan transparan dengan pelanggan agar ekspektasi tetap jelas dan mengurangi risiko kerugian. Sejak awal kerja sama, perusahaan perlu menyepakati jadwal pengiriman, lokasi tujuan, serta spesifikasi pesanan agar tidak terjadi salah paham di tengah proses.

Jika ada potensi keterlambatan, segera beri tahu pelanggan lengkap dengan alasan penundaan dan estimasi waktu kedatangan terbaru. Perusahaan juga bisa menyediakan pelacakan pesanan real-time agar pelanggan tetap mendapat informasi yang jelas. Dengan komunikasi dua arah yang baik, masalah bisa diselesaikan lebih cepat dan pelanggan merasa lebih dihargai.

d. Menciptakan Operasional Logistik yang Efisien

Selain ketiga hal diatas, ciptakan fungsi logistik yang mencakup pergudangan dan transportasi yang optimal. Proses gudang perlu berjalan rapi dari awal, mulai dari barang masuk, picking, hingga packing. Dengan Warehouse Management System (WMS), perusahaan bisa memantau stok lebih akurat, mengurangi kesalahan, dan memastikan pesanan dipenuhi dengan lebih cepat.

Dari aspek transportasi, penting untuk membuat perencanaan rute yang optimal, pemilihan moda transportasi yang tepat, dan mengelola armada dengan baik. Teknologi seperti Transportation Management System (TMS) membantu mengotomatisasi perencanaan dan melacak pengiriman secara real-time. Semua ini memastikan pengiriman tiba dengan efisien.

7. Kendala dan Tantangan dalam Menerapkan Sistem OTIF

Kendala dan Tantangan dalam Menerapkan Sistem OTIF

Meskipun OTIF menawarkan banyak manfaat, perjalanan menuju dan tetap mempertahankan tingginya nilai OTIF bukanlah hal yang mudah. Hal ini dikarenakan banyak sekali hambatan baik dari dalam ataupun dari luar yang mungkin menghalangi proses tersebut. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

a. Permintaan yang Tidak Stabil

Fluktuasi permintaan yang tidak terduga adalah tantangan besar dalam manajemen rantai pasok. Lonjakan permintaan yang tiba-tiba dapat membebani kapasitas produksi dan logistik, sementara penurunan permintaan menyebabkan penumpukan inventaris. Ketidakpastian ini membuat perencanaan yang akurat, yang menjadi dasar OTIF, semakin sulit.

Untuk mengatasi hal ini, perusahaan perlu meningkatkan kemampuan peramalan dengan data historis, analisis pasar, dan masukan dari tim penjualan. Mengadopsi model rantai pasokan yang lebih gesit (agile) membantu merespons perubahan permintaan dengan lebih cepat. Fleksibilitas produksi dan logistik menjadi kunci agar perusahaan mampu menghadapi perubahan pasar yang sulit diprediksi.

b. Keterbatasan Sumber Daya

Keterbatasan sumber daya, seperti modal, teknologi dan keterampilan tenaga kerja, dapat menjadi penghalang dalam penerapan OTIF. Penyediaan teknologi modern seperti sistem manajemen gudang (WMS) atau sistem manajemen pengiriman (TMS) mungkin bukan hal yang dapat diterapkan oleh semua perusahaan. Kekurangan karyawan yang berpengalaman di gudang atau keterampilan pengemudi yang andal dapat mengurangi efisiensi operasional tersebut.

Perusahaan harus melakukan analisis biaya-manfaat untuk memprioritaskan investasi yang paling berdampak. Menjalin kemitraan dengan penyedia logistik pihak ketiga (3PL) yang sudah memiliki teknologi dan sumber daya juga bisa menjadi solusi. Dengan demikian, penting bagi perusahaan untuk memperhatikan pada pengembangan dan peningkatan potensi staf mereka.

c. Gangguan Eksternal

Faktor-faktor di luar kendali sering kali menjadi faktor utama kegagalan OTIF. Banjir, cuaca ekstrim, macet, mogok buruh, hingga perubahan regulasi pemerintah bisa saja menghambat aliran barang. Faktor lain seperti peningkatan ongkos BBM yang diperhitungkan dalam Bunker Adjustment Factor (BAF) juga bisa mempengaruhi keputusan logistik.

Meski gangguan tersebut tidak dapat dihindari, perusahaan dapat membangun ketahanan dalam rantai pasok mereka. Ini termasuk memiliki rencana kontingensi, diversifikasi pemasok dan rute transportasi, serta menggunakan teknologi untuk peringatan dini. Visibilitas real-time atas rantai pasok memungkinkan respons cepat dan proaktif, meminimalkan dampaknya terhadap pelanggan.

8. Solusi Menghadapi Kendala Sistem OTIF

Menghadapipermasalahan tersebut untuk mendapatkan nilai OTIF yang sempurna memerlukan strategi yang harus didukung dengan teknologi. Solusi terintegrasi dapat membantu perusahaan merespon hal tersebut, dimana permasalahan diubah menjadi peluang sebagai berikut:

a. Penggunaan Teknologi Canggih

Platform manajemen rantai pasok memberikan visibilitas dan kontrol penuh atas seluruh proses rantai pasok Anda. Dengan analisis data dan peramalan yang akurat, sistem ini memungkinkan keputusan berbasis data untuk meningkatkan efisiensi. Sistem Manajemen Transportasi (TMS) mengoptimalkan perencanaan rute untuk menghindari kemacetan dan mengurangi waktu transit, yang langsung meningkatkan komponen ‘on-time‘.

Untuk mengatasi keterbatasan sumber daya, solusi ini memaksimalkan efisiensi operasional. Dengan fitur pelacakan real-time dan dasbor analitik, Anda dapat memonitor kinerja armada serta mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki. Teknologi ini membantu Anda melakukan lebih banyak dengan sumber daya yang ada, menghasilkan keuntungan operasional yang nyata.

Software Logistik ScaleOcean berperan krusial dalam penerapan OTIF dengan menyediakan visibilitas, otomatisasi, dan koordinasi yang menyeluruh. Sistem ini memastikan setiap pesanan dikirim tepat waktu dan sesuai jumlah yang dipesan. Perangkat lunak ini juga membantu mengatasi penyebab utama kegagalan OTIF, seperti keterlambatan karena koordinasi yang kurang rapi dan jumlah pesanan yang tidak sesuai.

Melalui fitur Tracking Shipment, Booking Management, serta kolaborasi vendor yang terintegrasi, Anda dapat menjaga performa rantai pasok tetap optimal. Jadwalkan demo gratis Anda untuk melihat bagaimana ScaleOcean membantu meningkatkan skor OTIF bisnis Anda.

b. Penerapan Sistem Manajemen Mutu

Penerapan sistem manajemen kualitas yang teruji dapat menjamin setiap pengiriman akan mematuhi standar tertinggi. Logistik team memonitor kondisi pasar dan situasi logistik dunia guna menyiapkan contingency plan yang efektif, yang meminimalkan efek negatif dari gangguan eksternal.

Proses verifikasi dan kontrol kualitas yang ketat diterapkan agar komponen ‘in-full‘ terpenuhi sebelum pengiriman. Sistem ini memastikan rantai pasokan lebih responsif dan mendukung peningkatan skor OTIF.

c. Pengembangan Sumber Daya Manusia

Pengembangan sumber daya manusia (SDM) sangat penting untuk mendukung operasional rantai pasokan yang efisien. Pelatihan dan pengembangan keterampilan karyawan, terutama dalam manajemen logistik dan kualitas, membantu meningkatkan kinerja dan akurasi dalam pemenuhan pesanan.

Investasi dalam SDM yang terampil juga memperkuat kemampuan perusahaan untuk merespons perubahan permintaan dengan cepat. Dengan tenaga kerja yang terlatih, perusahaan dapat memastikan kelancaran operasional dan mengoptimalkan pencapaian skor OTIF.

9. Kesimpulan

OTIF (On-Time In-Full) adalah penilaian yang mengukur konsistensi perusahaan dalam memenuhi janji kepada pelanggan, baik dari sisi ketepatan waktu maupun kelengkapan pesanan. Dengan memahami cara kerja OTIF, perusahaan bisa melihat titik lemah dalam rantai pasok dan memperbaiki koordinasi antar tim dengan lebih tepat.

Meningkatkan skor OTIF membutuhkan proses. Perusahaan perlu menyusun perencanaan yang matang, menjalin kolaborasi lintas departemen, serta memastikan agar setiap data pengiriman, stok, dan pesanan selalu akurat. Saat OTIF berjalan optimal, layanan menjadi lebih berkualitas, operasional lebih efisien, dan kepuasan pelanggan ikut meningkat.

Untuk mendukung hal tersebut, Software Logistik ScaleOcean membantu perusahaan untuk mencapai target OTIF melalui visibilitas real-time, otomatisasi proses, dan kolaborasi yang lebih terintegrasi. Jadwalkan demo gratis sekarang untuk melihat bagaimana ScaleOcean dapat membantu meningkatkan efisiensi, ketepatan, dan daya saing rantai pasok perusahaan Anda.

FAQ:

1. Berapa skor Otif yang baik?

Skor OTIF antara 95% hingga 99% umumnya dianggap sangat baik, menunjukkan efisiensi rantai pasokan yang tinggi dan kepuasan pelanggan yang optimal.

2. Apa target Otif?

OTIF digunakan untuk menilai kinerja vendor. Vendor dengan skor OTIF tinggi menunjukkan konsistensi dalam pengiriman tepat waktu dan lengkap, serta memahami pentingnya tenggat waktu.

3. Apa dampak Otif?

Skor OTIF yang tinggi meningkatkan prediktabilitas, yang menjadi kunci untuk pengendalian inventaris yang efektif.

Lara Zafira Rifta
Lara Zafira Rifta
Lara adalah penulis konten dengan 1 tahun pengalaman dalam membuat artikel SEO seputar bisnis, akuntansi, dan operasional. Ia terbiasa menulis konten yang jelas, informatif, dan sesuai kebutuhan brand.

ERP Buat Bisnis Ngebut

Operasional rapi, bisnis makin cepat

ERP Dashboards Demo Gratis
Dekson Sinarmas Bank of China Changi Shalby

Coba Demo Gratis!

Error message
Error message
Error message
Error message
Error message
Error message

Rekomendasi Artikel Terkait

Temukan Artikel Serupa untuk Solusi Bisnis Lebih Lengkap