Manufacturing Cycle Efficiency: Definisi dan Komponennya

Posted on
Share artikel ini

Penundaan produksi tidak hanya terjadi karena keterbatasan kapasitas mesin atau tenaga kerja. Hal seperti waktu yang dihabiskan operator menunggu bahan, pergerakan antarworkstation, serta waktu yang dihabiskan untuk inspeksi dapat memperpanjang lead time tanpa meningkatkan output produksi.

Saat ini, bisnis mulai menerapkan manufacturing cycle efficiency (MEC) untuk mengontrol lantai produksi mereka. Indeks ini memungkinkan bisnis mengukur persentase waktu yang dihabiskan untuk menambah nilai selama proses produksi.

MCE membantu perusahaan enterprise melihat efisiensi produksi secara menyeluruh, bukan hanya dari kapasitas output. Artikel ini membahas apa itu MCE, cara menghitungnya, komponen-komponennya, faktor yang menurunkan MCE, serta cara meningkatkannya.

starsKey Takeaways

Coba Konsultasi Gratis!

requestDemo

Apa Itu Manufacturing Cycle Efficiency?

Manufacturing Cycle Efficiency (MCE) adalah persentase dari siklus produksi yang memberikan aktivitas bernilai tambah. Semakin tinggi nilai MCE, semakin sedikit waktu tidak produktif seperti menunggu atau memindahkan bahan baku berkurang.

Indikator ini dipakai perusahaan manufaktur untuk mengevaluasi lini produksi secara objektif. Dengan MCE, tim manajemen Anda dapat membandingkan performanya antar shift, antar lini, bahkan antar pabrik menggunakan satu tolak ukur yang sama.

Mengapa Manufacturing Cycle Efficiency Penting untuk Manufaktur?

MCE membantu Anda melihat gambaran nyata di balik total waktu siklus produksi. Dengan mengidentifikasi aktivitas non-value-added, mendorong produktivitas mesin dan operator, serta menjadi fondasi penerapan lean manufacturing yang konsisten. Berikut alasan mengapa MCE sangat penting bagi perusahaan Anda.

1. Mengidentifikasi Aktivitas Non-Value Added dalam Produksi

Proses produksi perusahaan dipetakan oleh proses MCE, mulai dari bahan baku masuk ke dalam gudang hingga saat produk siap dikirim. Dari pemetanaan ini, proses yang tidak berharga bagi pelanggan akan terlihat jelas.

Setelah aktivitas non-value added teridentifikasi, Anda bisa memutuskan aktivitas mana saja yang perlu dihilangkan, dipersingkat, atau digabung dengan proses lain. Langkah ini menjadi dasar sebelum melakukan perbaikan proses secara menyeluruh.

2. Meningkatkan Produktivitas Mesin dan Operator

Ketika waktu tunggu dan waktu pemindahan berkurang, mesin dan operator dapat bekerja dengan konsisten tanpa jeda-jeda yang tidak perlu. Kondisi ini mendorong output produksi harian Anda.

Peningkatan efisiensi juga memengaruhi jumlah pekerjaan operator Anda. Operator tidak lagi perlu membuat waktu hanya untuk menunggu bahan atau instruksi selanjutnya, sehingga mereka dapat berkonsentrasi pada pekerjaan mereka selama shift.

3. Mendukung Implementasi Lean Manufacturing

Metrik efisiensi siklus bertindak sebagai indikator kuantitatif yang menunjukkan seberapa efisien proses implementasi konsep lean manufacturing di lantai pabrik tersebut. Untuk mengevaluasi secara objektif dampak dari inisiatif lean Anda harus menggunakan data yang dapat diukur.

Dengan memakai MCE sebagai KPI produksi manufaktur dari waktu ke waktu, tim produksi Anda dapat melacak progres mereka. Informasi ini memungkinkan manajer mengidentifikasi area dimana waktu terbuang dan kemudian bergerak untuk menyelesaikan masalah lainnya.

Rumus Perhitungan Manufacturing Cycle Efficiency

MCE dihitung menggunakan waktu nilai tambah (value-added time) dan total waktu siklus (throughput time). Rumus ini membutuhkan data waktu proses yang akurat agar Anda bisa mendapatkan hasil yang mencerminkan situasi real-time dari lini produksi Anda.

MCE = Value-Added Time/ Total Cycle Time

Mengetahui cara menghitung efisiensi produksi berdasarkan rumus ini memungkinkan Anda menetapkan target yang realistis untuk tim operasi Anda. Hasil dari perhitungan ini akan berbentuk persentase. Semakin tinggi persentasenya, semakin efisien proses produksi Anda.

Komponen Manufacturing Cycle Efficiency

Komponen Manufacturing Cycle Efficiency

MCE terdiri dari dua kelompok komponen waktu yang membentuk total waktu siklus. Kelompok pertama adalah aktivitas yang benar-benar mengubah bahan baku menjadi produk, sedangkan kelompok kedua adalah aktivitas-aktivitas yang tidak menambakan nilai apa pun.

Berikut penjelasan tentang masing-masing komponen:

1. Aktivitas Bernilai Tambah (Value-Added Activity)

Waktu Proses (Processing Time) merupakan waktu saat produk Anda benar-benar diolah, dibentuk, atau dirakit menjadi barang yang siap digunakan pelanggan. Contohnya seperti proses pemotongan bahan baku, perakitan komponen, dan pengecatan produk akhir.

Semakin besar porsi processing time dibanding total waktu siklus, semakin tinggi pula nilai MCE yang dihasilkan. Perusahaan-perusahaan manufaktur cenderung fokus memperbesar waktu proses aktif ini melalui otomasi dan penjadwalan yang rapi.

2. Aktivitas Tidak Bernilai Tambah (Non-Value-Added Activities)

Selain waktu pemrosesan, ada empat kegiatan yang menambah waktu siklus total namun tidak menambahkan nilai apapun pada produk. Empat kegiatan ini menjadi fokus kegiatan pengurangan pemborosan produksi. Berikut penjelasan masing-masing kegiatan tersebut:

  • Waktu Tunggu (Waiting Time): Periode dimana suatu produk menunggu gilirannya untuk diproses karena antrean mesin atau keterlambatan bahan.
  • Waktu Pemindahan (Moving Time / Transport Time): Waktu yang dibutuhkan untuk memindahkan barang dari satu stasiun kerja ke stasiun kerja lainnya.
  • Waktu Inspeksi (Inspection Time): Waktu yang dibutuhkan untuk memeriksa suatu produk yang penampilan fisiknya tidak berubah.
  • Waktu Penyimpanan (Storage Time / Queue Time): Waktu yang dihabiskan suatu produk dalam bentuk pekerjaan dalam proses sebelum memasuki fase berikutnya.

Contoh Perhitungan Manufacturing Cycle Efficiency

Misalkan waktu proses total dalam pabrik otomotif adalah 20 jam untuk satu unit. Dari total waktu tersebut, hanya 5 jam di antaranya yang merupakan jam nilai tambah.

Rumusnya menjadi:

MCE= 5 jam / 20 Jam = 0,25 atau 25%

Ini berarti hanya seperempat dari waktu proses total yang merupakan waktu produktif sedangkan tiga perempat dari waktu yang tersisa merupakan waktu yang tidak produktif seperti menunggu, memindahkan barang, inspeksi, dan penyimpanan. Angka diatas menunjukkan masih banyak perbaikan yang harus dilakukan.

Bagaimana Cara Meningkatkan Manufacturing Cycle Efficiency?

Meningkatkan MCE berarti meningkatkan waktu yang lebih berharga dan usaha-usaha yang kurang produktif dihabiskan. Berikut adalah beberapa cara untuk meningkatkan efisiensi siklus produksi:

1. Kurangi Waktu Tunggu dalam Proses Produksi

Waktu tunggu terjadi karena ketidakselarasan dalam jadwal produksi antara berbagai stasiun kerja bahkan karena pasokan bahan yang tertunda. Dengan menggunakan peta aliran nilai, tim Anda dapat mengidentifikasi masalah-masalah yang ada.

Lalu, setelah Anda menemukan sumber masalahnya Anda dapat dengan mudah merestrukturisasi proses Anda bahkan melakukan buffering di titik-titik strategis. Hal ini membuat perbedaan yang besar untuk meminimalkan waktu siklus.

2. Optimalkan Perencanaan Produksi

Perencanaan produksi yang akurat memastikan kapasitas mesin, tenaga kerja, dan material tersedia tepat waktu sesuai kebutuhan setiap tahap proses. Jadwal yang realistis mengurangi risiko idle time maupun penumpukan WIP.

Perencanaan yang buruk justru menyebabkan masalah overproduction di satu stasiun dan stasiun lainnya menjadi tidak aktif menunggu input mereka. Koordinasi jadwal antar berbagai departemen penting untuk memastikan kelanjutan proses produksi.

3. Digitalisasi Monitoring Shop Floor

Pemantauan yang dilakukan secara manual lambat menemukan masalah dalam proses produksi karena pengumpulan data hanya dilakukan di akhir shift. Melalui digitalisasi proses pemantauan, tim Anda dapat melihat status jalur produksi pada layar monitor.

Dengan data real-time, Anda bisa membuat keputusan mengenai penyimpangan dari target. Hal itu membantu Anda menyelesaikan masalah sebelum menjadi serius.

4. Gunakan Data untuk Continuous Improvement

Data produksi historis membantu menilai area-area yang menyebabkan ada waktu non-produktif yang paling banyak. Analisis data seperti itu berguna dalam mengarahkan upaya tim Anda ke area-area yang memiliki dampak besar.

Peningkatan berkelanjutan perlu dilakukan seiring perubahan di lingkungan produksi. Dengan rutin menganalisis data, perusahaan dapat lebih cepat merespons permintaan pasar. Software manufaktur, seperti ScaleOcean Atlas, membantu menyatukan data dari berbagai area dalam satu platform agar keputusan lebih tepat.

Manufaktur

Faktor yang Menurunkan Manufacturing Cycle Efficiency

Anda harus mengidentifikasi faktor-faktor yang umumnya menyebabkan rendahnya efisiensi MCE dalam proses produksi Anda, hal-hal seperti waktu tunggu yang lama, penjadwalan produksi yang tidak tepat dan pemrosesan data manual yang mengambil waktu lama. Berikut penjelasan mengenai setiap faktor yang mengurangi MCE Anda:

1. Waiting Time Tinggi

Waktu tunggu yang lama adalah contoh masalah produksi yang disebabkan oleh perbedaan kapasitas dari stasiun kerja atau dari keterlambatan dalam pasokan komponen dari pemasok. Akibatnya produk tetap tidak bergerak lebih lama dari waktu yang seharusnya diproses.

Semakin panjang rantai proses, semakin besar kemungkinan waktu tunggu meningkat di semua titik transisi. Ini adalah contoh dari masalah produksi yang terjadi di fasilitas produksi yang tidak teratur.

2. Poor Production Scheduling

Jadwal produksi yang tidak memperhitungkan kapasitas sebenarnya dari mesin dan tenaga kerja pasti menimbulkan kemacetan pada suatu tahap. Ini timbul karena ada beban kerja yang berlebihan di beberapa stasiun sementara stasiun lain tetap menganggur.

Kurangnya perencanaan yang tepat bisa membuat perusahaan Anda gagal memprediksi waktu penyelesaian pesanan yang tepat. Penundaan pengiriman ini pun menjadi konsekuensi yang sulit dihindari.

3. Inventory Tidak Akurat

Data stok yang tidak sinkron dengan kondisi riil di gudang menyebabkan produksi yang berhenti karena material yang dibutuhkan ternyata sudah habis. Akhirnya, tim produksi pun terpaksa menunggu hingga stok tersedia kembali.

Ketidak akuratan ini berasal dari pencatatan manual yang rawan kesalahan input atau keterlambatan update data. Selisih antara catatan sistem dan kondisi fisik gudang pun semakin melebar seiring waktu.

4. Machine Downtime

Kerusakan mesin yang tidak terjadwal memaksakan produksi berhenti mendadak, sehingga waktu siklus membengkah jauh dari rencana awal. Downtime seperti ini sulit diprediksi tanpa program perawatan preventif yang konsisten.

Selain menghentikan produksi, downtime berisiko menciptakan efek domino pada stasiun kerja berikutnya yang bergantung pada output dari mesin tersebut. Dampaknya bisa meluas ke seluruh lini jika tidak segera ditangani.

5. Quality Issue

Produk cacat yang baru terdeteksi di tahap akhir memaksa proses rework atau bahkan pembuangan material, sehingga waktu dan sumber daya yang sudah dikeluarkan menjadi sia-sia. Masalah kualitas ini menambahkan beban pada total cycle time.

Semakin terlambat cacat terdeteksi, semakin besar biaya dan waktu yang harus dikeluarkan untuk memperbaikinya. Oleh karena itu, inspeksi yang dilakukan lebih awal dalam proses membantu Anda mencegah pemborosan yang besar di tahap selanjutnya.

6. Manual Data Management

Merekam proses produksi secara manual menyebabkan keterlambatan, kesalahan dan kurangnya visibilitas data real-time. Hal ini membuat para manajer sulit mengambil keputusan cepat saat terjadi penyimpangan dari rencana.

Sebuah studi dari JAMEI di bengkel PT Pou Yuan menunjukkan bahwa penerapan manufaktur ramping dan MCE memangkas waktu produksi satu WF beam hingga 9.011,99 detik serta jarak perpindahan bahan 2.070 meter. Temuan ini membuktikan bahwa perbaikan berbasis data mampu meningkatkan efisiensi produksi secara nyata.

Cara Meningkatkan Manufacturing Cycle Efficiency

Cara Meningkatkan Manufacturing Cycle Efficiency

Setelah menganalisis penyebab turunnya MCE, ada beberapa langkah yang dapat Anda diambil untuk meminimalkan waktu tidak produktif. Dengan menggunakan manufaktur ramping, mengoptimalkan jadwal proses produksi serta mendigitalisasi pelacakan proses produksi, berikut penjelasan cara meningkatkan MCE Anda:

1. Kurangi Waiting Time Produksi

Salah satu langkah dasar dalam meminimalkan waktu tunggu dalam proses produksi adalah dengan mengoptimalkan penjadwalan dan ketersediaan bahan tepat waktu. Langkah ini diikuti dengan memetakan aliran nilai untuk mengidentifikasi kemacetan.

Setelah Anda mengidentifikasi kemacetan tersebut, Anda bisa mengubah kapasitas atau membuat buffer pada tahap-tahap penting dalam proses produksi. Perubahan sederhana ini memberikan dampak yang signifikan pada penurunan total waktu siklus.

2. Terapkan Lean Manufacturing

Prinsip lean seperti 5S, kaizen, dan eliminasi seven waste membantu tim produksi Anda mengenali dan menghilangkan aktivitas-aktivitas yang tidak menambah nilai. Penerapannya dimulai dari area-area dengan tingkat pemborosan paling tinggi.

Konsistensi adalah hal yang paling penting dalam penerapan manufaktur rampaing karena hasil yang signifikan tidak dapat diharapkan hanya dari satu usaha saja. Ulasan-ulasan ini diperlukan agar Anda yakin bahwa perubahan yang telah diimplementasikan akan berkelanjutan dalam jangka panjang.

3. Optimalkan Production Scheduling

Jadwal produksi yang memperhitungkan kapasitas mesin, tenaga kerja, dan bahan baku yang sebenarnya meminimalkan kemungkinan terjadinya kemacetan di berbagai tahapan proses manufaktur. Koordinasi antar departemen ini merupakan komponen yang penting di saat ini.

Jadwal yang realistis seperti itu memungkinkan Anda memperkirakan tanggal pengiriman yang tepat untuk pelanggan Anda. Kepercayaan pelanggan pun terjaga karena komitmen waktu produksi lebih konsisten.

4. Tingkatkan Material Availability

Ketersediaan material yang konsisten mencegah proses produksi berhenti akibat kekurangan komponen di tengah-tengah operasional. Oleh karena itu, Anda harus menjalankan kolaborasi yang erat dengan pemasok dan memastikan pencatatan stok Anda selalu akurat menjadi fondasi langkah ini.

Sistem inventaris real-time memungkinkan Anda menempatkan pesanan yang tepat waktu sebelum stok benar-benar habis. Praktik ini lebih baik dibandingkan menunggu laporan kekurangan bahan.

5. Kurangi Downtime Mesin

Pemeliharaan mesin sesuai jadwal menghilangkan risiko kegagalan mesin yang tidak terduga. Dengan cara ini, Anda bisa mengidentifikasi masalah sejak dini sehingga bisa dicegah sebelum menjadi masalah besar.

Selain pemeliharaan mesin, pencatatan kerusakan yang terjadi membantu tim Anda menemukan pola kegagalan mesin. Pola seperti ini memaikan peran penting dalam menentukan siklus pemeliharaan di masa depan.

6. Digitalisasi Monitoring Produksi

Sistem pemantauan digital memungkinkan Anda untuk mendapatkan informasi tentang status setiap komputer secara real-time, mulai dari tingkat performa hingga kemungkinan adanya kemacetan proses. Anda akan mendapatkan informasi ini lebih cepat daripada saat pergantian shift dan pelaporan manual.

Saat Anda memiliki visibilitas yang cukup, manajer produksi Anda dapat membuat keputusan berdasarkan data secara instan tanpa harus menunggu laporan di akhir shift. Maka, rencana instan ini adalah elemen yang berkontribusi pada peningkatan MCE.

Hubungan Manufacturing Cycle Efficiency dan Lean Manufacturing

MCE dan Lean manufacturing saling bergantung dengan satu sama lain karena kedua konsep tersebut menghilangkan kegiatan-kegiatan yang tidak menambahkan nilai bagi pelanggan. Meskipun Lean Manufacturing memberikan konsep umum, MCE bertindak sebagai indikator keberhasilannya.

Setiap kali prinsip-prinsip lean manufacturing seperti pemetaan aliran nilai atau kaizen diterapkan perusahaan, dampaknya dievaluasi melalui perubahan angka MCE. Itulah alasan mengapa kedua konsep ini tidak dapat dipisahkan saat Anda mencoba untuk meningkatkan proses produksi.

Tingkatkan Manufacturing Cycle Efficience dengan ScaleOcean Atlas Manufacturing


ScaleOcean Atlas for Manufacturing adalah software ERP yang membantu perusahaan mengoptimalkan produksi dengan mengintegrasikan perencanaan, inventaris, dan pemantauan shop floor dalam satu platform end-to-end. Solusi ini cocok untuk pabrik dengan lini produksi kompleks yang sulit dievaluasi dan diperbaiki secara manual.

Dengan seluruh data produksi terhubung dalam satu software, tim dapat menemukan aktivitas yang tidak memberi nilai tambah dan menentukan perbaikan berdasarkan data akurat. Jika ingin melihat bagaimana solusi ini menyatukan kerja antartim secara efisien, jadwalkan konsultasi bersama tim kami sekarang.

Berikut beberapa modul yang ada dalam ScaleOcean Atlas:

  • Production Planning & Scheduling: Dengan data real-time, modul ini memastikan bahwa jadwal produksi Anda sesuai dengan kapasitas mesin dan ketersediaan tenaga kerja Anda serta memungkinkan Anda dengan mudah mengubah rencana Anda jika terjadi perubahan.
  • Material Requirement Planning: Modul ini membantu Anda menghindari kelebihan stok dan kekurangan stok serta memastikan Anda memiliki semua bahan yang dibutuhkan pada waktu yang tepat.
  • Bill of Material: Modul ini akan memungkinkan Anda untuk menangani inventaris semua bahan,komponen dan sub-asembli yang dibutuhkan untuk produk akhir Anda.
  • Work Order Management: Modul ini memungkinkan Anda untuk dengan mudah membuat,mengelola dan melacak semua pesanan kerja dan pesanan produksi Anda.
  • Shop Floor Control: Dengan modul ini Anda akan memiliki kendali penuh atas lantai produksi Anda dan pemantauan aliran produksi dalam waktu nyata.

Kesimpulan

Manufacturing cycle efficiency adalah metrik yang mengukur porsi waktu produksi yang benar-benar menghasilkan nilai tambah dibandingkan dengan total waktu siklus. Memahami komponen, faktor, penurun, dan cara meningkatkannya membantu Anda menjalankan proses produksi yang efisien serta selaras dengan lean manufacturing.

ScaleOcean Atlas for Manufacture membantu Anda mengelola MCE secara konsisten dengan menyediakan sistem yang memantau seluruh proses produksi secara terintegrasi dan real-time. Oleh karena itu, jika Anda ingin melihat bagaimana software membantu mengelola MCE Anda, segera jadwalkan sesi konsultasi gratis sekarang!

FAQ:

1. Apa yang dimaksud dengan efisiensi produksi?

Efisiensi produksi adalah kondisi saat perusahaan memproduksi barang atau jasa sebanyak mungkin tanpa mengambil sumber daya yang banyak.

2. Apa yang dimaksud dengan siklus manufaktur?

Siklus manufaktur adalah rangkaian proses yang mengubah ide, bahan, tengaga kerja, dan biaya ke produk akhir yang dijualkan ke pelanggan.

3. Apa yang dimaksud dengan efficiency?

Efficiency adalah cara mencapai target yang maksimal dengan memakai sumber daya sekecil mungkin.

Adriel Thomas Dwiputranto
Adriel Thomas Dwiputranto
Adriel adalah SEO Content Writer dengan hampir 1 tahun dalam pembuatan konten informatif seputar bisnis, teknologi, dan transformasi digital yang membantu perusahaan enterprise dari berbagai industri di Indonesia.

ERP Buat Bisnis Ngebut

Operasional rapi, bisnis makin cepat

ERP Dashboards Demo Gratis
Dekson Sinarmas Bank of China Changi Shalby

Coba Demo Gratis!

Error message
Error message
Error message
Error message
Error message
Error message

Rekomendasi Artikel Terkait

Temukan Artikel Serupa untuk Solusi Bisnis Lebih Lengkap