Salah satu tantangan terbesar bagi banyak perusahaan di Indonesia adalah fragmentasi data. Misalnya, bagaimana data penjualan, stok, produksi, dan finance berada dalam sistem yang terpisah. Dampak dari hal tersebut, tim akan kesulitan memantau kondisi bisnis dengan utuh. Sedangkan, pada umumnya, pembuatan keputusan strategis memerlukan data yang saling terhubung.
Maka dari itu, saat data bercecer dan tidak tersentralisasi, keputusan bisnis bisa tercipta hanya dari informasi parsial. Akibatnya, konflik antar divisi, keterlambatan pemberian validasi, dan terlewatnya peluang bisa terjadi kapanpun. Tidak hanya itu, penilaian risiko oleh manajemen terasa sulit. Hasil akhirnya, arah bisnis perusaaan semakin kurang presisi.
Prescriptive analytics merupakan rancangan yang hadir guna membantu perusahaan mengolah data menjadi rekomendasi tindakan. Dengan mengandalkan AI ERP, proses analisis bisa berjalan dalam satu sistem terpusat dan relevan. Maka, pembuatan keputusan juga bisa berlangsung cepat. Artikel ini membahas pengertian, cara kerja, manfaat, contoh, dan solusi penerapannya.
- Prescriptive analytics adalah metode analitik yang mempermudah penentuan tindakan terbaik menurut data, prediksi, simulasi, dan aturan relevan.
- Prescriptive analytics penting bagi bisnis sebab mampu mempercepat keputusan strategis, pengurangan risiko, optimalisasi sumber daya, dan menjadikan perusahaan lebih adaptif.
- Cara kerja prescriptive analytics, di antaranya: pengumpulan data, analisis historis, prediksi machine learning, simulasi, optimasi, dan rekomendasi tindakan yang matang.
- Tantangan utama prescriptive analytics terdiri dari fragmentasi data, ketidak-konsistenan kualitas data, kakunya model analitik, dan kesiapan tim mengaplikasikan rekomendasi data.
- AI ERP ScaleOcean mempermudah proses penyatuan data lintas divisi, otomatisasi analisis, dan memberi rekomendasi preskriptif bagi keputusan bisnis akurat.
Apa Itu Prescriptive Analytics?
Prescriptive analytics adalah salah satu analisis data lanjutan yang mempermudah penentuan langkah terbaik bagi perusahaan sesudah paham atas kemungkinan yang akan terjadi. Hasil analisis tidak hanya untuk memantau tren dan memprediksinya, melainkan menyajikan rekomendasi tindakan berdasarkan algoritma, machine learning, dan konteks bisnis.
Dalam bisnis, prescriptive analytics mempermudah manajemen menjawab pertanyaan krusial. Contohnya, keputusan yang perlu perusahaan ambil, strategi paling efisien, dan risiko yang perlu dihindari. Oleh sebab itu, analisis preskriptif sangat cocok bagi bisnis yang operasionalnya melibatkan variabel yang banyak. Misalnya, stok, produksi, harga, distribusi, dan procurement.
Maka, pendekatan satu ini dapat mempercepat keputusan bisnis yang lebih akurat bagi perusahaan dengan skala menengah sampai enterprise. Dalam penerapannya, data yang bersumber dari seluruh divisi dapat terkonversi sebagai rekomendasi konkret. Karenanya, manajemen bisa memahami setiap tindakan terbaik guna mencapai target bisnis.
Mengapa Prescriptive Analytics Penting bagi Bisnis?
Penerapan prescriptive analytics bersifat krusial sebab bisa mempermudah pengubahan data menjadi rekomendasi tindakan yang jelas. Dengan menggunakan metode analisis ini, perusahaan bisa mempercepat pengambilan keputusan, minimalisir risiko, optimalisasi sumber daya, serta melakukan penyesuaian antara strategi dan perkembangan kondisi pasar.
Berikut alasan mengapa perusahaan harus menerapkan analisis preskriptif:
1. Membantu Pengambilan Keputusan Lebih Cepat
Pertama, metode prescriptive analytics dapat mempercepat pengambilan keputusan bisnis. Alasannya, kehadiran sistem bisa langsung mengonversi data menjadi rekomendasi tindakan. Bahkan, tim sudah tidak perlu menunggu laporan manual dari berbagai divisi. Tidak hanya itu, dengan memanfaatkan AI untuk bisnis, manajemen juga bisa memilih opsi terbaik dengan singkat.
2. Mengurangi Risiko Keputusan yang Kurang Tepat
Berikutnya, dengan prescriptive analytics, perusahaan bisa meminimalisir risiko. Hal ini sebab keputusan yang tercipta sudah teruji data, skenario, dan batasan bisnis. Tidak hanya itu, sistem juga bisa memperlihatkan dampak dari setiap pilihan yang ada. Karenanya, perusahaan sudah bisa mempertimbangkan dengan matang akan keputusan yang terpilih nantinya.
3. Mengoptimalkan Biaya dan Sumber Daya
Tidak hanya itu, metode analisis preskriptif umumnya bisa memberi arahan perusahaan untuk mengefisiensikan pengalokasian biaya dan sumber daya. Misalnya, sistem bisa memberikan saran tepat dalam melakukan pengadaan stok, tenaga kerja, dan kapasitas yang ideal. Maka dari itu, pemborosan bisa perusahaan hindari dan alokasi anggaran menjadi lebih terukur dan sesuai dengan target budget.
4. Mendorong Bisnis Lebih Adaptif
Terakhir, pengaplikasian prescriptive analytics mempermudah proses adaptasi bisnis. Alasannya sebab sistem akan memberi rekomendasi yang fleksibel sesuai dengan kondisi terbaru. Dalam penerapannya, sistem akan mempermudah penyesuaian langkah tepat ketika permintaan, stok, atau biaya mengalami perubahan.
Perbedaan Descriptive Predictive Prescriptive Analytics
Descriptive, predictive, dan prescriptive analytics adalah tiga pendekatan analitik yang saling melengkapi dalam pengambilan keputusan bisnis. Descriptive analytics bertugas memberi penjelasan apa yang telah terjadi, predictive analytics memberikan prediksi akan apa yang mungkin terjadi, sedangkan prescriptive analytics berperan dalam pemberian rekomendasi tindakan terbaik perusahaan.
Berdasarkan kegunaannya, descriptive analytics bermanfaat dalam membaca data historis. Misalnya, laporan penjualan, performa stok, produktivitas divisi, dan capaian operasional. Di sisi lain, dalam bentuk pola data dan statistik, predictive analytics membuat prediksi atas kondisi yang akan datang. Contohnya, permintaan produk, risiko keterlambatan, dan potensi penurunan jumlah pelanggan.
Berbeda dengan kedua metode sebelumnya, prescriptive analytics hadir sebagai tahapan lanjutan seluruh proses analisis. Hal ini sebab metode tersebut bisa memberi saran langkah yang perlu perusahaan ambil. Pendekatan preskriptif juga mengoptimalkan pembuatan keputusan. Contohnya, kapan menambah stok, memilih pemasok, mengatur flow produksi, dan bahkan penyesuaian strategi biaya.
| Jenis Analitik | Fokus Utama | Pertanyaan yang Dijawab | Contoh Penggunaan Bisnis |
|---|---|---|---|
| Descriptive Analytics | Memberi penjelasan data masa lalu atau situasi sekarang. | Apa yang telah terjadi? | Report atas penjualan, performa stok, dan capaian operasional. |
| Predictive Analytics | Memberi prediksi atas situasi maupun risiko yang muncul di masa mendatang. | Apa yang mungkin saja terjadi? | Prediksi atas demand, risiko keterlambatan, dan tren pelanggan. |
| Prescriptive Analytics | Menyajikan rekomendasi tindakan jelas yang terbaik. | Apa yang harus perusahaan lakukan? | Rekomendasi stok, pemasok, jadwal produksi, dan strategi pendanaan. |
Cara Kerja Prescriptive Analytics
Prescriptive analytics bekerja dalam bentuk mengubah data mentah menjadi rekomendasi tindakan yang bisa langsung bisnis terapkan. Proses tersebut terdiri dari pengumpulan data, analisis kondisi situasi, prediksi, simulasi, sampai ke rekomendasi yang mempermudah manajemen dalam memilih langkah paling tepat.
Berikut merupakan cara kerja analisis preskriptif dalam bisnis:
1. Mengumpulkan Data dari Berbagai Sumber
Prescriptive analytics bermula dengan cara menarik data dari seluruh departemen. Misalnya, dari sistem ERP, CRM, inventory, sales, produksi, dan finance yang perusahaan punya. Pengumpulkan data menjadi satu berguna untuk mempermudah sistem menilai kondisi bisnis dengan utuh. Dalam analisis preskriptif, sumber data yang terperinci akan mempermudah penyajian rekomendasi akurat.
2. Menganalisis Data Historis dan Kondisi Saat Ini
Selanjutnya, sistem akan melakukan identifikasi data historis dan kondisi terbaru guna menemukan pola. Bentuknya berupa perbandingan riwayat penjualan, stok, pemasok, dan biaya dengan situasi pasar saat ini. Oleh sebab itu, perusahaan bisa memahami perusahaan yang terjadi. Pada akhirnya, hasil dari analisa akan menjadi fondasi sebelum sistem menciptakan model prediksi bisnis.
3. Membuat Prediksi dengan Machine Learning
Pada tahap ini, machine learning bermanfaat guna memberikan prediksi atas kemungkinan yang mungkin saja terjadi. Sistem bisa memperkirakan demand, risiko keterlambatan, atau stok. Dengan support generative AI, perusahaan juga dapat menyusun insight secara mudah. Maka dari itu, prediksi dengan mesin pembelajaran ini berperan sebagai bahan menentukan tindakan.
4. Menjalankan Simulasi dan Optimasi
Kemudian, tahapan selanjutnya yakni sistem mulai menjalankan simulasi membandingkan beberapa pilihan rekomendasi. Pengujian ini berjalan dengan mempertimbangkan biaya, kapasitas, waktu, dan risiko. Berikutnya, sistem akan melakukan proses optimasi yang paling sesuai dengan target bisnis perusahaan. Oleh sebab itu, keputusan yang tercipta tidak hanya cepat, tetapi juga tepat.
5. Memberikan Rekomendasi Tindakan
Tahap terakhir, proses mengonversikan hasil analisis menjadi rekomendasi tindakan yang bisa perusahaan jalankan. Di dalamnya, sistem akan memberikan saran re-order stok, perubahan schedule produksi, bahkan supplier. Rekomendasi tersebut memiliki kapabilitas untuk mengarahkan workflow tim dengan lebih terstruktur.
Komponen Utama dalam Analisis Preskriptif
Di dalam analisis preskriptif, terdapat beberapa komponen agar rekomendasi yang tercipta dengan akurasi yang tinggi. Kemudian, komponen ini melingkupi data yang dapat terintegrasi, machine learning yang terlengkapi dengan AI, optimization engine, business rules, dan juga dashboard yang support keputusan bisnis.
Berikut merupakan komponen penting dalam menganalisis preskriptif:
1. Data Terintegrasi
Pertama, fondasi utama analisis preskriptif adalah data harus bisa melakukan integrasi. Alasannya, rekomendasi hanya dapat tercipta akurat apabila sistem membaca keseluruhan data tanpa ada yang tertinggal. Misalnya, data dari sales, inventory, keuangan, procurement, dan produksi. Maka, tidak akan ada miskomunikasi sebab analisis terlaksana tanpa terputus antar divisi.
2. Machine Learning dan AI
Selanjutnya, komponen mesin pembelajaran yang support AI dapat mempermudah proses membaca pola data berskala besar. Hal ini sebab perangkat lunak tersebut bisa mengenali demand trend, risiko operasional, dan perubahan biaya dengan waktu cepat. Tidak hanya itu, model juga dapat belajar seiring bertambahnya data terbaru. Hasilnya, perusahaan bisa menggunakan rekomendasi bisnis yang relevan.
3. Optimization Engine dalam Prescriptive Analytics
Ketiga, hal yang bisa mempengaruhi akurasi analisis lainnya adalah optimization engine. Dengan ini, sistem akan melakukan pencarian opsi terbaik dari beragam kemungkinan keputusan. Kemudian, sistem akan melakukan perhitungan, mulai dari biaya, kapasitas, waktu, risiko, hingga target. Oleh sebab itu, perusahaan akan melihat skenario yang paling efisien untuk operasional bisnisnya.
4. Business Rules
Komponen berikutnya, pastikan bahwa rekomendasi sistem tetap sesuai dengan kebijakan dari perusahaan. Di dalamnya, perusahaan biasa memasukkan aturan atas batas approval, minimum stok, margin, prioritas pelanggan, atau standar memilih pemasok. Dengan menetapkan business rules yang jelas, sistem tidak akan memberi rekomendasi yang sembarangan dan melanggar aturan tersebut.
5. Dashboard dan Reporting
Terakhir, prescriptive analysis harus memiliki dashboard dan laporan yang mempermudah manajemen dalam membaca hasil analisis data. Artinya, informasi krusial seperti KPI, risiko, alert, dan rekomendasi dapat berada dalam satu tampilan saja. Dengan itu, seluruh tim bisa memahami prioritas tindakan yang harus perusahaan pilih dalam waktu singkat.
Baca juga: Penerapan AI dalam Logistik sebagai Strategi Supply Chain
Contoh Prescriptive Analytics Adalah dalam Bisnis
Prescriptive analytics merupakan proses menganalisis data lanjutan perusahaan yang tidak hanya membuat prediksi situasi di masa depan, melainkan juga memilih tindakan tepat guna mencapai hasil terbaik. Dalam dunia bisnis, contoh prescriptive analytics adalah rekomendasi berbasis data yang bisa perusahaan terapkan dalam inventory, produksi, harga, procurement, sampai ke distribusi.
Di bawah ini merupakan contoh penerapannya dalam berbagai bidang industri bisnis:
1. Rekomendasi Stok dalam Inventory
Dalam bidang inventory, prescriptive analytics bisa melakukan penentuan atas waktu stok bisa tim pesan lagi, hingga ke berapa jumlah idealnya. Sistem kemudian akan membaca demand, stok tersedia, lead time, dan kapasitas gudang. Dengan begitu, perusahaan bisa meminimalisir terjadinya risiko stockout. Tidak hanya itu, biaya penyimpanan juga lebih terkendali.
2. Penjadwalan Produksi di Manufaktur
Selanjutnya, bagi manufaktur, prescriptive analytics bisa menyusun jadwal produksi menurut beberapa faktor. Misalnya, kapasitas mesin, bahan baku, dan permintaan. Dalam hal ini, sistem memberi saran urutan kerja paling efisien. Apabila tim terjebak dalam situasi material terlambat, produksi lain bisa berubah menjadi prioritas. Maka, output bisa terjaga stabil sedangkan bottleneck berkurang.
3. Optimasi Harga Penjualan dengan Prescriptive Analytics
Ketiga, untuk harga penjualan, analisis preskriptif mempunyai peran dalam menentukan strategi harga menurut permintaan, biaya, margin, dan stok. Kemudian, perangkat lunak bisa menghadirkan saran diskon atau bahkan penyesuaian harga. Dengan rekomendasi tersebut, perusahaan bisa menjaga daya saing tanpa harus mengorbankan profit.
4. Pengadaan Barang dan Supplier Selection
Dalam procurement, metode analisis satu ini dapat membantu perusahaan dalam memilih pemasok menurut harga terbaik, kualitas, lead time, dan riwayat pengiriman. Dengan sistem, perusahaan bisa mendapat perbandingan yang objektif. Maka, apabila supplier harga murah memiliki risiko terlambat, perusahaan bisa memperoleh alternatif lain dengan waktu singkat.
5. Perencanaan Rute Distribusi
Terakhir, dalam departemen distribusi, metode preskriptif dapat menentukan rute terbaik menurut jarak, biaya, kapasitas kendaraan, dan prioritas pelanggan. Dengan bantuan sistem terdigitalisasi, perusahaan bisa mendapat penyesuaian rute ketika ada pesanan yang berubah. Karenanya, proses distribusi jadi lebih efisien, tepat waktu, dan mengoptimalkan penekanan biaya logistik.
Manfaat Prescriptive Analytics untuk Perusahaan
Metode prescriptive analytics berdampak besar dalam membantu perusahaan mengonversikan data menjadi sebuah keputusan tepat dan terarah. Dengan pendekatan tersebut, pemahaman akan opsi terbaik, pengurangan risiko, dan proses operasional bisa tercipta dengan lebih efisien.
Berikut beberapa manfaat utama dari penerapan analisis preskriptif:
- Keputusan Lebih Terukur: Metode analisis ini bisa mempermudah manajemen dalam membuat perbandingan opsi keputusan menurut data, skenario, dan dampak bisnis sebelum tindakan perusahaan jalankan.
- Operasional Lebih Efisien: Sistem juga menghadirkan rekomendasi yang efisien atas alokasi stok, tenaga kerja, kapasitas produksi, dan biaya yang sesuai dengan rencana operasional perusahaan.
- Forecast Lebih Bernilai untuk Aksi: Selanjutnya, prediksi tidak hanya sebatas gambaran masa depan, melainkan juga berubah menjadi rekomendasi tindakan yang mempermudah eksekusi keputusan tepat dalam waktu singkat.
- Risiko Bisnis Lebih Terkontrol: Terakhir, dengan adanya simulasi skenario, perusahaan bisa melihat potensi risiko dari setiap pilihan sebelum memilih langkah paling aman dan menguntungkan.
Tantangan dalam Menerapkan Prescriptive Analytics
Implementasi pendekatan prescriptive analytics sering mengalami kendala. Misalnya, kesiapan data, sistem, model, dan tim. Maka, apabila fondasinya sendiri belum kuat, rekomendasi yang tercipta juga tidak maksimal, kurang akurat, dan sulit untuk perusahaan jalankan dalam operasional bisnisnya.
Di bawah ini merupakan tantangan dalam menerapkan analisis preskriptif, antara lain:
1. Data Belum Terintegrasi
Pertama, data perusahaan belum bisa terintegrasi sehingga sistem akan kesulitan membaca kondisi bisnis secara keseluruhan. Umumnya, informasi dari sales, inventory, finance, dan produksi berjalan masing-masing. Dampaknya, rekomendasi kurang lengkap dan validasi membutuhkan waktu lama. Maka dari itu, integrasi data merupakan fondasi utama penerapan metode analisis satu ini.
Pentingnya data terpusat juga sejalan dengan Perpres No. 39 Tahun 2019 tentang Satu Data Indonesia. Di mana regulasi ini menekankan keharusan penyajian data yang akurat, mutakhir, terpadu, dapat dipertanggungjawabkan, akses mudah, dan dibagikan. Artinya, data yang rapih menjadi dasar krusial atas perolehan keputusan yang kredibel dan dalam waktu singkat.
2. Kualitas Data Belum Konsisten
Selanjutnya, kurangnya konsistensi data dapat menurunkan tingkat akurasi rekomendasi. Artinya, hasil analisis bergantung pada kebenaran atas data stok, biaya, pemasok, maupun transaksi. Tidak hanya itu, input manual juga bisa memicu duplikasi dan terjadinya selisih angka. Maka, perusahaan harus menetapkan standarisasi pencatatan dan validasi daya yang tegas dan ketat.
3. Model Analitik Perlu Sesuai dengan Bisnis
Penggunaan model analitik tidak bisa sembarangan dan untuk semua jenis bisnis. Hal ini sebab setiap perusahaan mempunyai aturan, target, kapasitas, dan risiko yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, perusahaan perlu menyesuaikan model dengan workflow nyata dan KPI utama. Sebab jika model tidak sesuai, rekomendasi yang keliatannya tepat bisa sulit untuk perusahaan terapkan di lapangan.
4. Tim Belum Siap Menggunakan Data
Tantangan terakhir, ketidaksiapan tim dalam menggunakan data bisa menciptakan keraguan dalam menerapkan rekomendasi tindakan yang sistem buat. Artinya, tim masih lebih mengandalkan pengalaman manual dalam memperoleh keputusan. Tidak hanya itu, tim yang tidak terbiasa dengan sistem modern melihat dashboard sebagai tampilan rumit dan susah untuk mereka adopsi.
Cara Menerapkan Prescriptive Analytics di Perusahaan
Pengaplikasian metode bisa perusahaan terapkan bertahap, guna menjaga hasil lebih terukur dan bisa tim terima dengan baik. Dengan ini, perusahaan harus menetapkan tujuan, menyiapkan data, memilih use case prioritas, memakai sistem yang tepat, dan melakukan evaluasi rutin atas rekomendasi yang telah bisnis jalankan.
Lima hal yang bisa perusahaan lakukan dalam menerapkan prescriptive analitycs, yakni:
1. Tentukan Tujuan Bisnis yang Ingin Dioptimalkan
Langkah pertama, melakukan penentuan atas tujuan bisnis yang ingin perusahaan optimalkan. Contohnya, perusahaan fokus untuk menekan biaya stok, percepat produksi, atau bahkan meningkatkan tingkat akurasi procurement. Dengan tujuan yang jelas, data dan model bisa lebih terarah.
2. Siapkan Data yang Bersih dan Terpusat
Sesudah menentukan tujuan, perusahaan harus menyiapkan data yang telah tersentralisasi dan bersih. Artinya, data dari sales, inventory, finance, dan produksi terkumpul dalam satu format yang konsisten. Tidak hanya itu, perusahaan harus memvalidasi data agar tidak ada insiden duplikasi. Dengan fondasi data yang rapih, pembuatan rekomendasi akan lebih akurat dan terpercaya.
3. Mulai dari Use Case yang Paling Berdampak
Ketiga, untuk alur implementasi, perusahaan bisa memulai dari use case yang paling berdampak dan mudah untuk tim ukur. Misalnya, re-order stok, pemilihan pemasok, atau procudction scheduling. Dengan ini, tim bisa melihat manfaat hasil analitik dengan lebih cepat.
4. Gunakan Sistem Prescriptive Analytics yang Mendukung AI dan Automasi
Tidak hanya itu, prescriptive analytics juga memerlukan sistem yang memiliki kemampuan dalam pengolahan data, pembacaan pola, dan otomatisasi tindakan. Oleh sebab itu, keterlibatan sistem yang memiliki AI dan automasi menjadi hal penting. Dengan sistem digital, perusahaan akan mendapatkan alert, rekomendasi, dan workflow lanjutan.
5. Evaluasi Rekomendasi Secara Berkala
Tahapan terakhir, perusahaan harus mengadakan evaluasi rekomendasi secara berkala guna menyesuaikan kondisi bisnis yang berubah-ubah. Misalnya, kondisi pola permintaan, biaya, dan kapasitas. Oleh sebab itu, perusahaan perlu membandingkan hasil rekomendasi dan realisasi. Dengan ini, maka model yang bisnis terapkan bisa lebih relevan dan akurat.
Optimalkan Analisis Preskriptif dengan AI ERP ScaleOcean
Software AI-ERP ScaleOcean adalah sistem yang bisa mempermudah penerapan analisis preskriptif melalui integrasi data lintas divisi. Cara kerjanya, sistem terpusat akan mengolektifkan data, baik dari finance, inventory, purchasing, sales, production, dan warehouse. Maka, keputusan yang perusahaan pilih tidak lagi bergantung pada data terpisah.
Bahkan, ScaleOcean juga dapat mengonversikan data operasional sebagai insight yang siap perusahaan gunakan. Dengan memilih software yang mendukung AI, real-time reporting, dan smart automation, maka manajemen dapat melihat kondisi dengan cepat, mendeteksi perubahan penting, serta menentukan tindakan yang relevan untuk setiap proses.
Dengan AI-powered ERP ScaleOcean, perusahaan bisa menjalankan simulasi skenario sebelum membuat keputusan. Hal ini juga tercipta dengan mempertimbangkan biaya, risiko, kapasitas, dan dampak bisnis. Jadwalkan demo gratis bersama tim ScaleOcean sekarang untuk melihat bagaimana sistem tersebut bisa membantu membuat keputusan bisnis yan lebih presisi.
Berikut merupakan fitur-fitur yang terdapat di dalamnya, sebagai berikut:
- Unified Data Architecture: Dapat mengumpulkan data dari seluruh divisi dalam satu sistem tersentralisasi guna menghadirkan analisis yang lebih akurat dan tidak terhambat data silo.
- Real-Time Analysis & Reporting: Menyediakan laporan dan insight real-time guna mempermudah pemantauan kondisi bisnis dan mengambil keputusan lebih cepat.
- Role-Based Intelligent Dashboard: Menampilkan metrik dan rekomendasi sesuai peran user. Karenanya, setiap divisi memperoleh informasi relevan dengan tanggung jawabnya.
- Smart Automation: Melakukan automasi workflow operasional untuk meminimalisir pekerjaan manual, mempercepat tindak lanjut, dan menghindari risiko human error.
- Scenario Planning & Impact Simulation: Mempermudah menjalankan simulasi “what-if” untuk memantau dampak keputusan atas biaya, kapasitas, risiko, dan target bisnis.
- Real-Time Anomaly Detection & Alerting: Dapat melakukan deteksi deviasi operasional dengan otomatis dan memberi alert supaya tim dapat menentukan tindakan sebelum masalah semakin besar.
Kesimpulan
Prescriptive analytics adalah metode analisis data lanjutan yang tidak hanya memperkirakan kondisi di masa depan, tetapi juga membantu perusahaan menentukan tindakan tepat guna mencapai tujuan bisnis. Dengan pendekatan tersebut, data dapat terolah menjadi rekomendasi yang jelas, terukur, dan relevan untuk pengambilan keputusan besar.
ScaleOcean AI ERP hadir sebagai solusi penerapan analisis preskriptif melalui integrasi data, automasi, dashboard cerdas, dan simulasi skenario. Sistem ini mempermudah pembacaan risiko, memilih langkah terbaik, dan mengambil keputusan operasional. Lakukan uji coba gratis sekarang untuk melihat bagaimana software membantu keputusan bisnis menjadi lebih akurat.
FAQ seputar Prescriptive Analytics:
1. Apa itu analisis data preskriptif?
Analisis preskriptif membantu perusahaan menentukan tindakan terbaik berdasarkan prediksi kondisi yang mungkin terjadi di masa depan. Pendekatan ini menjawab pertanyaan penting, seperti langkah apa yang perlu diambil untuk mencapai hasil optimal, mengurangi risiko, atau memanfaatkan peluang bisnis yang muncul.
2. Apa perbedaan utama antara prescriptive analytics dan predictive analytics?
Analitik prediktif dan preskriptif sama-sama membantu bisnis mengambil keputusan berbasis data. Bedanya, analitik prediktif digunakan untuk memperkirakan kemungkinan yang akan terjadi, sedangkan analitik preskriptif membantu menentukan langkah paling tepat agar bisnis dapat mencapai hasil terbaik.
3. Apa saja 4 jenis analisis data?
Analisis data umumnya terbagi menjadi empat jenis utama, yaitu deskriptif, diagnostik, prediktif, dan preskriptif. Analisis deskriptif menjelaskan apa yang terjadi, diagnostik mencari penyebabnya, prediktif memperkirakan kemungkinan ke depan, sedangkan preskriptif membantu menentukan tindakan terbaik. Keempatnya saling melengkapi agar keputusan bisnis lebih akurat dan terarah.











