Umumnya, biaya pengadaan akan terlihat murah di awal pembelian. Lalu, seiring berjalannya waktu biaya akan mengalami pembengkakan. Banyak perusahaan memilih vendor berdasarkan harga beli saja tanpa mempertimbangkan faktor penting lainnya. Misalnya, biaya energi, perawatan, limbah, dan disposal. Oleh karena itu, perusahaan biasanya belum menyadari total cost of ownership sejak awal proses.
Dampak akan hal itu, perusahaan harus menghadapi pembengkakan biaya yang tidak terprediksi. Contohnya, produk boros energi atau cepat rusak yang bisa menyebabkan biaya operasional meningkat. Tidak hanya itu, beban anggaran juga bertambah karena limbah dan proses pembuangan yang rumit. Akibatnya, perusahaan gagal dalam upaya efisiensi bisnis meskipun harga beli di awal terlihat rendah.
Green procurement mempermudah perusahaan memberi penilaian atas pembelian seluruh siklus biaya. Melalui life cycle costing, tim bisa menentukan vendor dan produk yang lebih efisien. Selain itu, dengan dukungan sistem digital, transparansi evaluasi bisa tercapai. Artikel ini akan membahas green prcourement, prinsip utama, dan cara strategis untuk menerapkannya.
Key Takeaways
- Green procurement adalah pendekatan pengadaan barang dan jasa dengan pertimbangan atas harga, kualitas, dampak lingkungan, dan biaya siklus dalam memperoleh keputusan pembelian.
- Penerapan green procurement penting guna membantu menekan biaya jangka panjang, menghindari risiko lingkungan, meningkatkan reputasi, dan mendorong supply chain.
- GPP green public procurement merupakan acuan utama guna mengoperasionalkan pengadaan yang lebih akuntabel, efisien, dan sesuai dengan target keberlanjutan perusahaan.
- Prinsip green procurement, di antaranya, evaluasi supplier, life cycle costing, kriteria produk ramah lingkungan, dan monitoring dampak secara berkala terukur.
- Software e-procurement ScaleOcean mempermudah pengelolaan vendor, approval, dokumen, serta data pengadaan supaya green procurement berjalan transparan dan efisien.
1. Apa Itu Green Procurement?
Green procurement adalah pendekatan dalam pengadaan barang atau jasa dengan memberi pertimbangan atas beberapa faktor. Misalnya, dampak lingkungan dari barang, jasa, dan pemasok, serta proses pembelian sejak awal sampai akhir. Maka, perusahaan tidak hanya melihat penawaran harga murah, melainkan efisiensi energi, bahan baku, umur pakai, emisi, kemasan, dan potensi limbah.
Konsep apa itu green procurement dapat dengan mudah perusahaan pahami sebagai suatu cara melakukan pembelian kebutuhan bisnis dengan tanggung jawab penuh. Artinya, dalam proses pengadaan, perusahaan harus memperhatikan aspek harga, kualitas, ketersediaan, dan ketepatan waktu. Kemudian, perusahaan juga harus melibatkan syarat ramah lingkungan sebagai evaluasi.
Dalam praktiknya, green procurement terbagi menjadi beberapa kategori penerapan. Di antaranya, proses pembelian bahan baku produksi, kendaraan operasional, alat kantor, jasa logistik, sampai ke vendor manajemen limbah. Dengan ini, perusahaan dapat mengefisiensikan biaya pengadaan dan meningkatkan reputasi perusahaan secara berkelanjutan.
2. Mengapa Green Procurement Penting bagi Perusahaan?
Bagi perusahaan, green procurement bersifat krusial sebab setiap keputusan pembelian akan mempengaruhi biaya, risiko kepatuhan, citra merek, dan kualitas dari supply chain. Kemudian, bisnis dapat meminimalisir risiko pemborosan dengan mengimplementasikan green procurement.
Berikut merupakan alasan utama pentingnya menerapkan pengadaan ramah lingkungan:
a. Mendukung Efisiensi Biaya Jangka Panjang
Pertama, green procurement dapat menampilkan biaya secara keseluruhan. Dengan ini, perusahaan dapat mengetahui bahwa di balik harga awal yang lebih tinggi, terdapat konsumsi energi, perawatan, dan limbah dengan lebih rendah. Maka dari itu, biaya pengadaan akan lebih hemat dalam jangka panjang dan keputusan pembelian pun menjadi lebih strategis.
b. Risiko Lingkungan dan Kepatuhan
Berikutnya, proses pengadaan ramah lingkungan dapat membantu meminimalisir risiko sejak awal seleksi. Misalnya, pemakaian material berbahaya atau vendor yang tidak patuh regulasi. Dengan menerapkan pendekatan ini, tim pengadaan bisa memberi penilaian atas dokumen, sertifikasi, dan jejak lingkungan pemasok. Maka, perusahaan bisa mengontrol kepatuhan regulasi dengan baik.
c. Memperkuat Reputasi dan Kepercayaan Stakeholder
Ketiga, seiring perkembangan bisnis modern, stakeholder kini memperhatikan seluruh praktik bisnis berkelanjutan. Oleh sebab itu, dengan green procurement, perusahaan bisa menilai operasional pengadaan telah berjalan dengan serius dan bertanggung jawab. Dengan ini, kepercayaan investor, pelanggan, dan mitra bisnis dapat meningkat. Selain itu, perusahaan bisa membangun reputasi merek yang kuat.
d. Mendorong Supply Chain yang Lebih Berkelanjutan
Terakhir, proses pengadaan ramah lingkungan bersifat krusial karena dapat mendorong perusahaan memilih pemasok yang sejalan dengan target berkelanjutan perusahaan. Selain itu, vendor terpilih juga terpengaruh melakukan evaluasi perbaikan proses, material, dan manajemen limbah. Maka, transparansi rantai pasokan meningkat pesat sehingga perusahaan lebih siap menghadapi demand pasar.
Baca juga: Procure to Pay (P2P): Pengertian, Proses dan Manfaatnya
3. Perbedaan Green Procurement dan Procurement Biasa
Terdapat perbedaan utama antara green procurement dan procurement biasa, yakni ruang lingkup evaluasi. Procurement biasa umumnya terfokus pada harga, kualitas, dan ketersediaan. Di sisi lain, green procurement melibatkan aspek dampak lingkungan, keberlanjutan supplier, dan juga biaya sepanjang siklus hidup produk sebelum membuat keputusan pembelian.
Di bawah ini penjelasan faktor yang membedakan kedua jenis pengadaan tersebut:
a. Fokus Utama
Perbedaan pertama, procurement biasa memiliki fokus penerapan dalam pemenuhan kebutuhan perusahaan dengan hanya mempertimbangkan biaya dan waktu. Meskipun green procurement juga memperhatikan hal tersebut, ada fokus penting yang jadi bahan pertimbangan, yakni faktor lingkungan, sebagai strategic sourcing. Di dalamnya, perusahaan akan menilai bahan, energi, dan limbahnya.
b. Evaluasi Supplier
Selanjutnya, berbeda dengan procurement biasa, dalam green procurement, perusahaan tidak hanya menilai pemasok dari harga dan kapasitas pasoknya. Artinya, perusahaan juga melihat sertifikasi, kebijakan lingkungan, dan praktir produksi vendor yang supplier miliki. Karenanya, proses seleksi menjadi lebih ketat dan perusahaan bisa mendapat mitra yang penuh tanggung jawab.
c. Spesifikasi Produk
Ketiga, procurement biasa umumnya hanya menekankan fungsi, jumlah, dan harga produk dalam melakukan pembelian. Di sisi lain, green procurement menambahkan spesifikasi khusus. Misalnya, bahan daur ulang, efisiensi energi, dan kemasan ramah lingkungan. Dengan melibatkan kriteria tersebut, artinya perusahaan dapat membantu meminimalisir dampak negatif produksi.
d. Tujuan Pengadaan
Kemudian, perbedaan yang terlihat jelas antara keduanya yakni tujuan pengadaan. Procurement biasa memiliki tujuan memastikan kebutuhan operasional terpenuhi. Sedangkan green procurement mempunyai tujuan lebih luas. Misalnya, mendukung efisiensi, kepatuhan, dan keberlanjutan. Oleh sebab itu, nilai yang perusahaan hasilkan tidak hanya bersifat finansial.
e. Output Bisnis
Terakhir, output procurement biasa umumnya hanya terlihat dari penghematan biaya dan kelancaran suplai. Di sisi lain, green procurement menghasilkan output tambahan. Misalnya, pengurangan limbah, reputasi yang semakin baik, dan risiko yang lebih rendah. Perusahaan juga memiliki data keberlanjutan. Ini penting untuk laporan bisnis modern.
4. GPP Green Public Procurement dalam Pengadaan Berkelanjutan
GPP green public procurement adalah pendekatan pengadaan di sektor publik. Di mana tujuan penerapannya yakni mendorong pemerintah atau lembaga publik untuk melakukan pembelian barang dan jasa dengan pertimbangan dampak lingkungan. Artinya, perusahaan telah mendukung target minimalisir emisi, hemat energi, dan penggunaan sumber daya yang bertanggung jawab.
Di dalam dunia bisnis, prinsip GPP berperan sebagai referensi perusahaan swasta dalam membangun standar pengadaan berkelanjutan. Tidak hanya itu, pendekatan ini juga mempermudah pemahaman perusahaan akan pentingnya kriteria lingkungan dalam dokumen tender, seleksi vendor, dan juga kontrak pembelian.
Di Indonesia, pedoman pengadaan telah tercantum dalam Keputusan Kepala LKPP Nomor 157 Tahun 2024. Selain itu, Perpres No. 46 Tahun 2025 juga tercatat sebagai perubahan kedua atas Perpres No. 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Regulasi ini memperkuat pentingnya procurement yang terarah, transparan, dan sesuai kebutuhan pembangunan berkelanjutan.
5. Manfaat Green Public Procurement
Penerapan green public procurement bermanfaat dalam membantu pengelolaan pengadaan perusahaan guna mencapai hasil yang lebih efisien, transparan, dan berkelanjutan. Selain itu, pendekatan tersebut juga dapat meningkatkan kontrol biaya, risiko supplier, dan kepercayaan stakeholder.
Di bawah ini merupakan poin-poin manfaat penerapan GPP dalam bisnis, yakni:
- Biaya Operasional Lebih Efisien: Perusahaan mengoptimalkan biaya energi, perawatan, dan pembuangan sebab produk yang terpilih sudah sesuai manfaat jangka panjang, bukan harga awal semata.
- Proses Pengadaan Lebih Transparan: Pencatatan kebutuhan, penawaran, keputusan, dan pemilihan vendor jelas. Maka, proses audit dan evaluasi jadi lebih mudah.
- Mendukung Target ESG Perusahaan: GPP membantu pencapaian target ESG dengan memilih produk, pemasok, dan melakukan pembelian yang bertanggung jawab pada lingkungan sekitar.
- Meningkatkan Daya Saing Bisnis: Daya saing bisnis mengalami peningkatan sebab pelanggan, investor, dan mitra semakin memberi penilaian atas komitmen berkelanjutan jangka panjang.
- Memperkuat Kontrol Risiko Supplier: Perusahaan lebih mudah mengontrol risiko supplier berdasarkan evaluasi kepatuhan, sertifikasi, rekam jejak, dan komitmen vendor atas standar jelas keberlanjutan.
Aplikasi e-Procurement lokal, seperti ScaleOcean, mempermudah penerapan green procurement melalui seleksi vendor, audit material, PR, PO, dan sourcing. Selain itu, data purchasing dapat terhubung langsung ke inventory dan accounting. Maka, transparansi dan efisiensi pembelian meningkat. Coba demo gratis untuk melihat ScaleOcean menjalankan pengadaan yang strategis dan berkelanjutan.
6. Prinsip Utama dalam Green Procurement
Prinsip utama green procurement melingkupi penilaian biaya sepanjang siklus hidup, seleksi pemasok berkelanjutan, minimalisir limbah, transparansi data, dan perbaikan serta evaluasi. Berdasarkan hal tersebut, perusahaan dapat mencapai kepatuhan kebijakan pengadaan yang konsisten dan tidak tergantung pada keputusan harga jangka pendek saja.
Lima prinsip dalam mengadopsi pendekatan pengadaan ramah lingkungan, antara lain:
a. Life Cycle Costing
Pertama, life cycle costing, di mana penerapan green procurement dapat mempermudah perhitungan biaya sejak awal pembelian sampai ke akhir penggunaan. Akuntabilitas ini terdiri dari biaya energi, maintenance, disposal, dan risiko limbah. Maka, perusahaan dapat memahami bahwa pilihan termurah belum tentu akan menjadi yang terbaik.
b. Supplier Sustainability
Kedua, prinsip supplier sustainability, di mana pendekatan dapat menentukan sejauh mana vendor bertanggung jawab atas bisnisnya. Dengan ini, perusahaan dapat menyaksikan kualitas bahan baku, proses produksi, emisi, dan manajemen limbah vendor. Setelahnya, untuk menghindari target green procurement hanya pada lingkup internal, perusahaan bisa mengevaluasi vendor untuk ikut terlibat.
c. Waste Reduction
Berikutnya, waste reduction memiliki fokus dalam meminimalisir limbah, mulai dari proses pembelian sampai ke akhir penggunaan produk. Di dalamnya, perusahaan dapat melakukan seleksi atas produk tahan lama, kemasan minimal, atau pun material daur ulang. Dengan ini, biaya pembuangan dapat berkurang dan operasional menjadi lebih bersih bebas limbah.
d. Transparency and Compliance
Tidak hanya itu, salah satu prinsip lainnya adalah transparansi data, sehingga pengadaan ramah lingkungan semakin mudah melewati proses audit. Pencatatan data tersebut melingkupi pemilihan vendor, spesifikasi produk, dan approval pembelian. Tidak hanya itu, tim harus memperhatikan standar kepatuhan internal dan regulasi pemerintah.
e. Continuous Improvement
Terakhir, continuous improvement merupakan prinsip yang memastikan green procurement berkembang selaras kebutuhan bisnis. Prinsip tersebut sejalan dengan lean procurement sebab evaluasi rutin dapat meminimalisir pemborosan proses, biaya, dan pemasok yang efektif. Karenanya, perusahaan harus memantau performa, dampak produk, dan efektivitas kebijakan supplier.
7. Cara Menerapkan Green Procurement Process di Perusahaan
Green procurement process bisa perusahaan terapkan dengan cara mengubah strategi dalam pengadaan. Misalnya, mengubah perencanaan kebutuhan, penyusunan spesifikasi, evaluasi vendor, membandingkan penawaran, dan pemantauan dampak purchasing.
Terdapat lima langkah implementasi pengadaan ramah lingkungan, sebagai berikut:
a. Identifikasi Kebutuhan Pengadaan
Langkah pertama, perusahaan harus memahami kebutuhan pengadaan dengan jelas. Artinya, tim procurement perlu memastikan barang atau jasa benar-benar perusahaan butuhkan dan tidak hanya mengikuti pola pembelian lama. Karenanya, perusahaan bisa menghadirkan evaluasi rutin dalam rangka meminimalisir pembelian yang berlebihan dan tidak lagi relevan.
SOP procurement adalah pedoman kerja yang memuat aturan dalam tahapan pengadaan barang dan jasa. Kemudian, panduan tersebut dapat menjaga kestabilan efisien, transparan, dan akuntabel dalam proses pengadaan. Maka, pada proses identifikasi, SOP dapat mempermudah tim memberi penilaian urgensi, anggaran, dan spesifikasi. Karenanya, permintaan pengadaan punya dasar jelas.
b. Tentukan Kriteria Produk Ramah Lingkungan
Selanjutnya, langkah krusial yang perlu perusahaan lakukan yakni menetapkan kriteria produk sebelum meminta penawaran pada vendor terpilih. Misalnya, efisiensi energi, bahan ramah lingkungan, daya tahan, dan standar kemasan. Standar tersebut dapat menyajikan opsi sesuai bagi para supplier untuk menawarkan produknya.
c. Evaluasi Supplier dan Vendor
Ketiga, perusahaan harus mengadakan evaluasi supplier rutin. di dalamnya, pertimbangan atas harga, kualitas, dan komitmen lingkungan harus dibahas dengan matang. Selain itu, perusahaan juga dapat meminta dokumen pendukung. Misalnya, sertifikasi atau riwayat kepatuhan regulasi vendor. Dengan menerapkan hal ini, proses green procurement berjalan lebih aman dan strategis.
d. Bandingkan Penawaran dengan Life Cycle Cost
Tidak hanya itu, penawaran juga tidak cukup dengan hanya membandingkan harga awal saja. Tim pengadaan harus meninjau biaya perawatan, konsumsi energi, umur pakai, dan biaya disposal. Dampak baiknya, perusahaan bisa menemukan nilai terbaik dan terhindar dari tambahan biaya yang tidak terprediksi dan menyebabkan timbulnya pembengkakan anggaran.
e. Monitor Penggunaan dan Dampak
Tahapan terakhir, yakni setelah melakukan pembelian, perusahaan juga harus memantau penggunaan produk dan dampaknya. Misalnya, perusahaan harus melakukan pencatatan data konsumsi, limbah, keluhan, dan biaya operasional. Dengan melakukan monitoring, perusahaan bisa menilai tingkat efektivitas keputusan pengadaan sehingga hasilnya dapat menjadi referensi pembelian berikutnya.
8. Contoh Penerapan Green Procurement di Perusahaan
Implementasi pengadaan ramah lingkungan umumnya dapat terlihat dalam proses pengadaan material, pemilihan supplier lokal, dan manajemen limbah vendor. Dalam skala enterprise, berkolaborasi dengan tail spend management, perusahaan bisa mengontrol data pembelian kecil yang tersebar di banyak departemen. Dengan begitu, keputusan pengadaan tetap konsisten dan selaras target.
Berikut contoh penerapan pendekatan procurement berbasis lingkungan:
a. Pengadaan Material Ramah Lingkungan
Pertama, green procurement umumnya mempermudah perusahaan manufaktur dalam melakukan pemilihan bahan baku yang aman, tahan lama, dan mempunyai kandungan daur ulang. Di sisi lain, pada proyek konstruksi, material hemat energi juga dapat menjadi pilihan prioritas. Karenanya, perusahaan bisa mengurangi dampak lingkungan yang bersifat negatif.
b. Pemilihan Supplier Lokal
Kedua, pemilihan supplier lokal sebagai bentuk penerapan pengadaan ramah lingkungan dapat meminimalisir jarak pengiriman dan emisi kendaraan. Tidak hanya itu, perusahaan juga bisa memangkas waktu distribusi menjadi lebih singkat karena komunikasi yang mudah. Hanya saja, perusahaan tetap perlu melakukan evaluasi atas kualitas vendor terpilih.
c. Pengelolaan Limbah Vendor
Terakhir, sebagai hal krusial, perusahaan harus memasukkan kewajiban manajemen limbah yang tepat dalam kontrak kerja sama vendor. Misalnya, vendor perlu mengambil kembali kemasan, melakukan pengelolaan sisa material, atau bahkan membuat laporan proses disposal. Dengan ini, batas tanggung jawab semakin jelas dan perusahaan bisa mengontrol pengurangan risiko lingkungan.
Sebagai gambaran, contoh e-procurement di Indonesia dapat terlihat dari LPSE dan e-Katalog untuk mempersingkat proses lelang dan transparansi belanja pemerintah. Sedangkan dalam sektor swasta, platform pengadaan umumnya dipakai tender dan vendor. Tidak hanya itu, penyedia lokal juga umumnya support budgeting sampai ke PO. Karenanya, proses green procurement lebih terukur.
9. Tantangan dalam Menerapkan Green Procurement
Masalah yang marak perusahaan hadapi dalam penerapan green procurement umumnya meliputi kesiapan data, standar evaluasi, dan konsistensi proses pengadaan. Misalnya, perusahaan mengalami kesulitan melakukan penilaian supplier sebab dokumen dan riwayat performa tidak tercatat rapi. Tidak hanya itu, stigma produk ramah lingkungan memiliki harga mahal di awal juga bisa mempengaruhi.
Berikut adalah poin-poin tantangan penerapan pengadaan ramah lingkungan:
- Data Supplier Belum Lengkap: Perusahaan kesulitan menilai komitmen lingkungan vendor apabila dokumen, sertifikasi, dan history performa pemasok belum tersimpan rapi.
- Harga Awal Produk Terlihat Lebih Tinggi: Produk ramah lingkungan sering dinilai mahal di awal. Padahal, biaya energi, perawatan, dan disposal-nya justru lebih rendah.
- Kriteria Green Procurement Belum Standar: Tiap-tiap departemen dalam perusahaan dapat menggunakan indikator berbeda dalam melakukan penilaian produk, vendor, dan dampaknya apabila tidak ada standar yang jelas sebagai patokan.
- Approval dan Dokumentasi Masih Manual: Dengan cara manual, proses approval menjadi bertele-tele, dokumen tersebar, dan kesulitan melacak keputusan pengadaan ketika proses audit.
- Integrasi Data dengan Finance dan Inventory Belum Optimal: Terakhir, tanpa adanya pengumpulan data terpusat, di mulai dari pengadaan sampai ke finance dan inventory, maka kontrol biaya, stok, dan evaluasi menjadi kurang akurat.
10. Kesimpulan
Green procurement adalah strategi krusial perusahaan guna mencapai proses pengadaan yang lebih efisien, bertanggung jawab, dan relevan dengan demand bisnis. Dengan mempertimbangkan dampak lingkungan, biaya jangka panjang, dan kualitas pemasok, maka perusahaan dapat memperoleh keputusan yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, melainkan juga tercapai target keberlanjutan.
Software e-procurement ScaleOcean mempermudah pengelolaan pengadaan dengan otomatis, dari permintaan pembelian, persetujuan, seleksi vendor, dokumen kontrak, sampai ke purchase monitoring. Dengan integrasi AI ERP, sistem dapat memperoleh keputusan berbasis data sehingga proses pengadaan lebih efisien. Lakukan uji coba gratis untuk memperoleh pengalaman atas kemudahan pengelolaan pengadaan perusahaan Anda.
FAQ seputar Green Procurement:
1. Apa yang dimaksud dengan green procurement?
Green procurement atau pengadaan hijau adalah pendekatan dalam melakukan pembelian barang, jasa, atau kebutuhan konstruksi dengan memperhitungkan dampak lingkungan sejak tahap pemilihan sampai ke akhir masa pakai produk. Pendekatan tersebut mempermudah perusahaan dalam meminimalisir emisi karbon, menghemat penggunaan energi, serta menekan limbah, sekaligus mendukung operasional bisnis yang lebih berkelanjutan.
2. Contoh green product adalah?
Green product atau produk ramah lingkungan adalah barang maupun jasa yang dirancang untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan selama seluruh siklus hidupnya. Produk ini biasanya menggunakan bahan daur ulang, hemat energi, minim zat berbahaya, dan lebih mudah terurai setelah digunakan.
3. Bagaimana contoh penerapan green procurement di Indonesia?
Di Indonesia, konsep ini selaras dengan agenda Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (PBJP) Berkelanjutan atau Sustainable Public Procurement. Melalui LKPP, pemerintah mulai memasukkan aspek lingkungan dan sosial dalam proses pengadaan nasional. Tujuannya adalah mengurangi dampak negatif belanja negara terhadap lingkungan, sekaligus mendorong praktik pengadaan yang lebih bertanggung jawab. Kerangka nasionalnya dapat dilihat dalam dokumen Peta Jalan Pengembangan SPP di Indonesia.












