Mengenal Scaffolding, Jenis, Komponen, dan Penggunaannya

Posted on
Share artikel ini

Pekerja konstruksi memerlukan scaffolding sebagai tumpuan kerja yang aman saat mendirikan kerangka bangunan, mengecat, hingga memasang instalasi listrik di area tinggi. Namun, pengelolaan unit ini menjadi sangat rumit ketika manajemen menangani banyak proyek secara bersamaan di berbagai site.

Karena banyaknya proyek yang sedang berlangsung di lokasi yang berbeda, maka pengawasan scaffolding terkadang belum efisien karena sistem belum mencatat informasi tersebut. Hal ini menyulitkan pekerja dalam melacak posisi unit, mengatur jadwal maintenance, hingga menghitung biaya sewa pada satu proyek. Akibatnya, manajemen mengalami pemborosan anggaran.

Melihat besarnya dampak finansial dari hambatan tersebut, manajemen membutuhkan strategi pengawasan scaffolding secara terpusat. Artikel ini akan membahas pengertian scaffolding, fungsi, jenis, kendala proyek skala besar, dan cara mengontrol biaya sewa secara otomatis.

starsKey Takeaways
  • Scaffolding adalah struktur sementara yang menopang pekerja serta material di area tinggi untuk menyediakan pijakan aman dan mencegah kecelakaan fatal.
  • Fungsi scaffolding adalah menyediakan akses area tinggi, memacu produktivitas pekerja, mempermudah distribusi material, dan menjaga keselamatan kerja.
  • Jenis scaffolding ada frame, tube and clamp, ringlock, mobile, dan suspended scaffolding yang disesuaikan dengan kebutuhan serta bentuk gedung proyek.
  • ScaleOcean Atlas for Construction mengelola proyek terpusat, sementara ScaleMind AI menganalisis data untuk mempercepat keputusan manajemen Anda.

Jadwalkan Konsultasi Gratis!

requestDemo

1. Apa itu Scaffolding?

Scaffolding atau perancah merupakan struktur sementara yang menopang pekerja dan material selama proses konstruksi berlangsung. Pekerja di lapangan memasang rangkaian pipa besi ini untuk menyediakan pijakan kerja yang aman pada area tinggi. Penerapan standar keselamatan pada struktur ini mencegah potensi terjadinya kecelakaan kerja yang fatal.

Komponen scaffolding standar biasanya menggunakan material pipa baja galvanis tahan karat dengan kekuatan menahan beban hingga ratusan kilogram. Sistem klem dan cross brace dari scaffolding membantu menjaga scaffolding tidak bergerak dari posisinya saat para pekerja mengangkut beban berat di lokasi konstruksi.

Pada proyek skala besar, manajemen biasanya menyewa atau membeli ribuan unit scaffolding untuk memenuhi kebutuhan seluruh site proyek. Penting untuk melakukan pengawasan yang ketat terhadap semua peralatan ini agar semuanya bisa beroperasi dengan baik dan tercatat dalam sistem.

2. Apa Saja Fungsi Scaffolding dalam Proyek Konstruksi?

Fungsi Scaffolding

Selain mengoperasikan jenis-jenis alat berat konstruksi, pekerja lapangan membutuhkan scaffolding untuk mempermudah akses area tinggi, memacu produktivitas, serta menjaga keselamatan kerja. Pemasangan unit ini mendukung kelancaran proyek. Berikut adalah fungsi utama scaffolding di site:

a. Menyediakan Akses Kerja di Area Tinggi

Scaffolding memungkinkan para pekerja untuk mengakses bagian-bagian bangunan yang sulit terjangkau di ketinggian tertentu. Hal ini memungkinkan mereka untuk melakukan berbagai tugas yang rumit, seperti memasang atau dinding luar dengan mudah.

b. Mendukung Produktivitas Pekerjaan Lapangan

Ketersediaan area kerja yang stabil dan luas membuat para pekerja bergerak lebih cepat tanpa rasa ragu. Pekerja dapat menyelesaikan berbagai tugas harian secara paralel pada beberapa tingkat bangunan sekaligus. Efisiensi gerakan ini secara langsung mempercepat durasi penyelesaian proyek.

c. Mempermudah Distribusi Material

Scaffolding berfungsi sebagai pendukung sementara yang akan membantu menaruh semen, batu bata, dan alat-alat lainnya pada posisi yang lebih tinggi. Tidak ada lagi kebutuhan bagi para pekerja untuk terus menaiki dan turun dari tangga sepanjang hari untuk mengambil bahan-bahan konstruksi.

d. Mendukung Pekerjaan Maintenance

Selain pembangunan gedung baru, scaffolding merupakan alat yang sangat penting untuk renovasi maupun pembersihan rutin bagian depan gedung. Hal ini karena scaffolding memudahkan para pekerja untuk memeriksa kerusakan pada pelapisan luar gedung.

e. Meningkatkan Keselamatan Kerja

Berdasarkan Economic Analysis yang menyertai standar scaffolding OSHA, dari sekitar 510.500 cedera dan penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan yang terjadi setiap tahunnya di bidang konstruksi, sekitar 9.750 di antaranya berkaitan dengan penggunaan scaffolding. Selain itu, dari sekitar 924 kematian akibat kecelakaan kerja konstruksi setiap tahun, setidaknya 79 kasus berhubungan dengan pekerjaan menggunakan scaffolding.

3. Jenis-Jenis Scaffolding yang Umum Digunakan

Pengertian perusahaan konstruksi akan berkaitan dengan kemampuan manajemen dalam mengelola berbagai jenis scaffolding di site. Manajemen memilih jenis frame, ringlock, hingga suspended sesuai struktur gedung. Berikut adalah jenis scaffolding di lapangan:

a. Frame Scaffolding

Jenis ini menggunakan rangka baja siap pakai yang sangat populer pada proyek gedung bertingkat rendah hingga menengah. Pekerja dapat merakit dan membongkar komponen tumpuan ini dengan cepat tanpa alat khusus. Kemudahan pemasangan ini membantu efisiensi waktu kerja di site proyek.

b. Tube and Clamp Scaffolding

Tipe ini menawarkan fleksibilitas tinggi karena menggunakan pipa baja terpisah serta klem pengikat yang dapat menyesuaikan bentuk bangunan rumit. Pekerja mudah merangkai struktur ini pada area bersudut sulit atau permukaan tanah yang tidak rata. Fleksibilitas ini menjawab tantangan lokasi.

c. Ringlock Scaffolding

Sistem ini menggunakan mekanisme cincin pengunci khusus yang memberikan kestabilan ekstra serta daya tahan beban sangat tinggi. Konstruksi ini sangat cocok untuk proyek skala besar yang membutuhkan ketahanan struktur maksimal.

d. Mobile Scaffolding

Rangkaian ini melengkapi bagian bawah struktur menggunakan roda pengunci sehingga pekerja dapat menggeser posisi unit secara fleksibel. Tipe ini mempermudah pergerakan pekerja saat melakukan pekerjaan pengecatan atau perbaikan plafon harian. Fitur perpindahan ini menghemat tenaga kerja.

e. Suspended Scaffolding

Tipe ini memanfaatkan tali baja atau rantai penopang untuk menggantung tumpuan kerja dari atas atap bangunan tinggi. Pekerja sering menggunakan sistem ini saat membersihkan kaca gedung atau melakukan renovasi dinding luar secara berkala. Akses gantung ini memfasilitasi area tinggi.

4. Ukuran Scaffolding yang Perlu Diketahui Sebelum Digunakan

Ukuran Scaffolding yang Perlu Diketahui Sebelum Digunakan

Pemilihan ukuran scaffolding mencakup variasi single wide, double wide, dan penyesuaian tinggi unit. Perusahaan wajib menyesuaikan ukuran ini dengan kapasitas beban dan standar keselamatan proyek. Berikut adalah rincian ukuran scaffolding yang perlu Anda pahami:

a. Ukuran Scaffolding Single Wide

Scaffold single wide memiliki lebar 0,7 hingga 0,9 meter, sangat cocok untuk ruang kerja yang terbatas seperti membangun lorong. Ukuran yang kecil ini membantu para pekerja dalam melakukan pekerjaan ringan seperti perbaikan langit-langit atau cat dinding.

b. Ukuran Scaffolding Double Wide

Tipe scaffold ini menyediakan lebar tumpuan hingga 1,4 meter yang mampu menampung lebih dari satu pekerja sekaligus dengan tumpukan bahan-bahan yang berat. Ukuran yang lebih besar ini memungkinkan scaffold ini menjadi stabil untuk pekerjaan memasang bata dan kerangka besar.

c. Ukuran Scaffolding Berdasarkan Tinggi

Tinggi setiap unit standarnya adalah 1,7 meter hingga 2 meter pada setiap untuk memastikan bahwa ada jarak aman yang cukup bagi para pekerja. Para pekerja bisa menumpuk unit-unit ini sesuai dengan tinggi lantai bangunan dan mengikat unit-unit ini pada dinding.

5. Komponen Utama Scaffolding

Rangkaian scaffolding terdiri dari komponen penting seperti frame, standard, ledger, cross brace, catwalk, jack base, hingga coupler. Setiap bagian memiliki peran spesifik untuk menjaga kekuatan struktur. Berikut adalah komponen utama scaffolding yang wajib berada di site:

a. Frame

Komponen ini merupakan pipa rangka utama yang membentuk struktur dasar berdiri tegak pada jenis frame scaffolding. Pekerja menyambung bagian ini ke atas untuk membangun tingkat ketinggian tumpuan kerja. Rangka yang kokoh ini memberikan bentuk fisik awal dari keseluruhan rangkaian.

b. Standard atau Upright

Pipa baja vertikal ini berfungsi menyalurkan seluruh beban kerja secara langsung ke permukaan tanah. Komponen tegak ini menahan bobot pekerja beserta tumpukan bahan bangunan di area atas. Kekuatan pipa ini menjaga posisi struktur agar tetap berdiri stabil tanpa risiko melengkung.

c. Ledger

Komponen pipa horizontal ini menghubungkan antar pipa tegak untuk memperkuat ikatan kerangka scaffolding. Pekerja memasang bagian ini secara mendatar guna membagi beban kerja secara merata ke seluruh struktur. Kehadiran pipa ini mencegah pergeseran posisi rangkaian saat proyek berjalan.

d. Cross Brace

Pipa silang diagonal ini mengikat dua pipa vertikal agar rangkaian tidak goyah atau miring ke samping. Pekerja mengunci pipa ini pada sisi samping untuk menambah kekakuan kerangka. Pemasangan pipa silang ini memastikan struktur tetap tegak lurus saat menahan guncangan di lapangan.

e. Catwalk Scaffolding

Komponen berupa papan pijakan baja ini menjadi lantai tempat pekerja berdiri dan melangkah di ketinggian. Permukaan papan ini memiliki tekstur antiselip untuk mencegah risiko terpeleset saat membawa peralatan kerja. Papan pijakan ini memberi rasa aman saat pekerja beraktivitas harian.

f. Jack Base Scaffolding

Komponen berulir pada bagian paling bawah ini berfungsi sebagai penopang dasar sekaligus pengatur ketinggian kaki scaffolding. Pekerja memutar ulir ini untuk menyelaraskan posisi struktur pada permukaan tanah yang tidak rata. Komponen ini memastikan landasan berdiri sejajar.

g. Coupler

Klem pengikat baja ini berfungsi mengunci sambungan antar pipa agar tidak terlepas saat menerima beban berat. Pekerja mengencangkan baut klem ini pada setiap titik persilangan pipa untuk memperkuat ikatan kerangka. Kuncian yang kuat ini menjaga keutuhan susunan scaffolding.

6. Bagaimana Cara Memilih Scaffolding yang Tepat untuk Proyek Konstruksi?

Bagaimana Cara Memilih Scaffolding yang Tepat untuk Proyek Konstruksi

Tugas manajer konstruksi di antaranya adalah memilih tipe scaffolding yang tepat sesuai dengan jenis pekerjaan, kapasitas daya angkat dan juga ketersediaan roda. Berikut adalah cara memilih scaffolding yang tepat:

a. Sesuaikan dengan Jenis Pekerjaan

Pekerja perlu mengetahui persyaratan dari sebuah proyek agar mereka tahu jenis kerangka apa yang tepat di lapangan. Untuk gedung tinggi, scaffolding adalah yang terbaik sedangkan untuk perbaikan ruangan di dalam ruangan kerangka roda paling sesuai.

b. Perhatikan Kapasitas Beban

Perusahaan perlu menentukan berat total dari orang-orang, mesin-mesin, dan bahan-bahan konstruksi yang akan menopang struktur tersebut. Pemilihan ini harus memiliki daya tahan beban di atas perkiraan bobot maksimal harian. Penentuan ini akan memastikan struktur tersebut tidak akan retak saat digunakan.

c. Pilih Material Berkualitas

Pekerja harus memeriksa kondisi fisik pipa baja untuk memastikan tidak ada retakan, penyok, atau karat tebal. Material pipa berkualitas tinggi memberikan daya tahan ekstra terhadap cuaca ekstrem serta benturan di lapangan. Pemilihan bahan yang kuat memperpanjang usia pakai unit.

d. Pastikan Memenuhi Standar Keselamatan

Perusahaan wajib memilih produk yang memiliki sertifikasi resmi dari lembaga pengawas keselamatan kerja. Kehadiran fitur pengunci otomatis serta papan antiselip menjadi syarat mutlak perlindungan pekerja di ketinggian. Kelengkapan standar ini menekan risiko kecelakaan fatal.

e. Pertimbangkan Mobilitas

Proyek yang membutuhkan perubahan lokasi yang cepat membutuhkan jenis kerangka bongkar pasang. Karena ada roda yang terpasang di bagian bawah, maka sangat mudah untuk memindahkan kerangka tersebut karena tidak akan merusak lantai bangunan.

Untuk mempermudah penerapan kriteria pemilihan alat tersebut, ScaleOcean Atlas for Construction hadir membantu perusahaan mengelola pengerjaan proyek serta biaya operasional. Fitur ScaleMind AI juga menganalisis data site untuk mempercepat keputusan manajemen di lokasi proyek. Segera jadwalkan konsultasi gratis bersama ScaleOcean hari ini!

Konstruksi

7. Prosedur Keselamatan Penggunaan Scaffolding

Penerapan prosedur keselamatan mencakup pemeriksaan awal sebelum pemakaian, instalasi sesuai standar, penggunaan APD lengkap, hingga inspeksi rutin di lapangan. Ketataan pada aturan ini melindungi pekerja dari bahaya. Berikut adalah prosedur keselamatan penggunaan scaffolding di site:

a. Pemeriksaan Sebelum Digunakan

Pekerja wajib mengecek seluruh kondisi komponen pipa, klem pengikat, dan papan pijakan sebelum merangkai scaffolding di lapangan. Langkah awal ini memastikan tidak ada bagian yang retak, bengkok, atau berkarat parah. Pemeriksaan fisik ini mencegah potensi kerangka roboh saat menerima beban.

b. Pastikan Instalasi Sesuai Standar

Scaffolding harus terpasang di atas tanah datar menggunakan papan penyangga. Selain itu, pipa juga harus terpasang sesuai dengan standar perusahaan agar dapat menjaga keseimbangan struktur di atas ketinggian.

c. Gunakan Perlengkapan Keselamatan

Setiap pekerja wajib mengenakan helm proyek, sepatu keselamatan, dan sabuk pengaman saat bekerja di atas scaffolding. Selain itu, pekerja juga harus memasang tali pengaman pada pipa beton. Jika mereka terpeleset, mereka tidak jatuh langsung ke tanah.

d. Lakukan Inspeksi Berkala

Petugas keselamatan harus selalu bertanggung jawab untuk memeriksa kondisi klem dan stabilitas struktur secara mingguan. Kondisi cuaca yang tidak menguntungkan seperti hujan dan angin kencang biasanya mengubah posisi unit muatan struktur tersebut.

8. Kendala Pengelolaan Scaffolding pada Proyek Konstruksi Skala Besar

Banyak perusahaan konstruksi terbesar di Indonesia menghadapi kendala rumit saat melacak posisi scaffolding, mengontrol biaya sewa, hingga menyatukan data site. Kendala ini memicu pemborosan anggaran. Berikut adalah kendala pengelolaan scaffolding pada proyek skala besar:

a. Sulit Melacak Lokasi Scaffolding

Keberadaan banyak scaffolding di site membuat pekerja sulit untuk bisa mengetahui posisi unit-unit tersebut. Pekerja dapat kehilangan pandangan posisi pipa dan klem karena tidak ada pencatatan sistem secara real time. Ketidakjelasan lokasi ini memicu risiko penumpukan alat pada satu tempat.

b. Biaya Rental dan Pembelian Sulit Dikontrol

Kurangnya pemantauan waktu penggunaan membuat perusahaan terus membayar biaya sewa lebih tinggi yang tidak termasuk dalam rencana awal. Terkadang, pekerja membeli mesin pengganti karena mereka menganggap bahwa mesin yang ada sudah tidak berfungsi lagi. Hambatan ini memicu pembengkakan pengeluaran belanja yang sangat besar.

c. Maintenance Aset Tidak Terjadwal

Tidak terjadwalnya perawatan rutin membuat pipa berkarat dan klem rusak tetap terpakai oleh pekerja di lapangan. Kerusakan komponen yang terabaikan ini mempercepat keausan alat sekaligus membahayakan keselamatan pekerja. Pengabaian jadwal ini menurunkan kualitas pakai peralatan harian.

d. Data Proyek Masih Terpisah

Pencatatan data peralatan yang masih tersebar di lembar kerja terpisah membuat koordinasi antarbagian menjadi lambat. Manajemen kesulitan mengambil keputusan cepat akibat tidak memiliki akses data inventaris yang terpusat. Sekat informasi ini menghambat efisiensi operasional harian.

9. Kesimpulan

Scaffolding penting untuk memastikan keselamatan para pekerja dan kinerja yang efektif dari pekerjaan fisik di ketinggian. Penggunaan scaffolding dari lokasi yang berbeda-beda harus terkelola dengan baik, sehingga butuh pengawasan terus menerus untuk mencegah naiknya biaya penyewaan dan kecelakaan di tempat kerja.

ScaleOcean Atlas for Construction membantu perusahaan mengelola proyek, inventaris, pengadaan, hingga biaya operasional secara terpusat. Dukungan ScaleMind AI juga dapat memfasilitasi analisis data proyek guna memberikan masukan tajam untuk mempercepat pengambilan keputusan manajemen Anda. Segera jadwalkan konsultasi gratis bersama ScaleOcean sekarang!

FAQ:

1. Bagaimana cara merangkai scaffolding secara presisi di lapangan?

Pekerja wajib memulai pemasangan scaffolding dari tingkatan paling dasar di atas permukaan tanah yang datar, kokoh, serta memiliki daya tahan beban yang stabil.

2. Mengapa perusahaan wajib memperhatikan standar ketinggian scaffolding?

Satu tingkat main frame memiliki standar tinggi berkisar antara 1,7 hingga 1,9 meter, dengan ukuran 170 cm sebagai acuan paling umum di lapangan. Pekerja dapat menumpuk rangkaian ini hingga batas maksimum 30 meter berdasarkan acuan OSHA atau 45 meter menurut standar Jepang sebelum menerapkan perhitungan struktur teknis khusus.

3. Berapa ukuran lebar main frame scaffolding yang berlaku di site?

Rangkaian main frame scaffolding atau steger di Indonesia umumnya menggunakan ukuran lebar standar sebesar 120 cm atau 1,2 meter untuk menjaga keseimbangan tumpuan.

Keisha Felita Aryamaulana
Keisha Felita Aryamaulana
Felita adalah SEO content writer yang merancang strategi dan menulis konten untuk membantu pelaku bisnis menemukan solusi tepat lewat pemanfaatan software ERP.

ERP Buat Bisnis Ngebut

Operasional rapi, bisnis makin cepat

ERP Dashboards Demo Gratis
Dekson Sinarmas Bank of China Changi Shalby

Coba Demo Gratis!

Error message
Error message
Error message
Error message
Error message
Error message

Rekomendasi Artikel Terkait

Temukan Artikel Serupa untuk Solusi Bisnis Lebih Lengkap