Assessment for Learning: Definisi, Proses dan Contohnya

Posted on
Share artikel ini

Assessment for Learning (AfL) menjadi kunci dalam menciptakan proses pembelajaran yang lebih efektif, baik di dunia akademik maupun kerja. Metode penilaian tradisional seringkali tidak mampu mendorong pertumbuhan secara optimal. Tanpa umpan balik yang tepat, baik siswa maupun karyawan bisa kehilangan arah dan motivasi.

AfL berfokus pada memberikan feedback dan mendorong refleksi diri yang memastikan peserta aktif terlibat dalam proses belajar. Dengan pendekatan ini, baik siswa maupun karyawan dapat terus berkembang, meningkatkan pemahaman mereka, dan memaksimalkan kontribusi mereka dalam organisasi atau kelas.

Penerapan AfL dalam konteks akademik maupun bisnis dapat mengoptimalkan potensi individu dan mendorong pertumbuhan berkelanjutan. Artikel ini akan membahas bagaimana penerapan AfL di kedua lingkungan tersebut dapat mengoptimalkan potensi tim atau kelas dan mendukung pertumbuhan secara keseluruhan.

starsKey Takeaways
  • Assessment for Learning (AfL) adalah pendekatan penilaian formatif yang memberi umpan balik konstruktif untuk meningkatkan pemahaman siswa atau karyawan secara berkelanjutan.
  • Prinsip AfL meliputi pemberian umpan balik spesifik, mendorong partisipasi aktif, dan meningkatkan motivasi pengembangan diri bagi peserta.
  • Metode AfL termasuk memberikan pertanyaan relevan, feedback langsung, self-assessment, serta sesi one-on-one.
  • Software e-learning management ScaleOcean mengintegrasikan AfL dalam manajemen kinerja, mengubah evaluasi tahunan menjadi proses formatif.

Coba Demo Gratis!

requestDemo

Apa Itu Assessment for Learning (AfL)?

Assessment for Learning (AfL) adalah pendekatan penilaian yang dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung untuk memberikan umpan balik konstruktif kepada siswa dan guru. Fokusnya meningkatkan pemahaman, mengidentifikasi kesenjangan, dan memperbaiki strategi belajar secara berkelanjutan, bukan memberi nilai akhir.

Tujuan AfL adalah membantu siswa memahami progres, standar yang dituju, serta langkah perbaikan berikutnya. Bagi guru, AfL menyediakan data untuk menyesuaikan metode, materi, dan aktivitas kelas agar pembelajaran lebih tepat sasaran dan efektif dari waktu ke waktu.

AfL, atau asesmen formatif, berbeda dengan asesmen sumatif (assessment of learning) yang biasanya dilakukan di akhir periode untuk mengukur pencapaian. Dalam konteks bisnis, AfL membantu karyawan memahami langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan kerja mereka.

Prinsip Inti Assessment for Learning

Prinsip inti Assessment for Learning menekankan pemberian feedback yang spesifik dan tepat waktu, mendorong partisipasi aktif melalui refleksi dan diskusi, serta menumbuhkan motivasi pengembangan diri. Pendekatan ini membantu individu memahami capaian belajar dan meningkatkan kompetensi secara berkelanjutan.

1. Pemberian Feedback yang Spesifik

Feedback dalam AfL harus spesifik, relevan, dan diberikan segera setelah tugas atau proyek diselesaikan. Umpan balik ini membantu individu memahami kesenjangan kinerja secara konkret serta mengetahui langkah perbaikan yang dapat langsung diterapkan dalam proses pembelajaran berikutnya.

2. Mendorong Partisipasi Aktif dalam Pembelajaran

Assessment for learning mendorong individu terlibat aktif melalui diskusi, refleksi, dan kolaborasi kelompok. Pendekatan ini menjadikan pembelajaran lebih interaktif, memperkuat pemahaman terhadap tujuan belajar, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab atas proses dan hasil pembelajaran.

3. Mendorong Motivasi Pengembangan Diri

Melalui feedback terarah, AfL mendorong siswa melakukan analisis diri terhadap kekuatan, kelemahan, dan capaian belajar. Proses ini membangun motivasi internal untuk menyusun strategi pengembangan diri secara berkelanjutan dan berorientasi pada peningkatan kompetensi.

Metode dalam Assessment for Learning

Metode dalam Assessment for Learning

Dalam menjalankan pembelajaran, terdapat beberapa metode yang dapat digunakan berdasarkan konteks dan tujuan pada saat itu. Berikut adalah metode asesmen yang digunakan dalam proses assessment for learning (AfL):

  • Memberikan pertanyaan: Pertanyaan diajukan untuk mendorong pemikiran kritis peserta dan mengevaluasi pemahaman mereka terhadap materi yang diajarkan.
  • Pemberian feedback atau umpan balik secara langsung: Umpan balik diberikan segera setelah tugas atau aktivitas, untuk membantu peserta memahami area yang perlu diperbaiki.
  • Memberikan pertanyaan yang relevan terhadap apa yang sedang dikerjakan: Pertanyaan yang relevan memastikan asesmen fokus pada topik yang sedang dipelajari, mengukur pemahaman dengan tepat.
  • One-on-one assessment: Asesmen dilakukan secara pribadi untuk memberikan perhatian khusus pada kebutuhan dan pemahaman peserta yang lebih mendalam.
  • Self-assessment: Peserta melakukan penilaian diri untuk mengevaluasi kemajuan dan mengidentifikasi area pengembangan yang diperlukan.

Apa Manfaat dari Assessment for Learning (AfL)?

Manfaat dari Assessment for Learning (AfL) dapat dirasakan oleh baik peserta maupun penyelenggara, membantu menciptakan pembelajaran lebih efektif dan terarah. Berikut adalah manfaat-manfaatnya:

1. Manfaat bagi Pengajar

Penyelenggara dapat memanfaatkan AfL untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran serta efisiensi dalam berbagai aspek. Beberapa manfaat yang dapat dirasakan oleh penyelenggara antara lain:

  • Memberikan bahan ajar yang tepat sasaran: Dengan mengetahui tingkat kemampuan peserta, penyelenggara bisa menyusun materi yang sesuai, sehingga hasil pembelajaran lebih efektif.
  • Fleksibel dan efisien dalam segi biaya: Proses belajar-mengajar yang melibatkan peserta secara aktif memungkinkan penghematan biaya karena pengelolaan materi lebih terarah.
  • Dapat diterapkan di berbagai situasi: AfL tidak terbatas pada lingkungan pendidikan formal, namun dapat diterapkan di perusahaan atau organisasi untuk pengembangan karyawan.
  • Membangun kedekatan antara pengajar dan peserta: Dengan umpan balik yang konstruktif, hubungan antara penyelenggara dan peserta menjadi lebih positif dan terbuka.
  • Mudah mengetahui peserta yang tertinggal: Proses asesmen yang berkelanjutan memudahkan penyelenggara untuk segera mengidentifikasi peserta yang membutuhkan bantuan lebih lanjut.

2. Manfaat bagi Peserta

Bagi peserta, AfL memberikan banyak keuntungan dalam meningkatkan proses belajar mereka. Beberapa manfaat yang dirasakan oleh peserta antara lain:

  • Meningkatkan rasa percaya diri: Dengan feedback yang konstruktif, peserta dapat mengukur perkembangan mereka dan merasa lebih percaya diri dalam proses pembelajaran.
  • Meningkatkan kolaborasi antar peserta: Pembelajaran yang lebih interaktif mendorong peserta untuk berkolaborasi, berbagi ide, dan belajar dari sesama peserta.
  • Pembelajaran fleksibel: Proses pembelajaran yang lebih fleksibel memungkinkan peserta untuk belajar di luar jadwal atau kelas, bahkan dapat dilakukan di tengah waktu kerja bagi karyawan.
  • Memahami konsep dan dasar kemampuan: AfL membantu peserta memahami konsep dasar dan keterampilan yang harus dipelajari dengan cara yang lebih terstruktur dan efektif.
  • Dampak yang lebih efektif dibanding asesmen konvensional: Metode yang dipersonalisasi memungkinkan peserta belajar sesuai dengan kebutuhan mereka, sehingga hasilnya lebih mendalam dan efektif.
  • Meningkatkan kemandirian peserta: Dengan pendekatan AfL, peserta diajak untuk lebih mandiri dalam menyelesaikan masalah dan mengembangkan diri mereka sendiri.

Menurut data dari Wooclap, siswa yang menerima formative assessment secara berkala mengalami peningkatan nilai rata-rata sekitar 12%, lebih tinggi dibanding metode pembelajaran tradisional yang hanya mencapai 6%. Hal ini menegaskan efektivitas penilaian formatif dalam meningkatkan hasil belajar siswa.

Bagaimana Tahapan Proses dalam Assessment for Learning?

Peran dan Manfaat AfL dalam Pelatihan Karyawan

Tahapan Assessment for Learning meliputi perencanaan tujuan dan pemetaan kemampuan, penyusunan kurikulum sesuai kebutuhan peserta, pelaksanaan asesmen formatif dengan feedback berkelanjutan, asesmen sumatif untuk mengukur capaian, serta evaluasi menyeluruh guna meningkatkan efektivitas pembelajaran.

1. Perencanaan

Tahap perencanaan adalah langkah awal dalam proses AfL, di mana tujuan pembelajaran dan kebutuhan kompetensi peserta ditetapkan. Dalam konteks organisasi, ini melibatkan analisis kebutuhan bisnis dan keterampilan yang diperlukan untuk mencapai tujuan perusahaan.

Pada tahap ini, penting untuk melakukan pemetaan kemampuan peserta. Ini bisa dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kepada mereka mengenai sejauh mana pemahaman mereka terhadap kompetensi yang ingin dikembangkan. Proses ini sejalan dengan tujuan AfL, yaitu memberikan penilaian yang berguna untuk pembelajaran lebih lanjut.

2. Menyusun Kurikulum

Setelah perencanaan dilakukan, tahap berikutnya adalah menyusun kurikulum yang sesuai dengan tingkat kemampuan peserta. Kurikulum ini harus dirancang dengan memperhatikan kebutuhan spesifik dan kemampuan yang telah dipetakan pada tahap sebelumnya.

Menyusun kurikulum yang tepat memungkinkan materi pembelajaran disampaikan sesuai dengan kebutuhan dan tingkat pemahaman peserta. Hal ini memastikan pembelajaran berlangsung dengan efektif dan efisien, serta memberikan ruang untuk penyesuaian bila diperlukan berdasarkan hasil pemetaan kompetensi.

3. Pelaksanaan Asesmen

Pelaksanaan asesmen dalam AfL dilakukan sepanjang proses pembelajaran. Di sini, umpan balik diberikan secara terus-menerus kepada peserta, untuk membantu mereka memahami aspek yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan. Feedback yang jelas dan konstruktif meningkatkan pemahaman mereka.

Selain itu, pelaksanaan self-assessment dan sesi one-on-one juga dapat dilakukan untuk mengidentifikasi area yang masih membutuhkan perhatian khusus. Hal ini memberi peserta kesempatan untuk menilai diri mereka sendiri dan menerima bantuan langsung untuk memperbaiki pemahaman mereka.

4. Lakukan Asesmen Sumatif

Meskipun AfL lebih menekankan asesmen formatif, asesmen sumatif tetap penting untuk memberikan gambaran tentang sejauh mana peserta memahami materi yang diajarkan. Ini bisa dilakukan dengan pemberian tugas akhir atau portofolio yang mencerminkan pencapaian mereka selama proses pembelajaran.

Asesmen sumatif berfungsi untuk mengukur pemahaman secara keseluruhan, mengidentifikasi kesenjangan pengetahuan, dan menilai apakah tujuan pembelajaran telah tercapai. Tugas atau portofolio memberikan evaluasi yang lebih mendalam mengenai hasil belajar peserta.

5. Evaluasi

Tahapan terakhir adalah evaluasi, yang penting untuk menilai keberhasilan proses AfL. Pada tahap ini, Anda mengevaluasi hal-hal yang perlu dikembangkan, seperti efektivitas kegiatan pembelajaran, kesesuaian kurikulum dengan kebutuhan peserta, dan aspek lain yang dapat diperbaiki untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di masa depan.

Contoh Strategi AfL di Lingkungan Kerja

Sama seperti di kelas, penerapan assessment for learning di tempat kerja memerlukan strategi dan alat yang praktis. Tujuannya adalah untuk mengintegrasikan pembelajaran dan umpan balik ke dalam alur kerja sehari-hari. Berikut adalah beberapa contoh strategi AfL yang efektif untuk lingkungan korporat:

1. Strategi yang Dipimpin Manajer/Trainer

Strategi ini diprakarsai oleh manajer atau pimpinan tim untuk secara proaktif memandu dan mendukung pengembangan anggota tim. Pendekatan ini menekankan dialog berkelanjutan agar setiap karyawan mendapatkan bimbingan yang relevan dengan kebutuhan mereka.

Fokus pada bimbingan Syang dipersonalisasi mengubah hubungan manajer dan karyawan menjadi kemitraan untuk pertumbuhan. Dengan cara ini, pengembangan profesional menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya kewajiban individu atau manajer semata. Berikut beberapa contohnya:

a. Sesi One-on-One Coaching

Sesi rutin ini memberikan kesempatan bagi manajer dan karyawan untuk membahas kemajuan, tantangan, dan tujuan pengembangan. Fokus utama adalah menciptakan dialog dua arah yang membangun, bukan hanya evaluasi hasil.

Dalam sesi ini, manajer dapat memberikan feedback yang dipersonalisasi, membantu karyawan untuk mengatasi hambatan, dan merencanakan langkah selanjutnya. Pendekatan ini memastikan bahwa setiap individu memiliki dukungan yang tepat untuk berkembang secara berkelanjutan.

b. Umpan Balik Langsung

Memberikan umpan balik sesegera mungkin setelah suatu tugas atau proyek selesai (just-in-time feedback) adalah pendekatan yang lebih efektif daripada menunggu tinjauan kinerja tahunan. Umpan balik yang diberikan tepat waktu memungkinkan karyawan untuk segera memahami hasil kerjanya dan melakukan perbaikan jika diperlukan.

Umpan balik yang spesifik dan dapat ditindaklanjuti jauh lebih efektif dalam mendukung perkembangan karyawan. Hal ini membantu mereka mengoreksi arah dengan cepat, memperkuat perilaku positif, dan memastikan bahwa proses pembelajaran berlangsung secara terus-menerus.

c. Kuis Singkat atau Studi Kasus

Setelah sesi training and development, gunakan kuis singkat atau studi kasus untuk memeriksa pemahaman peserta serta kemampuan mereka dalam mengaplikasikan konsep yang telah dipelajari. Tujuan dari kegiatan ini bukan untuk menilai, melainkan untuk mengidentifikasi kesenjangan pengetahuan yang mungkin masih ada.

Hasil dari kuis atau studi kasus ini dapat digunakan untuk merancang sesi penguatan atau bimbingan tambahan. Dengan cara ini, pelatihan menjadi lebih terfokus pada kebutuhan individu, memastikan pemahaman yang lebih dalam dan aplikatif bagi setiap peserta.

2. Strategi Berbasis Karyawan

Strategi ini mendorong karyawan untuk mengambil inisiatif dalam pembelajaran mereka sendiri, serta saling mendukung dalam proses tersebut. Dengan adanya tanggung jawab bersama, setiap individu turut berperan dalam kemajuan tim secara keseluruhan.

Pendekatan ini membangun budaya di mana setiap orang bertanggung jawab atas pertumbuhan kolektif. Pemberdayaan seperti ini tidak hanya meningkatkan keterlibatan individu, tetapi juga memperkuat kolaborasi tim, mendorong hasil yang lebih baik dalam mencapai tujuan bersama. Berikut beberapa contohnya:

a. Sesi Peer Review atau Umpan Balik 360 Derajat

Karyawan memberikan feedback konstruktif kepada rekan kerja mereka dalam format yang terstruktur. Umpan balik ini tidak hanya membantu individu untuk berkembang, tetapi juga memberikan perspektif yang berbeda dan sangat berharga bagi penerima umpan balik.

Pendekatan ini juga membangun akuntabilitas di dalam tim, mendorong anggota tim untuk saling mendukung dan meningkatkan kualitas kerja secara keseluruhan. Dengan saling memberikan umpan balik yang membangun, tim dapat mencapai hasil yang lebih baik dan lebih efisien.

b. Jurnal Refleksi Pembelajaran

Mendorong karyawan untuk secara teratur mencatat apa yang telah mereka pelajari, tantangan yang dihadapi, dan keberhasilan yang dicapai. Proses refleksi ini tidak hanya membantu mengkonsolidasikan pembelajaran, tetapi juga memberi kesempatan untuk mengidentifikasi pola pertumbuhan pribadi yang signifikan.

Jurnal yang mereka tulis dapat menjadi dasar yang kuat untuk diskusi dalam sesi one-on-one. Hal ini memungkinkan manajer untuk memberikan umpan balik yang lebih relevan dan mendalam, serta membantu karyawan merencanakan langkah-langkah pengembangan lebih lanjut.

c. Sesi Berbagi Pengetahuan

Mengadakan sesi informal di mana anggota tim dapat berbagi pengetahuan atau praktik. Materi dari sesi ini dapat diunggah ke dalam learning management system perusahaan agar dapat diakses kapan saja oleh karyawan, sehingga meningkatkan fleksibilitas dan aksesibilitas.

Selain itu, inisiatif seperti lunch and learn atau knowledge sharing Fridays juga mendorong budaya pembelajaran kolaboratif di dalam tim. Melalui kegiatan semacam ini, tim dapat mempercepat penyebaran inovasi, meningkatkan kolaborasi, dan menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan bersama.

3. Menggunakan Penilaian Kinerja sebagai Alat Formatif

Secara tradisional, penilaian kinerja bersifat sumatif, hanya memberikan label pada kinerja masa lalu. Proses ini sering kali berfokus pada hasil akhir tanpa memberi kesempatan untuk perkembangan lebih lanjut. Tantangannya adalah mengubah siklus tahunan yang kaku menjadi proses yang dinamis dan berkelanjutan, yang mendorong pertumbuhan karyawan sepanjang tahun.

Banyak perusahaan kesulitan dengan proses manual yang memakan waktu, data yang tersebar, dan kurangnya alat untuk mendukung umpan balik yang berkelanjutan. Akibatnya, evaluasi indikator kinerja sering kali dianggap sebagai tugas administratif, bukan sebagai peluang untuk pengembangan.

Software elearning management ScaleOcean menawarkan solusi untuk mengubah proses penilaian kinerja. Platform ini mendukung pendekatan assessment for learning dengan fitur goal setting yang transparan, pelacakan kemajuan secara real-time, dan umpan balik 360 derajat.

ERP

Kesimpulan

Assessment for Learning (AfL) adalah pendekatan penilaian yang menekankan pengembangan berkelanjutan melalui umpan balik konstruktif selama proses pembelajaran atau kerja. Dengan umpan balik yang spesifik, tepat waktu, dan partisipasi aktif, AfL membantu meningkatkan pemahaman serta kompetensi peserta secara progresif.

AfL tidak hanya membantu individu memahami capaian dan area perbaikan, tetapi juga memungkinkan pengajar atau manajer menyesuaikan metode dan materi sesuai kebutuhan peserta. Dalam lingkungan kerja, AfL mendukung pengembangan karyawan, mendorong kolaborasi, dan membangun budaya pembelajaran yang berkelanjutan.

Berbeda dengan AfL, Assessment of Learning (AoL) bersifat sumatif dan dilakukan setelah pembelajaran selesai, seperti ujian akhir, untuk mengukur pencapaian. Sementara itu, Assessment as Learning (AaL) menempatkan peserta sebagai penilai diri sendiri atau antar rekan, sehingga menumbuhkan kemandirian dan kesadaran belajar.

Namun, banyak perusahaan kesulitan mengelola proses ini secara efisien. eLearning management ScaleOcean bisa memfasilitasi feedback berkelanjutan dan pelacakan kemajuan secara realtime. Cobalah demo gratis kami untuk melihat bagaimana platform ini dapat mempercepat pengembangan karyawan dan meningkatkan produktivitas tim Anda.

FAQ:

1. Assessment for learning itu apa?

Assessment for learning adalah jenis asesmen yang digunakan untuk memberikan umpan balik yang konstruktif selama proses pembelajaran. Umpan balik ini membantu dosen dan mahasiswa untuk memperbaiki dan meningkatkan pemahaman serta, bila untuk pekerja, indikator kinerja karyawan secara berkelanjutan.

2. 3 asesmen apa saja?

Tiga jenis asesmen utama dalam pendidikan adalah diagnostik (untuk mengetahui kondisi awal siswa sebelum pembelajaran), formatif (untuk memberikan umpan balik selama pembelajaran), dan sumatif (untuk mengukur pencapaian akhir di akhir pembelajaran). Selain itu, ada assessment of learning, for learning, dan as learning.

3. Apa beda assessment for learning dan assessment as learning?

Perbedaan utama antara keduanya terletak pada tujuannya. Assessment for learning digunakan untuk perbaikan pembelajaran dengan memberi umpan balik kepada siswa, sementara assessment as learning memungkinkan siswa untuk merenungkan dan mengevaluasi pemahaman mereka sendiri sebagai bagian dari proses pembelajaran.

Lara Zafira Rifta
Lara Zafira Rifta
Lara adalah penulis konten dengan 1 tahun pengalaman dalam membuat artikel SEO seputar bisnis, akuntansi, dan operasional. Ia terbiasa menulis konten yang jelas, informatif, dan sesuai kebutuhan brand.

Jadwalkan Demo Gratis

Error message
Error message
Error message
Error message
Error message
Error message

Rekomendasi Artikel Terkait

Temukan Artikel Serupa untuk Solusi Bisnis Lebih Lengkap